ZenRp – Sam Ratulangi, Pahlawan Nasional dari Sulawesi Utara

Sam Ratulangi

Tahu nggak, sosok Sam Ratulangi di pecahan uang Rp20.000,-, adalah Pahlawan Nasional dari Sulawesi Utara? Yuk, simak artikel berikut ini!

Pecahan uang Rp.20.000,-
Pecahan uang Rp.20.000,- (Sumber: Peruri).

“Pahlawan Nasional”, begitulah Sam Ratulangi sering disebut. Memangnya apa aja kontribusi yang udah dilakukan oleh sosok yang wajahnya diabadikan di pecahan uang Rp20.000,- versi terbaru ini sehingga bisa disebut begitu? Yuk, langsung cek kisah lebih lanjutnya di bawah ini!

Profil Sam Ratulangi

Pahlawan Nasional yang memiliki nama lengkap Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi ini lahir pada 5 November 1890 di Tondano, Sulawesi Utara dan wafat pada 30 Juni 1949 di Jakarta.

Potret Sam Ratulangi
Sam Ratulangi (Sumber: Wikipedia).

Sam dibesarkan di keluarga yang berasal dari golongan aristocrat Minahasa. Ayahnya yang bernama Jozias Ratulangi adalah seorang cendekiawan, sementara ibunya yang bernama Augustina Gerungan. Ia memiliki dua orang kakak perempuan, yaitu Wulan Kajes Rachel Wilhelmina Maria dan Wulan Rachel Wilhelmina Maria.

Sepanjang hidupnya, Sam pernah menikah dua kali. Dari pernikahan pertamanya dengan Emilie Suzanne Houtman yang merupakan seorang warga Belanda, mereka dikaruniai dua orang anak, yaitu Cornelis (Oddy) dan Emilia (Zus). Sementara dari pernikahannya dengan Maria Catharina Josephine ‘Tjen’ Tambayong, mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu Milly, Lany, dan Uky.

Awal Perjalanan Sam Ratulangi

Sam sempat mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (1896-1902) dan Hoofdenschool (1902-1905) di Tondano, Sekolah Teknik Koningen Wilhelmina School* (1905-1908) di Jakarta, Universiteit van Amsterdam (1913-1915) di Belanda, serta Universitas Zürich (1915-1919) di Swiss. Di Universiteit van Amsterdam, ia menempuh jurusan Ilmu Alam. Sementara itu, dari Universitas Zürich, ia berhasil mendapat gelar Doktor der Natur-Philosophie (Doktor Ilmu Pasti dan Ilmu Alam). Oh iya, gelar Middelbare Acte Wiskunde en Paedagogiek (Ijazah Ilmu Pasti Pendidikan Sekolah Menengah) juga berhasil ia dapatkan tepat sebelum masuk ke Universiteit van Amsterdam.

Sebelum terjun ke dunia politik, Sam pernah mengemban profesi sebagai seorang karyawan di Jawatan Kereta Api Lin Barat. Ia juga pernah menjadi guru Ilmu Pasti di AMS Yogyakarta, guru di Prinses Juliana School, serta membuka sebuah perusahaan asuransi bernama Maskapai Asuransi Indonesia (1922-1924) di Bandung.

Pencapaian Sam Ratulangi Semasa Hidupnya

Karier di Bidang Politik dan Sastra

Sebetulnya, sejak masih bersekolah dulu, Sam udah terbilang aktif ikut berbagai organisasi. Ketika di Belanda, ia sempat menjadi ketua dari De Indische Vereeniging (perhimpunan pelajar Indonesia yang ada di Belanda) selama dua tahun berturut-turut. Ia juga menjadi ketua untuk Pan Asia Société Asiatique des Étudiants (organisasi mahasiswa Asia yang ada di Zürich). Nah, keaktifannya dalam berorganisasi—terutama menjadi seorang figur pemimpin—terus terbawa hingga bertahun-tahun setelahnya.

Mungkin ada beberapa orang yang berpikir bahwa karena Sam berasal dari keluarga aristokrat, maka hidupnya adem-ayem aja. Nggak peduli sama rakyat Indonesia dari golongan bawah karena nasib mereka udah jauh beda. Padahal nih, Sam sekalipun sering menerima perlakuan nggak adil dari Pemerintah Belanda. Contohnya, gaji yang diterimanya lebih kecil daripada para pekerja lain yang memiliki darah Indo-Belanda. Entah itu dari golongan aristokrat atau bukan, gelar pendidikannya yang udah setinggi apapun, tapi statusnya masih tetap seorang “pribumi”.

Sejak dulu, ia udah bertekad untuk menuntut ilmu setinggi mungkin agar nggak dipandang sebelah mata oleh pihak Belanda dan akhirnya bisa mengubah kondisi rakyatnya sendiri. Kini, ia menjadi semakin terpicu bagi untuk giat memperjuangkan hak-hak sebagai pribumi. Selain itu, tekadnya menjadi semakin bulat setelah selama berkuliah di Belanda, ia berhubungan dekat dengan Ki Hajar Dewantara dan Douwes Dekker, yang notabene merupakan pejuang kemerdekaan Indonesia.

Kariernya di dunia politik dimulai dengan pengangkatannya sebagai Sekretaris Dewan Minahasa (1924-1927) di Manado. Selama masa jabatannya, ia berhasil mendorong penghapusan kerja paksa di Minahasa yang sebelumnya diterapkan oleh Pemerintah Belanda kala itu. Selain itu, ia juga berhasil mendirikan yayasan pendidikan dan mengembangkan daerah baru untuk lahan pertanian warga setempat.

Sam Ratulangi dalam salah satu pertemuan Volksraad
Sam Ratulangi dalam salah satu pertemuan Volksraad (Sumber: Wikimedia Commons).

Pada 1927-1942, Sam dilantik menjadi anggota dari Volksraad (Dewan Rakyat). Selama masa jabatannya kali ini, ia menuntut agar segala macam perbedaan di bidang politik, pendidikan, dan ekonomi di antara para penduduk Indonesia dan Belanda; serta mendukung tuntutan pemberian status dominion bagi Indonesia yang diajukan dalam Petisi Soetardjo Kartohadikoesoemo (1936). Sayangnya, dikarenakan oleh “berbahayanya” pemikiran politiknya, pada 1937 Sam harus rela ditangkap dan mendekam di balik jeruji Penjara Sukamiskin, Bandung. Nah, selain itu, Sam turut berkontribusi dalam berdirinya Vereeniging Indonesische Academici (Persatuan Kaum Cendekiawan Indonesia).

Buku “Indonesia in de Pacifik Kernproblemen Van den Aziastichen” oleh Sam Ratulangi (1937)
Buku “Indonesia in de Pacifik Kernproblemen Van den Aziastichen” oleh Sam Ratulangi (1937) (Sumber: E Journal Stainu Purworejo).

Oh iya, Sam juga cukup aktif dalam bidang kepenulisan. Hal ini ditunjukkan oleh terbitan terbitan buku miliknya tahun 1937 yang berjudul “Indonesia in de Pacifik Kernproblemen Van den Aziastichen” (Indonesia di Pasifik: Analisa Masalah-Masalah Pokok Asia Pasifik) dan terbitan rutin majalah mingguan Penindjauan bersama dengan rekannnya. Ia juga menjadi bagian dari redaksi mingguan politik di Nationale Commentaren (1938-1942), yang kerap menerbitkan artikel-artikel perjuangan.

Sam Ratulangi bersama Soekarno, Fatmawati, dan Mohammad Hatta
Sam Ratulangi bersama Soekarno, Fatmawati, dan Mohammad Hatta (Sumber: IKPNI).

Menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, Sam beserta dua orang lainnya mewakili Sumber Darah Rakyat (Soedara)—organisasi perjuangan Sulawesi—untuk berangkat ke Jakarta demi membantu persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Setelahnya, Sam yang juga merupakan salah satu anggota PPKI*, hadir dalam sidang pengesahan UUD 1945 dan pengangkatan Soekarno dan Hatta menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia yang pertama.

Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, Sam ditunjuk sebagai Gubernur Sulawesi ke-1 untuk periode masa jabatan 17 Agustus 1945-5 April 1946.

Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Baik ketika berada di bawah penjajahan Belanda maupun Jepang, Sam udah aktif dalam memperjuangkan hak-hak pribumi. Ketika Belanda datang kembali ke Indonesia setelah Jepang undur diri ke negara mereka di penghujung Perang Dunia ke-2, Sam pun terus jadi semakin aktif dan tegas.

Sam berperan dalam pembuatan petisi yang berisi agar Sulawesi tetap menjadi bagian dari Indonesia. Ketika itu, situasinya adalah pasukan NICA* udah menduduki wilayah Sulawesi (1945). Akibat usahanya tersebut, ia ditangkap dan diasingkan ke Serui, Irian Barat, sebelum kembali dibebaskan ketika Perjanjian Renville ditandatangani pada 23 Maret 1948. Sam bertolak ke Yogyakarta, di mana di sana ia menjadi penasihat khusus sekaligus perwakilan Indonesia untuk melakukan negosiasi dengan pihak Belanda.

Peristiwa Merah Putih di Sulawesi
Peristiwa Merah Putih di Sulawesi (Sumber: Indonesiainside.id).

Namun, perjuangannya agar Sulawesi nggak jatuh ke tangan Belanda nggak berhenti gitu aja. Sayangnya, usahanya menempuh jalur diplomasi dengan cara mengajukan petisi kepada PBB mengenai hal tersebut justru memicu terjadinya “Peristiwa Merah Putih” (1946); bentrokan antara pribumi dan Belanda yang terjadi di Sulawesi Utara dan Selatan. Nggak lama berselang, Sam bersama dengan I Gusti Ketut Pudja dan beberapa orang lainnya mengeluarkan “Manifes Ratulangi” atau “Manifes Djokja” (1948), yang merupakan pernyataan yang berisi seruan kepada para pimpinan Indonesia di wilayah timur untuk menentang upaya pemisahan wilayah timur dengan NKRI. Manifesto ini diperdengarkan di saluran Radio Republik Indonesia pada 10 November 1948.

Masa-Masa Akhir Sam Ratulangi

Atas usaha-usahanya yang udah gue singgung di atas, Sam lagi-lagi menjadi sasaran utama Belanda. Semasa Agresi Militer Belanda II (1948), ia beserta Soekarno dan Hatta berhasil ditangkap dan diasingkan. Sam yang mulanya direncanakan untuk diasingkan ke Bangka, diperkenankan untuk tetap tinggal di Jakarta karena kondisi kesehatannya yang memburuk. Ia pun harus rela menghabiskan sisa hidupnya sebagai tahanan Belanda.

Si tou timou tumou tou.

Kalimat di atas yang mengandung arti bahwa “manusia baru bisa disebut sebagai manusia kalau sudah bisa memanusiakan manusia”, merupakan sebuah filosofi yang udah dikenal luas di antara masyarakat Minahasa di Sulawesi. Kalimat tersebut juga menjadi filosofi yang dibawa oleh Sam hingga akhir hayatnya.

sekaligus Monumen Sam Ratulangi di Tondano, Sulawesi Utara
Makam sekaligus Monumen Sam Ratulangi di Tondano, Sulawesi Utara (Sumber: Sulut iNews).

Pasca wafatnya Sam pada 30 Juni 1949 di Jakarta, makamnya pun dipindahkan ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tondano untuk sementara, sebelum kembali dipindahkan ke komplek monumen baru yang dibangun untuknya di Tondano.

Untuk menghormati jasa-jasanya dalam membantu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, Sam yang ketika wafat masih menyandang status sebagai tahanan Belanda ini diberikan dua gelar sekaligus oleh Pemerintah Indonesia, yaitu: (1) “Pahlawan Kemerdekaan Nasional”, sesuai dengan Surat Keputusan Presiden RI No. 590 tanggal 9 November 1961, serta (2) “Tanda Jasa Pahlawan”, sesuai dengan Surat Keputusan Presiden RI No. 36553 tanggal 10 November 1958. Ada pula gelar-gelar lain yang ia terima, seperti “Bintang Gerilya” (1958), “Bintang Mahaputra Adipradana” (1960), serta “Bintang Satyalancana” (1961). Selain itu, Soekarno sendiri memberikan gelar “Pahlawan Nasional Indonesia” bagi Sam.

Nggak cuma sampai di situ, beberapa monumen pun dibangun untuk mengenang sosok Sam, di antaranya ada Monumen Pahlawan Nasional Sam Ratulangi di Manado dan Tondano. Namanya juga diabadikan menjadi nama universitas (Universitas Sam Ratulangi di Sulawesi Utara), bandara (Bandara Sam Ratulangi di Manado), serta jalan raya di Minahasa, Makassar, dan Kediri.

Daaan terakhir, seperti yang udah sempat disinggung sebelumnya, wajah Sam diabadikan dalam pecahan uang Rp20.000,- versi terbaru yang diterbitkan pada 19 Desember 2016.

Timeline Kehidupan Sam Ratulangi
Timeline Kehidupan Sam Ratulangi (Dok. Penulis).

***

Sosok Sam Ratulangi memang patut diapresiasi atas kegigihannya dalam memperjuangkan hak-hak pribumi dan membantu proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bahkan dengan berbagai privilege yang ia miliki sebagai seseorang yang tumbuh-besar di keluarga aristokrat, tapi hal tersebut nggak bikin Sam jadi tutup mata dan telinga sama ketidakadilan yang terjadi di negerinya sendiri. Kira-kira, apa lagi yang bisa dipetik dari kisah hidupnya Sam Ratulangi? Coba sebutin di kolom komentar, ya!

Semoga artikel ini bisa bermanfaat buat lo dan jangan lupa cek artikel-artikel dari serial ZenRp yang lain, ya!

Catatan

*Sekolah Teknik Koningen Wilhelmina School: sekarang merupakan SMK Negeri 1 Jakarta Budi Utomo.

*PPKI: PPKI atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau yang dalam Bahasa Jepang disebut dengan Dokuritsu Junbi Inkai merupakan organisasi kepanitiaan kerja yang dibentuk pada 7 Agustus 1945. Dalam melaksanakan tugasnya untuk membantu segala macam persiapan pelaksanaan kemerdekaan dan kebutuhan pasca-kemerdekaan Indonesia, para anggota PPKI masih harus memerlukan izin dari Hisaichi Terauchi selaku Letnan-Jenderal pemerintahan militer Jepang ketika itu.

*NICA: NICA atau Nederlandsch-Indië Civiele Administratie merupakan badan semi-pemerintahan dan semi-militer yang didirikan pada 3 April 1944 dan memiliki tugas untuk mengurus administrasi sipil koloni Hindia-Belanda.

Referensi

https://id.wikipedia.org/wiki/Sam_Ratulangi
Andryanto, S. D. (2021, November 5). Tempo. Diambil kembali dari Sam Ratulangi Gubernur Pertama Sulawesi Meninggal Sebagai Tawanan: https://nasional.tempo.co/read/1525261/sam-ratulangi-gubernur-pertama-sulawesi-meninggal-sebagai-tawanan
Khairunnisa, H. Z., & Z., A. F. (2020). Pengenalan Pahlawan Sam Ratulangi pada Siswa MI/SD. Jurnal Kajian Kritis Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Dasar, 3(2), 51-68.
Lolombulan, A., Sondakh, A., & Ulaen, H. (1986). Monumen Perjuangan di Provinsi Sulawesi Utara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.

Baca Juga Artikel Lainnya

ZenRp – Frans Kaisiepo, Pahlawan dan Gubernur Papua Pertama
ZenRp – Cut Meutia, Komandan Perlawanan dari Aceh

Bagikan Artikel Ini!