Cara Menjawab Soal Sebab Akibat TPS/TPA UTBK

Cara menjawab soal sebab akibat UTBK (Arsip Zenius)

Halo pejuang UTBK. Gimana nih persiapan belajar UTBK-nya? Biar makin siap gue mau ajak elo belajar tentang cara menjawab soal sebab akibat UTBK yang sering muncul di TPS/TPA.

Seperti yang elo udah tau, UTBK akan terdiri dari TPS (Tes Potensi Skolastik) dan TKA (Tes Kemampuan Akademik). Apa itu? Bisa elo check di panduan UTBK ya.

Di artikel ini gue mau ajakin elo belajar salah satu tipe soal yang muncul di TPS dari tahun ke tahun. Yups, tipe soal sebab akibat.

Penasaran nggak sih cara menjawab soal sebab akibat? Karena tipe soal yang satu ini kadang membingungkan untuk dijawab, yuk lihat contoh soal sebab akibat UTBK tahun 2021 sekaligus pembahasannya.

Contoh Soal Sebab-Akibat TPS

Soal 1:

Cara menjawab soal sebab akibat UTBK (Arsip Zenius)

Soal 2:

Cara menjawab soal sebab akibat UTBK (Arsip Zenius)

Pada soal-soal tersebut, terdapat beberapa premis atau pernyataan yang bisa elo pakai untuk ambil kesimpulan, lalu kita diminta mencari tahu hubungan sebab-akibat antara keduanya. Gimana cara menjawab soal sebab akibat UTBK yang kayak gitu?

Oh iya sedikit tips cara menjawab soal sebab akibat UTBK nih. Soal UTBK SBMPTN biasanya memiliki sistem tertutup. Artinya elo nggak boleh ambil kesimpulan dengan informasi di luar soal.

Sebagai contoh, lihat soal logika deduksi berikut ini:

Cara menjawab soal sebab akibat UTBK

Untuk soal nomor (1) di atas, jawabannya adalah “Donal warnanya putih”. Elo nggak perlu tau apakah beneran ada bebek yang bernama Donal, dan elo juga gak perlu tau apakah benar semua bebek warnanya putih. 

Yang pasti, kalau kedua premis tersebut dianggap benar, maka kesimpulannya juga PASTI BENAR. Supaya lebih jelas, gue kasih contoh yang lebih ekstrim, deh.

tertutup-2

Untuk soal nomor (2) ini, jawabannya adalah “Donal kakinya empat”. Jadi, kita gak bisa menyimpulkan bahwa Donal kakinya dua meskipun elo pernah baca di komik bahwa Donal itu kakinya dua. 

Kalau kita berpikir dengan sistem logika tertutup, artinya, dalam menarik suatu kesimpulan, kita cuma boleh menggunakan data atau premis yang dikasih. 

Misalnya, seperti contoh soal sebab akibat tadi, kita dikasih 2 buah premis, maka kesimpulan yang kita tarik harus cuma berdasarkan 2 premis yang dikasih itu.

Sekarang, coba kita liat salah satu soal sebab akibat TPS ini. Apakah ini juga merupakan tipe soal yang tertutup? 

Yuk, balik lihat contoh soal sebab akibat yang nomor 1 di awal tadi.

Cara menjawab soal sebab akibat UTBK (Arsip Zenius)

Dari kumpulan pernyataan di contoh soal sebab akibat di atas, elo diminta menarik kesimpulan yang paling benar. Di sini elo bisa memakai sistem tertutup tadi, jadi semua informasi cuma yang di pertanyaan sebab akibat itu ya.

Gimana cara menjawab soal sebab akibat UTBK dengan tipe seperti di atas?

Cara menjawab soal sebab akibat tersebut, pertama elo harus baca satu-satu pilihan jawaban yang ada. Coba lihat opsi A, apakah pernyataannya benar? Sumber daya energi dan ekonomi memang memperoleh dampak positif, tapi tidak disebutkan apakah terdapat dampak negatif.

Opsi B dianggap benar karena sesuai dengan pernyataan yang ada di soal bahwa pengalihan fungsi hutan menyebabkan dampak negatif pada lingkungan.

Eits tunggu dulu, jangan karena ngerasa udah ketemu jawabannya terus elo berhenti analisis opsi lain ya. Kita lanjut cek dulu aja ya siapa tahu ada yang lebih benar.

Nah, opsi C ini hampir sama kayak opsi A ya kasusnya, alias nggak ada pernyataan yang menyatakan ada yang terkena dampak positif lebih besar. Begitu pula opsi E ya.

Kalau elo lihat opsi D, sudah terlihat ya kalau pernyataannya yang sudah jelas paling salah. Jadi, jawaban sebab akibat soal 1 adalah opsi B.

Lanjut soal sebab akibat nomor 2 ya.

Cara menjawab soal sebab akibat UTBK (Arsip Zenius)

Cara menjawab soal sebab akibat UTBK yang satu ini gimana? Coba deh tiap premisnya di simpulkan dulu.

Pengamat A bilang media sosial dan pengaruhnya pada penyanyi muda. Pengamat B bilang kualitas penyanyi dan pengaruhnya pada popularitas.

Nah, di hasil penelitiannya ngomongin tentang tingkat partisipasi penggemar musik. Dari sini aja kelihatan kan.

Penelitiannya sudah jelas ya nggak ada hubungannya dengan pernyataan pengamat A atau B. Jadi, jawaban soal sebab akibat ini adalah opsi E.

Dari satu soal ke soal sebab akibat yang lain memang memiliki pembahasan yang berbeda. Untuk bisa menemukan jawaban sebab akibat ini, sebenernya kita butuh pengetahuan apa aja sih? 

Untuk lebih paham cara menjawab soal sebab akibat UTBK, gue mau kenalin elo ke elemen-elemen pendukungnya.

Cara menjawab soal sebab akibat UTBK (Arsip Zenius)

Apa itu Korelasi?

Secara sederhana, korelasi itu dapat diartikan sebagai hubungan. Jadi, ketika kita bilang bahwa kedua hal itu berkorelasi, artinya kira-kira sama aja dengan bilang bahwa kedua hal itu berhubungan. 

Bedanya, kata “hubungan” lebih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, sementara kalau dalam konteks ilmiah, kata yang biasa dipakai adalah “korelasi”. Nah, berhubung soal TPA ini konteksnya ilmiah, jadi sekalian aja kita pelajari apa yang dimaksud dengan korelasi dalam statistika.

Ini apa hubungannya ya sama soal sebab akibat tadi? Sabar, sabar, lanjut baca dulu aja deh ntar juga ketahuan cara menjawab soal sebab akibat UTBK lewat penjelasannya setelah ini.

Misalkan, gue punya dua kumpulan data, sebut aja data A dan data B, yang gue dapat selama 15 periode (misalnya 15 bulan). Kemudian kumpulan data tersebut gue gabungin. Ketika digabungin, kita bisa melihat apakah kedua data itu:

  1. Berkorelasi Positif
  2. Berkorelasi Negatif
  3. Tidak berkorelasi

Nah, dari mana cara kita tau apakah dia berkorelasi positif, negatif, atau tidak berkorelasi? Jawabannya adalah dengan menggunakan perhitungan matematis. 

Tapi, pada artikel ini, gue nggak akan masuk terlalu teknis tentang bagaimana cara menghitungnya. Gue akan nunjukkin pake grafik aja supaya elo bisa melihat korelasi tersebut secara intuitif dengan menggunakan grafik.

Misalnya gue punya 3 kasus seperti ini:

data-korelasi

Coba lihat data di atas. Gak jelas kan? Hehe, ya iya lah. Kalau penyajian datanya dalam bentuk tabel gitu, pasti gak jelas memang. 

Supaya jelas, coba masing-masing kasus kita tampilkan datanya dalam bentuk grafik.

Kasus 1

Kalau kasus 1 kita nyatakan dalam grafik, hasilnya begini:

korelasi-positif

Nah, kalo bentuk grafiknya begitu, itu berarti data A dan data B pada kasus 1 ini berkorelasi positif karena ketika nilai A naik, nilai B juga ikut naik, dan ketika nilai A turun, nilai B juga turun. Ngikut gitu.

Kasus 2

Berikutnya, gimana grafik untuk hubungan antara data A dan data B pada kasus 2? Begini grafiknya:

korelasi-positif

Nah, kalo bentuk grafiknya begitu, itu berarti data A dan data B pada kasus 1 ini berkorelasi positif karena ketika nilai A naik, nilai B juga ikut naik, dan ketika nilai A turun, nilai B juga turun. Ngikut gitu.

Kasus 2

Berikutnya, gimana grafik untuk hubungan antara data A dan data B pada kasus 2? Begini grafiknya:

korelasi-negatif

Di sini, elo bisa liat bahwa pada saat nilai A naik, nilai B malah turun. Dan sebaliknya, pada saat nilai A turun, nilai B malah naik.

Oleh karena itu, hubungan antara kedua kumpulan data pada kasus 2 ini kita sebut berkorelasi negatif.

Kasus 3

Terakhir, coba kita liat grafik untuk kasus 3:

tidak-berkolerasi

Wah, ternyata, pada kasus 3, kedua kumpulan data ini tidak berkorelasi. Kenapa? Karena pada saat nilai A naik, nilai B kadang naik, kadang turun. Pada saat nilai A turun, nilai B juga kadang naik, kadang turun.

Oke, sekarang elo udah kebayang lah ya, apa yang dimaksud dengan korelasi. Berikutnya, gue punya pertanyaan lagi nih:

Korelasi itu memangnya buat apa?

Terus, gimana caranya kita bisa menentukan hubungan sebab-akibat dari dua hal yang saling berkorelasi?

Lanjut terus bacanya, ya, gue akan coba menjawab pertanyaan tersebut di bagian selanjutnya.

Hubungan Sebab-Akibat (Kausalitas) antara Dua Hal yang Berkorelasi

Salah satu cara menjawab soal sebab akibat UTBK adalah melihat korelasinya.Jika dua hal itu tidak berkorelasi, maka kita bisa menyimpulkan bahwa keduanya tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat. Tapi ketika kedua hal itu berkorelasi, maka belum tentu keduanya menunjukkan hubungan sebab-akibat.

 Kayaknya dua kalimat barusan itu penting, gue highlight deh di bawah:

Ketika dua hal tidak berkorelasi, maka kita bisa menyimpulkan bahwa

keduanya TIDAK menunjukkan hubungan sebab-akibat,

TAPI,

ketika kedua hal berkorelasi, maka BELUM TENTU keduanya menunjukkan hubungan sebab-akibat.

Jadi, pada contoh kasus 3, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa keduanya pasti tidak memiliki hubungan sebab-akibat. Tapi, pada contoh kasus 1 dan 2, kita belum tau. 

Ada beberapa hubungan yang mungkin terjadi antara A dan B pada kasus 1 dan 2, antara lain:

  1. A menyebabkan B
  2. B menyebabkan A
  3. A dan B disebabkan oleh hal lain (sebut aja C)
  4. Tidak ada hubungan sama sekali antara A dan B, korelasi antar keduanya murni kebetulan

Terus, gimana caranya kita bisa tau apakah kedua hal yang berkorelasi itu masuk hubungan yang ke 1, 2, 3 atau ke 4? 

Bisa gak, sih, kita langsung nentuin gitu aja hubungannya gimana? Nah, supaya elo lebih kebayang, mending kita coba ulas berbagai contoh nyata yang pernah diteliti sama orang-orang, ya.

Oh iya kasus-kasus di bawah juga mungkin aja jadi pertanyaan sebab akibat di TPS, jadi pastiin paham dulu ya. Setelah paham elo bakal lebih gampang untuk tahu cara menjawab soal sebab akibat UTBK.

Contoh Kasus I – Rokok dan Life Expectancy

Kita mulai dari contoh yang pertama, yaitu hubungan antara merokok dan menurunnya angka harapan hidup (life expectancy). Kita buat aja A dan B demikian:

  1. Konsumsi rokok
  2. Angka harapan hidup (atau gampangnya, usia ketika meninggal)

Hubungan antara konsumsi rokok dengan angka harapan hidup sudah diteliti sejak lama. Salah satu penelitian terkait hal tersebut pernah juga dibahas di artikel tentang bagaimana cara mengambil kesimpulan yang rasional

Di artikel tersebut, ditunjukkan bahwa konsumsi rokok berkorelasi terhadap angka harapan hidup (rata-rata perokok meninggal di usia 10 tahun lebih muda dibanding yang bukan perokok).

Oke, kita tau bahwa A dan B berkorelasi. Kalau gitu, sekarang pertanyaannya adalah, apakah keduanya memiliki hubungan sebab-akibat? Hmm, untuk kasus ini, kayaknya iya.

Hubungannya adalah A menyebabkan B. Udah jelas, kan, kalo rokok itu memang membuat umur kita lebih pendek? Pasti bener gitu gak, nih?

Kalau mengingat cara menjawab soal sebab akibat UTBK dengan sistem tertutup tadi, elo bakal jawab apa nih?

Hehe. Coba kita lanjut dulu ke contoh berikutnya.

Contoh Kasus II – Es Krim dan Kebakaran

Sekarang kita masuk ke contoh kasus II, yaitu korelasi antara penjualan es krim dengan tingkat kebakaran hutan.

  1. Penjualan Es Krim
  2. Tingkat Kebakaran Hutan

Misalnya, hubungan antara keduanya diteliti dan hubungannya bisa diliat pada grafik berikut ini:

es-krim-vs-kebakaran-hutan
[Grafik penjualan es krim dan kebakaran hutan. Dok.Linkedn]

Dari grafiknya, kita bisa bilang bahwa penjualan es krim itu berkorelasi dengan tingkat kebakaran hutan, tapi terus hubungan sebab-akibatnya gimana? 

Kayaknya gak mungkin, deh, penjualan es krim itu menyebabkan kebakaran hutan. Iya gak, sih? Dan gak mungkin juga kebakaran hutan membuat orang menjual es krim.

Bagaimana cara melakukan penalaran dengan pola sebab akibat yang kayaknya nggak nyambung gini?

Salah satu cara menjawab soal sebab akibat UTBK yang ini adalah dengan penjelasan yang paling mungkin yaitu keduanya memiliki penyebab yang sama, yaitu cuaca

Ketika cuaca panas, penjualan es krim meningkat, begitu juga dengan tingkat kebakaran hutan. Sebaliknya, ketika cuaca dingin, penjualan es krim menurun, begitu juga dengan tingkat kebakaran hutan.

Nah, jadi pada kasus II ini, ada hal lain (sebut aja C) yang menjadi penyebab kejadian A dan B. Bener gak?

Contoh Kasus III – Perceraian dan Margarin

Berikutnya, kita masuk ke contoh kasus III, yaitu hubungan antara rata-rata perceraian di Maine, salah satu negara bagian di Amerika Serikat, dengan konsumsi margarin per kapita.

  1. Rata-rata perceraian di Maine
  2. Konsumsi margarin per kapita
divorce-rate

Dari grafik terlihat jelas bahwa keduanya berkorelasi. Apakah dengan melihat korelasinya saja elo bisa tahu cara menjawab soal sebab akibat UTBK?

Tapi, gimana dengan hubungan sebab-akibatnya? 

Kayaknya sih, ini gak ada hubungan sebab-akibat sama sekali. Korelasi antara keduanya itu murni kebetulan. Apa coba hubungan antara margarin dengan perceraian rumah tangga?

——————————————–

Okee, dari ketiga contoh kasus di atas, kelihatannya gampang lah ya, kita menentukan apakah sesuatu yang berkorelasi itu memiliki hubungan sebab-akibat atau enggak. 

Tapi cara menjawab soal sebab akibat UTBK gak se-simple keliatannya.

Untuk lebih mengerti tentang hal ini, kita harus tau dulu bagaimana cara ilmuwan mengambil kesimpulan dari korelasi yang ada.

Pada kasus I misalnya, yang tentang rokok. Buat kita yang hidup di jaman sekarang, mungkin gak heran mendengar argumen bahwa rokok itu merusak kesehatan. 

Tapi, buat orang yang hidup sebelum tahun 1900, ini adalah hal yang aneh. Pada jaman itu, rokok bukan cuma dihisap untuk gaya hidup, tapi banyak juga yang percaya bahwa rokok itu bagus untuk kesehatan

Jadi, ketika ada beberapa penelitian yang menunjukkan korelasi antara merokok dengan kesehatan, gak semua ilmuwan langsung setuju.

Kalau kita mengabaikan berbagai penelitian lain tentang rokok dan hanya bergantung pada korelasi antara rokok dengan angka harapan hidup tersebut, maka argumen berikut ini juga masuk akal:

Mungkin orang yang suka merokok itu memang rata-rata pemalas. Pemalas itu jarang olahraga. Nah, itu lah yang membuat mereka gak sehat.

Kira-kira argumen tersebut bisa dirangkum menjadi diagram berikut:

malas-olahraga

Jadi bukan A (rokok) menyebabkan B (umur pendek), tapi keduanya disebabkan oleh hal lain, yaitu C (malas olahraga), misalnya. Kira-kira mirip dengan argumen kasus II, tentang es krim dan kebakaran hutan.

Terus kalo gitu, gimana cara kita tau argumen mana yang bener?

Nah, di sinilah poin pentingnya.

Untuk bisa memastikan hubungan sebab-akibat antara keduanya, kita membutuhkan penelitian lanjutan!

Untuk kasus rokok ini, penelitian lanjutannya sudah banyak, antara lain:

  • ditemukan korelasi antara rokok dengan penyakit jantung,
  • ditemukan korelasi antara rokok dengan berbagai penyakit paru-paru,
  • ditemukan korelasi antara rokok dengan stroke (gangguan pembuluh darah di otak),
  • ditemukan korelasi antara rokok dengan berbagai jenis kanker,
  • ditemukan bahwa Acrolein, zat kimia yang banyak ditemukan di rokok, bereaksi dengan deoxyguanosine dan membentuk DNA crosslink, DNA-protein crosslink, dan DNA adducts (bisa dibilang itu semua bahan dasarnya kanker lah),
  • dan lain-lain

Nah, dari berbagai penelitian inilah, akhirnya ilmuwan semakin yakin bahwa memang benar rokok itu merusak kesehatan, sehingga umur perokok itu menjadi lebih pendek.

So, yang mau gue tekankan di sini sekali lagi adalah:

Ketika dua hal itu berkorelasi, kita perlu INFORMASI TAMBAHAN mengenai berbagai penelitian di luar sana untuk bisa menyimpulkan apakah keduanya benar-benar memiliki hubungan sebab-akibat.

Jadi, nggak boleh sembarang tebak pake perasaan aja. 🙂

OKEE. Udah jelas berarti ya kalo gitu gimana cara menjawab soal sebab akibat UTBK ini. Mudah-mudahan dengan adanya penjelasan tentang korelasi dan kausalitas (sebab-akibat) ini, elo bisa mengerti pentingnya mengolah informasi secara benar.

Jadi, hati-hati, ya, dalam menyaring dan menganalisis informasi yang elo dapet dari mana-mana. Jangan lupa untuk selalu melakukan fact checking, apalagi kalo elo mau meneruskan informasi itu ke orang lain. Pastiin dulu bahwa itu benar.

Biar makin siap menghadapi UTBK, elo bisa klik banner di bawah lalu ketikkan materi yang ingin dipelajari di kolom pencarian ya. 

Cara Menjawab Soal Sebab Akibat TPS/TPA UTBK 9
Klik dan ketik materi di kolom pencarian!

Good luck!

Originally published April 4, 2018 
Updated by Silvia Dwi

Bagikan Artikel Ini!