Heboh tentang vaksin palsu, emang vaksin itu apa sih?

Heboh tentang vaksin palsu, emang vaksin itu apa sih?

Sejak kasus vaksin palsu merebak Juni 2016 lalu, catatan Polri menunjukkan sedikitnya ada 197 bayi teridentifikasi mendapat suntikan vaksin palsu. Kementerian Kesehatan melaporkan vaksin palsu tersebut diduga disuntikkan di 37 fasilitas kesehatan, temasuk 14 rumah sakit, yang tersebar di kawasan Jabodetabek.

Kasus vaksin palsu ini sontak menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak, khususnya orang tua. Para orang tua menyerbu rumah sakit yang dicurigai untuk memastikan status vaksin yang pernah diterima anaknya. Orang tua yang menjadi korban vaksin palsu, selain mendesak kepolisian untuk menindak para oknum pengedar, juga menuntut ganti rugi hingga miliaran rupiah ke rumah sakit terkait. Pihak Kemenkes dengan segera membentuk puluhan posko vaksinasi ulang terhadap para korban vaksin palsu.

Sebagian besar dari kita mungkin bertanya-tanya, apa sebenarnya dampak vaksin palsu terhadap anak, khususnya bayi? Sebahaya itukah? Mengapa orang tua korban vaksin palsu begitu resah berurai air mata dan mencoba mencari dukungan dari berbagai pihak? Lalu, apakah vaksinasi ulang menyelesaikan masalah?

Istilah “vaksin” adalah kata yang lumrah kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sepertinya tidak semua orang mengerti esensi dari vaksin itu sendiri. Ketika gue bertanya di kelas atau ke orang tua anak, rata-rata hanya bisa menjawab, “Ya pokoknya vaksin itu buat melawan penyakit”. Tidak banyak yang punya pemahaman tentang bagaimana vaksin bekerja dalam membantu pertahanan tubuh kita melawan penyakit.

Tulisan zeniusBLOG kali ini hadir untuk menjawab semua pertanyaan tersebut. Gue teratrik untuk mengajak kalian menelusuri fenomena ini dari hal yang paling mendasar, yaitu apa vaksin itu sendiri. Dengan memahami dasarnya, gue berharap kita semua bisa menalar sendiri pentingnya vaksin, apa bahaya sesungguhnya dari vaksin palsu, dan kenapa banyak orang tua yang mengkhawatirkan anaknya menjadi korban vaksin palsu.

Oiya, harap diingat bahwa sistem imunitas tubuh manusia adalah sistem yang kompleks. Pemaparan di sini menyesuaikan level pengetahuan Biologi SMA dan hanya mengambil gambaran besar saja karena tidak mungkin menjelaskan segala detilnya dalam satu tulisan. Gue sarankan untuk merujuk pada textbook untuk mendapatkan detil yang lebih lengkap.

vaksin banner

 

Sistem Imunitas Tubuh Manusia

Bicara soal vaksin, pastinya kita harus ngomongin sistem pertahanan (imunitas) tubuh. Gue menganalogikan sistem pertahanan tubuh manusia terhadap penyakit dengan sistem pertahanan sebuah kastil terhadap gempuran musuh luar.

analogi pertahanan

Secara sederhana, kastil memiliki 3 lapis pertahanan untuk melindungi dirinya dari musuh.

Lapisan #1 Pertahanan Kastil

Pertama, ada DINDING yang menjadi lapisan terluar sekaligus perlindungan pertama dari pertahanan kastil. Kalo kita liat di film-film, dinding kastil dibuat tinggi dan kokoh biar ga sembarang orang bisa masuk atau untuk menahan gempuran banyak musuh yang berusaha masuk. Tapi sayangnya, sekokoh dan setinggi apapun dinding yang dibangun, ga semua musuh bisa dibendung. Ada aja musuh yang bisa masuk. Trus gimana dong?

Lapisan #2 Pertahanan Kastil

Kedua, kastil punya PASUKAN PATROLI. Jika ada musuh atau orang asing yang berhasil masuk, praktis para pasukan inilah yang akan langsung turun tangan melawan dan melumpuhkan musuh tersebut. Tapi, para pasukan ini tidak bekerja secara “pintar”. Mereka secara “buta” melibas siapa saja yang asing di kastil ketika lagi patroli. Padahal kan, ga semua orang asing yang masuk kastil adalah musuh. Ga semua musuh juga terang-terangan masuk ke kastil mau bikin rusuh. Ada aja musuh yang diam-diam masuk kastil, bergerilya, menghimpun kekuatan dan menyerang dari dalam. Gimana dong cara mengatasi musuh-musuh jenis ini?

Lapisan #3 Pertahanan Kastil

Nah, ketiga, kastil punya MATA-MATA/INTELIJEN atau semacamnya yang bisa lebih “pintar” membaca gerak-gerik musuh. Mereka inilah yang bisa membedakan mana kawan mana lawan. Mereka juga yang memberikan instruksi ke para pasukan untuk meringkus para pembuat onar di kastil.

pertahanan kastil

Itu dia 3 lapis pertahanan pada sebuah kastil. Sekarang kita coba balikin lagi ke analogi sistem pertahanan tubuh manusia.

Lapisan #1 Pertahanan Tubuh Manusia

Kira-kira bagian tubuh mana ya yang berperan layaknya dinding kastil dalam menangkal kuman penyakit (patogen)?

????????

Yep, KULIT yang sehat dan utuh emang menjadi garda terdepan dalam melindungi kita dari patogen. Kulit yang rusak atau hilang (misalnya akibat luka bakar) akan meningkatkan risiko infeksi. Selain kulit luar, ada juga membran-membran yang melapisi permukaan bagian dalam tubuh yang turut berperan sebagai pembatas. Namun, layaknya dinding tinggi sebuah kastil, kulit dan membran tubuh ga bisa membendung semua kuman penyakit. Ada aja kuman penyakit yang berhasil masuk ke jaringan tubuh. Gimana dong cara mengatasinya?

Lapisan #2 Pertahanan Tubuh Manusia

Lanjut ke lapisan berikutnya dari pertahanan tubuh kita. Di sini, kita mulai masuk ke pelajaran Biologi kelas 8 SMP atau kelas 11 IPA SMA, yaitu tentang Sistem Peredaran Darah. Untuk refresh lagi ingatan kalian tentang komponen-komponen darah, coba tonton dulu video satu ini:

Nah, sekarang udah bisa jawab dong, bagian darah mana yang berperan dalam pertahanan tubuh? Yep, LEUKOSIT atau sel darah putih. Leukosit ini terbagi jadi beberapa jenis. Tapi gue ga akan terlalu detil bahas semuanya di sini. Gue akan highlight beberapa yang penting aja.

leukosit indo
Jenis-jenis sel darah putih (leukosit).
sumber gambar: https://plus.google.com/+Ranga-Reddy-N

Jenis leukosit yang berperan layaknya pasukan patroli di tubuh kita adalah basofil, neutrofil, eosinofil, dan monosit. Di antara pasukan patroli, MONOSIT adalah pasukan yang paling “badass”. Kalo di anime, ada Naruto yang bisa berubah jadi mode Rikudou. Di tubuh kita, si Monosit ini bisa berubah jadi MAKROFAG (mode perangnya monosit) yang bisa menelan dan mencerna mikroorganisme dan toksin pembawa penyakit. Proses menelan dan mencerna mikroorganisme ini disebut dengan fagositosis. Satu makrofag bisa menghajar dan memakan hingga 100 zat asing. Gotta catch ‘em all!

fagositosis
Proses fagositosis
sumber gambar: https://askabiologist.asu.edu/macrophage

Seperti pasukan patroli di kastil, Makrofag dkk melibas apa saja yang “asing” bagi tubuh. Padahal ga semua zat asing masuk tubuh kita membawa ancaman. Kalo misalnya seseorang melakukan transplantasi jantung atau ginjal, transplan organ itu akan dianggap asing dan diserang juga oleh makrofag dkk.

Oleh karena itu, kita perlu sistem yang lebih pintar. Sistem yang bisa mengidentifikasi mana lawan mana kawan. Sistem yang bisa mendeteksi adanya musuh bahkan sebelum musuh itu sendiri menunjukkan wajah aslinya dan merusak jaringan tubuh. Sistem yang bisa menyusun strategi dan memberikan instruksi pada pasukan makrofag dkk untuk membekuk si pembawa penyakit.

Lapisan #3 Pertahanan Tubuh Manusia

Tugas itu diemban oleh LIMFOSIT. Merekalah yang berperan layaknya mata-mata atau intelijen di sistem imunitas tubuh. Limfosit terbagi menjadi 2 jenis, yaitu Limfosit B dan Limfosit T. LIMFOSIT B bertugas untuk membentuk antibodi. LIMFOSIT T bertugas untuk mengenali zat asing mana yang membuat onar di tubuh kita.

 

Apa itu Antibodi?

Lapisan pertahanan terakhir tubuh kita melibatkan pembentukan antibodi. Ini juga nih istilah yang lumayan sering disebut dalam kehidupan sehari-hari, tapi rata-rata pada ga tau mekanisme dari antibodi itu sendiri.

Kalo kita intip pengertian yang ada di buku cetak:

Antibodi adalah protein yang dihasilkan oleh sistem imunitas sebagai respons terhadap keberadaan antigen (zat asing) dan akan bereaksi dengan antigen tersebut.

Duh, kedengerannya ribet ya. Gue coba jelasin pelan-pelan ya.

Pada umumnya, molekul antibodi berbentuk seperti huruf Y. Bagian ujung atas masing-masing antibodi punya bentuk yang unik. Bentuk ujung ini berguna sebagai identifier antigen (zat asing). Bentuk ujung tiap antibodi ini menyesuaikan bentuk protein khas yang ada di permukaan zat asing yang diresponnya.

Contoh ilustrasi sederhananya:

  • Antibodi A, bentuk ujung bulat, menyesuaikan bentuk protein permukaan bakteri A yang bulat.
  • Antibodi B, bentuk ujungnya segitiga, menyesuaikan bentuk protein permukaan virus B yang segitiga.
  • Antibodi C, bentuk ujungnya kotak, menyesuaikan bentuk protein permukaan antigen C yang kotak.
Contoh ilustrasi Bentuk Antibodi
Contoh ilustrasi Bentuk Antibodi

Ketika misalnya ada bakteri A yang memiliki protein permukaan berbentuk bulat masuk ke tubuh kita, si antibodi A (yang bentuk ujungnya juga bulat) akan bereaksi. Reaksi macam apa? Karena bentuk ujungnya sama, antibodi A mampu mengikat si bakteri A, menahan, dan menandainya biar para pasukan fagosit (makrofag dkk) bisa langsung datang, menelan, dan mencerna si bakteri A tadi.

antibodi mengikat, menahan, dan menandai antigen
antibodi mengikat, menahan, dan menandai antigen

Bisa dikatakan, sekumpulan antibodi adalah database/memori yang berisi informasi zat asing (antigen) mana saja yang berpotensi membawa penyakit ke tubuh kita. Antibodi ini semacam record of bad guys yang harus diwaspadai seisi kastil. Dengan memiliki catatan ini, seisi kastil bisa cepat tanggap mengatasi the bad guys yang masuk bahkan sebelum doi beneran bikin rusuh, “Lo datang kemari mau bikin rusuh ya. Sebelum lo bikin onar, kita bekuk lo duluan.”

 

Gimana Caranya Antibodi Diproduksi?

Wah, sepertinya membantu sekali ya kalo kita bisa punya memori penyakit. Jadi kita ga perlu jatuh sakit dulu, baru bisa meringkus si pembuat onar. Trus gimana dong caranya tubuh kita membentuk dan mengembangkan koleksi informasi penyakit ini?

Nah, (sayangnya) secara alami, tubuh kita membentuk memori penyakit ini (masih) dengan cara yang “payah”. Maksudnya, tubuh baru bisa memproduksi antibodi ketika tubuh terpapar suatu jenis penyakit yang diakibatkan oleh antigen (zat asing) tertentu.

Contoh ilustrasinya begini. Ada zat asing (antigen) X yang benar-benar asing masuk ke tubuh kita. Tubuh ga punya catatan informasi apa-apa mengenai antigen X ini. Zat asing ini kawan atau lawan ya. Yaudah deh, kita awasi aja dulu gerak-geriknya. Baru setelah si antigen itu merusak jaringan, sistem imunitas tubuh menyalakan alarm, “Wah, ternyata dia buat onar, hajar hajaar.” Tubuh udah keburu jatuh sakit duluan sehingga butuh waktu yang lama untuk memeranginya. Ketika lo lagi batuk, bersin, hingga demam; itu berarti pasukan imunitas kita lagi perang.

Ketika akhirnya pasukan fagosit berhasil meringkus antigen tadi, makrofag akan mengambil beberapa fragmen protein permukaan dari antigen X. Makrofag kemudian melapor dan menyerahkan fragmen tersebut ke Limfosit T. Limfosit T akan menghidupkan alarm dan menginstruksikan pasukan fagosit lain untuk datang ke tkp, mengkloning diri, dan membantu pembasmian. Selanjutnya, Limfosit T akan mengenali (sensing) bentuk protein permukaan yang diserahkan makrofag tadi dan meneruskan informasi tersebut ke Limfosit B. Limfosit B akhirnya memproduksi antibodi yang bentuk ujungnya sesuai dengan bentuk fragmen sisa dari antigen tadi.

Sampai titik ini, tubuh udah punya informasi dan membentuk imunitas (kekebalan) terhadap si antigen X. “Gue udah tau ulah lo kemarin. Gue catet. Awas lo yee.. Next time, you can’t mess with us!

Lymphocyte_activation_simple

Trus gimana ceritanya kalo si antigen X tadi beneran masuk lagi ke tubuh kita?

Best case-nya, tubuh udah totally kebal terhadap antigen X. Contohnya, buat yang udah pernah menderita cacar air (chickenpox/varicella), kecil kemungkinannya untuk menderita cacar air untuk kedua kalinya. Karena ketika pertama kali menderita cacar air, tubuh kita sudah membentuk antibodi yang menghindarkan kita untuk jatuh ke lubang yang sama.

Skenario lain, saat kedua kalinya antigen X yang sama masuk lagi ke tubuh, si antigen masih membuat kerusakan, tapi tidak separah sebelumnya. Saat pertama kali masuk ke tubuh, misalnya demam yang ditimbulkan cukup tinggi dan berlangsung dalam waktu yang lama. Saat kedua kalinya antigen masuk ke tubuh, sistem imunitas bisa lebih cepat dan tanggap mengatasinya. Hasilnya, demam yang ditimbulkan tidak begitu tinggi dan waktu recovery-nya juga lebih cepat.

Tentunya, sungguh tidak efektif kalo kita harus nunggu terpapar suatu jenis penyakit dulu baru bisa memiliki antibodi (memori penyakit) yang bersesuaian. Ada begitu buaanyak virus, bakteri, parasit, dan berbagai zat asing lain di luar sana yang berpotensi menimbulkan kerusakan jika masuk ke dalam tubuh. Apa kita harus sakit berkali-kali tiap ada zat asing baru yang masuk ke tubuh kita?

Ada ga ya cara untuk “memanipulasi” sistem imunitas tubuh biar kita punya memori penyakit yang cukup komprehensif tanpa menunggu si bad guy masuk ke dalam tubuh?

Caranya adalah dengan membentuk imunitas buatan. Ada beberapa cara untuk membentuk imunitas buatan, salah satunya dengan pemberian VAKSIN.

 

Vaksin sebagai Imunitas Buatan

Pada 1796, ilmuwan Edward Jenner menyuntikkan material yang ia ambil dari virus cacar sapi ke seorang anak berusia delapan tahun dengan harapan bahwa penyuntikan itu akan memberikan perlindungan yang diperlukan untuk menyelamatkan orang-orang dari wabah cacar (smallpox/variolla) yang menjadi penyakit paling menular dan menelan banyak korban jiwa di Eropa pada abad ke-18. Dan hasilnya sukses. Si anak menjadi kebal terhadap penyakit cacar yang sedang merebak dan momen itu menjadi “kelahiran” vaksin pertama di dunia kesehatan.

Sepanjang abad 18 dan 19, vaksinasi massal cacar dilakukan dan pada 1979, WHO resmi menyatakan cacar telah berhasil diberantas (eradication). Ini adalah sebuah prestasi yang menjadi salah satu kemenangan kesehatan publik terbesar sepanjang sejarah.

* Cacar (smallpox) ini beda ya dengan cacar air (chickenpox) yang masih biasa kita liat sekarang. Cacar disebabkan oleh virus Variolla yang bersifat letal (mematkan). Sedangkan cacar air disebabkan oleh virus Varicella zoster yang tidak letal. 

vaksin polio kecilBerbagai macam vaksin pun dikembangkan untuk mengatasi wabah penyakit mematikan lain. Sejak vaksin polio diperkenalkan pertama kali oleh Jonak Salk pada 1955, penyakit polio sudah nyaris diberantas dari muka bumi ini. Pada 2014, dilaporkan masih ada 358 kasus infeksi polio. Tapi jumlah kasus ini “ga ada apa-apanya” dibandingkan pada era 1940an ketika hampir setengah juta manusia lumpuh atau meninggal karena infeksi polio tiap tahunnya.

Vaksin telah menyelamatkan jutaan jiwa dan membuat penyakit yang dulu mematikan kini hanya menjadi kenangan buruk.

Nah, sebenarnya vaksin itu apa sih?

Vaksin adalah patogen yang mati/dilemahkan atau toksin yang telah diubah. Vaksin dapat memicu reaksi imunitas, tetapi tidak menyebabkan penyakit.

Analoginya, vaksin itu seperti musuh yang udah dilumpuhkan, trus diarak keliling kastil, biar seisi kastil pada tau, mengingat wajah, dan potensi ancaman yang dia bawa. “Nih ya, di kastil tetangga, dia bikin onar. Kalo suatu hari kalian liat dia atau komplotannya masuk ke kastil kita, jangan cuma diam, langsung bertindak.”

Seperti pengertiannya, vaksin bertujuan agar tubuh kita bereaksi dan membentuk antibodi dengan bentuk yang bersesuaian. Karena udah dilumpuhkan, patogen itu tidak akan menimbulkan penyakit. Dengan adanya sistem imunitas buatan ini, tubuh kita bisa langsung proaktif memerangi patogen karena tubuh udah punya informasinya tanpa harus mengalami pengalaman buruk dulu dengan si patogen tersebut.

Beberapa contoh vaksin: vaksin BCG (bacille calmette guerin) untuk melawan TBC, vaksin TFT (tetanus formol toxoid) untuk melawan tetanus, vaksin MMR (measles mumps rubella) untuk melwan campak, dan masih banyak lagi.

 

Fenomena Vaksin Palsu

Oke, sekarang baru deh kita bisa ngomongin fenomena vaksin palsu yang lagi hangatnya dibicarakan akhir-akhir ini.

Berdasarkan hasil penyelidikan Kementerian Kesehatan dan Kepolissian RI, praktik penyebaran vaksin palsu hanya bermodalkan botol vaksin bekas. Isi vaksin palsu merupakan campuran antara cairan infus, antibiotik gentacimin, dan air. Setiap imunisasi, dosis yang diberikan cukup kecil, yaitu 0,5 CC.

Apa bahaya dari vaksin palsu?

Nah, karena lo udah tau pengertian dan mekanisme vaksin, gue harap lo bisa menalar sendiri nih, kira-kira vaksin palsu itu berbahaya apa enggak?

Dampak dari vaksin palsu sebenarnya bisa ditelaah dari 2 segi, yaitu dari segi kemanan produk dan proteksi.

Dari segi keamanan produk, kita lihat dari komposisi dan dosisnya, vaksin palsu ini relatif tidak membahayakan. Vaksin palsu seharusnya tidak akan menimbulkan efek samping yang fatal. Toh, “cuma” berisi campuran air.

Hanya saja, kadang pembuatan vaksin palsu ini dilakukan di lingkungan yang tidak steril. Saat pencampuran, bisa terjadi kontaminasi bakteri, virus, atau kuman sehingga ada kemungkinan menimbulkan infeksi saat disuntikkan ke anak. Reaksinya bisa berupa kemerahan, nyeri, atau demam yang biasanya berakhir kurang dari beberapa hari. Jadi kalau sudah sekian lama tidak mengalami gejala infeksi setelah imunisasi, kemungkinan besar aman.

Dampak vaksin palsu selanjutnya bisa ditinjau dari segi proteksi. Sistem imunitas bayi dan balita masih sangat fragile dari berbagai ancaman kuman penyakit. Orang tuanya flu sedikit, wah bayinya gampang banget ketularan. Sebagai individu yang baru hidup 1-3 tahun di dunia yang dipenuhi berbagai ancaman kuman penyakit ini, sistem imunitas anak masih dalam fase “training”. Oleh karena itu, si anak butuh informasi tambahan untuk melengkapi koleksi informasi tubuhnya atas berbagai jenis kuman penyakit. Karena vaksinnya palsu, seorang anak tidak jadi memiliki proteksi atau perlindungan atas kuman-kuman penyakit tertentu. Ini keselnya kayak kecolongan kena tipu.

Seorang anak biasanya mendapat suntikan vaksin BCG untuk mencegah terjangkit penyakit TBC ketika usianya mencapai dua bulan. Seandainya anak tersebut mendapat vaksin BCG palsu, maka hingga hari ini tubuhnya rentan terhadap kuman TBC.

Itu baru satu jenis vaksinasi. Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, ada belasan hingga puluhan jenis vaksin yang sebaiknya diberikan beberapa kali secara bertahap pada anak sejak lahir, umur 1 tahun, 2 tahun, dan seterusnya. Bayangkan betapa resahnya orang tua yang melakukan semua jenis vaksinasi tersebut di satu fasilitas kesehatan yang sama sejak anaknya lahir. Udah keluar banyak duit, eh ga taunya palsu, trus sekarang anak gue rentan terhadap semua penyakit yang seharusnya dia udah kebal.

Apakah bayi/anak yang diduga mendapat vaksin palsu perlu vaksinasi ulang?

Pastinya perlu banget biar si anak benar-benar bisa membentuk perlindungan yang sudah seharusnya ia miliki. Selain itu, vaksinasi ulang aman dilakukan karena tidak ada istilah overdosis dalam pemberian vaksin ini.

****

Oke deh, sekian dulu cerita gue tentang vaksin. Gue harap artikel ini bisa membantu kita memahami fenomena vaksin palsu atau setidaknya membantu lo belajar tentang pasukan sistem imunitas tubuh kita yang super kece. Sebenarnya masih ada beberapa fenomena lain terkait vaksin yang seru untuk dibahas. Tapi bakal kepanjangan kalo gue ceritain semua di sini. Semoga bisa gue bahas di artikel-artikel zeniusBLOG selanjutnya. See you next time 😉

Referensi
Bozeman Science - Immunity System
Irnaningtyas. 2014. Biologi untuk SMA/MA Kelas XI Kurikulum 2013. Jakarta: Erlangga
http://www.freepik.com/free-vector/medieval-castle-with-warriors_838973.htm
http://vignette4.wikia.nocookie.net/assassinscreed/images/2/2e/Commander.png/revision/latest?cb=20120718130907
http://clipartix.com/wp-content/uploads/2016/06/Clipart-knight.png

 

==========CATATAN EDITOR===========

Kalo ada di antara kamu yang mau ngobrol atau diskusi sama Fanny tentang vaksin, khususnya topik vaksin palsu, silakan langsung aja tinggalin komentar di bawah artikel ini.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan vouchernya di sini.

About 

Fanny adalah editor blog zenius. Fanny mengambil gelar Sarjana di Fakultas Ilmu Komputer, Jurusan Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

Follow Fanny at @frofalina

  • Alfinsa EP

    Fan, sejak kecil balita di Indonesia udah disuntik berbagai jenis imunisasi kayak imunisasi campak, TBC, cacar, polio, dan lain-lain. Apakah hal tersebut (imunisasi sejak kecil) itu benar dibutuhkan dan berdampak pada jangka panjang ke balita?

    • Fanny Rofalina

      Yep, benar dibutuhkan. Dampak jangka panjangnya, ya si anak jadi terlindung dari penyakit2 itu 🙂

      • Alfinsa EP

        Ngasih vaksin bagus dong ya. Gue liat masih banyak orang tua yang ga ngevaksin anaknya gara-gara alesan yang ga rasional. Btw, apakah vaksin itu dikasih cuma waktu balita, atau boleh dikasih ke usia remaja bahkan dewasa juga?

        • Fanny Rofalina

          Nih ada rekomendasi dari Ikatan Dkter Anak Indonesia yang mendaftarkan vaksin apa sa yang sebaiknya diberikan pada seseorang di umur2 tertentu:
          http://www.idai.or.id/wp-content/uploads/2013/02/Jadwal_Imunisasi_IDAI2011.pdf

          • Alfinsa EP

            Lengkap juga ya. Gue pikir umur delapan belas tahun udah gak perlu vaksin, ternyata ada juga vaksin yang dikasih setahun sekali dan vaksin yang untuk umur segitu. Nice post Fan.

          • Fanny Rofalina

            Thank you Alfin 🙂

  • Bimantara Hanumpraja

    Kalo udah di beri vaksin, apakah kemungkinan kena penyakit tersebut hilang alias gak bakal kena lagi, atau masih mungkin? Kalo mungkin penyebabnya apa? Apakah karena sistem imun kita lagi "turun"???

    • Fanny Rofalina

      Salah satu penyebabnya, patogen yang bersangkutan telah bermutasi, sehingga memeiliki bentuk yang rada beda.

  • Ahmad Nur Fauzi

    artikelnya menarik ka, boleh tau alamat blog pribadi kka

  • Soni Dharmawan

    Sebelum terjangkit HIV, apakah antibodi tubuh tidak bisa melawan virus HIV terlebih dahulu ? Atau mungkin patogen yg bersangkutan bermutasi lebih cepat, sehingga antibodi tidak bisa melawan virus tersebut ?

    • Made Adihutama

      Ikut mencoba jawab: HIV menyerang sistm imunitas manusia, oleh karena itu disebut Human Immunodeficiency Virus. Sistem imun menjadi lemah sehingga tidak bisa melawan virus tersebut maupun penyebab penyakit infeksius yg lain

    • Fanny Rofalina

      Halo Soni.

      Sampai saat ini, ilmuwan di seluruh dunia masih bekerja keras untuk mengembangkan vaksin HIV yang bisa sangat efektif digunakan secara massal. Beberapa vaksin yang telah dikembangkan masih diujikan pada kelompok sampel tertentu.

      Karena belum adanya vaksin yang bisa diberikan secara massal, bisa dikatakan mostly orang2 di dunia ini belum memiliki antibodi di dalam tubuhnya yang sesuai untuk merespons virus HIV.

      Untuk lebih jelas lagi tentang virus HIV, kamu bisa baca tulisan Nurul ini ya:
      https://www.zenius.net/blog/10510/miskonsepsi-kekeliruan-mitos-hiv-aids

  • Anna

    Kak tapi gue mau nanya, setau gue pemberian 5 vaksin itu pada umur yang udh ditentukan dan rata2 waktu mereka masih balita, nah kan vaksin palsu udah beredar sekitar tahun 2003 brrt kan udh 13 tahun yang lalu? Nah apa bisa vaksin itu diberikan ulang sama mereka yang udah lewat masa balita?

    • Fanny Rofalina

      Iya tentunya bisa aja dong. Dan disarankan banget.
      Kalo emang benar vaksin yang diterima dulu palsu, ya berarti cuma campuran air doang. Ga akan ada efek respons apa2 oleh tubuh kita.

      Dengan adanya pemberian vaksin yang asli (patogen yang dilemahkan), tubuh baru bisa deh memberi respons dengan membentuk memori penyakit.

  • riki

    Hai kak Fanny, knp kok imunisasi disarankan diberikan di umur-umur tertentu? kalau misalnya vaksin yang untuk 18 thn diberikan saat masih balita apa efeknya?

  • Bagus Sudewo

    Halo.. mau nanya tapi oot nih, ka fanny.. klo misalkan penyakit asam urat trus suka kambuh harus gimana ya? Sori ini oot bgt kali ya tapi ggp kan?

  • Bagus Sudewo

    Halo.. mau nanya tapi oot nih, ka fanny.. klo misalkan penyakit asam urat trus suka kambuh harus gimana ya? Sori ini oot bgt kali ya tapi ggp kan?

  • Sarah Bilqis

    hai kak fanny!
    ada yang pgn aku tanyain, kalo kita demam kan berarti antibodi lagi memerangi si antigen, nahh biasanya orangtua kalo anaknya panas dikit, dikasih paracetamol.. alias obat penurun panas, sebenernya efek paracetamol ke antibodi itu apa...? dan apa berarti kalo kita dikasih obat penurun panas antibodi nya jd gk memerangi antigen lagi?...

    • @admin n bilqis... ijin mencoba jawab ya!!!, ; panas adalah efek dari reaksi tubuh, jadi untuk menanggulangi panas, diberikanlah paracetamol...manfaat dari pcetamol hanya untuk mengobati panas...tidak ada hubungannya dengan antibodi!!..... jadi biasanya dokter memberiannya dengan kombinasi obat-obatan.. contoh: parasetamol ----untuk mengobati panasnya dan obat lain yang spesifik menangani penyebab penyakitnya!!!

      jadi pemberian obat penurun panas tidak mempengaruhi antibodi...

    • zulfikar

      panas atau lebih tepatnya demam, itu sebenernya mekanisme tubuh untuk memerangi penyakit. Saat panas, aliran darah dipercepat dan pembuluh darah membesar. Tujuannya apa? tujuannya agar sistem imun (sel darah putih dan antibodi juga termasuk) bisa memerangi patogen dengan lebih efektif. Tapi kalo demamnya kelewat parah manusianya bisa collapse, nah parasetamol cuma berfungsi meredakan demam dan mengurangi rasa sakit aja. Jadi bisa tuh lo sakit gigi juga minum parasetamol haha

  • andry natanel

    sangat edukatif! kebetulan saya mahasiswa farmasi,so' tulisan yang menarik!

    dengan jelas disini nampak kelalaian dari pemerintah (BPOM), yang pengawasan hulu hilir,, tidak berjalan seperi seharusnya.. entah alasan teknis, atau argumen payung hukum yang tidak jelas kewenangan, yang diangkat.

    miris ya.. terbongkar setelah sekian tahun terjadi !!! padahal kalau berpegang pada hal pengawasan obat yang menjadi tugas mereka, ini seharus dapat dideteksi walau dengan "menutup mata". dan jika berpikir naif'!!! bayangkan.. jika metode seperti ini digunakan pihak' asing yang ingin merusak indonesia, dari segi packaging yang rapi dll....wah bisa rame nih..

    implementasi kesehatan nasional seharusnya menjadi sesuatu yang dipandang berharga dan layak diberi perhatian ekstra , tak nampak disini.

  • kira

    untuk lebih memahami, nih liat video ini deh pasti kebayang apa yang disampein kak Fanny