5 Cara Melatih Logika Berpikir Supaya Lolos Tes Logika Penalaran

Cara Melatih Logika Berpikir Lolos Tes Logika Penalaran Zenius Education

Sobat Zenius, elo tentu sudah tahu kan kutipan Rene Descartes yang menyatakan “Cogito Ergo Sum” yang artinya Aku Berpikir Maka Aku Ada, kan?

Berpikir adalah suatu kegiatan umum yang dilakukan manusia sehari-hari. Dengan berpikir manusia hidup manusia menjadi lebih terarah.

Sama seperti yang dikatakan oleh filsuf Yunani, Aristoteles, menyebut manusia adalah hewan berpikir (animal rationale).

Tapi tau gak Sobat Zenius kalau logika berpikir manusia itu tidak bersifat final, melainkan dinamis atau bisa ditingkatkan.

Melatih logika sangat penting karena dapat membantu sobat berpikir berdasarkan nalar dalam menentukan keputusan penting, memecahkan masalah, menghasilkan ide-ide kreatif, dan menetapkan tujuan dalam kehidupan. 

Jadi, jika kita berpikir dengan baik, maka hidup kita menjadi lebih terarah. Tapi, berpikir juga harus dilatih lho agar tepat guna.

Ada cara yang bisa digunakan untuk memaksimalkan proses berpikir yaitu dengan cara melatih logika berpikir. 

Mungkin banyak dari Sobat yang bertanya-tanya bagaimana cara melatih logika berpikir itu dan apakah memang ada manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di artikel ini!

Pengertian Logika 

Sebelum masuk lebih lanjut kedalam cara melatih logika berpikir Sobat Zenius lebih dulu harus mengenal dan mengerti mengenai logika. 

Banyak orang yang bilang kalau berpikir dan memutuskan sesuatu harus berdasarkan logika. 

Sebenernya, apakah logika itu?

Istilah logika berasal dari kata Yunani logos yang artinya menjelaskan, argumen atau peraturan. 

Logika pada dasarnya adalah metode penalaran yang melibatkan serangkaian pernyataan, yang masing-masing dari pernyataan itu harus benar jika pernyataan sebelumnya benar.

Dengan kata lain logika adalah studi tentang argumen yang berkaitan dengan hubungan antara premis argumen dan kesimpulan.

Dasar Dasar Logika

Logika yang benar tidak bisa dilakukan begitu saja melainkan harus memenuhi dasar-dasar sehingga argumen atau pernyataan dari seseorang benar-benar bisa disebut berlogika.

Dasar-dasar logika berdiri pada hukum-hukum logika. Hukum ini adalah syarat yang harus dipenuhi dari sebuah argumen agar dapat dinyatakan benar.

Menurut D.Q. McInerny, dalam bukunya Being Logical, ada empat hukum yang menjadi dasar logika yaitu:

  • Hukum Identitas

Artinya segala sesuatu adalah apa adanya. Misalnya A adalah A maka sejatinya A. adalah A=A.

Kalau dimasukan dalam argumen atau pernyataan, jika ada pernyataan yang benar, maka itu benar.

  • Hukum Kontradiksi

Artinya A tidak dapat menjadi A dan bukan A pada saat yang bersamaan. Artinya, suatu pernyataan tidak bisa benar dan salah pada saat yang bersamaan.

Misalnya, tidak mungkin setelah makan Sobat Zenius kenyang dan lapar dalam waktu yang bersamaan.

Hukum ini menjadi dasar logika bahwa sebuah pernyataan hanya bisa mewakili satu arti.

  • Hukum Pengecualian Tengah

Sebuah argument dalam pemikiran yang logis tidak boleh setengah-setengah, dasar logika ini lah yang memenuhi hukum ketiga yaitu hukum pengecualian tengah.

Artinya A adalah A atau bukan A dan A tidak dapat menyamai non-A atau menjadi non-A.

  •   Hukum Akal yang Cukup

Yang terakhir adalah dasar logika yang berkaitan dengan sebab akibat, ini akan memenuhi hukum yang keempat terkait hukum akal yang cukup.

Artinya harus ada alasan yang cukup untuk semua yang terjadi. Misalnya, jika tanah basah, itu pasti karena cairan yang bersentuhan dengannya.

Nah, dasar logika yang bersumber dari keempat hukum ini hanya bisa dimengerti dan dilakukan ketika Sobat Zenius telah memahami cara melatih logika berpikir.

Hubungan Berpikir dan Logika

Nah, sekarang Sobat Zenius udah paham mengenai pengertian logika. Terus apa kira-kira hubungan logika dengan cara berpikir?

Memangnya kalau berpikir tanpa menerapkan logika apa yang akan terjadi? 

Akibatnya, Sobat Zenius bisa mengalami logical fallacy atau sesat pikir merupakan kesalahan dalam sebuah penalaran yang membuat argumen tidak valid.

Gak tanggung-tanggung logical fallacy bisa berdampak buruk untuk kelangsungan hidup baik secara pendek maupun panjang.

Logical fallacy dapat menyebabkan kesalahan dalam pengambilan keputusan yang biasanya didapatkan dari argumen yang tidak sehat.

Setidaknya ada 24 jenis-jenis logical fallacy yang harus dihindari oleh Sobat Zenius. Untuk penjelasan dari masing-masing jenis langsung klik artikel di bawah ini ya:

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, logika adalah metode argumentasi. Pada kehidupan sehari-hari, argumentasi adalah praktik sosial di mana Sobat Zenius akan berbagi pengetahuan dan mengkoordinasikan tindakan.

Tidak jarang, ini juga dilakukan dengan tujuan mencoba meyakinkan orang lain tentang suatu kesimpulan. 

Jadi logika mencoba untuk mencari tahu fitur dari sebuah argumen yang akan membuatnya menjadi bagian dari penalaran yang baik karena hubungan antara premis dan kesimpulan. 

Misalnya, Sobat Zenius dilarang untuk pergi ke rumah teman oleh orang tua. Tapi Sobat merasa bahwa tujuan pergi ke rumah teman hanya untuk mengembalikan novel yang dipinjam beberapa bulan lalu. 

Untuk meyakinkan orang tua dan mendapatkan izin pergi, Sobat mencoba menjabarkan alasan dan argumen yang meyakinkan sebuah kesimpulan yaitu pergi ke rumah teman. 

Mulai dari premis, teman yang baik dan telah kenal dari lama hingga premis tentang perasaan yang tidak enak karena sudah terlalu lama meminjam novel. 

Kalau Sobat Zenius perhatikan, meskipun ini adalah aktivitas sehari-hari, logika dapat dianggap sebagai hubungan pembuatan kebenaran. 

Dengan kata lain, kebenaran premis membuat kesimpulannya lebih mungkin benar, jika itu adalah bagian dari penalaran yang baik. 

Keutamaan khusus dalam penalaran inilah yang disebut logika sebagai “validitas”. Validitas argumen tidak menetapkan bahwa kesimpulan itu benar-benar benar atau bahkan masuk akal. 

Kesimpulan bisa terlihat benar jika premisnya benar, itu membuatnya lebih mungkin menjadi sebuah kesimpulannya benar.

Kemampuan dalam berpikir logis akan menentukan seberapa besar kemungkinan dari kesimpulan yang kita inginkan menjadi kesimpulan yang benar.

Artinya Sobat Zenius harus bisa berargumen, mengumpulkan fakta dan pernyataan yang meyakinkan kesimpulan yang ingin dituju. 

Untuk mencapai ini tentu ada latihan dan cara tertentu yang dilakukan dalam rangkaian yang disebut sebagai cara melatih logika berpikir.

cara melatih logika berpikir
Bersosialisasi juga menjadi salah satu cara melatih logika berpikir. (Arsip Zenius)

Cara Melatih Logika Berpikir 

Ada beberapa cara yang bisa diterapkan untuk melatih berpikir menggunakan logika. 

Cara-cara ini sebenarnya bisa dilakukan sembari melaksanakan aktivitas sehari-hari. 

Selain itu, cara melatih logika berpikir akan lebih efektif jika diterapkan sejak masa kanak-kanak. 

Berikut adalah beberapa metode yang dapat Sobat Zenius pertimbangkan untuk mengembangkan keterampilan berpikir logis dalam cara melatih logika berpikir:

  • Luangkan Waktu untuk Hobi Kreatif.

Setiap orang pasti memiliki hal yang ia sukai, dan hal yang disukai ini bisa dikembangkan menjadi hobi yang kreatif sekaligus untuk melatih logika berpikir.

Hobi datang dalam segala bentuk, mereka bisa kreatif, santai atau fisik. Apa yang membedakan hobi dari aktivitas sehari-hari Anda, adalah tingkat konsentrasi dan keterlibatan Anda.

Hobi juga tidak memandang umur, anak-anak, remaja hingga orang dewasa bebas mengembangkan sisi kreativ mereka lewat hobi yang disukai

Tidak perlu khawatir, sebab kreativitas bukanlah kualitas bawaan yang Sobat Zenius bawa dari lahir melainkan sebuah keterampilan yang dapat dikembangkan dengan latihan.

Langkah pertama dalam daftar cara melatih logika berpikir bisa dimulai dengan menemukan hobi kreatif. 

Selain mengasah logika, melansir dari Idea to Value, hobi kreatif juga dapat bermanfaat untuk meningkatkan energi dan suasana hati, mengurangi stress hingga meningkatkan fokus Sobat Zenius. 

  • Sering Mempertanyakan Sesuatu.

Salah satu cara melatih logika berpikir Sobat Zenius adalah dengan mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang biasanya langsung diterima sebagai fakta. 

Mengajukan pertanyaan secara teratur membantu Sobat Zenius melihat situasi dengan lebih lengkap, dan memungkinkan untuk memecahkan masalah secara lebih logis dan kreatif.

Mengajukan pertanyaan juga sering kali dapat mengarah pada penemuan tentang topik yang belum pernah dipertimbangkan sebelumnya, yang dapat mendorong Sobat Zenius untuk menjelajah lebih jauh. 

  • Bersosialisasi dengan Orang Lain.

Dengan dunia yang berjalan semakin cepat dan mudah karena adanya perkembangan teknologi membuat hubungan antar manusia menjadi semakin jarang.

Orang lebih senang berinteraksi melalui perantara media. Mulai dari media sosial hingga alat komunikasi lainnya. 

Memang terlihat mudah, namun bersosialisasi secara langsung punya manfaat yang tidak bisa didapatkan ketika Sobat bersosialisasi dengan perantara. 

Maka cara melatih logika berpikir yang ketiga adalah dengan bersosialisasi, dengan kata lain adalah membangun hubungan baru. Dengan bersosialisasi Sobat Zenius bisa memperluas perspektif dan mendapat lebih banyak keterampilan berpikir logis dengan kemampuan untuk mendekati situasi dan pemikiran dari sudut yang berbeda.

Selain itu dengan bersosial akan ada diskusi di sana, elo juga bisa belajar melihat perbedaan fakta dan opini serta menyampaikan pendapat atau berargumen yang bersifat objektif.

  • Belajar Keterampilan Baru.

Cara melatih logika berpikir selanjutnya adalah dengan mempelajari keterampilan baru. 

Cara ini sangat efektif karena saat mempelajari instrumen baru, Sobat Zenius akan membutuhkan pemikiran dan konsentrasi yang mendalam. 

Selama proses ini, Sobat Zenius akan memperoleh kemampuan untuk memecahkan lebih banyak masalah dengan lebih fleksibilitas dan efektif. 

Mempelajari keterampilan baru juga akan mengasah sisi kreativitas. Pemikiran kreatif secara alami mengembangkan kemampuan pemecahan masalah yang dapat membantu Sobat Zenius menjadi lebih baik di lingkungan sosial.

  • Antisipasi Hasil dari Sebuah Keputusan.

Cara ini berkaitan erat dengan sikap skeptis yang harus dimiliki oleh manusia. 

Kata skeptisme atau skeptisisme berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu skepsis, yang berarti penyelidikan. 

Sifat skeptis pada dasarnya bukanlah penolakan sinis terhadap ide-ide baru, melainkan sikap pikiran terbuka dan akal kritis.

Memiliki sifat skeptis menjadi salah satu dari tujuan ketika Sobat Zenius menggunakan cara melatih logika berpikir yang ke-5 yaitu mengantisipasi hasil dari sebuah keputusan. 

Cobalah untuk berpikir dalam pernyataan bersyarat dan coba jabarkan sebuah keputusan dalam hubungan sebab-akibat. Sobat Zenius akan  belajar untuk menemukan penyebab dan konsekuensi dari fakta-fakta kecil dan bahkan yang awalnya dianggap tidak penting. 

Sebelum mencoba membuat keputusan asah sisi skeptis Sobat dengan antisipasi hasil.

Misalnya, Sobat Zenius mau keluar di malam hari, tetapi cuaca sangat buruk, ditambah lampu penerangan di jalan mati total. 

Coba kumpulkan premis-premis kecil yang bisa Sobat Zenius temukan, kemudian hubungkan dengan sebab-akibat. Apakah keputusan untuk keluar di malam hari worth it dengan keadaan yang sedang terjadi sekarang?

Cara melatih logika berpikir yang satu ini bisa dilakukan secara terus-menerus untuk menguji apakah hubungan premis dan kesimpulan berfungsi.

Tes Logika Penalaran 

Setelah mengetahui cara melatih logika berpikir selanjutnya yang bisa Sobat Zenius lakukan adalah mengetes seberapa besar penalaran menggunakan logika di dalam otak. 

Tes ini dinamakan dengan tes logika penalaran.

Mungkin sebagian dari Sobat Zenius ada yang masih asing dengan tes ini, tapi sebenarnya tes ini sudah didapatkan bahkan dari zaman duduk di sekolah dulu. 

Misalnya pada tes psikotes yang diadakan di sekolah atau pada Tes Potensi Skolastik (TPS) yang menjadi salah satu kelompok soal UTBK SBMPTN. 

Tes logika penalaran dapat mencakup diagram, penalaran induktif, penalaran deduktif, penalaran abstrak dan berpikir kritis. 

Pada dasarnya, tes ini berguna untuk menguji kemampuan pemecahan masalah seseorang penggunaan logika yang lebih tinggi. 

Tes logika penalaran juga biasa diberikan oleh perusahaan kepada calon pekerja atau karyawan mereka. 

Ini berfungsi untuk melihat seberapa efektif logika yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk semua jenis tugas atau peran. Secara keseluruhan, tes logika penalaran mencoba membuat Sobat Zenius memahami suatu masalah dan menemukan solusi secepat mungkin.

Ada banyak jenis tes untuk tes logika penalaran. Contohnya adalah jenis tes penalaran induktif.

Jenis tes ini akan menguji kemampuan seseorang untuk mencapai kesimpulan umum berdasarkan pola yang diamati. 

Biasanya, kalau tes ini keluar di tes psikotes kerja, Sobat Zenius akan disajikan dengan suatu pola atau gambar dan perlu memilih pola berikutnya dan melanjutkan urutan yang sesuai.

Contoh lainnya adalah tes logika penalaran deduktif yang melibatkan aturan umum yang mengarah pada kesimpulan khusus. 

Jenis tes ini akan mengevaluasi kemampuan seseorang atau calon karyawan untuk membuat argumen logis dan menarik kesimpulan dari data yang diberikan.

Sobat Zenius tau gak sih, kalau gak semua orang bisa melalui tes logika penalaran dengan mudah. Kenapa ya?

Ini bisa terjadi karena kurangnya pengetahuan terhadap Fundamental Skills. Apa sih fundamental skills itu? Kalo penasaran langsung cek disini ya:

Bisa dibilang kemampuan berpikir menggunakan logika itu berguna disepanjang hidup kita, mulai dari masa kanan-kanak, terus saat remaja untuk persiapan AKM, remaja menuju dewasa untuk persiapan UTBK, Ujian Mandiri universitas & sekolah kedinasan.

Terus saat dewasa untuk persiapan tes CPNS hingga rekrutmen pekerjaan di berbagai perusahaan. 

Sangking pentingnya Sobat Zenius tidak boleh meremehkan tes logika penalaran karena berhubungan erat dengan kemampuan logika. Agar kemampuan logika tinggi, haruslah lebih dulu memahami fundamental skill.

Fundamental skill itu sangat mungkin untuk dipelajari. Di Zenius contohnya, Sobat bisa mempelajari fundamental skill lewat ZenCore.

Soal-soal latihan di Zencore ini bersifat adaptif dan sangat berguna untuk melatih skill dan knowledge dasar.

Sobat Zenius nantinya akan diberikan soal-soal berdasarkan kemampuan, gak langsung susah. Di dalam ZenCore, akan dapat materi yang menurut Zenius mesti dikuasai oleh semua orang, terlepas dari apapun jenjang pendidikan, jurusan, atau bidang kerjaannya.

Nah, ini namanya yang disebut dengan belajar beneran. Kalo penasaran dengan Zencore, bisa kali diintip dulu dengan klik gambar di bawah ini:

5 Cara Melatih Logika Berpikir Supaya Lolos Tes Logika Penalaran 9

Oke segitu dulu informasi mengenai cara melatih logika berpikir supaya bisa lolos dalam tes logika penalaran. 

Intinya, untuk meningkatkan logika berpikir, Sobat Zenius harus tetap berlatih dan mempraktikkan tips-tips tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Referensi: 

Dictionary English about Logic – Collins Dictionary (2019)
Career Advice and Career Development Strengthen Logical Thinking Skills – Indeed (2020)
Logical Reasoning Test Guide Tips – Thomas Resources (2020)
Logical Critical Thinking (What are the 4 Fundamental Laws of Logic) – Brainmass Philosophy (2020)

Bagikan Artikel Ini!