kenapa suntik vaksin di lengan

Kenapa Suntik Vaksin Harus di Lengan, Bisakah di Bagian Tubuh Lain?

Artikel ini akan membahas tentang vaksin dan alasan kenapa pemberian suntik vaksin harus di lengan. Simak penjelasannya di bawah ini!

kenapa suntik vaksin di lengan
Suntik vaksin di lengan atas (foto oleh CDC oleh Pexels)

Upaya vaksinasi untuk memutus rantai penyebaran penyakit berbahaya sekaligus memperkuat antibodi sudah ada di berbagai dunia, tentu saja termasuk negara kita Indonesia. Kita pasti sudah gak asing lagi sama yang namanya ‘vaksin’, kan? Bahkan saat ini sedang booming vaksin COVID-19 yang sudah berlangsung di berbagai daerah di Indonesia.

Tapi, pernah gak sih muncul pertanyaan dalam diri kamu, “Kenapa suntik vaksin kebanyakan di lengan? Apakah bisa di bagian tubuh selain lengan?”. Nah, untuk menjawab pertanyaan itu, aku bakal menguraikan alasan-alasan di baliknya. Selain alasan, kamu juga akan mempelajari lebih jauh tentang vaksin. Yuk, simak uraian lengkapnya di bawah ini!

Apa Itu Vaksin?

Sebelum membahas tentang bagian tubuh mana yang bisa digunakan untuk vaksin, kamu harus tau dulu pengertian dari vaksin itu sendiri. Vaksin adalah larutan yang berisi antigen untuk meningkatkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.

Nah, antigen itu apa sih? Menurut WHO, antigen adalah komponen aktif yang menghasilkan respon imun. Antigen bisa berupa sebagian dari tubuh organisme patogen (penyebab penyakit) misal protein atau gulanya, bisa juga keseluruhan organisme yang sudah dilemahkan atau diinaktivasi. Yap, bahan utama vaksin adalah antigen itu sendiri. Karena sudah dilemahkan, tentu saja vaksin aman bagi orang sehat.

Selain antigen, adakah bahan lainnya pada vaksin? Ada. Bahan lainnya yaitu pengawet, stabilisator, surfaktan, residu, pelarut, dan adjuvan.

bahan baku vaksin
Bahan baku pembuatan vaksin (sumber gambar: who.int)
  • Pengawet
    Beberapa vaksin ada yang diberi pengawet, namun gak semua vaksin ada pengawetnya ya, guys. Biasanya vaksin yang gak pakai pengawet adalah vaksin yang disimpan dalam ampul dosis tunggal, jadi penggunaannya hanya sekali pakai. Pengawet berfungsi untuk mencegah kontaminasi setelah ampulnya dibuka, jadi aman juga digunakan untuk lebih dari satu orang. Oh iya, pengawet ini gak mengandung racun bagi manusia ya, guys.
  • Stabilisator
    Bahan yang satu ini memiliki fungsi mencegah terjadinya reaksi kimia dalam vaksin dan menjaga supaya komponen-komponen vaksin gak menempel pada ampul. Stabilisator ini bisa berupa gula, asam amino, dan protein.
  • Surfaktan
    Kamu pernah dengar surfaktan pada es krim? Yap, surfaktan ini fungsinya memastikan dan mempertahankan semua bahan dapat bercampur dengan baik (homogen). Jadi, gak ada tuh bahan yang mengendap dan menggumpal.
  • Residu
    Residu bukan termasuk bahan aktif vaksin, melainkan berbagai zat yang digunakan selama pembuatan atau produksi vaksin. Residu ada berbagai macam tergantung proses pembuatan vaksinnya, bisa berupa protein, telur, ragi, atau antibiotik.
  • Pelarut
    Pelarut adalah cairan yang digunakan untuk melarutkan vaksin sehingga mendapatkan konsentrasi yang sesuai sebelum digunakan. Biasanya pelarut yang digunakan adalah air steril.
  • Adjuvan
    Sama seperti pengawet, adjuvan ini gak semua ada di dalam vaksin. Adjuvan memiliki fungsi meningkatkan respons imun terhadap vaksin. Adjuvan ini bisa berupa garam aluminium seperti aluminium fosfat, aluminium hidroksida, atau kalium aluminium sulfat dalam jumlah yang sangat kecil.

Siapa yang baru tau bahan baku vaksin setelah membaca uraian di atas? Menurutmu bahan-bahan di atas bisa menimbulkan efek samping bagi tubuh manusia gak, guys?

Meski Sudah Divaksin, Kenapa Masih Bisa Terkena Virus?

Lalu, kenapa akhir-akhir ini ada kabar tentang orang yang sudah divaksin justru dinyatakan positif COVID-19, bukankah fungsi vaksin membuat lebih kebal ya?

Yap, memang betul, tapi gak menutup kemungkinan orang tersebut masih bisa terkena virus. Kenapa? Ini dia alasannya:

  • Antibodi Perlu Waktu untuk Terbentuk Sempurna

Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, antibodi memerlukan waktu beberapa hari hingga berminggu-minggu supaya bisa terbentuk sempurna. Ketika antibodi belum terbentuk sempurna, maka kamu masih tetap bisa terkena virus lagi.

  • Tergantung dari Efektivitas Vaksin

Ada vaksin yang tidak 100% efektif, misalnya hanya sekitar 90% tingkat efektivitas. Contohnya seperti vaksin buatan Pfizer dan Moderna yang memiliki tingkat efektivitas di atas 90%. Jadi, bukan 100% memberikan perlindungan sempurna. Nah, kalau mau mendapatkan efektivitas sempurna, kamu bisa menambah dosis lagi dalam jangka waktu tertentu sebanyak 2-3 kali tergantung efektivitas dari vaksinnya. Itulah kenapa pemberian vaksin COVID-19 juga diberikan sebanyak 2x.

  • Adanya Mutasi Virus

Alasan yang masih menjadi kekhawatiran berbagai pihak yaitu adanya mutasi virus. Adanya mutasi virus tentu akan mempengaruhi efektivitas vaksin. Meskipun antibodi di dalam tubuh sudah terbentuk sempurna, tapi ketika ada mutasi virus, tentu saja ia akan lolos dari perlindungan antibodi.

Jadi, meskipun kamu sudah divaksin, tetap harus menjaga kebersihan dan kesehatan diri serta lingkungan ya, guys. Buat kamu yang sudah vaksin COVID-19, adakah efek samping atau gejala yang timbul setelah vaksinasi?

Apa Itu Suntik?

Hampir semua orang pasti pernah disuntik. Kamu juga pasti pernah kan? Dulu waktu kecil, saat mau suntik pasti mendapatkan kata-kata, “Suntik gak sakit kok, rasanya sama kayak digigit semut”. Iya semut, semut rangrang berkali-kali. Hihihi.

Suntik atau injeksi adalah proses memasukkan cairan ke dalam tubuh menggunakan jarum. Cairan yang dimasukkan ke dalam tubuh bisa berupa obat, vitamin, atau vaksin sesuai dengan resep dokter. Sedangkan, jarum yang digunakan adalah jenis jarum hipodermik dan jarum suntik. Fungsi dari suntik ini bisa berbagai macam, mulai dari penyembuhan hingga pencegahan penyakit.

Bagaimana cara melakukan suntik? Pertama, kamu harus mengisi jarum suntik dengan cairan yang akan diberikan ー tentu saja sesuai dengan resep dokter. Kemudian, tusukkan jarum tersebut ke salah satu bagian tubuh, dan keluarkan cairan secara perlahan. Jika semua cairan sudah keluar, cabut jarum dan tutup luka dengan perban kecil atau kapas.

Jenis jenis Injeksi

Prinsip suntik atau injeksi adalah memasukkan jarum ke dalam tubuh manusia. Ada berbagai macam jenis injeksi yang bisa dilakukan tergantung letak injeksinya, yaitu injeksi intravena, intramuskular, subkutan, intradermal, dan depot.

Injeksi Intravena

Jenis injeksi yang satu ini merupakan penyisipan jarum langsung ke dalam vena. Sehingga, cairan yang dimasukkan akan langsung dikirim ke aliran darah. Nah, pemberian injeksi ini adalah cara tercepat untuk mendapatkan efek yang diinginkan. Hal itu karena cairan bisa langsung masuk ke aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh.

Nah, sekadar informasi bahwa injeksi intravena ini adalah yang paling umum dilakukan dalam penggunaan narkoba.

Injeksi Intramuskular

Injeksi intramuskular dilakukan dengan menyisipkan jarum suntik ke dalam otot. Hal ini dilakukan supaya cairan bisa dengan cepat diserap oleh pembuluh darah. Nah, umumnya pemberian injeksi ini dilakukan untuk vaksin tidak aktif, seperti influenza.

Injeksi Subkutan

Dari namanya kita sudah bisa menebak ya kalau injeksi ini dilakukan pada jaringan antara kulit dan otot. Tempat pemberian injeksi ini pada jaringan lemak di belakang lengan. Dibandingkan dengan kedua injeksi di atas, injeksi subkutan bekerja lebih lambat. Selain itu, jarum yang digunakan biasanya lebih pendek, karena injeksi gak sampai otot. Penggunaan injeksi ini biasanya untuk keperluan tertentu, seperti suntik insulin, pengencer darah, vaksin (cacar air, herpes, MMR), obat alergi, dan mesoterapi penghancur lemak.

Injeksi Intradermal

Injeksi yang kerjanya lebih lambat lagi dibandingkan ketiga injeksi di atas adalah injeksi intradermal. Injeksi ini dilakukan langsung pada lapisan yang berada tepat di bawah epidermis kulit. Kamu pernah lihat suntik yang cara injeksinya miring (sekitar 5 – 15 derajat) dan hampir rata pada kulit pasien? Nah, itu adalah injeksi intradermal. Injeksi ini biasanya digunakan untuk tes sensitivitas, seperti tes anestesi lokal dan alergi. Sedangkan, tubuh yang biasanya dijadikan lokasi untuk injeksi intradermal adalah punggung bawah dan lengan bawah.

Injeksi Depot

Terakhir, ada injeksi depot. Injeksi ini memang kurang terkenal dibandingkan dengan injeksi lainnya. Hal ini karena injeksi depot dilakukan untuk menyimpan obat dalam massa lokal (depot), kemudian secara bertahap akan diserap oleh jaringan sekitarnya. Injeksi ini biasanya diberikan pada pasien kanker prostat yang menerima terapi hormon. Cairan yang dimasukkan dalam injeksi ini umumnya berbentuk agak padat atau berbahan dasar minyak.

Apa Bedanya Suntik Vaksin di Lengan dan Bagian Tubuh Lain?

Sebelumnya kamu sudah mempelajari tentang berbagai macam injeksi, nah ketika suntik vaksin, bagian tubuh manakah yang digunakan untuk injeksi? Yap, lengan. Kamu yang pernah imunisasi pasti akan mengalami suntik di lengan. Kenapa sih harus di lengan? Kenapa gak di bagian tubuh lain, bokong misalnya?

Suntik Vaksin di Lengan

Ternyata, suntik vaksin itu gak boleh sembarangan, guys. Dokter gak bisa langsung kasih injeksi vaksin secara random ke punggung, pergelangan tangan, atau leher. Ada area khusus untuk injeksi vaksin supaya bisa masuk ke tubuh dengan baik dan membentuk antibodi. Di mana sih area khusus tersebut? Letaknya ada di bagian tubuh dengan jaringan otot banyak (injeksi intramuskular). Nah, lengan bagian atas memiliki jaringan otot yang banyak, selain itu daya serapnya juga baik. Sehingga, vaksin akan lebih cepat masuk ke pembuluh darah.

Suntik vaksin melalui lengan juga lebih mudah dan gak ribet. Kamu hanya perlu menggulung lengan baju. Bayangkan kalau imunisasi di sekolah, kemudian harus suntik di bokong. Pasti ribet harus menyediakan tempat tertutup dan tentu akan kurang nyaman ‘kan?

Di bawah ini ada video dari Dr. Nabil Ebraheim tentang vaksinasi di lengan yang bisa kamu tonton supaya lebih terbayang bagaimana injeksinya.

Suntik Vaksin di Bokong

Vaksin juga bisa dilakukan di bokong. Tapi, ini merupakan pilihan kedua setelah lengan orang yang akan divaksin telah diamputasi atau gak punya massa otot yang cukup untuk menyerap vaksin. Alasan lain juga bisa ketika peserta vaksin takut merasa pegal saat suntik di lengan, sehingga bisa menghambat aktivitasnya. Jadi, memang tetap diutamakan suntik di lengan ya, guys.

Untuk efektivitas memang sama saja antara lengan dan bokong. Namun, risiko vaksin di bokong lebih besar dibandingkan di lengan. Risiko tersebut mencakup kesalahan injeksi. Di bokong sama-sama memiliki jaringan otot yang banyak, namun yang menjadi hambatan adalah bokong memiliki lemak yang lebih banyak dibandingkan lengan. Sehingga, penentuan injeksinya lebih sulit. Terlebih jika peserta vaksin mengidap obesitas. Jaringan lemak yang dimilikinya jauh lebih tebal dan akan lebih sulit dalam penentuan ototnya. Panjang jarum juga harus disesuaikan lagi agar injeksi tepat sasaran ke otot, bukan ke lemak.

Bahaya gak kalau vaksin masuk ke lemak? Tergantung dari jenis vaksin yang diberikannya. Kalau contoh vaksin influenza masuk ke dalam lemak, maka efektivitasnya akan berkurang. Sedangkan, untuk vaksin MMR (Measles Mumps Rubella) akan lebih efektif jika diinjeksi ke dalam lemak. Selain itu, suntik di bokong bisa mengakibatkan nyeri punggung bawah, bokong, hingga jari kaki.

Nah, jadi kenapa suntik vaksin umumnya dilakukan pada lengan sudah bisa diketahui alasannya ya, guys. Alasan pertama bahwa suntik di lengan tidak ribet, kamu hanya perlu menggulung lengan baju. Kemudian, suntik di lengan memiliki tingkat risiko yang lebih rendah, karena lemak di lengan lebih sedikit daripada di bokong. Terakhir, tentu saja karena lengan atas memiliki jaringan otot yang banyak.

Setelah mengetahui informasi di atas, jangan takut untuk ikut vaksinasi ya, guys. Hal itu dilakukan untuk kebaikan kamu, supaya tubuhmu memiliki antibodi yang lebih baik lagi dalam menangkal virus dan patogen lainnya. Semoga informasi di atas bermanfaat ya buat kamu. Keep healthy, everyone!

 

Baca Juga Artikel Lainnya

Bagaimana Vaksin Menyelamatkan Jutaan Nyawa Manusia

Mengenal Sistem Imun dan Imunisasi

Anthrax, Penyakit Mematikan yang Viral pada Masanya