Contoh Teks Editorial Beserta Struktur dan Penjelasannya – Materi Bahasa Indonesia Kelas 12

Ilustrasi siswa sedang membaca contoh teks editorial secara online di internet.

Secara nggak sadar, ternyata elo udah sering membaca contoh teks editorial, lho. Memang, teks editorial itu yang seperti apa, sih? Cari tahu di sini, yuk!

Halo, Sobat Zenius! Elo pernah baca-baca suatu artikel atau majalah yang isinya pendapat seseorang terhadap suatu isu, belum? Gue yakin, sih, elo pasti sudah pernah membacanya. Misalnya, ada artikel tentang alasan disukainya budaya Korea oleh masyarakat dunia.

Nah, jenis artikel seperti itu yang dinamakan dengan teks editorial.

Contoh lainnya, nih, elo pernah dengar tentang buku yang judulnya Catatan Pinggir (1977)? Nah, buku tersebut merupakan kumpulan editorial karya jurnalis senior Goenawan Mohamad,yang merupakan pendiri majalahTempo.

Lantas, apa yang dimaksud dengan teks editorial? Gue uraikan penjelasannya di bawah ini, ya.

Teks editorial atau tajuk rencana merupakan argumen redaksi terhadap peristiwa yang aktual atau yang sedang hangat diperbincangkan.

Isu yang diangkat dalam teks editorial bisa beragam, guys. Elo bisa mengangkat topik politik, pendidikan, kenaikan BBM, ekspor-impor, kesehatan, dan masih banyak lagi.

Nah, teks editorial juga punya ciri khas supaya elo lebih mudah dalam membedakan antara teks editorial dan jenis teks lainnya. Berikut ini ciri-ciri teks editorial.

  1. Tema berasal dari fakta yang aktual.
  2. Mengandung opini redaksi berupa kritik, harapan, dan penilaian.
  3. Sistematis.
  4. Bersifat argumentatif dengan kalimat-kalimat yang logis.
  5. Berisi simpulan solusi dari redaksi.

Sebelumnya udah gue sampaikan, kalau teks editorial itu berisi argumen redaksi, kan? Selain itu, elo juga perlu tahu, nih, bahwa di dalam teks editorial ada kalimat fakta dan opini. Contoh fakta dan opini dalam teks editorial seperti ini:

  • Fakta: Gelaran SEA Games ke-10 akan berlangsung di Filipina.
  • Opini: Kita memahami betapa target dua besar dalam SEA Games ke-10 bukanlah sasaran yang mudah dicapai.

Untuk lebih jelasnya lagi, gue akan menguraikan contoh teks editorial beserta strukturnya di bawah ini.

Contoh Teks Editorial Tentang Kesehatan dan Strukturnya

Untuk tema kesehatan, gue mau mengambil contoh teks editorial tentang covid-19. Coba elo perhatikan contoh teks beserta strukturnya di bawah ini, ya!

Covid-19.
Ilustrasi Covid-19. (Arsip Zenius)

Kasus Positif Naik Lagi

Paragraf 1: Pengenalan IsuSesuai prediksi, kasus positif Covid-19 terus merambat naik sejak bulan Juni 2022. Hal ini diperkirakan akan mencapai puncaknya pada Juli 2022. Bagaimana cara mengantisipasi kondisi ini?
Paragraf 2: Pengenalan Isu – Menjelaskan fakta tentang meningkatnya kasus Covid-19.Pada 30 Juni 2022, kasus positif Covid-19 tercatat sebanyak 2.248. Padahal, satu bulan sebelumnya hanya ada 218 kasus. Ya, memang benar jika dibandingkan dengan puncak penularan pada 16 Februari 2022 sebanyak 64.718, kasus kali ini masih sangat jauh angkanya. Namun, tetap saja, fenomena ini perlu diwaspadai dan dimitigasi supaya tidak ada penyesalan nantinya.
Paragraf 3: Pengenalan Isu – Menjelaskan tentang varian baru Covid-19.Setelah lebih dari dua tahun terjadinya pandemi, kini datang lagi varian Delta yang lebih ganas pada awal tahun 2021. Seiring berjalannya waktu, kasus mulai menurun seiring meluasnya cakupan imunisasi. Setelah itu, datang varian baru, Omicron. Bersyukur, meski lebih mudah menular, namun Omicron tidak seganas Delta.
Paragraf 4: Pengenalan Isu – Menjelaskan tentang varian baru Omicron.Ternyata, Omicron datang bersama kawan-kawannya. Muncul turunan varian Omicron dari BA.2, BA.4, hingga BA.5. Meski tingkat keganasan virus ini semakin rendah, namun berbagai cara tetap perlu diupayakan supaya penularan dapat segera dikendalikan.
Paragraf 5: Pengenalan Isu – Menjelaskan tentang kebijakan pemerintah yang baru.Tentu saja, upaya ini tidaklah mudah, mengingat berbagai pelonggaran sudah dilakukan. Dari diadakannya tes antigen atau PCR bagi setiap penumpang kereta api dan pesawat yang sudah melakukan vaksinasi, lengkap dengan booster-nya, hingga diperbolehkannya membuka masker di tempat terbuka.
Paragraf 6: Pengenalan Isu – Mencantumkan fakta tentang vaksinasi di Indonesia.Di satu sisi, upaya pemerintah untuk membangkitkan kembali aktivitas masyarakat dapat dipahami agar ekonomi segera pulih, terlebih target imunisasi saat ini sudah melampaui target. Terhitung hingga 2 Juli 2022, vaksinasi dosis pertama sudah mencapai 96,78 persen, dosis kedua 81,20 persen, dan dosis ketiga 24,45 persen. Artinya, kekebalan komunitas sudah tercapai.
Paragraf 7: Pengenalan Isu – Mencantumkan fakta tentang upaya yang dilakukan Singapura.Namun, di sisi lain kita tetap perlu melindungi mereka yang rentan, misalnya karena sudah berusia lanjut, anak-anak, atau yang belum mendapatkan vaksinasi karena berbagai alasan. Sedikit kita menilik Singapura. Mereka sudah menambah tempat tidur bagi pasien rawat inap di rumah sakit dan panti jompo. Posko berbasis komunitas juga sudah mulai dibuka untuk mengobati pasien bergejala ringan. Tidak hanya itu, posko tersebut juga digunakan untuk memantau pasien isolasi mandiri di wilayahnya masing-masing.
Paragraf 8: ArgumentasiIndonesia juga bisa melakukan hal yang sama. Perlu disiagakan kembali Wisma Atlet, rumah sakit, puskesmas, dan posko mandiri untuk tanggap darurat di seluruh Indonesia. Vaksinasi juga perlu untuk terus ditingkatkan cakupannya, dan kembali melakukan tracing untuk memutus rantai penularan.
Paragraf 9: ArgumentasiLebih dari itu, masyarakat tetap perlu untuk menerapkan protokol kesehatan dan kembali memakai masker di mana pun mereka berada. Cara seperti ini sudah terbukti tidak hanya efektif mencegah Covid-19, melainkan juga penyakit menular lainnya. Ya, kita memang tidak sebebas dulu saat sebelum ada Covid-19.
Paragraf 10: KesimpulanInilah era new normal atau tatanan baru yang perlu kita taati bersama demi mewujudkan keselamatan bersama.
Sumber: Kompas.id (dengan modifikasi).

Contoh teks editorial tentang kesehatan di atas mudah-mudahan bisa memberikan gambaran ke elo, ya.

Baca Juga: Covid-19 Akan Menjadi Endemi, Lantas Apa Perbedaan Pandemi dan Endemi?

Contoh Teks Editorial Tentang Pendidikan dan Strukturnya

Selanjutnya, kita bahas tema pendidikan, yuk! Untuk tema yang satu ini, gue mau membawakan topik ruang belajar kolaboratif, ya. Namun, memang topik ini lebih membahas tentang mahasiswa. Menurut gue, sih, nggak apa-apa. Itung-itung, elo belajar tentang masa depan, iya, nggak?

Arti kata “pendidikan”menurut KBBI menunjukan hasil dari pendidikan itu sendiri.
Ilustrasi arti kata “pendidikan” menurut KBBI (Arsip Zenius)

Membuka Ruang Belajar yang Kolaboratif

Paragraf 1: Pengenalan IsuSalah satu tugas perguruan tinggi adalah menyiapkan masa depan mahasiswa untuk bekerja. Bahkan, mahasiswa yang mengenyam pendidikan S-1 pun bukan menjadi tenaga ahli.
Paragraf 2: Pengenalan IsuJika kemudian banyak mahasiswa dari perguruan tinggi yang belum siap bekerja, faktornya bisa beraneka ragam. Namun, yang jelas, perguruan tinggi perlu membenahi pembelajarannya supaya bisa menyiapkan mahasiswa untuk berkarir, entah itu untuk bekerja mandiri atau kepada orang lain.
Paragraf 3: Pengenalan Isu – Menjelaskan fakta tentang program Praktisi MengajarUntuk mengatasi hal tersebut, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyelenggarakan program Praktisi Mengajar. Program tersebut dilakukan untuk menutup kesenjangan kualitas lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan membawa pengalaman praktis melalui program tersebut, para praktisi dari dunia kerja ke kampus diharapkan bisa meningkatkan relevansi mata kuliah yang diajarkan dengan kebutuhan dunia kerja.
Paragraf 4: Pengenalan Isu – Menjelaskan tentang keterampilan teknis dan non teknisBekerja memang tidak hanya membutuhkan kemampuan akademis atau keterampilan teknis (hardskills), melainkan juga perlu diikuti dengan kemampuan non-akademis atau keterampilan non-teknis (softskills). Bahkan, untuk bisa memenuhi tuntutan era 4.0, porsi softskills harus lebih besar, karena syarat menguasai sofskills akan menentukan keberhasilan di masa depan, bukan semata-mata kemampuan akademis, apalagi jurusan saat kuliah.
Paragraf 5: ArgumentasiSaat ini, kita seolah berlomba dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat. Tantangan pendidikan kita saat ini adalah menyiapkan generasi masa depan yang terampil dan tidak tergantikan oleh proses otomasi. Keterampilan non-teknis, seperti kemampuan yang berkaitan dengan kecerdasan emosional, komunikasi, kolaborasi, manajerial, dan keterampilan sosial inilah yang tidak akan tergantikan oleh proses otomasi, dan inilah yang harus diperkuat dalam pembelajaran di perguruan tinggi.
Paragraf 6: ArgumentasiDengan kebutuhan tersebut, membuka ruang belajar yang kolaboratif dan adaptif dengan mengundang praktisi dari dunia kerja ke kampus menjadi sangat relevan. Perguruan tinggi akan membutuhkan proses adaptasi dari sistem pembelajaran konvensional ke sistem pembelajaran yang kolaboratif dan adaptif. Kecepatan adaptasi masing-masing perguruan tinggi pun tentu saja akan berbeda-beda.
Paragraf 7: KesimpulanDengan jumlah perguruan tinggi di Indonesia yang mencapai 3.115 (BPS, 2021) dan beragamnya kualitas, tantangannya adalah bagaimana agar program Praktisi Mengajar ini bisa segera diselenggarakan secara merata di semua perguruan tinggi. Program akselerasi ini mungkin perlu dilakukan untuk membantu perguruan tinggi yang minim sumber daya. Jangan sampai perguruan tinggi yang minim sumber daya semakin tertinggal.

Sumber: Kompas.id (dengan modifikasi).

Baca Juga: Jenis Teks dalam Bahasa Indonesia dan Penjelasannya

Contoh Teks Editorial Tentang Bencana Alam dan Strukturnya

Lalu, bagaimana dengan teks editorial tentang bencana alam? Oke, kita bahas juga, yuk!

apa itu bencana
Ilustrasi Bencana Alam (Arsip Zenius)

Antisipasi Bencana Ganda

Paragraf 1: Pengenalan IsuTahun ini, bencana banjir mengancam di tengah pandemi Covid-19. Hal tersebut membuat kesengsaraan warga berkali-kali lipat. Oleh karena itu, kesehatan masyarakat, terutama pengungsi yang ada di wilayah rawan banjir perlu dijaga agar penularan virus tidak makin menjadi.
Paragraf 2: Pengenalan Isu – Menjelaskan fakta tentang jumlah kasus positif Covid-19 di JakartaTanpa hujan yang berpotensi banjir pun Jakarta masih kewalahan menangani penularan virus corona. Menurut corona.jakarta.go.id, 1:165 penduduk Jakarta terinfeksi virus ini. Angka pertambahan kasus positif terus meningkat dengan rata-rata 1.000 orang per harinya.
Paragraf 3: Pengenalan Isu – Menjelaskan tentang langkah untuk menangani bencana banjir dan penularan Covid-19Langkah awal untuk menangani permasalah ini bisa dengan cara melakukan pendataan wilayah rawan banjir dan perhitungan julah orang yang akan terdampak. Data tersebut penting untuk mengetahui berapa jumlah barak pengungsian yang dibutuhkan, tentunya dengan protokol kesehatan yang berlaku demi penanganan Covid-19.
Paragraf 4: Pengenalan Isu – Menjelaskan tentang dibutuhkannya persiapan yang memadaiKalau tidak ada persiapan yang memadai, khawatirnya bencana banjir ini akan melanda bersamaan dengan puncak penularan Covid-19. Kalau sudah seperti itu, bukan hanya pemerintah Jakarta yang kewalahan. Risiko penderitaan masyarakat sekitar juga akan sulit ditekan.
Paragraf 5: Pengenalan Isu – Menjelaskan tentang menurunnya tingkat perekonomian di JakartaUluran bantuan dari pemerintah pusat juga dibutuhkan untuk meng-cover perekonomian Jakarta. Ekonomi yang tidak bergerak akibat kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) membuat pendapatan DKI Jakarta mengempis.
Paragraf 6: ArgumentasiAncaman penyakit lain juga perlu diantisipasi. Meningkatnya bencana banjir dan musim hujan membuat banyak penyakit timbul. Kesehatan masyarakat yang tidak prima dapat memperparah infeksi virus corona.
Paragraf 7: Argumentasi Daerah seperti Bekasi dan Depok juga perlu waspada, ya, meskipun rasio infeksi Covid-19 di daerah tersebut tidak setinggi Jakarta. Namun, daerah tersebut juga kerap menjadi korban banjir. Dengan rasio infeksi 1:733, Bekasi tetap perlu mengantisipasi bencana banjir sejak awal. Jangan sampai laju penularan virus semakin menanjak.
Paragraf 8: KesimpulanUntuk menghadapi potensi bencana ganda ini, diperlukan kolaborasi antar-pemerintah daerah, dan juga antar pusat-daerah. Adanya miskomunikasi dan persaingan politik dapat menghambat antisipasi tersebut, sehingga menyebabkan masyarakat menjadi korbannya. Penanganan yang lambat dan tidak seragam bisa membuat biaya penanganan menggendut dan korban berlipat ganda.
Sumber: Koran.Tempo (dengan modifikasi)

Contoh Teks Editorial Tentang Kebudayaan dan Strukturnya

Nah, contoh teks editorial yang terakhir bertema kebudayaan. Ada banyak topik kebudayaan yang bisa dijadikan teks editorial. Kali ini, gue mau mengangkat topik masyarakat adat. Simak contoh beserta strukturnya berikut ini, ya!

Keberagaman etnis dan budaya
Ilustrasi keberagaman etnis dan budaya. (Arsip Zenius)

Masa Depan Masyarakat Adat

Paragraf 1: Pengenalan IsuUntuk mengawali kegiatan pada hari Senin (14/3/2022), Presiden Joko Widodo melakukan penyatuan tanah dan air ke dalam Kendi Nusantara. Kegiatan berlangsung di titik nol kilometer Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Tanah dan air tersebut berasal dari seluruh Nusantara.
Paragraf 2: Pengenalan Isu – Menjelaskan fakta tentang asal tanah yang ada di Kendi Nusantara.Misalnya, tanah yang diambil di Jawa Timur berasal dari daerah Trowulan, Mojokerto, yang dulunya merupakan tilas keraton Majapahit. Dari Bali, tanah tersebut diambil dari Pura Pusering Jagat, Tampaksiring, Giantar. Dari Aceh, tanah diambil dari Masjid Raya Baiturrahman.
Paragraf 3: Pengenalan Isu – Menjelaskan tentang filosofi ritual penyatuan tanah dan air.Filosofi dari ritual penyatuan tanah dan air dari berbagai daerah tersebut untuk menguatkan fakta sejarah bahwa dulunya Indonesia merupakan gabungan wilayah dari berbagai kerajaan hingga masyarakat adat.
Paragraf 4: Pengenalan Isu – Menjelaskan tentang masyarakat adat.Masyarakat adat sudah sejak dulu menghuni Nusantara, baik yang tergabung dalam kerajaan, maupun yang berdiri sendiri. Sibukdin (60), seorang Kepala Adat Suku Balik Kelurahan Sepaku yang bermukim tak jauh dari titik nol kilometer masih merasa khawatir akan tergusur dari tanah kelahirannya.
Paragraf 5: Pengenalan Isu – Menjelaskan tentang kekhawatiran masyarakat adat akan tergusur dari wilayahnya.Tidak hanya Sibukdin, warga sukunya juga merasa khawatir, karena dulu sempat terdesak oleh warga transmigran pada era Orde Baru. Saat ini, mereka khawatir akan terdesak juga oleh adanya proyek IKN Nusantara. Mestinya, keraguan mereka bisa ditepis dengan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat. RUU tersebut telah masuk ke Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2022.
Paragraf 6: Pengenalan Isu – Mencantumkan fakta tentang RUU Masyarakat Adat.RUU Masyarakat Adat tersebut merupakan harapan untuk menjawab persoalan yang tengah dihadapi masyarakat adat. Kompas melakukan jajak pendapat pada 10-13 Mei 2022, yang mana diperoleh hasil bahwa responden Kompas menilai hak warga negara dan pengakuan identitas masyarakat adat harus segera dipenuhi.
Paragraf 7: Argumentasi Entah kapan upaya legislasi ini dapat segera tuntas, karena ketika berkaca pada RUU Perlindungan Data Pribadi, berbagai upaya juga sebaiknya dilakukan demi masyarakat adat. Salah satu upaya yang  bisa dilakukan adalah dengan melengkapi dan mendetailkan data Kebijakan Satu Peta Nasional (One Map) yang sangat penting untuk meminimalkan sengketa lahan masyarakat adat.
Paragraf 8: ArgumentasiPemerintah dan masyarakat pada umumnya perlu mendengarkan persoalan, harapan, dan kebutuhan masyarakat adat. Pun hal tersebut juga harus segera diwujudkan. Karena, tiap masyarakat adat memiliki isu yang khas, oleh karena itu penyelesaiannya juga harus dengan cara yang khas pula.
Paragraf 9: ArgumentasiPada akhirnya, kita pun berharap agar pemerintah dan penegak hukum bisa menjadi pemberi, minimal fasilitator untuk mencapai solusi dari permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat adat. Selama ini, mereka sering mendapat ancaman kekerasan hingga kriminalisasi. Tentu saja, kalangan akademisi, terutama antropolog ikut mendampingi supaya bisa membantu dalam mengurai permasalahan masyarakat adat.
Paragraf 10: KesimpulanKita sudah selayaknya membela masyarakat adat, karena jumlah mereka yang diperkirakan mencapai 24 persen dari total populasi Indonesia. Ada 2.061 komunitas adat yang tersebar di seluruh Indonesia. Membela masyarakat adat berarti membela Indonesia, bukan?
Sumber: Kompas.id (dengan modifikasi)

Gimana? Sudah paham dengan contoh-contoh di atas? Sekarang, di rumah elo ada koran, nggak? Kalau ada, coba elo cari contoh teks editorial di koran, ya! Elo klasifikasikan juga, kira-kira teks tersebut masuk dalam bidang apa, apakah kesehatan, politik, atau pendidikan?

Elo juga bisa mempelajari uraian di atas dengan nonton video belajar Zenius. Ayo, klik banner di bawah ini. Namun, pastikan elo udah login ke akun Zenius yang udah elo daftarkan, ya!

CTA banner ke video belajar zenius bahasa indonesia

Contoh Soal dan Pembahasan Contoh Teks Editorial

Gimana gimana, udah paham sama materi teks editorial beserta contoh-contohnya? Kalau elo udah ngaku paham, nih, gue ada contoh soal yang bisa elo kerjakan. Kalau masih bingung, tentang, karena gue udah menyediakan pembahasannya di tiap soal. Cekidot!

Contoh Soal 1

Contoh teks editorial dengan tema pendidikan adalah….

A. Kebudayaan untuk Pemuliaan Bangsa.

B. Tegas Tolak Sampah Impor.

C. Saatnya Utamakan Pencegahan Korupsi.

D. Modal Kepercayaan Polri.

E. Bullying Anak Sekolah, Salah Siapa?

Jawab: E. Bullying Anak Sekolah, Salah Siapa?

Pembahasan:

Dari berbagai pilihan jawaban di atas, opsi E adalah yang paling tepat. Hal itu karena hanya opsi E yang membawakan tema pendidikan.

Opsi A membawakan tema kebudayaan, B tentang lingkungan, C bertema nasionalisme, dan D tentang pemerintahan atau birokrasi.

Contoh Soal 2

Apa yang membedakan teks editorial dengan teks berita?

A. Teks editorial bersifat pribadi, sedangkan teks berita bersifat lembaga.

B. Teks editorial informatif dengan satu argumen, sedangkan teks berita informatif dengan banyak argumen.

C. Teks editorial subjektif, sedangkan teks berita objektif.

D. Teks berita seluruhnya bersifat fakta, sedangkan teks editorial bersifat opini.

E. Teks berita dibuat oleh redaksi, sedangkan teks editorial dibuat oleh jurnalistik.

Jawab: C. Teks editorial subjektif, sedangkan teks berita objektif.

Pembahasan: 

Teks berita berisi informasi faktual yang sifatnya objektif. Semua yang disampaikan dalam teks berita berdasarkan data yang ada. Sedangkan, teks editorial berisi argumen atau pendapat seseorang. Teks editorial mengandung dua unsur, yaitu fakta dan opini. Sehingga, jawaban yang paling tepat adalah C.

Baca Juga: 5 Contoh Teks Eksplanasi Beserta Strukturnya

*****

Gimana nih, sampai sini udah paham kan tentang materi dan contoh teks editorial? Buat yang lebih menyukai belajar dengan nonton video, elo bisa mengakses materi Bahasa Indonesia lainnya di video Zenius. Elo juga bisa mencoba melatih kemampuan dengan level soal yang mirip UTBK beneran dengan klik link di bawah ini!

Try Out bareng Zenius

Referensi:

Kasus Positif Naik Lagi – Kompas.id (2022).

Masa Depan Masyarakat Adat – Kompas.id (2022).

Membuka Ruang Belajar yang Kolaboratif – Kompas.id (2022).

Aplikasi Bencana Ganda – Koran.Tempo (2020).

Bagikan Artikel Ini!