ilustrasi konf;ik sosial

Materi Sosiologi Kelas 11: Konflik Sosial

Artikel ini membahas mengenai materi sosiologi kelas 11 yaitu integrasi sosial yang terdiri dari pengertian integrasi sosial, bentuk-bentuk dan juga faktor yang mempengaruhi terjadinya integrasi sosial.

Kalo di artikel sebelumnya udah pernah dibahas mengenai struktur sosial, dimana hal ini mengakibatkan adanya atau timbulnya pengelompokkan-pengelompokkan dalam masyarakat, seperti, primordialisme (bangga akan hal-hal yang dibawa dari lahir seperti suku, agama, dan ras), etnosentrisme (“etno”, dan “sentris” maksudnya hidupnya berputar pada etnisnya doang, atau sangat membanggakan etnis atau sukunya), dan lain-lain, dimana hal ini merupakan penyebab dari adanya konflik sosial. 

Kenapa bisa menyebabkan adanya konflik sosial? Nah, jawaban rasa penasaran kalian akan terjawab setelah kalian membaca artikel ini sampai habis. Dimana pada artikel ini kita akan berfokus membahas mengenai konflik sosial, materi mata pelajaran Sosiologi kelas 11, mulai dari pengertian konflik, faktor penyebab konflik dan teori kekerasan akibat adanya konflik. Yuk kita bahas satu per satu.

Pengertian Konflik Sosial

Sebenarnya kalian mungkin udah familiar dengan pembahasan mengenai “konflik” yang telah kalian temui pada kelas 10 di bab interaksi sosial, yaitu perilaku bisosiatif, atau perilaku yang menuju kepada disintegrasi bangsa, yang salah satunya ada “konflik”. 

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata “konflik” memiliki banyak arti, antara lain percekcokan, perselisihan, pertentangan. Sedangkan kata “sosial” memiliki arti berkenan dengan masyarakat. Namun, makna dari konflik sosial. 

Menurut Soerjono Sukato dalam bukunya “Sosiologi: Suatu Pengantar” yang terbit pada tahun 2006, konflik adalah suatu keadaan pertentangan antara dua pihak untuk berusaha memenuhi tujuan dengan cara menentang pihak lawan. Nah, konflik ini pada umumnya padat terjadi didalam suatu kelompok, maupun diluar kelompok, yaitu dikenal dengan  konflik in-group, yaitu konflik yang terjadi di dalam kelompok itu sendiri dan konflik out-group, di luar kelompok. 

Atau dapat kita simpulkan bahwa konflik sosial adalah suatu keadaan yang dapat berupa percekcokan, perselisihan, maupun pertentangan antara dua pihak atau lebih yang terjadi di masyarakat dan mempengaruhi kehidupan sosial kita untuk memenuhi tujuan tertentu.

Menurut Lewis A. Coser yang merupakan seorang sosiolog yang mengemukakan mengenai fungsi sosial setelah menyatukan konsep fungsional struktural dengan teori konflik pada bukunya “The Functions of Social Conflicts”, dimana menurutnya ada 2 (dua) bentuk konflik yaitu konflik realistis dan konflik non-realistis. 

  • Konflik realistis, dimana adanya kontak dan juga ada emosi.
  • Konflik non-realistis, tidak memiliki kontak, yang membuat hal tersebut tidak bisa disebut sebuah konflik. 

Faktor Penyebab Konflik Sosial

ilustrasi konflik sosial
Sumber gambar: Bimo Luki/unsplash.com

Akibat adanya pengelompokan-pengelompokkan dalam masyarakat, yang membedakan kita sebagai manusia berdasarkan kategori tertentu, mengakibatkan faktor penyebab terjadinya konflik dibedakan sebagai berikut:

Perbedaan antar individu

Perbedaan antar individu dapat menjadi penyebab konflik sosial yang pada umumnya diakibatkan dari perbedaan pendapat atau kepentingan, yang menyebabkan terjadinya konflik sosial bahkan baku hantam. 

Perbedaan antar kebudayaan

Dalam KBBI, Kebudayaan didefinisikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat atau dapat diartikan pengertian  kebudayaan merupakan warisan yang kita terima yang telah diwariskan oleh leluhur secara turun menurun. Pada dasarnya kita lahir dengan menganut kebudayaan masing-masing, seperti kebudayaan yang dimiliki oleh orang indonesia dengan kebudayaan yang dimiliki orang india tentunya berbeda. Sehingga adanya perbedaan antar kebudayaan ini juga seringkali memicu terjadinya konflik. 

Perbedaan Etnis

Sama halnya dengan kebudayaan, kita juga lahir dengan memiliki etnis atau suku yang beragam, adanya perbedaan etnis atau suku ini juga dapat memicu terjadinya konflik, salah satu konflik yang mungkin pernah kita dengar adalah pembantaian etnis tertentu. 

Perbedaan Ras

Dalam KBBI, “ras” didefinisikan sebagai golongan bangsa sebagai ciri-ciri fisik, oleh karena itu biasanya ras tertentu memiliki ciri-ciri fisik yang serupa, dan ras yang ada di Indonesia sendiri sebenarnya cukup beragam. Misalnya ras asiatic mongoloid yang pada umumnya memiliki kulit putih atau kuning dan memiliki mata yang sipit yang biasanya berasal dari keturunan cina jepang, dan korea, dan juga ras malayan-mongoloid, yang merupakan ras yang umum ditemukan di indonesia, yaitu yang memiliki ciri-ciri memiliki kulit kuning langsat dan mata besar. Sama halnya dengan etnis dan budaya, adanya perbedaan ras ini juga dapat memicu terjadinya konflik. 

Perbedaan Agama

Dalam KBBI agama diartikan sebagai ajaran, sistem yang tata keimanan (kepercayaan) dan keperibadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Di Indonesia sendiri ada 6 agama yang diakui oleh negara yaitu Islam, Buddha, Kristen, Katolik, Hindu, dan Kong hu cu. Perbedaan agama dan kepercayaan ini juga tidak jarang menyebabkan terjadinya konflik, contohnya seperti timbulnya hal-hal yang membuat kelompok dari agama satu sama lain tersinggung.

Teori Kekerasan

Konflik yang terjadi seringkali menyebabkan adanya kekerasan, yaitu adanya atau terjadinya kontak fisik, oleh karena itu, terdapat beberapa teori yang membahas mengenai penyebab adanya kekerasan, yaitu:

Individu

Sesuai dengan namanya, disebabkan dari faktor kepribadian individu itu sendiri sendiri dari tingkah laku agresifnya yang menyebabkan kekerasan. Karena pada dasarnya, ketika seseorang berhadapan dengan konflik dan melakukan kekerasan itu didasari oleh kepribadian, karakter, dan juga kondisi orang itu sendiri.   

Kelompok

Kalian pasti nebak kalo teori kekerasan kelompok, maka berkelompok? Jawabannya salah. Inti dari teori ini adalah kesadaran sebagai suatu kelompok bukan sebagai suatu individu, dimana dalam konflik tersebut orang atau suatu individu tersebut membawa identitas kelompok atau dianggap sebagai perwakilan suatu kelompok, bukan dari individunya.

Dinamika Kelompok

Berbeda dengan teori kekerasan individu dan kelompok,  pada teori kekerasan dinamika kelompok, dimana dalam suatu kelompok adanya perubahan norma secara cepat sehingga anggota atau individu di dalamnya tidak mampu meresponnya beriringan dengan kecepatan perubahan norma dalam masyarakat, sehingga merasa kehilangan rasa saling memiliki dan menimbulkan konflik. 

Nah kurang lebih itulah pembahasan mengenai konflik sosial, mudah dipahami bukan? Kalo kalian mau pembahasan mengenai materi ini yang berupa video singkat dan dijelaskan oleh tutor sosiologi zenius, kalian bisa akses secara gratis di materi konflik sosial hanya dengan mendaftarkan diri kamu dan verifikasi. Semoga artikel ini membantu kalian ya, Selamat Belajar!

Baca Juga Artikel Lainnya

Sosialisasi

Belajar Sosiologi Buat Apa?

PTS Sosiologi Kelas 10

Bagikan artikel ini