Mengenal Carina Joe, Penemu Formula Dua Sendok Sel AstraZeneca

Mengenal Carina Joe, Penemu Formula Dua Sendok Sel AstraZeneca 25

Perjalanan Carina Joe menemukan “dua sendok makan sel” berbuah manis. Dia pun dapat penghargaan di Inggris. Bagaimana kisahnya?

“Global Gender Gap Report tahun 2020 dari World Economic Forum menunjukkan terjadinya ketimpangan secara gender ini hanya bisa ditutup dalam jangka waktu 99,5 tahun.”

Begitulah kata Sri Mulyani, Menteri Keuangan Indonesia saat menghadiri forum Capital Market Women Empowerment pada 2021 lalu. Tak hanya itu, Sri Mulyani juga menambahkan kalau kesenjangan gender semakin terasa di ranah STEM (science, technology, engineering, mathematics).

Kata Sri Mulyani, banyak perempuan akhirnya memilih untuk nggak terjun di dunia STEM lantaran ranah pekerjaan masih sangat bias. Ditambah, penelitian dari UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) pada 2018, ungkap stigma yang membuat perempuan akhirnya “ogah” untuk nekunin dunia STEM. Hiks, sedih!

Meski begitu, tak sedikit perempuan Indonesia sudah mulai menunjukkan taringnya di dunia STEM, nih. Carina Joe salah satunya. Ilmuwan ini berhasil menciptakan vaksin AstraZeneca bersama timnya di Oxford, Inggris.

Nggak tanggung-tanggung, temuannya bersama tim AstraZeneca mengantarkan Carina dan timnya berhasil mendapatkan penghargaan Pride of Britain di London pada Oktober 2021 lalu. Perempuan berambut panjang ini layak dapat penghargaan lantaran temuannya yang disebut “dua sendok makan sel”

Yang bikin bangga, pas Carina menerima penghargaan itu, banyak tamu undangan di Pride of Britain memberikan tepuk tangan sambil berdiri. Mendengar ceritanya dapat penghargaan, bikin merinding ya, Sobat Zenius? 

Baca Juga:Mengenal Gempa Megathrust, Gempa Bumi Terkuat di Dunia

Mengenal Carina Joe, Penemu Formula Dua Sendok Sel AstraZeneca 26
Carina Joe masih ingin terus belajar (Dok.Instagram @Carinajoe1)

Terus, gimana dia bisa sampai di London, ya?

Jatuh Cinta Sama Bioteknologi

Perjalanan Carina bisa sampai London itu dimulai pas dia masih sekolah di SMAK 1 BPK Penabur, Jakarta. Di sinilah, dia mulai jatuh cinta dengan dunia Bioteknologi. Katanya sih, ini bermula ketika belajar Biologi.

“Saya itu waktu sekolah dulu fokus ke akademi saja. Jadi nggak ambil ekskul, gitu. Terus, pas saya dapat pelajaran Biologi. Guru saya jelasin soal Bioteknologi tentang manipulasi genetik yang bisa mengubah ikan berwarna hitam jadi warna-warni.”  

Carina Joe saat wawancara bersama bBC Indonesia

Eh, tak disangka, manipulasi genetik ini membuat Carina terus penasaran dengan dunia Bioteknologi. Dia pun menekuni serta mencari tahu ke gurunya. Ketekunan ini pun membuat dia lolos program akselerasi dari sekolah. Duh, keren banget, ya!

Tapi, usai Carina lulus SMA, dia merasa nggak banyak kampus yang punya jurusan Bioteknologi. Jadilah, dia memilih kuliah di luar negeri untuk menekuni minatnya. Namun, perjalanannya nggak cukup sampai di S1 saja, nih.

Sebuah perusahaan di Australia menawarinya untuk magang, serta memberinya kesempatan untuk sekolah lagi sampai dapat gelar Ph.D. Voila! Dia pun menekuni bidang ini dengan sungguh serius sampai dapat gelar Ph.D bidang Bioteknologi di Royal Melbourne Institute of Technology.

“Setelah Ph.D, saya melanjutkan magang selama 7 tahun. Karena saya memiliki latar belakang industri, saat melamar ke Oxford postdoc, mereka senang dengan latar belakang industri saya,” tuturnya di akun Instagram @desrapercaya. 

Baca Juga: Tren Lagu Remake dan Pentingnya Musik di Era Pandemi

Dua Sendok Makan Sel

Carina pun tiba di Inggris pada akhir 2019. Saat itu, dia bekerja di Jenner Institute, Universitas Oxford, Inggris. Di sana, dia diminta untuk mengembangkan vaksin rabies. Tapi, baru juga sebentar, eh, Carina udah diminta bantuin tim AstraZeneca membuat vaksin Covid-19.

Tentu saja, mendapatkan tawaran itu membuat hatinya begitu senang. Sebab, dia memang bercita-cita ingin menjadi ilmuwan yang bisa bantu banyak orang. Katanya, “Saya dapat proyek ini seperti saya dapat proyek yang besar, karena saya pikir hasil kerjanya bakal punya pengaruh langsung untuk kehidupan masyarakat secara global.”

Semangatnya untuk mengembangkan vaksin AstraZeneca betulan penuh perjuangan. Dia mengambil tugas untuk mencari cara gimana si vaksin bisa diproduksi dalam juga besar, tetapi juga efektif.

Perjuangan pun dimulai. Carina bekerja seorang diri di lab Jenner Institute, meracik satu ramuan ke ramuan lainnya agar vaksin bisa diproduksi banyak. Bahkan, dia terus bekerja selama tujuh hari, tidak pulang ke rumah, demi si vaksin.

Tapi, siapa sangka kalau kerja keras Carina ini membuahkan hasil, lho. Dia berhasil menemukan formula 30 mililiter untuk membuat vaksin diproduksi secara masal pada Januari 2020. Nggak cuma itu, formula yang disebut “dua sendok makan sel” ini juga mudah ditransfer ke teknologi di berbagai negara.

Baca Juga: Stephen Hawking, Ilmuwan di Balik Teorema Black Hole

“Saya tidak sangka saja, dari eksperimen 30 mililiter atau dua sendok makan sel, bisa menghasilkan vaksin lebih dari satu miliar dosis dan dengan target tiga miliar dosis (pada akhir tahun) untuk suplai ke seluruh dunia.”

Carina Joe Dikutip dari kompas

Jadilah, temuan dua sendok makan sel ini membuat vaksin AstraZeneca bisa kita coba sekarang. Dan, hasilnya pun efektif untuk meminimalisir penyebaran Covid-19. Keren banget, ya!

Begitulah cerita si Carina bisa sabet penghargaan bergengsi di Inggris. Ya, kalau dia nggak berhasil nemuin formula dua sendok makan sel, vaksin AstraZeneca nggak akan mungkin bisa kita manfaatkan. Dan menariknya, vaksin ini murah banget, lho.

Tak heran harganya murah, soalnya Carina beserta tim AstraZeneca merelakan hak paten vaksin. Tahu nggak, harga vaksin AstraZeneca cuma Rp50.000,00 untuk satu dosis AstraZeneca. Para ilmuwan melepas hak paten, karena niatnya memang ingin membantu saja.

Mengenal Carina Joe, Penemu Formula Dua Sendok Sel AstraZeneca 27
Perjalanan Carina menemukan dua sendok makan sel (Dok.Instagram @Carinajoe1)

Jadi, begitulah perjalanan karier Carina Joe menemukan formula produksi massal AstraZeneca. Temuan ini tentunya menjadi bukti kalau perempuan juga bisa berkarya dan bekerja di industri STEM. 

Sekarang memang posisi perempuan di STEM masih sedikit. Ya, kalau lihat data yang dilansir dari Kata Data, laporan terbaru dari Mastercard pada 2017 ungkap hanya 3 dari 10 perempuan yang menjadi peneliti di STEM. 

Padahal, dunia ini butuh banget inovasi dari perempuan, lho. Seorang pemerhati isu feminis, Caroline Criado Perez, dalam bukunya Invisible Women: Data Bias in a World Designed for Men (2019), menjelaskan kalau banyak produk yang secara khusus didesain untuk laki-laki.

Contoh kecilnya, seatbelt yang kita pakai sehari-hari ternyata didesain dari anatomi tubuh laki-laki. Sedangkan, anatomi tubuh perempuan memiliki porsi lebih berisi, tidak berotot, dan berukuran kecil. Jadilah, kalau kecelakaan perempuan rentan terkena luka di bagian kepala dan paha.

Hmm…Ini baru satu contoh saja. Masih ada banyak hal lainnya yang membutuhkan perspektif perempuan. Nah, semoga saja artikel ini bisa nyemangatin elo untuk menggeluti STEM. Siapa tahu saja kan, elo bisa nyumbang inovasi bermanfaat lainnya.

Yuk, semangat Sobat Zenius!

Baca Juga:

Alexander Fleming, Ilmuwan yang “Kebetulan” Menemukan Penisilin

Biografi Marie Curie, Ilmuwan Wanita Pertama Pemenang Nobel

Nobel Kimia Tahun Ini Diberikan Kepada Tiga Ilmuwan Pengembang Baterai Lithium-Ion

Referensi

Carina Joe Ilmuwan Indonesia di Balik Vaksin AstraZeneca, Akan Wakili Tim Raih Penghargaan Pride of Britain – Kompas.com

Carina Joe: ‘Jalan saya untuk menjadi orang hebat masih panjang’- BBC News Indonesia

Kisah Carina Joe, Sosok Ilmuwan Indonesia di Balik Kesuksesan Vaksin AstraZeneca- Grid.id

Harga Vaksin Astrazeneca, Termurah Secara Global di Antara Vaksin Covid-19 yang Beredar di Indonesia- Tempo.co

Carina Joe: Suka Duka dan Kenangan Saat Masih di SMAK 1 PENABUR Jakarta – YouTube CalderaNews

Profil Carina Joe, Peneliti asal Indonesia yang Jadi Salah Satu Pemilik Hak Paten Vaksin AstraZeneca – Tribunnews

Bagikan Artikel Ini!