Salah Jurusan dan Rasanya Jadi Kuli Proyek Digital

UTBK Fest: Salah Jurusan dan Rasanya Jadi Kuli Proyek Digital

Telanjur salah jurusan kuliah, gimana cara mengatasinya? Benar nggak, sih, kalau kerja jurnalis nggak kenal waktu? Ini cerita Rachel Amanda dan Viriya Singgih.

Halo, para pejuang UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer)! Kali ini, UTBK Fest Alumni & Career menghadirkan Rachel Amanda, aktris sekaligus alumni Jurusan Psikologi Universitas Indonesia (UI) angkatan 2014. Dari Manda, elo bisa belajar bagaimana caranya mengatasi galau karena telanjur salah jurusan kuliah. Yap, Manda sempat berkuliah di Jurusan Kesehatan Masyarakat UI sebelum akhirnya pindah jurusan.

Selain Manda, ada juga Viriya Singgih, lulusan Jurusan Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara, yang membagikan ceritanya sebagai “kuli” proyek digital. Benar nggak, sih, kerja jurnalis nggak kenal waktu?

Yuk, simak kisah mereka sampai tuntas! Terutama buat elo yang juga lagi merasa salah jurusan dan bingung jurusan apa yang cocok buat elo. Siapa tahu elo bisa dapat pencerahan!

Galau karena Telanjur Salah Jurusan Kuliah

Bisa dibilang, Manda banyak bermanuver, lho, sebelum menemukan jurusan yang cocok. Di SMA-nya, Manda mengambil Jurusan IPA dan pengen banget masuk ke Jurusan Kedokteran UI. Waktu percobaan UTBK pertama kalinya, Kedokteran UI jadi pilihan satu, dan Kesmas UI jadi pilihan kedua. Dia pun lolos pilihan kedua. 

Awal mula menjalani kuliahnya, Manda masih merasa enjoy karena Jurusan Kesmas masih banyak bersinggungan dengan ilmu kesehatan lainnya. Tapi kok bisa lulusnya sebagai Sarjana Psikologi?

Di tengah masa kuliahnya di Kesmas, Manda baru sadar kalau dia kayaknya salah jurusan, padahal dulu mau banget masuk jurusan kesehatan. Manda sadar kalau dirinya cepat bosan. Keinginannya dulu karena semata-mata beranggapan jurusan itu keren, bukan karena dedikasi. Dari situ, Manda sadar bakal berat menjalani apapun yang nggak sesuai hatinya.

UTBK Fest: Salah Jurusan dan Rasanya Jadi Kuli Proyek Digital 9
Arsip Zenius: Tips Menjaga Motivasi

Mungkin ini bisa jadi pertimbangan buat elo supaya nggak terjebak salah jurusan juga. Pastikan dulu apakah elo benar-benar suka dengan jurusan yang elo incar, buat minimalisir kehilangan motivasi di tengah jalan.

“Akan ada masa-masa kita demotivated dan faktornya ada banyak gitu, bisa jadi karena memang lagi capek, ya karena ke fisik akan pengaruh. Misalnya kayak temen-temen lagi nggak bisa ngerjain tugas secara prima. Jadi kalau dari aku pasti prosesnya (demotivated) akan selalu ada, tapi balik ke yang tadi, diterima dan ditelusuri sebabnya kenapa.”

Rachel Amanda

Jadi, Manda memutuskan untuk pindah jurusan di tahun berikutnya lewat jalur UTBK dan Psikologi UI menjadi satu-satunya pilihan saat itu. Wah, kesannya kayak nekat banget ya? Dengan pilihannya ini juga, berarti dirinya linjur (lintas jurusan) karena Psikologi UI masuk kelompok ujian Soshum. Tapi, kali ini dia yakin sama pilihannya. Menurutnya, Jurusan Psikologi yang paling menarik mata kuliahnya di antara jurusan lain. Hebatnya, Manda lolos!

Manda bercerita, sejak kuliah di Jurusan Psikologi, Manda nggak mengambil project sinetron stripping dan fokus kuliah. Soalnya, kuliah itu beda banget sama SMA yang semuanya sudah diatur, kalau kuliah kan kita bisa mengatur jadwalnya sendiri. Jadi, elo punya kendali penuh atas kesibukan yang dijalani termasuk waktu luang.

Baca Juga: Telanjur Salah Jurusan saat Kuliah, Mending Ngulang atau Terusin Aja?

Karena keluwesan mengatur jadwal itu malah rawan bikin kita nggak disiplin, lho. Banyak yang akhirnya kehilangan motivasi di tengah jalan.

Manda menyarankan untuk hati-hati dalam menghabiskan waktu luang. Kadang, kebanyakan istirahat bikin kita jadi kebiasaan untuk menunda-nunda pekerjaan. Manda belajar tentang prokrastinasi dari salah satu dosennya, yaitu kebiasaan untuk menunda sesuatu. Menurutnya, kebiasaan ini muncul nggak cuma karena kehilangan motivasi, tapi juga karena adanya rasa takut hasilnya kurang bagus atau takut nilainya jelek.

“Jadi kalau aku waktu itu sadar problem kita itu apa sih, kita mengundur-ngundur apa karena nanti-nanti saja, atau karena nggak ngerjain susah banget. Kalau aku caranya benerin itu dulu, untuk mencoba fokus kayak mencoba balikin lagi mindset, tugas yang baik adalah tugas yang dikerjakan, bukan tugas yang perfect. Tapi tugas yang jadi dan dikumpulkan, walaupun dalam prosesnya nggak semulus itu.”

Rachel Amanda

Berkarier Sebagai “Kuli” Proyek Digital

Enggak jauh beda dengan Amanda, Viriya menyarankan untuk memilih jurusan yang benar-benar elo suka. Hal tersebut akan berpengaruh banget sama karier di masa depan. 

Tapi cara tahu hal yang disuka itu bagaimana caranya?

Nah, Viriya bercerita kalau waktu SMA itu dia suka menulis blog dan menonton bola. Dari situ, dia berpikir, bagaimana kalau kedua hobinya ini digabung? Jadilah dia mantap menjadi jurnalis dan memutuskan untuk masuk Jurusan Jurnalistik.

Kalau masih bingung jurusan atau karir mana yang mungkin cocok, gimana dong? Viriya menyarankan untuk sering-sering ngobrol ke orang yang sudah berpengalaman atau sudah menjalani prosesnya. Contohnya, kayak kakak yang sudah kerja atau kuliah, orang tua, atau mungkin mentor.

Elo punya hobi menulis cerita pendek atau suka berbagi informasi? Bisa, nih, mengikuti jejak Viriya berkuliah di Jurusan Jurnalistik.

Dari zaman kuliah, Viriya banyak mendengar cerita soal kehidupan jurnalis dari dosennya yang menurut dia seru banget. Dia semakin yakin buat mengejar mimpinya sebagai wartawan.

Selepas lulus kuliah, Viriya langsung terjun ke dunia jurnalistik dan pernah bekerja di beberapa media besar seperti Jakarta Post, Geotimes, dan sekarang di Project Multatuli. Pastinya, seru banget ya bisa jadi saksi berbagai peristiwa penting. Salah satu tugas liputan yang paling berkesan buat Viriya, yaitu demo besar-besaran di Bandung soal gaji kurir yang dipotong sepihak. Supaya paham masalahnya secara langsung, Viriya menjajal langsung jadi kurir, lho! 

Wah, kayaknya seru banget nggak sih jadi jurnalis?

Pastinya dong, apalagi kalau elo punya minat di bidang penulisan kayak Viriya. Tetapi, nggak bisa dipungkiri sesuka apapun elo akan suatu hal, pasti akan ada titik jenuhnya.

Viriya bercerita, sebagai wartawan di Indonesia, dia harus stand by 24 jam setiap harinya meskipun jam kerja resminya 8-9 jam sehari. Kalau tiba-tiba, misalnya, ada kejadian bom di tengah malam dan elo diminta untuk liputan, nggak mungkin menolak, kan?

“Kita burnout itu nggak terelakkan, tapi kita tuh harus tahu kayak ‘oh ini, gue udah enggak kuat’, take a step back, tarik napas, senang-senang dulu. Entah ketemu teman, ngobrol, ngegosip, apa nonton YouTube atau film. Saat sudah tenang, baru balik kerja lagi. Soalnya, kadang kita suka terjebak di toxic productivity.

Viriya Singgih

Selain jam kerja yang nggak kenal waktu, ada faktor lain juga yang bikin jenuh. Viriya bercerita kalau dia nggak selalu suka sama topik yang dia tulis. Hal itu yang kadang membuatnya jenuh dalam menulis.

Nah, buat memunculkan semangat di tengah kejenuhan itu, Viriya suka membaca tulisan orang lain yang topiknya dia sukai buat mencari inspirasi. Selain menambah semangat, biasanya memaparkan diri ke beragam gaya penulisan juga bisa meningkatkan kualitas tulisan elo juga, lho!

Jadi kurang lebih begitu rangkaian UTBK Fest Alumni & Career Day-3. Semoga cerita para narasumber di sesi ini bisa menambahkan semangat untuk mengejar jurusan incaran elo, ya!

Bagikan Artikel Ini!