Sistem persediaan periodik zenius

Sistem Persediaan Periodik – Materi Ekonomi Kelas 12

Selamat datang di Kelas 12! Artinya, lo akan bertemu dengan materi Ekonomi Kelas 12 tentang Sistem Persediaan Periodik. Di sini, kita akan membahas juga tentang metode FIFO LIFO Average. Cekidot!

“Baim, kamu jangan nyatet persediaan barang perusahaan kayak gini dong!”

“Loh, memangnya apa yang salah, Pak? Saya sudah mencatatnya dengan benar, tidak ada persediaan yang terlewat”

“Kamu ganti metode pencatatannya, saya gak mau yang seperti ini!”

Hayoo … Kira-kira ada yang bisa nebak gak kenapa si Baim disuruh ganti metode pencatatan persediaan barang oleh atasannya? Dalam mencatat persediaan barang periodik, ada beberapa metode yang bisa digunakan, yaitu metode FIFO, LIFO, dan Average.

Ternyata, Baim melakukan pencatatan menggunakan metode LIFO. Hmm… kenapa ya kok atasan Baim menyuruhnya untuk mengganti metode tersebut dengan metode yang lain? (Akan gue jawab di akhir artikel ini ya). Sebelum kita mencari tahu alasannya, kita harus tahu dulu apa sih yang dimaksud dengan persediaan barang periodik itu?

Apa Itu Sistem Persediaan Periodik?

Sistem persediaan periodik merupakan pencatatan persediaan barang dagang yang tidak dilakukan secara kontinu. Pencatatan ini dilakukan di akhir periode, sehingga persediaan akhir akan dihitung dengan melakukan stock opname. Nah, stock opname merupakan kegiatan perhitungan persediaan barang dagang yang masih tersimpan di gudang atau toko untuk kemudian dipasarkan.

Kemudian, hasil stock opname akan dibandingkan dengan hasil perhitungannya, kira-kira udah sesuai atau belum. Tujuannya apa sih? Tentu saja dilakukan untuk meminimalisir kesalahan pencatatan atau perhitungan persediaan barang dagang.

Apa sih yang dicari dari persediaan barang dagang dengan sistem persediaan periodik? Kita akan mencari persediaan akhir, HPP (Harga Pokok Penjualan), dan laba kotor. Gimana cara mencarinya? Nah, kita bisa mencarinya dengan tiga metode, yaitu metode FIFO, LIFO, dan Average.

Baca Juga: Cara Hitung Harga Pokok Penjualan (HPP) – Materi Ekonomi Kelas 12

Apa Itu Metode FIFO, LIFO, dan Average?

Oke, sekarang kita tahu kalau dalam sistem persediaan periodik, kita punya tiga metode yang bisa digunakan, yaitu FIFO, LIFO, dan Average. Ketiganya memiliki perbedaan dalam menghasilkan perhitungan persediaan barang dagang. Langsung aja deh kita bahas ketiganya, yuk!

Konsep Persediaan Barang Dagang Periodik dengan Metode FIFO

FIFO (First In First Out) merupakan barang yang pertama masuk dan pertama keluar. Maksudnya ketika ada barang yang pertama kali masuk ke gudang perusahaan, maka barang tersebut yang juga akan keluar atau dijual pertama kali dari gudang perusahaan.

Contohnya, suatu perusahaan memiliki persediaan barang dagang untuk pertama kali pada tanggal 1 Juni. Kemudian, di tanggal 15 Juni, perusahaan membeli persediaan lagi. Di tanggal 20 dan 30 Juni, perusahaan juga melakukan pembelian barang dagangan. Nah, ketika perusahaan menggunakan metode FIFO, maka barang dagangan yang harus dijual terlebih dulu adalah persediaan pada tanggal 1 Juni. Kalau persediaan pada tanggal tersebut sudah habis, maka perusahaan bisa menjual persediaan yang masuk pada tanggal-tanggal berikutnya.

Metode FIFO sistem persediaan periodik zenius
Contoh persediaan barang dagang menggunakan metode FIFO

Jadi, keluarnya barang harus berurutan sesuai dengan masuknya barang tersebut ke perusahaan.

Konsep Persediaan Barang Dagang Periodik dengan Metode LIFO

Metode sistem persediaan periodik selanjutnya adalah LIFO (Last In First Out), yaitu barang yang terakhir masuk dan pertama keluar. Maksudnya ketika ada barang yang terakhir masuk ke gudang perusahaan, maka barang itulah yang akan pertama kali keluar atau dijual oleh perusahaan.

Contohnya sama seperti pada metode FIFO, hanya saja penjualan barangnya berbeda. Kalau tadi metode FIFO menjual barang dagangan sesuai dengan urutan masuk barang, lain halnya dengan metode LIFO yang menjual barang dari yang paling baru. Perhatikan urutan nomor penjualan di bawah ini!

Metode LIFO sistem persediaan periodik zenius
Contoh persediaan barang dagang menggunakan metode LIFO

Jadi, keluarnya barang sama seperti mengambil barang di tumpukan. Setelah kita menumpuk barang, maka barang yang akan kita ambil dulu yang paling atas atau yang paling baru kita tumpuk.

Konsep Persediaan Barang Dagang Periodik dengan Metode Average

Terakhir ada metode Average atau rata-rata. Metode ini gak memperhatikan urutan barang masuk untuk dijual terlebih dahulu seperti pada FIFO dan LIFO. Semua barang yang akan dijual dihitung harga rata-ratanya terlebih dahulu.

Contohnya, pada tanggal 1 Juni perusahaan memasukkan barang sebanyak 40 unit dengan total harga harga Rp800.000. Kemudian, di tanggal 15 Juni, 20 Juni, dan 30 Juni berturut-turut seharga Rp440.000, Rp1.250.000, dan Rp900.000.

metode average sistem persediaan periodik zenius
Contoh persediaan barang dagang menggunakan metode Average

Setelah itu, total harga dari semua persediaan dibagi dengan total unit barang persediaan untuk menghasilkan harga rata-rata.

Contoh Soal Persediaan Metode Periodik

Supaya lo makin paham dan kebayang dengan materi di atas, kita langsung cobain latihan soalnya, yuk!

Contoh 1

Data keluar masuk barang Zenius:

TanggalKegiatanUnitHarga SatuanTotal Harga
1 JuniPersediaan awal20 unitRp10.000Rp200.000
5 JuniPembelian30 unitRp12.000Rp360.000
10 JuniPembelian40 unitRp15.000Rp600.000
12 JuniPenjualan30 unit (20 unit tanggal 1 Juni, dan 10 unit tanggal 5 Juni)Rp20.000Rp600.000
15 JuniPembelian10 unitRp16.000Rp160.000
20 JuniPenjualan40 unit (20 unit tanggal 5 Juni, dan 20 unit tanggal 10 Juni)Rp25.000Rp1.000.000

Tentukan HPP, persediaan akhir, dan laba kotor dari data di atas menggunakan metode Average!

Jawab:

  • HPP

1 Juni → 20 unit x 10.000 = 200.000

5 Juni → 10 unit x 12.000 = 120.000

10 Juni → 40 unit x 15.000 = 600.000

15 Juni → 10 unit x 16.000 = 160.000

Total unit = 100 unit

Total harga = Rp1.320.000

Lalu, kita bagi total unit persediaannya dengan total unit barang (HPP per unit) = 1.320.000 : 100 = 13.200.

Jadi, HPP per unit adalah Rp13.200.

Sedangkan, untuk mencari HPP = HPP/unit x unit barang dijual = 13.200 x 70 = 924.000.

Jadi, HPP-nya adalah Rp924.000.

  • Persediaan akhir

Total barang: 100 unit

Barang dijual: 70 unit

Sisa barang: 30 unit

Persediaan akhir = sisa barang x HPP/unit = 30 x 13.200 = 396.000.

Jadi, persediaan akhirnya adalah Rp396.000.

  • Laba kotor

Laba kotor = Penjualan – HPP = 1.600.000 – 924.000 = 676.000.

Jadi, laba kotornya adalah Rp676.000.

Nah, gimana nih untuk perhitungan persediaan barang dagangan menggunakan metode Average? Sudah jelas kan? Lo bisa mencoba menggunakan metode yang lain untuk latihan soal mandiri ya! Lo bisa pakai referensi dari video materi belajar Zenius di sini yang bisa lo akses di website dan aplikasi Zenius dengan login menggunakan akun yang sudah lo daftarkan sebelumnya.

*****

Oke, sekarang sudah jelas ya mengenai sistem persediaan periodik dan metode-metode perhitungannya. Balik lagi ke pertanyaan yang pertama nih, kenapa kok Baim disuruh menggunakan metode yang lain dalam melakukan perhitungan barang dagangan perusahaan? Kenapa kok gak boleh menggunakan metode LIFO? Karena, IFRS (Investors in Financial Reporting) gak mengizinkan perusahaan menggunakan metode LIFO dalam perhitungan persediaan barang dagangan. Metode ini juga didukung juga oleh UU PPh (UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan).

LIFO dinilai sebagai metode yang kurang up to date dalam memperlihatkan hasil perhitungan akhirnya, karena laporan posisi LIFO menggunakan persediaan yang sudah lama. Hal itu dinilai kurang relevan oleh para investor, karena investor ingin tahu harga yang terbaru, bukan yang terlama. Di samping itu, metode LIFO juga akan menghasilkan laba yang paling rendah dibandingkan dengan metode yang lain dan akan mempengaruhi pajak.

Baca Juga Artikel Lainnya

Contoh Soal UTS Ekonomi Kelas 12, Pilihan Ganda dan Esai!

Apa Perbedaan APBN dan APBD? – Materi Ekonomi Kelas 11

Cara Hitung Break Even Point (BEP) – Materi Ekonomi Kelas 10

Bagikan Artikel Ini!