Heboh Pilpres, Gimana Sebaiknya Sikap Kita?

Seperti apa sistem demokrasi Indonesia? Apa peranan Presiden dalam sistem itu? Apa saja masalah utama yang dihadapi Indonesia? Semua dibahas dalam artikel ini.

Buat lo yang pada melek berita, pastinya nyadar kalo akhir-akhir ini tema yang paling hot di negara ini tidak lain dan tiada bukan adalah seputar Pemilu Presiden yang akan diselenggarakan bulan April nanti.

Mungkin untuk sebagian dari lo bahkan ada yg mulai pada jenuh sama timeline Twitter ato Facebook lo yang isinya berkutat tentang copras capres mulu. Lo ngerasa kaya dibanjirin informasi, persuasi, sampe godaan-godaan untuk milih satu dari dua capres yang mencalonkan diri di Pemilihan Presiden (Pilpres). Udah gitu, bingung pula mana berita yang bener dan mana yang cuma fitnah black campaign, belum lagi lo masih gak terlalu hafal sama tokoh politik dari kedua belah pihak, dan sebagainya.. Apa mendingan gua golput atau nyoblos capres pilihan orangtua aja, yak?

Yah, gua sih maklum aja kalo lo masih rada buta politik di pemilu pertama lo. Cuma gua cuma pengin lo nyadarin bahwa, lo udah dianggap cukup dewasa untuk turut serta dalam ajang yang paling nentuin arah negara lima sampe sepuluh tahun ke depan. Nah, jangan sampai gara-gara lo muak ngeliat timeline, lo jadi menyia-nyiakan kesempatan lo buat menyuarakan pilihan dan tanggung-jawab intelektualitas lo, hehehe. Makanya, demi mengantisipasi itu, gue mau bantu lo buat bikin lo ngeliat pilpres ini dari kacamata yang beda.

Pertama-tama, lo harus tau dulu satu hal. Sebenernya nih, mau apapun yang dibilang sama tim sukses maupun pendukung capres yang gencar kampanye di timeline media sosial elo-elo pada, inget bahwa ujung-ujung toh keputusan ada di tangan lo. Negara ini negara demokrasi murni, yang berarti kekuasaan (keputusan untuk memilih) ada di tangan elo semua. Tanpa suara kita semua, capres-capres itu ga bakal bisa jadi presiden.

Mungkin beberapa dari elo yang penasaran, skeptis, curiga, atau heran kenapa sih Zenius bikin blog (lagi) soal pemilu.Sebelumnya gue juga udah pernah nulis soal pemilihan anggota dewan legislatif (pileg) – Nah kali ini kita bahas soal pemilihan umum presiden (pilpres)! Oh iya, sebelumnya harus gue tekenin di sini bahwa Zenius sebagai institusi adalah institusi pendidikan yang sampai kapanpun akan tetep berfungsi sebagai institusi pendidikan – tanpa memihak ke alur politik tertentu, atau dalam hal ini, capres tertentu. Dan peran gue di sini, hanya mau sharing pemikiran pribadi gue tentang gimana sebaiknya lo sebagai first voter, mengambil sikap atas pesta demokrasi ini dengan menggunakan hak lo sebagai warga negara.

****

Nah, kalo udah paham dengan apa yang mau kita bahas ini, baru deh kita sama-sama bahas soal pilpres dengan cara yang cerdas. Nah, pertama kenapa sih kita harus pilih presiden sendiri? Seperti yang pernah gue jelasin di tulisan sebelumnya, negara yang ideal itu adalah negara yang make sistem yang disebut oleh Baron de Montesquieu sebagai “trias politica”. Dengan ketiga pilar demokrasi, yaitu :

  1. Legislatif : sebagai pihak yang mewakili suara masyarakat (DPR)
  2. Eksekutif : sebagai pihak yang menjalankan pemerintahan yang udah dirancang oleh pihak legislatif (Presiden + Menteri)
  3. Yudikatif : sebagai pihak yang mengevaluasi pelaksanaan Undang-Undang (Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi)

Intinya, ketiga badan ini berfungsi bikin negara menjadi institusi yang dimiliki oleh seluruh rakyat yang jadi warga di negara tersebut. Bukan lagi milik raja atau pun pemimpin yang otoriter. Kalo di bulan April kemaren kita milih calon anggota legislatif (anggota DPR), yang berfungsi untuk mewakili kita sebagai warga negara dalam membuat peraturan-peraturan yang ditujukan untuk membuat kita sejahtera. Nah sekarang kita milih pemimpin badan eksekutif, yaitu presiden yang akan menjalankan pemerintahan. Udah lumayan kebayang kan sekarang tau bedanya legislatif dengan eksekutif?

Eh tapi buat lebih yakin lagi, gua coba kasih quiz dikit bentar yah tentang konsep trias politica

1. Kan lembaga yang punya hak bikin undang-undang itu legislatif (DPR), nah berarti presiden sebagai eksekutif nggak boleh bikin undang-undang dong.. Nah terus, kok ada yang namanya Peraturan Presiden (Perpres) itu apaan dong?

KLIK-DI-SINI-UNTUK-MELIHAT-JAWABANNYA

Presiden tetep nggak bisa bikin undang-undang dari nol, tapi dia bisa bikin peraturan yang sebatas untuk membantu kinerja presiden dalam menjalankan undang-undang yang dirancang oleh DPR tersebut

 

2. Kan ada tuh yang namanya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPPU).. Wah gimana tuh masa Presiden bisa ngubah Undang-undang seenaknya?

KLIK-DI-SINI-UNTUK-MELIHAT-JAWABANNYA

PERPPU itu hanya boleh dibuat dalam keadaan genting/mendesak. Ini emang bakal bisa jadi masalah adanya wewenang berlebihan dari presiden. Makanya kita sebaiknya pilih presiden yang bisa dipercaya untuk gak menyalahgunakan kekuasaannya

 

3. Tiap taun kan kita suka liat Presiden ngasih grasi ataupun rehabilitasi sama para narapidana tuh. Kalo gitu, enak banget dong ada koruptor deket sama presiden bisa bebas dengan gampang?

KLIK-DI-SINI-UNTUK-MELIHAT-JAWABANNYA

Nah, makanya disini fungsinya lembaga yudikatif (MA). Salah satunya untuk evaluasi pengajuan grasi dan rehabilitasi dari presiden. Jadi narapidana yang bersangkutan bener-bener dicek dulu apakah layak dapet grasi/rehabilitasi atau nggak.

 

Sebenernya, buat apa sih kita perlu ngerti hal-hal yang beginian? Apa pentingnya sih buat kita? Wong kita nggak semuanya bakal jadi ahli hukum, pejabat, atau sebagainya? Yah, kalo lo pengen bisa mempertimbangkan siapa yang layak jadi presiden negara tercinta ini.. pertama-tama seenggaknya kita juga harus tau dong mengenai sejauh mana sih wewenang, hak, dan kewajiban dari presiden. Karena sedikit banyak pasti siapapun presiden yang terpilih nanti akan nentuin nasib lo dan kesejahteraan lo ke depannya nanti.

Emang Tugas Seorang Presiden Ngapain aja sih?

Sebenernya fungsi presiden itu apa sih? Lo pada udah nggak asing lagi sama istilah “presiden”. Bahkan gue yakin banyak di antara lo yang waktu kecil dulu punya cita-cita jadi presiden. Daaan, gue yakin banget masih ada beberapa dari lo yang punya konsepsi yang salah soal presiden dan tugas-tugasnya. Presiden itu bukan berarti orang yang sangat berkuasa bagaikan raja yang tinggal main perintah aja lho.. Intinya sih gini, di negara yang punya sistem presidensial seperti Indonesia, presiden berfungsi sebagai kepala pemerintahan – yang artinya membawahi seluruh elemen pemerintahan di satu negara, mulai dari lurah, camat, walikota, bupati, gubernur, menteri-menteri, sampai pejabat setingkat menteri seperti jaksa agung dan panglima TNI.

Terus, kenapa kalo dia yang jadi pemimpin? Apa hubungannya sama istilah “eksekutif”? Dibilang eksekutif, karena presiden itu ngebawahin seluruh elemen yang gue sebut di atas untuk meng-execute (melaksanakan) peraturan-peraturan yang dibuat oleh dewan legislatif. Dengan logika bahwa legislatif merupakan wakil kita dalam membuat undang-undang yang (seharusnya sih) meningkatkan kesejahteraan — berarti presiden dan bawahan-bawahannya itu menjalankan undang-undang yang dibuat oleh wakil-wakil kita tersebut. Buat apa? Agar kita semua jadi sejahtera. Kan wakil-wakil kita sendiri yang bikin undang-undangnya.

Makanya, presiden perlu perangkat buat ngejalanin undang-undang tersebut. Mulai dari menteri-menteri yang ngurusin bidang-bidang spesifik dalam penunjangan:

  1. Kesejahteraan Rakyat kaya bidang kehutanan, pertanian, perikanan, pariwisata, perindustrian, ketenagakerjaan;
  2. Keamanan dan Ketenteraman Rakyat kaya kepolisian, angkatan bersenjata, kejaksaan, kehakiman
  3. Kedaulatan Rakyat kaya hubungan luar negeri.
  4. Pemerintahan Daerah Selain menteri-menteri, presiden juga dibantu sama para anak buahnya yang ngurusin pemerintahan daerah kaya gubernur, bupati, walikota, sampe camat dan lurah.

Gunanya buat apa? Biar semua urusan kita sebagai warga negara bisa berjalan lancar, dan kita bisa ngejalanin kewajiban-kewajiban dan nuntut hak-hak kita tanpa ada yang ngehambat dan dirugiin.

 

Terus Gua Harus Milih Siapa nih Buat Jadi Presiden?

pilpres

Sekarang, setelah lo tau bedanya peran masing-masing dari legislatif (DPR) dengan eksekutif (Presiden). Pastinya beda juga cara mikir buat milih wakil rakyat sama cara mikir buat milih pemimpin! Kalo milih wakil rakyat artinya lo milih partai yang paling mewakili aspirasi dari pemikiran lo, kalo milih presiden artinya lo milih orang yang lo percaya buat melayani amanat dari rakyat yang udah lo percayain ke DPR !

Nah, hal yang paling harus ditekankan dalam milih calon presiden adalah: NGGAK ADA TIPE PEMIMPIN YANG PALING SEMPURNA, sebagaimana nggak ada juga capres dan cawapres yang sempurna. Kalo soal style kepemimpinan itu sebetulnya gak terlalu penting. Sejarah memberi contoh pada kita bahwa ada banyak style kepemimpinan yang berhasil membawa perubahan positif bagi negaranya, dari yang adem-ayem seperti Mahatma Gandhi sampai yang tegas seperti Winston Churchill.. Sayangnya yang gua liat nih sekarang justru banyak masyarakat yang berkutat dan debat kusir ngeributin soal pendekatan style kepemimpinan masing-masing capres.. So, yang justru harus kita lihat itu bukan nyari capres yang sempurna dan punya gaya kepemimpinan terbaik tapi justru CAPRES YANG PALING COCOK DAN PALING BISA DIPERCAYA buat menuntaskan PERMASALAHAN BANGSA INDONESIA SAAT INI serta melaksanakan amanat dari rakyat dengan sebaik-baiknya!

 

Terus Apa dong Permasalahan Bangsa Indonesia Saat Ini yang Perlu Diutamakan?

Masalah di Indonesia tentu ada banyak banget, dan tiap orang punya pendapatnya sendiri-sendiri tentang mana masalah yang perlu diprioritaskan. So, untuk ulasan gue yang satu ini, gua mau tekankan dari awal bahwa apa yang gua jabarkan di bawah ini hanya mewakili pemikiran gua pribadi tentang apa sih permasalahan di Indonesia yang perlu diutamakan untuk saat ini.

 

1. Penuntasan enam tuntutan Reformasi 1998

Udah 16 tahun Indonesia berada dalam era Reformasi. Buat lo pada yang belum sempet ngerasain era-era awal Reformasi mungkin mikir kenapa sih kita harus balik ke tahun 1998? Emang apa sih yang spesial di tahun itu? Bisa dikatakan bahwa Reformasi ini adalah tonggak baru dari Sejarah Indonesia. Kebebasan demokrasi secara penuh yang lo rasakan sekarang, kebebasan berpendapat di muka publik, dsb.. adalah buah dari perjuangan Pahlawan Reformasi. Buat mereka yang tau betul dan mengalami saat-saat reformasi, mereka akan sangat-sangat menghargai hak demokrasi yang mereka dapatkan saat ini, karena mereka tau bahwa kebebasan demokrasi ini dibayar dengan pertumpahan darah dari kakak-kakak senior mahasiswa lo semua 16 tahun yang lalu.

Nah, kalo kita balik lagi ke tonggak sejarah reformasi, bisa dikatakan kalo bangsa ini udah berhasil ngejalanin reformasi secara penuh kalo kita udah mencapai Enam Tuntutan Reformasi, yaitu:

  1. Penegakan supremasi hukum
  2. Pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
  3. Pengadilan Suharto dan kroni-kroninya
  4. Amandemen konstitusi
  5. Pencabutan Dwifungsi TNI
  6. Pemberian otonomi daerah seluas-luasnya.

Sampe tahun 2014 ini, ada beberapa dari tuntutan tersebut yang udah kesampean kayak amandemen konstitusi (UUD 1945) yang terjadi di tahun 2004, pencabutan Dwi Fungsi TNI, serta penerapan otonomi daerah. Nah tapi masih ada aja tuntutan-tuntutan Reformasi yang sampe sekarang belom bisa diwujudin, kaya pemberantasan korupsi, dan penegakan supremasi hukum.

Nah, jadi menurut gue 2 hal itulah yang wajib buat diberesin sama presiden Indonesia yang baru nanti.  Dengan ngeberantas perilaku dan mental korupsi, baik di pemerintahan ataupun di dunia peradilan di Indonesia, berarti dia juga punya niat buat bikin hak-hak lo bisa lo terima secara penuh, tanpa harus disikat sama orang-orang yang ga berhak.

 

 2. Reformasi birokrasi

Indonesia ini salah satu negara kepulauan yang paling luas dengan 34 provinsi. Lantas, gimana caranya presiden dari istana negara di Jakarta mengontrol semua urusan berjalan dengan lancar dari ujung Aceh sampe Papua supaya punya birokrasi yang sama-sama adil dan merata? Ya jelas, dia harus bisa memanfaatkan setiap pelayan masyarakat di setiap daerah untuk melakukan pekerjaannya dengan baik, dari mulai level gubernur, walikota, bupati, lurah, sampai camat.. Kalo birokrasi udah beres, pembangunan pasti bisa berjalan lebih cepet. Dari mulai pemanfaatan budget anggaran (duit pajak) dengan alokasi yang tepat, sampai ke level administratif yang mendukung perekonomian daerah – seperti gampangnya ngurus Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP), bikin surat ijin hak menjalankan usaha, dsb.. Percaya deh walau kesannya ini sepele soal administratif doang, tapi kalo keadilan birokrasi dilakukan secara merata – Indonesia masih bisa maju secara serentak dan bergerak independen di setiap daerah!

 

3. Pendidikan yang berkualitas dan merata

Kenapa pendidikan harus jadi prioritas sih? Emang yang sekarang kurang ya? Yaah, yang namanya pendidikan sih selalu jadi investasi jangka panjang buat sebuah negara.. Dan pendidikan di Indonesia belom bisa dibilang berhasil kalo emang masih ada warga negara Indonesia yang pola pikirnya belom maju, nggak sesuai sama zaman, dan belum bisa menjadi bagian dari demokrasi. Jadi, pemerintahan yang dipimpin presiden baru mendatang harus menjamin kualitas pendidikan, serta tentu aja, ngejamin seluruh anak-anak Indonesia bisa sekolah sampe jenjang yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar mereka.

Satu lagi yang penting adalah, pemimpin harus tau betul masalah pendidikan itu sebenarnya dimana. Karena masalah pendidikan itu sendiri multidimensional seperti yang dulu pernah Glenn bahas di artikel sebelumnya. Jadi, sebaiknya emang kita punya pemimpin yang seenggaknya bisa nunjuk orang yang tepat buat jadi menteri pendidikan dengan mengetahui masalah pendidikan dari mulai siswa, guru, sampai kurikulum itu sendiri.

 

4. Penegakan hukum yang adil dan transparan

Kalo tadi tuh pendidikan ibaratnya berfungsi untuk bikin “software” otak orang-orang Indonesia jadi makin berkualitas, hukum yang adil berfungsi untuk melindungi “software-software” tersebut dalam ngedapetin hak-hak serta kewajibannya. Udah seriiiing banget kita liat di berita dan di sekeliling kita langsung, ketidakadilan berlangsung. Ada orang yang berhak, nggak bisa dapet haknya karena hukumnya nggka jalan. Ada orang yang punya kewajiban tertentu, seenaknya aja main langgar, karena hukum nggak jalan dengan semestinya. Pendidikan, peningkatan kualitas manusia, birokrasi yang lancar, dan sebagainya. nggak ada artinya tanpa adanya Penegakan Hukum.. dan Hukum gak ada artinya tanpa Keadilan. Hukum itu ibaratnya adalah alat kontrol keamanan dan tolok ukur evaluasi yang menyuluruh untuk segala aspek. itulah kenapa gua pikir supremasi hukum harus jadi agenda utama presiden mendatang.

 

5. Ekonomi yang stabil

Yang terakhir yangg nggak kalah pentingnya adalah ekonomi Men. Pinter udah, aman udah, berarti kan tinggal mastiin seluruh aktivitas yang dilakukan oleh warga negara Indonesia bisa terjaga dan ngebikin seluruh warga negara jadi sejahtera. Sejahtera bisa kita liat dari stabilitas perputaran permintaan dan penawaran dan terpenuhi kebutuhan-kebutuhan mendasar secara merata, investor yang gak ragu untuk menanam modal, UKM berkembang, nilai tukar rupiah menguat, dsb.. Intinya sih jangan sampai rakyat masih dibikin pusing sama utang, nilai kebutuhan pokok melambung, cari modal usaha susah, dsb. Kalo ekonomi kita beres, dan diurus sama orang yang beres juga, negara kita punya stabilitas yang bisa diandalkan untuk terus memberikan peluang dan kesempatan bagi masyarakatnya untuk mencapai kesejahteraan.

****

Berhubung pihak KPU belum mempublikasikan visi dan misi dari kedua pasangan calon presiden – wakil presiden yang mengikuti pilpres 2019, maka yang dijadikan contoh di sini adalah visi dan misi pasangan calon presiden – wakil presiden dari pilpres 2014.

Nah, itulah kelima hal yang menurut gue harus diutamakan oleh siapa pun Presiden yang terpilih nantinya. So presiden mana yang kita pilih? Pilih presiden yang paling lo anggap punya niat dan kemampuan buat mulai ngatasin permasalahan-permasalah yang sedang dihadapin sama bangsa Indonesia, seperti yang gue sebut di atas. Karena pada pilpres 2014 ini cuma ada dua pasang calon presiden – wakil presiden, yaitu Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa, serta Joko Widodo dan M. Jusuf Kalla, ada baiknya kalo lo pelajarin dulu visi dan misi para calon tersebut yang dirilis resmi oleh situs Komisi Pemilihan Umum:

>> Visi dan Misi Prabowo Subianto – Hatta Rajasa <<

>> Visi dan Misi Joko Widodo – M. Jusuf Kalla <<

 

Nah, daripada lo ikutan kemakan sama black campaign dan fitnah-fitnah nggak bener tentang kedua capres dan cawapres, mending lo telusuri deh mana visi-misi yang menurut lo paling oke. Jangan lupa lihat juga track record keempat tokoh tersebut dan sumbangsihnya bagi negara ini. Coba bandingin visi-misi kedua kubu secara jeli.. Dari situ lo bisa pertimbangkan mana calon pemimpin yang PALING COCOK untuk memimpin Indonesia saat ini.

Yang harus lo inget adalah, pilihan lo (kalo menang), bakal jadi pemimpin negara kita selama 5 – 10 tahun mendatang. Garis besar kebijakan negara bakal mereka yang nentuin, tentunya demi kepentingan rakyat. Oleh karena itu, teliti sebelum membeli, atau kita cuma bisa gigit jari selama 10 tahun ke depan.

So terakhir nih, seperti yang pernah gue saranin di tulisan gue yang tentang pemilihan legislatif, gue sangat menyarankan elo semua untuk ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum presiden RI tanggal 17 April mendatang. Kenapa harus ikutan? Apa ngaruhnya sih? Enakan tidur nggak sih lagi libur2 gitu? Eits, kalo lo baca dengan seksama pembahasan kita kali ini, gue jamin lo bakal ngerasa bahwa milih presiden itu berarti nentuin masa depan lo kaya gimana. Sedikit banyak keputusan lo dalam pilpres kali ini pasti deh bakal ngaruh sama kehidupan di sekitar lo juga, terutama kebijakan di bidang pendidikan dan dunia perkuliahan lo. Mudah-mudahan yang lo pilih adalah orang yang bener-bener bisa ngebawa perubahan di negara kita tercinta ini. Merdeka!

 

A leader is best when people barely know he exists, when his work is done, his aim fulfilled, they will say: we did it ourselves! (Pemimpin yang terbaik adalah pemimpin yang jarang diketahuin orang soal keberadaannya, tapi kalo kerjaannya beres, rakyat akan ngerasa bahwa mereka lah yang ngerjain itu semua!). —Lao Tze, Filsuf Negeri Tiongkok (Abad 5 SM)

 

[CATATAN EDITOR :  Buat lo yang pengen ngobrol sama Faisal seputar pilpres atau politik langsung aja tulis komentar di bawah artikel ini. Cuma tolong pastiin aja kalo komentar lo di bawah nggak berisi omongan yang nggak pantes sama partai politik atau tokoh politik tertentu. Kalo masih ada yang bandel, gua hapus comment-nya yah. Biasakan diskusi yang sehat dengan membahas visi-misi keduanya, atau alesan yang tepat kenapa lo berpikir salah satu kandidat lebih cocok untuk memimpin negara ini]

Keterangan Sumber :
Undang-undang no 12 tahun 2011 tentang Perundang-undangan, Pasal 1 Ayat 6
Undang-undang 12 no 2011 tentang Perundang-undangan, pasal 1 ayat 5

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.