vaksin covid-19

2 Alasan Vaksin COVID-19 Bisa Cepat Dibuat, Aman Gak Ya?

Pfizer-BioNtech jadi vaksin COVID-19 pertama yang dapet izin penggunaan dari WHO. Vaksin buatan produsen obat asal AS-Pfizer dan Jerman-BioNTech ini cuma butuh waktu kurang dari setahun mulai dari pembuatan, uji klinis, sampai siap launching.

Terhitung udah jalan satu bulan nih program vaksin COVID-19 untuk masyarakat umum. Ada gak dari kalian yang sampai sekarang belum disuntik vaksin?

Siapa nih yang belum vaksin?

View Results

Loading ... Loading ...

Kalau belum dapat jatah vaksin COVID-19 sampai sekarang, kalian gak sendirian! Menurut catatan Our World in Data per 29 Juli 2021, baru 7,4% penduduk Indonesia yang udah disuntik vaksin. Padahal, buat mencapai herd immunity atau kekebalan komunitas, perlu vaksinasi sebanyak 70% warga.

vaksin COVID-19
Jumlah penduduk Indonesia yang sudah divaksin COVID-19 per 29 Juli 2021 (Sumber: Our World in Data)

Angka ini yang setidak-tidaknya harus dicapai kalau ingin kekebalan komunitas terbentuk. Vaksinasi memang punya manfaat yang unik banget. Vaksin gak cuma melindungi individual yang divaksinasi, tetapi juga melindungi masyarakat di sekitarnya. Ini yang disebut dengan kekebalan komunitas. Bahasan soal itu udah pernah dikupas tuntas sama Thomas Chaidir lewat tulisannya di Zen Blog berjudul “Bagaimana Vaksin Menyelamatkan Jutaan Nyawa Manusia“.

Nah, kenapa sih kok masih banyak orang yang belum vaksin COVID-19? Selain karena masih nunggu antrian, ada gak alasan lain yang pernah kalian denger? Mungkin ada temen, keluarga, atau orang-orang di sekitar yang justru menolak vaksin COVID-19? Coba kita cek ya hasil survei Lembaga Survei Indonesia yang rilis pada 18 Juli 2021. Dari 1.200 responden, 36,4% di antaranya gak bersedia ikut program vaksin COVID-19. Alasan mereka menolak vaksin bisa kalian liat di gambar berikut.

vaksin covid-19 indonesia

Kalau lihat datanya, ternyata masih ada juga yang kemakan teori konspirasi, hoaks, atau apalah itu seputar vaksin COVID-19. Dari riset Center for Digital Society Universitas Gadjah Mada (CfDS UGM) pada Februari 2021, menemukan salah satu teori konspirasi yang paling banyak dipercaya adalah perusahaan farmasi berada di balik merebaknya pandemi COVID-19. Soal ini udah pernah aku bahas di tulisan sebelumnya ya: “Vaksin COVID-19 Cuma Akal-akalan Pembuat Vaksin, Bener Gak Sih?“.

Buat memahami beragam penolakan terhadap vaksin COVID-19, kita bisa mulai menelusuri timeline pembuatan vaksin COVID-19 pertama. Menurut informasi di laman situs Organisasi Kesehatan Dunia (WHO/World Health Organization) pada 31 Desember 2020, vaksin Pfizer-BioNTech jadi vaksin COVID-19 pertama yang dapat izin penggunaan darurat. Artinya, vaksin ini udah dapat sertifikasi keamanan dan efikasi dalam waktu satu tahun sejak kasus positif pertama terdeteksi di Wuhan, China. Cepet gak tuh? Cepet banget lah!

Sepanjang sejarah, rata-rata vaksin bisa dibuat dalam waktu 2 – 5 tahun. Tentu, selain mengukir sejarah, adanya vaksin COVID-19 dalam waktu singkat, buat sebagian orang bisa diartikan lain, kesannya kan bim salabim banget. Masih inget wabah SARS? Meskipun pernah menyebabkan outbreak juga tahun 2002, sampai sekarang belum ada vaksin SARS. Sama kayak MERS yang muncul 2012, belum ada vaksinnya juga. Padahal dalang COVID-19, SARS, dan MERS, sama-sama virus corona. Dalam taksonomi virus, virus corona berada di dalam famili Coronaviridae.

Virus corona SARS-CoV-1 -> SARS, virus SARS-CoV-2 -> COVID-19, virus MERS-CoV -> MERS.

Tulisan ini akan berbagi insight dari hasil riset ke beberapa sumber, termasuk hasil obrolan dengan pakar biologi molekuler, Ahmad Rusjdan Utomo, Ph.D. Alumni Harvard Medical School ini punya spesialisasi penelitian di bidang virus, kanker, dan imunologi. Ada setidaknya tiga poin penting yang perlu kita tahu terkait alasan vaksin COVID-19 bisa cepat dibuat. Yuk, kita kupas satu per satu ya.

Alasan Vaksin COVID-19 bisa jadi dalam 1 tahun

Virus penyebab COVID-19 bukan virus “alien”

Ilmuwan udah 17 tahun meneliti virus corona dari pengalaman wabah SARS pada 2002 dan MERS pada 2012. Jadi, virus corona bukan virus alien. Banyak karakteristik virus corona yang udah dipelajari dan sangat membantu ilmuwan memahami virus corona SARS-CoV-2, dalang penyakit COVID-19. Jadi waktu virus ini muncul 2019, ilmuwan gak “buta-buta” amat. Makanya waktu awal pandemi di Wuhan, mereka sering nyebut virus SARS-CoV-2 dengan istilah-istilah “virus corona tapi bukan SARS-CoV-1” atau “penyakit infeksi pernapasan misterius”.

Sebutan-sebutan itu berasal dari kemiripan virus penyebab COVID-19 dengan yang pernah menyebabkan wabah SARS pada 2002 silam. Dari bentuk protein spike atau paku proteinnya sampai gejala yang ditimbulkan. Jadi ketika muncul COVID-19, China udah punya intuisi, “Coba dicek nih, jangan-jangan mirip SARS”. Waktu dicek kode genetiknya, ternyata dugaan mereka bener. Ketemu tuh sekuens genomnya SARS-CoV-2, begitu di-compare sama SARS-CoV-1, mereka memang nyaris identik, perbedaannya cuma sekitar 20%. Apa sih sekuens genom itu? Ini yang bakal jadi alasan kedua, termasuk bagian terpenting dari pembuatan vaksin COVID-19.

virus SARS-CoV-2 zenius
Virus SARS-CoV-2 (Sumber: AustroHungarian1867 via Wikimedia Commons)

Sekuens genom virus SARS-CoV-2 

Bagian penting virus SARS-CoV-2 adalah protein spike-nya, atau biasa juga disebut dengan paku protein. Protein spike ini harus ketemu sama protein manusia yang namanya Angiotensin converting enzyme 2 atau ACE2, baru bisa terjadi infeksi. Buat bikin vaksin COVID-19, kode genetik dari paku protein virus jadi bahan baku penting.

Untungnya, ilmuwan China cepat tanggap merilis data sekuens genom SARS-CoV-2 pada pertengahan Januari 2020, beberapa minggu setelah kasus positif pertama. Data yang mengurai peta genetik SARS-CoV-2 itu diunggah secara online di sejumlah situs open access, salah satunya virological.org.

Begitu sekuens genomnya ketemu, semua laboratorium di dunia berlomba-lomba mendesain vaksin COVID-19. Bukan dalam artian saingan berbisnis vaksin ya, perlu dicatet nih. Di kondisi pandemi, di mana penularan virus sangat cepat, memang gak ada pilihan lain selain buru-buru cari vaksin penangkal virusnya.

Nah, sekuens genom ini paling dibutuhkan peneliti yang membuat vaksin dengan teknologi rekayasa genetika seperti untuk merek Pfizer-BioNTech dan Moderna. Untuk membuat vaksin-vaksin ini, ilmuwannya meng-engineer si protein spike virus. Bentuknya ada yang diubah-ubah, ada beberapa asam amino yang diutak-atik supaya lebih bisa dikenali sistem imun.

Khusus buatan AstraZeneca, vaksin COVID-19 menggunakan adenovirus dari simpanse. Peneliti cuma ngambil bagian kode genetik protein spike virus dari sekuens genom, terus ditempelin ke si adenovirus ini. Adenovirus dipilih sebagai kendaraan protein virus masuk ke sel tubuh manusia. Fungsinya cuma nganter si protein spike ke sistem imun, buat kasih info “Ini lho ciri-ciri virus SARS-CoV-2, begini bentuk lekukan proteinnya, next time ketemu yang begini, langsung serang!” Informasi itu yang bakal disimpan dalam memori sistem imun sebagai antibodi.

2 Alasan Vaksin COVID-19 Bisa Cepat Dibuat, Aman Gak Ya? 9

Beda dengan vaksin COVID-19 merek Pfizer-BioNTech dan Moderna yang basisnya mRNA. Teknologi ini sangat dielu-elukan. Sebagaimana dikutip dari situs Harvard Health Publishing, vaksin mRNA bisa memicu jenis kekebalan yang lebih kuat dibanding vaksin tradisional (inactivated vaccine) dan bisa menghasilkan sel pembunuh, double kill buat virusnya.

Hanya sekitar 11 bulan penelitian, regulator di Inggris dan AS mengonfirmasi bahwa vaksin mRNA untuk COVID-19 efektif dan aman. Kenapa sih kok bisa cepet banget? Kita harus kenalan dulu sama dua ilmuwan BioNTech asal Jerman, Ugur Sahin dan Özlem Türeci. Mereka ini suami-istri dan udah lama meneliti vaksin mRNA buat penyakit kanker kulit. Jadi memang udah punya backbone buat bikin vaksin mRNA. Buat manfaatin backbone yang udah mereka punya, mereka tinggal memasukkan urutan mRNA virus SARS-CoV-2 ke situ. Di sini, sekuens genom jadi kuncinya.

Tau gak berapa lama waktu dari mereka mengunduh sekuens genom sampai dapet prototype vaksinnya? Tiga minggu. Makanya mereka bisa langsung tes ke hewan bulan berikutnya. Setelah diuji, ternyata vaksin menunjukkan hewan terproteksi dari virus. Setelahnya lanjut uji klinis ke manusia. Logis banget kan kenapa vaksinnya udah siap kurang dari setahun?

Sedangkan untuk Sinovac dan Sinopharm, cara kerjanya sama kayak vaksin polio, campak, dan rabies. Vaksin mengandung virus utuh yang udah dirusak dengan cairan kimia, tapi tetep ampuh memicu produksi antibodi. Inactivated vaccine punya keunggulan utama, dapat disimpan di lemari pendingin standar pada suhu 2 – 8 derajat Celsius. Sebaliknya, vaksin Moderna harus disimpan pada suhu -20 derajat Celsius dan vaksin Pfizer pada suhu -70 derajat Celsius. Buat negara-negara yang gak punya fasilitas penyimpanan yang memadai, inactivated vaccine sangat ideal.

Tiap merek pasti punya keunggulannya masing-masing. Tapi, jangan pilih-pilih vaksin ya! Saat ini, vaksin COVID-19 terbaik buat kamu adalah yang tersedia. Sebelum dapat izin penggunaan, semua vaksin pasti melewati tahap-tahapan untuk menguji keamanannya kok. So, kalau kalian udah dapat jatah vaksin, ambil ya jangan ragu! Stok vaksin saat ini terbatas, kalau kamu lihat berita orang-orang berjubel ngantri vaksin tapi tetep ada yang gak kebagian, memang begitu faktanya di lapangan.

Kalau belum dapat jatah juga sampai sekarang, tetap disiplin 5M: memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, mengurangi mobilitas, dan menjauhi kerumunan. Stay safe and be healthy! 

Bagikan Artikel Ini!