Mengenal Kesalahan Logika Beban Pembuktian 25

Mengenal Kesalahan Logika Beban Pembuktian

Bayangin misalnya, lo lagi asik nongkrong sama temen-temen di kafe, dan membicarakan tentang hal-hal menarik. Pada suatu saat, ada salah satu kawan lo yang menceritakan pengalaman uniknya ketika tengah berjalan-jalan di luar negeri bersama keluarganya.

“Eh tau ga?”, ujar salah satu teman lo “Gue tiga bulan lalu pergi ke Thailand sama bokap dan nyokap, dan di sana gue ngalamin pengalaman aneh banget. Waktu jalan-jalan ke kebun binatang di Bangkok, gue ngeliat ada gajah warnanya hijau, kayak warna daun! Warnanya asli, lho!”

Gajah berwarna hijau merupakan sesuatu yang sangat aneh buat lo, dan lo pun hampir ga bisa percaya dengan kawan lo tersebut. Lo pun menjawab “Ah masa sih ada gajah warnanya hijau? Lu ada fotonya ga?”

“Gue ga foto gajahnya”, jawab temen lo itu. “Tapi beneran gue lihat pake mata gue sendiri gajahnya di Thailand. Warnanya beneran hijau!”

“Ya kalau ga ada fotonya gimana ya, gue masih belom bisa percaya. Aneh banget ada gajah warna hijau. Gue seumur-umur ga pernah lihat” ujar lo lagi.

Terus, setelah lo bilang gitu, temen lu jawab lagi, “Beneran gue ga boong kok! Oke gue emang ga punya fotonya. Tapi lo sendiri ga bisa kan buktiin kalau yang gue bilang itu salah? Coba lo buktiin kalau gajah warna hijau di Thailand itu ga ada!”

Mungkin sebagian dari lo pernah mengalami pembicaraan yang serupa, baik dengan keluarga, teman-teman, atau mungkin dengan orang asing melalui media sosial. Mereka membuat suatu klaim yang bombastis, tapi mereka sendiri tidak bisa memberikan bukti atas klaim tersebut. Dan ketika lo atau ada orang yang berupaya menyanggah klaim yang dibuat, dia malah marah dan justru menyuruh lo yang membuktikan kalau klaim yang dia buat ga sesuai dengan fakta.

Inilah salah satu bentuk kesalahan logika yang dikenal dengan nama burden of proof fallacy, atau kesalahan logika beban pembuktian. Dalam kesalahan logika tersebut, beban pembuktian untuk membuktikan suatu klaim yang dibuat, bukannya dijatuhkan kepada yang membuat klaim, namun justru jatuh kepada orang yang meragukan klaim tersebut. Mereka yang meragukan klaim tersebut lah yang harus membuktikan kalau klaim itu salah. Bila yang meragukan klaim tersebut tidak bisa membuktikan kalau klaim itu salah, maka itu menjadi “bukti” kalau klaim tersebut adalah benar.

Pembahasan mengenai burden of proof fallacy ini, atau kesalahan logika beban pembuktian, sebenarnya bukanlah topik bahasan yang sama sekali baru. Sudah lama, para filsuf dan ilmuwan membahas mengenai topik tersebut di dalam berbagai buku atau karya yang mereka tulis.

Nah, salah satu filsuf yang membahas mengenai topik tersebut adalah filsuf ternama asal Inggris bernama Bertrand Russell (1872 – 1970). Russell membuat analogi yang dikenal dengan nama “Teko Russel” (Russell’s Teapot). Dalam analogi tersebut, Russell menulis bahwa dia mengklaim kalau di antara Bumi dan Mars ada sebuah teko yang berputar mengelilingi matahari. Ketika ada orang yang ingin melihat teko tersebut melalui teleskop, ia mengatakan bahwa teko tersebut merupakan teko yang sangat kecil, dan tidak bisa dilihat bahkan oleh teleskop yang paling kuat sekalipun.

Mengenal Kesalahan Logika Beban Pembuktian 26

Bertrand Russell (sumber gambar: wikipedia)

Dengan demikian, tidak ada orang yang bisa membuktikan bahwa klaim Russell tersebut salah. Tidak ada yang bisa menyediakan bukti kalau tidak ada sebuah teko yang mengorbit matahari yang terletak di antara orbit Bumi dan Mars. Tetapi, tulis Russell, karena klaim tersebut tidak bisa dibantah, maka klaim tersebut merupakan sesuatu yang tidak bisa diterima oleh nalar, dan klaim tersebut tidak lebih dari omong kosong belaka.

Contoh lainnya adalah ilustrasi yang ditulis oleh astronom kenamaan asal Amerika Serikat, Carl Sagan (1934 – 1996). Lo yang punya hobi membaca atau menonton dokumenter sains populer pasti sangat mengenal tokoh tersebut. Sagan membuat serial dokumenter sains populer yang bernama “Cosmos”, yang membahas mengenai alam semesta, seperti big bang dan evolusi makhluk hidup. Serial tersebut merupakan salah satu serial yang paling banyak ditonton sepanjang masa. Resensi dari serial dokumenter tersebut bisa dilihat di Zenius blog melalui tautan artikel berikut.

Mengenal Kesalahan Logika Beban Pembuktian 27

Carl Sagan (Sumber gambar: brainpickings.org)

Dalam bukunya, “The Demon-Haunted World”, Sagan menulis ilustrasi bahwa ia mengklaim memiliki seekor naga yang dapat mengeluarkan api di dalam garasinya. Sagan pun lantas mengundang orang-orang untuk menyaksikan naga tersebut.

Setelah orang-orang sampai di garasi Sagan, mereka tidak dapat melihat naga tersebut. Sagan mengatakan bahwa naga yang dimilikinya tidak dapat dilihat. Salah seorang pengunjung lantas mengusulkan untuk mengobservasi apakah ada jejak dari naga tersebut di lantai garasi. Namun, Sagan kembali menyanggah bahwa naga tersebut melayang di udara dan tidak berpijak di lantai.

Pengunjung lainnya lantas ingin menggunakan kamera infra-red untuk mengecek api yang dikeluarkan oleh naga tersebut. Sagan lantas kembali menjawab bahwa api yang dikeluarkan naga tersebut tidak memiliki panas, dan maka dari itu tidak bisa dicek dengan menggunakan kamera infra-red. Begitu seterusnya, dan setiap upaya dari pengunjung untuk membuktikan keberadaan naga tersebut, Sagan terus membantah.

Dalam ilustrasi di atas, Sagan menulis bahwa, tidak ada bedanya dari naga yang tidak bisa diobservasi melalui metode saintifik dengan ketiadaan dari naga tersebut. Ketidakmampuan para pengunjung tersebut untuk membuktikan kalau naga tersebut “tidak ada”, tidak bisa menjadi bukti keberadaan naga tersebut. Atau, dengan kata lain, bila Sagan ingin membuktikan keberadaan naga tersebut kepada orang-orang yang mengunjungi garasinya, maka dia lah yang harus menunjukkan bukti mengenai adanya naga tersebut, yang dapat diobservasi dan diteliti secara ilmiah.

Untuk itu, sangat penting bagi kita untuk menghindari kesalahan logika tersebut. Bila kesalahan berpikir ini dianggap merupakan sesuatu yang normal, dan diyakini sebagai proses berpikir yang benar oleh banyak orang, tentunya hal ini menjadi sesuatu yang sangat berbahaya. Setiap orang lantas bisa dengan bebas membuat klaim tanpa dibebani keharusan untuk menyediakan bukti apapun. Dengan demikian, maka kita tidak akan lagi bisa membedakan mana fakta yang benar-benar terjadi dan klaim semata yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya.

Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Carl Sagan, “Extraordinary claims, require extraordinary evidence.