Gimana caranya mengambil kesimpulan yang rasional?

Gimana caranya mengambil kesimpulan yang rasional?

Lo pasti pernah lah, ya, lagi ngobrol-ngobrol santai sama temen, terus tiba-tiba fokus ngomongin suatu topik, eh ujung-ujungnya topik itu memancing perdebatan antara lo berdua. Lo punya argumen untuk yakin bahwa pandangan lo bener, tapi temen lo juga. Biasanya, kalau ada kejadian kayak gitu, gimana lo dan temen lo menyikapinya?

Well, tentunya banyak perdebatan yang pada intinya memang nggak bisa ketemu "ujung"nya (baca: memang lo harus terima bahwa opini lo berdua beda). Contoh, kalau lo lagi debat tentang siapa cewek yang paling cakep di sekolah lo. Debat dengan topik itu mau pakai argumen apa juga, yang namanya selera ya urusan pribadi. Meskipun begitu, banyak juga perdebatan yang sebenernya bisa dicari jalan keluarnya, terutama kalau yang lo perdebatkan adalah suatu fakta. Contohnya gimana tuh?

Misalnya, ada dua orang yang lagi ngobrol santai tentang rokok, entah gimana mulainya, pokoknya akhirnya sampai pada percakapan begini:

Ahmad : "Ah enggak juga. Kakek buyut gue itu perokok berat, Bro. Lo tau dia meninggal umur berapa?"
Ben      : "Berapa?"
Ahmad : "95 tahun!"
Ben      : "Tua juga yah. Kakek gue meninggal umur 70, padahal nggak ngerokok."
Ahmad : "Nah, makanya, sebenernya nggak terlalu ngaruh juga kan rokok sama umur."

*Ahmad dan Ben adalah tokoh fiktif

Pernah denger argumen kayak gitu, nggak, sih? Gue sih sering buanget. Nggak jarang juga argumen itu jadi pembenaran buat para perokok untuk percaya kalau rokok itu sebenernya nggak terlalu buruk bagi kesehatan. Tapi sekarang coba pikir lagi, kalau gitu, ngapain juga pemerintah dan banyak LSM buang-buang duit sampe milyaran untuk kampanye menurunkan konsumsi rokok? Bener nggak rokok itu buruk untuk kesehatan?

Nah, di artikel ini, gue sebenernya bukan mau ngomongin rokoknya, tapi yang mau gue omongin adalah tentang bagaimana cara kita berargumentasi dengan baik; gimana menggunakan data, menganalisis, untuk bisa mengambil kesimpulan dengan benar. Dengan kata lain, gimana cara menggunakan scientific reasoning untuk mengambil kesimpulan. Jadi, metode ini bukan cuma digunakan ketika debat soal rokok, tapi juga bisa lo pakai untuk berbagai persoalan lainnya. Pada tulisan-tulisan blog Zenius tentang mitos yang beredar di tengah masyarakat, suka banyak juga yang nanyain, gimana cara bedain mitos atau pseudosain dengan fakta. Nah, mungkin tulisan ini juga bisa ngebantu menjawab pertanyaan lo. So... lanjut baca terus yah.

 

Mencari Argumen dan Kesimpulan yang Rasional

scientific method

Kalo lo merhatiin guru dengan baik waktu awal belajar pelajaran IPA (biologi, fisika, atau kimia) di bangku SMP atau SMA, kemungkinan besar lo pernah diperkenalkan dengan diagram di atas -- atau lebih sering disebut sebagai metode ilmiah. Selama ini, mungkin lo ga terlalu memedulikan metode ilmiah karena paling kepake buat apa sih, paling buat bikin kerangka di tugas laporan/makalah laboratorium, di ulangan palingan cuma keluar 1--2 soal, atau ya paling kepake banget pas ngerjain skripsi di zaman kuliah. Seolah-olah ini cuma sepotong konsep yang ngga lebih dari sepenggal materi pelajaran yang bisa jadi keluar di ujian.

Tapi, lo tau ga sih, kalo langkah-langkah dalam metode ilmiah ini bisa digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari untuk menjadi lebih rasional dalam berpikir atau bertindak? Wah, apa hubungannya, emang, metode ilmiah dengan berpikir rasional? Apakah penggunaannya bisa praktis dalam kehidupan sehari-hari?

Okay, mungkin kita coba lanjut aja dengan contoh rokok sebelumnya. Misalnya, lo adalah Ben yang sedang berdiskusi dengan Ahmad untuk menentukan sikap terhadap rokok, di mana hal itu terkait pada fakta apakah rokok betul-betul signifikan memberi pengaruh buruk bagi kesehatan. Nah, apa yang perlu coba diupayakan dalam setiap diskusi sebelum beralih jadi debat kusir? Di bawah ini, gue akan meng-highlight langkah-langkah yang penting dan penggunaan praktis metode ilmiah.

1. Ajukan Pertanyaan

Ketika lo berdebat (baik dengan diri sendiri ataupun orang lain), sebenernya lo bisa menyederhanakan topik perdebatan lo menjadi suatu kalimat yang jelas. Misalnya, dalam perdebatan rokok di atas, lo bisa sederhanain menjadi pertanyaan, "Bener ga, sih, rokok itu buruk untuk kesehatan?"

2. Merumuskan Hipotesis

Dari pertanyaan yang lo ajukan, lo bisa rumuskan jawaban/dugaan sementara (hipotesis). Jawaban sementara dari pertanyaan di atas bisa jadi adalah "Rokok itu nggak bagus untuk kesehatan". Tapi, kalo kita pake pernyataan ini sebagai hipotesis, gimana cara ngukurnya? "Ga bagus untuk kesehatan" itu luas maknanya. Coba ganti jadi yang lebih keukur, misalnya hipotesanya dengan statement seperti ini:

"Rokok itu mengurangi angka harapan hidup"

Nah, ini jelas. Untuk ngukurnya pun gampang. Jadi, nanti pada kesimpulan akhirnya akan ada dua kemungkinan:

- Hipotesisnya benar, yaitu rokok mengurangi umur
- Hipotesisnya salah, yaitu tidak benar bahwa rokok mengurangi umur

3. Uji dengan Eksperimen (Saatnya Googling Hasil Penelitian!)

Langkah selanjutnya menurut metode ilmiah adalah menguji hipotesis yang dirumuskan sebelumnya dengan eksperimen. Masalahnya, mungkin nggak terlalu praktis aja, sih, kalo semua pertanyaan harus diuji dengan eksperimennya oleh diri kita sendiri. Ya, kemungkinan besar kita semua ngga punya resource dan expertise yang dibutuhkan. Misal, lo pengen tau, nuklir sebagai sumber energi alternatif, bahaya apa enggak sih? Ya susah juga kalo lo pengen melakukan eksperimen nuklir sendiri. Hehehe.

Tapi tenaang, kita ngga perlu jadi ilmuwan di suatu bidang dulu baru bisa menentukan sikap atas suatu isu. Para ilmuwan enggak asosial dengan dunianya sendiri kok. Mereka banyak mempublikasikan penelitian mereka (dalam bentuk buku, jurnal, pemberitaan, dsb.) untuk kepentingan khalayak. Sebetulnya, ketika kita udah paham tentang prinsip atau dasar-dasar berpikir ilmiah serta critical and rational thinking, kita bisa menyaring informasi (mana yang bisa dipercaya/nggak) dengan memanfaatkan teknologi yang ada sekarang, yaitu Mbah Google.  

Nah, ini dia nih. Google memang punya jawaban atas berbagai macam pertanyaan, tapi apakah jawabannya selalu bener? Apakah jawabannya selalu scientific? Belum tentu juga kan. Gue juga sering googling-googling tapi ujung-ujungnya cuma nemu tips-tips doang, dan ternyata isinya juga belum tentu 100% tepat. Nah, tapi kalau lo udah punya "hipotesis" di pikiran lo, lo bisa mulai googling untuk secara spesifik mencari orang yang udah pernah menguji apakah hipotesis yang lo punya itu bener atau salah. Ketika gue googling tentang rokok ini, terus browsing-browsing ke mana-mana juga, gue menemukan salah satu link ini:

Mortality in relation to smoking: 50 years' observations on male British doctors

Coba buka aja. Itu laporan hasil penelitian (2004) terhadap puluhan ribu dokter yang merokok dan yang nggak merokok 100 tahun yang lalu yang diteliti selama 50 tahun terakhir (1951--2001) di Inggris. Laporannya rada panjang kalau lo mau baca teliti, tapi rangkuman seluruh laporan itu bisa tergambarkan dalam diagram berikut ini:

merokok

Bisa bacanya? Dari grafik di atas, kita bisa dapatkan beberapa temuan menarik:

  • Pada dokter yang lahir antara 1851--1899 (berarti masa lansianya dihabiskan pada era 70an). Lihat grafik kiri atas, hanya 68% perokok yang bisa survive hidup hingga usia 70, sedangkan nonperokok yang bisa survive hidup hingga usia 70 mencapai 82%
  • Pada dokter yang lahir antara 1900--1930 (berarti masa lansianya dihabiskan pada era 90an). Lihat grafik kiri bawah, ada 26% nonperokok yang bisa tembus hidup sampe umur 90 tahun, sedangkan perokok, cuma 5%!
  • Kita lihat lagi grafik sebelah kanan, setelah usia 70 tahun, terjadi perbedaan yang cukup signifikan, yaitu harapan hidup nonperokok 10 tahun lebih tinggi daripada perokok.

4. Ambil Kesimpulan

Nah, jelas lah, ya, bahwa dari penelitian tersebut, hipotesisnya benar! Jadi, rokok memang berpotensi kuat untuk mengurangi angka harapan hidup dalam sample yang banyak -- dan kemungkinan besar hasil tersebut juga berlaku bagi tubuh lo. Sekarang coba kita balik lagi ke argumen yang diajukan Ahmad tentang satu sampel doang, yaitu kakeknya:

Ahmad : "Ah enggak juga. Kakek buyut gue itu perokok berat, dia baru meninggal di umur 95 tahun!"

Kalo lo perhatiin, argumen dia gak bisa dijadikan standard acuan sama sekali dalam mengambil kesimpulan, karena sampel yang dia pilih cuma satu doang, itu pun cuma dari lingkungan sekitar dia. Seringkali, argumen seperti ini disebut juga dengan bias selektif atau cherry picking (baca: ngambil sampel yang cuma mendukung statement yang dia inginkan), karena pihak tersebut mengambil sampel yang tidak merepresentasikan fenomena secara keseluruhan, tapi menjadikan data tersebut seperti seolah-olah bisa menggambarkan keseluruhan hubungan sebab-akibat.

Padahal, ketika pengaruh rokok pada kesehatan ini dibawa pada populasi yang lebih luas, kemungkinan kakek Ahmad masuk ke 5% perokok yang bisa tembus usia 90 tahun. Padahal, kalo dibandingkan dengan orang tua seangkatannya, lebih banyak nonperokok yang bisa survive hingga usia 90 tahun, yaitu 26%. Oke, sampe di sini, lo udah bisa mengambil kesimpulan/sikap yang rasional terkait contoh kasus rokok dan bisa meminjam hasil penelitian yang dibahas di artikel ini jika lo dihadapkan pada perdebatan serupa.

5. Diuji Berkali-kali

Penelitian seperti ini nggak boleh cuma satu kali, tapi harus berkali-kali, harus diulang beberapa kali di konteks lainnya. Kenapa? Setiap penelitian, biasanya batasan error-nya diset 5%. Jadi, bisa aja pas lagi meneliti itu kita lagi sial (atau beruntung) dan dapet yang di 5%nya itu. Dengan mengulang penelitian berkali-kali, kemungkinan errornya ini juga akan berkurang. Selain itu, kita bisa uji juga penelitian serupa pada konteks yang berbeda-beda. Sebagai contoh, objek penelitian di atas adalah Dokter. Kira-kira pengaruhnya akan sama aja nggak kalau diuji pada profesi lainnya? Diuji pada pengacara, programmer, atau lainnya, misalnya. Terus, penelitian di atas dilakukan di Inggris. Kira-kira apakah pengaruhnya juga sama kalau dilakukan di Indonesia? Australia? Untuk kasus rokok, biasanya hasilnya sama di mana pun. Bahkan, nggak jarang suatu penelitian itu berlaku untuk konteks tertentu, tapi nggak berlaku untuk konteks lainnya, sehingga nggak bisa digeneralisir begitu aja.

6. Pentingnya Kelompok Kontrol

Jangan lupa juga bahwa dalam setiap penelitian itu harus ada yang namanya kelompok kontrol (control group). Pada contoh di atas, kita membagi menjadi dua group: Group perokok dan group bukan perokok. Nah, kalau kita ingin menguji efek rokok terhadap kesehatan, caranya ya seperti di atas itu:

  • Dokter yang perokok menjadi kelompok eksperimen (experiment group)
  • Dokter yang bukan perokok menjadi kelompok kontrol (control group)

Tanpa adanya kelompok kontrol ini, kita nggak tau seberapa signifikan efek rokok terhadap kesehatan. Dengan adanya kelompok kontrol, kita bisa menggunakannya sebagai pembanding. Pada contoh di atas misalnya, kita tahu bahwa ternyata angka harapan hidup perokok (⇐ini eksperimen grupnya) berkurang 10 tahun dibanding bukan perokok (⇐ini kontrol grupnya). Itu sebabnya ketika zenius membuat penelitian tentang efektivitas belajar dari para pengguna zenius, kita juga mengambil sampel siswa yang nggak memakai zenius sebagai variabel kontrol. Cek penelitiannya di infografik ini kalau mau tau.

****

Kesadaran kita tentang melihat kelompok kontrol ini kesannya sepele, tapi sebenernya sangat membantu kita untuk berpikir rasional dan menghindari bias, lho. Contohnya gini deh, lo mungkin pernah dengar pernyataan-pernyataan berikut dari orang di sekitar lo:

Hasan: "Kalau gue nonton tim sepakbola kesayangan gue sambil pake jersey bolanya, tim kesayangan gue lebih mungkin menang!"

atau

Siti: "Duh, kalo perasaan gue lagi ga enak begini, pasti bentar lagi ada kejadian aneh-aneh deh."

*Hasan dan Siti adalah tokoh fiktif

Kira-kira kebayang ngga, gimana cara membuktikan apakah kedua pernyataan di atas valid atau enggak? Lo bisa coba cari kunci caranya dari ilustrasi contoh tentang rokok di atas. Ahmad mengira rokok itu ngga berbahaya bagi kesehatan karena melihat kakeknya seorang yang bisa tutup usia 95 tahun, sedangkan beliau adalah perokok. Padahal, kalo kita ambil statistik pada populasi yang lebih luas, kakek Ahmad cuma masuk persentase kecil dan tidak mewakili populasi yang luas.

Nah, dua pernyataan di atas adalah contoh dari bias selektif juga. Penutur biasanya hanya cherry picking kejadian yang sejalan dengan premis/belief awal mereka dan mengabaikan sampel-sampel yang gak sesuai dengan keinginan mereka. Memang adakalanya manusia cenderung mencari asosiasinya pada hal atau benda terdekat, apalagi kalo fenomena itu membekas secara emosional. "Oh minggu kemarin menang, gue lagi pake jersey bola, dua minggu lalu juga begitu", "Terakhir, gue punya perasaan ga enak, ternyata benar ban mobil gue pecah." Tapi valid ngga, sih, kalo kita pake skala yang lebih luas?

Hasan bilang kalau dia nonton sepak bola pakai jersey bolanya, maka peluang timnya menang akan menjadi lebih besar. Nah, pendapat ini bisa banget kita uji dan BANDINGKAN dengan control group-nya. Tinggal suruh aja si Hasan 50 kali nonton bola dengan menggunakan baju jerseynya itu (⇐ ini eksperimennya), terus 50 kali lagi tanpa menggunakan baju jersey (⇐ ini kontrolnya). Dengan catatan, memilih 50 pertandingannya itu harus menggunakan aturan sampling yang bener. Dari hasil penelitian itu, nanti bisa kelihatan kan nanti apakah menggunakan baju jersey bisa meningkatkan peluang timnya menang atau enggak. 🙂

Begitu juga dengan Siti. Cara mengujikannya bisa begini, Siti harus mau mencatat tiap kali dia dapat perasaan ngga enak selama satu tahun. Misalnya, selama satu tahun dia punya perasaan ngga enak selama 100 kali. Apakah di setiap dia dapat perasaan ngga enak, selalu diikuti kejadian yang merugikan? Ternyata, cuma 20 kali yang kejadian. Yah, success rate-nya cuma 20%. Kurang bisa digunakan untuk generalisasi. Bahaya juga jika digunakan sebagai pembenaran firasat. Lagipula, harus dicatat pula rentang waktu dari awal Siti merasakan perasaan ngga enak sampe beneran kejadian peristiwa merugikan. Apakah dalam hitungan jam? Kalo baru kejadian satu minggu kemudian, yah, itu namanya mah mencocok-cocokkan doang yaaa :p  

 

Story vs Statistics

Nah, dari beberapa contoh yang udah gue uraikan panjang lebar di atas, semuanya mengarah pada satu hal, yaitu pentingnya statistik. Statistik sangat penting untuk kita pakai sebagai alat untuk mengambil kesimpulan yang rasional. Bedakan antara berargumen dengan statistik dengan berargumen melalui cerita. Cerita memang kadang lebih menarik, seperti cerita tentang kakeknya Ahmad yang perokok tapi bisa mencapai umur 95 tahun. Cerita seperti ini biasanya lebih menarik karena menyentuh sisi emosional kita sebagai manusia. Tapi, cerita aja nggak bisa dijadikan bahan untuk mengambil kesimpulan secara rasional.

Mengikuti emosi adalah bagian dari sifat manusia, tapi perasaan bisa berbohong, itulah sebabnya mengapa fakta dan pertimbangan sistematis yang menghasilkan keputusan rasional lebih baik untuk diikuti, terutama dalam proses lo mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup lo. Hal ini mungkin terkesan sepele, tapi manfaatnya banyak banget kalo lo disiplin dalam berpikir menggunakan metode ilmiah, mulai saat lo harus mengambil keputusan, menentukan sikap terhadap isu sosial atau politik, serta hal-hal krusial lain terkait kepentingan lo ke depannya.

Nah, berdasarkan contoh-contoh yang udah gue kasih di atas, lo mungkin bisa bantu gue kasih contoh kesalahan berpikir lain yang sering banget digunakan oleh orang terdekat untuk jadi pembenaran yang ngga masuk akal. Kalo ada yang kepikiran, cantumkan di komen di bawah ya, biar kita bisa diskusikan bareng!

==========CATATAN EDITOR===========

Yup, langsung aja tinggalin komen di bawah buat jawab tantangan Fanny. Kalo mau ngobrol atau nanya sama Fanny lebih lanjut tentang bias statistik, langsung juga tinggalin comment di bawah artikel ini, ya. Buat yang penasaran dengan bahasan tentang bias-bias lain yang umum kita buat dalam pengambilan keputusan sehari-hari, bisa baca juga artikel zenius tentang:

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan vouchernya di sini.

About 

Fanny adalah editor blog zenius. Fanny mengambil gelar Sarjana di Fakultas Ilmu Komputer, Jurusan Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

Follow Fanny at @frofalina

  • naluri manusia sih, biasanya salah..hehhehehe
    merujuk contoh sepak bola sih, kemungkinannya ya 1/3, menang, kalah, atau seri. lagian, terlalu banyak variabel yang mesti dipertimbangkan dalam sepak bola, the ball is round, itu sih sepengetahuan saya. tapi, salut kak sama artikelnya, nice post. really. 😀

    • Trian Verson Tumanan

      football is sport,, bukan untuk mau menang atau kalah atau seri, intinya knp bisa main bola itu adalah olahraga terbaik di dunia...
      karena sepak bola itu punya seni...

      • itu sih opini saya saja, kak. terlebih, beberapa klub (bukan di Indonesia) melihat soal menang-kalah-seri ini sangat serius. tentu, dalam di beberapa aspek, saya juga melihat sepak bola sebagai seni. dulu, awalnya saya benar-benar melihat sepak bola sebagai pure of sport, no political contaminations, tapi kini saya sadar, sepak bola tidak bisa dilihat tok seperti itu, saya melihatnya mulai dari berbagai gaya sepak bola yang dimainkan di berbagai liga, apakah itu kick-and-rush, total football, tiki-taka ataupun lainnya (banyak yang menganggap gaya permainan dengan serius, banyak yang merasa 'kalah-terhormat' dan angkat topi pada lawan ketika mereka bermain secara terbuka serta mampu meraih trofi di akhir musim, misalnya); reaksi supporter terhadap klub, apakah mereka yang selalu memberikan tepuk tangan tak peduli bagaimanapun performa si pemain, atau mereka yang mengkritisi performa si pemain, menyoraki saat ia bermain buruk dan memberinya standing applause ketika performanya bagus. saya pribadi suka sepak bola dan mendukung salah satu klub yang bermain di the premier league (FYI, pengelola menolak Barclays Bank untuk menjadi sponsor mulai musim depan).
        saya pikir, olahraga apapun, ah bukan, sesuatu yang memiliki massa, yang banyak tentunya, seringkali mengundang kepentingan politik dan bisnis.
        salam. 🙂

  • Hafizh A Permana

    Banyak banget saya nemu orang yang sok tau tentang keagamaan tapi tanpa sumber yang jelas. Biasanya beliau-beliau emang ngambil sumbernya dari perasaan dan budaya sekitar(cherry picking itu ya?) padahal kalo kita lihat di Al-Quran dan Al-Hadis yang sahih, beda tuh dengan perkataan mereka!

    Suka bete aja, apalagi kalo udah membudaya di masyarakat. Pasti yang biasa diambil itu yang mayoritas orang pake, bukan dari sumber aslinya. Nyata-nyatanya menyalahi kebenaran dengan sangat pede bahwa mereka membela kebenaran.

    • Indra D. Herdiana

      Dan yang bikin geli itu ketika sudah dikasih tau secara logis, mereka ngeyel dan marah. -_-

  • "Gara-gara 911, semua Muslim dibilang teroris atau suka membunuh orang tak bersalah"

  • Andre Gore

    Kak, terkadang untuk bisa mengakses jurnal atau hasil research terbaru kita harus membayar. Nah kalau sudah gitu gimana kak? Apakah cukup kita baca abstracknya saja? Minta saran web untuk mengakses jurnal dong kak..

    • harusnya kamu nanti kalo udah kuliah bisa dpt akses free ke jurnal2 international melalui komputer perpustakaan di kampus.

    • yang dibilang sama bang glenn bener kok, kalo PT kamu ngelanggan ke suatu penerbit jurnal, misal elsevier, ato lain-lain, kamu pasti bisa kok dapet akses itu. sering-sering main ke perpus aja, tanya-tanya sama petugasnya. 😀

  • "Non-muslim kurang pantas menjadi pemimpin."

  • Arizal Kurniawan

    bagaimana sih cara jadi tutor di zenius ? 🙂

  • Warsono Hadisubroto

    A: Kakek gue, perokok berat, matinya umur 95 tahun. Panjang 'kan umur perokok, enggak pengaruh umur sama ngerokok atau enggaknya....

    B: Lha, kakekmu itu kalo enggak ngerokok bisa hidup sampai 107 tahun. Dan tabungannya, duit yang enggak dibakar jadi rokok bakal lebih banyak. Dan lo bisa terima warisan lebih banyak dari kakek lo.