Heboh Soal BREXIT, Sebetulnya Ada Apa sih?

Apa itu BREXIT? Artikel ini menjelaskan 2 perspektif argumen apakah Inggris sebaiknya tetap bergabung atau keluar dari Uni Eropa.

Halo para pembaca blog Zenius sekalian! Apa kabar nih liburan lebarannya? Moga-moga liburannya seru & menyenangkan ya. Sambil enak-enak bersantai di libur lebaran, kali ini blog Zenius mau bahas cerita seru tentang pemberitaan heboh di dunia internasional belakangan ini. Wah apaan tuh?

Kalo lo ngikutin berita baik di TV, koran, maupun media sosial, sekitar 1-2 minggu lalu, sempat heboh banget berita tentang “BREXIT” sampai-sampai jadi top worldwide trending Twitter berhari-hari, udah gitu muncul meme-nya dimana-mana, sampai Perdana Menteri Inggris (David Cameron) menyatakan mengundurkan diri gara-gara hasil keputusan ini!

Wah ada apaan sih ini brexit-brexit, kok heboh banget? Sederhananya sih, BREXIT itu singkatan dari “Britain Exit” yang mengacu pada hasil pemilu referendum di Negara Inggris yang memutuskan Inggris keluar dari persatuan Uni Eropa. Banyak banget pihak yang sama sekali ga menduga bahwa hasil dari referendum/pemilu ini betul-betul menjadi momentum keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Mulai dari situ, mulai banyak isu yang bertebaran dari berbagai media, di antaranya:

  1. Ada pemberitaan bahwa masyarakat Inggris banyak yang ga tau latar belakang voting tersebut menjadi penentuan posisi Inggris di Eropa dan baru nyari tau “Apa itu Uni Eropa” justru setelah beberapa jam setelah voting. Menurut beberapa pemberitaan, banyak warga Inggris yang menyesal dengan pilihan voting yang mereka lakukan. Sampai ada hashtag baru di Twitter namanya #Bregret
  2. Dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, bisa berpotensi munculnya krisis ekonomi yang meluas, baik bagi Inggris, seluruh Eropa, bahkan bisa ikut mengorbankan negara-negara lain!
  3. Hasil pemilihan voting untuk keluar dari Uni Eropa ini dilatar-belakangi isu rasialis orang-orang Inggris yang takut kebanjiran pengungsi dari Timur Tengah terutama dari Syria karena kebijakan Uni Eropa yang cenderung terbuka dengan para pengungsi. Bahkan beberapa jam setelah hasil voting diumumkan, ada beberapa insiden rasialis terjadi di berbagai lokasi di Inggris yang menuntut para pendatang di Inggris untuk segera keluar dari negaranya.

Wah, kok ceritanya jadi konyol begini ya? Masa iya, warga Inggris banyak yang asal voting terus baru tau konsekuensinya setelah hasil voting diumumkan? Apa betul referendum ini dilatar-belakangi isu rasialis karena warga Inggris banyak yang rasis dan ga mau banyak pendatang di negaranya? Apa betul dampak ekonomi karena keputusan ini bakal banyak merugikan banyak pihak, bahkan mungkin bisa sampai ke Indonesia? Bisa gawat dong, jadi ceritanya gimana sih ini yang bener??

Naah… pada artikel Zenius Blog berikut ini, gua mau ceritain ke lo latar belakang fenomena ini dari awal sejarahnya sampai akhirnya bisa sampai seheboh ini. Buat lo yang lagi santai di waktu liburan, gua pikir ga ada salahnya baca ulasan Zenius di sini, hitung-hitung nambah pengetahuan umum dan sejarah tentang politik dunia. So, bagi lo yang penasaran tentang kehebohan BREXIT ini, yuk simak  bareng ceritanya!

BREXIT-ZENIUS

Sebetulnya apa sih latar belakang masalahnya BREXIT ini?

Berawal dari sebuah “Mimpi Eropa”

Sejenak kita mundur ke Eropa di bulan April 1945. Perang Dunia kedua baru saja usai. Nazi Jerman menyerah kalah pada Inggris, Perancis, Uni Soviet, dan Amerika Serikat (AS). Pada saat itu, seluruh Eropa dalam keadaan porak-poranda. Lebih dari 20 juta orang Eropa tewas dalam perang dunia, kota-kota megah Eropa jadi puing reruntuhan perang, perekonomian Eropa lumpuh, iklim politik masih serba tidak pasti, keadaan sungguh mencekam. Suasana horor macam ini bukan kejadian baru di benua Eropa. Sebelumnya, Eropa sudah pernah mengalami perang 30 tahun (1618-1648), Perang Penerus Takhta Spanyol (1701-1714),  perang Napoleon (1803-1815), Perang Dunia 1 (1914-1918) dan banyak perang² lainnya yang membunuh jutaan nyawa, menghancur leburkan ratusan kota-kota bersejarah di Eropa. Perang besar-besaran, pembantaian besar-besaran, dan kehancuran besar-besaran adalah WAJAR dan jadi tradisi ratusan tahun dalam sejarah benua Eropa.

Berlin in 1945
Dokumentasi kondisi Kota Berlin 1945 pasca berakhirnya perang dunia 2

Namun, baru di akhir Perang Dunia kedua inilah, muncullah ide, harapan, MIMPI bahwa semua sejarah tradisi perang itu bisa dihilangkan di masa depan. Muncullah mimpi bahwa di masa depan Eropa akan bersatu, berdagang secara sehat, bekerja sama dalam ekonomi, transportasi, dan saling mendukung secara politik, bukannya saling membunuh. Muncullah “Mimpi Eropa” atau European Dream yaitu persatuan Eropa.

Persatuan ini bukanlah persatuan kekuasaan dengan penaklukkan militer seperti yang dilakukan Napoleon dan Hitler, tetapi persatuan dengan kerja sama dan perjanjian. Persatuan ini diharapkan dimulai secara bertahap, perlahan, tapi tujuannya jelas yaitu persatuan Eropa yang damai & saling mendukung. Tahap pertama dalam upaya menggapai mimpi ini dimulai dari sektor yang paling gampang, yaitu persatuan ekonomi.

Maka dari itu di tahun 1952, Belgia, Belanda, Luxemburg, Perancis, Italia, dan Jerman Barat menciptakanEuropean Coal and Steel Community (ECSC) yang pada intinya menyatukan semua pertambangan dan industri batubara dan baja di negara-negara tersebut di bawah wewenang 1 badan supranasional. Di tahun 1957, negara-negara yang sama menandatangani perjanjian Roma, mereka sepakat menghilangkan pajak dan tarif quota di antara mereka, & membuat peraturan export-import baru yang dianggap fair, & saling menguntungkan.

Kemudian mereka juga menciptakan European Economic Community (EEC), yang bertujuan menyatukan ekonomi negara-negara anggotanya. Dengan menjadi anggota EEC, semua komoditas barang dagangan apapun bebas diperjual-belikan di antara semua negara-negara tersebut, seolah-olah tidak ada batas negara, tidak ada tarif, tidak ada pajak, tidak ada regulasi ribet dan ijin ini-itu. Semua jalur ekonomi dibuka secara bebas agar setiap negara di bawah EEC bisa membantu memenuhi kebutuhan ekonomi satu sama lain.

Setelah EEC berdiri, negara-negara Eropa lain yang ketinggalan, mulai merasa tertarik. Mereka merasa akan jauh lebih mudah menjual barang-barang produk negara mereka, maupun membeli barang-barang dari negara-negara anggota EEC kalau mereka juga bergabung dan menjadi anggota EEC! Keanggotaan EEC meningkat drastis, sampai akhirnya di tahun 1973 Inggris bergabung dengan EEC ini.

Sampai sejauh ini, kita baru membicarakan integrasi ekonomi. Namun, “European Dream” adalah persatuan seluruh Eropa, bukan cuma persatuan ekonominya saja. Maka ketika EEC didirikan, berdiri juga Komisi Eropa. Komisi inilah yang menjadi pelaksana semua peraturan yang disepakati negara-negara anggota EEC. Komisi ini praktis menjadi badan politik eksekutif, atau gampangnya menjadi “pemerintahnya” organisasi EEC.

Dalam pelaksanaannya, komisi Eropa ini diupayakan berjalan dengan professional. Strukturnya saja sama dengan struktur kabinet pemerintahan. Isi dari anggota Komisi Eropa ini pada dasarnya adalah PNS, birokrat dari negara masing-masing negara anggota EEC. Tapi ada yang unik dari proses pemilihan keanggotannya, orang-orang di komisi eropa ini BUKAN DIPILIH secara demokratis oleh negara-negara anggota EEC, melainkan justru DITUNJUK secara sepihak oleh pemerintah dari masing-masing negara. Nah pada point ini, udah mulai deh bermunculan isu negatif dari bentuk pemilihan anggota EEC yang dianggap tidak demokratis karena tidak melibatkan suara rakyat di negara masing-masing.

Di sisi lain, ada juga yang namanya Parlemen Eropa, yang secara teori tujuannya untuk mewakili RAKYAT dari negara-negara anggota EEC. Anggota parlemen ini dipilih dalam pemilu di negara masing-masing. Wah kalo gitu bagus dong ada badan khusus yang mewakili kepentingan rakyat? Sayangnya, parlemen ini power-nya bisa gua bilang lemah di EEC, yang pasti powernya TIDAK sebesar DPR Indonesia atau Kongres Amerika Serikat atau “House of Commons” di Inggris. Jadi ujung-ujungnya, kalo ada kebijakan yang EEC yang merugikan rakyat di negara tertentu, tetep aja proses pembuatan hukum baru harus dimulai oleh Komisi, bukan oleh Parlemen.

Terbentuknya Uni Eropa

Ketika perang dingin berakhir, dan Uni Soviet bubar di awal 1990an, optimisme tentang masa depan yang cerah bagi Eropa semakin membumbung tinggi. Negara-negara anggota EEC akhirnya mendirikan Uni Eropa (Bahasa Inggrisnya: European Union atau EU) via perjanjian Maastricht di tahun 1992. Mulai saat itu, mimpi persatuan Eropa di bidang politik benar-benar dilaksanakan. Sejak saat itulah, EEC berubah menjadi Uni Eropa. Persatuan yang dipraktekkan berubah dari integrasi ekonomi, menjadi integrasi ekonomi DAN politik secara resmi.

Integrasi ekonomi dilanjutkan dengan diperkenalkannya mata uang Euro di tahun 2002, menggantikan (hampir) semua mata uang negara-negara anggota Uni Eropa. Jadi, dari yang tadinya mata uang di Eropa ada macem-macem (Perancis = Franc, Belanda = Gulden, Jerman = Deutsche Mark, dll) sejak tahun 2002 bersatu menjadi 1 mata uang, yaitu Euro. Walaupun demikian, ada satu negara yang bandel ga mau menyatukan mata uangnya, negara apaan tuh? Yak bisa ditebak, yaitu Inggris yang tetap mempertahankan Pounds Sterling.

Di sisi lain tahun 1990, dimulailah penghapusan perbatasan antar negara-negara Eropa dalam Konvensi Schengen. Dengan adanya perjanjian tersebut, warganegara anggota Konvensi tsb bebas memasuki negara anggota lain seolah-olah tidak ada perbatasan negara. Konvensi ini adalah perwujudan salah satu aspek mimpi Eropa yang lain: kebebasan trasnportasi dan pergerakan warga Eropa.  Kebijakan ini juga valid untuk warganegara non-Eropa yang mendapat visa di salah satu negara Schengen. Misalnya, seorang warganegara Indonesia yang mendapat visa untuk kuliah di universitas Jerman bisa berlibur ke Perancis tanpa pusing urusan perijinan hanya dengan bermodal visa mahasiswanya itu.

Ketika Uni Eropa berdiri, konvensi ini menjadi dasar kebijakan perbatasan Uni Eropa. Seiring pertambahan anggota, semakin banyak negara-negara di Eropa yang menjalankan kebijakan Schengen ini. Kecuali 2 negara: Inggris dan Irlandia. Namun, biarpun mereka tidak bergabung dalam kebijakan ini, kebijakan imigrasi mereka tetap diatur oleh Uni Eropa. Sampai pada akhirnya, integrasi politik di Eropa memuncak hingga diciptakannya posisi “Presiden Uni Eropa” di tahun 2009.

Hubungan Inggris dengan Uni Eropa

Nah, sekarang kita baru deh masuk ke dalam hubungan negara Inggris dengan Uni Eropa. Kenapa sih Inggris sampai bikin referendum dan pemilu ke rakyatnya untuk memisahkan diri dengan Uni Eropa? Sebetulnya ada masalah apa? Bukannya European Dream itu bagus ya untuk mensejahterakan seluruh negara di Eropa? Ternyata konflik awalnya bermula daripada konsep “European Dream” itu sendiri.

Pertama kita tinjau dari sisi sejarah kebijakan luar negeri Inggris. Selama berabad-abad (dari jaman masih kerajaan Inggris), posisi politik Inggris suka berubah-ubah, tapi ada satu hal yang konsisten. Apaan tuh? Inggris sejak dahulu selalu dalam posisi untuk mencegah terjadinya penyatuan Eropa. Wah masa sih kayak gitu? Coba deh lo telusuri kronologi sejarah perang di Eropa: Ketika Dinasti Habsburg di Austria dan Spanyol mendominasi Eropa, Inggris buru-buru mendukung Perancis dan musuh-musuh Austria lainnya untuk mengimbangi jangan sampai ada 1 kekuatan yang dominan. Ketika Perancis jaman Napoleon mulai mendominasi Eropa, Inggris malah membantu Prussia/Jerman supaya Perancis ga jadi pemimpin di Eropa. Ketika Jerman mau mulai mendominasi Eropa pada Perang Dunia 2, lagi-lagi Inggris berbalik menyokong Perancis dan sekutu untuk mencegah 1 kekuatan superpower yang menguasai Eropa. Kok gitu ya? Kenapa sih Inggris ga mau ada 1 kekuatan yang mendominasi Eropa.

Menurut dugaan gua pribadi sih, Inggris khawatir kalau ada siapapun yang berhasil mendominasi Eropa, berarti akan menjadi kekuatan yang sanggup untuk mendominasi Inggris! Walaupun untuk konteks sekarang, alasan ini masih bersifat subjektif, tapi dalam sejarah kita bisa melihat tradisi bahwa selama berabad-abad, Inggris punya sejarah tersendiri untuk mencegah “Mimpi Eropa” untuk bersatu.

Oke, itu soal sejarah masa lalu. Terus bagaimana posisi Inggris di masa sekarang? Di masa kini, rupanya tidak sedikit elemen masyarakat di Inggris sendiri yang selama ini merasa dirugikan oleh integrasi politik dan ekonomi Uni Eropa. Lho kok bisa gitu? Bukannya tujuan Uni Eropa itu untuk saling mendukung dan membantu satu sama lain? Tujuannya sih gitu, tapi dalam pelaksanaannya banyak yang (menurut sebagian kalangan di Inggris) tidak fair dan merugikan masyarakat Inggris.

Contohnya nelayan-nelayan di pantai timur Inggris, yang kini harus merelakan nelayan-nelayan Perancis, Belanda, Denmark, dll menangkap ikan di wilayah perairan Inggris. Bukan itu saja, Uni Eropa juga membatasi jumlah ikan yang boleh ditangkap oleh nelayan-nelayan Inggris di wilayah negaranya sendiri. Disinilah timbul pertanyaan bagi sebagian kalangan masyarakat Inggris. Kok teritori perairan kita malah jadi diubek-ubek sama negara lain? Kok Inggris jadi seolah-olah gak punya kedaulatan atas negaranya sendiri? Kok jadinya sumber daya alam Inggris dibatasi untuk bisa dicaplok negara Eropa lain?

Contoh lain lagi, Inggris juga ada masalah dalam kebijakan imigrasi. Secara resmi, sebetulnya Inggris tidak pernah bergabung dalam kesepakatan Schengen, sehingga warga negara Uni Eropa yang lain masih harus menunjukkan pasportnya ketika mereka hendak memasuki Inggris. Namun, karena sesama warga Uni Eropa, mereka gak perlu meminta visa lagi. Warga Uni Eropa dari negara manapun bebas tinggal dan kerja di Inggris. Sebaliknya warga Inggris juga bebas untuk tinggal dan kerja dimanapun di dalam Uni Eropa. Dalam proses asimilasi horizontal ini, ternyata ada sebagian warga Inggris yang merasa bahwa negaranya kehilangan kuasa untuk menyaring warga Eropa yang hendak memasuki Inggris. Nah, pada point inilah, banyak yang berpikiran keluarnya Inggris dari EU dilatarbelakangi isu rasialis.

Tapi di sisi lain, tentu saja tidak semua warga Inggris curiga, skeptis, dan mencibir kebijakan Uni Eropa. Gak sedikit juga warga Inggris yang menikmati integrasi dengan Eropa: terutama warga Inggris yang bekerja di negara-negara Uni Eropa, para pengusaha dan pedagang Inggris yang mengimport/export barang dari Uni Eropa.

7507838-3x2-940x627
Nigel Farage (kiri) berkampanye agar rakyat Inggris vote keluar dari Uni Eropa

Sederhananya, persepsi Inggris terhadap keanggotaan Uni Eropa jadi terbelah dua: pro Uni Eropa dan Euroskeptic. Sejak pemerintahan Perdana Menteri John Major (1990 – 1997) perpecahan 2 pandangan ini terus menghantui pemerintah Inggris. Saat pemerintahan Tony Blair (1997 – 2007) isu ini sempat mereda. Namun, saat David Cameron menjadi PM (2010 – 2016) dia mulai merasakan tekanan karena para pemilih partainya (Partai Konservatif) banyak yang termasuk dalam kubu skeptis terhadap Uni Eropa.

Sampai pada akhirnya di tahun 2013, Cameron yang khawatir kehilangan suara kepada partai UKIP yang anti Uni Eropa, menjanjikan 1 hal yang sangat krusial yaitu referendum (pemilu) tentang hubungan Inggris dengan Uni Eropa. Dengan janji referendum ini, dia berhasil mendapatkan suara untuk partai politiknya.

Sampai akhirnya, demi pemenuhan janji tersebut, referendum dilakukan bulan Juni 2016. Hasilnya seperti yang kita ketahui sendiri, ternyata dimenangkan kubu Euroskeptic yang menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa! Hasil ini sempat bikin geger kondisi perpolitikan dunia, khususnya di Eropa. Bahkan David Cameron sendiri gua duga ga nyangka sama sekali kalau hasil pemilunya jadi beneran memutuskan Inggris keluar dari Uni Eropa. Akhirnya sebagai bentuk tanggung jawab politik, David Cameron memutuskan untuk mengundurkan diri jadi PM Inggris di akhir tahun 2016.

Nah, sekarang gua harap lo jadi lebih ngerti tentang BREXIT ini sekaligus nambah pengetahuan sejarah politik dunia, khususnya di Eropa. Coba deh lo tonton satu dokumentasi speech terakhir dari Nigel Farage selaku perwakilan Inggris yang sejak dulu mengkampanyekan agar Inggris keluar dari EU, greget banget loh speech ‘farewell’ dari dia:

Sebelum gua akhiri artikelnya, gua cuma mau membahas sedikit tentang argumen kedua kubu ini, hitung-hitung jadi bahan diskusi lo di kolom komentar di bawah. Yuk, kita coba kupas 2 sisi argumen suara politik yang berbeda ini:

ARGUMEN PIHAK STAY (TETAP BERGABUNG DENGAN EU)

Argumen utama kubu yang ingin tetap bergabung dengan EU adalah “Pertahankan stabilitas ekonomi, perdagangan, dan politik!” Bagi kubu Stay, keputusan keluar dari EU adalah sebuah perjudian besar yang berisiko luar biasa mengkhawatirkan bagi stabilitas ekonomi negara Inggris. Di satu sisi, diperkirakan sekitar 3,5 juta lapangan kerja yang dimiliki warga Inggris bergantung pada keutuhan status keanggotaan Inggris di Uni Eropa. Jadi kalo sampai Inggris keluar, siap-siap jutaan orang Inggris kehilangan lapangan kerja di Eropa!

Alasan berikutnya adalah standarisasi perjanjian perdagangan dengan seluruh dunia. Selama ini, Uni Eropa telah menjadi jembatan bagi negara-negara lain di luar Eropa untuk bernegosiasi perihal kebijakan perdagangan. Dengan keluarnya Inggris, berarti mau gak mau Inggris harus berupaya melakukan negosiasi ulang satu per satu ke setiap negara yang selama ini melakukan perdagangan dengan Inggris.

Belum lagi perihal berbagai kemudahan yang dimiliki dengan menjadi anggota EU, seperti kemudahan jalur telekomunikasi dan penerbangan, kebebasan berkarir dan menjadi pelajar di negara Eropa lainnya, status keamanan politik yang stabil dengan negara-negara lain, pemerataan standard gaji yang layak, dan masih banyak lagi. Inti dari argumen pihak stay adalah stabilitas! Ngapain sih cari gara-gara mau keluar dari EU segala, kita udah terlanjur kepalang basah banyak kerjasama ekonomi & perdagangan dengan EU, kalo langsung diputus hubungan begitu aja, berbagai hal tidak terduga bisa terjadi secara tiba-tiba dan negara Inggris bakal kelabakan untuk mengurus semua masalah yang muncul serentak secara bersamaan.

ARGUMEN PIHAK LEAVE (KELUAR DARI EU)

Sementara itu, argumen utama dari kubu yang ingin keluar dari EU adalah “Kembalikan Kedaulatan Inggris!” Satu argumen yang menurut gua cukup kuat dari kubu “Leave” adalah perlawanan terhadap Uni Eropa yang dianggap institusi yang tidak demokratis. Kenapa Uni Eropa dianggap ga demokratis? Sebab badan paling berkuasa di Uni Eropa (Komisi Eropa) semua anggotanya ditunjuk, bukan dipilih! Ibaratnya anggota perwakilan itu ditunjuk seperti lurah di Indonesia, bukan dipilih secara demokratis seperti presiden atau gubernur. Terlebih lagi, anggota Komisi Eropa tidak bisa dipecat oleh rakyat dalam pemilu, harusnya kalo demokratis ada pihak yudikatif( seperti MPR) yang bisa memecat eksekutif kalo dianggap sewenang-wenang. Padahal justru Komisi Eropa inilah yang menciptakan dan menegakkan banyak sekali peraturan yang berlaku di seluruh Eropa, termasuk kebijakan migrasi, wilayah perairan, jatah penangkapan ikan, dll… tapi kok justru orang-orang yang menentukan kebijakan sepenting ini, bukanlah wakil-wakil rakyat yang dipilih demokratis, tapi justru orang yang ditunjuk secara sepihak?

Kubu “Leave” juga menekankan bahwa Uni Eropa ini sifatnya terlalu birokratis, tidak flexibel, tidak efisien, bahkan diduga banyak melakukan penyalahgunaan kekuasaan! Di sisi lain, terlalu banyak peraturan dikeluarkan oleh Komisi Eropa, yang mana dinilai justru mengekang ekonomi dan kehidupan rakyat Inggris. Masalahnya, ketidakpuasan rakyat Inggris terhadap peraturan manapun tidak akan bisa disalurkan, karena (balik ke argumen sebelumnya), para pejabat di Komisi Eropa DITUNJUK bukan dipilih oleh rakyat! Keluar dari Uni Eropa berarti kesempatan besar untuk menghapuskan peraturan-peraturan tersebut, untuk menjadi negara yang berdaulat dan mandiri secara ekonomi. Jatoh-jatohnya, pihak “leave” menganggap justru Uni-Eropalah yang lebih banyak butuh sama Inggris, padahal Inggris sebetulnya ga butuh-butuh amat tuh sama Uni Eropa!

PENUTUP

Oke deh, demikian ulasan “singkat” dari gua tentang fenomena BREXIT ini. Moga-moga nambah pengetahuan umum lo, nambah insights juga buat lo, terutama seputar topik sejarah politik dunia. Gua harap artikel ini juga bisa memicu diskusi seru di kolom komentar artikel ini. Terlepas dari hasil akhirnya sekarang, kalo misalnya lo terlahir jadi warga negara Inggris, apakah lo memilih untuk tetap bertahan atau keluar dari Uni Eropa?

Sumber:
http://www.ft.com/cms/s/0/a874de26-34b2-11e6-bda0-04585c31b153.html
https://www.gov.uk/government/speeches/eu-speech-at-bloomberg
http://www.theguardian.com/politics/2016/jun/24/how-did-uk-end-up-voting-leave-european-union
http://www.europarl.europa.eu/atyourservice/en/displayFtu.html?ftuId=FTU_1.3.8.html
http://www.europarl.europa.eu/ftu/pdf/en/FTU_1.3.2.pdf
https://www.youtube.com/watch?v=UTMxfAkxfQ0

==========CATATAN EDITOR===========

Kalo ada di antara kamu yang mau ngobrol atau diskusi sama Marcel tentang sejarah ekonomi Eropa, khususnya topik BREXIT, silakan langsung aja tinggalin komentar di bawah artikel ini.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.