Pengertian dan jenis jenis argumen zenius education

Mengenal Apa Itu Argumen dengan Jenis-Jenis dan Contohnya

Apa itu rangkaian argumen? Apa aja sih, jenis-jenis argumen? Kali ini, gue akan bahas materi ini lengkap dengan contoh kalimat argumen biar elo lebih mudah memahaminya. Let’s go!

Sobat Zenius, elo aktif nggak sih, dalam bermedia sosial? Kalau iya, elo berkelana di dunia per-Twitter-an juga nggak, kayak gue? Yah, sebenarnya nggak cuma di situ, sih. Sering kali di kolom komentar platform lain seperti Instagram hingga TikTok, elo nemu aja tuh, orang-orang yang sedang ‘beradu argumen’.

gambar seseorang sedang menuliskan argumen di sosial media Zenius Education
Adu argumen sering ditemukan di media sosial. (Dok. Pixabay)

Eh, tapi nih, emangnya argumen itu yang seperti apa, sih? Apakah kalau lihat orang lagi berantem pakai kata-kata gitu bisa langsung kita sebut adu argumen? Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, kita gali lebih dalam tentang argumen, yuk!

Baca Juga: Paragraf Argumentasi – Paragraf untuk Sampaikan Argumenmu

Definisi Argumen

Misalnya nih, elo lihat ada dua orang lagi ngobrol. Buat contoh, gue mau beri dua orang ini nama Zeno dan Boto ya.

Contoh 1

Zeno : “Lagu-lagunya Pamungkas memang paling bagus sih, dari jajaran musisi Indonesia lainnya.”

Boto : “Nggak, lah! Bagusan lagu-lagunya Tulus, tau!”

Menurut elo, yang dilakukan oleh Zeno dan Boto ini udah bisa disebut dengan adu argumen, belum? Apa iya pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh masing-masing dari mereka itu udah bisa disebut sebagai rangkaian argumen? Jawabannya disimpan dulu ya, kita lihat contoh berikutnya.

Contoh 2

Zeno : “Lagu-lagu yang dirilis sama Pamungkas liriknya penuh makna banget. Udah gitu, lagunya dia nggak cuma pakai Bahasa Indonesia tapi juga Bahasa Inggris. Makanya lagu-lagunya Pamungkas memang paling bagus sih, dari jajaran musisi Indonesia lainnya.”

Boto : “Nggak, lah! Bagusan lagu-lagunya Tulus, tau! Lirik lagunya Tulus lebih puitis, maknanya nggak disampaikan secara eksplisit gitu. Terus, meskipun lagu-lagunya cuma dalam Bahasa Indonesia, dia bener-bener explore dan pakai kosakata bahasa kita yang beragam banget itu!”

Nah, kalau contoh yang kedua ini gimana, udah bisa disebut argumen belum?

ilustrasi dua orang sedang beradu argumen zenius education
Dalam sebuah debat, orang-orang yang terlibat saling melontarkan argumen. (Dok. Pixabay)

Oke, sekarang kita ulas dulu, apa itu argumen? Argumen artinya kumpulan pernyataan yang terdiri atas klaim/kesimpulan dan premis pendukung. Klaim atau kesimpulan ini mencerminkan pendapat dari seseorang, sedangkan premis pendukung berisi informasi-informasi tambahan yang bisa memperkuat klaim yang telah dibuat.

Perlu diingat, pendapat dan argumen itu berbeda. Perbedaan pendapat dan argumen bisa dilihat dari strukturnya. Kalau pendapat, yaudah elo cuma menyampaikan sebuah klaim mengenai suatu hal aja. Tapi kalau argumen, nggak cukup sekadar menyampaikan pendapat–harus ada ‘bukti’ yang menopang argumen elo itu.

Jadi dari contoh 1 dan contoh 2 tadi, mana yang merupakan argumen? Yup, contoh 2 merupakan argumen karena mengandung klaim dan juga premis pendukungnya.

Klaimnya ada “lagu-lagu Pamungkas paling bagus” dan “bagusan lagu-lagunya Tulus”. Tapi, sesuai dengan tujuan argumen, yaitu untuk meyakinkan orang-orang untuk menyetujui pendapat elo, makanya Zeno dan Boto nambahin beberapa premis tentang makna dan bahasa dalam lagu-lagu dari kedua musisi itu.

Sedangkan, contoh 1 hanya Zeno dan Boto yang saling menyampaikan klaim/pendapat tapi nggak menyertakan pendukungnya, jadi nggak bisa disebut argumen.

Baca Juga: Suka Debat? Yuk, Kenali Konsep, Unsur, dan Strukturnya!

Jenis-Jenis Argumen

Secara umum dan secara spesifik, argumen bisa dibagi dalam beberapa jenis. Kali ini, gue akan jelaskan beberapa di antaranya.

Secara umum, argumen terbagi atas antara lain argumen deduktif dan argumen induktif. Seperti apa sih, masing-masing jenis argumen ini?

Argumen deduktif adalah argumen yang kalau benar, akan menyertakan bukti-bukti yang konklusif untuk mendukung kebenaran klaimnya. Karena premisnya kuat, jadi klaim yang disampaikan setelah premis disampaikan bukan lagi sebuah kemungkinan, melainkan kepastian.

Gue punya satu contoh yang mungkin pernah elo lihat lewat di TL atau mungkin di mana gitu. Coba simak, ya!

“Semua manusia fana.
Socrates adalah manusia.
Maka dari itu, Socrates adalah manusia.”

Dua kalimat pertama pada contoh di atas adalah premis-premis yang mendukung klaim yang terletak di kalimat terakhir. Pada argumen deduktif, klaimnya nggak mungkin bener kalau premisnya nggak bener. Makanya, ada juga argumen yang bisa disebut nggak valid secara deduktif.

Kalau begini kasusnya, maka elo bisa pakai argumen induktif. Argumen ini memasukkan premis-premis yang kalau benar, bisa membuktikan kebenaran dari klaimnya. Lho, terus bedanya apa dong, sama yang deduktif tadi?

Bedanya, di sini masih ada kemungkinan buat argumen itu terbukti benar atau salah. Dalam argumen induktif, klaim yang disimpulkan cuma sebuah perkiraan yang belum diketahui kepastiannya.

Makanya dalam menarik kesimpulan argumen ini, perlu dilakukan pengamatan dan observasi terhadap premis-premis yang disediakan. Contohnya:

“Selama ini aku memperhatikan banyak orang yang berbahu bidang dan punya postur tubuh tinggi itu profesinya atlet renang. Jadi, aku menyimpulkan kalau semua orang berbahu bidang dan tinggi adalah atlet renang.”

Dengan premis mengenai bentuk tubuh, argumen di atas menyatakan klaim yang kemungkinan benar bahwa semua orang dengan tubuh demikian merupakan atlet renang.

Berikutnya, argumen secara spesifik bisa dibagi berdasarkan topiknya, misalnya argumen ontologi dan argumen politik.

Singkatnya, argumen ontologi adalah argumen yang menyimpulkan kalau Tuhan itu ada, dengan menarik premis-premis penting, analitis, dan apriori. Apriori itu maksudnya gimana sih? Apriori itu maksudnya pengetahuan yang tidak didasari oleh pengalaman tertentu.

Kalau argumen politik gue yakin elo pasti langsung tahu dan udah sering lihat juga ya, nggak hanya di TV tapi juga media sosial yang elo pakai sehari-hari. Argumen politik biasanya menawarkan serangkaian alasan untuk melakukan sebuah solusi untuk berbagai permasalahan politik.

Sebenarnya, masih ada banyak jenis argumen lainnya yang bisa elo explore lagi, tapi kali ini gue hanya bahas empat itu dulu, ya!

Contoh Kalimat Argumen

Biar pemahaman tentang argumen elo makin mantap nih, kita telaah lagi beberapa contoh kalimat argumen lainnya, yuk!

Coba lihat contoh-contoh rangkaian argumen berikut ini:

Contoh 1

Para orang tua murid mulai sibuk menggali informasi tentang sekolah-sekolah menengah atas bagi anak-anaknya (1). Di antara sekolah-sekolah yang ada di kota ini, SMA ABC adalah salah satu pilihan terbaik untuk calon lulusan SMP tahun ini (2). Guru-guru di sekolah tersebut dipastikan sudah melewati sertifikasi guru dan selalu diikutkan program pengembangan demi kualitas pengajaran terbaik (3). Ekstrakurikuler yang ditawarkan sekolah ini pun beragam, mencakup berbagai minat dan bakat (4). Selain itu, lulusan dari sekolah tersebut rata-rata melanjutkan pendidikan ke universitas-universitas ternama di seluruh dunia (5).

Setelah menyimak contoh di atas, menurut elo kalimat yang menunjukkan letak bagian argumen muncul pada nomor berapa?

Jawabannya adalah nomor 2-5 dengan nomor 2 sebagai klaimnya dan 3-5 sebagai pernyataan pendukungnya.

Lho,  terus nomor 1 gimana dong? Dalam kutipan di atas, nomor 1 hanya berperan sebagai pembukaan ya, jadi tidak termasuk dalam bagian argumennya.

Contoh 2

Sebentar lagi, Justin Bieber akan mengadakan konser di Indonesia setelah sekian lama ditunggu-tunggu oleh para penggemarnya (1). Pemilihan lokasi konser di Stadion Madya Gelora Bung Karno kurang bagus (2). Kapasitas stadion tersebut terlalu kecil, yaitu 20 ribu orang (3). Padahal, jumlah peminat konser tersebut sangatlah besar, melihat antusiasme para penggemar di internet (4). Banyak dari mereka yang mengekspresikan kecemasan akan tidak kebagian tiket (5).

Untuk contoh ini, argumen juga dimulai dari kalimat nomor 2 yang merupakan klaim, disusul dengan pernyataan-pernyataan pendukung dari nomor 3 hingga 5.

Gampang, kan, menentukan mana yang merupakan argumen? Memang kuncinya, elo harus udah paham dulu apa aja isi dari sebuah argumen.

Elo bisa nonton video yang membahas analisis contoh-contoh argumen lainnya dengan klik banner di bawah ini!

CTA video materi belajar zenius bahasa indonesia

Penutup dan Contoh Soal

Ilustrasi bubur ayam zenius education
Elo tim bubur diaduk atau nggak diaduk, nih? (Dok. Wikimedia Commons)

Argumen bisa muncul dalam berbagai situasi. Mulai dari hal sederhana, kayak perdebatan antara bubur diaduk vs bubur nggak diaduk yang sempat memecah belah persatuan netizen. Sampai kalangan ilmuwan pun nggak terlepas dari yang namanya saling adu argumen, semisal terkait isu-isu terhangat.

Setelah selesai membaca artikel ini, gue yakin elo udah lebih paham tentang apa itu argumen, jenis-jenis argumen, dan seperti apa contohnya.

Sekarang, cobain latihan soal berikut ini yuk, sebagai bahan review!

  1. Simak pendapat dan argumen dalam teks upaya pelestarian lingkungan hidup berikut ini!

    Ada berbagai permasalahan yang tengah dihadapi oleh dunia (1). Pemanasan global adalah salah satu yang seharusnya lebih diperhatikan oleh pemerintah negara-negara di seluruh dunia (2). Dampak pemanasan global sudah begitu banyak dirasakan (3). Es di kutub-kutub mulai mencair, hingga permukaan laut semakin naik (4). Di beberapa titik juga telah terjadi kebakaran hutan (5). Pemanasan global juga menimbulkan kerusakan pada ekosistem laut (6).

    Klaim pada contoh teks argumen di atas terdapat pada kalimat nomor ….
    A. (1)
    B. (2)
    C. (3)
    D. (4)
    E. (5)
  2. Ada banyak perdebatan mengenai baik-buruknya pekerjaan rumah (PR) bagi para murid. Memberi PR merupakan hal yang bagus sekali. Dengan mengerjakan PR, para murid bisa mengulas kembali apa yang telah mereka pelajari di sekolah. Di samping itu, PR juga melatih murid untuk bisa mengelola waktu dengan baik.

    Contoh rangkaian argumen yang bisa melawan argumen di atas adalah….
    A. Memberi PR pada murid wajib dilakukan oleh seorang guru.
    B. Memberi PR pada murid sebenarnya tidak begitu efektif bagi para murid.
    C. Memberi PR pada murid sebenarnya tidak begitu efektif bagi para murid. Tidak semua murid punya kondisi rumah yang membuat mereka nyaman dan punya waktu untuk mengulas kembali pelajaran.
    D. Memberi PR pada murid tidak boleh dilakukan.
    E. Perdebatan mengenai baik-buruknya PR bagi para murid terus berlanjut.

Pembahasan:

  1. Jawaban: B. Pada kalimat nomor (2) terdapat klaim yang mencerminkan pendapat mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh para pemerintah di seluruh dunia. Klaim tersebut kemudian diikuti oleh beberapa premis pendukung.
  2. Jawaban: C. Kutipan pada pilihan C tersusun atas klaim dan juga premis pendukung yang melawan argumen sebelumnya.

Sekian dulu untuk artikel kali ini, jangan lupa baca artikel TPS penalaran umum lainnya di blog Zenius, ya!

Baca Juga: Cara Berpikir Logis yang Benar Biar Belajar UTBK Lebih Efektif

Referensi

Deductive and Inductive Arguments – philosophy.lander.edu
Ontological Arguments – Stanford Encyclopedia of Philosophy (2019)
An Interpretation of Political Argument – William Bosworth (2016)

Bagikan Artikel Ini!