Malala Yousafzai, Pemenang Nobel Perdamaian Termuda di Dunia

Malala Yousafzai

Sudah tahu siapa sosok pemenang Nobel Perdamaian termuda di dunia? Yuk, cek artikel ini untuk kenalan sama Malala Yousafzai!

Atas kontribusi-kontribusinya di bidang pendidikan, perempuan, dan HAM, mungkin nama Malala Yousafzai mungkin udah nggak asing lagi di telinga lo. Nah, buat lo yang pengin tahu perjalanan kehidupan Malala sampai ia bisa jadi sosok pemenang Nobel Perdamaian paling muda di dunia, langsung aja cek artikel di bawah ini, ya!

Siapakah Malala Yousafzai?

Mengutip dari pidato yang disampaikannya ketika menerima penghargaan Nobel Perdamaian, perempuan yang lahir pada 12 Juli 1997 di Mingora, Pakistan, ini dikenal oleh publik global dengan berbagai nama; Anak Perempuan yang Tertembak oleh Taliban*, Aktivis HAM, Aktivis Pendidikan, “Nobel Laureate”, dan masih banyak lagi. Namun sebelum semua itu,ia adalah Malala Yousafzai, anak pertama dari Ziauddin dan Tor Pekai Yousafzai. Ayahnya mengelola Khushal Public School, sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Sementara itu, kedua adik laki-lakinya bernama Khushal dan Atal Yousafzai.

Malala Yousafzai dan Keluarga
Malala Yousafzai dan Keluarga (Sumber: Sky News).

Berbeda dengan mayoritas keluarga asal Pashtun, orangtua Malala—terutama ayahnya—membebaskan Malala untuk mendapatkan pendidikan sebanyak-banyaknya, termasuk menginspirasinya untuk berani bersuara pasca mengetahui bahwa perempuan dilarang pergi ke sekolah formal pada usia yang telah ditetapkan. Nah, Ziauddin Yousafzai ini menjadi sosok yang berperan besar dalam fase-fase kehidupan Malala Yousafzai selanjutnya, Sob.

Perjalanan Kehidupan Malala Yousafzai

Malala Kecil yang Gemar Belajar dan Punya Rasa Ingin Tahu Tinggi

Sejak kecil, Malala Yousafzai beruntung karena dapat menjalani kehidupan dengan “bebas”. Dalam artian, ia bisa menatap laki-laki tepat di mata, keluar rumah meskipun tanpa ada kerabat laki-laki yang menemani, dan nggak perlu menutupi wajahnya ketika berada di tempat umum. Orangtua Malala percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat dan hak yang sama.

Sejak mulai pergi ke sekolah formal pada usia 5 tahun, Malala yang menikmati masa-masa sekolah sering menjadi juara kelas. Rasa ingin tahunya yang tinggi dan kegemarannya untuk belajar bahkan udah tumbuh jauh sebelum itu. Ayahnya ngajarin cara membaca, membawanya ke sekolah yang dikelolanya, serta membiarkannya ikut menyimak pembicaraan tentang politik dan dunia di antara para lelaki dewasa.

Perjuangan Membela Hak-Hak Pendidikan

Pada 2008, Taliban baru saja melancarkan serangan pada sekolah-sekolah perempuan di Swat dan nggak lupa juga usianya baru 11 tahun, tapi Malala Yousafzai sudah berani untuk menyampaikan pidato mengenai “How dare Taliban take away my basic right to education?” di Peshawar, Pakistan.

Diary of a Pakistani Schoolgirl
“Diary of a Pakistani Schoolgirl”, ditulis oleh Malala Yousafzai dan pertama kali diterbitkan oleh BBC Urde (Sumber: BBC UK).

Oh iya, lo tahu nggak, kalau “Gul Makai” adalah nama pena yang pernah dipakai oleh Malala selama ia menulis “Diary of a Pakistani Schoolgirl” yang diterbitkan oleh laman resmi BBC Urdu sejak Januari 2009? Ide ini pertama kali dicetuskan oleh seorang karyawan BBC Urdu, yaitu Aamer Ahmed Khan.

Hingga akhirnya pada awal tahun 2009, New York Times meluncurkan dua film dokumenter hasil kerja sama dengan Malala, yakni: (1) “Class Dismissed”; mengenai perjuangan mempertahankan sekolah bagi perempuan di bawah okupasi Taliban di Swat, yang juga bekerja sama dengan Ayah Malala (2) “A School girl’s Odyssey”; mengenai usaha Malala bersama dengan perwakilan U.S Special Envoy untuk Afghanistan dan Pakistan dalam melindungi pendidikan bagi perempuan di Pakistan. Sejak itu, identitas asli Malala pun menjadi dikenal luas oleh publik.

Malala juga mulai aktif melakukan wawancara, baik itu dalam berbagai acara TV dan majalah nasional maupun internasional, contohnya kayak acara Capital Talk yang disiarkan di Pakistan. Malala bahkan menjadi chairperson untuk District Child Assembly Swat.

Surat Ancaman dan Tiga Tembakan dari Taliban untuk Malala

Aktivitas Malala Yousafzai menulis blog berisi diari mengenai kesehariannya selama berada di bawah okupasi Taliban, serta berbagai dokumenter dan wawancara yang ia lakukan adalah usaha yang sangat berisiko. Ia menyuarakan mengenai penerapan hukum Islam yang “ketat” oleh Taliban di Pakistan, seperti larangan lanjut bersekolah bagi perempuan, penghancuran gedung-gedung sekolah, larangan bagi perempuan untuk berperan aktif di masyarakat, kejahatan berbasis gender, penerapan hukum yang diskriminatif, pernikahan dini, larangan TV dan musik, hingga bom bunuh diri.

Perawatan Malala pasca penembakan oleh Taliban
Perawatan Malala pasca penembakan oleh Taliban (Sumber: abcnews).

Taliban nggak seneng nih, sama usaha-usaha Malala tersebut. Alhasil, surat-surat ancaman yang ditujukan kepada Malala dan ayahnya pun mulai berdatangan. Nggak cuma sampai di situ, suatu hari pada 9 Oktober 2012 ketika Malala bersama teman-temannya baru saja pulang sekolah menaiki bus, seorang Taliban menghentikan mereka dan menuntut bagi yang bernama Malala. Setelah Malala mengakui dirinya dan bertanya ada apa, ia dihadiahi oleh satu tembakan yang berhasil mengenai mata, otak, serta bahu sebelah kiri. Sementara dua tembakan lain berhasil mengenai temannya yang bernama Sazia dan Kainat Riyaz.

Kunjungan Keluarga Malala di Rumah Sakit
Kunjungan Keluarga Malala di Rumah Sakit (Sumber: BBC News).

Malala sempat dilarikan ke rumah sakit setempat untuk mendapatkan pertolongan pertama, sebelum kemudian dipindahkan ke Combined Military Hospital untuk menjalani operasi, hingga akhirnya dibawa ke Queen Elizabeth Hospital di Birmingham, Inggris, untuk mendapatkan fasilitas perawatan pasca operasi yang lebih baik. Malala terbangun dari koma pada 16 Oktober 2012, kemudian menjalani perawatan di sana hingga 3 Januari 2013.

Respon Masyarakat Internasional dan Penghargaan Nobel Perdamaian

Pasca insiden penembakan tersebut, Malala Yousafzai dan keluarganya menetap di sebuah apartemen pemberian di Birmingham. Pada Maret 2013, Malala memutuskan untuk mulai kembali bersekolah di sekolah khusus perempuan Edgbaston High School, Birmingham.

Insiden penembakan Malala oleh Taliban mendapatkan respon tinggi dari masyarakat internasional, beberapa di antaranya seperti dari Presiden Pakistan Asif Ali Zardari, Presiden AS Barack Obama, Sekretaris Kenegaraan AS Hillary Clinton, Mantan Ibu Negara AS Laura Bush, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon, Sekretaris Luar Negeri Inggris William Hague, selebritas Angelina Jolie yang menerbitkan artikel mengenai peristiwa yang menimpa Malala sekaligus menyumbangkan sejumlah uang kepada The Malala Fund*, hingga penyanyi AS Madonna yang mendedikasikan lagu “Human Nature” untuk Malala. Nggak cuma itu, banyak pihak yang menawarkan untuk membuatkan buku dan film dokumenter atas jasa-jasa yang telah dilakukan oleh Malala.

Coba gue tanya, di mana tempat terkeren lo pas ngerayain ulang tahun? Atau siapa orang terkeren yang pernah lo undang? Pada ulang tahunnya yang ke-16, Malala merayakannya dengan memberikan pidato di Markas Pusat PBB. Selanjutnya, hari itu dideklarasikan sebagai “Malala Day”. Kurang keren apalagi coba?

Pidato Malala di Markas PBB pada Malala's Day
Pidato Malala di Markas PBB pada Malala’s Day (Sumber: Britannica).

“In the ninth of October 2012, the Taliban shot me on the left side of my forehead. They shot my friends, too. They thought that the bullets would silence us. But they failed. And then, out of that silence came thousands of voices. The terrorists thought that they would change our aims and stop our ambitions, but nothing changed in my life except this: Weakness, fear, and hopelessness died. Strength, power, and courage was born. I am the same Malala. My ambitions are the same. My hopes are the same. My dreams are the same. One child, one teacher, one pen, and one book can change the world.”

Bersama dengan seorang aktivis hak-hak anak asal India, Kailash Satyarthi, Malala berhasil meraih penghargaan Nobel Perdamaian pada 10 Desember 2014. Penghargaan ini diberikan atas dedikasi keduanya dalam memperjuangkan penekanan terhadap anak-anak dan remaja, sekaligus hak pendidikan bagi seluruh anak-anak tanpa terkecuali. Oh iya, lo udah tahu belum, kalau Malala ini menjadi penerima penghargaan Nobel Perdamaian termuda, yaitu di usia 17 tahun?

Sekolah dan Kembalinya Malala ke Pakistan

Setelah lulus dari Edgbaston High School, pada 2015 Malala Yousafzai melanjutkan pendidikan ke University of Oxford jurusan Philosophy, Politics, and Economics hingga resmi lulus dengan predikat pujian pada pertengahan 2020.

Di bawah Malala Fund, Malala mendirikan sebuah sekolah bagi para pengungsi Suriah di Bekaa Valley, Lebanon, pada ulang tahunnya yang ke-18. Pada tahun 2015 itu pula, Malala resmi menyebut dirinya sebagai seorang feminis setelah Emma Watson memberikan pidato di Markas Pusat PBB sebagai pertanda resmi dimulainya kampanye HeforShe untuk kesetaraan gender.

Setelah enam tahun tidak kembali ke kampung halamannya, akhirnya Malala berkesempatan untuk pergi ke Pakistan selama empat hari kunjungan pada Maret 2018. Ia mengunjungi berbagai tempat, termasuk rumah lamanya dan kantor Perdana Menteri Shahid Khaqan Abbasi.

Pernikahan dan Kelanjutan sebagai Aktivis

Pernikahan Malala dengan Asser Malik
Pernikahan Malala dengan Asser Malik (Sumber: The New York Times).

Pada November 2021 lalu, Malala Yousafzai melangsungkan upacara pernikahan kecil bersama dengan Asser Malik, seorang manajer Pakistan Cricket Board di Birmingham, Inggris. Di sisi lain, akhir-akhir ini Malala juga disibukkan dengan hadir sebagai pembicara dalam salah satu panel diskusi The UN Climate Change Conference COP26 di Glasgow. Di sana, ia membicarakan mengenai berbagai bencana alam yang diakibatkan oleh perubahan iklim turut berdampak pada kegiatan belajar-mengajar anak-anak di sekolah-sekolah formal dari berbagai belahan dunia.

“Peace in every home, every street, every village, every country—this is my dream. Education for every boy and every girl in the world. To sit down on a chair and read my books with all my friends at school is my right. To see each and every human being with a smile of true happiness is my wish.”

Selain itu, selama beberapa tahun terakhir dan tahun-tahun yang akan datang, Malala berniat untuk terus speak up dan stand up sebagai seorang aktivis.

Buku yang Diterbitkan oleh Malala Yousafzai

  1. I am Malala: The Girl Who Stood Up for Education and Was Shot by the Taliban (2013), buku ini ditulis atas hasil kerja sama dengan Christina Lamb dan Patricia McCormick;
  2. Malala’s Magic Pencil (2017);
  3. We Are Displaced (2018).

Penghargaan yang Diterima oleh Malala Yousafzai

  1. Nominasi untuk International Children’s Peace Prize (2011);
  2. National Youth Peace Prize (2011), sekarang The National Malala Peace Prize;
  3. Anne Frank Award for Moral Courage (2012);
  4. Sitara e-Shujaat (2012), yang merupakan penghargaan tertinggi ke-3 di Pakistan yang disematkan bagi warga sipil yang “berani”.
  5. Person of the Year untuk Majalah Pakistan’s Herald (2012);
  6. Time Magazine Person of the Year shortlist (2012);
  7. Rome prize for Peace and Humanitarian Action (2012);
  8. Simone de Beauvoir Prize (2013);
  9. Fred and Anne Jarvis Award of the UK National Union of Teachers (2013);
  10. One of Time’s “100 Most Influential People in the world” (2013);
  11.  International campaigner of the year, 2013 observer Ethical Awards (2013);
  12. International Children’s Peace Prize, Kids Rights (2013);
  13. Anna Politkovskaya Award-Reach All Women in War (2013);
  14. Honorary Master of Arts degree awarded by the University of Edinburgh (2013);
  15. GG2 Hammer Award at GG2 leadership Awards (2013);
  16. International Prize for Equality and Non – Discrimination (2013);
  17. Nominee for World Children’s Prize also known as Children’s Nobel Prize (2014);
  18. Honorary Doctor of Civil Law, University of King’s College, Halifax, Nova Scotia, Canada (2014);
  19. Nobel Peace Prize (2014).

Fakta Unik Malala Yousafzai

  • Nama “Malala” yang berarti “grief-stricken” diambil dari seorang pahlawan dan prajurit perempuan Afghanistan Selatan asal Pashtun “Malalai dari Mainwad”. 
  • Malala fasih berbahasa Pashto, Inggris, dan Urdu.
  • Acara TV favorit Malala adalah “Ugly Betty”.
  • Malala bilang di dalam salah satu buku yang ditulisnya, bahwa meskipun ia bukan tipe yang girly, tapi warna kesukaannya adalah pink; makanan kesukaannya adalah pizza dan cupcake; serta ia bisa membunyikan sendi-sendi di jemari tangan dan kakinya dengan gampang.
  • Film dokumenter “He Named Me Malala” yang disutradarai oleh Davis Guggenheim resmi dirilis pada Oktober 2015.

***

Itu dia artikel kali ini mengenai sosok Malala Yousafzai! Selain dari menumbuhkan keberanian untuk speak up dan stand up dalam memperjuangkan hak-hak pendidikan (terutama untuk perempuan dan anak-anak) dan HAM, kira-kira apa lagi pelajaran yang bisa diambil dari kisah Malala ini? Coba tulis di kolom komentar, ya! Semoga artikel ini bermanfaat buat lo dan see you in another one!

Referensi

https://en.wikipedia.org/wiki/Malala_Yousafzai
https://www.biography.com/activist/malala-yousafzai
Lukpat, A. (2021, November 9). Malala Yousafzai Announces Her Marriage. Diambil kembali dari The New York Times: https://www.nytimes.com/2021/11/09/world/europe/malala-yousafzai-married.html
Meta, R. (2015). Malala Yousafzai – Youngest Nobel Peace Prize Winner.
Radha, R. (2020). Malala – The Crusader of Fearless Freedom. United States: Lulu Publication.
Yousafzai, M., & McCormick, P. (2013). I Am Malala: How One Girl Stood Up for Education and Changed the World. New York: Little, Brown, and Company.

Catatan

*Taliban: gerakan fundamentalis Muslim Sunni.

*The Malala Fund: organisasi non-profit yang didirikan pada 2013 dengan tujuan untuk berinvestasi dalam program-program komunitas sekaligus membantu para advokat pendidikan serta sarana dan prasarana pendidikan bagi perempuan dan anak-anak di seluruh dunia.

Baca Juga Artikel Lainnya

Thomas Alva Edison, Penemu Lebih Dari 1000 Hak Paten
Vincent van Gogh, Pelukis yang baru Diakui pasca Kematiannya
Bagikan Artikel Ini!