Baden Powell, Bapak Pandu Sedunia

Baden Powell

Baden Powell atau Lord Robert Stephenson Smyth Baden-Powell of Gilwell (1857-1941) merupakan anggota militer Inggris yang menciptakan gerakan kepanduan yang diadopsi di seluruh dunia. Selengkapnya ada di sini!

Hi, guys! Saat kalian sekolah, pasti kalian pernah mendengar kegiatan Pramuka kan? Dalam kegiatan itu, kalian pasti dikenalkan dengan sosok Baden Powell. Beliau adalah orang Bapak Pandu Sedunia yang mengembangkan gerakan pandu di dunia. Oiya, di bawah, gue juga mau kasih penjelasan nih kenapa gue lebih memilih memakai istilah Bapak “Pandu” Sedunia daripada Bapak Pramuka Sedunia.

Robert Stephenson Smyth Powell (nama lahir) adalah seorang letnan jenderal (pangkat terakhir) di Angkatan Darat Inggris yang dikenal di seluruh dunia sebagai pendiri gerakan Boy Scouts dan Girl Guide. Namun, tidak banyak yang menyadari jika faktanya ia juga memiliki karier militer yang sukses dan menjadi seorang penulis. 

Selama 34 tahun dinas militernya, ia menang dalam perang yang melibatkan dirinya dan dipuji karena teknik militernya yang berani dan inovatif. Baden Powell juga menjadi pahlawan nasional bagi tanah kelahirannya, Inggris, karena mempertahankan Mafeking selama 217 hari dalam perang di Afrika Selatan yang berlangsung pada tahun 1899–1902.

Yuk, baca sampai habis untuk mengetahui kisah selengkapnya.

Bapak Pandu Sedunia atau Bapak Pramuka Sedunia?

Untuk menjawab itu, kita harus sedikit mengorek sejarah. Gerakan kepanduan sudah masuk ke Indonesia sejak zaman Belanda, guys. Namun, pada saat itu nama (organisasi) yang digunakan masih berbeda-beda, seperti Nederlandesche Padvinders Organisatie (NPO), Javaansche Padvinder Organisatie (JPO), Jong Java Padvinderij, dan masih banyak lainnya. 

Singkat cerita, pada tahun 1961, Pemerintah Indonesia akhirnya turut mengatur gerakan kepanduan di Indonesia dengan melebur sistem dan namanya menjadi Praja Muda Karana (Pramuka). Kemudian, pada 14 Agustus 1961, panji Gerakan Pramuka, yang Sobat Zen kenal dengan tunas kelapa, diserahkan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono XI. Hari itu dikenal dengan Hari Pramuka dan menjadikan Sri Sultan Hamengkubuwono XI sebagai Bapak Pramuka Indonesia.

Soekarno dan Pramuka
Sri Sultan Hamengkubuwono IX menerima panji Gerakan Pramuka dari Presiden Soekarno pada 14 Agustus 1961 (Sumber: Arsip Museu Sumpah Pemuda)

Lalu, apa hubungannya dengan istilah Bapak “Pandu” Sedunia? Begini, bagaimana bisa suatu istilah atau nama (Pramuka) yang baru muncul tahun 1961 dan hanya berlaku di Indonesia dapat disandingkan dengan skala “dunia”? Pramuka hanyalah terminologi yang mewadahi gerakan kepanduan di Indonesia dan masing-masing negara kemungkinan memiliki nama atau istilah lain pula yang berbeda. 

Maka istilah yang tepat adalah Bapak Pandu Sedunia. Mengapa? Karena istilah Pramuka terbatas pada nama organisasi yang mewadahi gerakan kepanduan, sedangkan pandu memiliki makna yang lebih luas yang meliputi kegiatan-kegiatan kepanduan. Bahkan, kalau kita melihat makna kata scout dan kata pandu pun lebih memiliki kemiripan makna dibanding Pramuka yang berarti “rakyat muda yang suka berkarya”. 

Dalam perkembangannya, nilai-nilai yang terdapat dalam Pramuka dianggap baik untuk mengisi kekurangan yang ada pada sistem pendidikan nasional, sehingga Pramuka masuk ke dalam kurikulum 2013. 

Kehidupan Awal

Robert Stephenson Smyth Powell lahir pada 22 Februari 1857, di wilayah Paddington, pusat Kota London. Ia merupakan anak kedelapan dari sepuluh bersaudara dari pernikahan pendeta Baden Powell (1976–1860) dan Henrietta Powell. Pernikahan ini adalah yang ketiga untuk ayahnya. Ayahnya adalah seorang profesor geometri Savilian di Universitas Oxford. Sang ayah meninggal ketika BP masih berusia tiga tahun, sehingga keluarganya harus menghadapi kehidupan yang lebih sulit. 

Untuk membedakan anak-anaknya dari saudara tiri mereka dan untuk memastikan bahwa mereka mewarisi warisan ayah mereka, Henrietta mengubah nama keluarga mereka menjadi Baden-Powell. Hal ini juga dilakukan sebagai penghormatan kepada ayahnya. Sejak saat itu, Stephe (nama kecil BP) mulai dikenal sebagai Robert Stephenson Smyth Baden-Powell.

Baden Powell
Potret Baden Powell (Sumber: wikipedia)

Baden Powell (selanjutnya disebut BP) pertama kali mendapatkan pendidikan dari ibunya sebelum akhirnya mengenyam pendidikan di Dame’s School, Kensington. Pada tahun 1868, ia bersekolah di tempat ayahnya dulu juga dididik, yakni Rose Hill School di Tunbridge Wells. Dua tahun kemudian, ia mendapat beasiswa ke Charterhouse School di London. 

Selama berada di Charterhouse, BP selalu ingin mempelajari keahlian baru dalam seni seperti  bermain piano dan biola. Selain di bidang seni, ia juga mengeksploitasi minatnya dalam kepanduan dan kerajinan kayu. BP biasanya bersembunyi dari guru-gurunya di hutan di sekitar sekolah dan juga untuk berburu kelinci untuk dimasak. BP memasak kelinci itu dengan berhati-hati agar keberadaannya tidak diketahui melalui asap yang berasal dari proses memasak. 

BP adalah seorang petualang dan itu terlihat karena ia selalu berpetualang bersama beberapa saudara laki-lakinya ketika masa liburan. Pada suatu saat, mereka juga pernah melakukan ekspedisi lainnya seperti pergi ke pesisir Selatan Inggris dengan sebuah kapal atau menyusuri sungai Thames dengan menggunakan kano. Dalam petualangannya, BP mempelajari semua hal yang ia temukan, termasuk seni dan kerajinan yang akhirnya akan berguna dalam kehidupan dan kariernya.

Saat Baden Powell menyelesaikan studinya di Charterhouse School, ibu dan saudara-saudaranya memutuskan sebuah rencana baginya untuk kuliah di Universitas Oxford. BP tidak dikenal sebagai siswa yang selalu mendapatkan nilai baik, ia pun ditolak masuk ke Balliol College di Oxford. Hal ini sulit baginya karena kakak laki-lakinya pernah menjadi siswa berprestasi di Oxford.

Pada tahun 1876, Baden Powell pun harus memutuskan kariernya. Tanpa banyak berpikir, BP memutuskan untuk berpartisipasi dalam ujian terbuka untuk pelatihan perwira di Angkatan Darat. Dari 700 orang yang mengikuti ujian, ia menempati urutan kedua untuk kavaleri dan keempat untuk infanteri.

Karier Militer

Pada tahun 1876, sebagai dinas pertamanya, Baden Powell bergabung dengan 13th Hussars di India sebagai tentara muda dengan spesialisasi pengintaian, pembuatan peta, dan pemeriksaan. BP mengambil profesi barunya dengan serius dan unggul dalam militer. Kemudian, ia pun diminta melatih tentara-tentara lainnya. 

Pada saat itu, metode pelatihan BP dianggap tidak biasa. Metode tersebut membagi kelompok dalam unit kecil atau patroli yang bekerja sama di bawah satu pemimpin. Ia juga akan memberikan penghargaan khusus bagi mereka yang melakukan tugasnya dengan baik. Dengan inovasinya, ia dapat menjadi kapten pada usia muda, yakni 26 tahun. Namun, dia tidak menghadapi konflik besar selama bertugas di India.

Hussar ke-13 kembali ke Inggris pada tahun 1884. Selama tinggal di Inggris, Baden Powell bekerja sebagai mata-mata. Ia diharuskan melakukan perjalanan ke Jerman, Austria, dan Rusia dengan maksud untuk mengumpulkan informasi intelijen. Ia juga belajar tentang kemajuan teknologi dan militer terbaru dari setiap neara yang ia kunjungi. Selama periode ini, BP menerbitkan sebuah buku berjudul Reconnaissance and Scouting.

Pada tahun 1887, paman dari pihak ibu, Jenderal Henry Smyth, diangkat sebagai Gubernur dan Panglima Tertinggi di Afrika Selatan. Baden Powell ditugaskan untuk melayani di bawahnya. Di sini, ia terlibat dalam beberapa misi nonpertempuran dengan Zulu. Setelahnya, ia mendapat pangkat mayor. 

Baden Powell meningkatkan dan mengasah keterampilan kepanduannya di tempat resimennya ditugaskan, yakni di tengah-tengah Suku Zulu di Provinsi Natal, Afrika Selatan. Untuk layanannya yang terpuji, Baden Powell pun mendapat penghormatan yang disebut sebagai “Mentioned in Despatches.”

Pada tahun 1889, Jenderal Smyth mendapat mutasi menjadi Gubernur Malta dan kembali mengambil keponakannya (BP) sebagai bagian dari stafnya. Baden Powell menjabat sebagai Sekretaris Militer dan Aide-de-camp selama tiga tahun. Selama periode ini, beberapa sumber menyebut BP juga menjabat sebagai perwira intelijen untuk British Secret Service/Director of Military Intelligence (sekarang dikenal sebagai MI6). 

Keterampilan kepanduan yang diperoleh Baden Powell membuat atasannya terkesan. Dia sering bepergian dengan menyamar sebagai kolektor kupu-kupu, memasukkan rencana instalasi militer ke dalam gambar sayap kupu-kupunya. Namun, BP sangat menginginkan pertempuran dan posisinya sekarang bukan seorang kombatan. Oleh karena itu, ia mengundurkan diri dari posisinya sebagai sekretaris militer di Malta pada tahun 1893 dan bergabung kembali dengan Hussar ke-13 di Irlandia.

Pada tahun 1895, Baden Powell mendapatkan tugas untuk memimpin kampanye melawan Kekasisaran/Kerajaan Ashanti karena rajanya telah melanggar perjanjian Inggris. BP pikir ia akan memiliki kesempatan untuk aksi militer, tetapi pada akhirnya tidak ada pertempuran. Dalam misi ini, ia menyelesaikan masalah tanpa pertumpahan darah dan berhasil. Ia pun mendapat promosi menjadi letnan kolonel pada usia 39 tahun. Meskipun mendapat kehormatan dari promosi tersebut, BP kecewa karena ia belum memiliki pengalaman tempur di militer.

Dalam periode yang tidak jauh berbeda, Baden Powell juga dikirim untuk menangani Pemberontakan Matabele di negara Afrika Rhodesia (sekarang wilayah Ghana). BP berperan sebagai kepala staf Mayor Jenderal Sir Frederick Carrington. Karena tidak ada korps pengintai yang tersedia untuk misi ini, BP melakukan perjalanan kepanduannya sendiri untuk mempelajari medan dan orang-orangnya. Ia kemudian akan mempublikasikan pengalamannya dalam sebuah buku berjudul The Matabele Campaign. Baden Powell mengutip petualangan itu sebagai pengalaman belajar yang penting dalam cara-cara pengintaian/kepramukaan.

Setelah pulang dari Afrika, Baden Powell mendapatkan tawaran untuk bergabung dalam komando 5th Dragon Guards di India. Di posisinya sekarang, ia berdedikasi besar untuk melatih pasukan dalam teknik pelacakan dan pengawasan. Pada tahun 1899, ia menerbitkan sebuah buku panduan atau ringkasan pelatihan bagi tentara berjudul Aids to Scouting tentang pelajaran pengintaian dan kepanduan militer. Dengan menggunakan buku ini dan metode-metode lainnya yang ia kuasai, BP mampu melatih anggota baru untuk berpikir secara mandiri, menggunakan inisiatif mereka, dan bertahan hidup di hutan belantara. Sementara itu, buku itu juga mendapatkan minat yang mengejutkan di kalangan masyarakat umum. 

Pada tahun 1899, BP dikirim kembali ke Afrika untuk mengambil bagian dalam perang yang akan datang antara Inggris dan Boer atas hak mineral. Perang yang dikenal dengan Perang Boer Kedua ini merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam kehidupan Baden Powell. Pada saat ini, ia telah dipromosikan dan menjadi kolonel termuda di Angkatan Darat Inggris. 

BP bertanggung jawab atas organisasi pasukan perbatasan untuk membantu tentara reguler. Saat mengatur ini, dia terjebak oleh pasukan Boer yang terdiri lebih dari delapan ribu orang dalam Pengepungan Mafeking, sebuah kota kecil sekitar 175 mil sebelah barat Johannesburg. Baden Powell berhasil mempertahankan kota, meskipun kalah jumlah. Pasukannya bertahan dari pengepungan selama 217 hari.

Selama pengepungan, Korps Kadet Mafeking (terdiri dari anak laki-laki kulit putih di bawah usia pertempuran) digunakan untuk berjaga-jaga, membawa pesan, membantu di rumah sakit, dan sebagainya. Baden Powell tidak membentuk korps ini. Selain itu, tidak ada bukti bahwa BP memperhatikan mereka selama pengepungan. Namun, BP cukup terkesan dengan keberanian dan ketenangan mereka saat melakukan tugas. Nantinya, BP menggunakan fenomena itu sebagai objek pelajaran pada bab pertama Scouting for Boys.

Pengepungan Mafeking dimulai pada 13 Oktober 1899 dan berlangsung selama 217 hari. Jumlah orang yang mengelilingi kota diperkirakan melebihi 8000. Pemikiran baik dan strategi dari Baden Powell membantu pasukan untuk bertahan sampai bala bantuan tiba. Pengepungan Mafeking akhirnya dicabut pada 19 Mei 1900. Sebagai pengakuan atas jasanya yang tidak tertandingi, ia dipromosikan ke jabatan Mayor Jenderal. 

Saat BP kembali ke Inggris, ia menyadari bahwa dirinya dianggap sebagai pahlawan nasional. Sementara, BP juga melihat jika bukunya untuk para tentara, Aids to Scouting, telah digunakan oleh para pemimpin pemuda dan guru sebagai bahan pengajaran.

Selanjutnya, Baden Powell kembali ke Afrika Selatan dan mengorganisir South African Constabulary (Polisi Afrika Selatan). Organisasi itu adalah kekuatan paramiliter yang dibangkitkan selama perang. BP adalah Inspektur Jenderal pertama pasukan tersebut.

Pada tahun 1903, BP kembali ke Inggris untuk menjabat Inspektur Jenderal Kavaleri dan membawa peningkatan penting dalam pelatihan pengintaian pasukan. Pada saat yang sama, dia mulai tertarik pada Boys Brigade. Pada tahun 1907, Baden Powell menjadi Komandan Divisi Northumbrian Angkatan Teritorial. Ini adalah periode militer terakhirnya.

Pada tahun 1910, BP pensiun dari kemiliteran pada usia 53 dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. Ia memutuskan pensiun sesuai saran dari Raja Edward VII yang memberitahukan bahwa akan lebih baik jika BP melayani negaranya dengan gerakan kepanduan apabila dia sudah tidak berada dalam kemiliteran.

BP sekarang dapat mencurahkan sepenuhnya antusiasme dan energinya untuk mengembangkan Boy Scouting dan Girl Guiding. BP bepergian ke seluruh dunia untuk memberikan dorongan dan memberikan inspirasi sebagai pembicara dalam beberapa pertemuan dan rapat umum. Pada saat dia mengikuti pertemuan Boys Brigade, Sir Wiliam Smith (pendirinya) meminta BP untuk membuat skema dengan kegiatan yang lebih variatif dalam pelatihan anggota untuk menjadi warga negara yang baik.

Gerakan Kepanduan

BP menulis ulang Aids to Scouting untuk disesuaikan dengan target pembaca dengan usia lebih muda setelah pertemuan dengan pendiri Boys’ Brigade, Sir William Alexander Smith. Pada tahun 1907, BP mengadakan percobaan untuk menguji penerapan ide-idenya dengan acara perkemahan di pulau Brownsea, Dorset. BP berhasil mengumpulkan 22 anak laki-laki dari latar belakang sosial campuran untuk perkemahan ini. Peristiwa ini dianggap sebagai awal mula Gerakan Kepanduan.

Scouting for Boys dipublikasikan pada tahun 1908 setiap dua minggu sekali dalam enam bagian. Sejak itu muncullah beberapa kelompok Scouts Patrol yang terdiri dari sejumlah anak laki-laki yang ingin mencoba ide-ide dalam buku tersebut. Pada awalnya, buku itu bertujuan sebagai alat bantu pelatihan untuk organisasi yang sudah berdiri, tetapi pada akhirnya buku itu justru menjadi buku panduan gerakan kepanduan yang mendunia. Buku Scouting for Boys sampai saat ini telah diterjemahkan ke semua bahasa utama di dunia.

Perkemahan
Baden Powell (Tengah) di Antara Para Pandu (Sumber: AFP/GETTY IMAGES)

Pada masa-masa awal, gerakan ini hanya menjadi obsesi nasional, tetapi kemudian menjadi obsesi internasional. Kelompok-kelompok kepanduan mulai bermunculan dan tersebar dengan cepat di beberapa negara di seluruh penjuru dunia. Pada bulan September 1908, Baden Powell harus mendirikan sebuah kantor karena banyaknya pertanyaan yang ia terima.

Pada tahun 1909, BP pertama kali mengadakan rally kepanduan di Crystal Palace, London. Di sana, BP menemukan banyak peserta yang sebenarnya perempuan. Pada tahun berikutnya, BP bersama saudara perempuannya Agnes Baden Powell mengorganisir Girl Guide Movement. Girl Guide Movement secara resmi didirikan pada tahun 1910 di bawah naungan saudara perempuan Baden Powell, Agnes Baden-Powell.

Pada tahun 1912, BP menikahi Olave Soames yang terus mendampingi dan memberikan bantuan serta sangat terlibat dalam kepanduan. Pernikahan mereka dikaruniai tiga orang anak (Peter, Heather dan Betty). Nantinya, Lady Olave Baden-Powell juga akan dikenal sebagai World Chief Guide.

Pada tahun 1920 diadakan Jambore Dunia pertama di Olympia, London. Pada saat itu juga, Baden Powell diakui sebagai “Kepala Pandu Dunia.” BP diangkat menjadi Baronet pada tahun 1922 dan diangkat menjadi Baron Baden Powell, dari Gilwell di County Essex, pada tahun 1929. Gilwell Park adalah pusat pelatihan Pemimpin Kepanduan Internasional.

Baden Powell memiliki dampak positif pada peningkatan pendidikan pemuda. Di bawah bimbingan dan arahannya, gerakan kepanduan dunia tumbuh. Pada tahun 1922, ada lebih dari satu juta anggota kepanduan di 32 negara. Lalu, angka ini bertambah jumlahnya, anggota kepanduan diperkirakan lebih dari 3,3 juta pada tahun 1939.

22 Februari, hari ulang tahun Robert dan Olave Baden-Powell diperingati sebagai Hari Berpikir Sedunia atau Hari Pandu Sedunia untuk mengenang dan merayakan karya mereka juga sebagai membangun kesadaran kepanduan di seluruh dunia.Dua bukunya tentang kepramukaan, Aids to Scouting dan Scouting for Boys tetap berada di daftar buku terlaris selama bertahun-tahun. Selain dua buku ini, Baden Powel menyempatkan diri untuk menulis sekitar tiga puluh buku lain dengan topik yang berbeda.

Logo WOSM
Logo WOSM (Sumber: scout.org)

Karya yang Dihasilkan

Sepanjang hidupnya, Baden Powell telah menghasilkan beberapa karya, seperti lukisan, gambar, artikel, monograf, surat, dan lebih dari tiga puluh buku. Karyanya yang paling terkenal adalah buku Scouting for Boys.

Buku militer

  • 1884: Reconnaissance and Scouting
  • 1885: Cavalry Instruction
  • 1889: Pigsticking or Hoghunting
  • 1896: The Downfall of Prempeh
  • 1897: The Matabele Campaign
  • 1899: Aids to Scouting for NCO’s and Men
  • 1900: Sport in War
  • 1901: Notes and Instructions for the South African Constabulary
  • 1914: Quick Training for War

Buku pandu

  • 1908: Scouting for Boys
  • 1909: Yarns for Boy Scouts
  • 1912: Handbook for Girl Guides (bersama Agnes Baden-Powell)
  • 1913: Boy Scouts Beyond The Sea: My World Tour
  • 1916: The Wolf Cub’s Handbook
  • 1918: Girl Guiding
  • 1919: Aids to Scoutmastership
  • 1921: What Scouts Can Do
  • 1922: Rovering to Success
  • 1929: Scouting and Youth Movements
  • 1935: Scouting Round the World

Buku-buku lainnya 

  • 1905: Ambidexterity (bersama John Jackson)
  • 1915: Indian Memories
  • 1915: My Adventures as a Spy
  • 1916: Young Knights of the Empire: Their Code, and Further Scout Yarns
  • 1921: An Old Wolf’s Favourites
  • 1927: Life’s Snags and How to Meet Them
  • 1933: Lessons From the Varsity of Life
  • 1934: Adventures and Accidents
  • 1936: Adventuring to Manhood
  • 1937: African Adventures
  • 1938: Birds and beasts of Africa
  • 1939: Paddle Your Own Canoe
  • 1940: More Sketches Of Kenya
Buku Baden Powell
BP dan Bukunya (Sumber: scoutingmagazine.org)

Kehidupan Keluarga

Pada Januari 1912, Baden Powell bertemu dengan wanita yang akan menjadi istrinya, Olave Soames. Keduanya bertemu di kapal laut Arcadian dalam perjalanan ke New York City saat BP memulai salah satu Tur Dunia Kepanduannya. Soames adalah seorang wanita muda berusia 23 tahun dan Baden Powell berusia 55 tahun ketika mereka bertemu. Mereka pun berbagi tanggal ulang tahun yang sama. 

Pasangan itu bertunangan pada bulan September di tahun yang sama. Hal ini menyebabkan sensasi media yang mungkin karena ketenaran Baden Powell. Perbedaan usia antara keduanya bukanlah hal yang aneh saat itu. Untuk menghindari gangguan pers, pasangan itu menikah secara rahasia pada 30 Oktober 1912. Anggota Scouts of England masing-masing menyumbangkan satu sen untuk hadiah pernikahan Baden Powell, yakni sebuah mobil.

Dari pernikahannya, Baden Powell memiliki tiga anak, satu putra dan dua putri. Beberapa keturunannya pun memperoleh gelar kehormatan ‘Honourable‘. Arthur Robert Peter, 2nd Baron Baden-Powell (1913–1962) menikah dengan Carine Crause-Boardman. Mereka memiliki tiga anak, yaitu Robert Crause (Baron Baden-Powell ke-3), David Michael (pewaris gelar saat ini), dan Wendy. 

Heather (1915–1986) menikah dengan John King dan memiliki dua anak, Michael dan Timothy. Betty (1917–2004) menikah dengan Gervase Charles Robert Clay dan memiliki tiga putra dan satu putri: Robin, Chispin, Gillian, dan Nigel.

Pada tahun 1918, ayah Olave Soames memberikan anaknya rumah mereka di Pax Hill. Keluarga Baden-Powell menjadikan Pax Hill sebagai rumah keluarga mereka selama 20 tahun (dari sekitar tahun 1919 hingga 1939).

Masa-Masa Akhir

Tidak lama setelah menikah, Baden Powell mulai mengalami masalah kesehatan. BP mengeluhkan sakit kepala yang tidak kunjung berhenti. Dokter mengatakan bahwa itu adalah gejala psikosomatik. Sakit kepalanya mereda ketika dia berhenti tidur dengan Olave dan pindah ke kamar tidur darurat di balkonnya. Pada tahun 1934, prostatnya diangkat.

Pada tahun 1939 Baden- pindah ke negara yang pernah ia kunjungi sebelumnya, yakni Kenya untuk memulihkan dirinya. Baden Powell menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di Kenya. Di sana, BP memiliki sebuah pondok di Nyeri, dekat Gunung Kenya. 

BP meninggal di sana pada tanggal 8 Januari 1941 dan dimakamkan di Pemakaman S. Peter. Sebuah lingkaran dengan titik di tengah telah terukir di batu nisannya. Ini merupakan tanda jejak untuk “Pulang” atau “Saya telah pulang”.

Setelahnya, Lady Olave Baden-Powell tetap melanjutkan promosi gerakan kepanduan ke seluruh dunia sampai beliau meninggal dunia pada tahun 1977. Ketika Olave meninggal, abunya dikirim ke Kenya dan dimakamkan di samping suaminya. Kenya telah menyatakan makam Baden Powell sebagai monumen nasional.

Ditemukan juga sebuah surat yang diketahui sebagai BP Last Message di antara catatan-catatannya yang berisi sebagai berikut.

Pesan Terakhir Baden Powell
Pesan Terakhir Baden-Powell (Sumber: scout.org)

Penghargaan

Pada tahun 1937, Baden Powell ditunjuk ke Order of Merit, salah satu penghargaan paling eksklusif dalam sistem kehormatan Inggris. Dia juga dianugerahi 28 penghargaan lainnya dari negara-negara asing.

The Bronze Wolf, satu-satunya penghargaan dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) atau Organisasi Kepanduan Dunia yang pertama kali diberikan kepada Baden Powell untuk layanan luar biasanya terhadap kepanduan dunia. Penghargaan ini diberikan dengan keputusan bulat oleh Komite Internasional pada tahun 1935 di Stockholm. Ia juga orang pertama yang menerima penghargaan Silver Buffalo Award pada tahun 1926, penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Boy Scouts of America.

Dia juga diberi gelar bangsawan oleh Raja George V pada tahun 1929. Dia mengambil gelar Lord Baden-Powell dari Gilwell. Kebetulan, Gilwell Park adalah pusat pelatihan internasional yang didirikan olehnya untuk para pemimpin kepanduan.

Pada tahun 1931, Mayor Frederick Russell Burnham mendedikasikan Gunung Baden-Powell di California kepada teman lamanya (BP) yang ia kenal empat puluh tahun sebelumnya. Hari ini, persahabatan mereka dihormati selamanya dengan dedikasi dari puncak yang bersebelahan, Gunung Burnham.

Pada tahun 1939, Baden Powell juga dinominasikan untuk mendapat Nobel Perdamaian untuk tahun 1939, tetapi Komite Nobel Norwegia memutuskan untuk tidak memberikan hadiah apa pun untuk tahun itu karena dimulainya Perang Dunia II.

Nah, jadi seperti itu Sobat Zen sosok Baden Powell. Segitu saja informasi yang bisa gue bagikan dengan Sobat Zen. Semoga bermanfaat, ya! Update terus blog Zenius untuk mengetahui biografi dari tokoh-tokoh lainnya, ya, guys. Jangan lupa juga untuk terus ikuti keseruan lainnya dari Zenius di YouTube! Sampai jumpa!

Scouts. Tanpa Tahun. Baden-Powell. Diakses pada 10 Desember 2021, dari https://www.scout.org/id/node/25320

Britannica. Tanpa Tahun. Robert Baden-Powell, 1st Baron Baden-Powell. Diakses pada 10 Desember 2021, dari https://www.britannica.com/biography/Robert-Stephenson-Smyth-Baden-Powell-1st-Baron-Baden-Powell

New World Encyclopedia. Tanpa Tahun. Robert Baden-Powell. Diakses pada 10 Desember 2021, dari https://www.newworldencyclopedia.org/entry/Robert_Baden-Powell

TheFamousPeople. Tanpa Tahun. Robert Baden-Powell, 1st Baron Baden-Powell Biography. Diakses pada 10 Desember 2021, dari https://www.thefamouspeople.com/profiles/robert-baden-powell-1st-baron-baden-powell-6686.php

YourDictionary. Tanpa Tahun. Robert Baden-Powell. Diakses pada 10 Desember 2021, dari https://biography.yourdictionary.com/robert-baden-powell

Baca Artikel Lainnya

James Watt

Muhammad Ali

Noam Chomsky

Bagikan Artikel Ini!