Sistem Persediaan Perpetual – Materi Ekonomi Kelas 12

Sistem Persediaan Perpetual - Materi Ekonomi Kelas 12 9

Di materi Ekonomi Kelas 12, lo akan belajar tentang sistem persediaan perpetual. Pelajari materi dan contoh soalnya di artikel ini.

Sobat Zenius yang sudah naik ke kelas 12 pasti akan bertemu dengan sistem persediaan perpetual, nih. 

Sistem persediaan perpetual merupakan metode pencatatan persediaan barang dagang yang dilakukan secara terus menerus. Sehingga, saldo akhirnya akan selalu terlihat setiap ada transaksi baru.

Ini berbeda dengan sistem persediaan periodik yang pencatatannya dilakukan di akhir periode.

Dari metode pencatatan ini, elo bisa mencari:

  • Harga pokok penjualan (HPP)
  • Persediaan akhir
  • Laba kotor

Metode yang digunakan ada tiga, yaitu first in first out (FIFO), last in first out (LIFO) dan average.

Metode FIFO Perpetual

Pada metode first in first out (FIFO) perpetual, barang yang masuk pertama kali adalah barang yang kemudian pertama kali dijual.

metode fifo
Pada metode FIFO, barang yeng pertama masuk harus dikeluarkan terlebih dahulu (Arsip Zenius)

Supaya lebih mudah memahaminya, coba perhatikan ilustrasi berikut.

Contoh:

Transaksi persediaan pakaian dari PD. Zeni

  • 1 Juni persediaan awal 20 unit @ Rp 10.000
  • 5 Juni pembelian 30 unit @ Rp 12.000
  • 10 Juni pembelian 40 unit @ Rp 15.000
  • 12 Juni penjualan 30 unit @ Rp 20.000
  • 15 Juni pembelian 10 unit @ Rp 16.000
  • 20 Juni penjualan 40 unit @ Rp 25.000

Berapa HPP, persediaan akhir, dan laba kotornya?

Lo bisa membuat jurnal persediaannya. Berdasarkan metode FIFO, semua barang yang dibeli akan masuk tabel persediaan, sementara barang yang dijual masuk tabel HPP. Dengan catatan, barang yang dijual pertama kali adalah barang yang pertama kali masuk, dan seterusnya.

TanggalPembelianHPPPersediaan
UnitHarga/UnitTotalUnitHarga/UnitTotalUnitHarga/UnitTotal
Juni12010.000200.000
53012.000360.0002010.000200.000
3012.000360.000
104015.000600.0002010.000200.000
3012.000360.000
4015.000600.000
122010.000200.0002012.000240.000
1012.000120.0004015.000600.000
151016.000160.0002012.000240.000
4015.000600.000
1016.000160.000
202012.000240.0002015.000300.000
2015.000300.0001016.000160.000
HPP860.000Persediaan akhir460.000

Maka, laba kotornya adalah:

Laba kotor = Penjualan – HPP

Penjualan:

  • 12 Juni 30 unit @ Rp 20.000 = Rp 600.000
  • 20 Juni 40 unit @ Rp 25.000 = Rp 1.000.000

Total penjualan = Rp 1.600.000

Laba kotor = Rp 1.600.000 – Rp 860.000 = Rp 740.000

Baca Juga : Pengertian, Fungsi, dan Contoh Buku Besar Pembantu – Materi Ekonomi Kelas 12

Metode LIFO Perpetual

Berkebalikan dengan FIFO, pada metode last in first out, barang yang dijual pertama kali adalah barang yang pertama kali masuk.

Biar lebih gampang memahaminya, coba gunakan metode ini untuk menghitung HPP, persediaan akhir, dan laba kotor data dari ilustrasi di atas.

Seperti metode FIFO, lo bisa langsung membuat kartu persediaannya. Bedanya, lo harus menjual barang yang terakhir masuk terlebih dahulu.

Contoh kartu persediaan metode LIFO
Contoh kartu persediaan metode LIFO (Arsip Zenius)

Selanjutnya, elo bisa hitung laba kotornya.

Laba kotor = Penjualan – HPP

Penjualan:

  • 12 Juni 30 unit @ Rp 20.000 = Rp 600.000
  • 20 Juni 40 unit @ Rp 25.000 = Rp 1.000.000

Total penjualan = Rp 1.600.000

Laba kotor = Rp. 1.600.000 – Rp 1.000.000 = Rp 600.000

Metode Average Perpetual

Pada metode average, elo harus menjumlahkan seluruh pembelian yang ada. Kemudian, hitung harga rata-ratanya untuk mendapatkan harga/unit. Total pembelian inilah yang selanjutnya akan elo jual sesuai dengan harga/unit terakhir di kartu penjualan.

Biar lebih mudah dipahami, gunakan metode ini berdasarkan ilustrasi di atas tadi untuk mencari HPP, persediaan akhir, dan laba kotornya.

Contoh kartu persediaan metode average
Contoh kartu persediaan metode average (Arsip Zenius)

Lanjut hitung laba kotornya.

Laba kotor = Penjualan – HPP

Penjualan:

  • 12 Juni 30 unit @ Rp 20.000 = Rp 600.000
  • 20 Juni 40 unit @ Rp 25.000 = Rp 1.000.000

Total penjualan = Rp 1.600.000

Laba kotor = Rp 1.600.000 – Rp 919.990 = Rp 680.010

Biar lebih paham lagi, coba selesaikan contoh soal ini, yuk!

Contoh Soal Persediaan Metode Perpetual

Transaksi persediaan sepatu dari PD. Zeni

  • 1 Juni persediaan awal 20 unit @ Rp 15.000
  • 5 Juni pembelian 30 unit @ Rp 16.000
  • 10 Juni pembelian 40 unit @ Rp 20.000
  • 12 Juni penjualan 30 unit @ Rp 25.000
  • 15 Juni pembelian 10 unit @ Rp 22.000
  • 20 Juni penjualan 40 unit @ Rp 30.000

Hitunglah HPP, persediaan akhir, dan laba kotornya dengan metode average!

Jawab:

TanggalPembelianHPPPersediaan
UnitHarga/UnitTotalUnitHarga/UnitTotalUnitHarga/UnitTotal
Juni12015.000300.000
53016.000480.0005015.600780.000
104020.000800.0009017.5561.580.000
123017.557526.6806017.5561.053.320
151022.000220.0007018.1901.273.320
204018.190727.6003013.333545.720
HPP1.254.280Persediaan akhir545.720

Laba kotor = Penjualan – HPP

Penjualan:

  • 12 Juni 30 unit @ Rp 25.000 = Rp 750.000
  • 20 Juni 40 unit @ Rp 30.000 = Rp 1.200.000

Total penjualan = Rp 1.950.000

Laba kotor = Rp 1.950.000 – Rp 1.245.280 = Rp 704.720

Nah, apa elo masih bingung dengan sistem persediaan perpetual ini? Elo bisa mempelajarinya lebih dalam lagi bareng tutor di aplikasi Zenius dengan klik banner di bawah ini. Yuk, download aplikasinya!

materi pelajaran ekonomi zenius

Baca Juga :

Fungsi Jurnal Umum, Cara Membuat, dan Contohnya – Materi Ekonomi Kelas 12

Buku Besar Utama – Pengertian, Fungsi dan Contoh – Materi Ekonomi Kelas 12

Bagikan Artikel Ini!