Perbedaan Homonim, Homofon, Homograf dan Polisemi

homonim, homofon, homograf, dan polisemi

Sobat Zenius pernah nggak, sih, menemukan kata yang sama, tetapi makna atau pelafalannya berbeda. Nah, sebenarnya hal tersebut termasuk ke dalam materi homonim, homofon, homograf, dan polisemi.

Salah satu contoh yang mungkin belum elo sadari kalau kata itu sama, tetapi maknanya bisa berbeda yaitu daun. Kata daun ini mempunyai banyak makna, lho.

Maknanya bisa daun yang menempel di pohon, daun pintu, daun telinga, atau bahkan naik daun. Masing-masing memiliki makna yang berbeda, kan? Akan tetapi, ejaan dan pelafalan hurufnya sama.

Selain daun, masih ada lagi, lho, kata yang sama tetapi maknanya berbeda. Nah, kata tersebut biasanya disebut sebagai homonim, homofon, homograf, dan polisemi.

Lantas, apa yang membedakan keempat istilah tersebut? Untuk meredam rasa penasaran Sobat Zenius, gue akan menjelaskannya satu persatu beserta masing-masing contohnya.

Yuk, disimak bersama-sama!

Pengertian Homonim

homonim
Ilustrasi orang sedang menulis kata (Dok. Pixabay)

Bahasa memang berperan penting dalam kehidupan manusia. Dengan adanya bahasa, kita jadi bisa berinteraksi dan berkomunikasi.

Bahasa juga ada beragam, ada yang makna, pelafalan dan ejaannya sama, dan ada juga yang berbeda. Nah, salah satu ragamnya ada homonim.

Kalau secara etimologi, homonim berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu anoma yang berarti nama dan homo yang berarti sama.

Homonim adalah kata yang memiliki makna lebih dari satu, namun pelafalan dan ejaannya sama.

Salah satu kata yang mengandung makna homonim adalah “genting”. Kata tersebut ternyata memiliki arti ganda lho, guys

Ada genting yang artinya keadaan berbahaya atau tegang, dan genting sebagai tutup atap rumah. Coba deh elo lihat perbedaan dan persamaan dari kedua kalimat di bawah ini:

  1. Keadaan semakin genting setelah Kinan mengetahui kebenarannya.
  2. Kemarin hujan deras dan genting rumah Amir bocor, sehingga ruang tamu menjadi banjir.

Nah, dari kedua kalimat di atas, jelas kita melihat bahwa keduanya memiliki arti atau makna yang berbeda.

Namun, ejaan dan pelafalan keduanya sama, betul apa betul? Oh iya, selain kata genting, masih banyak juga lho contoh kata lainnya.

cta banner donwload apps zenius

Download Aplikasi Zenius

Fokus UTBK untuk kejar kampus impian? Persiapin diri elo lewat pembahasan video materi, ribuan contoh soal, dan kumpulan try out di Zenius!

icon download playstore
icon download appstore
download aplikasi zenius app gallery

Pengertian Homofon

Tadi, kita udah tau pengertian dari homonim itu seperti apa.

Nah, yang kedua ada homofon. Apa ya kira-kira? Kalau secara etimologi, homofon berasal dari kata homo yang artinya sama dan foni yang berarti bunyi atau suara.

Jadi, dapat disimpulkan kalau perbedaan karakter bunyi akan tetapi memiliki penyebutan yang sama disebut dengan homofon.

Meskipun tulisan hurufnya sama, tapi dibacanya sama, berarti kata tersebut termasuk dalam ragam bahasa homofon. 

Berikut ini yang termasuk contoh homofon adalah kata bank dan bang. Perhatikan kalimatnya:

  1. Ibu akan pergi ke bank untuk mengambil uang (bank dalam kalimat ini berarti lembaga keuangan).
  2. Bang Dirga sangat menyukai nasi tutug oncom buatan ibu (bang dalam kalimat ini berarti sebutan untuk kakak laki-laki dalam budaya betawi).

Dari kedua kalimat di atas, kita bisa melihat bahwa ejaan dan makna keduanya berbeda, namun pelafalannya sama, yaitu ‘bang’.

Udah paham kan sampai di sini? Kira-kira elo bisa menyebutkan kata homofon yang lainnya gak selain pelafalan ‘bang’ seperti di atas?

Pengertian Homograf

Selanjutnya, ada yang namanya homograf, yaitu berasal dari bahasa Yunani homos yang artinya sama dan grapho yang artinya tulis.

Suatu kata yang memiliki makna berbeda namun ejaannya sama disebut dengan homograf. Supaya memudahkan elo dalam memahaminya, gue punya contohnya di bawah ini:

  1. Buah apel yang dibeli dari pasar rasanya sangat manis (apel dari kalimat ini berarti jenis buah).
  2. Pak Ahmad terpilih menjadi pemimpin apel pada pagi hari ini (apel dari kalimat ini berarti kumpulan atau upacara).

Dari kedua kalimat di atas terlihat jelas ‘kan kalau kedua kata tersebut memiliki ejaan yang sama, namun penyebutan atau pelafalan dan makna keduanya berbeda.

Kalau elo menemukan kata seperti pada contoh di atas, berarti kata tersebut termasuk dalam ragam homograf.

Pengertian Polisemi

Terakhir, ada yang namanya polisemi. Dari namanya aja kita udah terbayang ya ada kata poli yang berarti banyak dan semi yang berarti makna.

Yap, polisemi adalah kata yang maknanya berbeda dan ada banyak, namun masih ada hubungan antara makna-makna yang berlainan tersebut.

Nah, menurut Aminudin, seorang penulis buku Semantik Pengantar Studi tentang Makna tahun 2008, bahwa antara polisemi dan homonim ternyata keduanya memiliki hubungan yang erat.

Hal itu dikarenakan polisemi bisa menjadi penyebab munculnya homonim, begitupun sebaliknya.

Dilansir dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud, polisemi memiliki makna yang lebih dari satu, karena adanya beberapa konsep dalam pemaknaan suatu kata.

Elo bisa perhatikan kedua kalimat di bawah ini:

  1. Akar pohon di halaman rumahku hampir merusak bangunan (akar dalam kalimat ini berarti bagian tumbuhan yang tertanam di dalam tanah).
  2. Kita harus mencari tahu akar permasalahannya sebelum membuat keputusan (akar dalam kalimat ini berarti pangkal atau asal mula).
  3. Aku menunggu Johan di depan rumahnya sampai berakar, lama sekali (akar dalam kalimat ini berarti kaku).

Dari ketiga kalimat di atas, elo udah paham kan polisemi itu seperti apa? Yap, memang hampir mirip dengan jenis yang pertama.

Kalau masih bingung, coba deh elo pahami lagi pengertian dari keduanya.

Contoh Kata Homonim, Homofon, Homograf dan Polisemi

Setelah elo tahu pengertian dan contoh dari keempat ragam bahasa di atas, gue bakal ngasih contoh-contoh lainnya di sini. Perhatikan tabel di bawah ini ya!

homonim, homofon, homograf, dan polisemi
Contoh homonim, homofon, homograf, dan polisemi (Dok. Arsip Zenius)

Nah, itu dia penjelasan dari homonim, homofon, homograf, dan polisemi beserta masing-masing contohnya. 

Wah, ternyata bahasa itu sangat luas ya, guys. Ada banyak sekali ragamnya. Tentu saja ragam tersebut digunakan untuk kemudahan dan keindahan berkomunikasi serta berinteraksi. 

Kalau Sobat Zenius mau belajar lebih dalam lagi mengenai materi di atas, elo bisa banget, nih, dapetin itu semua dari video pembelajaran yang dibawakan oleh tutor Zenius.

Elo tinggal klik banner di bawah ini, lalu ketikkan materi yang ingin elo pelajari. Nggak cuman materi, elo juga bisa, lho, sambil latihan soal-soal!

Perbedaan Homonim, Homofon, Homograf dan Polisemi 9

Baca Juga Artikel Lainnya

Teks Deskripsi
Jenis jenis Frasa
Teks Anekdot

Referensi:

https://badanbahasa.kemdikbud.go.id/

Originally published: April 13, 2021
Updated by: Maulana Adieb

Bagikan Artikel Ini!