Pembelajaran Pendekatan Induktif – Zenius untuk Guru

Pembelajaran Pendekatan Induktif Zenius Education

Bapak dan Ibu Guru pernah nggak sih, membuka materi baru di kelas dengan memberi peserta didik sebuah contoh kasus untuk dianalisis terlebih dahulu? Kalau pernah, maka Anda sudah menerapkan pembelajaran induktif.

Dulu waktu saya sedang magang di suatu SMA, guru Bahasa Inggris yang mendampingi saya hendak membawakan materi tentang news item text di kelasnya. Saya ingat sekali waktu itu beliau memulai pelajaran dengan menunjukkan video cuplikan berita tentang kenaikan kasus Covid-19.

Setelah itu, beliau memberi waktu bagi peserta didik untuk berdiskusi dalam breakout room. Mereka diminta buat ngobrolin tentang isi dan gaya bahasa yang dipakai dalam video tadi.

Setelah diskusi selesai, peserta didik diundang untuk berbagi hasil diskusi di main room. Kemudian ditarik sebuah kesimpulan mengenai struktur dari news item text serta gaya bahasanya.

Nah, ternyata yang saya ceritakan barusan itu adalah salah satu contoh dari pengaplikasian pembelajaran induktif. Bapak dan Ibu Guru sendiri gimana, apakah cukup sering memulai pelajaran dengan cara seperti ini?

Sekarang, kita coba ulik bersama yuk, sebenarnya pembelajaran induktif itu apa, sih? Gimana cara dan contoh penerapannya? Apa kelebihan dan kekurangannya? 

Langsung aja kita meluncur ke bagian berikutnya, ya!

Pengertian Pembelajaran Induktif/Penalaran Induktif

Menurut Rahmawati, dikutip dalam Winarso, Membangun Kemampuan Berpikir Matematika Tingkat Tinggi Melalui Pendekatan Induktif, Deduktif, dan Induktif-Deduktif dalam Pembelajaran Matematika (2014), menyatakan bahwa pembelajaran induktif adalah sebuah model pembelajaran yang diawali dengan pemaparan contoh terkait suatu materi hingga peserta didik bisa menyimpulkannya menjadi suatu fakta.

pola pembelajaran induktif
Pola pendekatan pembelajaran induktif (Arsip Zenius)

Pembelajaran induktif termasuk model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered). Nggak seperti model pembelajaran tradisional dimana mereka duduk dan mendengarkan penjelasan guru, di sini mereka diberi kesempatan untuk terlibat lebih aktif dalam pembelajaran.
Menurut Prince dan Felder, The Many Faces of Inductive Teaching and Learning (2007), pembelajaran induktif juga memayungi beberapa metode pembelajaran student-centered seperti pembelajaran berbasis inkuiri (inquiry-based), berbasis masalah (problem-based), berbasis kasus (case-based), berbasis proyek (project-based), penemuan (discovery), dan just-in-time (JiTT).

Jadi, ada banyak variasi metode pembelajaran menggunakan pendekatan induktif yang bisa Bapak dan Ibu Guru terapkan di kelas.

Baca Juga: Problem Based Learning, Belajar Melalui Masalah – Zenius untuk Guru

Ilustrasi diskusi kelompok dalam pembelajaran induktif
Diskusi kelompok bisa dilakukan dalam pembelajaran induktif (Dok. Wikimedia Commons)

Nah, sering kali kalau Bapak dan Ibu Guru menerapkan model pembelajaran pendekatan induktif, kita dihadapkan dengan situasi kelas yang dipenuhi suara para peserta didik yang saling bertukar pikiran dengan teman-temannya. 

Ini memang lebih menyenangkan. Sebelumnya, kita mungkin saat online learning, Bapak dan Ibu Guru harus mondar-mandir dari satu breakout room untuk memonitor diskusi yang terjadi. Jadi, meskipun judulnya student-centered dan guru nggak perlu banyak menjelaskan seperti biasanya, Bapak dan Ibu Guru tetap aktif “bergerak” di antara peserta didik.

Tapi, pasti ada rasa kepuasan tersendiri di hati kecil kita melihat peserta didik dengan semangat berdialog dengan satu sama lain. Apalagi kalau akhirnya ketika sharing hasil menarik kesimpulan dari peserta didik, kita bisa melihat betapa beragamnya hasil berpikir mereka.

Wah, puas banget, deh!

Implementasi Pembelajaran Induktif

Bapak dan Ibu Guru mungkin pernah merasa khawatir ketika menerapkan model pembelajaran ini. “Duh, nanti anak-anak bakalan mau nggak ya, disuruh diskusi sama teman-temannya?”

Disampaikan oleh Prince dan Felder (2007), guru bisa lebih memotivasi peserta didik dalam pembelajaran induktif. Caranya, kita perlu memberikan sebuah tugas atau tantangan yang spesifik kepada peserta didik.

Maksudnya spesifik itu seperti apa, sih?

Kalau tugasnya secara jelas menunjukkan apa yang harus dilakukan dan hasil apa yang diharapkan oleh guru, peserta didik akan merasa lebih terdorong buat mengerahkan keterampilan mereka dalam mencari fakta, memecahkan masalah, dan memahami konsep.

Kita bisa memberikan serangkaian data hasil eksperimen untuk dibedah oleh peserta didik. Kita juga bisa memberikan sebuah contoh kasus untuk di analisis. Atau, kita bisa memberi contoh permasalahan yang bisa ditemui dalam kehidupan nyata, dimana peserta didik ditantang untuk memberikan solusi.

Baca Juga: Teori Belajar Konstruktivisme, Membangun Pengetahuan dari Pengalaman – Zenius untuk Guru

Contoh Pendekatan Induktif dalam Pembelajaran

Setelah mengulas pengertian dan bagaimana mengimplementasikan pendekatan induktif, saya akan coba berikan lagi dua contoh penerapannya dalam pembelajaran.

Contoh 1

Dalam mata pelajaran IPA kelas 5 SD mengenai keseimbangan ekosistem, peserta didik akan belajar tentang hubungan antar makhluk hidup. Guru mengawali kelas dengan menunjukkan video yang menunjukkan ragam hubungan antara makhluk hidup (simbiosis mutualisme, komensalisme, dan parasitisme).

Peserta didik diminta untuk menganalisis bagaimana hubungan antara makhluk hidup tersebut. Apakah saling menguntungkan atau ada yang dirugikan?

Setelah peserta didik selesai menganalisis, guru membimbing peserta didik untuk menarik kesimpulan mengenai jenis simbiosis apa yang terjadi antara beberapa makhluk hidup tersebut.

Contoh 2

Dalam mata pelajaran Sosiologi kelas 11, ada materi mengenai konflik sosial. Dalam suatu pertemuan, peserta didik akan belajar tentang penyebab dari konflik sosial. Guru membuka kelas dan langsung dilanjutkan dengan diskusi kelompok.

Dalam kelompok, peserta didik diminta untuk mengidentifikasi macam-macam latar belakang dari konflik sosial yang disajikan dalam beberapa cuplikan bacaan tentang peristiwa konflik sosial.
Setelah sesi diskusi selesai, guru membuka forum untuk sharing hasil diskusi di kelas. Kemudian, guru membantu peserta didik untuk menyimpulkan apa saja faktor-faktor yang menyebabkan konflik sosial.

Demikian contoh yang bisa saya berikan. Bapak dan Ibu Guru juga bisa berbagi pengalaman menggunakan pendekatan ini di kolom komentar.

Semoga bisa jadi inspirasi bagi kita semua dalam mengembangkan rancangan pembelajaran menggunakan pendekatan induktif untuk materi lainnya!

Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Induktif

ilustrasi guru sedang mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan pembelajaran induktif
Apa saja kelebihan dan kekurangan pembelajaran induktif? (Arsip Zenius)

Dalam menentukan model pembelajaran mana yang akan kita terapkan dalam kelas, tentu kita perlu meninjau lagi apa kira-kira kelebihan dan kekurangan dari model tersebut. Disini, saya akan coba jabarkan hal-hal tersebut, dilansir dari Harappa Education (2022).

Kelebihan Pembelajaran Induktif

  • Model pembelajaran ini mendorong daya berpikir kritis pada peserta didik. Karena kita nggak secara gamblang memberitahu konsep yang akan dipelajari, peserta didik jadi berusaha membuat pemahaman sendiri dengan informasi yang mereka punya.
  • Model pembelajaran ini memancing partisipasi peserta didik. Agar nantinya bisa menyampaikan hasil kerja mereka, mereka jadi terstimulasi untuk melakukan yang terbaik dalam menarik kesimpulan.
  • Karena diharuskan untuk berpikir kritis, otak akan berfungsi dengan lebih maksimal. Dengan menyusun informasi dan menarik kesimpulan, apa yang mereka pelajari jadi lebih “nyangkut” dalam ingatan.

Kekurangan Pembelajaran Induktif

  • Terkadang, hasil dari model pembelajaran ini bisa nggak seimbang. Beberapa peserta didik mungkin nggak memberi respon yang baik pada kegiatan yang diberikan oleh guru. Disini, kita harus menciptakan suasana kelas yang terbuka menerima kekurangan yang mungkin ada dari hasil kerja beberapa anak.
  • Model pembelajaran ini membutuhkan lebih banyak waktu, karena nggak jarang peserta didik membuat kesimpulan yang salah. Ini adalah bagian dari pembelajaran, tapi bisa menyebabkan kekurangan waktu untuk sampai ke kesimpulan yang benar.
  • Terkadang, ada materi yang terlalu rumit kalau menggunakan model pembelajaran induktif. Misalnya pada pembelajaran Matematika untuk rumus-rumus yang kompleks, mungkin lebih baik untuk menggunakan pendekatan deduktif.

Baca Juga: Pembelajaran Pendekatan Deduktif di Indonesia – Zenius untuk Guru

Penutup

Oke deh, sekian dulu untuk pembahasan tentang pembelajaran induktif kali ini, ya, Bapak dan Ibu Guru. Semoga bisa membantu kita semua dalam memilih model pembelajaran yang paling cocok untuk materi yang akan disampaikan dan kelas yang diampu, ya!

Oh iya, Zenius juga ingin membantu Bapak dan Ibu Guru meningkatkan efisiensi pembelajaran di kelas dengan menggunakan LMS Zenius. Yuk, cari tahu selebihnya dengan klik banner berikut ini!

lms zenru

Selamat mengajar dan sampai jumpa di artikel Zenius lainnya!

Referensi

Inductive Teaching Method – Harappa Education (2022).

Membangun Kemampuan Berfikir Matematika Tingkat Tinggi Melalui Pendekatan Induktif, Deduktif, dan Induktif-Deduktif dalam Pembelajaran Matematika – Widodo Winarso (2014).

The Many Faces of Inductive Teaching and Learning – Michael Prince & Richard Felder (2007).

Bagikan Artikel Ini!