Kapal Pinisi, Simbol Kekuatan Pelaut Indonesia

Kapal Pinisi, Simbol Kekuatan Pelaut Indonesia 9

Nenek moyangku seorang pelaut

Gemar mengarung luas samudra 

Menerjang ombak tiada takut

Menempuh badai sudah biasa

Hayo … elo tahu lagu itu, nggak? Waktu gue Sekolah Dasar (SD), gue sering banget nyanyiin lagu ini pas pelajaran Seni Budaya. Yap! Lagu yang judulnya “Nenek Moyangku” ini diciptakan sama Ibu Sud, salah satu pencipta lagu anak-anak di Indonesia pada tahun 1940. 

Eh, tapi gue nggak dengerin lagunya pas zaman SD aja, kok. Sampai sekarang, gue kadang masih dengerin lagu ini kalau lagi nemenin adik gue naik odong-odong. Elo tahu odong-odong, kan? Iya! Mainan yang suka dinaikin anak kecil, terus ada lagunya gitu. Nah, lagu ini sering banget diputar. 

Dulu sih, gue enjoy aja pas dengerin lagu ini nggak ada kepikiran apa-apa sama sekali. Tapi sekarang, gue jadi mikir gitu pas tau liriknya. Emangnya iya ya, nenek moyang gue seorang pelaut?

Pas gue cari tahu lebih lanjut, ternyata orang Indonesia tuh dulunya emang pelaut, lho. 

Nah! Kebetulan banget, Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta juga baru meresmikan pembangunan jembatan penyebrangan orang (JPO) di Sudirman. Uniknya, JPO ini bentuknya menyerupai kapal pinisi, yang disebut sebagai simbol kekuatan pelautnya Indonesia. 

JPO Pinisi Sudirman (dok. Instagram @diasrmaulana)
JPO Pinisi Sudirman (dok. Instagram @diasmaulana)

Wah, gue langsung bengong gitu pas tau. Ternyata, semuanya berkaitan, ya. Makanya, gue mau ngajak elo langsung menyelami pembahasan pelaut di Indonesia, nih. 

Yuk, pantengin di sini, ya!

Baca juga: Pencemaran Laut, dari Sampah Plastik, Limbah Radioaktif, hingga Minyak Tumpah

Indonesia Negara Pelaut?

Jadi, lagu “Nenek Moyangku” yang ditulis sama Ibu Sud itu beneran fakta? Nenek moyang Indonesia beneran pelaut? Yap!

Seperti yang elo tahu, Indonesia kan emang disebut sebagai negara maritim atau sebagian besar wilayahnya itu perairan, ya. Kalau menurut data yang gue dapat dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Indonesia punya 17.500 pulau. Simpelnya, 62% dari total luas wilayah Indonesia itu isinya perairan. 

Bahkan, Indonesia ini disebut sebagai poros maritimnya dunia, lho. Kok, bisa? Biar nggak penasaran, langsung cari tahu informasi menariknya di Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia – Materi Geografi Kelas 11, ya.  

Nah, kemaritiman Indonesia ini ada kaitannya sama nenek moyang kita yang seorang pelaut. Kalau menurut buku First Islanders: Prehistory and Human Migration in Island Southeast Asia (2017),  ada teori out of Taiwan yang dibuat oleh Bellwood, seorang arkeolog dari Australia. Teori ini juga didukung sama Harry Truman Simanjuntak, seorang arkeolog dari Indonesia.

Teori ini menjelaskan kalau di tahun 1.000 Sebelum Masehi (SM), nenek moyang kita udah menjelajahi pulau-pulau di Nusantara dengan kapal. 

Teori ini juga didukung sama bukti sejarah yang tertinggal di Candi Borobudur. Jadi, ada relief atau gambar kapal layar di candi tersebut. Pasalnya, kapal layar ini punya Kerajaan Syailendra, kerajaan di Sriwijaya, Jawa Tengah, yang dipakai buat menjelajahi lautan sampai ke Ghana di abad ke-14.

Selain itu, Kerajaan Majapahit juga disebut mempunyai armada laut berupa kapal dan pasukan yang kuat pada zamannya, lho. Katanya, mereka membangun armada laut untuk melindungi jalur perdagangannya pada abad ke-16. Terus, Sultan Alaudin Riayat Syah, seorang sultan dari Kesultanan Aceh juga punya 100 kapal perang yang digunakan untuk melawan Portugis di abad ke-16.

Makanya, pas  ketiga kerajaan tersebut berjaya, Indonesia dikenal sebagai bangsa maritim yang disegani oleh bangsa lain. Dan, itu juga yang menjadi alasan kalau nenek moyang Indonesia seorang pelaut.

Pelaut di Indonesia (Arsip Zenius)
Pelaut di Indonesia (Arsip Zenius)

Tapi, sebenarnya ada bukti lain yang mendukung teori out of Taiwan, lho. Salah satunya, yaitu keberadaan kapal Pinisi di Indonesia. Yuk, gue ceritain di bawah!

Baca juga: Krisis Energi, Bagaimana Kabar Energi Terbarukan dan Energi Masa Depan?

Sejarah Kapal Pinisi

Jadi, kapal pinisi ini merupakan kapal pertama yang dibangun orang Indonesia.

Nah, kapal pinisi sendiri adalah salah satu jenis kapal yang memiliki sistem tiang dan layar. Kalau menurut Indonesia Travel, laman resmi pemerintah Indonesia di bidang pariwisata, kapal pinisi dibuat oleh orang dari Suku Bugis, Sulawesi Selatan pada abad ke-19.

Jadi, orang-orang di Sulawesi Selatan dulunya membangun perahu pinisi ini untuk berdagang. Yap! Mereka nggak langsung membangun kapal nih, karena konstruksinya cukup susah. Tapi, mereka mengawali dengan pembangunan perahu pinisi dari kayu ulin atau kayu besi.

Kenapa kayu ulin yang dipilih? Soalnya, kayu ulin ini jadi jenis kayu yang paling kuat dan awet. Saking kuatnya, kayu ulin tahan banget sama serangan rayap atau serangga, tahan dari kelembaban, sampai suhu air laut. Jadi kebayang kan, sekuat apa kayu yang digunakan buat bangun perahu pinisi?

Nah, untuk desainnya, sebenarnya Suku Bugis sendiri mendapatkan inspirasi dari sistem layar schooner-ketch atau sistem layar milik bangsa Eropa. Uniknya, ada tradisi tersendiri di balik pembangunan perahu pinisi ini, lho. 

Tradisi Suku Bugis saat pembangunan perahu pinisi (Arsip Zenius)
Tradisi Suku Bugis saat pembangunan perahu pinisi (Arsip Zenius)

Simpelnya, masyarakat Suku Bugis mengadakan upacara pemotongan lunas supaya nggak ada kejadian buruk yang bakal terjadi di atas perahu pinisi.

Nah, setelah pembangunannya selesai, masyarakat Suku Bugis biasanya bakal memakai perahunya buat berdagang atau mencari ikan, nih. Tapi, sekarang pinisi nggak dipakai buat berdagang aja, lho. 

Seiring berkembangnya waktu, ada juga kapal pinisi. Cukup berbeda dengan perahunya, kapal pinisi ini dibangun lebih besar, dengan fasilitas lengkap di dalamnya. Nah, kapal pinisi ini udah jadi salah satu sarana berlibur orang-orang. 

Menurut informasi yang gue dapat dari Kompas, elo bisa banget nyantai nikmatin fasilitas mewah (spa, kamar bagaikan hotel bintang 5, sampai makanan ala chef) di kapal pinisi dengan budget mulai dari Rp 1,5 juta-Rp 2 jutaan. Tapi, harga ini nggak buat menginap, ya. Kalau buat menginap 2 hari 1 malam, budget yang dipatok mulai dari Rp 45 juta.

Duh, ternyata kapal pinisi yang sering gue lihat di instagram story para selebriti terkenal ini berawal dari dibangunnya perahu pinisi sama Suku Bugis, ya. Keren! 

Baca juga: Robert Fulton dan Peran Kapal Uap dalam Peradaban Modern

Kenapa Kapal Pinisi menjadi Simbol Kekuatan Pelaut Indonesia?

Nah, sekarang kita udah sama-sama tau sejarah awalnya kapal pinisi di Indonesia. Tapi, ternyata kapal pinisi juga jadi simbol kekuatan pelautnya Indonesia, lho. Kok, bisa?

Fakta unik pembangunan kapal pinisi (Arsip Zenius)
Fakta unik pembangunan kapal pinisi (Arsip Zenius)

Soalnya, kapal pinisi menjadi satu-satunya kapal kayu yang udah pernah menjelajahi lima benua tanpa ada kerusakan. Serius? Iya! Kapal pinisi ini udah pernah keliling ke Samudera Pasifik, Jepang, Australia, Kanada, sampai Madagaskar. Hebatnya, nggak ada kerusakan sama sekali selama penjelajahan tersebut.

Itu dia alasan di balik kapal pinisi yang disebut sebagai simbol kekuatan pelaut Indonesia. Menjadi kapal pertama yang dibuat oleh orang Indonesia di abad ke-19, kapal pinisi membuktikan ketangguhannya hingga diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada Kamis, 7 Desember 2017.

Jadi, sekarang elo udah tau cerita di balik kapal pinisi yang menjadi kapal pertama di Indonesia, ya. Nggak heran juga kalau pinisi disebut sebagai simbol kekuatan pelaut di Indonesia. Kalau elo sendiri, tertarik buat naik kapal pinisi nggak, sih?

Baca juga: Gunung Meletus: Penyebab, Proses, hingga Dampaknya ke Lingkungan

Editor: Tentry Yudvi Dian Utami

Reference:
Mengapa Indonesia Dijuluki Negara Maritim? – Tempo (2021)
Benarkah Nenek Moyang Orang Indonesia Adalah Seorang Pelaut? – Kids Grid (2021)
First Islanders: Prehistory and Human Migration in Island Southeast Asia – Peter Bellwood (2017)
Indonesia Jadi Pemasok Terbesar Ketiga di Dunia, Pemerintah Terus Perhatikan Aspek Keselamatan dan Kesejahteraan Pelaut – Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (2021)
Tradisi Panjang Pembuatan Perahu Pinisi – Liputan6 (2001)
Liburan ala Sultan Naik Kapal Pinisi di Jakarta, Mulai Rp 2 Jutaan – Kompas (2022)
Phinisi: A Symbol of Indonesia’s Seafaring Tradition – Lamima (2020)
Mengenal Pohon Ulin, si Kayu Besi Indonesia – Portal Resmi Kabupaten Bogor (2019)

Sumber foto: Instagram @diasmaulana

Bagikan Artikel Ini!