Latar Belakang Keterlibatan Jepang pada Perang Dunia II

Artikel ini membahas sejarah bagaimana Jepang memulai Perang Dunia II, yang dimulai dengan menyerang mendadak Pearl Harbor tanpa peringatan.

Kira-kira 75 tahun yang lalu, tepatnya 7 Desember 1941. Terjadi serangan militer mendadak yang menggemparkan seluruh dunia, terutama publik Amerika Serikat. Yak, mungkin beberapa di antara lo ada yang bisa nebak, serangan yang gua maksud adalah serangan atas pangkalan militer AS di Pearl Harbor (Kepulauan Hawaii) oleh 400+ pesawat tempur imperialis Jepang. Serangan ini begitu mengejutkan karena dilakukan tanpa peringatan atau deklarasi perang apapun. Terlebih, hal ini dilakukan oleh sebuah negara yang selama ini mengucilkan diri dari dunia luar. Sebuah negara yang sekilas tidak punya kepentingan apapun pada percaturan politik dunia, tiba-tiba saja melakukan serangan mendadak pada salah satu negara superpower, yang juga sekaligus menjadi pemicu Perang Dunia II.

“Kenapa yah Jepang cari gara-gara aja nyerang Pearl Harbor? Padahal selama ratusan  tahun Jepang selalu menutup diri terhadap dunia luar. Kenapa tiba-tiba Jepang ikut memulai Perang Dunia II?”

Terkait dengan pertanyaan di atas, banyak orang menyamakan kondisi Jepang dengan Jerman: “Ah, keduanya kan sama-sama dikuasai diktator dan militerisme yang berniat menguasai dunia!” Pada kenyataannya, tidak sesederhana itu. Penyebab, latar belakang, akar masalah Jepang menyerang Pearl Harbor dan memulai PD2 di Pasifik berbeda jauh dari latar belakang Jerman memulai PD2 di Eropa. Nah, untuk mengurai akar masalahnya ini, mari kita telusuri bersama sejarah budaya Jepang yang menarik ini.

 

Era Ninja dan Samurai…Berakhir!

Kita akan mulai penelusuran sejarah ini pada masa ketika kekuasaan kaum samurai mulai berakhir, yaitu sekitar pertengahan abad ke-19. Jepang saat itu adalah “Negara pertapa” yang menutup diri secara total selama ribuan tahun terhadap dunia luar. Tidak ada orang asing yang boleh menginjakkan kakinya di Jepang. Sama seperti orang Jepang juga tidak boleh pergi meninggalkan kepulauan Jepang. Secara praktis, orang Jepang ga pernah punya kontak sama sekali dengan orang asing. Bagi masyarakat Jepang, dunia di luar Jepang adalah ibarat planet lain yang penuh misteri.

Politik isolasi Jepang akhirnya menerima tantangan dari pihak luar pada 31 Maret 1854, Komodor Matthew Perry dari AL Amerika Serikat dengan 10 kapal perangnya memborbardir pantai timur Jepang serta MEMAKSA Jepang untuk mengakhiri pertapaannya. Pada saat itulah untuk pertama kalinya, orang-orang Jepang melihat teknologi militer yang begitu berbeda dengan persenjataan mereka yang masih menggunakan katana, wakizashi, yari, yumi, dll.

U.S. naval officer Commodore Matthew Perry meets the imperial commissioners at Yohohama, Japan. Illustration from the official narrative of the expedition. Image published: 1856.
U.S. naval officer Commodore Matthew Perry meets the imperial commissioners at Yohohama, Japan. Illustration from the official narrative of the expedition. Image published: 1856.

Kedatangan Matthew Perry dan tentara AS ke pantai Edo Jepang begitu menggemparkan seluruh masyarakat Jepang. Para bangsawan takut, rakyat kecewa, mereka mulai berpikir bahwa pemerintah Jepang gagal & tidak berdaya menghadapi kapal perang asing. Singkat cerita, kekecewaan rakyat dan para bangsawan berhasil memaksa pemerintahan Jepang saat itu (Shogun Tokugawa) untuk digulingkan. Para masyarakat berharap pemerintahan kembali dipimpin oleh sang Kaisar yang selama ini dipasung kekuasaannya serta dikurung di dalam istananya sendiri oleh pemerintahan Tokugawa.

Penggulingan ini berhasil, dan berdirilah negara Jepang “modern”, negara yang mulai menerapkan prinsip politik ala Barat seperti parlemen, tentara profesional, wajib militer modern, sistem kabinet, dan lain-lain. Ribuan anak-anak muda Jepang dikirim untuk kuliah di Inggris, Perancis, Jerman, dan lain-lain, untuk menjadi motor pembangunan negara Jepang baru!

Jepang yang “memodernkan” pemerintahan dan militernya berhasil mengalahkan 2 negara raksasa: Cina (1894 – 1895) dan Rusia (1904 – 1905). Di bidang politik, Jepang juga berhasil menjadi sekutu negara terkuat di dunia waktu itu, yaitu Inggris (1902). Kemenangan dan persekutuan ini membuat gengsi, kepercayaan diri seluruh bangsa Jepang membumbung tinggi ke langit! Modernisasi sudah sukses! Sudah saatnya Jepang menjadi penguasa Asia!

Ketika Inggris terlibat dalam Perang Dunia 1, Jepang turut bergabung sebagai sekutu Inggris. Inggris sangat terbantu oleh Jepang yang berperan sebagai penjaga wilayah jajahan Inggris di Asia, sementara kapal perang Inggris dipulangkan untuk menghadapi armada tempur Jerman. Singkat kata, ketika PD1 berakhir, Jepang sebagai sekutu Inggris berada di pihak pemenang!

Pasca PD1, percaturan politik dunia masih sangat panas. Banyak negara yang khawatir ancaman perang di kemudian hari bisa membuat negaranya hancur. Berbagai ketegangan politik paska perang, membuat banyak negara berlomba-lomba membangun armada tempur, termasuk Amerika, Inggris, dan Jepang. Dalam lomba ini, tentu Jepang yang bercita-cita menguasai Asia Pasifik tidak mau ketinggalan. Ini saatnya Jepang menunjukkan dirinya sebagai penguasa Asia!

Namun demikian, perlombaan ini nampaknya tidak sehat bagi perekonomian dalam jangka panjang. Yah namanya bikin kapal perang kan pasti menguras banyak anggaran negara. Untuk itu pada 12 November 1921- 6 February 1922, diselenggarakan sebuah konferensi internasional (Washington Naval Conference) yang dihadiri oleh semua kekuatan militer laut terkuat di dunia. Tujuan utamanya adalah untuk meredakan perlombaan industri militer.  Bagi negara Jepang sendiri, ada 2 point yang bisa gua highlight dari perjanjian tersebut:

  1. Semua pihak WAJIB MEMBATASI ARMADA TEMPURNYA! Jumlah berat kapal tempur (battleship) Amerika dan Inggris dibatasi cuma 525 ribu ton! Untuk Jepang, batasnya lebih kecil: 315 ribu ton! Artinya, perbandingannya 5:5:3.
  2. Selama persekutuan Inggris dan Jepang masih ada, artinya armada Amerika Serikat akan dikeroyok oleh 2 armada ini! Jadi supaya kekuatannya seimbang, persekutuan Inggris dengan Jepang wajib diakhiri.
washington-naval-conference
dokumentasi foto pertemuan konferensi kekuatan laut dunia (1921)

Dalam menanggapi 2 poin perjanjian ini, para pemimpin Jepang terbagi menjadi beberapa faksi. Ada yang mendukung, ada juga yang menolak. Tanpa sadar, perpecahan politik internal Jepang ini menjadi bibit masalah yang nantinya akan menyeret Jepang pada Perang Dunia II:

 

Perpecahan Internal di Militer Jepang

Setelah perjanjian Washington ditandatangani, terjadi perpecahan pada kalangan militer Jepang. Singkat cerita, angkatan bersenjata Jepang terpecah menjadi 4 faksi. Keempat faksi ini hubungannya tidak stabil: terkadang bersaing memperebutkan posisi, terkadang bahkan saling bunuh, tapi tak jarang juga mereka bersekutu. Berikut adalah keempat faksi tersebut:

1. Faksi Perjanjian (Joyaku-ha)

Diisi oleh kalangan Angkatan Laut yang MENYETUJUI perjanjian Washington. Mereka berpendapat, hasil perjanjian Washington yang membatasi pembangunan militer Jepang dengan porsi 3/5 adalah hal yang masuk akal. Di satu sisi, Jepang memang tidak memiliki kekuatan ekonomi maupun teknologi yang cukup untuk bersaing dengan Amerika Serikat ataupun Inggris. Di sisi lain, luas perairan yang perlu dijaga oleh AL Jepang juga tidak seluas perairan negara Amerika yang mencakup 2 samudera, yaitu Pasifik dan Atlantik. Jadi pada intinya, porsi 3/5 itu wajar dan bahkan menguntungkan bagi Jepang.

Anggota faksi ini adalah para admiral profesional yang mendapat pendidikan di luar negeri seperti admiral Mitsumasa Yonai, Osami Nagano, Isoroku Yamamoto, Shigeyoshi Inouye, dan lain-lain.

2. Faksi Armada (Kantai-ha):

Berbeda dengan Faksi Perjanjian, Faksi ini adalah pihak Angkatan Laut yang MENOLAK perjanjian Washington. Bagi faksi armada, pembatasan ini adalah soal harga diri Jepang! Pembatasan industri militer sebesar 3/5, adalah tidak adil. Jepang telah diremehkan, dianggap tidak sederajat, dan dikadalin oleh kekuatan Barat.

Oleh karena itu, Jepang harus menolak isi perjanjian ini dan membangun kekuatan militer sesuai dengan takdirnya: sebagai penguasa Asia! Anggota faksi ini adalah admiral ultranasionalis seperti Kato Kanji, Chuichi Nagumo, Pangeran Hiroyasu Fushimi, dan lain-lain.

3. Faksi Jalan Kekaisaran (Kodo-ha):

Didirikan oleh jendral angkatan darat yang ultranasionalis seperti Sadao Araki dan Jinzaburo Masaki. Mereka hakul yakin bahwa kejayaan Jepang hanya bisa dicapai jika dibimbing oleh semangat bushido (semangat samurai tradisional)! Mereka beranggapan bahwa kekuatan semangat bushido yang diusung oleh angkatan darat membimbing bangsa Jepang untuk menghapuskan semua pengaruh buruk partai politik, korupsi, individualisme, dan budaya Barat! Intinya, faksi ini adalah faksi ultra-nasionalis, dengan landasan semangat traditional bushido, yang percaya bahwa Angkatan Darat adalah pihak yang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin Jepang.

4. Faksi Kontrol (Tosei-ha):

Berseberangan dengan faksi Jalan Kekaisaran, ada juga faksi angkatan darat yang dipimpin oleh Tetsuzan Nagata, yang diikuti oleh Hideki Tojo dan beberapa jendral lainnya. Tidak seperti faksi Jalan Kekaisaran yang mementingkan tradisi & semangat bushido, faksi kontrol ini berpendapat bahwa Jepang perlu mengutamakan modernisasi untuk meningkatkan efisiensi. Buat mereka, segala hal sebaiknya ditempuh dengan pertimbangan pragmatis demi progresivitas, termasuk menyingkirkan tradisi. Jepang perlu segera meninggalkan hal-hal tradisional yang tidak masuk akal, dan fokus pada keputusan-keputusan yang efisien dan masuk akal. Mereka juga yakin, Angkatan Darat adalah organisasi terbaik yang bisa memimpin Jepang menuju modernisasi.

****

Perpecahan faksi di kalangan militer ini menciptakan kekacauan politik di Jepang pasca PD1. Namun kekacauan ini jangan disamakan dengan kekacauan di Jerman. Kalau masyarakat umum bisa menyebut “Jermannya Hitler” untuk merujuk pada saat Jerman dikuasai mutlak oleh Hitler. Di Jepang, tidak ada “Jepangnya Tojo” atau “Jepangnya Yamamoto” atau Jepangnya siapapun, sebab situasi politik militer maupun sipil Jepang di tahun 1930 sangat kacau balau!

Segala bentuk kekacauan politik ini secara perlahan terus membawa langkah Jepang menuju jalan peperangan. Sejujurnya jika ingin dijabarkan secara detail, akan sangat rumit sekali ceritanya. Tapi dalam artikel ini, gua akan coba merangkum menjadi 5 bagian penting, sebagai berikut:

  1. Dominasi Militer dalam politik Jepang
  2. Peperangan dengan Cina
  3. Upaya menguasai Sumber Daya Alam
  4. Persekutuan Jepang dengan Hitler
  5. Kemelut Politik internal sebelum Serangan Pearl Harbor

1. Dominasi Militer dalam Politik Jepang

Perang Dunia 1 yang berujung pada kekalahan Kekaisaran Jerman dipelajari dengan cermat oleh Jepang. Kesimpulan para jendral dan admiral Jepang: Jerman kalah karena kekurangan Sumber Daya Alam (SDA). Jadi, kalau Jepang mau siap berperang dengan negara-negara Eropa, Jepang harus memastikan memiliki SDA yang memadai. Artinya, Jepang perlu memiliki jajahan yang punya banyak tambang, dan terhubung dengan tanah air Jepang! Untuk mengamankan sumber daya itu, pihak militer terus berupaya mewujudkan dominasi militer dalam politik Jepang. UU pemerintahan Jepang memastikan semua Perdana Menteri (PM) Jepang “tersandera” oleh angkatan laut & angkatan darat.

Selain desakan politik, kekuasaan militer juga dipengaruhi oleh adanya tentara liar (assassin) yang kerap melakukan pembunuhan terhadap tokoh politik yang berhaluan pada pelemahan peran militer di Jepang. Lo bisa bayangin situasinya mirip banget dengan latar belakang cerita manga Kenshin “Batosai” sang pembantai yang membunuh para petinggi politik. November 1921, PM Takashi Hara dibunuh karena dianggap terlalu lembek pada Korea. Sepuluh tahun kemudian, PM Osachi Hamaguchi juga dibunuh karena kebijakannya memotong anggaran Angkatan Laut.

genzai_kawakami
Kawakami Genzai, assassin legendaris pada akhir era Edo yang menginspirasi tokoh Kenshin Himura (Rurouni Kenshin)

Tidak hanya melakukan pembunuhan politik, tentara Kwantung (Tentara Jepang yg berkedudukan di daerah Korea) juga menyabotase rel KA di Manchuria. Saat tentara Cina memeriksa sabotase tersebut, tentara Jepang menembaki tentara Cina. Insiden ini berubah menjadi perang terbuka, dan awal 1932, tentara Jepang merebut Manchuria, dan mendirikan negara boneka bernama Manchukuo. Kejadian ini seharusnya berujung pada dihukum matinya banyak perwira AD yang melakukan operasi militer tanpa perintah, tanpa ijin, tanpa sepengetahuan pemerintah pusat di Tokyo!

Konyolnya, Pemerintah pusat Jepang bukannya memecat dan menghukum mati para opsir yang terlibat, malah mengundurkan diri, termasuk sang Perdana Menteri Wakatsuki Reijiro! Ketika PM pengganti yang baru (Inukai Tsuyoshi) mencoba merundingkan perdamaian dengan pemerintah Cina, kaum militer dari Faksi Armada yang ultranasionalis tidak mentolerir sikap lembek dengan pihak asing. Mereka mencoba menembak mati PM Inukai beserta para menteri  terdekatnya di rumah dinas mereka. Gila banget kan! Para serdadu ini mencoba membunuh PM mereka sendiri demi harga diri militer! Pembunuhan ini sekaligus menandakan berakhirnya semua kendali sipil atas militer Jepang.

Kegilaan ini memuncak tanggal 26 Februari 1936, lebih dari 1.000 tentara dari faksi Jalan Kekaisaran menyerang rumah-rumah pejabat tinggi kekaisaran dan semua petinggi militer dari faksi lain, termasuk PM Keisuke Okada (hampir terbunuh). Untungnya, pemerintah Jepang kali ini bertindak tegas. Kaisar Hirohito sendiri memerintahkan untuk melibas upaya kudeta tsb. Setelah kudeta berhasil ditumpas, semua jendral dari Faksi Jalan Kekaisaran dipecat atau dimutasi. Pemberangusan kudeta ini praktis mengakhiri kekuasaan Faksi Jalan Kekaisaran.

Sayangnya, berhentinya pembunuhan tokoh politik ala Hitokiri Battosai ini tidak berarti berakhirnya pengaruh militer atas kabinet Jepang. Setelah kudeta gagal ini, pihak sipil makin takut dan tak berdaya, berselisih pendapat dengan militer berarti nyawa adalah taruhannya. Militer Jepang  makin berkuasa. Militer Jepang juga makin bernafsu untuk merebut daerah yang kaya SDA, Masalahnya cuma arahnya: ke Selatan (Nanshin) atau ke Utara (Hokushin)?

Angkatan laut terutama Faksi Armada, jelas menginginkan serangan ke Selatan, ke Filippina dan Hindia Belanda. Alasannya simpel, kalau langkah ini diambil, AL yang akan memegang kendali di Jepang! Sementara itu di AD , jelas lebih memilih menyerbu ke Utara, ke Siberia, wilayahnya Uni Soviet. Alasannya juga simpel, serbuan macam ini jelas lebih membutuhkan AD! Namun, sebelum upaya mengambil alih SDA ini terwujud, Jepang sudah terlibat perang, kali ini melawan tetangga raksasanya.

 

2. Peperangan dengan Cina

7 Juli 1937, tentara Jepang yang sedang menjaga jembatan Marcopolo di dekat Beijing, terheran-heran ketika mereka sadar ada 1 rekan mereka yang menghilang. Dalam keadaan panik, mereka mengira 1 rekan tersebut telah diculik oleh pihak Cina. Untuk itu, mereka menuntut untuk melakukan sweeping ke daerah Cina, untuk mencari si tentara yang hilang itu. Permintaan ga jelas ini tentu saja ditolak oleh pihak Cina, keadaan makin panas, dan akhirnya berujung pada baku tembak. Tentara yang menghilang itu sendiri sebetulnya … sedang ke toilet untuk buang air besar!!

  • “Lho kita lagi diserang sama Cina ya? Sorry barusan gua sakit perut jadi BAB agak lama”
  • “Lo kemana aja kampret, daritadi kita nyariin lo!”

Kembalinya si tentara itu tak meredakan ketegangan, baku tembak terus berlangsung, dan berubah menjadi pertempuran besar-besaran. Konyol banget kan? Konyol tapi ini bukan cerita anime, ini kejadian sejarah nyata.

marco-polo-bridge-incident
dokumentasi foto penjagaan jembatan marco polo dekat Beijing

Logikanya, agresi militer yang ga beralasan ini masih bisa dihentikan. Pihak Jepang bisa saja minta maaf atas kesalahpahaman ini dan tentu pihak Cina juga takkan mau memulai perang. Tapi PM Fumimaro Konoe merasa perlu “mengambil hati” kalangan extrimis militer, sekaligus juga mungkin takut dibunuh karena dianggap terlalu lembek dengan pihak asing. Sehingga sang PM tetap mengirim serdadu tambahan ke daerah tersebut dan menyampaikan pidato bahwa “akan memastikan Cina menerima ganjarannya”. Akhirnya, gencatan senjata awalnya yang sudah terjadi malah cuma mendapat sedikit perhatian, pidato Konoe yang provokatif malah menjadi headline media! Pihak Cina tentu saja berpikir bahwa Jepang ngotot ngajak berperang. Ketegangan berlanjut, baku tembak dimulai lagi, dan kedua belah pihak mengirim segenap pasukannya. Artinya, dengan alasan yang sangat konyol, Jepang memulai peperangan dengan Cina dan 400 juta rakyatnya!

Masalahnya, menyerang Cina itu sebetulnya tidak ada dalam agenda militer Jepang. Agenda militer Jepang yang sebenarnya adalah merebut SDA di Siberia  (Utara) atau di Asia Tenggara (Selatan). Nyerang Cina, ya ga akan dapet apa-apa. Bukan hanya uang, SDM, dan SDA saja yang habis secara konyol dalam perang melawan Cina ini. Jepang juga mengalami kerugian dari sisi diplomasi di mata dunia internasional karena kebengisan tentara Jepang yang melakukan pembunuhan dan pemerkosaan massal (Di Nanjing misalnya).

Misionaris-misionaris Agama Kristen asal Amerika yang berada di Cina terus mengabarkan kekejaman tentara Jepang kepada media AS. Hal ini membuat publik AS makin membenci Jepang! Cina juga menolak menyerah, dan terus mengobarkan perlawanan, bahkan setelah pasukan Jepang menguasai seluruh pantai Cina! Perang melawan 400 juta rakyat Cina tidak berjalan singkat seperti keinginan para petinggi AD Jepang.

 

3. Upaya menguasai Sumber Daya Alam

Kembali pada rencana awal untuk menguasai SDA, masalahnya mau ke Utara (Hokushin) atau Selatan (Nanshin) nih? Setelah perang dengan Cina semakin panas, perwira-perwira AD Jepang di Manchuria tetap ngotot untuk menyerbu ke utara. Mereka berkali-kali bergerak di luar perintah dari pusat dan terus-terusan memprovokasi tentara-tentara Uni Soviet dan Mongolia (Saat itu Mongolia adalah sekutunya Uni Soviet). Puncaknya adalah insiden kecil di desa Nomonhan (11 Mei–15 September 1939). Insiden ini juga sama konyolnya seperti di jembatan Marcopolo.

1200px-hokushin-ron-map-svg
Tahap-tahap rencana merembut SDA pada jalur Hokushin (Utara)

Jadi pada 11 Mei 1939, ada seorang tentara berkuda mongolia yang entah iseng atau ga sadar memasuki daerah sengketa. Melihat ada 1 orang tentara Mongol, tentara Manchukuo (negara boneka bentukan Jepang) mengusir tentara Mongol tersebut. Nampaknya tentara Mongol ini tidak terima dengan negara boneka yang sok kuasa ini, dan akhirnya pihak Mongol mendatangkan pasukan besar-besaran, termasuk pasukan Uni Soviet yang merupakan sekutunya Mongolia. Insiden kecil ini berujung pada pengerahan segenap tentara Jepang di daerah tsb, lengkap truck, tank, meriam, dan pesawat tempur.

Namun, tak seperti di Cina, pihak Jepang “ketemu batunya.” Di Nomonhan, tentara Uni Soviet dipimpin oleh Jendral Georgy Zhukov, jendral terbaik Uni Soviet yang nantinya menjadi pahlawan di PD2! Pertempuran berakhir dengan kekalahan telak tentara Jepang. Dalam analisisnya setelah kekalahan, jelas sekali AD Jepang kalah segalanya dari AD Uni Soviet: jumlah, tentara, jumlah tank, kualitas tank, kualitas meriam, koordinasi unit, dll. Dipermalukan sedemikian rupa, hilang sudah nafsu AD Jepang untuk menyerbu Uni Soviet. Jadi, tinggal arah Selatan yang tersisa. Inilah awal mula yang menyebabkan Jepang akhirnya memutuskan menjajah negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

mnra_soldiers_1939
Mongolian troops fight against the Japanese counterattack on the western beach of the river Khalkhin Gol, 1939

Dalam upaya memperluas daerah jajahan dan membendung kekuatan Amerika, Jepang perlu sekutu. Saat itu, negara yang paling realistis bisa dijadikan kawan tinggal Jerman dan Italia.

 

4. Persekutuan Jepang dengan Hitler

Pada admiral Jepang dari Faksi Perjanjian tahu betul kekuatan industri Amerika Serikat. Admiral Yonai, anggota Faksi Perjanjian, menteri AL di tahun 1939, dan rekan-rekannya semakin khawatir: di saat perang dengan Cina belum selesai juga, para pemimpin dan rakyat Jepang semakin bernapsu menyerang Asia Tenggara! Dalam pembicaraan resmi, Yonai menyatakan dengan tegas dan jelas: Jepang MUSTAHIL menang dalam perang melawan AS dan Inggris! AL Jepang kalah jumlah, industri Jepang tak mungkin memproduksi keperluan perang sebanyak industri AS dan Inggris!

Yonai dan admiral lain dari Faksi Perjanjian juga memprotes keras usaha faksi lain yang ingin mencoba membangun persekutuan dengan Hitler dari Jerman. Saat itu, Jerman sudah memulai PD2 di Eropa, Jerman sudah berperang melawan Inggris dan Perancis! Apalagi Yonai, yang menguasai bahasa Jerman, tahu betul bahwa Hitler memandang rendah orang-orang Asia seperti Jepang.

Semula, usaha perlawanan ini cukup sukses. Namun, situasi politik Jepang sudah terkunci oleh dominasi militer. Seperti biasa, menteri AD mengundurkan diri, dan AD menolak mengirim penggantinya, mereka menuntut pengunduran diri Yonai. Tak punya pilihan lain, Yonai terpaksa mengundurkan diri. Penghalang terbesar berhasil disingkirkan, akhirnya menandatangani “Pakta Berlin” bersama dengan Jerman dan Italia tanggal 27 September 1940. Maka terciptalah persekutuan antara Jerman, Italia, Jepang dalam ketegangan politik di masa PD2.

pact_of_berlin
Kedutaan besar Jepang di Berlin, September 1940

Akibat perjanjian politik ini, Jepang harus menelan pil pahit karena terkena embargo oleh Amerika Serikat. AS secara resmi menghentikan export baja ke Jepang sekaligus membekukan semua harta Jepang yg berada di AS. Ini membuat Jepang khawatir, sebab AS adalah eksportir minyak terbesar di dunia, sumber utama minyak Jepang!

 

5. Kemelut Politik sebelum Serangan Pearl Harbor

Setelah AS menghentikan pengiriman minyak, setelah persekutuan dengan Hitler ditandatangani, markas besar militer Jepang fokus merancang “Strategi Perang mengalahkan Amerika Serikat dan Inggris”. Tapi lo jangan bayangkan bahwa perancangan ini dilakukan oleh para admiral Jepang papan atas yang berpengalaman di medan tempur, justru rancangan ini dilakukan oleh para perwira muda menengah sekelas mayor dan letkol yang radikal, sembrono, dan cenderung ultra-nasionalis.

Dalam kepala para perwira muda ini, tidak ada analisis untung-rugi, tidak ada pertimbangan rasional untuk jangka panjang. Bagi mereka, perang melawan AS adalah perang heroik yang harus dihadapi untuk mendapatkan kejayaan Jepang! Untuk harga diri Jepang! Dengan semangat bushido, niscaya semua ini akan tercapai! Intinya adalah pola pikir Faksi Jalan Kekaisaran dan Faksi Armada. Merekalah yang pada akhirnya menyetir Jepang menuju jalan peperangan, yang dimulai dengan menjajah wilayah yang kaya dengan SDA di Asia Tenggara.

Pihak yang tak setuju dengan sudut pandang agresif ini bukannya tidak ada. Tapi animo perlawanan terhadap Inggris dan AS sudah terlalu kental. Ini bukan soal pertimbangan rasional lagi, ini soal harga diri bangsa dan semangat bushido! Setiap kali masalah “perang melawan AS dan Inggris” dirundingkan oleh kementrian Jepang, mereka semua menolak membicarakannya secara gamblang, dan cenderung memberikan opini yang mengambang. Kaisar Hirohito sendiri menutup rapat mulutnya. Begitu pula PM saat itu, Pangeran Fumimaro Konoe.

hirohito-tojo-konoe
3 tokoh kunci kemelut politik Jepang (dari kiri-kanan): Kaisar Hirohito, Hideki Tojo, Fumimaro Konoe

Konoe sebagai PM saat itu sadar, perang besar sudah di ambang pintu. Dia mengajukan rencana nekat: meminta bertemu LANGSUNG dengan presiden Roosevelt untuk membicarakan hal ini! Saat itu, semua pihak cenderung setuju bahwa pertemuan ini sangat penting. Pihak AS juga menyambut positif usulan ini. Apalagi para petinggi militer Jepang juga sebetulnya sudah tau, betapa mustahilnya memenangkan perang melawan kekuatan AS saat itu. Walaupun kaum ultranasionalis terus mengobarkan bahwa “semangat bushido” itu mampu mengalahkan segalanya. Namun, semua perwira militer tahu persis semangat saja tidaklah cukup untuk melawan armada perang AS.

Dalam rencana pertemuan dengan Roosevelt, jangan dikira semua pihak terpusat pada 1 skenario perdamaian saja. Situasi politik Jepang yang tumpang-tindih membuat 2 agenda yang bertolak belakang berjalan bersamaan:

  1. Agenda pertemuan dengan Presiden Roosevelt, yang pada hakikatnya bertujuan untuk meredam ketegangan (usaha berdamai)
  2. Agenda untuk menyusun strategi perang mengalahkan Amerika. Pada intinya, jika ingin menyerang AS, harus dilakukan secepat mungkin ketika mereka tidak siap.

Konoe sendiri pada dasarnya seorang yang terlalu perduli pada pencitraan, tapi tak mampu mengambil keputusan. Saat kedua agenda ini makin bertabrakan, bukannya mengambil kendali dan menulis proposal untuk mengajak AS bertemu secara resmi, dia malah mengurung diri di kantornya. Akhirnya, anak buahnya di kementerian luar negerilah yang menulis proposal tsb. Tanpa bimbingan sang PM, mereka menulis proposal yang intinya mengulang tuntutan Jepang kepada AS. Tuntutan yang sudah ditolak pihak AS.

Keadaan ini jelas membuat Kaisar Hirohito bingung dan marah. Merasa perlu lebih memahami kesiapan dari kedua agenda ini, akhirnya Hirohito memanggil Konoe. Karena kerap tidak bisa memberikan penjelasan memuaskan, Konoe memanggil kastaf AD & AL untuk menjelaskan mengapa persiapan perang terus dilakukan kendati upaya diplomasi masih berjalan. Kaisar juga meminta penjelasan mereka terkait sejauh mana perkembangan persiapan perang & seberapa besar peluang Jepang untuk menang.

Kastaf AD & AL yang diminta penjelasan oleh sang Kaisar, tentu segan dan tidak mau terlihat terlalu mengecewakan. Lagi-lagi budaya Jepang membuat penjelasan yang seharusnya sederhana menjadi dilematis. Akhirnya penjelasan mereka jadi berbelit-belit, di satu sisi mereka tau Jepang tidak siap, di sisi lain mereka malu untuk terlihat takut & juga malu untuk mengakui bahwa persenjataan AS jauh lebih unggul dari Jepang. Intinya, respons kastaf ini jadi serba salah.

Dalam pertemuan kabinet keesokan harinya, banyak menteri maupun jendral dalam hatinya berharap Kaisar mengambil keputusan untuk tidak berperang. Tapi kenyataannya, sang Kaisar bukannya memberikan keputusan, malah memberikan pesan berupa puisi karangan kakeknya yang ditulis saat perang melawan Rusia (1904 – 1905):

“Di empat samudera, semua orang adalah saudara dan saudari. Mengapa, oh mengapa, angin dan ombak hebat ini?”

Para menteri, jendral, dan admiral tinggi Jepang cuma bisa bengong. Bukannya mendapat perintah tegas dan jelas dari sang Kaisar, mereka malah mendapat sebuah puisi! Puisi yang bisa diartikan sebagai anti perang. Tapi puisi yang bisa dibaca juga sebagai dukungan atas perang (karena konteks pembuatannya dulu saat mulai perang).

Situasi semakin ga jelas setelah Kaisar menyetujui proposal yang ditulis kementerian luar negeri Jepang. Sebuah proposal ngawur yang dari awal sudah pasti akan ditolak oleh AS. Otomatis pertemuan langsung dengan presiden Roosevelt dibatalkan. Akhirnya Konoe sang PM yang merasa malu karena kegagalannya, mengundurkan diri pada 16 Oktober 1941. Dalam situasi ini, satu-satunya harapan terakhir adalah Jendral TOJO sebagai menteri Angkatan Darat, yang diangkat kaisar menjadi PM menggantikan Konoe, untuk membatalkan rencana perang melawan AS.

Sayangnya, Tojo bukanlah tipe penggebrak. Dia adalah sosok orang Jepang pada umumnya saat itu, seorang tradisionalis, birokratis, sungkan, malu untuk mengakui kekurangan negara. Pada intinya tarik-ulur politik Jepang bisa gua bilang adalah korban dari bentuk budaya mereka sendiri pada saat itu. Ketika sang Kaisar menginginkan Tojo yang meredam nafsu berperang pihak militer, Tojo justru berharap sang Kaisar yang memiliki hak veto untuk memberikan perintah membatalkan perang. Pada akhirnya, tidak ada yang mematikan api peperangan yang semakin membesar di kalangan militer Jepang.

yang tadinya pemikiran awal mereka adalah…

“Amerika begitu kuat, kita tidak mungkin menang”

berubah menjadi…

“Amerika begitu kuat. Oleh karena itu kita harus secepatnya menyerang, sebelum mereka bertambah kuat lagi!”

Diplomasi akhirnya menjadi alat untuk menipu pihak Amerika Serikat agar mereka tidak sadar bahwa Jepang sudah mengirim armada kapal induknya untuk menyerang pusat armada Pasifik AS: Pearl Harbor pada 7 Desember 1941. Ketakutan Jepang kalah dalam perang, pada akhirnya menyeret Jepang ke dalam perang yang dari awal tak mungkin mereka menangkan.

Demikianlah sekelumit kisah kekacauan politik Jepang yang melatar-belakangi keterlibatan Jepang pada Perang Dunia II yang ditandai oleh penyerangan Pearl Harbor. Gua harap artikel ini bisa menambah wawasan lo tentang sejarah politik dunia, dan bisa secara pro-aktif menelusuri lebih mendalam pada banyak topik sejarah politik lainnya. Sampai jumpa di artikel berikutnya!

Sumber:

Dan van der Vat: The Pacific Campaign: The US-Japanese Naval War 1941 – 1945
Eri Hotta: Japan 1941: Countdown to Infamy
John A. Adams: If Mahan Ran the Great Pacific War: An Analysis of World War II Naval Strategy
Richard B. Frank: Downfall: The End of the Japanese Empire
Samuel P. Huntington: The Soldier and The State: The Theory and Practice of Civil-Military Relations.

—————————CATATAN EDITOR—————————

Kalo ada di antara kamu yang mau ngobrol atau diskusi sama Marcel tentang sejarah perang dunia, khususnya keterlibatan Jepang, silakan langsung aja tinggalin komentar di bawah artikel ini.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.