Mengapa Jerman Kalah di Perang Dunia II?

Artikel ini menceritakan tentang penyebab kekalahan Jerman di Perang Dunia II, meski nampaknya mereka unggul dan hampir memenangkan perang masif ini.

Halo, guys! Jumpa lagi dengan gue, Marcel. Seperti biasa, gue mau mengajak lo semua untuk melirik ke masa lampau (lebay), ke salah satu peristiwa besar dalam sejarah manusia, ke peristiwa yang nyaris mengubah peta politik dunia, terutama Eropa. Peristiwa itu adalah Perang Dunia II. Kenapa gue nyebut bahwa peristiwa ini nyaris mengubah peta politik dunia? Karena pada saat itu Jerman di bawah kepemimpinan Adolf Hitler bisa dikatakan nyaris undefeatable, dan sanggup mengatasi lawan-lawannya. Terus kenapa Jerman malah ujung-ujungnya kalah? Nah, ini yang akan gue bahas di artikel ini.

Kemenangan Hitler?

Sebelum kita membahas kalahnya Nazi Jerman, gue mau bahas dulu peluang menangnya. Apakah dari awal Jerman pasti kalah dalam perang melawan Inggris, Perancis, Uni Soviet, dan lain-lain? Apakah sejak awal Hitler mustahil menang?

Biar gue jawab dengan jelas: Hitler BISA menang! Hitler punya banyak celah dan kemungkinan memenangkan Perang Dunia Kedua ini. Namun, perjuangan mengalahkan Hitler oleh orang-orang Rusia, Inggris, Amerika, dan lain-lain itu tak bisa dianggap “Ah, dari awal juga mereka pasti menang!” Kok bisa? Kenapa Hitler bisa menang walaupun Jerman dikeroyok begitu banyak negara?

Pertama kita harus inget, perang itu seringkali bergantung pada teknologi. Tanpa teknologi yang mumpuni, jangan harap bisa mengalahkan lawan. Seratus ribu tentara bersenjata tombak udah pasti akan dibantai oleh seribu tentara yang bersenjata senapan mesin, mortar, tank, dan senjata-senjata modern lainnya. Nah, Jerman sejak akhir 1800an sudah memiliki teknologi yang menyaingibahkan di beberapa segi, mengalahkan teknologi-teknologi Inggris dan Amerika Serikat, apalagi teknologi Uni Soviet. Misalnya, Jerman adalah negeri pertama yang menggunakan pesawat militer bermesin jet. Contohnya pesawat Me-163 dan Me-262 milik Jerman dengan mesin jet yang pastinya lebih cepat daripada pesawat baling-baling milik para lawannya.

Kedua, kemenangan perang juga bukan cuma soal teknologi tapi soal administrasi & logistik. Bagaimana mengatur, memasok, dan mengendalikan ribuan tentara. Percuma saja tentara-tentara itu bersenjata lengkap kalau dipimpin oleh anak TK tanpa sistem! Kita gak bisa ngelak bahwa negeri Jerman adalah negeri pencipta militer modern. Modern bukan dalam hal persenjataannya, tapi cara pandangnya, caranya menghadapi masalah, cara administrasinya. Orang Jerman yang berbudaya kaku, menghadapi Napoleon yang jenius, yang kreatif, kalah telak. Nah, sebagai orang kaku, mereka pun memutar otak, bagaimana mengalahkan jenius seperti Napoleon? Mereka akhirnya menciptakan sistem militer modern yang tidak mengandalkan orang-orang jenius seperti Napoleon, tapinya mengandalkan STAF. Staf adalah sekumpulan orang-orang yang biasa saja, tapi dilatih dan dididik secara ilmiah, untuk memecahkan masalah yg sudah dibagi-bagi: logistik, komunikasi, artileri, dan lain-lain. Sistem inilah yang melahirkan negara Jerman modern. Sistem inilah yang ditiru oleh semua militer modern, yang tidak bergantung pada jenius lagi. Dengan pelatihan yang baik, opsir-opsir militer saat itu adalah sekumpulan opsir yang terlatih baik, terdidik baik, siap memenangkan perang.

Ketiga, di tahun 1930an dan 1940an, lawan-lawan Jerman sedang lemah. Krisis ekonomi besar dari tahun 1928 belum berakhir. Pengangguran massal membebani masyarakat Amerika, Inggris, Perancis, dan negara-negara maju lainnya. Di Timur, Uni Soviet dipimpin oleh diktator “parno” bernama Iosif Stalin, yang membantai teman-teman seperjuangannya, petani-petaninya, bahkan opsir-opsir militernya sendiri, serta jutaan orang lainnya yang dia curigai. Semua negara kuat yang berada di sisi Barat maupun Timur Jerman pun sedang melemah. Jerman sendiri dengan program pembangunan besar-besarannya berhasil keluar dari krisis ekonomi. Jalan tol dibangun, pabrik-pabrik mulai produktif, dan yang terutama: senjata-senjata tempur mulai dirakit. Ekonomi Jerman berhasil keluar dari krisis lebih dulu. Jerman pun siap memanfaatkan kelemahan lawan-lawannya ini.

Jadi, pertanyaan berikutnya tentu saja:

Kalau udah punya 3 keunggulan ini, kok Jerman masih kalah?

Setidaknya ada 4 sebab dasar kekalahan Jerman dalam perang dunia kedua: Kepemimpinan Hitler, kesalahan strategi, obsesi pada rasisme, dan faktor Amerika Serikat.

Loh, musim dingin di Uni Soviet kok gak disebut? Oh sabar, gue akan jelaskan kenapa musim dingin itu tidak begitu relevan.

 

Penyebab Pertama: Gaya Kepemimpinan Hitler

Kalah menangnya Jerman dalam Perang Dunia Kedua tak bisa dipisahkan dari sosok Führer, sang pemimpin tertinggi Jerman sendiri, yaitu Adolf Hitler. Hayoo, coba tebak, Hitler itu pemimpin dengan gaya apa? Kalo baca-baca di internet dan denger dari kelas-kelas kepemimpinan katanya ada 6 jenis pemimpin, yaitu: demokratis, otoriter, laissez-faire atau pemberi kebebasan, pelatih, kebapakan, dan affiliative atau pembangun hubungan emosional. Hitler tipe yang mana, coba?

Lo mau jawab apapun, PASTI SALAH! Hitler itu bukan satu pun dari tipe-tipe itu. Hitler adalah tipe ketujuh yaitu tipe PENGADU DOMBA. Ini adalah tipe pemimpin yang jarang diomongin di kelas kepemimpinan. Padahal banyak tipe pemimpin di dunia ini yang semodel dengan Hitler. Loh, memimpin kok dengan mengadu domba “Kayak kumpeni”?

Gini loh, Hitler itu diktator yang meyakini dirinya sudah memiliki wahyu Ilahi untuk membawa Jerman pada masa kejayaannya. Dia tahu betul hanya dia seorang yang sanggup melakukannya. Dia juga tahu betul, manusia itu seringkali serakah dan tidak bisa dipercaya. Posisi dia sebagai pemimpin selalu terancam oleh bawahan-bawahannya ini. Jadi, untuk memastikan bawahan-bawahannya itu tidak akan mengancam dirinya, Hitler memanipulasi agar mereka saling membenci, saling bersaing, dan saling menjatuhkan satu sama lain. Caranya gampang: pastikan tugas dan tanggung jawab anak-anak buahnya ini tumpang tindih. Mereka akan bertengkar “Ini kan tugas gue, kok lo ikut campur sih?” di buanyak kesempatan!

Para bawahan yang saling menjatuhkan ini takkan bisa mengumpulkan kekuatan untuk menjatuhkan Hitler. Malah sebaliknya. Mereka akan selalu mengumpulkan bukti-bukti kebusukan dan kesalahan satu sama lain, melaporkannya kepada Hitler. Hitler malah mendapatkan amunisi kalau saja seandainya ada salah 1 bawahannya yang tetap nekat memberontak. Pertengkaran-pertengkaran anak buah Hitler ini juga memastikan agar Hitler selalu dibutuhkan sebagai wasit, pengambil keputusan terakhir, dan pemimpin.

Om Adolf Hitler

Jangan heran, pemimpin model begini ADA BANYAK di dunia ini! Iya! BTW, gue sendiri pernah ngobrolngobrol sama pelatih kelas kepemimpinan soal ini, dia bilang banyak perusahaan swasta di Indonesia banyak yg bos besarnya kayak gini! Logika mereka gampang “Kalo mereka kompak, pasti mereka kompak demonstrasi, kompak minta gaji lebih tinggi, kompak minta tunjangan extra, dll. Mahal dan berabe, tuh kalo gitu! Harus gue pecah belah!”

Sisi positif gaya adu domba ini adalah Hitler berhasil mengamankan posisinya. Tidak pernah ada anak buah terdekatnya yg mengancam kekuasaannya. Josep Göbbels, Hermann Göring, Heinrich Himmler, Martin Bormann, dan lain-lain semuanya bertengkar, bersaing, saling menjatuhkan. Tidak ada satu pun yg punya kesempatan membahayakan kepemimpinan Hitler.

Sisi negatifnya, anak buah Hitler jadi gak pernah kompak. Organisasi yg harusnya bisa efisien malah jadi bengkak, karena banyak kantor kementerian yang tugasnya sama, padahal seharusnya nggak. Ketidakkompakan ini makin terasa saat Perang Dunia II dimulai.

Sebelum kita omongin ketidakkompakan ini, gue harus tegaskan bahwa HITLER TIDAK MENGINGINKAN PERANG DI TAHUN 1939! Saat Hitler menyerang Polandia pada 1 September 1939, dia mengira Inggris dan Perancis akan tutup mata, dan manggut-manggut menerima, persis seperti saat dia merebut Austria (Maret 1938) dan Cekoslovakia (November 1938). Saat Inggris dan Perancis yg sudah berjanji melindungi Polandia menyatakan perang melawan Jerman, Hitler kaget. Dia tak menyangka Inggris dan Perancis yg ekonominya masih morat-marit akibat krisis malah menyatakan perang!

Celakanya buat Jerman, di September 1939 itu militer Jerman belum siap sama sekali! Misalnya, Angkatan Laut Jerman jauh lebih kecil dari Angkatan Laut Inggris. Kapal-kapal perang terbesarnya baru akan rampung sekitar tahun 1944. Kapal selam Jerman sendiri tidak sampai 100 unit. Angkatan Udara Jerman juga belum memiliki bomber kelas berat. Kekurangan-kekurangan mesin perang ini memang bisa dikejar, tetapi ingat, anak buah Hitler tidak kompak. Akibatnya, ekonomi Jerman masih tidak 100% dicurahkan untuk memenangkan perang. Tidak seperti lawan-lawannya yang langsung mengerahkan 100% ekonominya untuk memenangkan perang begitu mereka mulai berperang, sementara Jerman baru all-out melakukannya di tahun 1943. Kenapa demikian?

Balik lagi ke faktor pribadi Hitler. Beliau ini tidak mau memandatkan tanggung jawab untuk mengelola keseluruhan perencanaan militer ke anak buahnya yang ia adu domba tadi. Jadi, pada tahun 1943, ketika tuntutan perang mengharuskan pemusatan  perencanaan militer ini, Hitler malah memilih menteri Pembangunan, seorang arsitek yang bernama Albert Speer, sebagai pengatur ekonomi perang Jerman. Pilihan ini amat logis dari sudut pandang Hitler. Speer lebih muda daripada Hitler dan bawahan-bawahan Hitler yang lain. Speer juga secara pribadi amat dekat dengan Hitler, yang selalu merasa “Dia itu SAYA seandainya saya berhasil jadi arsitek”. Kemungkinan Speer memberontak dan menyerang Hitler amat kecil. Secara pribadi, Speer juga bukan orang yang haus kekuasaan seperti banyak anak buah senior Hitler lainnya. So, hal yang seharusnya dilakukan sejak awal perang baru dilakukan 3 tahun kemudian akibat gaya kepemimpinan Hitler.

Adanya prinsip “Di mana ada niat di situ ada jalan”.
Salah satu bacotnya para motivator yang paling sering adalah soal niat. “Di mana ada niat di situ ada jalan” kata mereka. Hitler sangat percaya dengan prinsip ini. Buat Hitler, semua kegagalan adalah karena kurangnya niat. Tidak ada rencana atau strategi atau taktik yang tak bisa dieksekusi, cuma ada anak buah yang “Niatnya lemah” yang tak bisa menjalankannya.

 

Penyebab Kedua: Kesalahan (Eksekusi) Strategi di Uni Soviet dan Faktor Minyak

Penyebab kekalahan Jerman berikutnya masih berhubungan dengan yang pertama. Jerman belum siap untuk berperang, sehingga tidak ada strategi jangka panjang sebagai “Roadmap” untuk mengalahkan lawan-lawannya. Setelah merebut separuh Polandia, Hitler menyerang Denmark dan Norwegia. Sebenarnya boleh dibilang berdasarkan rencana yang baru disusun, sih, tapi karena strategi dadakan ini berhasil, Hitler mengalihkan perhatiannya ke Perancis. Strategi dadakan untuk merebut Perancis ini sukses besar, dan berujung pada menyerahnya Perancis di bulan Juni 1940. Hitler makin berani, dia kini yakin dia itu seorang jenius militer. Nah, tinggal Inggris. Seandainya Inggris mau berdamai dengan Jerman, Hitler sudah menang. Namun, Inggris menolak berdamai.

Hitler benar-benar bingung. Menurut logika Hitler, Inggris seharusnya mau berdamai dengan Jerman! Hitler TIDAK berniat menyerang Inggris. Ia cuma mau hidup berdampingan dengan Inggris, sang penguasa samudera, penjajah Asia dan Afrika nomor satu. Menurutnya, menghancurkan Inggris tidak akan memberikan Jerman apa-apa, malah nantinya cuma akan menghadiahkan jajahan-jajahan Inggris kepada Amerika Serikat dan Jepang. Masak sih Inggris gak bisa ngeliat hal ini? Hitler gak paham. Kebijakan luar negeri Inggris adalah mencegah dominasi Eropa oleh negara mana pun. Dominasi Hitler atas Eropa Barat dan Tengah tidak bisa ditoleransi oleh Inggris, sehingga Inggris tidak mau damai dengan Hitler. Bahkan, selebaran Hitler yang disebar di langit Inggris dijadikan kertas toilet oleh rakyat Inggris.

Menyadari Inggris tak mau berdamai, Hitler memerintahkan angkatan udaranya untuk menghancurkan Inggris. Sayangnya, karena kesalahan strategi, Hitler gagal merenggut cakrawala Inggris. Pertanyaan berikutnya untuk Hitler adalah “Terus, sekarang ke mana?”

Nah, di sini Hitler sadar betul, untuk memenangkan Perang Dunia II, minyaklah kuncinya. Tanpa sumber minyak, tidak akan ada bensin dan solar untuk menggerakkan truk, tank, kapal perang, dan mesin-mesin perang Jerman. Sumber minyak Hitler yang paling utama adalah ladang minyak Ploesti di Rumania, sayangnya minyak tersebut tidak cukup. Jerman sudah bisa menciptakan bensin dan solar dari batu bara, tapi terlalu mahal. Oleh karena itu, ia berpikit bahwa sumber minyak baru harus dikuasai. Mata Hitler langsung tertuju pada sumber minyak milik Uni Soviet di daerah Kaukasus.

Apalagi, berlawanan dengan semua logika Hitler, saat itu Inggris masih menolak berdamai. Hitler yakin, Inggris menolak berdamai karena Inggris masih berharap Uni Soviet akan bergabung dengan mereka! Ya, satu-satunya cara untuk membuat Inggris menerima tawaran perdamaian adalah dengan menaklukkan Uni Soviet, menghancurkan harapan terakhir Inggris. Maka, Hitler pun memerintahkan jenderal-jenderalnya menyusun rencana untuk menguasai Uni Soviet. Maka, 3 juta tentara Jerman dan sekutu-sekutunya dikirim untuk menyerbu Uni Soviet. Rencana ini dikenal sebagai Operasi Barbarossa.

Di benak Hitler, paling penting adalah ladang minyak, lalu berikutnya gandum sebagai sumber pangan Jerman. Jadi buat Hitler, pasukan Jerman harus dikerahkan untuk merebut ladang gandum Uni Soviet  di Ukraina lalu dari situ mereka harus ngebut ke daerah Kaukasus. Namun, para jenderal Jerman berpikir untuk menaklukkan Moskow dulu. Buat para jendral itu, cara menaklukkan sebuah negara adalah dengan merebut ibukotanya. Akhirnya, jenderal-jenderal Hitler memerintahkan pasukan Jerman untuk menyerang Moskow, bukannya Ukraina atau Kaukasus.

Kalau dilihat di peta di atas, pasukan Jerman semula menuju Moskow, lalu mendadak berbelok ke Selatan untuk merebut Kiev.

Hitler murka. Dia pun bertengkar dengan para jenderalnya. Pasukan Jerman yang semula hendak langsung menuju Moskow malah ia perintahkan untuk belok ke Selatan, untuk merebut Ukraina dulu sebelum menyerang Moskow. Semua pertengkaran ini memakan waktu, dan menciptakan kebingungan di kalangan tentara Jerman. Padahal saat itu, pasukan Uni Soviet sedang kocar-kacir. Seandainya pasukan Jerman tidak menghabiskan waktu seperti ini, mereka pasti sudah berhasil merebut Moskow atau Kaukasus sebelum musim dingin 1941 yang begitu hebat datang.

Kenyataannya, saat pasukan Jerman kembali melaju, musim dingin datang, padahal tentara Jerman TIDAK membawa perlengkapan musim dingin. Bayangkan berperang di suhu -40° C hanya dengan bermodalkan jas hujan. Akibatnya, di tahun 1941 itu, meski pasukan Jerman berhasil merebut Ukraina, mereka hanya bisa mendekati, tapi tidak menguasai Moskow, apalagi Kaukasus. Ketika keadaan sudah kacau, yang ditakutkan Hitler menjadi kenyataan: pasukan Jerman mulai kekurangan bahan bakar.

Di saat genting tersebut, pasukan Uni Soviet melakukan serangan balik. Pasukan Uni Soviet mendatangkan ratusan ribu tentara dari Siberia, melengkapi semua pasukannya dengan baju tebal untuk musim dingin, kacamata ski, dan peralatan-peralatan lainnya. Pasukan Jerman terpukul mundur, Moskow pun tidak pernah bisa direbut pasukan Jerman.

Di tahun 1942, akhirnya tentara Jerman memutuskan untuk menyerang Kaukasus. Tujuan mereka adalah 2 kota penghasil minyak di Kaukasus Utara: Maikop dan Grozny. Untuk mengamankan jalur kedua kota itu, pasukan Jerman harus mengamankan kota Stalingrad (sekarang bernama Volgograd). Sayangnya, tenaga pasukan Jerman tidak cukup. Pasukan Jerman pun sudah terlalu jauh dari markas besar mereka. Medan perang yang harus mereka pertahankan terlalu luas: dari Leningrad di Utara sampai Kaukasus di Selatan.

Pasukan Jerman berhasil merebut Maikop, tapi, karena kekalahan besar mereka di Stalingrad, mereka terpaksa mundur sebelum merebut Grozny. Hitler tahu bahwa Jerman kini tak punya BBM untuk memenangkan perang. BBM mereka cuma cukup untuk bertahan, maka gerak mundur pasukan Jerman pun dimulai bersamaan dengan gerak maju pasukan Uni Soviet.

Sebetulnya, Hitler punya jalur alternatif untuk merebut Kaukasus. Namun, dia tak menyadarinya, yaitu jalur Selatan. Perhatikan peta berikut ini:

Kalau saja Hitler memusatkan seluruh kekuatan Jerman dan Italia (sebagai sekutu Jerman) ke Libya untuk mendukung pasukan Jerman dan Italia menyerang Mesir, mereka bisa dengan mudah merebut terusan Suez. Ini kedengarannya kecil, tapi terusan Suez adalah urat nadi aliran sumber daya Inggris dari Asia dan Afrika Timur ke tanah air Inggris. Saat itu, tanah air Inggris mulai kewalahan, kekurangan bahan baku akibat serangan Jerman dan Italia. Jatuhnya Suez akan memaksa kapal-kapal Inggris untuk memutari seluruh benua Afrika, membuat seluruh industri Inggris kekurangan bahan baku, mengurangi daya perang Inggris. Karena itu, komandan Angkatan Laut Jerman, laksamana Erich Raeder, pernah bilang “Merebut Suez itu lebih penting daripada merebut London!” Lalu, setelah Suez jatuh, Jerman bisa langsung ngebut ke Utara, merebut Palestina, Suriah, Irak, dan menjangkau Kaukasus dari Selatan.

Semua ini tak terjadi karena Hitler hanya mengirim 2 divisi (Sekitar 30 ribu tentara) ke Afrika. Pasukan kecil tersebut di bawah pimpinan jendral Erwin Rommel yang karismatik berhasil memporak-porandakan tentara Inggris di Mesir, dan mengancam terusan Suez. Kemenangan Rommel membuat Inggris terhenyak. Tidak seperti Hitler, pihak Inggris menyadari pentingnya terusan Suez. Mereka pun mengirimkan semua tentara yang bisa mereka dapatkan ke daerah itu, dan mengirimkan semua kapal perang dan kapal terbang untuk memotong jalur bala bantuan Rommel dari tanah Italia. Angkatan Laut Italia sebetulnya punya kapal perang untuk melawan upaya Inggris ini, masalahnya, mereka kekurangan BBM. Kapal-kapal perang Italia yang canggih tak bisa berlayar karena ketiadaan BBM.

Dikeroyok oleh bejibun tentara Inggris, kekurangan amunisi, kekurangan BBM, dan kekurangan bala bantuan manusia juga, Rommel akhirnya terpaksa mundur dari Mesir. Rommel bisa berbuat jauh lebih banyak kalau saja dari awal dia mendapat lebih dari 2 divisi, atau paling tidak, sekalian saja 100 ribu tentara. Daripada mengirim 3 juta tentara ke Uni Soviet, mengirim 100 ribu tentara ke Afrika akan jauh lebih efektif. Sayangnya Hitler tidak terlalu mengindahkan saran dari Raeder dan Rommel yang terus menerus meminta bala bantuan untuk pasukan Afrika ini.

 

Penyebab Ketiga: Obsesi pada Rasisme

Ketika membicarakan Nazi Jerman, selain teringat pada Perang Dunia II, tentu saja kita juga teringat pada genosida bangsa Yahudi, Slavia, Romani (Gipsi), dan bangsa-bangsa lain yang dilabeli Untermensch (Manusia rendahan) di tanah Eropa. Padahal, di artikel gue terdahulu, gue pernah singgung bahwa negeri yang paling kuat adalah negeri yang paling toleran. Sayangnya, Hitler malah berusaha menjadikan Jerman sebagai negeri terkuat sepanjang sejarah dengan mengandalkan intoleransi. Di buku Mein Kampf, Hitler dengan gamblang menulis bahwa dia sangat membenci etnis Yahudi, Slavia, Romani, dll., serta berniat “memurnikan” Jerman, membersihkan Eropa, mensucikan dunia dari “pencemaran” etnis-etnis itu!

Intoleransi, rasisme, pribumiisme itu mahal harganya. Sebelum perang dimulai saja, partai Nazi dengan sistematis merundung, menganaktirikan, bahkan menghajar para Untermensch ini. Mereka pun ramai-ramai meninggalkan tanah Jerman. Padahal, mereka ini bukan orang-orang sembarangan. Mereka adalah ilmuwan, insinyur, guru, seniman, dokter, tukang terampil dan lain-lain. Orang-orang yang tenaganya, kecerdasannya, kreativitasnya, keterampilannya amat dibutuhkan untuk memenangkan perang. Salah satu orang yang paling tersohor yg meninggalkan Jerman karena rasisme ini adalah Albert Einstein. Banyak dari orang-orang ini pindah ke Amerika Serikat dan akhirnya menyumbangkan seluruh tenaga mereka untuk mengalahkan Nazi Jerman dengan berbagai cara. Menjadi tentara salah satunya. Cara lainnya adalah dengan menjadi insinyur dan ilmuwan yang bergabung dalam Proyek Manhattan untuk merancang bom atom pertama di dunia. Orang-orang yang dirundung ini malah berbalik membantu mengalahkan si perundung. Orang “rendahan” ini ternyata bisa mengalahkan “Ras Unggul” yang begitu diagung-agungkan Hitler dan para pengikutnya.

Namun, masih banyak yang tak bisa melarikan diri dari wilayah Jerman. Orang-orang ini secara sistematis dibantai di kamp konsentrasi. Nah, pembantaian ini menarik dari segi militer, karena mengangkut orang-orang ini ke pusat pembantaian ini tidak murah. Butuh kereta api, perencanaan, dan sumber daya lainnya yang dibutuhkan untuk:

  • Mengangkut barang tambang ke pabrik
  • Mengangkut tank, pesawat, dan lain-lain dari pabrik ke medan perang
  • Mengangkut tentara ke medan perang
  • Mengungsikan tentara yg terluka

Ternyata, semua itu tidak sepenting mengangkut para Untermensch ke kamp konsentrasi, karena “Membersihkan dunia dari Untermensch” adalah esensi; tujuan dasar rezim Nazi.

Salah satu kamp konsentrasi Nazi Jerman di Dachau.

Terakhir, obsesi pada rasisme ini juga yang membuat Jerman melewatkan kesempatan mengalahkan Uni Soviet. Rakyat Uni Soviet sebetulnya amat membenci partai Komunis dan Iosif Stalin yang sudah membantai jutaan saudara-saudara mereka. Mereka menyambut tentara Jerman sebagai pembebas. Kalau saja pihak Jerman memang datang sebagai pembebas, seluruh Uni Soviet akan runtuh seperti tumpukan kartu yg ditiup. Masalahnya, pasukan Jerman selalu diikuti pasukan SS dan pasukan pembantai lainnya yang membantai, memperkosa dan menjarah semua kota dan desa Uni Soviet yang mereka taklukkan. Rakyat Uni Soviet berhenti menyambut tentara Jerman dan malah bersatu di bawah komando Stalin. Ini bukan perang demi Stalin atau demi Komunisme. Buat rakyat Uni Soviet, ini jadi perang untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan bangsa mereka.

 

Point Keempat: Faktor Amerika Serikat

Faktor terakhir yang menyebabkan kekalahan Jerman adalah perang melawan Amerika Serikat.

Loh, kok ini dipisahkan?

Begini loh, Amerika Serikat TIDAK PERNAH menyatakan perang melawan Jerman. Ingat, yang menyerang Amerika Serikat adalah Jepang. Setelah Pearl Harbor, presiden Roosevelt menyatakan perang melawan Jepang. Tidak ada kata Jerman atau Nazi atau Hitler dalam pernyataan perang tersebut. Semua pun bertanya-tanya, “Jerman gimana?”

Dari sudut pandang Jerman sendiri, Hitler sebetulnya tak bisa mendapat apa-apa dari menyatakan perang melawan Amerika Serikat. Memangnya wilayah Amerika Serikat mana yang dibutuhkan Jerman? Memangnya sumber daya esensial apa yang hanya bisa didapat jika menaklukkan Amerika Serikat? Memangnya Jerman punya kemampuan menyeberangi samudera Atlantik dan menyerang tanah air Amerika Serikat? Semua pertanyaan itu jawabannya adalah TIDAK ADA.

Salah satu poster propaganda Amerika Serikat yang menunjukkan sentimen anti Hitler dan Nazi Jerman.

Namun, kenyataannya, tanggal 11 Desember 1941, empat hari setelah Pearl Harbor, Hitlerlah yang menyatakan perang melawan Amerika Serikat. Hitler sudah lama kesal, sebab dia tahu persis, walau Amerika Serikat berstatus netral dalam perang, sebetulnya diam-diam memasok Inggris dan Uni Soviet dengan senjata, truk, pesawat, dan lain-lain. Serangan Jepang di Pearl Harbor membuat Hitler 100% yakin akan kemenangan Jerman atas Amerika Serikat. Ini adalah kesalahan perhitungan; blunder terbesar yang dibuat oleh Hitler.

Dengan adanya status perang antara Amerika Serikat dengan Jerman, Amerika Serikat dan rakyatnya mengerahkan segenap kekuatan militer, sumber daya, dan industrinya secara terang-terangan. Sebelumnya, karena kuatnya lobi anti perang di Amerika Serikat, mereka tak bisa 100% mendukung Inggris dan Uni Soviet. Hitler sudah menjadikan negara penjajah terkuat (Inggris) dan negara dengan daratan terluas (Uni Soviet) sebagai musuhnya. Kini dia menjadikan negara dengan ekonomi terbesar di dunia sebagai musuh barunya.

Amerika Serikat langsung mengirim ribuan kapal terbang, ratusan ribu tentara, ratusan kapal perang, dan lain-lain. Dengan bantuan Amerika Serikat, Inggris mengamankan Samudera Atlantik dari ancaman kapal selam Jerman; menghujani kota-kota Jerman dengan bom, dengan agresif menyerang posisi-posisi pertahanan Jerman di Afrika Utara, Italia, bahkan merebut kembali tanah Perancis dengan operasi amfibi terbesar sepanjang sejarah. Semua ini takkan mungkin tercapai di tahun 1942 – 1944 seandainya Amerika Serikat tidak terlibat perang terbuka melawan Jerman.

 

Kuat dan dominan belum tentu menang.

Jadi, mengapa Jerman kalah? Padahal di awal mereka nampak begitu unggul. Banyak banget faktor yang menyebabkan kekalahan Jerman, pribadi Hitler memang sebuah faktor yang amat berpengaruh, tetapi jika saja operasi Barbarossa dimulai sesuai dengan keinginan Hitler sehingga Jerman berhasil merebut Kaukasus di akhir 1941, Jerman memiliki peluang besar untuk mengalahkan Uni Soviet dan memenangkan Perang Dunia II.

Seandainya musim dingin di tahun 1941 tidak memecahkan rekor…
Seandainya Rommel mendapatkan lebih dari 2 divisi…
Seandainya ada anak buah Hitler yang meyakinkan bosnya bahwa perang terbuka melawan Amerika Serikat adalah ide buruk…

Ada begitu banyak pengandaian. Namun, pada akhirnya kekalahan Jerman ini dapat kita kaitkan dengan prinsip Leo Tolstoy dalam novel Anna Karenina:

Semua pernikahan bahagia itu mirip, semua pernikahan tidak bahagia itu tidak bahagia menurut cara mereka masing-masing.

Untuk mencapai kebahagiaan, untuk mencapai kesuksesan dalam segala hal, bukan cuma dalam pernikahan, tantangannya banyak. Sebagian besar, atau bahkan semua harus diatasi. Sebaliknya, untuk gagal itu mudah. Kegagalan mengatasi SATU saja masalah itu bisa berujung pada kekalahan, ketidakbahagiaan, dan kegagalan.

Mimpi Hitler untuk menjadikan negeri nomor satu di dunia adalah salah satu mimpi dimana prinsip Anna Karenina ini berlaku. Menjadikan Jerman negara terhebat di dunia itu sulit. Kegagalan Hitler, partai Nazi, serta bangsa Jerman dalam mengatasi permasalahan-permasalahan mereka selama Perang Dunia II menjadi penyebab kekalahan mereka sendiri.

Gimana? Lo bisa dapat pelajaran apa dari cerita ini? Well, sekuat dan sedominan apa pun lo, kalau lo gak bisa mendisiplinkan diri dalam mengatasi permasalahan, kemenangan yang sudah nampak di depan gerbang pun dapat berubah menjadi kekalahan.

Sekian dulu cerita gue, guys. Semoga cerita tentang kekalahan Jerman di Perang Dunia II ini bisa menjadi pembelajaran untuk lo semua.  Kalo lo ada pertanyaan atau mau diskusi tentang topik ini, boleh banget tulis di kolom komentar. Sampai jumpa di artikel berikutnya, ya.


 

Referensi:
Alan Bullock: Hitler: A Study in Tyranny
Alan Bullock: Hitler & Stalin: Parallel Lives
August Kubizek: The Young Hitler I Knew
Frank Smoter: Adolf Hitler: the Making of a Führer di:
http://smoter.com/hitler.htm diakses tanggal 12 September 2016
Norman M. Naimark: Stalin’s Genocide
P.K. Ojong: Perang Eropa 1, 2, dan 3.
Patrick J. Buchanan: Chuchill, Hitler, and the Unnecessary War
Richard Overy: Russia’s War: A History of the Soviet War Effort 1941-1945
Samuel P. Huntington: The Soldier and The State
Simon Sebag Montefiore: Stalin: The Court of the Red Tsar

Sumber Peta:
Wikimedia Commons
United States Military Academy Westpoint: Department of History European Theater Map
https://www.westpoint.edu/history/sitepages/wwii%20european%20theater.aspx

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.