Kena Mental Dapat Nilai “0”, Alumni Zenius Ini Lolos SNMPTN ITB

testimoni alumni Zenius

Hi Sobat Zenius, apa kabar? Adakah di antara kamu yang lagi mempersiapkan diri untuk ikut SNMPTN tahun depan? Sebagai referensi, yuk kita simak cerita alumni Zenius, Gerizim El Masih.

Sebelum lebih jauh, aku mau tanya nih, apakah kamu sering merasa gagal dalam prestasi belajar? Ada nggak target yang sudah kamu perjuangin tapi berujung sia-sia? Sudah belajar dengan serius dan tekun tapi hasilnya belum maksimal? Jangan sedih, kamu nggak sendirian kok, Geri pun juga pernah mengalami hal yang sama.

Walaupun sekarang Geri tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Fisika, FMIPA ITB, banyak kegagalan yang sudah ia lalui. Semoga cerita Geri di artikel ini bisa menjadi motivasi buat Sobat Zenius ya.

Bagaimana tipe belajar dan background pendidikan Geri?

Pengalaman SNMPTN-ku bermula dari tipe belajar yang aku terapkan semasa SMA. Kalau ditanya soal tipe belajar, aku sebenarnya termasuk siswa yang nggak ngambis-ngambis banget. Aku memang sekolah di salah satu SMA favorit di Jakarta, yaitu SMAN 13 Jakarta. Tapi sebelum masuk SMAN 13, aku pernah gagal masuk SMP favorit kok. Karena harus tetap sekolah, aku memutuskan masuk SMP yang biasa-biasa aja. Itulah kenapa aku punya kecenderungan belajar yang relatif santai.

Awalnya, saat masuk SMAN 13 Jakarta, aku pikir teman-teman di sekolah favorit pasti punya gaya belajar yang lebih serius. Tapi ternyata nggak lho, teman-teman di kelasku cenderung santai banget.

Melihat teman-temanku yang begitu, aku juga cenderung santai saat belajar. Tapi, tipe belajar santai itu nggak berlangsung lama. Sampai di suatu hari, di sekolah mengadakan event quiz matematika. 

Bukannya sombong ya, tapi aku merasa matematika adalah salah satu mata pelajaran yang aku sukai. Setelah aku baca soalnya, sepertinya nggak sulit-sulit banget.

Nah, momen inilah yang bikin aku merasa tertampar, kecewa sekaligus malu. Bagaimana nggak, aku shock melihat nilai yang aku hasilkan “0”, alias jawabanku salah semua. Parahnya lagi, teman-teman kelasku yang aku anggap santai dan suka main di sekolah ternyata punya nilai yang jauh lebih bagus.

Selama 10 tahun belajar dari SD. Baru kali itu aku merasa terpukul, aku kena mental dan bertanya dalam hati, “kenapa jawabanku salah semua, padahal matematika termasuk pelajaran yang aku kuasai”.

Apa yang Geri pelajari dari kejadian tadi, dan gimana cara Geri menyikapinya?

Sejak saat itu, aku berjanji untuk nggak mau terlalu menggampangkan sesuatu dan nggak mau lagi terkecoh sama gaya belajar teman-temanku. Aku pun mulai bersungguh-sungguh dan mengubah gaya belajarku, dari yang awalnya santai menjadi lebih serius, bahkan cenderung ngambis.

Suatu hari, wali kelasku yang bernama Bu Sri Widayanti, yang juga guru mata pelajaran matematika ngasih informasi di kelas, kalau nilai rapor dari kelas 10 sampai kelas 12 bakal berpengaruh sama penerimaan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Mendengar informasi itu, aku mulai ngambis buat ningkatin nilai rapor biar bisa masuk ke PTN favorit.

Sifat pede-ku juga ternyata masih terpelihara. Untuk mengasah kemampuanku, aku mulai aktif mengikuti berbagai kompetisi akademis, beberapa di antaranya Olimpiade Sains Nasional (OSN) Fisika dan Kimia. Aku juga pernah mengikuti Pekan Science Nasional (PSN) di Institut Pertanian Bogor (IPB) di bidang Chemistry Challenge. Apakah aku menang saat itu?

Jawabannya adalah tidak. Nggak ada satupun dari lomba yang aku ikuti berhasil guys. Hehehe.

Apa sih momen yang bikin Geri merasa terpuruk?

Walaupun sekarang aku berhasil masuk ITB lewat jalur SNMPTN, sebelumnya aku pernah apply beasiswa ke berbagai universitas teknologi internasional lho. Aku pernah apply ke Tokyo University of Technology, Nanyang Technological University (NTU), National University of Singapore (NUS) hingga University of Cambridge di Inggris.

Tapi lagi-lagi, beberapa saat setelahnya, aku cuma mendapatkan email balasan yang isinya kurang lebih “Maaf kamu tidak lulus. Silahkan coba tahun depan”. Kecewa sudah pasti ya, terutama ketika gagal seleksi beasiswa di NTU Singapore. Aku sampai kena mental karena nggak lolos.

Gimana nggak guys, aku sudah mempersiapkan diri buat apply beasiswa ke NTU selama satu tahun penuh. Aku terinspirasi brand ambassador Zenius, Kak Jerome Polin buat kuliah di luar negeri. Untuk nyiapin diri, aku sampai masuk ke grup belajar khusus yang isinya siswa dari Indonesia yang punya tujuan sama, yaitu mau apply beasiswa ke NTU di tahun 2022.

Aku dapat pengalaman berharga sejak bergabung ke grup belajar itu. Anggota grup ternyata bukan siswa SMA biasa. Kalau dibilang anak-anak dari 10 besar SMA top LTMPT ada di satu grup itu. Jadi, nggak heran kalau mereka super ambis buat masuk NTU. Kerennya, aku bahkan ditunjuk menjadi peer tutor atau tutor sebaya untuk mata pelajaran Fisika.

Justru tanggung jawab sebagai tutor inilah yang bikin aku kena mental. Aku makin percaya diri bakal lolos, karena aku lah yang mengajarkan mereka dan membantu mereka jika kesulitan jawab soal ujian Fisika lho. Sayangnya, kuota penerima beasiswa NTU dari Indonesia itu sangat terbatas, cuma 32 orang saja.

Itu pun nggak semua peserta yang lolos dapat 100 persen beasiswa, ada yang dapat 70 persen, ada juga yang 50 persen. Kesalahanku yang terbesar adalah, aku nggak pernah menyangka kalau persaingannya begitu ketat. Sampai suatu ketika, di pertemuan terakhir, salah seorang anggota di grup belajar itu nyeletuk “eh kita spill spill-an nilai rapor yuk”.

Mendengar ajakan itu, sebenarnya aku PD-PD aja, toh nilai raporku dari kelas 10 sampai 12 di kisaran 80-an. Cukup baik kan? Sayangnya aku terkecoh lagi guys, karena rata-rata nilai rapor mereka ternyata jauh lebih tinggi, yaitu di kisaran 90 ke atas. Dari situ, rasa percaya diriku mulai runtuh.

Coba deh kamu bayangin, selama satu tahun kita belajar bareng, aku bahkan ditunjuk jadi tutor yang membantu mereka belajar, tapi aku yang nggak lolos seleksi. Itulah alasan kenapa aku memutuskan untuk menunda kuliah di luar negeri, dan ikut SNMPTN ITB. 

Gimana caranya Geri bangkit dari keterpurukan untuk mempertahan-kan nilai rapor?

Walaupun sekarang aku gagal masuk NTU, tapi nggak menyurutkan niatku buat terus mencoba. Aku pikir, aku butuh persiapan yang jauh lebih matang. Jadi, aku manfaatkan masa kuliah di ITB untuk menggembleng diri buat masuk NTU setelah lulus nanti.

Nah, sekarang aku mau sharing nih bagaimana cara yang aku lakukan buat mempertahankan nilai rapor dari semester 1 kelas 10, sampai semester 5 kelas 12. Menurutku, kalau kamu sudah bertekad buat ikut SNMPTN, nggak ada alasan buat mundur. Satu-satunya cara yang wajib kamu lakukan adalah mempertahankan nilai rapor agar tetap baik.

Turning point, atau titik balik yang aku alami sehingga memutuskan buat belajar serius, adalah ketika aku dapat nilai “0” di kuis matematika. Sejak saat itu, aku mengikrarkan diri untuk belajar lebih sungguh-sungguh agar dapat nilai rapor yang bagus. Lelah, capek, pesimis, itu manusiawi, tapi semua itu baru terbayar setelah kamu berusaha menjadi lebih baik.

Gimana caranya Geri bisa mengenal dan pilih untuk belajar bareng Zenius?

Suatu saat, temanku yang bernama Fayas merekomendasikan aku buat nonton playlist Zenius Learning. Playlist itu isinya kumpulan video materi belajar, tips dan trick hingga motivasi buat semangat belajar. Awalnya aku sempat berpikir, “Apaan sih Fayas, orang lagi down (nggak semangat) malah dikasih playlist panjang. Nontonnya aja bisa seharian”.

Sebenarnya, sebelum dikasih playlist Zenius Learning sama Fayas, aku juga berlangganan paket Zenius Optima sejak kelas 11 SMA. Tapi, aku menganggap Zenius sebagai bimbingan belajar biasa, dan nggak mengikuti semua materi dari Zenius secara serius. Akhirnya aku coba tuh buat nonton playlist yang direkomendasikan Fayas sampai selesai.

Gimana perjalanan belajar Geri di Zenius?

Yang awalnya merasa playlist ini jadi beban, sekarang aku menganggap Fayas salah satu orang berjasa dalam hidupku. Berkat playlist Zenius Learning yang direkomendasikan saat itu, kemampuanku memahami materi pelajaran, hingga menjawab soal-soal ujian yang sulit pun semakin terasah.

Semua materi, latihan soal, dan motivasi belajar yang aku dapatkan dari Zenius, aku aplikasikan di sekolah. Cara inilah yang menurutku paling cepat dan efektif mempertahankan nilai raporku tetap baik. Satu pelajaran berharga yang aku dapatkan dari playlist Zenius itu, kamu bisa saja gagal 9 kali, tapi kamu harus bangkit 10 kali. 

Nah, itu dia cerita Geri, alumni Zenius yang nggak pernah menyerah dari kegagalan. Gimana Sobat Zenius, ada yang punya pengalaman serupa? Yuk bagikan di kolom komentar.

Khusus buat Sobat Zenius yang ingin meningkatkan nilai rapor, sekaligus ningkatin pemahaman untuk semua materi pelajaran kelas 10, 11, 12 seperti Geri, kamu bisa berlangganan Zenius Aktiva Sekolah. Caranya tinggal klik button di bawah kanan ini, ya! 

Kamu bisa saja gagal 9 kali, tapi kamu harus bangkit 10 kali.

 

Gerizim El Masih, Alumni Zenius

Bagikan Artikel Ini!