Stephen Hawking, Ilmuwan di Balik Teorema Black Hole

Stephen Hawking

Pernah nonton “The Theory of Everything” atau baca “A Brief History of Time”? Kalau gitu, udah kenal sama Stephen Hawking? Simak artikel ini, ya!

Siapa yang udah pernah nonton film The Theory of Everything (2014)? Film yang berhasil membuat Eddie Redmayne sang pemeran utama meraih penghargaan Oscar ini mengangkat kisah perjalanan hidup dari sosok sang “master alam semesta”, yaitu Stephen Hawking.

Poster Film The Theory of Everything
Poster Film The Theory of Everything (2014) (Dok. IMDB).
Hawking dan Para Pemain The Theory of Everything
Hawking dan Para Pemain The Theory of Everything (2014) (Dok. Daily Mail).

Dari yang mungkin udah elo tonton, elo sedikit-banyak bisa tahu bahwa Stephen Hawking adalah salah satu ilmuwan sekaligus “selebriti sains” paling terkenal dan berjasa untuk ilmu pengetahuan. Hawking dikenal atas penelitiannya mengenai black hole atau lubang hitam*, bukunya yang berjudul “A Brief History of Time (1988), serta penyakit ALS yang dideritanya selama lebih dari lima dekade. Buat kisah lebih lengkapnya, elo bisa langsung cek artikel berikut ini, ya!

Siapakah Stephen Hawking?

Mungkin elo udah pernah dengar tentang ini, bahwa tanggal lahir Stephen Hawking bertepatan dengan 300 tahun setelah kematian Galileo Galilei*. Yap, ilmuwan bernama lengkap Stephen William Hawking ini lahir di Oxford, Inggris, pada 8 Januari 1942 dan wafat di Cambridge, Inggris, pada 14 Maret 2018. Ehm, kalau-kalau lo juga belum tahu, tanggal wafat Hawking bertepatan dengan ulang tahun Albert Einstein*, lho!

Potret Stephen Hawking
Potret Stephen Hawking (Dok. National Geographic).

Ayahnya, Frank Hawking (1905-1986), menjadi sukarelawan untuk pasukan militer ketika Perang Dunia ke-2 (1939-1945) dimulai, yakni sebagai peneliti medis. Sementara, ibunya yang bernama Isobel Eileen Walker (1915-2013) bekerja sebagai seorang sekretaris sebelum menikah dengan Frank. Hawking memiliki dua orang adik kandung, yaitu Mary dan Philippa, serta seorang adik angkat bernama Edward.

Hawking dan Para Saudarinya
Hawking dan Para Saudarinya (Dok. “My Brief History” (2013) oleh Stephen W. Hawking).

Elo tahu nggak, kalau kedua orangtua Hawking itu tinggalnya di London? Tapi kok, Hawking lahir di Oxford? Jadi, ada sebuah perjanjian semasa Perang Dunia ke-2, bahwa selama Inggris janji untuk nggak ngebom wilayah Heidelberg dan Göttingen, maka Jerman pun nggak bakal ngebom wilayah Oxford dan Cambridge. Makanya supaya lebih aman, ibu Hawking memilih untuk melahirkan di Oxford.

Perjalanan Kehidupan Stephen Hawking

Masa-Masa Sekolah Hawking

Ketika usianya 4 tahun, kedua orangtua Stephen Hawking mendaftarkannya untuk bersekolah di Byron House School di Highgate, Inggris. Sayangnya, Hawking merasa ia nggak diajarkan apa-apa di sekolah, hingga ia pun protes tentang ini kepada ayah dan ibunya. Pada tahun 1950, mereka sekeluarga pindah ke sebuah kota kelas menengah St. Albans yang terletak di Hertfordshire, Inggris.

Ketika berusia 10 tahun, ayahnya mendaftarkan Hawking ke salah satu sekolah privat terbaik di seluruh negeri bernama Westminster. Sayangnya, Hawking jatuh sakit di hari ujian seleksi masuk dan harapan ayahnya untuk mengirim sang anak ke sekolah elit pun pupus. Akhirnya, pada tahun 1952, ayahnya mendaftarkan Hawking ke sekolah privat setempat yang nggak kalah dikenal dari segi akademiknya yang bagus, yaitu St. Albans School.

Kapabilitas Hawking selama sekolah masih terbilang “biasa saja”, sampai usianya menginjak 14 tahun dan ia mulai menunjukkan kejeniusan alamiahnya, terutama dalam Matematika dan Fisika. Oh iya, Hawking juga punya “circle” selama bersekolah, dengan John McClenahan sebagai salah satu teman terdekatnya, yang sayangnya harus berpisah jalan ketika mereka berkuliah di kampus yang berbeda.

Sejak Hawking masih di bangku SMA, ayahnya ingin Hawking untuk nerusin jejaknya kuliah di jurusan kedokteran, tapi Hawking keukeuh kalau ia lebih pengin belajar tentang matematika dan fisika. Akhirnya, ayahnya menyerah dan membiarkan Hawking untuk daftar ke jurusan yang ia mau. Maka pada 1959, ikutlah Hawking dalam ujian masuk universitas yang memakan waktu selama dua hari. Beberapa hari kemudian, Hawking berhasil mendapatkan undangan untuk berkuliah di Oxford University, serta tawaran beasiswa di University College tempat ayahnya dulu berkuliah. Kampus mana yang Hawking pilih? Yap, Oxford University.

By the way, ujian akhir di Oxford University bukanlah sembarang ujian. Maka, Hawking pun menyusun rencana belajar sendiri supaya bisa catch up dengan teman-temannya yang udah rajin mengkaji materi-materi ujian dari jauh-jauh hari. Yang bikin Hawking makin panik adalah, saat itu ia juga mendaftar ke Cambridge University untuk gelar Ph.D. di jurusan Kosmologi*, yang mana salah satu syarat masuknya adalah ia harus mendapatkan predikat kelas pertama pada ujian akhirnya di Oxford University.

Kelulusan Hawking dari Oxford
Kelulusan Hawking dari Oxford (Dok. “My Brief History” (2013) oleh Stephen W. Hawking).

Gimana hasil ujian akhirnya? Stephen Hawking berada di antara predikat kelas pertama dan kedua. Maka dari itu, ia harus melakukan wawancara dengan para penguji untuk nentuin predikatnya. Pada akhirnya, Hawking berhasil mendapatkan predikat kelas pertama dan diterima di Cambridge University.

Cambridge, ALS, dan Jane Wilde

Sejak Oktober 1962, Stephen Hawking resmi mulai melanjutkan pendidikan doktoral di Cambridge University. Berbeda dengan ekspektasinya untuk belajar di bawah naungan tutor Fred Hoyle, Hawking mendapatkan Dennis Sciama sebagai tutornya. Yang, menurut Hawking, ternyata jauh lebih baik daripada Hoyle yang sering bepergian ke luar negeri.

Tahun pertamanya dilewati dengan nggak jauh beda ketika ia masih di Oxford University dulu yaitu malas dan kesulitan untuk menemukan pertanyaan penelitian untuk dipelajari. Selain itu, Hawking juga mulai merasa aneh dengan tubuhnya sendiri. Kakinya mulai sering terasa loyo, sering nabrak ketika lagi jalan, serta sering kesulitan berbicara dengan jelas. Tapi awalnya, Hawking berusaha untuk lanjutin hidupnya kayak biasa.

Although my body is very limited, my mind is free to explore the universe.”

Stephen Hawking

Hingga ketika masa liburan Natal dan tahun baru di penghujung tahun pertama kuliahnya di Cambridge, ketika Hawking pulang ke rumah kedua orang tuanya, tanda-tanda keanehan pada tubuhnya jadi semakin kentara. Alhasil, ayahnya langsung membawa Hawking ke rumah sakit untuk diperiksakan, dimana ia didiagnosis mengidap penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS)* dan hanya punya sisa waktu tidak lebih dari 2 tahun. Di usianya yang ke-21, Hawking mengalami depresi dan mengurung dirinya sendiri.

Yang menjadi secercah cahaya bagi Hawking untuk kembali menemukan semangat menjalani hidupnya, selain dari berbagai mimpi dan tekad untuk menjadi bermanfaat bagi sesama, adalah keberadaan sosok Jane Wilde. Seorang kenalannya mempertemukan mereka berdua di salah satu pesta akhir tahun. Dari situ, mereka berdua menjadi dekat. Ketika Hawking diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit, keduanya bahkan menjadi lebih akrab lagi. Selain itu, Hawking juga mulai tergerak untuk menyelesaikan pendidikan doktoralnya.

Masih inget sama Fred Hoyle? Jadi, situasinya saat itu di tahun ke-2 Hawking kuliah, ruangan kantor Hoyle dan Hawking bersebelahan. Ketika itu, Hoyle dan rekannya sedang mengerjakan sebuah penelitian. Di sisi lain, Hawking yang murni karena penasaran dan menganggap penelitian mereka menarik, sering bolak-balik ke kantor Hoyle untuk lihat. Suatu hari, Hoyle mengadakan seminar untuk mempresentasikan hasil penelitiannya—yang meskipun pada saat itu belum sepenuhnya selesai. Hawking, tentu aja datang. Di akhir acara, Hawking mengajukan argumen bantahan tentang penelitian Hoyle, yang ternyata setelah dibuktikan adalah benar. Dari situ, meskipun sikapnya agak nyeleneh dan kurang sopan, Hawking mulai diakui sebagai salah satu peneliti yang menjanjikan.

Pada 1965, Hawking akhirnya berhasil meraih gelar Ph.D. Singkat cerita, setelah menghadiri sebuah pertemuan di London yang di antaranya dihadiri oleh Roger Penrose, seorang ilmuwan yang mengenalkan gagasan singularitas ruang dan waktu di bagian pusat lubang hitam, Hawking tergerak untuk mengkaji tentang aplikasi teori singularitas Penrose pada alam semesta secara keseluruhan di dalam tesisnya.

Pernikahan Hawking dan Jane (1965)
Pernikahan Hawking dan Jane (1965) (Dok. “My Brief History” (2013) oleh Stephen W. Hawking).

Pada tahun 1965 itu pula, Stephen Hawking dan Jane resmi menikah. Pada 1967, lahirlah anak pertama mereka, Robert. Hawking dan keluarga kecilnya memutuskan untuk membeli rumah di Little St. Mary’s Lane, Inggris, dan menetap di sana selama beberapa tahun.

The Large Scale Structure of Spacetime”, Hawking Radiation, dan Royal Society

“I think I’m happier now than I was before I started. Before the illness set in I was very bored with life. I drank a fair amount, I guess, didn’t do any work. It was really a rather pointless existence. When one’s expectations are reduced to zero, one really appreciates everything that one does have.”

Stephen Hawking

Di penghujung tahun 1960-an, Stephen Hawking mau nggak mau harus menggunakan kursi roda untuk menunjang kesehariannya, termasuk ketika ia resmi menjadi anggota Institute of Theoretical Astronomy di Cambridge, Inggris, sejak tahun 1968 dan kelahiran putri keduanya yang bernama Lucy pada November 1970.

Pada titik itu, nama Hawking sudah semakin dikenal luas. Ia pun mulai disibukkan dengan kegiatan mengisi kelas dan seminar di luar negeri, termasuk penelitiannya dan Penrose mengenai mengenai lubang hitam yang telah dimulai sejak 1970 hingga beberapa tahun setelahnya. Hawking juga pernah bekerja sama dengan George Ellis untuk menulis buku The Large Scale Structure of Spacetime (1973).

Di sisi lain, dimulai dari ketidaksetujuannya dengan hasil penelitian mengenai lubang hitam yang dilakukan oleh para ilmuwan di Institute for Physical Problems, Uni Soviet, yang dikepalai oleh Yakov Boris Zel’dovich, hal tersebut telah mengantarkan Hawking untuk memulai penelitiannya sendiri. Usahanya ini didukung penuh oleh Penrose dan Dennis Sciama. Setelah mempresentasikan hasil penelitiannya pada 1974, banyak pihak yang menentang, hingga akhirnya dapat diterima dan kita kenal sebagai teori “Hawking Radiation”. Atas temuannya tersebut, Hawking mendapatkan undangan untuk menjadi bagian dari Royal Society—salah satu penghargaan tertinggi bagi ilmuwan, selain penghargaan Nobel.

Oh iya, meskipun Stephen Hawking nggak pernah memenangkan Nobel, tapi salah satu rekan sekaligus teman dekatnya, Penrose, berhasil meraih penghargaan Nobel Fisika pada 2020 atas penelitiannya yang menjelaskan mengenai hukum hisap yang berlaku pada singularitas dalam lubang hitam, teori relativitas umum milik Einstein yang berlaku di lubang hitam, sekaligus perhitungan matematika untuk menjelaskan lubang hitam itu sendiri. Penelitian Penrose tentang lubang hitam ini juga sedikit-banyak dipengaruhi dan dibantu oleh penelitian-penelitian terdahulu yang ia lakukan bersama dengan Hawking.

A Brief History of Time, Trakeostomi, dan Elaine Mason

Hawking dan Keluarga
Hawking dan Keluarga (Dok. “My Brief History” (2013) oleh Stephen W. Hawking).

Stephen Hawking dan keluarga kecilnya pindah tempat tinggal ke Cambridge, Inggris, agar lebih dekat dengan profesi Hawking sebagai Profesor Matematika Lukasian di Cambridge (1979-2009).

Buku "A Brief History of Time"
Buku “A Brief History of Time” (1988) (Dok. Amazon).

Pada 1979, putra ketiga mereka yang bernama Timothy, lahir. Kemudian, pada 1988, salah satu bukunya yang paling terkenal, A Brief History of Time, resmi terbit. Dari situ, popularitas Hawking menjadi semakin meroket.

Pada 1985, Hawking kehilangan kemampuan untuk berbicara karena operasi trakeostomi yang ia jalani akibat mengidap pneumonia akut. Sejak saat itu, ia pun berkomunikasi menggunakan gerakan alis dan kartu ejaan. Pada 1986, Walter Woltosz dari World Plus memberikan sebuah program bernama Equalizer untuk membantu Hawking berkomunikasi. Program yang menampung sekitar tiga ribu kata ini bekerja dengan cara mengklik kata-kata yang dimaksud. Untuk mempermudah, sebuah komputer mini yang sudah disetel dengan program tersebut pun dipasang di kursi roda yang dipakai Hawking.

Lebih lanjut lagi, pada 1997, Intel menambahkan inovasi speech synthesizer pada komputer di kursi roda Hawking yang mampu mengubah teks jadi suara. Ketika kondisi Hawking semakin memburuk, alat bantu bicaranya pun dipakai menggunakan gerakan otot-otot pipinya. Bertahun-tahun kemudian, alat bicara Hawking terus mengalami inovasi hingga jadi semakin canggih.

Kehidupan rumah tangga Hawking dan Jane harus mengalami keretakan. Meskipun udah tahu konsekuensi yang harus ditanggung ketika menikah dengan Hawking, tapi Jane mau nggak mau tetap merasa capek, iri, dan takut selama masa pernikahan mereka. Capek, harus mengurus ketiga anaknya dan seorang suami. Iri, Hawking menjadi figur terkenal dan mendapat banyak penghargaan, sementara dirinya yang sudah melakukan dan berkorban atas banyak hal malah begitu-begitu aja. Jane memang memiliki gelar doktor di jurusan Bahasa Pertengahan—khususnya puisi Spanyol dan Portugis, serta menjadi seorang guru di salah satu sekolah di Cambridge. Tapi, hal tersebut nggak sepenuhnya bikin dia “lega”. Terakhir, Jane takut; suatu saat Hawking akan wafat dan meninggalkannya sendiri bersama dengan ketiga anak mereka.

Sejak tahun 1980-an ketika kondisi kesehatan Hawking semakin menurun, Jane mengundang seorang musisi yang juga bekerja di gereja lokal bernama Jonathan Hellyer-Jones, untuk tinggal di kediaman mereka dan membantunya dalam aktivitas sehari-hari. Singkat cerita, Jane dan Jonathan menjadi semakin dekat. Pada 1990, Hawking keluar dari kediaman mereka dan tinggal bersama Elaine Mason, salah seorang suster yang merawatnya. Ia dan Elaine menikah pada 1995, disusul oleh Jane dan Jonathan beberapa bulan kemudian.

Pernikahan Kedua Hawking dengan Elaine
Pernikahan Kedua Hawking dengan Elaine (Dok. “My Brief History” (2013) oleh Stephen W. Hawking).

Wafatnya Stephen Hawking

Stephen Hawking telah melampaui prediksi dari para dokter bahwa ia nggak bakal bertahan selama lebih dari 2 tahun pasca diagnosisnya. Nyatanya, Hawking berhasil bertahan selama kurang-lebih 55 tahun hingga akhirnya berpulang pada 14 Maret 2018. Artikel jurnal terakhirnya yang berjudul A Smooth Exit from Eternal Inflation? diserahkan kepada Journal of High Energy Physics tepat 10 hari sebelum kematiannya dan dipublikasikan pada 2 Mei 2018.

Pemakaman Hawking
Suasana Pemakaman Stephen Hawking (Dok. BBC News).

Hawking mengklaim bahwa ia sudah menjalani sebuah kehidupan yang “memuaskan”. Ia mendapatkan banyak penghargaan atas karya-karyanya, pergi ke berbagai tempat, dan bertemu dengan banyak figur dunia. Nggak lupa, ia bangga dapat berkontribusi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan yang mencakup penemuannya tentang relativitas umum klasik yang mematahkan singularitas di Big Bang dan lubang hitam, serta bagaimana teori kuantum dapat memprediksi tentang apa yang terjadi di awal dan akhir waktu. Yang mungkin jadi penyesalan terbesarnya adalah nggak bisa bermain dan membantu mengurus anak-anaknya tumbuh besar.

Stephen Hawking dan Black Hole

Nah, berikut ini gue udah rangkum beberapa hasil temuan Stephen Hawking tentang lubang hitam.

“I work very much on intuition, thinking that, well, a certain idea ought to be right. Then I try to prove it. Sometimes I find I’m wrong. Sometimes I find that the original idea was wrong, but that leads to new ideas. I find it a great help to discuss my ideas with other people. Even if they don’t contribute anything, just having to explain it to someone else helps me sort it out for myself.”

Stephen Hawking

  1. Pada 1971, Hawking menggagas “Teorema Area Lubang Hitam”, yang berbunyi bahwa luas permukaan dari bagian permukaan lubang hitam nggak akan pernah berkurang. Teorema ini berhasil ia turunkan dari teori relativitas umum milik Einstein.
  2. Pada 1974, Hawking menemukan “Hawking Radiation”, yang berisi bahwa setelah mengalami kolaps, maka suatu lubang hitam bakalan mulai memancarkan partikel-partikel. Dengan catatan, kondisi medan kuantum yang nggak ada partikel di dalamnya pada mulanya berada pada keadaan dasarnya sendiri. Hal ini menjawab pertanyaan Hawking tentang apa yang akan terjadi pada medan kuantum ketika suatu bintang mengalami kolaps menjadi lubang hitam. Dari pengembangan teori ini, ia juga menemukan beberapa hal berikut: (1) sebenarnya, pada bagian yang tersembunyi di dalam permukaan lubang hitam, bersifat thermal atau panas (2) ada yang namanya “partner modes”, yang terdiri atas “outgoing mode” dan “infalling partner mode”. Outgoing mode nantinya bakalan jadi partikel Hawking, sementara infalling partner mode nantinya bakalan jatuh ke dalam lubang hitam dan massanya berkurang. “Mode” sendiri adalah subtitut bagi penyebutan “partikel” yang ada di bagian permukaan lubang hitam.
  3. Pada 1975, Hawking menemukan bahwa meskipun prosesnya lambat dan memakan waktu yang lama, tapi lubang hitam mengalami “evaporasi” atau “penguapan”, hingga energi partikel-partikelnya jadi sangat rendah dan akhirnya lubang hitam tersebut menghilang. 

Buku dan Film Stephen Hawking

  1. Buku The Large Scale Structure of Spacetime, buku yang terbit pada tahun 1973 ini membutuhkan waktu pengerjaan selama enam tahun, dengan Ellis yang bertanggung jawab untuk mengetik sebagian besar isinya. Buku ini mendulang kesuksesan di antara para akademisi kosmologi.
  2. Buku General Relativity: An Einstein Centenary Survey (1979), buku yang ditulis bersama dengan Werner Israel ini merupakan kolektif enam belas artikel yang didedikasikan untuk Einstein.
  3. Buku A Brief History of Time, ide dari buku ini pertama kali terbentuk pada tahun 1982. Buku ini berhasil menduduki posisi best-seller selama kurun waktu lima tahun berturut-turut, yaitu dari tahun 1988-1993. Selain itu, per tahun 2013, buku ini berhasil terjual sebanyak lebih dari 10 juta kopi, lho!
  4. Serial buku George’s Secret Key to the Universe (2007, 2009, 2011, 2014, 2016), yang ditulis bersama dengan Lucy, putri keduanya.
  5. Otobiografi Music to Move the Stars (1999), buku ini ditulis oleh Jane sebagai otobiografi kehidupannya, termasuk masa pernikahannya dengan Hawking.
  6. Memoir Travelling to Infinity: My Life with Stephen (2007), yang ditulis oleh Jane.
  7. Film A Brief History of Time (1991).
  8. Film Hawking (2004) yang disiarkan oleh BBC TV.
  9. Film Beyond the Horizon (2009).
  10. Film Hawking (2013).
  11. Film The Theory of Everything (2012).

Fakta Unik Stephen Hawking

Hawking dan Klub Dayung
Hawking dan Klub Dayung (Dok. “My Brief History” (2013) oleh Stephen W. Hawking).

–   Gimana bayangan lo tentang sosok Stephen Hawking selama di sekolah? Well, selama SMP dan SMA, Hawking adalah sosok siswa yang nggak begitu jago dalam subjek olahraga, tapi pintar dalam subjek-subjek yang lain—terutama matematika dan fisika. Selama kuliah S1, Hawking bisa menjawab segala macam pertanyaan saintifik yang diajukan. Sayangnya, ia juga cepat bosan dan nggak begitu termotivasi untuk rajin belajar. Ia pun mulai bergabung ke klub dayung dan sering pergi ke bar.

–   Tahu nggak, kalau sebenarnya awal mula Stephen Hawking kepikiran untuk nulis buku A Brief History of Time (1988) adalah karena menurut seorang temannya yang bernama Mitton, Hawking mesti coba bikin buku yang bertema tentang kosmologi dengan sasaran terhadap pasar populer. Hawking setuju karena mungkin ide tersebut bisa membantunya mengatasi krisis ekonomi yang lagi dihadapi. Gimanapun, ia perlu tabungan untuk masa depan anak-anaknya.

– Tentunya, Stephen Hawking pernah ditanya soal “time-travel” nih, Sob. Waktu itu ia jawab kayak gini, “Even if some different theory is discovered in the future, I don’t think time travel will ever be possible. If it were, we would have been overrun by tourists from the future by now.” Hmm … kalau menurut elo sendiri, gimana?

***

Segitu dulu artikel kali ini tentang biografi Stephen Hawking! Kira-kira, menurut elo, apa sih yang bikin Stephen Hawking bisa jadi terkenal nggak cuma di kalangan para akademisi tapi juga masyarakat umum? Tentunya, selain dari kezeniusan dan gebrakan penelitian-penelitiannya, Hawking sendiri bilang bahwa orang-orang kayaknya senang aja lihat dia sebagai seorang “disabled genius”. Dengan kursi roda dan alat bantu bicara yang ia gunakan, mustahil untuk melewatkan sosok Hawking di tempat umum.

“If you understand how the universe operates, you control it, in a way.”

Stephen Hawking

Oke, pertanyaan lain! Pesan-pesan apa aja yang bisa elo ambil dari kisah hidup Stephen Hawking? Coba tulis di kolom komentar, ya! Oh iya, gue juga udah cantumin beberapa link kalau-kalau elo pengin cari tahu lebih banyak tentang Hawking. Semoga artikel ini bisa bermanfaat buat elo ya, Sobat Zenius! See you!

Catatan

*Black hole atau lubang hitam: wilayah atau objek yang ada di luar angkasa, yang terdiri atas sekumpulan zat yang sangaaat banyak dan terkumpul di dalam sebuah area yang amaat kecil dan padat, serta memiliki gaya gravitasi sangaaaat kuat–sehingga menyebabkan nggak ada satupun cahaya, partikel, atau apapun itu, yang bisa terlepas bebas dari dalamnya.

*Galileo Galilei: ilmuwan yang dijuluki sebagai “bapak astronomi modern”, penggagas teori heliosentris, serta penemu termoskop.

*Albert Einstein: ilmuwan dan pemenang Nobel Fisika (1921) yang menggagas teori relativitas umum dan khusus.

*Kosmologi: cabang ilmu astronomi yang mempelajari tentang asal-usul alam semesta.

*Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS): penyakit saraf motorik yang berdampak pada tulang bagian belakang dan bagian-bagian otak yang memproduksi fungsi motorik. Yang terjadi adalah, sel-sel di bagian-bagian tubuh tersebut akan mengalami degenerasi dan atrofi otot yang menyebabkan paralisis. Pada stadium akhir, pasien biasa diberikan morfin untuk meringankan depresi kronis yang mungkin dialami. Meskipun begitu, benak dan memori pasien masih utuh dan nggak tersentuh.

Referensi

https://science.nasa.gov/astrophysics/focus-areas/black-holes
David J. Eicher. (2016). The Life and Times of Stephen Hawking. Discover Astronomy, 51-54.
Hawking, S. W. (2013). My Brief History. New York: Bantam Books.
Kuo, C.-L. (2019). How Stephen Hawking Defied Amyotrophic Lateral Sclerosis for Five Decades. Clinical Medicine and Therapeutics, 1(1), 1-3. doi:10.24983/scitemed.cmt.2019.00105
Miller, N. (2018). Black Holes, Hawking Radiation, and the Firewall (for CS229). 1-87. Diambil kembali dari https://scholar.harvard.edu/files/noahmiller/files/firewall.pdf
Preskill, J. (2018). Stephen Hawking (1942-2018): The world’s best-known scientist richly deserved his fame. Science, 360(6385), 156. Diambil kembali dari https://www.science.org/doi/10.1126/science.aat6775
White, M., & Gribbin, J. (2002). A Life in Science (Vol. New Updated Edition). Washington, D.C: The Joseph Henry Press.

Baca Juga Artikel Lainnya

Sedikit Penjelasan Ilmiah Untuk Film Interstellar
Thomas Alva Edison, Penemu Lebih Dari 1000 Hak Paten
Malala Yousafzai, Pemenang Nobel Perdamaian Termuda di Dunia
Bagikan Artikel Ini!