ZenRp – Frans Kaisiepo, Pahlawan dan Gubernur Papua Pertama

Frans Kaisiepo

Frans Kaisiepo adalah sosok yang ada di pecahan uang Rp10.000,- dan berperan dalam bersatunya kembali Irian Barat dengan Indonesia. Simak biografinya di sini!

Ketika lo lihat pecahan uang Rp10.000,- versi terbaru, lo mungkin bertanya-tanya, siapa sih sebenarnya sosok Frans Kaisiepo itu?

Pecahan uang Rp10.000 baru
Pecahan uang Rp10.000 yang baru (Sumber: Bank Indonesia).

Ternyata, Frans turut berperan besar dalam membuat Irian Barat kembali bersatu dengan Republik Indonesia 1969. Gimana kisah perjalanannya hingga bisa mencapai titik itu dan meraih gelar “pahlawan nasional”? Simak artikel perdana dari serial ZenRp berikut ini, ya!

Profil Frans Kaisiepo

Frans Kaisiepo adalah seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia (RI) yang lahir di Biak, Papua*, pada 10 Oktober 1921. Sementara itu, Frans wafat pada 10 April 1979 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cenderawasih, Biak, Papua.

Potret Frans Kaisiepo
Frans Kaisiepo (Sumber: Wikiwand).

Ayah Frans yang bernama Albert Kaisiepo merupakan seorang ahli pandai besi sekaligus kepala suku Biak Numfor, sedangkan ibunya yang bernama Alberthina Maker sudah meninggal sejak usianya 2 tahun. Dari pernikahan pertama Frans dengan Anthomina Arwam, mereka dikaruniai 3 orang anak, yaitu Beatrix Kaisiepo Wanma, Susana Kaisiepo Manggaprouw, dan Manuel Kaisiepo. Pasca kematian Arwam, Frans menikah dengan dengan Maria Magdalena Moorwahyuni dan dikaruniai 1 orang anak yang bernama Victor Kaisiepo.

Awal Perjalanan Kehidupan Frans Kaisiepo

Soegoro Atmoprasodjo
Soegoro Atmoprasodjo (Sumber: Jubi).

Frans mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (1928-1931), LVVS Korido (1931-1934), Sekolah Guru Normalis di Manokwari (1934-1936), dan Papua Bestuur School (1952-1954). Selain itu, ia juga pernah mengambil kursus di Sekolah Pamong Praja di Kota Nica (1945), yang mempertemukannya dengan Soegoro Atmoprasodjo, salah seorang guru yang juga sempat mengajar di Taman Siswa Ki Hajar Dewantara dan aktivis dari Partai Indonesia (PARTINDO). Melalui Soegoro, ia beserta siswa-siswa lainnya menjadi familiar dengan nilai-nilai nasionalisme negara Indonesia saat itu. Alhasil, pola pikir dan aliran politik Frans pun semakin terbentuk untuk menjadi seorang nasionalis pro-Indonesia yang kuat.

Pencapaian Frans Kaisiepo Semasa Hidupnya

Seperti yang udah gue singgung sebelumnya, Frans tumbuh dengan memiliki rasa nasionalis yang tinggi, sehingga ia pun menjadi salah satu aktivis perjuangan di Irian Barat yang paling berperan besar dalam usaha bersatunya kembali Irian Barat dengan RI.

Demi menunjukkan tekadnya, Frans menjadi pelopor berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PIM) pada 10 Juli 1946. Kemudian, disusul oleh keikutsertaannya sebagai delegasi Indonesia dalam Konferensi Malino (1946)* yang dilaksanakan di Sulawesi Selatan.

Konferensi Malino tahun 1946
Konferensi Malino tahun 1946 (Sumber: Wikipedia).

Oh iya, lo udah tahu belum kalau nama Irian itu sebenarnya adalah akronim*? Memang, di kemudian hari, Soekarnolah yang membuat akronim Irian menjadi “Ikut Republik Indonesia Anti Netherland”. Tapi pada awalnya, sosok Franslah yang terpikir untuk mengganti nama Papua menjadi Irian. Pasalnya, ia merasa bahwa orang-orang dari suku lain acap kali melayangkan hinaan ketika menyebut nama “Papua”. Di sisi lain, ia juga ingin mengganti nama “Nederlands Nieuw Guinea” yang termasuk dalam bagian integral dari Hindia-Belanda. Oleh karena itu, ketika hadir dalam Konferensi Malino, ia mengusulkan nama “Irian” yang berarti “sinar matahari yang menghalangi kabut di laut”, sebagai nama subtitut dalam penyebutan wilayah Papua. Sayangnya, usulan tersebut nggak diterima.

Tiga Komando Rakyat (Trikora) tahun 1961
Tiga Komando Rakyat (Trikora) tahun 1961 (Sumber: Tribun News).

Pada 1948, Frans menjadi pelopor pergerakan Biak melawan Belanda. Ia juga menolak untuk menjadi delegasi Belanda dalam Konferensi Meja Bundar (1949)*. Oleh karena itu, ia harus rela untuk mendekam di balik jeruji besi dari 1954-1961. Setelah bebas dari penjara, Frans nggak serta-merta jadi kapok untuk berjuang sebagai seorang nasionalis. Ketika Soekarno membentuk Tiga Komando Rakyat (Trikora)* pada 19 Desember 1961, Frans ikut membantu dengan cara mendirikan partai politik Irian Sebagian Indonesia (ISI) untuk membantu prajurit RI di Mimika.

Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1963
Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1963 (Sumber: Kompasiana).

Perjuangan Frans dan rekan-rekannya melepaskan diri dari Belanda pun membuahkan hasil manis, yakni dengan ditandatanganinya Perjanjian New York (1963)*, yang berbunyi bahwa Belanda harus menyerahkan kekuasaan atas Irian Barat kepada RI. Setelah menyelenggarakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera)*, masyarakat Irian Barat pun setuju untuk bergabung kembali dengan RI. Frans kemudian diangkat sebagai Gubernur Provinsi Irian Barat untuk periode 1964-1973.

Oh iya, Frans beserta rekan-rekan aktivis perjuangan lainnya menjadi orang pertama yang melakukan upacara pengibaran bendera merah putih dan mengumandangkan lagu Indonesia Raya di tanah Irian Barat, lho! Mereka melakukannya pada 31 Agustus 1945, beberapa hari berselang setelah proklamasi kemerdekaan RI.

Pada 1972, Frans kemudian pindah ke ibukota untuk dilantik menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Disusul oleh bergabungnya ia pada 1973-1979 sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Masa-Masa Akhir Frans Kaisiepo

Kunjungan TNI ke makam Frans Kaisiepo di Biak, Papua
Kunjungan TNI ke makam Frans Kaisiepo di Biak, Papua (Sumber: PUSPEN Markas besar TNI).
Bandara Frans Kaisiepo di Biak, Papua
Bandara Frans Kaisiepo di Biak, Papua (Sumber: Harian Nasional).

Frans dinyatakan wafat pada 10 April 1979 karena serangan jantung. Untuk menghormati jasa-jasa Frans terhadap bangsa dan negara, selain dari pemberian predikat “pahlawan nasional” oleh Pemerintah Indonesia pada 14 September 1993 dan pengabadian wajah Frans pada cetakan uang Rp10.000, versi terbaru yang dirilis oleh Bank Indonesia pada 2016 lalu, namanya juga diabadikan sebagai salah satu nama kapal milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dan nama bandara di Biak, Papua.

Timeline Kehidupan Frans Kaisiepo
Timeline Kehidupan Frans Kaisiepo (Dok. Penulis).

***

Itu dia artikel dari serial ZenRp kali ini! Tentu aja, bukan sembarang tokoh yang bisa diabadikan dalam mata uang rupiah, ya, Sobat Zenius. Contohnya, Frans Kaisiepo yang berjasa besar terhadap kembali bersatunya Irian Barat dengan Indonesia sekaligus menjadi yang pertama mengibarkan bendera merah putih di tanah Irian Barat. Semoga artikel ini bisa bermanfaat buat lo dan jangan lupa buat cek artikel-artikel lain dari serial ZenRp, ya! See you!

Catatan

*Papua: nama provinsi yang terletak di paling timur wilayah Indonesia. Nama Papua diresmikan oleh Gus Dur sesuai dengan UU No. 21/2001 Otonomi Khusus Papua. Sebelumnya, provinsi ini telah beberapa kali mengalami perubahan nama, yakni (1) Nugini Belanda, yang digunakan selama masa kolonial Belanda (2) Papua Barat, yang disematkan untuk membedakan dengan wilayah Papua Nugini yang ada di sebelah timur (3) Irian Barat, yang digunakan pada 1969-1973, serta (4) Irian Jaya, yang digunakan hingga tahun 2001 setelah Soeharto meresmikan tambang emas dan tembaga (freeport).

*Konferensi Malino: konferensi yang diadakan di Malino, Sulawesi Selatan, pada 15-25 Juli 1946. Konferensi ini bertujuan untuk membahas mengenai rencana pembentukan negara-negara bagian federasi di bawah pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS).

*Akronim: kependekan kata yang terdiri atas gabungan huruf, suku kata, atau bagian lain yang ditulis dan dibaca sebagai suatu kata yang wajar. Sering kali, orang-orang keliru antara mana yang akronim, mana yang singkatan. Singkatan sendiri adalah kata hasil memendekkan yang terdiri atas gabungan huruf, contohnya seperti DPR. Sementara, contoh dari akronim adalah Jabodetabek.

*Konferensi Meja Bundar (KMB): konferensi yang diselenggarakan pada 23 Agustus-2 November 1949 di Den Haag, Belanda ini mempertemukan delegasi-delegasi negara yang dibuat oleh Belanda di wilayah Indonesia. Hasil dari perjanjian ini berbunyi bahwa Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, tapi mereka akan menunda penyerahan wilayah Papua Barat hingga satu tahun kemudian.

*Tiga Komando Rakyat (Trikora): operasi militer yang berlangsung pada 19 Desember 1961-15 Agustus 1962 ini dilaksanakan demi merebut kembali wilayah Irian Barat dari Belanda. Trikora sendiri terdiri atas tiga poin, yaitu (1) gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda (2) mengibarkan bendera merah putih di Papua Barat, serta (3) bersiap untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air Indonesia.

*Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera): pemilihan umum yang berlangsung di wilayah Irian Barat pada 14 Juli-2 Agustus 1969, dengan tujuan untuk menentukan apakah Irian Barat merupakan bagian dari Indonesia atau Belanda. 

*Perjanjian New York: perjanjian ini diselenggarakan pada 15 Agustus 1962 dan diprakarsai oleh Amerika Serikat. Hasil perjanjian ini adalah penyerahan Papua Barat dari Belanda ke Indonesia melalui perantara United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA).

Referensi

Matanasi, P. (2019, April 10). Frans Kaisiepo: Sejarah Perjuangan Seorang Papua untuk Indonesia. Diambil kembali dari tirto.id: https://tirto.id/frans-kaisiepo-sejarah-perjuangan-seorang-papua-untuk-indonesia-bLoW
Pemerintah Provinsi Papua. (t.thn.). Sekilas Papua. Diambil kembali dari Papua: https://papua.go.id/view-detail-page-254/sekilas-papua-.html
Said, J., & Wulandari, T. (1995). Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Sub Direktorat Sejarah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Welianto, A. (2020, April 18). Biografi Frans Kaisiepo, Pemersatu Irian dengan Indonesia. Diambil kembali dari Kompas: https://www.kompas.com/skola/read/2020/04/18/173000069/biografi-frans-kaisiepo-pemersatu-irian-dengan-indonesia

Baca Juga Artikel Lainnya

ZenRp – Cut Meutia, Komandan Perlawanan dari Aceh
ZenRp – Sam Ratulangi, Pahlawan Nasional dari Sulawesi Utara

Bagikan Artikel Ini!