Presiden Prancis Charles de Gaulle

Biodata Charles de Gaulle, Kisah Presiden Prancis dalam Perang Dunia ke-2

Hallo, Sobat Zenius! Pernahkah kalian mendengar nama Charles de Gaulle? Eits, akan tetapi Charles de Gaulle yang dimaksud bukan bandara yang ada di Paris, ya! Melainkan seorang jenderal dan negarawan asal Prancis.

Jenderal Charles de Gaulle merupakan salah satu orang yang memiliki pengaruh besar dalam politik Prancis. Kira-kira kenapa, ya, bisa dikatakan begitu? So, biar gak penasaran, mari kita gali lebih dalam mengenai kisah Presiden Prancis lewat artikel ini!

Awal Kehidupan Presiden Charles de Gaulle

Charles André Joseph Marie de Gaulle atau lebih akrab disapa Charles de Gaulle lahir pada tanggal 22 November 1890, di Lille, Prancis. Ia merupakan seorang jenderal militer, arsitek Prancis Republik Kelima, penulis, serta negarawan Prancis.

Presiden Prancis Charles de Gaulle
Tempat Kelahiran Charles de Gaulle, Lille. Sumber: Commons.wikimedia.org

De Gaulle dilahirkan dari keluarga kelas menengah atas katolik, patriotik, dan nasionalis. Ia merupakan anak yang cerdas dan gemar membaca. Ayah de Gaulle merupakan seorang guru filsafat dan sastra, maka tak heran keluarganya telah menghasilkan sejarawan dan penulis yang hebat. Meski begitu, de Gaulle ternyata lebih tertarik dengan hal-hal militer. 

Buktinya, di tahun 1909, de Gaulle memutuskan untuk mendaftar di akademi militer Saint-Cyr. Hingga pada tahun 1912, de Gaulle pun menyelesaikan masa studinya dan bergabung dengan resimen infanteri yang dipimpin oleh Kolonel Philippe Petain. Saat itu, de Gaulle menjabat sebagai letnan. 

Selama Perang Dunia I, de Gaulle pernah terluka sebanyak tiga kali. Luka ketiganya didapatkannya saat ia menjalani pertempuran di Verdun pada tahun 1906. Saat itu, ia juga menjadi tawanan perang selama dua tahun delapan bulan. Saat menjadi tawanan perang, ia melakukan lima kali upaya melarikan diri, akan tetapi selalu gagal. Akhirnya, pada akhir perang, de Gaulle dibebaskan.

Pada tahun 1925, de Gaulle dipromosikan oleh Marsekal Petain kepada staf dewan perang tertinggi. Lalu, di tahun 1927 hingga 1929, ia menjabat sebagai mayor di tentara yang menduduki Rhineland. 

De Gaulle menghabiskan dua tahun di timur tengah dan dipromosikan menjadi letnan kolonel. Kemudian, ia menghabiskan empat tahun sebagai anggota sekretariat Général du Conseil Supérieur de la Défense Nationale (SGDN – Sekretariat Jenderal Dewan Perang Tertinggi).

Charles de Gaulle Sebagai Penulis

Presiden Prancis Charles de Gaulle
Sumber: tracesofwar.com

Seperti yang disebutkan sebelumnya, de Gaulle juga merupakan seorang penulis.  Ia memiliki wawasan yang luas dan sering membahas isu militer dalam buku-bukunya. Karir menulisnya dimulai dari terbitnya buku La Discorde chez l’ennemi pada tahun 1924. Di buku tersebut, ia melakukan penelitian tentang hubungan antara kekuatan sipil dan militer di Jerman. 

Kemudian, di tahun 1932, de Gaulle menerbitkan sebuah buku yang berjudul Vers l’armée de métier (Tentara Masa Depan). Namun, hanya 700 eksemplar buku yang terjual di Prancis. Sementara itu, di Jerman, bukunya terjual hingga ribuan eksemplar. 

Di dalam buku tersebut de Gaulle mengusulkan untuk menciptakan pasukan yang lebih baik. Akan tetapi, pandangannya membuatnya tidak populer di kalangan pejabat militer Prancis. Bahkan, ia juga berselisih dengan Marsekal Petain mengenai bukunya yang berjudul La France et son armée (Prancis dan Angkatan Daratnya) di tahun 1938, sebuah karya sejarah militer. 

Baca Juga: Perang Dunia 1: Dua Kapal yang mengubah Sejarah Dunia

Perang Dunia ke 2 

Pada Perang Dunia II antara Jerman dan Prancis, de Gaulle memimpin sebuah brigade tank Angkatan Darat Kelima Prancis di Alsace. Pada tanggal 12 September 1939, de Gaulle menyerang Bitche bersamaan dengan Serangan Saar. 

Kemudian, pada Mei 1940, de Gaulle sementara diangkat sebagai brigadir jenderal Divisi Lapis Baja ke-4. Ia dianggap sebagai pemimpin yang mengagumkan dan berani.

Presiden Prancis Charles de Gaulle
Charles de Gaulle dengan tank tempur yang ia pimpin. Sumber: commons.wikimedia.org

Kemudian, pada tanggal 6 Juni saat memasuki masa pemerintahan Paul Reynaud, de Gaulle diangkat menjadi wakil menteri pertahanan dan perang. Pengangkatannya ini pun banyak mendapat perhatian pers, baik di Prancis maupun di Inggris. Ia pun sering melakukan misi ke Inggris untuk menjajaki kemungkinan melanjutkan perang, 

Namun, pemerintahan Reynaud digantikan 10 hari kemudian oleh Marsekal Petain yang ingin melakukan gencatan senjata dengan Jerman. Petain membuat kesepakatan dengan Jerman untuk menghindari pertumpahan darah lebih lanjut. 

Pada tahun 1940, de Gaulle yang mengetahui hal tersebut pun tidak menerima penyerahan Prancis ke Jerman. Ia pun melarikan diri ke Inggris untuk memimpin gerakan Prancis Merdeka, dengan dukungan dari Winston Churchill, perdana menteri Inggris. 

Lalu, pada tanggal 18 Juni di radio BBC London, ia menyiarkan pesan kepada rekan senegaranya untuk melanjutkan perang melawan pendudukan Jerman di bawah kepemimpinannya. 

“Saya, Jenderal de Gaulle, sekarang di London, memanggil semua perwira dan pria Prancis yang saat ini berada di tanah Inggris, atau mungkin di masa depan, dengan atau tanpa senjata mereka. Saya memanggil semua insinyur dan pekerja terampil dari pabrik persenjataan yang saat ini berada di tanah Inggris, atau mungkin di masa depan, untuk menghubungi saya.”

Pidato tersebut dikenal juga sebagai L’Appel du 18 juin dan sering dianggap sebagai langkah awal perlawanan Prancis. 

Presiden Prancis Charles de Gaulle
Charles de Gaulle menyiarkan dari  BBC London. Sumber: commons.wikipedia.com

Akibatnya, pada tanggal 2 Agustus 1940, pengadilan militer Prancis menjatuhkan hukuman secara in absentia, dengan hukuman pencabutan pangkat militer dan penyitaan properti kepada de Gaulle. Meski sudah tidak memiliki status politik, de Gaulle tetap yakin pada misinya. Ia benar-benar mengabdi pada Prancis dan memperjuangkan kepentingan Prancis. 

Hukuman in absentia sendiri berarti mengadili dan menghukum terdakwa tanpa perlu dihadiri oleh terdakwa tersebut. Lalu, di Indonesia pernah ada gak, sih, hukuman in absentia ini? 

Yap, di Indonesia juga ada, loh, hukuman seperti ini. Sebut saja tersangka kasus suap wisma atlet Muhammad Nazaruddin. Pasalnya, pemerintah masih belum bisa membawa Nazaruddin kembali ke Indonesia, nih, guys! Oleh karena itu, ia dimungkinkan untuk menjalani sidang secara in absentia.

Lanjut ke kisah Charles de Gaulle, pada 1943, de Gaulle pindah ke Aljazair, di sana, ia membentuk pemerintahan sementara Prancis. Pembentukan pemerintahan ini pun membuat jengkel sekutu, sehingga de Gaulle sengaja dikeluarkan dari Konferensi Yalta saat Jerman merundingkan penyerahannya.

Selama pembebasan paris pada Agustus 1944, de Gaulle disebut sebagai pahlawan di ibukota Prancis. Lalu, di tahun 1945, de Gaulle terpilih menjadi presiden sementara Prancis hingga tahun 1946. 

Setelah tidak menjabat lagi menjadi presiden, ia memimpin gerakan politiknya sendiri “Rally for the French People” namun tidak mendapatkan banyak momentum. Hingga akhirnya, pada tahun 1953 ia memutuskan untuk pensiun dari politik.

Baca Juga: Mengapa Jerman Kalah di Perang Dunia II?

Menjadi Presiden Prancis Republik Kelima

Pemerintah Prancis Republik Keempat mulai runtuh pada akhir 1950. Lalu, pada tahun 1959 de Gaulle kembali menjadi presiden dan mendirikan Republik Kelima Prancis. Pada masa pemerintahannya ini de Gaulle berusaha memperkuat negaranya baik secara militer maupun finansial. Selain itu, ia juga menyetujui pengembangan senjata nuklir.  

De Gaulle merupakan sosok orang yang tidak takut dalam membuat keputusan. Pada tahun 1966, ia menarik pasukan negaranya keluar dari NATO. Beberapa tahun kemudian, pada bulan Mei 1968, sekelompok mahasiswa melakukan aksi demonstrasi untuk menggoyahkan pemerintahan de Gaulle. 

Aksi pemogokan umum pun terjadi yang mengakibatkan lumpuhnya Prancis hingga membahayakan Republik Kelima. Akhirnya, pada 28 April 1969, setelah kekalahannya dari referendum, de Gaulle mengundurkan diri dari kursi pemerintahan.

Presiden Prancis Charles de Gaulle
Presiden Prancis De Gaulle memberikan suaranya dalam referendum konstitusi pada 27 April 1969. Sumber: rfi.fr

Wafatnya Charles de Gaulle 

Setelah mengundurkan diri dari kursi presiden, de Gaulle pensiun dan kembali ke rumahnya di Colombey-les-Deux-Eglises. Namun, beberapa tahun kemudian, pada tanggal 9 November 1970, de Gaulle dinyatakan wafat di umur 79 tahun akibat serangan jantung. 

Presiden Prancis Charles de Gaulle
Para pelayat mengunjungi makam de Gaulle di tahun 1970. Sumber: dw.com

Saat itu, Presiden Prancis menyampaikan berita buruk tersebut kepada publik. Ia mengatakan “Jenderal de Gaulle sudah meninggal, dan kini Prancis menjadi janda”

Well, Sobat Zenius, itu dia kisah perjalanan dari Charles de Gaulle. Setelah kematiannya, Prancis pun sangat berduka karena telah kehilangan sosok pemimpin dan salah satu pahlawan terbesarnya. Oleh karena itu, namanya diabadikan menjadi nama salah satu bandar udara di Prancis. 

Oh iya, ada juga, loh, film yang membahas kisah Charles de Gaulle! Nah, bagi kalian yang tertarik menonton kisahnya bisa cari film dengan judul ‘de Gaulle’, ya!

Referensi:

Britannica. 2021. Charles de Gaulle President of France. Diakses Melalui Situs https://www.britannica.com/biography/Charles-de-Gaulle-president-of-France/Return-to-public-life

Biography. 2021. Charles de Gaulle. Diakses Melalui Situs https://www.biography.com/political-figure/charles-de-gaulle

BBC. 2021. History Charles de Gaulle. Diakses melalui situs https://www.bbc.co.uk/history/historic_figures/gaulle_charles_de.shtml

History. 2021. Charles de Gaulle. Diakses melalui situs https://www.history.co.uk/biographies/charles-de-gaulle

History. 2021. Charles de Gaulle elected president of France. Diakses melalui situs https://www.history.com/this-day-in-history/de-gaulle-elected



Bagikan artikel ini: