Peran Guru dalam Perjuangan Kemerdekaan Zenius

Peran Guru dalam Perjuangan Kemerdekaan

Artikel ini membahas peran guru dalam perjuangan kemerdekaan dalam rangka memeriahkan Hari Guru Sedunia 2021.

Hai sobat Zenius, kembali lagi bersama gue, Grace! Hari ini gue ingin mengucapkan “Selamat Hari Guru Sedunia!” untuk semua guru yang udah berjasa banget dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia khususnya di Indonesia. Kalau kita pikir-pikir lagi ke belakang, guru punya andil yang besar lho dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Emangnya gimana peran guru dalam perjuangan kemerdekaan? Langsung aja kita meluncur ke masa lalu ketika Indonesia berjuang melawan para penjajah.

Perjuangan Indonesia melawan penjajah sejak dulu

Dulu Indonesia yang lebih tepatnya bisa kita sebut sebagai Nusantara harus melalui masa kelam ketika “diganggu” berbagai negara seperti Belanda, Inggris, Jepang, Portugis, Prancis, dan Spanyol. Pada masa ini rakyat Nusantara banyak dikelabui, diadu domba, dan dipaksa bekerja melalui berbagai sistem monopoli, tanam paksa, dan kerja paksa. Bahkan, ada sebutan bahwa Belanda menjajah Nusantara atau Indonesia selama kurang lebih 350 tahun. Tapi sebenarnya pernyataan ini nggak tepat. Kenapa begitu? Coba deh lo baca: Indonesia Dijajah Ratusan Tahun Oleh Bangsa Eropa, Masa Sih?

Kalo lo baca artikel itu, ditekankan bahwa ketika Eropa datang, Indonesia belum bersatu sebagai Indonesia. Jadi sebenarnya nggak tepat juga kalo dibilang negara-negara tadi menjajah Indonesia. Lebih tepat kalo dibilang mereka berhasil menaklukan kerajaan-kerajaan yang berada di Nusantara melalui peperangan. Lalu gimana ceritanya kerajaan-kerajaan ini bisa bersatu dan akhirnya merdeka sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia? Silahkan lihat dan resapi gambar di bawah ini.

Perjuangan Kemerdekaan Indonesia Melalui Pendidikan dan Politik

Gambar di atas hanyalah sebuah ilustrasi yang menggambarkan perubahan bentuk perjuangan rakyat kita seiring berjalannya waktu. Dulu perlawanan dari Nusantara melawan Belanda lebih banyak dilakukan secara fisik. Coba deh kalo kita inget-inget bareng, banyak banget kan perang antara pihak Nusantara dengan Belanda walau sifatnya masih kedaerahan ya, dalam arti masih mempertahankan daerah masing-masing. Misalnya Perang Makassar, Perang Diponegoro, Perang Padri, dan masih banyak lagi. 

Perang Padri atau Paderi
Ilustrasi Perang Padri oleh J.P. de Veer | Public Domain

Dari ilustrasi gambar di atas, bisa ditebak siapa pemenang perang-perang tersebut. Ya, Belanda berhasil menekukkan lutut para pejuang Nusantara saat itu. Maklum, saat itu rakyat kita belum memiliki banyak pengetahuan soal persenjataan modern. Selain itu, Belanda juga dengan cerdik memboncengi rakyat Nusantara untuk memerangi kerajaan yang kuat. Contohnya pada Perang Makassar, Belanda mendukung Arung Palakka dan sekutunya untuk mengalahkan Kerajaan Gowa-Tallo yang saat itu dipimpin oleh Sultan Hasanuddin.

Tidak cukup dengan menaklukan kerajaan-kerajaan dan memonopoli dagang, pada tahun 1930 Belanda mulai menerapkan sistem tanam paksa untuk mengisi kas pemerintahan Belanda. Sistem tanam paksa ini kemudian mendapatkan banyak kritik dan perlawanan karena implementasinya yang tidak manusiawi. Kalo lo penasaran emangnya kayak gimana kebijakannya, bisa langsung aja baca “Kupas Tuntas Sistem Tanam Paksa atau Cultuurstelsel”. Akhirnya sistem tanam paksa dihentikan pada tahun 1870, dan sebagai bentuk balas budi Belanda terhadap Hindia Belanda (Indonesia), diterapkan Politik Etis sejak 1901. Kebijakan Politik Etis ini menyangkut irigasi, transmigrasi, dan edukasi. Walau implementasinya cukup bobrok dan justru tetap menguntungkan perkebunan kaum Belanda, seenggaknya ada perkembangan pendidikan untuk rakyat pribumi saat itu.

Nah, mulai dari sini kita bisa bahas dengan seru peran guru dan pendidikan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Perjuangan Indonesia melawan penjajah dengan pendidikan

Awalnya ketika Belanda membangun kolonialisme di tanah Hindia Belanda, sekolah-sekolah hanya bisa diikuti oleh orang Belanda dan segelintir rakyat Nusantara yang berasal dari keluarga ningrat alias bangsawan. Namun dengan adanya kebijakan politik etis, sarana dan prasarana pendidikan di Indonesia mulai dikembangkan untuk kaum pribumi. Sekolah di Hindia Belanda mulai bermunculan seperti contohnya Meer Uitgebreid Leger Onderwijs (MULO) atau sekolah setingkat SMP hari ini dan Algemeene Middelbare School (AMS) atau sekolah setingkat SMA. Dengan adanya sekolah-sekolah dan guru yang tersedia untuk mengajar, munculah golongan terpelajar yang kemudian memulai pergerakan nasional.

Sekolah MULO di Medan sekitar tahun 1925
Sekolah MULO di Medan sekitar tahun 1925 | Dok: Wikipedia / CC BY-SA 3.0

Dengan mengikuti pendidikan Barat, golongan terpelajar ini mengenal ide-ide politik Barat tentang kebebasan dan demokrasi. Kelompok terpelajar yang berpendidikan ini mulai menyuarakan kebangkitan anti-kolonialisme dan kesadaran nasional melalui media dan gerakan non-fisik. Bahkan, pada dekade 1920-an ke atas, partai politik Indonesia mulai banyak bermunculan. Nah, dari kisah barusan lo sudah bisa menerka-nerka arah perjuangan Indonesia selanjutnya. Namun, ada satu hal yang seringkali dilupakan: peran guru. 

Sejatinya peran guru sangatlah penting dalam meningkatkan kesadaran dan pendidikan rakyat Hindia Belanda saat itu. Sayangnya, ketika berbicara soal perjuangan kemerdekaan, peran guru jarang dibicarakan. Padahal saat itu, guru-guru di Hindia Belanda juga aktif dan tumbuh dengan semangat kebangsaan Indonesia. Hal ini tercermin dengan terbentuknya organisasi perjuangan guru-guru pribumi pada zaman Belanda berdiri tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). Organisasi ini bersifat unitaristik, yang berarti tidak memandang perbedaan ijazah, tempat kerja, kedudukan, agama, suku, golongan, gender, dan asal usul. PGHB kemudian diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) agar lebih mencerminkan semangat kebangsaan Indonesia pada 1932. Barulah pada 25 November 1945, Persatuan Guru Republik Indonesia atau PGRI resmi berdiri. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Guru Nasional.

Ilustrasi Guru Hindia Belanda PGRI Riau
Ilustrasi Guru Hindia Belanda | Dok: PGRI Riau

Sobat Zenius, lo bisa bayangkan kalo seandainya guru-guru di Indonesia atau Hindia Belanda saat itu tidak ikut aktif berperan dalam melangsungkan pendidikan di Indonesia, mungkin golongan terdidik di Indonesia sangat terbatas dan tidak cukup berkembang. Bisa jadi leluhur kita masih terperangkap dengan gerakan perlawanan secara fisik yang bisa memakan banyak korban jiwa. Berkat peran guru dalam pendidikan, para tokoh perjuangan kita mendapatkan pemahaman dan pengetahuan tentang perjuangan kemerdekaan serta kebangkitan nasional sehingga rakyat kita saat itu mulai sadar bahwa mereka harus bersatu sebagai Indonesia dan berjuang tidak hanya dengan peperangan secara fisik saja.

Penutup

Bagaimana sobat zenius, apakah lo ada pertanyaan seputar topik kita kali ini? Atau mungkin lo punya ide untuk artikel selanjutnya? Kalau lo punya pertanyaan maupun pernyataan, jangan ragu buat komen di kolom komentar, oke? Sampai sini dulu artikel kali ini dan sampai jumpa di artikel selanjutnya, ciao!

Referensi

Dinas Pendidikan Kab. Grobondan. (n.d.). SEJARAH HARI KEBANGKITAN NASIONAL. Diakses pada 30 Oktober 2021 dari laman https://disdik.grobogan.go.id/2-uncategorised/138-sejarah-hari-kebangkitan-nasional

PGRI RIAU. (n.d.). SIFAT-SIFAT PGRI. Diakses pada 30 Oktober 2021 dari laman https://www.pgririau.or.id/service/view/2

Zenius. Zenius. (2021). Indonesia Dijajah Ratusan Tahun Oleh Bangsa Eropa, Masa Sih? . Diakses pada 30 Oktober 2021 dari laman https://www.zenius.net/blog/sejarah-penjajahan-belanda-inggris-portugis-indonesia 

Zenius. (2021). Siapa Sultan Hasanuddin yang Dijuluki Ayam Jantan dari Timur? . Diakses pada 30 Oktober 2021 dari laman https://www.zenius.net/blog/siapa-sultan-hasanuddin

Zenius. (2021). Politik Etis, Dari Belanda Untuk Hindia . Diakses pada 30 Oktober 2021 dari laman https://www.zenius.net/blog/isi-politik-etis-adalah-van-deventer

Zenius. (2021). Kupas Tuntas Sistem Tanam Paksa atau Cultuurstelsel . Diakses pada 30 Oktober 2021 dari laman https://www.zenius.net/blog/sistem-tanam-paksa