generasi alpha

Memahami Karakteristik Anak Generasi Alpha

Apa Ibu dan Ayah sering mendengar istilah generasi alpha? Apakah Ibu dan Ayah tahu kalau anak-anak Ibu dan Ayah kemungkinan besar termasuk bagian dari generasi alpha ini?

Tentu Ibu dan Ayah juga sudah sering mendengar berbagai istilah lain yang digunakan untuk mendefinisikan berbagai kelompok usia. Mulai dari baby boomer, milenial, hingga generasi Z.

Pembagian ini umumnya digunakan oleh peneliti ataupun media untuk menggambarkan kelompok usia tertentu dengan pembagian sebagai berikut.

Pembagian generasi berdasarkan kelompok usia
Ilustrasi pembagian generasi berdasarkan kelompok usia.

Dalam artikel kali ini, Zenius akan fokus membahas tentang generasi alpha, generasi anak-anak Ibu dan Ayah.

Definisi Generasi Alpha dan Karakteristiknya

Generasi alpha adalah generasi yang lahir di tahun 2010 dan setelahnya.
Generasi alpha adalah generasi termuda saat ini.

Istilah generasi alpha pertama kali diperkenalkan oleh peneliti asal Australia Mark McCrindle. Menurut Mark, generasi ini merupakan generasi termuda yang diisi oleh anak-anak kelahiran tahun 2010 dan setelahnya.

Penamaan “generasi alpha” diputuskan melalui survei yang dilakukan Mark sekitar tahun 2009. Beberapa responden saat itu menyarankan istilah yang deskriptif seperti “generasi online” atau “generasi dot com”. Sebagian responden lainnya menyarankan istilah “generasi A”. Namun, Mark merasa istilah-istilah tersebut kurang sesuai untuk mendefinisikan sebuah generasi yang sepenuhnya lahir di abad ke-21.

Mark kemudian memutuskan untuk mengadaptasi nomenklatur ilmiah menggunakan huruf Yunani. Menurutnya, penamaan ini akan memberikan wadah kosong di mana generasi alpha dapat menciptakan makna bagi diri mereka sendiri dan catatan mereka sendiri dalam sejarah.

Generasi ini memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dengan generasi-generasi sebelumnya. Dilansir dari Iberdrola, berikut beberapa karakteristik generasi alpha.

  • Digital native, generasi alpha telah terbiasa dengan teknologi sejak lahir. Sehingga, teknologi menjadi bagian dari gaya hidup mereka yang tidak terpisahkan.
  • Independen, generasi alpha cenderung mandiri dalam hal membuat keputusan sendiri dan mengelola identitas digital mereka, serta mereka berharap kebutuhan dan preferensi individu mereka diperhitungkan.
  • Visual, generasi alpha cenderung menyukai informasi dalam format visual seperti video. Selain itu, permainan dalam bentuk video akan meningkatkan keterampilan visual mereka, meningkatkan koordinasi mata-tangan, dan kemampuan untuk beralih tugas dengan mudah.

Karakteristik ini tentu berbeda dengan generasi Ibu dan Ayah. Bagaimana cara yang tepat untuk mengasuh dan mendidik mereka? Zenius telah merangkumnya untuk Ibu dan Ayah.

Belajar Rasa Main ZeniusLand

Baca Juga: Ok Boomer, Snowflake, dan Potret Perselisihan Antar Generasi

Mengasuh dan Mendidik Anak Generasi Alpha

1. Fokus pada Keterampilan Praktis

Mengasuh anak generasi alpha fokus pada keterampilan khusus.
Keterampilan praktis dibutuhkan anak untuk menjalani hidup di masa depan.

Ashley Fell, salah satu peneliti yang bergabung dalam tim penelitian Mark McCrindle, menjelaskan kepada ABC News bahwa anak-anak generasi alpha adalah “bagian dari eksperimen global yang tidak disengaja, di mana layar diletakkan di depan mereka sejak usia paling muda”. Akibatnya, mereka kurang mahir dalam keterampilan praktis, menilai suatu risiko, serta menetapkan dan mencapai tujuan tertentu.

Ashley menyarankan Ibu dan Ayah untuk membantu anak dari generasi ini untuk mengembangkan berbagai keterampilan khusus seperti: 

  • STEM (science, technology, engineering, and math) atau sains, teknologi, teknik, matematika
  • kompetensi sosial
  • keterampilan kewirausahaan
  • kekuatan dan koordinasi
  • literasi keuangan
  • inovasi

Berbagai keterampilan ini akan menjadi kunci untuk memungkinkan mereka berkembang di masa depan, lho.

2. Bantu Anak Mengembangkan Hubungan Sosial yang Sehat

Ibu dan Ayah harus membimbing anak mengembangkan pertemanan yang sehat.
Generasi alpha cenderung mengembangkan pertemanan secara online.

Sebagai generasi digital native, anak-anak generasi alpha dapat dengan mudah terhubung secara online dengan teman-teman sebayanya melampaui batas-batas sosial, geografis, dan demografis.

Sayangnya, kemudahan untuk berinteraksi secara online ini juga diiringi dengan risiko cyberbullying.

Penelitian yang dilakukan Ashley menunjukkan bahwa seperempat siswa yang menjadi respondennya mengalami cyberbullying melalui media sosial, pesan teks, atau email.

Untuk menghindari hal ini, Ibu dan Ayah harus memantau lingkungan pertemanan anak dan membimbing mereka mengembangkan lingkaran pertemanan yang sehat.

Baca Juga: Fenomena Menfess: Curhat Anonim dan Generasi yang Butuh Validasi

3. Persiapkan Anak untuk Hidup di Lingkungan Global

Ibu dan Ayah perlu mendidik anak generasi alpha untuk siap menjadi bagian dari masyarakat global.
Anak-anak generasi alpha akan tumbuh menjadi masyarakat global.

Berhubung anak-anak generasi alpha lebih banyak berinteraksi secara online, mereka cenderung mendapatkan informasi yang lebih luas dan global. Di mana pun mereka berada di dunia, generasi ini dipengaruhi oleh film, musik, mode, dan makanan yang sama.

Oleh karena itu, Ibu dan Ayah perlu mempersiapkan anak untuk menjadi bagian dari masyarakat global. Salah satunya dengan mengajak anak untuk berpikir kritis sejak dini. Sebab, keterampilan berpikir kritis ini adalah salah satu bekal anak di masa depan untuk menghadapi perubahan dunia yang semakin cepat.

4. Manfaatkan Visual

Proses belajar yang berfokus pada visual akan lebih efektif untuk anak-anak generasi alpha.
Anak-anak generasi alpha cenderung menyukai informasi yang disajikan secara visual.

Seperti yang sudah Zenius jelaskan sebelumnya, generasi alpha cenderung tertarik dengan informasi-informasi yang disajikan secara visual. Baik itu melalui dalam bentuk grafis, foto, maupun video. Anak-anak dari generasi ini cenderung membaca informasi dalam bentuk rangkuman grafis atau video alih-alih dalam bentuk artikel atau berita.

Jadi, gaya belajar anak pada generasi ini juga cenderung pada gaya belajar visual-auditori yang banyak menggunakan alat bantu belajar dalam bentuk gambar dan video.

Salah satu alat bantu belajar yang bisa Ibu dan Ayah gunakan adalah aplikasi edukatif ZeniusLand. ZeniusLand adalah aplikasi untuk anak-anak berusia 7 sampai 12 tahun yang dirancang untuk membantu anak belajar secara interaktif. Ibu dan Ayah bisa men-download-nya langsung di PlayStore dan AppStore.

zeniusland

Download ZeniusLand

Aplikasi edukasi online dipenuhi dengan cerita seru dan permainan interaktif, untuk mengasah kemampuan berpikir kritis. Dirancang khusus untuk anak usia 7–12 tahun.

icon download playstore
icon download appstore

Tidak hanya aplikasi, Ibu dan Ayah juga bisa memanfaatkan video-video edukatif sebagai media belajar anak. Salah satunya adalah video serial Cerita Tiga Sekawan dari Zenius. Serial ini menceritakan tentang keseharian tiga karakter berusia sekolah dasar bernama Gika, Maji, dan Aksa.

Baca Juga: Kisah Sukses Generasi Muda, dari Pengusaha Muda Hingga Menteri

Sebagai orang tua, mendidik anak generasi alpha juga punya tantangan tersendiri. Beberapa di antaranya adalah adanya cyberbullying, anak yang kecanduan gadget, hingga memastikan anak mengonsumsi konten-konten ramah anak di media.

Untuk mengatasi hal ini, Ibu dan Ayah perlu bersikap terbuka kepada anak. Pastikan mereka merasa aman dan nyaman untuk bercerita dan berdiskusi dengan orang tuanya.

Bagikan Artikel Ini!