Resensi Cosmos – Episode 1

Artikel ini berisi resensi Episode 1 dari film seri Cosmos, dan membandingkan versi Carl Sagan dengan versi Neil de Grasse Tyson.

Salah satu tongkrongan favorit gue itu perpustakaan Diknas, daerah Senayan, Jakarta. Perpus hibah dari British Council ini punya koleksi VHS dokumenter yang lumayan banyak, dan banyak pula yang udah rusak nggak dirawat. Salah satunya, COSMOS-nya Carl Sagan. Dulu, gue nonton Cosmos secara lengkap di sini.

Emang sih suara musiknya naik turun dan gambarnya kadang penuh dengan noise karena VHS yang nggak dirawat. Tapi semua itu ga bisa ngalahin suara Sagan yang pelan dan penuh intonasi di tiap kalimat. “We’re made of star stuff” atau yang terkenal “Billions and billions“. Animasi era 80-an itu bergaya Psikadelik dan still image galaksi blur, jangan dibandingin sama citra Hubble & Spitzer sekarang. Tapi, itu juga nggak menghilangkan perasaan kecil kita di perjalanan menelusuri Cosmos yang dipandu suara menenangkan Carl Sagan.

"The cosmos is within us" -sagan

Cosmos diproduksi lebih dari 30 tahun yang lalu. Sekarang, dengan kemajuan teknologi, internet, dan desain membuat dunia video dokumenter membuat produk yg berlimpah dengan kualitas tinggi. COSMOS yang dulu jadi tonggak video popularisasi Sains, sekarang kelihatan kuno, pelan, dan menua – walau gue sendiri ga sepakat dengan hal itu. Nggak bisa dipungkiri di era Computer Generated Graphics, musik dolby surround dan teknologi editing yang cepat, banyak generasi sekarang yang sulit tertarik untuk nonton COSMOS era Sagan.

Untungnya, 2–3 tahun lalu, Ann Druyan, istri Carl Sagan dan MacFarlane, produser American Dad dan film gokil Ted, memulai projek Rebooting COSMOS. Dan siapa yg dipilih jadi hostnya? Siapa lagi kalau bukan anak ideologi dari Sagan. Saintis Astrofisika Neil deGrasse Tyson. So, siap-siap deh sama perjalanan baru COSMOS. Lo bisa lihat trailer-nya di sini:

Keren kan? 🙂

Okay… Siapa Tyson? Apa hubungannya dengan Mike Tyson?

deGrasse Tyson selain jago di bidang Astrofisika, juga punya pengalaman unik dengan Carl Sagan. Waktu kecil, dia pernah mengirim surat ke Carl Sagan untuk datang ke kampus tempat Sagan mengajar. Kejutannya, Sagan menyanggupi dan akhirnya pada hari Sabtu, Tyson kecil diajak tour keliling kampus dan ngobrol banyak dengan Saintis yang ia lihat di TV.

Belakangan dia tahu kalau Sagan menulis janji ketemu dengan dia di agendanya. Tyson yang dulu masih anak SMA ketemu dengan saintis besar? Dan Sagan sengaja ngosongin harinya? Bahkan di akhir pertemuan, Sagan ngasih Tyson buku yang tertulis:

To Neil Tyson, future astronomer

Nah, di sini gue akan cerita sedikit tentang perbandingan antara Cosmos era Sagan dan era Tyson, untuk episode 1.

 

Episode 1 Pantai-pantai Lautan Kosmik

Posisi kita di alam raya dan pendekatan dua Cosmos

Bagian awal dari seri Cosmos yang baru dimulai dengan narasi Sagan.

The Cosmos is all that is or ever was or ever will be

Cosmos era Sagan menitikberatkan pada pemahaman posisi kita dalam Cosmos atau alam semesta. Dimulai dari sisi terluar, di mana titik-titik yang terpampang di layar bukanlah bintang, melainkan kumpulan bintang, Galaksi. Ini tergambar pada poster Hubble Deep Field yang terpampang di selasar ruang pertemuan HAAJ (Himpunan Astronomi Amatir Jakarta). Gue sempet diem natap poster itu selama kurang lebih 10 menit, dan mungkin bisa lebih lama kalo nggak ditegor petugas karena ruangannya mau tutup. Ini gambarnya..

Hubble Deep Field

 

Cosmos era Sagan mulai dari supercluster Virgo, ke grup lokal Galaksi, masuk ke Galaksi kita Bima Sakti dan temen setianya Andromeda, lalu meluncur masuk ke dalam Galaksi rumah kita. Ada beberapa kali detour, atau perhentian sementara, di pulsar dan kuasar. Di sini, Sagan mencoba memberi spekulasi adanya kehidupan cerdas di dalam galaksi kita. Tapi dengan memberi penekanan, bahwa bukti empiris akan lebih berarti dari harapan dan keinginan.

Cosmos era Tyson, kebalikannya, perjalanan dimulai dari Bumi ke alam raya. Tyson menggunakan pendekatan yang familiar dengan pemirsa sekarang, yakni Alamat Kosmis (Cosmic Address). Bayangin kalau peradaban manusia sudah menjangkau alam raya, di manakah alamat Bumi? Tyson menuliskannya:

“Bumi, Tata surya, Lengan Sagitarius, Bima Sakti, Grup lokal, Supercluster Virgo, Cosmos”,

Dan mudah-mudahan Pak Pos masa depan ga akan kesulitan mengirim paketnya 🙂

 

alamat kosmik bumi

Masing-masing pendekatan ini dipakai untuk pengantar sesi berikutnya. Di bagian berikut, Tyson bergerak ke cerita Giordano Bruno yang mendapat ilham alam raya yg luas. Dan Sagan? Bergerak ke Alexandria, ke cerita Eratothenes yg menghitung keliling Bumi dengan metode sederhana tapi akurasi tinggi.

Cerita dua tragedi, Bruno dan Aleksandria

Menjejak kembali ke Bumi setelah perjalanan mengarungi semesta, Sagan mendarat di bagian barat delta sungai Nil, sekitar abad ketiga sebelum masehi kota Alexandria, Mesir. Ia mendapati di tengah keajaiban Piramida, ada sesuatu yg terlupakan yang lebih berharga dari Piramida, lebih berharga karena menyimpan rahasia-rahasia pengetahuan dari abad-abad lalu, dan mungkin pengetahuan masa depan yg belum kita teliti, Perpustakaan besar Alexandria.

Perpustakaan Alexandria

 

Perpustakaan Alexandria menyimpan ratusan ribu perkamen pengetahuan. Eratothenes salah satu kepala perpustakaannya selalu membeli buku atau perkamen dari luar Mesir untuk koleksi perpustakaan. Tiap kapal yg berlabuh akan dicari dengan teliti apakah membawa buku atau perkamen. Dipinjam, disalin dan menjadi koleksi perpustakaan.

Nggak heran kalau kultur semacam itu melahirkan banyak saintis jaman klasik. Archimedes, insinyur jenius jauh sebelum era Da Vinci. Strabo, ahli geografi yang sudah berpendapat bahwa Bumi bulat di zaman itu. Geometri Euclid yang masih menjadi patokan buku para Insinyur. Heron, yang dikenal dengan Teorema Heron pada Segitiga yang juga menciptakan automata atau robot pertama. Dan tragedi, baik yang menimpa perpustakaan itu sendiri serta saintis serta filsuf terakhirnya Hypatia.

Hypatia, berbeda dari semua nama sebelumnya, ia seorang saintis dan filsuf perempuan. Ia hidup di akhir kejayaan peradaban klasik dan akhir juga untuk Perpustakaan Alexandria Tahun 391 Masehi, pertarungan antara agama kristen yang baru lahir dan kaum pagan yang membela kultur pengetahuan di Alexandria mencapai puncaknya. Serbuan mereka yang didukung Kaisar Roma meruntuhkan Perpustakaan, membakar buku-bukunya dan membunuh penjaga terakhir pengetahuannya, Hypatia. Ada film yang menggambarkan tragedi ini, judulnya Agora. Dan adegan penghancuran perpustakaan, adalah adegan yg terlalu sedih untuk dilihat.

Jika Sagan mengangkat tragedi di akhir jaman klasik, sekitar tahun 400 masehi, Tyson mengangkat era yang jauh ke beberapa saat sebelum tahun 1600, ketika otoritas Eropa masih berpendapat:

“Bumi adalah pusat alam semesta”

Ide Nicolaus Copernicus pada tahun 1543 yang menyatakan bahwa Bumi berputar mengelilingi Matahari dianggap sesuatu yang tidak masuk akal. Namun Giordano Bruno, seorang biarawan Itali, bahkan memiliki ide lebih jauh dibanding Copernicus. Dia berpendapat:

Bumi bukan pusat alam semesta. Bumi hanyalah salah satu planet pada tata surya. Matahari hanyalah salah satu bintang dari banyak bintang lainnya. Alam semesta itu luas tak terbatas… ia tidak bisa dijangkau karena ia tidak memiliki ujung dan tidak memiliki batas…

Zaman itu, pernyataan Bruno dianggap pernyataan yang berbahaya, yang menentang otoritas Gereja sebagai sumber kebenaran. Maka dari itu Giordano Bruno harus dibungkam. Layaknya teori Evolusi saat ini yang mengalami ancaman dari para fundamentalis agama, teori bahwa Matahari pusat tata surya, Heliosentris, dan bukan bumi, Geosentris, dianggap tidak sesuai dengan teks di kitab-kitab suci. Intrepretasi sempit akan hal itu yang membuat kalangan religi terancam oleh ilmu pengetahuan yang terlahir kembali.

Inkusisi bergerak, Bruno ditangkap, dipenjara, disiksa supaya membatalkan pernyataannya. Bruno bersikeras, dalam perenungannya ia melihat semesta yang tidak berbatas berada di balik tabir yang tidak boleh dilihat oleh Vatican pada saat itu. Akhirnya hukuman yang dituduhkan adalah ia mendesakralisasi agama dan harus mati, dibakar di tiang.

Pembakaran Bruno

 

Membakar Giordano Bruno memang membungkam beberapa saintis saat itu. Tapi, arus kuat ilmu pengetahuan dan status martirnya Giordano Bruno membuka jalan untuk para saintis menelusuri alam semesta dengan pengamatan data empiris, bukan berdasar kepercayaan. Tongkat estafet dilanjutkan oleh Galileo, lalu Newton, Faraday, dan seterusnya. Pengamatan dan observasi evolusi mahluk hidup, penggulingan status manusia sebagai mahluk istimewa oleh Darwin dan Wallace. Maxwell melanjutkan ke elektromagnetisme, berlanjut ke fisika modern Einstein, Schrodinger, Fermi, Bohr, Feynman. Pengungkapan rahasia kehidupan di DNA oleh Watson & Crick, dilanjutkan dengan pembacaan kode-kode genetik manusia di Human Genome Project oleh Craig Venter. Dan membuka rahasia semesta yg terdalam yg dilakukan bukan satu, tapi ratusan saintis di bawah tanah Prancis dan Swiss di Large Hadron Collider, pengungkapan materi dan anti materi dari awal alam semesta.

Luasnya Waktu

Baik Cosmos era Sagan maupun Cosmos era Tyson sama-sama berusaha menggambarkan luasnya waktu dengan menggunakan “kalender kosmik”. Sekarang bayangin kalau gue kasih daftar beberapa event penting dalam sejarah alam semesta begini:

  • Big Bang, awal dari seluruh alam semesta, 13,8 milliar tahun yang lalu
  • Sekitar 400 juta tahun kemudian, muncul bintang pertama.
  • Bintang-bintang membentuk Bima Sakti 11 milliar tahun yang lalu
  • Matahari kita terbentuk sekitar 4,6 milliar tahun yang lalu
  • Kehidupan pertama di Bumi ada sekitar 3,5 milliar tahun yang lalu
  • Mikroba perintis muncul di Bumi sekitar 2 milliar tahun yang lalu
  • Ikan dan proto-amphibi mulai ada sekitar 500 juta tahun yang lalu
  • Hutan, Dinosaurus, dan lain-lain baru ada sekitar 200 juta tahun yang lalu
  • Primata yang berjalan tegak, sekitar 3,5 juta tahun yang lalu
  • Manusia, Homo Sapiens, sekitar 150-300 ribu tahun yang lalu
  • Tulisan pertama kali (dimulainya sejarah manusia), sekitar 6000 tahun yang lalu

Coba kalau event-event itu kita zip jadi 1 tahun. Tanggal 1 Januari adalah Big Bang. Tanggal 31 Desember adalah jaman kita hidup sekarang ini. Inilah yang disebut oleh Sagan dan Tyson sebagai Kalender Kosmik. Berikut ini gambarannya:

Kalender Kosmik

 

Dengan penggambaran seperti ini, lo bisa lihat kalau umur alam semesta kita udah sangat tua. Semua cerita yang pernah lo baca di buku sejarah; cerita raja-raja, cerita peperangan dan pertempuran, cerita percintaan, penemuan-penemuan penting, dan lain-lain baru terjadi di 14 detik terakhir di kalender kosmik.

Obor Estafet Pengetahuan

Seperti kata Tyson, Sains adalah usaha kerja sama melingkupi berbagai generasi. Bagaikan menyerahkan obor estafet dari guru kepada siswa untuk menjadi guru lagi. Sebuah komunitas pikiran untuk menggapai kembali masa lalu dan maju menuju bintang-bintang.

Dari perenungan para filsuf jaman klasik ke pengungkapan materi Higgs Boson, kita baru menjejakan kaki di pinggir pantai lautan kosmik, masih terbentang luas rahasia alam semesta. Dan kepada siapa obor estafet dari jaman klasik Perpustakaan Alexandria pengetahuan ini akan diserahkan? Kepada semua anak muda yang belajar sains demi mengetahui rahasia-rahasia apa lagi yang akan diungkapkan, ya bener.. pada lu semua yang baca tulisan ini.

—————————CATATAN EDITOR—————————

Lo bisa nih ngobrol atau nanya-nanya sama Pras seputar cosmos ini, lo bisa lgsg comment dibawah ya.

Btw, selain tulisan ini, ada juga nih tulisan lain yang ga kalah kerennya :

Wah seru juga ya ternyata jadi Ilmuan.
Are You Ready To Understand The World?
Apa Sih Yang Bikin Kita Termotivasi?

Info dikit nih sekarang di zeniusnet udah ada lebih dari 40.000 video yang bisa lo tonton loh, dari mulai pelajaran SD, SMP, SMA sampai untuk persiapan UN,SBMPTN dan UM. Lengkap dah di situ. Nah, kalo mau cobain belajar pake zeniusnet juga, langsung aja lo daftar jadi member di zeniusnet, gratis kok. hehe

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.