Ki Hadjar Dewantara - Hardiknas 2021

Biografi Ki Hadjar Dewantara: Nyali Tinggi Menggertak Belanda

Ki Hadjar Dewantara bikin gempar ketika tulisannya yang bertajuk “Seandainya Aku Seorang Belanda” terbit 13 Juli 1913. Surat kabar milik Douwes Dekker, De Express, memuat opininya yang menyindir rencana perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis.

Tulisan penuh nada satire itu bikin kuping Belanda panas. Ki Hadjar sengaja menyindir upaya Belanda mendanai perayaan dengan menarik uang rakyat, termasuk pribumi. Ketamakan tanpa malu-malu itu ia kuliti habis-habisan lewat “Seandainya Aku Seorang Belanda”.

Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu!”

Ki Hadjar Dewantara - Hardiknas 2021
Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia (Dok. Wikimedia Commons)

Buntutnya, Gubernur Jenderal Idenburg menghukum Ki Hadjar Dewantara dengan sanksi internering–dibuang ke pengasingan. Sosok yang kelak dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional itu dianggap membangkang pemerintahan kolonial. Rencana awal, ia akan diasingkan ke Bangka. Tetapi rencana itu berubah haluan begitu kasus ini menyeret dua sahabatnya, Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo.

Di kalangan pejuang kemerdekaan, sepak terjang Ki Hadjar Dewantara memang udah enggak asing lagi. Gagasan-gagasan nasionalismenya sangat menginspirasi banyak tokoh besar, termasuk Bung Karno. Garis perjuangannya juga enggak terbatas di politik, tapi juga di bidang jurnalistik dan pendidikan.

Tak pelak, sosoknya ini juga identik dengan Hari Pendidikan Nasional, yang ditetapkan dari hari kelahirannya pada 2 Mei. Dalam rangka merayakan Hari Pendidikan Nasional, Zenius merilis film original production kedua. Tayang eksklusif di aplikasi Zenius!

Nah, dalam artikel blog kali ini kita bakal sama-sama napak tilas biografi singkat Ki Hadjar Dewantara. Selamat membaca ya!

Ki Hadjar Dewantara diasingkan

Seperti yang udah dibahas di awal paragraf, Belanda menjatuhi sanksi internering sebagai buntut tulisan Ki Hadjar Dewantara. Sebetulnya, pergesekan di antara Ki Hadjar dengan pejabat kolonial sudah berlangsung sejak lama. 

Setahun sebelumnya pada 1912, Ki Hadjar mendirikan Indische Partij atau Partai Hindia bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo. Tokoh Tiga Serangkai ini secara terang-terangan memberontak pemerintah kolonial. Tujuannya jelas: kemerdekaan yang berdaulat.

Aktivitas Indische Partij sampai ke telinga pejabat kolonial. Untuk menjegal gerakan yang dilabeli radikal itu, pemerintahan Belanda menolak pendaftaran badan hukum yang diajukan partai. Pada awal abad ke-20, gerakan nasionalisme memang kerap mendapat cap radikal dari pemerintahan yang berkuasa. 

Ki Hadjar Dewantara, Douwes Dekker, dan Cipto Mangunkusumo
Tokoh Tiga Serangkai: Ki Hadjar Dewantara, Douwes Dekker, dan Cipto Mangunkusumo. (Dok: Wikimedia Commons)

Pergesekan dengan pemerintahan penjajah itu kian meruncing dengan adanya rencana hajatan 100 tahun kemerdekaan Belanda. Bahkan pemerintah berniat mendanai pesta perayaan dengan uang rakyat. Bagaimana bisa rakyat yang sedang dijajah, dirampas pula isi kantongnya guna membayari perayaan bebasnya suatu negeri dari penjajahan?

Kemudian terbitlah tulisan fenomenal itu–“Seandainya Aku Seorang Belanda”, sindiran telak Ki Hadjar mengenai bangsa yang hidup enak di atas penderitaan bangsa lain.

Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun…

Karenanya ia dihukum tanpa proses peradilan. Dua sahabatnya, Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo ikut terseret. Ketiganya dijatuhi hukuman sebagai eksil. Ki Hadjar ke Pulau Bangka. Douwes Dekker ke Kupang. Cipto Mangunkusumo ke Pulau Banda.

Tetapi ketiganya mengajukan permintaan untuk diasingkan ke Belanda saja. Tanpa menaruh curiga, Belanda mengabulkan permohonan itu. Di negeri orang sana, kiprah perjuangan Tiga Serangkai berlanjut.

Ki Hadjar Dewantara mendapat sertifikasi guru

Di Belanda, Ki Hadjar masih menulis. Tercatat beberapa karya pernah dimuat di dua surat kabar. Ki Hadjar juga banyak membaca buku-buku yang kelak menginspirasi gagasan-gagasannya di bidang pendidikan.

Dalam masa pengasingannya dari 1913-1919, Ki Hadjar Dewantara berhasil mendapatkan sertifikasi guru atau Europeeshe Akte. Dalam mengajar, ia banyak terpengaruh gaya pendidikan ala Friedrich Froebel dan Maria Montessori.

Gabungan konsep mengajar dari kedua tokoh pendidikan anak itu menjadi cikal bakal cara mendidik Ki Hadjar, yakni sistem among. Sistem among atau mengasuh kemudian menjadi corak dasar pendidikan di Sekolah Taman Siswa, sekolah yang didirikan Ki Hadjar pada 3 Juli 1922.

Di akhir masa hukumnya sebagai eksil, Ki Hadjar berpamitan ke masyarakat Belanda lewat tulisan di Nieuwe Amsterdammer dan Het Volk. Judul tulisan yang ia pilih–”Kembali ke Medan Perjuangan”–menggambarkan dirinya telah kembali siap tempur.

Murid Sekolah Taman Siswa yang didirikan Ki Hadjar Dewantara
Murid-murid di Sekolah Taman Siswa yang didirikan Ki Hadjar Dewantara. (Dok. Tropenmuseum via Wikimedia Commons)

Ki Hadjar Dewantara pulang dan mendirikan Taman Siswa

Sekembalinya ke tanah kelahiran, Ki Hadjar kembali malang melintang di dunia politik. Mulai dari bergabung di National Indische Partij (NIP), hingga menjadi ketua di Budi Utomo. Kiprah jurnalistiknya juga berlanjut dengan menulis untuk beberapa koran, seperti De Express, De Beweging, Persatuan Hindia, dan Penggugah. 

Ia juga sempat mengajar di sekolah Adi Dharma milik sang kakak. Tapi, mengajar di tempat orang lain, dirasanya kurang membebaskan idealismenya sebagai guru. Karena itu lah ia memutuskan mendirikan sekolah sendiri bersama beberapa kawan di paguyuban Selasa Kliwon.

Perguruan Taman Siswa resmi didirikan pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Taman Siswa mengusung gabungan gaya pendidikan ala Eropa modern dengan kekhasan seni tradisional Jawa. 

Ide tersebut lahir sebagai tandingan dari konsep sekolah bentukan pemerintah Belanda saat itu, seperti MULO, HIS, OSVIA, dan STOVIA. Sekolah-sekolah itu dianggap hanya sebagai sarana mencetak golongan elit pribumi yang jinak terhadap kebijakan pemerintahan kolonial.

Murid-muridnya disiapkan sebagai pegawai pemerintah untuk posisi-posisi yang sementara masih diisi orang Belanda. Harapannya, pekerja dari golongan elit pribumi bisa diupah lebih murah.

Ini yang berusaha diberangus Ki Hadjar Dewantara. Sistem pendidikan ala Belanda sangat tidak cocok untuk mencapai kemajuan dan kemerdekaan berpikir. Di mata Ki Hadjar, Belanda mendidik dengan cara regering (perintah), tucht (hukuman), dan order (ketertiban). Menurutnya, cara-cara itu mengoyak kehidupan batin anak-anak karena belajar di bawah paksaan dan tekanan.

Guru mengajar di Taman Siswa Bandung
Soerjoadipoetro mengajar di Taman Siswa Bandung. (Dok: Tropenmuseum via Wikimedia Commons)

Ki Hadjar menegaskan, pendidik adalah pengasuh. Sebagai pengasuh, guru harus memberikan jaminan rasa aman. Demikian, haram hukumnya mengajar dengan cara hukuman atau kekerasan. 

Ki Hadjar tampaknya paham betul kondisi psikologis anak-anak. Pemaksaan hanya membuat sekolah menjadi momok menakutkan. Ruang kelas seperti balai persidangan dan bel pulang sekolah penyelamatnya. Dengan cara begitu, bagaimana mungkin anak bisa jatuh cinta pada belajar?

Seharusnya, aktivitas belajar-mengajar dihadirkan dalam bentuk dialog. Pengetahuan ditawarkan, bukan ditanam secara paksa. Sehingga anak menemukan pengetahuan sebagai sesuatu yang ia peroleh sendiri tanpa paksaan siapapun.

Tentu ini bukan pekerjaan mudah. Karena itu, bagi Ki Hadjar Dewantara, mengajar seperti pekerjaan mengasuh atau among. Satu nafas dengan tiga semboyan pendidikan yang ia terapkan: Ing ngarsa sung tulada, di depan untuk memberi teladan; Ing madya mangun karsa, berada di tengah-tengah untuk memotivasi; dan Tut wuri handayani, mendukung dan mengarahkan muridnya berkarya ke arah yang benar.

Sekolah Taman Siswa berkembang pesat dan membuka cabang di berbagai daerah, seperti Tegal (1923), Cirebon, Jakarta, Galang, Malang, dan Medan (1924), Surabaya, Madiun, Pasuruan, dan Wonokromo (1930). Pada tahun 1932, ada total 42 cabang di luar Yogyakarta, terdiri dari 28 cabang di Jawa Timur, 9 cabang di Jawa Tengah, 9 cabang di Jawa Barat, 3 cabang di Sumatera, dan 3 cabang di Kalimantan.

Upaya Belanda membubarkan Taman Siswa

Melihat masifnya perkembangan sekolah swasta milik pribumi, Belanda melihat ini sebagai ancaman. Upaya penjegalan sebagaimana yang dialami pada era Indische Partij kembali terulang. Pemerintahan Belanda mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. 

Salah satu pasal dalam undang-undang tersebut memberi kewenangan Belanda mengatur operasional sekolah swasta. Bahkan Belanda bisa kapan saja menutup sekolah secara sepihak.

Ki Hadjar Dewantara melakukan perlawanan dengan menggaet dukungan berbagai pihak. Mulai dari tokoh-tokoh penting seperti dr. Soekiman, Moh. Hatta, dan pemimpin-pemimpin organisasi besar saat itu, Budi Utomo, Muhammadiah, Istri Sedar, Partai Indonesia, PSII, dan PPKIT. Pegiat pers juga ikut mendukung dengan memberitakan perlawanan Ki Hadjar.

Pada 19-21 Oktober 1932, Kiewit de Jong, wakil pemerintah dari Dewan Rakyat, mendatangi Ki Hadjar untuk berunding. Hasilnya, pemberlakuan Undang-undang Sekolah Liar dicabut.

Dan selebihnya, seperti yang kita saksikan hingga hari ini. Derap langkah Taman Siswa berhasil melewati tiga zaman, mulai dari masa penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, dan era kemerdekaan hingga sekarang.

Karena jasa-jasanya, pada 16 Desember 1959, tanggal lahir Ki Hadjar Dewantara pada 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Sampai hari ini pun, rakyat Indonesia masih selalu merayakannya tiap tahun.

Referensi:

Samho, Bartolomeus. 2014. Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Yogyakarta: PT. Kanisius.

Suparlan, Henricus. 2015. Filsafat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Sumbangannya bagi Pendidikan Indonesia. Jurnal Filsafat UGM: Vol 25, No 1.

Gularso, Dhiniaty, Sugito dan Zamroni. 2019. What Kind Of Relationship Is Between Ki Ageng Suryomentaram And Ki Hadjar Dewantara?: Two Figures Of Indonesian Education. Journal of Physics: Conference Series.

Baca Juga:

Sutan Sjahrir: Arsitek di Balik Layar Kemerdekaan

Mohammad Hatta: Bukan Sekadar Pendamping Bung Karno

Soe Hok Gie: Pemuda Indonesia yang Merdeka

Bagikan artikel ini: