hari televisi sedunia zenius

Sejarah Hari Televisi Sedunia dan Dampaknya untuk Kita (21 November)

Apakah lo tahu fakta tentang sejarah Hari Televisi Sedunia yang diperingati setiap 21 November? Yuk simak ceritanya dan dampaknya untuk kita!

Apakah lo masih hobi mantengin televisi? Nonton kabar terbaru idola lo, nonton acara lucu yang bisa nyegerin pikiran yang lagi penat, atau nyimak berita yang nyiarin kabar terkini negara yang mungkin nggak lagi baik-baik aja.

Dari sekian banyak hal yang bisa lo dapat dari televisi, lo pernah mikir nggak sih, gimana caranya informasi itu bisa nyampai di TV rumah lo? Padahal, semua informasi itu berasal dari nun jauh di sana, bukan dari sekitaran rumah lo, tapi luar kota, bahkan negara.

Bagaimana bisa, benda kotak yang anteng di ruang TV, bisa nampilin gambar dan suara dari berbagai tempat?

Yuk, kita bayangin bareng-bareng. Coba lihat TV rumah lo. Bayangin, pesawat TV rumah lo nerima sinyal listrik dari program TV yang lo liat, kayak Ikatan Cinta, misal. Sinyal listrik itu kemudian diubah oleh pesawat televisi menjadi objek gambar utuh, yaitu wajahnya Mas Al. Selain gambar, pemancar televisi juga membawa sinyal suara bersama sinyal gambar. Jadi deh, lo denger Mas Al bilang “Aku sayang kamu” ke Andin.

Kebetulan, hari ini, 21 November, adalah Hari Televisi Sedunia. Untuk memperingatinya, yuk kita kepo lebih dalam tentang sejarah televisi!

Sejarah Televisi di Dunia

Lo tahu nggak, nama televisi berasal dari apa? Television berasal dari kata tele, yang artinya ‘jauh’, dan vision yang artinya ‘tampak’. So, kalau digabung, televisi bisa diartikan sebagai alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan media yang tampak, yaitu penglihatan.

Penemuan televisi nggak jauh dari hukum gelombang elektromagnetik yang ditemuin oleh Joseph Henry dan Michael Faraday. Hayooo, udah tahu belum tentang gelombang elektromagnetik? Gue harap lo udah tahu ya sebelumnya. Btw, kayak nggak asing sama nama mereka ya, apalagi Michael Faraday…Yup! Dia adalah Bapak Listrik kita semua sedunia. Buat yang pengen kepo lebih jauh tentang Faraday, bisa baca di sini ya..

So, cikal bakal keberadaan televisi di dunia bermula dari kekepoan seorang pekerja telegraf asal Inggris, Joseph May. Pada tahun 1872, dia lagi menyelidiki bahan untuk digunakan dalam kabel telegraf transatlantik, yang bisa menyeberangi Samudra Atlantik. Waktu menyelidiki bahan itu, dia nemuin kawat selenium. Kebetulan, kawat selenium itu letaknya ada di atas meja, dekat jendela. Tiba-tiba, May nemuin bahwa ada perubahan yang terjadi saat sinar matahari ngena ke kawat.

Meskipun begitu, May belum ngeh keajaiban yang mungkin terjadi akibat peristiwa itu. Padahal, kejadian itu jadi dasar perubahan cahaya menjadi sinyal listrik.

Delapan tahun kemudian, pada tahun 1880, seorang insinyur Prancis bernama Maurice LeBlanc, menerbitkan sebuah artikel di jurnal La Lumière électrique. Artikel tersebut mengusulkan mekanisme pemindaian gambar visual sesuai cara kerja retina mata. Gimana tuh maksudnya?

Jadi, LeBlanc ngide bikin televisi yang mekanismenya mirip kalau kita baca teks di sebuah halaman buku. Baca dari kiri atas ke kanan, langsung ke bawah bagian kiri, baca ke kanan, ke bawah bagian kiri, begitu seterusnya sampai lo berakhir di pojok kanan bawah halaman, tuntas baca satu halaman. Ya begitulah tampilan gambar di TV yang diusulin LeBlanc. Sayangnya, saat itu, LeBlanc belum bisa bikin mesinnya, baru ngide doang.

Empat tahun berselang, pelajar Jerman bernama Paul Nipkow nemuin cara menyiarkan gambar bergerak. Dia mengembangkan mesin dengan cakram (disk) berputar yang disebut teleskop elektris. Cara kerjanya, cakram itu diletakkan di depan sebuah objek, dan gambar objek tersebut diubah menjadi garis-garis. Sama dengan konsep LeBlanc, gambar itu muncul perlahan-lahan mengitari cakram, hingga akhirnya satu putaran penuh cakram akan menampilkan gambar secara utuh.

Sejarah Hari Televisi Sedunia dan Dampaknya untuk Kita (21 November) 65
John Logie Baird menunjukkan sistem televisi pemindaian mekaniknya. (Foto: Wikimedia Commons)

Konsep Nipkow tersebut kemudian ditiru oleh John Logie Baird dari Skotlandia, Inggris. Pada tahun 1925, dia mengembangkan sistem yang membagi gambar menjadi 30 garis. Gambar hitam-putih yang dihasilkan dari percobaan Baird itu, dia kirim ke Badan Penyiaran Inggris, yang kita kenal sekarang sebagai BBC. Eng ing eng, penyiaran gambar dan bunyi pertama di dunia yang melintasi Atlantik akhirnya terjadi, dan dilakukan oleh Baird pada tahun 1928.

Di belahan bumi yang berbeda, setahun sebelumnya, seorang pelajar sekolah menengah Amerika Serikat bernama Philo Farnsworth, sibuk sendiri dengan ide besarnya. Farnsworth membuat sistem televisinya sendiri. Anak SMA, udah bikin sistem TV sendiri, keren nggak tuh? Dia membuat tabung vakum yang bisa membuat sebuah gambar menjadi garis-garis. Garis-garis itu pun mampu berubah kembali menjadi gambar.

Tiga tahun kemudian, yaitu pada tahun 1930, di negara yang sama, seorang penemu bernama Vladimir Zworykin ngembangin kamera tabung elektronik pertama di dunia yang disebut ikonoskop. Gimana ikonoskop bisa nampilin gambar di televisi?

Jadi, gambar dan bunyi yang diterima kamera tabung elektronik Zworykin, diubah menjadi denyut elektris. Denyut itu kemudian digabungkan dengan gelombang dan siaran radio. Antena yang menempel pada televisi menerima denyut elektris dengan gelombang radio. Denyut elektris tersebut kemudian diubah menjadi gambar dan bunyi, jadi deh tayangan di layar kaca!

Peristiwa monumental pertama di dunia yang terekam di layar kaca televisi adalah siaran langsung penobatan Raja George VI, di London, Inggris, pada tahun 1937. Peristiwa itu disiarkan oleh BBC Inggris. Hingga akhirnya, siaran penobatan itu membuat 9.000 set televisi terjual. BBC Inggris menjadi starter penggunaan televisi di masyarakat sejak saat itu.

Baca juga: Hari Sains Dunia – Sejarah dan Perkembangan Sains

Transformasi Televisi, dari Hitam Putih Menjadi Digital

Lo semua pasti pada udah tahu, kalau awalnya televisi itu berbentuk kotak, dengan gambar berwarna hitam dan putih. Tapi, TV yang ada di rumah lo udah berwarna-warni, bentuknya ramping lagi. Kok bisa sih, jadi berubah sejauh itu?

Jadi gini…

Di akhir abad ke-19, ilmuwan Rusia bernama AA Polumordvinov nyoba bikin inovasi dari cakram buatan Nipkow. Iya..Nipkow yang udah kita bahas tadi. Polumordvinov nyoba ngerancang cakram ala Nipkow dengan silinder bercelah yang ditutupi oleh filter berwarna merah, hijau, dan biru.

Kenapa harus warna merah, hijau, dan biru? Karena, ketiga warna tersebut dihasilkan secara cepat saat dipindai, sehingga mata manusia dapat melihat gambar warna-warni yang asli dari gambar sebenarnya. Metode itu pun akhirnya digunakan oleh banyak penemu pada awal abad ke-20, dan diterapkan sampai sekarang.

Hingga akhirnya, muncullah tampilan TV yang lebih ciamik, baik dari kualitas gambar dan suara, maupun bentuk fisiknya. Yap, dia adalah TV digital.

Sejarah Hari Televisi Sedunia dan Dampaknya untuk Kita (21 November) 66
Seorang anak bermain game yang dimainkan di televisi digital. (Foto: Vidal Balielo Jr. via Pexels)

Pada tahun 1987, lembaga penyiaran publik pemerintah Jepang, NHK, bikin demonstrasi High Definition Television (HDTV). Amerika Serikat jadi pengin niru dong…Dan pada Juni 1990, sistem televisi digital pertama di dunia lahir di Amerika, dirancang oleh insinyur Korea bernama Woo Paik.

Sistem ini nampilin gambar berwarna dengan 1.080 garis dengan layar yang lebih lebar. Kualitas warna dan suara juga jauh lebih cemerlang daripada sebelumnya. Tampilannya juga lebih modern dan ramping, kayak yang kita punya sekarang di rumah.

Baca juga: Hari Toilet Sedunia, Sejarah Toilet dan Perannya dalam Perkembangan Peradaban!

Televisi Mengubah Dunia, dan Awal Mula Hari Televisi Sedunia

Sejak televisi beredar di dunia, penjualannya meledak selama tahun 1950-1970. Bahkan, di akhir 90-an, hampir 1 miliar televisi di dunia terjual. Bayangin, sebanyak apa orang yang nonton televisi!

Jika 1 miliar televisi terjual pada saat itu, nggak mungkin banget kalau penggunaan televisi nggak ngefek apa-apa di kehidupan manusia. Coba bayangin, dari lo sendiri nih. Udah berapa tahun lo punya TV di rumah, dan berapa lama lo nonton setiap harinya?

Lo nonton idola lo tayang di TV, lo seneng dan nggak nyangka banget si dia tampil di TV. Lo yang awalnya berniat mau ngerjain tugas, jadi “Ah..entar dulu deh, nonton si dia dulu.” Atau, ketika lo nimbrung emak nonton gosip artis di TV. Ternyata, artis itu lagi heboh kesandung masalah. Lo jadi kepo deh, pengen stalking artis itu di Instagram-nya, lihat posting-annya. Lo sadar nggak, kalau televisi itu bisa ngerubah sikap, bahkan perilaku lo? Dan bahkan, sebenarnya, nggak sesederhana itu.

Semenjak TV hadir di setiap rumah orang, Mass Observation, organisasi penelitian sosial di Inggris, ngadain penelitian pada tahun 1949. Mass Observation nanyain para ibu-ibu kompleks di Inggris tentang bagaimana perasaan mereka setelah punya TV. Ternyata nih, TV bener-bener mengubah kehidupan para ibu-ibu Inggris.

Misalnya, ada ibu-ibu yang jadi jarang hang-out bareng temen-temennya, dan jadi punya sedikit waktu buat dandan, karena mereka lebih suka menghabiskan waktu di rumah hampir sepanjang hari.

Selain itu, bagi mereka, TV bisa membawa mereka ke tempat-tempat yang jauh secara gratis. Kok bisa? Ya ibarat lo nonton acara jalan-jalan di TV, atau Olimpiade Tokyo, atau acara apa pun di luar wilayah lo. Lo bisa ikut ngerasain energi di tempat itu, hanya dengan duduk di depan TV, tanpa bayar lagi! Pikiran bisa fresh, tanpa harus ngeluarin duit sepeserpun.

Keberadaan TV juga nggak lepas dari politik. Penggunaan TV di dunia politik dimulai sejak siaran berita pencalonan presiden di Amerika Serikat pada tahun 1952. Pengaruh besar televisi di dunia politik semakin besar saat pemilihan presiden AS pada 1960, yang nyiarin debat antara John F. Kennedy dan Richard M. Nixon.

Sejarah Hari Televisi Sedunia dan Dampaknya untuk Kita (21 November) 67
Foto debat presiden pertama tahun 1960 yang ditayangkan di Chicago di CBS ‘ WBBM-TV pada tanggal 26 September 1960. (Foto: Wikimedia Commons)

Adanya TV mengubah pandangan pemirsa terhadap debat tersebut. Para penonton TV bisa menyaksikan langsung gimana postur dan mimik para calon presiden, dibandingkan ketika disiarkan lewat radio.

Melalui TV, para penonton jadi tahu postur Nixon yang buruk, sampai penampilannya yang terkesan nggak rapih. Sedangkan, Kennedy terlihat tenang dan bisa ngebawa suasana. Prediksi penonton TV pun benar, Kennedy lah yang akhirnya menjadi presiden AS, berkat pembawaannya yang bisa dinilai berkat televisi.

Hingga akhirnya, John F. Kennedy dibunuh pada 22 November 1963. Peristiwa itu pun disiarkan besar-besaran di televisi. Berbagai peristiwa lain yang kemudian disiarkan oleh televisi, dan dampaknya terhadap penonton, nunjukin betapa kuatnya televisi sebagai medium dalam nyiarin informasi.

Nah, kalau itu kan dampaknya buat penonton. Terus, gimana nasib media komunikasi lainnya setelah televisi hadir?

Ternyata, beberapa media pada kena mental! Di Inggris, kebiasaan membaca di masyarakat jadi menurun akibat hadirnya televisi. Waktu yang dihabiskan seseorang untuk menggunakan media lain pun menurun.

Misalnya, seseorang yang biasanya baca majalah selama 17 menit, menurun jadi 10 menit sejak ada TV di rumahnya. Waktu seseorang membaca koran juga berkurang, dari 39 menit menjadi 32 menit. Bahkan, yang biasanya dengerin radio selama 122 menit, menjadi hanya 52 menit.

Emangnya, berapa lama sih mereka nonton TV di rumah? Justru meningkat tajam, tau! Sejak seseorang punya televisi sendiri di rumah, dia yang biasanya hanya 12 menit nonton TV di tempat lain, auto menukik tajam jadi 173 menit buat nonton TV sendirian!

Kehadiran TV juga bikin dunia olahraga kurang laku. Kok bisa? Ya gimana lagi, orang-orang jadi malas pergi ke luar rumah. Penonton pertandingan olahraga jadi berkurang. Singkatnya, orang-orang jadi jarang ke luar rumah karena asyik nonton TV sambil rebahan, atau duduk-duduk santuy.

Jadi, udah tahu kan, betapa TV mengubah kehidupan kita sejak keberadaannya, hingga sekarang?

Dan kemudian tiba-tiba saya menyadari betapa segalanya berbeda. Anak-anak tidak lagi bermain Monopoli atau permainan lain yang biasa kita mainkan bersama. Itu karena kita memiliki pesawat televisi yang tinggal dihidupkan untuk menonton pertandingan sepak bola. Semua sosialisasi yang telah berlangsung sebelumnya telah berakhir. Sekarang semua orang duduk di depan televisi, berlibur maupun pesta keluarga!

Marrie Winn, dalam buku “The Plug-In Drug”

Peran besar televisi kemudian dirasakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Televisi menjadi alat utama di dunia pada saat itu yang bisa menginformasikan, menyebarkan, dan memberikan dampak pada penonton, dan mempengaruhi pengambilan keputusan publik. Dampaknya nggak hanya sebagai sarana hiburan aja, tapi juga terhadap politik dunia.

Hingga akhirnya, PBB ngadain Forum Televisi Dunia pertama pada tanggal 21 dan 22 November 1996. Di forum itu, para tokoh media terkemuka di dunia bertemu dan membahas pentingnya televisi yang sedang pesat-pesatnya di dunia saat itu. Para tokoh itu pun mempertimbangkan untuk saling bekerja sama, dalam rangka memajukan penyampaian informasi di dunia. Jadi deh, 21 November sebagai Hari Televisi Sedunia.

Apa yang Terjadi pada Otak saat Kita Nonton TV?

Di suatu malam, lo lagi nonton Ikatan Cinta. Episode yang lagi lo tonton adalah ketika Mas Al hujan-hujanan di depan rumah Mbak Andin agar dimaafin. Andin kecewa sama Al, Al ngerasa bersalah karena udah bohongin Andin. Dan lo? Lo jadi ikutan baper. Ikut sedih ketika Andin dibohongin, tapi juga kasihan lihat Al kehujanan semalaman di halaman.

Episode bersambung. Lo kesel karena penasaran ending-nya gimana. “Andin maafin Al nggak ya?” Lo pun nggak sabar nunggu besok malam. Peristiwa ini disebut dengan Zeigarnik Effect. Apa sih itu? Buat tahu lebih lanjut tentang Zeigarnik Effect, yuk baca di sini.

Balik lagi ke Ikatan Cinta. Nah lho, yang disakitin siapa, kok lo jadi bisa ikutan baper? Kok bisa sih, sinetron di televisi yang jelas-jelas hanya fiktif belaka, bisa bikin lo ikut ngerasain secara nyata?

Sejarah Hari Televisi Sedunia dan Dampaknya untuk Kita (21 November) 68
Ilustrasi ngemil sambil nonton televisi. (Foto: Jeshoots.com via Unsplash)

Menurut psikolog klinis bernama Dr Renee Car, rasa nagih yang terjadi itu dikarenakan adanya bahan kimia yang dilepas di otak kita. Bahan kimia tersebut adalah dopamin.

Buat yang belum tahu apa itu dopamin, nih gue jelasin singkat ya. Jadi, dopamin itu adalah senyawa kimia dalam otak yang berfungsi meningkatkan mood. Kalo otak ngeluarin dopamin dalam porsi yang tepat, lo bakal ngerasa bahagia. Sebaliknya, kalo lo kekurangan dopamin, maka lo bisa ngerasa bad mood parah.

Jadi, ketika lo nonton acara TV yang lo sukain, otak bakal terus-menerus ngeluarin dopamin. Efeknya? Lo bakal ngerasa kayak mabuk obat. Bukan mabuk obat yang auto tidur pulas gitu ya..tapi rasanya lo kecanduan akan tontonan tersebut. Dan lo tahu nggak sih, kalau proses ketika lo ketagihan acara TV, sama halnya dengan kecanduan narkoba? Kan serem!

Nah, sekarang, gimana lo bisa segitu pedulinya sama Andin, yang bakal maafin Mas Al atau nggak? Ternyata, ketika kita nonton tayangan di TV, otak kita menandai semua pengalaman yang kita lihat dan alami, termasuk acara TV, sebagai kenangan ‘nyata’.

Menurut psikiater di Laguna Family Health Center di California, Gayani DeSilva, saat kita nonton TV, area otak kita yang aktif sama dengan saat kita mengalami kejadian nyata di hidup kita. Otomatis, kita jadi tertarik pada jalan ceritanya, ngerasa “Kok gue banget ya” saat nonton acara TV, dan bener-bener peduli sama ending-nya bakal kayak gimana.

Jadi, jika lo ngerasa suka dan memiliki keterikatan emosional sama karakter tertentu di serial TV favorit lo, kemungkinan besar itu dikarenakan lo pernah mengalaminya di kehidupan nyata. So, nggak heran kalau lo bakal ngerasa “I feel you”, “Ih, gue banget.”

Terus, apa dampaknya buat otak kita?

Sejarah Hari Televisi Sedunia dan Dampaknya untuk Kita (21 November) 69
Ilustrasi otak manusia. (Foto: Geralt via Pixabay)

Dengan nonton acara TV yang kita sukai, otomatis kita jadi merasa rileks. Kalau kita ngerasa pusing sama pelajaran sekolah di pagi hari, dengan nonton TV, stres kita bakal hilang. Pikiran tentang angka-angka, atau hafalan, jadi tersingkirkan deh.

Menurut psikolog klinis di Doctor on Demand yang bernama Dr. John Mayer, stay di depan TV buat nonton acara favorit kita bisa menghalangi otak kita buat mikirin hal-hal yang biasa bikin kita stres. Selain itu, nonton acara TV favorit kita juga bisa bikin kita terhubung dengan orang-orang yang suka dengan acara tersebut. Misalnya, ketika lo suka nonton Ikatan Cinta, lo bakal nyari akun-akun fanbase Mas Al dan Andin di Twitter, nge-follow akun tersebut, dan bisa berinteraksi sama fans Ikatan Cinta lainnya.

Tapi, jangan senang dulu…

Di balik dampak positif itu, ternyata kecanduan nonton TV juga punya beberapa efek buruk lho buat otak kita!

Seperti pada penelitian ini. Buat lo yang baca ini, umur lo berapa, btw? Jadi, tim peneliti di Universitas Tohoku Jepang ngadain penelitian nih pada tahun 2013, terhadap otak 290 anak berusia 5-18 tahun. Hasil temuan menunjukkan, semakin sering anak nonton TV, semakin besar hipotalamus otak, septum, area sensorimotor, dan korteks visual. Selain itu, terjadi penebalan di daerah lobus frontal dan korteks frontopolar.

Waduh, artinya apaan tuh? Yuk, kita bedah singkat satu persatu.

Semakin sering anak-anak nonton TV, semakin besar hipotalamus otak. Apa artinya? So, penebalan hipotalamus adalah karakteristik pasien dengan gangguan kepribadian ambang (borderline personality), lebih mudah bersikap agresif, dan mood-nya sering bermasalah. Singkatnya, kecanduan nonton TV bisa bikin seseorang berpotensi punya gangguan mental dan mood yang nggak pasti.

Selain itu, penebalan di daerah lobus frontal dan korteks frontopolar (bagian depan otak) bisa nurunin kemampuan anak dalam berbahasa. Semakin banyak waktu yang digunakan anak buat nonton TV, maka menurun pula skor IQ verbalnya. Kemampuan kosakata dan bahasanya menurun, seiring dengan berapa jam anak tersebut nonton TV.  Ngeri nggak tuh?

Sejarah Hari Televisi Sedunia dan Dampaknya untuk Kita (21 November) 70
Ilustrasi bagian otak yang mengatur kemampuan verbal. Foto: Meo via Pexels)

Selain ngefek negatif buat anak, dampak yang 11:12 juga ditemukan pada orang dewasa. Sebuah studi yang diunggah di jurnal Scientific Reports pada tahun 2019 meneliti 3.662 orang dewasa yang berusia 50 tahun atau lebih. Studi tersebut meneliti lamanya waktu peserta dalam menonton TV dari tahun 2008 dan 2009. Kemudian, para peneliti melihat kemampuan kognisi memori dan bahasa mereka enam tahun kemudian, yaitu pada 2014 dan 2015.

Hasilnya, ditemukan bahwa selama periode enam tahun, orang yang menonton TV 3,5 jam per hari mengalami penurunan memori verbal yang lebih besar.

“Kok bisa sih?”

Karena, ketika kita nonton TV, terjadi perubahan gambar, suara, dan tindakan yang diproses otak kita, sementara kita sendiri pasif menerima informasi. Sehingga, otak jadi waspada, tapi kurang fokus. Hal ini bisa berpengaruh pada proses berpikir kita. Rebahan atau duduk-duduk santuy dalam waktu yang lama di depan TV juga berpengaruh terhadap fisik.

Oleh karena itu, buat lo yang hobi nonton TV dalam waktu yang lama, ada wejangan nih dari Dr Daisy Fancourt, sang penulis jurnal di atas sekaligus peneliti senior di University College London. Katanya, it’s ok kalo lo mau refresh otak dengan nonton acara TV sepuas lo. Tapi, akan lebih baik jika lo menyeimbangkan waktu lo dengan melakukan aktivitas aktif dan positif yang bisa ngelatih otak, seperti main game yang menantang, main puzzle, atau belajar hal baru. Jangan lupa juga buat tetap bergerak, karena aktivitas fisik penting banget buat kesehatan jantung. Catat ya!

Nasib TV Sekarang

Jujur ya, lo tipe orang yang masih lebih suka nonton TV, atau udah tenggelam di dunia internet? Sebagian besar pasti sekarang udah anak sosmed banget kan?

Kita nggak bisa mungkirin, perkembangan internet sekarang udah cepet banget. Lo pasti setidaknya udah punya smartphone, komputer, atau laptop sendiri. Lo bisa dengan mudah baca berita terkini di internet, ngakses materi sekolah di Zenius, dan nyari hiburan di YouTube, atau streaming-an di Netflix. Udah jarang orang yang nyalain TV-nya, atau bahkan TV-nya udah ada yang berdebu, karena penggunanya udah ‘selingkuh’ sama smartphone.

Sejarah Hari Televisi Sedunia dan Dampaknya untuk Kita (21 November) 71
Waktu rata-rata yang dihabiskan orang dewasa di Amerika Serikat untuk menonton televisi mengalami penurunan, dari tahun 2014-2023. (Foto: Data Statista 2021)

Yap, TV emang bisa jadi ‘masa lalu’ buat kita nantinya. Menurut penelitian Statista tahun 2021, orang dewasa di AS Cuma menghabiskan waktu rata-rata tiga jam lebih 17 menit buat nonton TV dalam satu hari. Angka ini udah menurun sejak tahun 2014, kecuali tahun 2020, saat wabah corona melanda dunia. Bahkan, diperkirakan penonton di AS hanya akan menghabiskan waktunya selama 2 jam lebih 41 menit untuk menonton TV.

Penurunan itu kemungkinan disebabkan oleh banyaknya waktu yang dihabiskan orang buat mantengin HP, laptop, dan tablet. Sekarang, orang-orang lebih suka berlangganan layanan streaming yang bisa diakses di mana aja, dibandingkan nonton TV.

Sejarah Hari Televisi Sedunia dan Dampaknya untuk Kita (21 November) 72
Aplikasi Netflix. (Foto: Souvik Banerjee via Pixabay)

Apakah lo termasuk pelanggan Netflix? Kalau iya, berarti lo adalah satu dari 213,6 juta orang yang berlangganan.

Tren berlangganan layanan streaming ini lah yang menjadi faktor besar penggunaan TV yang udah mulai terlupakan. Layanan streaming memudahkan pemirsanya buat nonton tayangan apa aja, di mana aja, dan kapan aja tanpa ribet. Kebiasaan ini lah yang nantinya akan membuat kebiasaan menonton televisi turun lebih jauh di masa depan.

Meskipun begitu, evolusi televisi akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang. Teknologi pun semakin maju, ya kan? Perusahaan pembuat televisi pasti bakal ngasih fitur-fitur baru yang disesuaikan dengan kebutuhan para pemirsa sekarang. So, kita lihat saja, apa yang bakal ditawarkan televisi ke depannya agar tak lekang oleh waktu.

Penutup

Oke, segitu dulu ya ngebahas tentang seluk beluk pertelevisian. Kalau di-flashback sekilas, kita tadi udah ngebahas dari keponya Joseph May dengan kabel telegraf transatlantik, temuan besar Baird sampai Farnsworth, hingga akhirnya menjadi televisi yang tayangannya bisa kita nikmati sekarang. Televisi juga udah ngerubah kita, dunia dan segala aspeknya, sehingga layak diperingati dalam Hari Televisi Dunia. Meskipun penggunaan televisi sekarang udah mulai terabaikan, kita perlu berterima kasih atas kehadirannya. Tanpa TV, mungkin kita nggak akan bisa semaju sekarang, punya wawasan yang luas tentang apa yang terjadi di dunia.

Selamat Hari Televisi Sedunia!

Baca juga artikel lainnya

Kenapa 5 Oktober Diperingati Sebagai Hari Guru Sedunia?

Awal Mula Krisis Misil Kuba dan Berakhirnya, Hampir Mengancam Dunia!

Mikhail Gorbachev: Pemimpin Terakhir Uni Soviet Sekaligus Bintang Iklan Pizza Hut

Referensi

Bassett, John. (2006). Rahasia Dibalik Televisi. Bandung: Pakar Karya.

Britannica Kids. Television. Diakses pada 27 Oktober 2021, dari https://kids.britannica.com/kids/article/television/353844

Coffin, T. E. (1955). Television’s impact on society. American Psychologist, 10(10), 630–641.

Fancourt, D., Steptoe, A. (2019). Television viewing and cognitive decline in older age: findings from the English Longitudinal Study of Ageing. Sci Rep 9, 2851.

Field, R. Douglas. (2016). Does TV Rot Your Brain?. Diakses pada 29 Oktober 2021, dari https://www.scientificamerican.com/article/does-tv-rot-your-brain/

Page, Danielle. (2017). What happens to your brain when you binge-watch a TV series. Diakses pada 29 Oktober 2021, dari https://www.nbcnews.com/better/health/what-happens-your-brain-when-you-binge-watch-tv-series-ncna816991

Pruitt, Sarah. (2021). Who Invented Television? Diakses pada 27 Oktober 2021, dari https://www.history.com/news/who-invented-television

Stephens, Mitchell. History of Television. Diakses pada 27 Oktober 2021, dari https://stephens.hosting.nyu.edu/History%20of%20Television%20page.html

Stoll, Julia. (2021). Average daily time spent watching TV in the United States from 2014 to 2023. Diakses pada 27 Oktober 2021, dari https://www.statista.com/statistics/186833/average-television-use-per-person-in-the-us-since-2002/

United Nations. World Television Day. Diakses pada 27 Oktober 2021, dari https://www.un.org/en/observances/world-television-day

Wood, Hellen & Kay, Jilly Boyce. Watching at Home. Diakses pada 27 Oktober 2021, dari https://www.bbc.com/historyofthebbc/100-voices/birth-of-tv/watching-at-home/

Bagikan artikel ini: