5 Hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Daftar PPDB SMA

Berikut adalah informasi lengkap seputar PPDB online SMA dan tips yang perlu diperhatikan untuk memaksimalkan peluang diterima di SMA pilihan.

Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA dalam beberapa tahun terakhir dilaksanakan secara online. Beberapa provinsi sudah menyiapkan sebuah sistem atau situs resmi yang dirancang untuk melakukan otomasi seleksi penerimaan siswa baru, mulai dari proses pendaftaran, proses seleksi, hingga pengumuman hasil seleksi. Semua berjalan secara online dan real-time (proses dan hasil seleksi bisa diketahui saat itu juga).

Berikut link ke beberapa website untuk PPDB tahun ajaran 2018-2019 di berbagai provinsi:

Oke itu baru link ke beberapa provinsi saja. Kalo provinsi kamu belum disebutkan di atas, silakan tanyakan ke sekolah masing-masing ya untuk website PPDB di provinsi kamu.

Nah, sebenarnya semua informasi terkait jadwal, persyaratan, proses pendafatran, dan seleksi PPDB SMA sudah sangat lengkap tersaji di setiap website resmi. Tapi artikel ini akan membahas beberapa poin penting yang perlu kalian perhatikan dan kadang tidak kepikiran ketika daftar SMA, khususnya untuk memaksimalkan peluang lolos di SMA yang menjadi incaran.

Selain itu, tiap provinsi memiliki kebijakan tersendiri tentang jadwal, mekanisme pendaftaran, dan seleksi PPDB SMA. Jujur, cukup mustahil untuk merangkum sistem seleksi tiap provinsi dan kota/kabupaten dalam satu artikel ini. Oleh karena itu, artikel ini akan fokus membahas detil dan contoh untuk konteks PPDB online SMA di provinsi DKI Jakarta, karena memang provinsi DKI Jakarta yang sudah sangat konsisten melaksakan PPDB online selama beberapa tahun terakhir. Walaupun begitu, pembahasan di bawah bisa menjadi ilustrasi tips penting dalam mendaftar SMA di provinsi lain selain Jakarta.

 

1. Tahapan/Gelombang Penerimaan Peserta Didik Baru

Untuk kebanyakan provinsi di Indonesia, PPDB SMA yang menyeleksi berdasarkan nilai UN hanya terdiri dari 1 tahap/gelompang, yaitu jalur Reguler/Umum. Pada jalur Reguler ini, lulusan SMP bisa memilih SMA yang berada di satu kota/kabupaten dengan domisili tinggal.

Namun berbeda untuk provinsi DKI Jakarta, PPDB SMA ibu kota terdiri dari 3 gelombang, yaitu:

PPDB Gelombang Pertama – Jalur Lokal

Pada gelombang pertama, lulusan SMP hanya bisa memilih/mendaftar ke tiga (3) SMA yang berlokasi di domisili ia tinggal. Misalnya, Fanny adalah seorang lulusan SMP yang berdomisili di Jakarta Utara. Berarti pada PPDB Jalur Lokal ini, ia hanya bisa mendaftar ke tiga SMA di daerah Jakarta Utara saja. Dengan demikian, para lulusan SMP bersaing dengan siswa-siswa dari satu kota saja.

PPDB Gelombang Kedua – Jalur Umum

Pada gelombang kedua, lulusan SMP bebas dan bisa memilih/mendaftar ke tiga (3) SMA Negeri se-Jakarta dan tidak melihat domisili tempat tinggal.

Kita pake lagi contoh Fanny sebelumnya ya. Pada PPDB SMA Jakarta Jalur Umum, Fanny tidak hanya bisa mendaftar ke SMA yang terletak di Jakarta Utara saja, tapi ia juga bisa mendaftar ke SMA yang terletak di Jakarta Pusat, Selatan, Barat, ataupun Jakarta Timur.

Karena bebas memilih SMA mana pun yang ada di suatu provinsi, PPDB Jalur Umum ini biasanya terkenal menjadi ajang para siswa SMP mendaftar ke SMA unggulan/favorit di provinsi tersebut. Makanya ga heran, persaingan di Jalur Umum ini ketat banget.

PPDB Gelombang Ketiga – Kursi Sisa

Jika gagal keterima di Jalur Lokal dan Jalur Umum, lulusan SMP masih bisa daftar di Gelombang Ketiga. Tapi… tahap ini bisa dibilang bonus doang. Tahap ini hanya dibuka jika masih tersisa kursi di suatu SMA, entah itu karena ada pendaftar yang keterima tapi mengundurkan diri atau alasan lainnya. Kuota yang tersisa jauuh lebih sedikit dari Tahap I dan II. Ada yang paling banyak membuka 10 kursi, paling sedikit 1 kursi saja. Jumlah kursi yang tersisa tentu ga bisa diprediksi dari awal karena bergantung banget sama proses pendaftaran di Tahap I dan 2. Ga semua SMA juga yang membuka pendaftaran di Tahap 3. Oleh karena itu, kurang realistis untuk mengharapkan Tahap Ketiga. Lebih baik, anggap saja tidak ada.

 

2. Jurusan SMA yang akan diambil

Hampir seluruh SMA di kota besar di Indonesia sudah menggunakan Kurikulum 2013. Untuk SMA yang sudah menerapkan Kurikulum 2013, penjurusan sudah dimulai dari kelas 10 SMA, bahkan saat pendaftaran PPDB. Jadi, para lulusan SMP nantinya tidak hanya menentukan pilihan SMA saja, tetapi juga sudah menentukan jurusan yang akan diambil selama belajar di bangku SMA.

Oleh karena itu, kamu udah harus memantapkan pilihan jurusan yang akan diambil. Usahakan untuk pilih jurusan bukan karena ikut-ikutan, bukan karena termakan mitos, atau hanya karena gengsi belaka.

Nah, dua jurusan SMA yang paling umum adalah MIPA dan IPS. Untuk membantu kamu memutuskan jurusan mana yang bakal diambil, coba deh baca artikel berikut yang membahasa mitos-mitos seputar jurusan di SMA:

Selain 2 jurusan tersebut, ada juga jurusan Bahasa. Ga banyak SMA yang menawarkan jurusan Bahasa. Ini bisa jadi bahan pertimbangan untuk memilih SMA nantinya.

 

3. SMA mana saja yang menjadi target pilihan

Ada satu kesalahan umum nih di kalangan anak SMP yang mau daftar SMA. Biasanya para lulusan SMP itu udah kepikiran mau lanjut ke satu SMA yang sudah menjadi impian sejak lama. Sayangnya, karena dia terlalu fokus ke satu SMA itu, dia jadi ga strategis dalam mendaftar dan ga punya back up plan. 

“Pokoknya aku mau masuk ke satu SMA itu aja!”

Alangkah baiknya mempersiapkan pilihan lain untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Dengan mempersiapkan pilihan lain secara matang, kamu juga bisa lebih tangkas mengambil keputusan selama proses PPDB berlangsung. Coba bayangin kalo kamu cuma pilih 1 SMA aja, trus ga keterima, pasti kalang kabut kan. Trus gimana dong supaya ga kayak gitu?

1. Tentukan SMA mana saja yang bisa dipilih

Penting banget kamu punya list prioritas SMA yang mau dipilih. Mulailah menentukan SMA mana saja yang menjadi target. Situs resmi PPDB tiap provinsi biasanya menyediakan daftar SMA yang ada di suatu provinsi dan sudah terbagi berdasarkan kota/kabupaten maupun zona pemilihan. Aktif bertanya ke guru BP atau kakak kelas tentang suasana belajar, prestasi, hingga lingkungan SMA yang menjadi target. Jika perlu, datangi SMA-nya untuk melihat langsung lingkungan dan fasilitas sekolah.

Untuk provinsi DKI Jakarta, setiap gelombang pendaftaran memungkinkan pendaftar memilih 3 SMA. Karena ada dua gelombang utama pendaftaran, berarti seorang pendaftar SMA Jakarta bisa memilih hingga MAKSIMAL 6 SMA yang ada di Jakarta.

6 pilihan ini maksimal lho ya. Bisa saja seorang pendaftar memilih satu SMA yang sama pada kedua gelombang. Misalnya, Amir memilih SMAN 8 Jakarta pada Gelombang Pertama, trus ga keterima. Karena ia berdomisili di Jakarta Selatan sama dengan SMAN 8 Jakarta, Amir masih bisa mendaftar ke SMAN 8 Jakarta pada Gelombang Kedua.

2. Petakan pilihan SMA ke masing-masing gelombang pendaftaran

Setelah kamu nge-list maksimal 6 SMA yang menjadi target, selanjutnya petakan 3 SMA apa saja yang akan dipilih pada Gelombang Pertama, dan 3 SMA apa saja yang akan dipilih pada Gelombang Kedua.

Untuk SMA yang menjadi pilihan di Gelombang Pertama, biasanya SMA yang udah jadi inceran sejak lama. Entah itu SMA favorit, atau karena sudah janjian dengan temen, atau karena SMA itu ada jurusan Bahasa, atau sudah pesanan dari orang tua. Untuk pilihan SMA di Gelombang Kedua, pilih 3 SMA yang berlokasi sama dengan domisili tempat tinggal.

3. Pilih SMA dengan matang

Ada satu tips yang penting banget nih. Untuk tiap SMA yang kamu pilih, pastikan kamu sudah memikirkannya baik-baik ya. Jangan asal-asalan pilih SMA cuma untuk ngisi pilihan 2 dan pilihan 3. Jangan sampe ada kejadian kayak begini:

“Sebenernya aku pilih SMA ini di pilihan 2 karena biar asal isi sih. Yah malah keterima di sini. Aku ga sreg sebenernya sama SMA ini.”  

Makanya, penting untuk memilih SMA dengan pertimbangan yang matang. Jadi kalo kamu akhirnya “cuma” keterima di pilihan 2 atau 3, kamu bisa berpuas diri dan ikhlas keterima di situ.

 

4. Strategi memaksimalkan peluang lulus di SMA tujuan

Setelah menetapkan daftar pilihan SMA, saatnya menyusun strategi untuk memaksimalkan peluang keterima di SMA yang dituju. Gimana cara menyusun strateginya?

Sekali lagi perlu di-mention kalo tiap provinsi punya kebijakan atau dapurnya tersendiri untuk menentukan poin apa saja yang dipakai untuk menyeleksi calon peserta didik baru. Untungnya nih, sistem PPDB online itu sangat transparan. Setiap provinsi benar-benar membuka rumus yang digunakan sebagai dasar seleksi siswa di PPDB. Dan semua informasi itu tertera di situs resmi PPDB tiap provinsi, yaitu biasanya di halaman Aturan.

Diambil dari informasi yang tertera di halaman Aturan PPDB DKI Jakarta di sini, berikut sistem seleksi PPDB DKI Jakarta:

Seluruh SMA di DKI Jakarta akan menggunakan 4 poin di atas dalam menyeleksi calon peserta didik baru dengan urutan seperti di atas. Provinsi lain beda lagi lho aturannya. Ada yang melihat prestasi non-akademik. Ada yang melihat waktu pendaftaran. Ada yang memprioritaskan anak guru. Wah macem-macem deh.

Artikel ini akan fokus bahas lebih detil tentang sistem seleksi PPDB SMA di provinsi DKI Jakarta ya.

1. Nilai rata-rata UN

Ya tentu aja, hal yang paling pertama dilihat dalam menyaring para pendaftar adalah nilai rata-rata UN.

Untuk mengetahui apakah nilai rata-rata UN kamu cukup apa enggak untuk keterima di suatu SMA, kamu bisa lihat passing grade.

Passing grade: nilai UN terendah dari siswa yang keterima di SMA itu tahun lalu.

Situs resmi PPDB online biasanya membuka informasi tersebut secara resmi. Jadi bukan prediksi-prediksi lagi ya. Data yang ditampilkan merupakan data real dari tahun lalu.

Coba deh buka halaman Arsip Tahun LalU – Statistik di situs resmi PPDB. Di menu Statistik – Arsip Tahun Lalu ini, kamu bisa menemukan nilai UN terendah yang keterima pada tiap jurusan, tiap SMA, dan tiap tahap pendaftaran PPDB provinsi tersebut.

Nah, setelah kamu tau nilai UN terendah yang keterima di suatu SMA, kamu bisa bandingkan dengan nilai UN kamu sendiri. Apakah di atas, cukup, atau jauh di bawah itu? Dari sini, kamu bisa urutkan pilihan SMA berdasarkan “passing grade” tadi. SMA pilihan kamu dengan passing grade tertinggi, taruh di pilihan 1. SMA dengan passing grade sedang di pilihan 2. SMA dengan passing grade terendah di pilihan 3.

Perlu diperhatikan bahwa passing grade ini bukan nilai pasti ya. Passing grade di sini cuma menggambarkan persaingan penerimaan di suatu SMA pada tahun lalu. Passing grade atau nilai UN terendah yang akan diterima di suatu SMA bisa aja berubah karena daya tampung, jumlah pendaftar, dan persaingan tiap tahunnya berbeda-beda.

Berikut beberapa skenario yang mungkin banget terjadi.

Skenario A: passing grade naik dari tahun lalu. Jurusan MIPA di suatu SMA punya daya tampung 60 kursi. Sekolah akan mengurutkan nilai UN yang masuk dan mengambil 60 pendaftar teratas. Ternyata yang mendaftar tahun ini nilai UN-nya bagus-bagus. Nilai UN terendah di urutan 60 adalah 91,5. Bahkan siswa dengan nilai UN 90,5 yang sama dengan nilai UN terendah tahun lalu pun ga bisa masuk top 60.

Skenario B: passing grade turun dari tahun lalu. Jurusan MIPA di suatu SMA punya daya tampung 60 kursi. Sekolah akan mengurutkan nilai UN yang masuk dan mengambil 60 pendaftar teratas. Ternyata yang mendaftar tahun ini punya nilai UN-nya lebih rendah tahun kemarin. Nilai UN terendah di urutan 60 adalah 90. Siswa yang punya nilai UN di bawah batas terendah tahun lalu pun ternyata bisa keterima di SMA ini.

Sebenarnya, ada indikator lain yang juga bisa diperhatikan, yaitu nilai rata-rata UN se-provinsi tahun ini. Kamu bisa cari berita di internet atau tanya pihak sekolah (SMP), apakah nilai rata-rata UN SMP tahun ini naik atau turun dibandingkan dengan tahun lalu? Nilai rata-rata UN SMP se-provinsi sedikit banyak akan mempengaruhi passing grade PPDB SMA. Walaupun ini bukan indikator yang pasti, setidaknya indikator ini bisa membantu kamu untuk menentukan target SMA yang realistis untuk dipilih.

2. Urutan Pilihan Sekolah

Ternyata SMA melihat urutan pilihan sekolah saat pendaftaran. Maksudnya, jika ada beberapa anak yang memiliki nilai rata-rata UN yang sama, SMA akan memprioritaskan memilih pendaftar yang menempatkan SMA tersebut di Pilihan 1.

Oleh karena itu, kalo kamu mengincar satu SMA dan kamu pede nilai rata-rata UN kamu di atas passing grade SMA itu, pasanglah SMA tersebut di pilihan pertama. Hal ini akan semakin memaksimalkan peluang kamu lolos di SMA tersebut.

3. Perbandingan Nilai UN setiap mata pelajaran

Ternyata SMA juga melihat nilai UN setiap mata pelajaran. Maksudnya, jika ada beberapa anak dengan nilai rata-rata UN yang sama dan mereka sama-sama menempatkan SMA X pada pilihan pertama, pihak SMA X akan membandingkan nilai UN tiap mata pelajaran mereka, dengan urutan langkah:

  • Bahasa Indonesia
  • Matematika
  • Bahasa Inggris
  • Ilmu Pengetahuan Alam

Nah, kalo kamu masih duduk di kelas 9 SMP yang belum UN, kamu bisa manfaatin banget fakta ini. Dengan mengetahui poin ini, kamu bisa pasang target supaya nilai UN Bahasa Indonesia kamu nanti harus bagus banget untuk memaksimalkan peluang kamu keterima di SMA impian.

4. Umur peserta calon didik baru

Nah, ternyata SMA juga melihat umur para pendaftar. Jika ada dilema dalam pemilihan, pihak SMA akan memprioritaskan memilih pendaftar yang umurnya lebih tua. Kalo bagian ini, there’s nothing you can do about it lah ya ?

 

5. Stand-by saat masa PPDB berlangsung

Seperti yang disebutin di awal artikel, proses PPDB ini berjalan secara real-time. Kamu bisa melihat secara langsung bagaimana posisi kamu dibandingkan pendaftar yang lain. Apakah posisi kamu masih aman atau tidak. Jika posisi kamu sudah mendekati batas daya tampung, harus rela siap-siap “ketendang” dan ga keterima di SMA tersebut. Selama masa PPDB masih berlangsung, kamu bisa menukar-nukar pilihan ke SMA lain.

Inilah mengapa dibilang di atas, penting untuk mempersiapkan beberapa pilihan SMA sedari awal. Waktu seleksi biasanya hanya berlangsung selama 2 hari. Itu adalah waktu yang pendek. Pilihan cadangan akan membuat kamu lebih gesit mengambil keputusan. Jadi tidak ada waktu terbuang untuk galau, meminta persetujuan orang tua, atau nanya-nanya teman/sekolah lagi.

****

Oke deh, itu dulu tips-tips dari gue terkait PPDB online SMA, khususnya untuk provinsi DKI Jakarta. Semoga pembahasan di atas bisa berguna untuk para lulusan SMP yang mau mendaftar ke SMA Jakarta. Semoga juga pembahasan di atas bisa memberikan ilustrasi tentang apa aja hal yang mesti diperhatikan sebelum mendaftar SMA, khususnya dalam memaksimalkan peluang diterima. Dengan adanya ilustrasi ini, semoga kalian yang berasal dari provinsi di luar Jakarta bisa proaktif melakukan langkah serupa dengan yang diilustrasikan di atas. Pelajari Aturan PPDB di provinsi kamu dan susunlah strategi berdasarkan Aturan yang ada.

Good luck ya buat pendaftaran SMA nya.. 😀

 

==========CATATAN EDITOR===========

Kalo ada di antara kamu yang mau nanya lebih lanjut ke Fanny seputar rencana masuk SMA, langsung aja tinggalin comment di bawah artikel ini ya.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.