Mengenal Perspektif Sosiologi Beserta Contohnya

perspektif sosiologi zenius education

Hidup bermasyarakat membuat kita perlu melihat segala sesuatunya berdasarkan perspektif sosiologi. Contohnya seperti yang diberitakan berikut ini.

contoh perspektif sosiologi zenius education
Contoh perspektif sosiologi. (dok. Republika)

Ada berita mengenai jual-beli vaksin, yang mana seharusnya vaksin itu diberikan secara gratis oleh pemerintah. Nah, artinya ada penyimpangan nih di sini. Kira-kira salahnya di mana sih?

Berita di atas memberitahukan bahwa ada ahli yang berpendapat bahwa kasus jual beli vaksin dikarenakan lemahnya pengawasan. Dari pernyataan tersebut, ia sudah memandang suatu kasus dari salah satu perspektif sosiologi, guys.

Baca Juga: Belajar Sosiologi Buat Apa?

Apa Itu Perspektif Sosiologi?

Pernah mendengar istilah perspektif? Yap, betul, cara pandang. Lalu, bagaimana dengan perspektif sosiologi?

Perspektif sosiologi adalah kerangka berpikir yang digunakan untuk memahami fenomena sosial secara sosiologis (sesuai dengan kaidah sosiologi).

Jadi, kalau elo mau menjadi seorang sosiolog, maka elo harus punya dan paham mengenai perspektif sosiologi. Pendapat yang elo bangun mengenai fenomena sosial perlu didasarkan pada kerangka berpikir yang sesuai dengan kaidah sosiologi, jadi nggak asal mikir, guys.

Baca Juga: Kelompok Sosial – Materi Sosiologi Kelas 11 SMA

Jenis dan Tokoh di Balik Masing-Masing Perspektif Sosiologi

Perspektif dalam sosiologi ada tiga, yaitu perspektif struktural fungsional, konflik, dan interaksionisme simbolik. Di sini elo juga akan tahu nih, siapa sih yang mengemukakan masing-masing perspektif tersebut? Cekidot!

Struktural Fungsional

Tokoh di balik perspektif struktural fungsional adalah Emile Durkheim dan Herbert Spencer. Di SMA, kita lebih sering menggunakan teori Durkheim daripada Herbert Spencer. Pokoknya Durkheim yang lebih dikenal deh oleh siswa SMA deh.

Durkheim mengemukakan tentang teori solidaritas, baik secara mekanik maupun organik. Nah, kalau Herbert Spencer mengemukakan suatu teori bahwa masyarakat itu seperti organisme. Coba deh elo perhatikan anatomi tubuh elo yang terdiri dari berbagai organ, dan masing-masing memiliki fungsi untuk kebutuhan tubuh.

unsur masyarakat sama seperti organ tubuh zenius education
Ilustrasi organ pada tubuh manusia. (Arsip Zenius)

Nah, masyarakat juga seperti itu, masyarakat memiliki banyak bagian yang disebut dengan unsur masyarakat. Karena fungsinya berbeda-beda, maka mereka akan saling ketergantungan. Ketika salah satunya mengalami disfungsi, apa yang akan terjadi pada unsur lainnya?

Yap, akan muncul masalah. Misalnya, dalam suatu masyarakat terdapat masalah dalam bidang pendidikan. Dari situ akan menyebar kepada bidang lainnya, seperti politik, ekonomi, keluarga, dan agama. Jadi, antarunsur itu memiliki ketergantungan. Ketika salah satu unsurnya bermasalah, maka akan timbul masalah dalam masyarakat.

Perspektif struktural fungsional melihat masyarakat seperti sebuah organ tubuh yang memiliki peran saling berhubungan.

Supaya lebih jelas, coba deh elo perhatikan lagi cuplikan berita di atas mengenai jual-beli vaksin! Pada berita di atas, ada seorang ahli yang berpendapat bahwa kasus jual-beli vaksin dikarenakan lemahnya lembaga pengawasan.

Artinya, ia memandang kasus tersebut dari sudut pandang perspektif struktural fungsional. Kenapa? Karena, ia memandang bahwa munculnya masalah dikarenakan adanya disfungsi pada lembaga pengawasan.

Konflik

Perspektif konflik identik dengan sosiolog asal Jerman yang membahas tentang relasi antara buruh dan majikannya, yaitu Karl Marx. Sebenarnya, dasar pemikiran dari perspektif konflik itu berasal dari kelas sosial, di mana masyarakat terbagi menjadi dua kelas, yaitu kelas borjuis dan proletar.

Perspektif konflik melihat bahwa segala fenomena yang ada di masyarakat merupakan hasil dari konflik atau pertentangan antara kelas atas dan kelas bawah.

Pemisahan dua kelas oleh Karl Marx dibedakan berdasarkan alat produksi atau modal. Ketika elo punya modal, maka elo akan masuk dalam kelas borjuis atau kelas atas. Tapi, kalau elo nggak punya modal, maka elo akan masuk dalam kelas proletar atau kelas bawah, dan elo harus bekerja kepada kelas borjuis.

Sayangnya, ketika kelas proletar bekerja kepada kelas borjuis, upah yang diberikan terlalu rendah. Jadi, hubungan antar keduanya eksploitatif gitu, guys. Bahkan nggak hanya itu, Karl Marx memandang bahwa kelas borjuis mengatur hampir di segala bidang masyarakat.

ilustrasi perbedaan perspektif struktural fungsional dan konflik zenius education
Perbedaan perspektif struktural fungsional dan konflik. (Arsip Zenius)

Dari situ elo udah bisa melihat nih, perbedaan antara perspektif sosiologi yang disampaikan Emile Durkheim dan Karl Marx yaitu terletak pada hubungannya. Durkheim melihat masyarakat lebih kepada kerja sama, sedangkan Marx melihat masyarakat lebih kepada eksploitasi.

Interaksionisme Simbolik

Perspektif ini dikemukakan oleh seorang sosiolog asal Jerman yang membahas tentang teori tindakan sosial, yaitu Max Weber. Selain itu, ada juga tokoh lainnya seperti Herbert Blumer, George Herbert Mead, dan Charles Cooley.

perspektif sosiologi makro dan mikro zenius education
Perbedaan perspektif yang disampaikan oleh Karl Marx, Durkheim, dan Max Weber. (Arsip Zenius)

Pada perspektif ini, ada perbedaan yang nyata nih di antara perspektif sebelumnya oleh Durkheim-Marx dan Weber, yaitu adanya perspektif makro dan mikro. Durkheim dan Karl Marx menjelaskan teori sebuah sistem masyarakat. Jadi, menurut keduanya, individu merupakan produk dari masyarakat. Sedangkan Max Weber melihat dari sisi sebaliknya, yaitu justru masyarakatlah yang membentuk individu.

Dari situ kita bisa lihat nih, kalau perspektif struktural fungsional dan konflik melihat sesuatu secara objektif. Sedangkan, perspektif interaksionisme simbolik melihat sesuatu secara subjektif, karena melihat individu di dalam sistem masyarakat.

Singkatnya, interaksionisme simbolik melihat bahwa suatu individu bisa berbeda antara satu dan lainnya, karena adanya proses interaksi individu dengan masyarakatnya yang berlangsung terus-menerus.

Sampai sini paham ya mengenai perbedaan dari masing-masing perspektif sosiologi di atas? Masing-masing perspektif memiliki cara yang berbeda dalam melihat fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Kegunaannya juga berbeda-beda. 

Pada soal UTBK, seringkali pertanyaan yang muncul mengenai siapa tokoh di balik masing-masing perspektif sosiologi. Jadi, elo perlu memahami antara tokoh dan teori yang dikemukakannya.

Uraian di atas bisa elo pelajari juga menggunakan video belajar Zenius dalam teori perspektif sosiologi Zenius dengan klik banner di bawah ini.

CTA video belajar zenius sosiologi

Baca Juga: Mengenal Tokoh Sosiologi dan Teorinya

Contoh Soal dan Pembahasan

Nah, berhubung kali ini gue membahas tentang materi TKA UTBK, maka gue akan ngasih tahu ke elo mengenai tipe soal yang sering keluar dalam UTBK.

Perhatikan berita di bawah ini!

contoh soal perspektif sosiologi zenius education
Contoh kasus perspektif sosiologi tentang kebocoran data penduduk. (dok. CNN Indonesia)

Jika dianalisis menggunakan perspektif struktural fungsional, apa alasan fenomena tersebut bisa terjadi?

A. Upaya kelas atas yang mencari keuntungan.

B. Regulasi yang ketat mengenai keamanan data.

C. Inkompetensi lembaga terkait.

D. Munculnya perlawanan masyarakat terhadap pemerintah.

E. Tingginya kualitas SDM dalam teknologi.

Coba elo pikirkan dulu, kira-kira apa sih alasannya kalau dianalisis berdasarkan perspektif struktural fungsional? Kalau sudah punya jawaban, elo bisa jawab langsung di kolom komentar ya!

*****

Gimana nih, sampai sini udah paham kan tentang perspektif sosiologi? Buat yang lebih menyukai belajar dengan nonton video, elo bisa mengakses materi UTBK lainnya di video Zenius. Elo juga bisa mencoba melatih kemampuan dengan level soal yang mirip UTBK beneran di Try Out bareng Zenius.

Baca Juga: Ringkasan Materi SBMPTN Terlengkap – Contoh Soal TPS dan TKA

Referensi:

Epidemiolog: Kasus Jual Beli Vaksin, Lemahnya Pengawasan — Republika (2021).

Deretan Kasus Bocor Data Penduduk RI dari Server Pemerintah — CNN Indonesia (2021).

Bagikan Artikel Ini!