4 Prinsip Utama dalam Belajar Bahasa Asing

Artikel ini mengupas 4 prinsip utama dalam mempelajari bahasa asing. Dilengkapi juga dengan indikator penguasaan bahasa, tingkat kesulitan, serta tips-tips mempelajari bahasa asing dengan cara yang efektif dan menyeluruh.

Pernah gak sih, lo nyoba belajar bahasa asing? Entah itu bahasa Jepang, bahasa Korea, bahasa Mandarin, atau bahasa Jerman? Hayo, udah sampe mana penguasaannya? Berdasarkan pengalaman gua jadi guru bahasa asing, gak sedikit pembelajar yang semangat belajarnya gak bertahan lama, mungkin ada juga yang sampe putus asa, bahkan berhenti total di tengah jalan. Mungkin ada juga yang merasa secara teori udah bagus, tapi dalam praktik ngomong dengan nativespeaker masih kesulitam, gugup, dan terbata-bata.

Kenapa bisa begitu, ya? Kayaknya ada sebagian orang yang bisa terus konsisten belajar, tapi kenapa gue kok susah banget, sih?

Les udah, beli buku-buku belajar bahasa asing udah, download mobile apps di sebagai penunjang belajar juga udah, tapi kenapa kok ujung-ujungnya mandek, ya? Nah, kebetulan banget gua memiliki cukup banyak pengalaman dalam mempelajari bahasa asing dan juga sempat menjadi guru les bahasa asing. Oleh karena itulah, pada kesempatan kali ini gue mau berbagi tips dengan lo semua yang sedang mempelajari bahasa asing. Moga-moga aja tips dari gua bermanfaat agar usaha belajar lo bisa betul-betul efektif dan tepat sasaran.

Oke, sebelum lanjut pada 4 prinsip utama yang mau gua bahas, ada baiknya kita tahu dulu standar “menguasai” dalam belajar bahasa asing itu seperti apa. Apakah yang dimaksud “menguasai” itu sekadar mengerti pembicaraan, bisa lancar baca-tulis, sudah bisa cas-cis-cus a la native speaker, atau sampai jadi seorang ahli bahasa (linguist) dan polyglot seperti RMP Sosrokartono?

Jadi sebelum kita menyatakan diri kita “menguasai” bahasa asing, kita harus tahu dulu maksudnya “menguasai” itu sudah sampai pada level mana? Karena ada-ada saja orang yang bilang “sudah menguasai” tapi sebetulnya dalam skala Language Proficiency itu dia belum sampai memenuhi tahap yang layak untuk bisa dikatakan “menguasai”.

Nah terus skala yang benar dalam menentukan kemahiran berbahasa itu apa saja tahapnya? Oke gua coba jelasin dulu ya.  Language Proficiency, atau Kemahiran Berbahasa, dapat diukur dengan menggunakan beberapa standar, tapi kali ini gue akan bahas satu aja, yaitu CEFR (Common European Framework of Reference). CEFR adalah sebuah indikator untuk mengukur tingkat pencapaian kemahiran sebuah bahasa, yang disusun oleh Dewan Eropa (Council of Europe).

Kalo lo pernah liat label A1, A2, B1, dll. Pada sampul atau punggung buku bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, itulah yang disebut dengan CEFR. Secara umum, CEFR dibagi menjadi 6 level, dengan rincian sebagai berikut:

A1 (Beginner)

Di tingkatan ini, pembelajar dinilai mampu untuk:

  • Memahami frasa simple harian.
  • Memperkenalkan diri.
  • Menjawab pertanyaan tentang profil diri sendiri dan kehidupan sehari-hari.

A2 (Elementary)

Di tingkatan ini, pembelajar dinilai mampu untuk:

  • Memahami kalimat-kalimat yang lebih dalam mengenai kehidupan sehari-hari
  • Berbelanja atau bertransaksi
  • Menjelaskan kondisi geografis lokal.
  • Bertukar informasi dalam lingkup rutinitas.

B1 (Intermediate)

Di tingkatan ini, pembelajar dinilai mampu untuk:

  • Memahami permasalahan harian di lingkungan sekitar seperti sekolah, pekerjaan, hobi, dll.
  • Membuat tulisan terpadu mengenai minat pribadi.
  • Menceritakan pengalaman personal beserta detilnya.

B2 (Upper Intermediate)

Di tingkatan ini, pembelajar dinilai mampu untuk:

  • Memahami ide pokok yang kompleks dalam sebuah tulisan, baik mengenai topik abstrak maupun konkret
  • Berinteraksi secara spontan dengan penutur asli bahasa (native speaker) yang dipelajarinya.
  • Menulis teks yang detil mengenai bermacam-macam topik, serta menyampaikan opini dan sudut pandangnya terhadap topik-topik tersebut.

C1 (Advanced)

Di tingkatan ini, pembelajar dinilai mampu untuk:

  • Memahami ide-ide yang lebih kompleks.
  • Mengekspresikan diri secara spontan dan lancar.
  • Berbahasa secara fleksibel dalam lingkungan akademik, sosial, serta professional.
  • Menulis teks yang terstruktur dengan baik mengenai topik yang kompleks, dengan menggunakan komponen gramatikal yang efektif dan efisien.

C2 (Master)

Di tingkatan ini, pembelajar dinilai mampu untuk:

  • Memahami dengan mudah segala informasi yang didengar atau dibaca.
  • Menyimpulkan informasi dari berbagai sumber, dan merekonstruksikannya secara koheren.
  • Mampu menyampaikan argumen dengan baik.
  • Mampu mempresentasikan opini maupun fakta.
  • Mengekspresikan diri secara lancar dan tepat dalam situasi kompleks.

Gitu deh, kira-kira, gambaran mengenai CEFR. Jadi, kalo lo mau atau sedang belajar bahasa asing, lo bisa tahu level kemahiran lo sudah mencapai yang mana dalam CEFR. Jadi kalo ada di antara lo yang merasa secara teori grammar sudah baik, tapi masih kesulitan berbicara secara spontan dengan native speaker, kemungkinan lo lagi stuck dalam tahap B1 menuju B2.

By the way, meski CEFR ini awalnya diciptakan oleh orang Eropa, standarnya sudah cukup meluas dan digunakan oleh banyak institusi bahasa di seluruh dunia, bahkan skor dalam TOEFL, IELTS, JLPT (Bahasa Jepang), HSK (Bahasa Mandarin) juga dapat dikonversi ke CEFR.

 

4 PRINSIP UTAMA BELAJAR BAHASA ASING

Nah, setelah lo memahami tingkatan dari kemahiran bahasa, mari kita bahas tentang 4  prinsip utama dalam belajar bahasa asing yang menurut gua penting banget untuk diketahui dalam mempelajari bahasa asing:

PRINSIP 1: Motivasi belajar yang benar

Mengapa lo memutuskan belajar bahasa asing? Untuk apa? Pertanyaan-pertanyaan tentang  motivasi ini kesannya sepele padahal sangat signifikan pada proses belajar bahasa asing yang akan lo jalani. Jika sejak awal motivasi belajar lo tidak didasarkan pada hal yang tepat, itulah yang menyebabkan banyak pembelajar berhenti di tengah jalan. Namun, jika dasar motivasi belajar lo tepat, lo akan jauh lebih konsisten terhadap komitmen belajar lo.

Nah, berdasarkan pengalaman gue sebagai guru bahasa asing, gue mengkategorikan golongan-golongan motivasi pembelajar ke sebuah kuadran. Ada 4 karakteristik dalam kuadran tersebut, yaitu ideologis, praktikal, integratif, dan instrumental.

 

Kuadran I: Praktikal-Instrumental

Pada kuadran ini, motivasi seseorang dalam belajar bahasa asing biasanya berasal dari faktor eksternal berupa tuntutan, perintah, paksaan, atau keharusan. Misalnya karena tinggal di luar negeri, maka harus belajar bahasa negara tersebut untuk bisa bertahan hidup. Bisa juga motif belajarnya karena perintah atau paksaan dari figur otoritas, misalnya orang tua atau dari guru. Tidak jarang orang tua atau guru yang ikut andil dalam menentukan arah belajar bahasa asing seorang pembelajar.

“Pokoknya kamu harus bisa bahasa Mandarin ya. Biar nanti gampang nyari kerja & mudah mencari relasi bisnis” – orang tua / guru

Terlepas bahwa menguasai bahasa itu penting secara praktikal, tapi biasanya motivasi yang didasari oleh keterpaksaan atau perintah dari orang lain, tidak akan membuat seorang pembelajar berkomitmen dalam jangka panjang. Hayo, ada yang berhenti belajar bahasa di tengah jalan karena sumber motivasinya disuruh orang lain?

Mereka yang dasar motivasi belajarnya karena perintah orang lain, tidak hanya akan bermasalah dalam komitmen dan konsistensi, tapi juga proses belajar mereka cenderung acak-acakan. Kalo dari awal motivasinya udah lemah, cara belajarnya lemah, ya wajar saja banyak yang tidak berkembang dan jadi berhenti di tengah jalan. 🙂

Kuadran II: Praktikal-Integratif

Di kuadran ini, motivasi seseorang dalam belajar bahasa asing hanya didasarkan pada fungsi kepraktisan kasual dalam memahami bahasa tersebut. Biasanya mereka yang berada di kuadran ini belajar bahasa asing, karena dorongan motivasi hobi kasualnya, misalnya hanya supaya bisa mengerti percakapan dalam bahasa asing, bisa baca komik, main video games, nonton drama/film, atau sekadar paham lirik-lirik lagu dari bahasa tersebut.

Biasanya mereka yang belajar atas dasar motivasi ini, penguasaan materinya juga cukup acak, bahkan bisa juga hanya bertumpu pada satu karakteristik yang itu-itu saja, karena biasanya referensi pembelajarannya banyak meniru dari sumber yang terbatas seperti drama/film/animasi, game, dll.

Kuadran III: Ideologis-Instrumental

Di kuadran ini, motivasi seseorang dalam belajar bahasa asing didasari pada rasa kesukaan terhadap bahasa tersebut. Biasanya dorongan belajarnya didasari oleh motivasi positif, bahwa dirinya memang menyukai bahasa tersebut, merasa pengucapan bahasa tersebut terdengar indah, melihat karakter bahasa tersebut keren, atau penguasaan bahasa tersebut mendukung cita-citanya. Pada tahap ini, biasanya pembelajar memerhatikan aspek fungsional yang tepat dan didorong oleh motivasi positif.

Kuadran IV: Ideologis-Integratif

Di kuadran ini, motivasi seseorang dalam belajar bahasa asing didasari pada rasa kecintaan yang mendalam terhadap bahasa tersebut, dinamika budaya, aspek sosial, maupun historis dari penutur bahasa asing tersebut. Motivasi yang didasarkan pada kuadran ini, tidak lagi hanya sekadar mempelajari aspek fungsional sebuah bahasa saja, tetapi juga merasa tertarik untuk mengkaji aspek linguistik, historis, perubahan sosial, dan nilai-nilai kebudayaan yang berkaitan dengan bahasa tersebut.

Contohnya mereka yang mempelajari bahasa Mandarin atas dasar motivasi kuadrain IV ini, mereka bukan lagi belajar bahasa Mandarin karena disuruh orang tua atau supaya bisa nonton film drama mandarin. Mereka betul-betul mencintai bahasa Mandarin sampai ke akar-akarnya. Mereka menyukai pelafalan dalam bahasa Mandarin, mereka menyukai karakter bahasa Mandarin, mereka merasa penasaran dengan evolusi akar bahasa Mandarin. Mereka menyukai sejarah dan budaya Tiongkok sebagai penutur bahasa Mandarin. Mereka bahkan merasa tertantang untuk memahami perbedaan akar bahasa yang serumpun, atau dialek kedaerahan yang masih berkaitan dengan bahasa Mandarin.

Menurut pengalaman gua, para pembelajar yang motivasinya didasari pada kuadran ini biasanya lebih cepat dalam belajar, cenderung lebih berkomitmen, dan juga konsisten dalam mendalami bahasa asing.

Jadi, kuadran motivasi mana yang harus dilakukan?

Menurut pendapat gue, idealnya seorang pembelajar baru akan bisa betul-betul berkomitmen menguasai bahasa asing dengan baik jika dasar motivasinya ada pada kuadran III atau IV.

 

PRINSIP 2 : Rencana Persiapan yang Terukur

Mempelajari bahasa asing itu tidak bisa sembarangan. Perlu ada perencanaan yang matang dalam belajar bahasa asing, agar usaha dan energi lo tersalurkan dengan tepat.

Pertama, coba tentukan target dulu, mau belajar bahasa apa, mencapai level mana. Kemudian, tentukan berapa berapa lama waktu yang lo rencanakan untuk mencapai target tersebut. Dalam menentukan target, sebaiknya jangan terlalu muluk-muluk atau menaruh target yang gak realistis ya. Ketimbang menentukan target yang tidak realistis, lebih baik tentukan target yang wajar asal lo menjalani proses belajar dengan enjoy dan konsisten.

Kedua, lo juga harus tahu seberapa sulit bahasa yang lo akan pelajari. Di artikel gue sebelumnya, gue sempat mencantumkan tabel tingkat kesulitan mempelajari bahasa, dari sudut pandang penutur bahasa Inggris.

Kemudian, siapkan juga semua equipment yang dibutuhkan, serta resources yang kredibel. Jangan mengambil referensi hanya dari hobi kasual atau pop-culture bahasa tersebut saja, misalnya dari game, atau film drama saja. Karena banyak sekali pengucapan dalam pop-culture itu yang tidak akurat, menggunakan bahasa tidak baku, dan penggunaan konteks yang berulang hanya pada topik itu-itu saja.

Contohnya, lo bisa cek beberapa resources seperti Rosetta Stone (PC Software), Duolingo (Mobile App), Nihongoichiban (Website belajar bahasa Jepang)

 

PRINSIP 3 : Proses Belajar yang Tepat

Setelah motivasi dan persiapan sudah mantap, baru deh, masuk ke proses belajar. Dalam memulai beelajar lo harus memerhatikan hal-hal berikut:

A. Vocabulary

Vocabulary atau kosakata mau tidak mau harus dihapal. Gimana caranya? Mulai dari kosakata sehari-hari, lebih bagus lagi kalau dipelajari secara tematik, misal lingkungan, keluarga, hobi, pekerjaan, dll. Supaya lebih bagus, buatlah list kosakata yang dikelompokkan menjadi kata kerja, kata benda, kata sifat, dll., ini akan mempermudah lo dalam menyusun kalimat.

Sekarang ini sudah semakin banyak software, apps, dan website yang memfasilitasi lo agar mudah menyerap vocab bahasa asing dengan efisien dan cepat. Contohnya seperti Duolingo.

B. Grammar

Grammar atau tata bahasa yang harus dipelajari meliputi Fonologi (cara ucap), Morfologi (cara membentuk kata), Sintaksis (aturan kalimat), Fonetik (bunyi dan simbol), Semantik (pemahaman makna), serta Pragmatika (pemaknaan konteks). Semua itu adalah aspek yang perlu dipelajari kalau lo mau penguasaan bahasa lo betul-betul menyeluruh, gak pincang cuma bisa reading doang atau listening doang.

Kok ribet, ya? Nggak juga. Apalagi kalau motivasi belajar lo sudah berada di kuadran III-IV, sebetulnya mempelajari hal-hal ini justru bisa menjadi hal yang menantang dan menyenangkan, loh!

C. Praktik

Praktik dalam belajar bahasa meliputi membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan. Di bagian ini biasanya sering terjadi miskonsepsi atau salah kaprah. Berikut adalah 2 kesalahan umum yang seringkali terjadi:

Kesalahan 1: “Yang penting berani ngomong dulu, grammar belakangan.”

Banyak orang awam (bahkan sebagian pendidik) yang mengatakan:

yang penting berani ngomong dulu, grammarnya salah-salah nggak apa-apa, yang penting lawan bicara ngerti. Tabrak aja dulu, yang penting berani ngomong”

Memang betul bahwa ada bagusnya “jangan takut salah” jika pada tahap awal kita belajar masih kurang percaya diri. Namun dalam praktiknya, prinsip ini seringkali menjadi justifikasi atau disalahgunakan untuk tidak berkembang menjadi lebih baik lagi (baca: berbahasa dengan benar). Kebiasaan pembelajar di Indonesia adalah malas mengoreksi dan dikoreksi, sehingga sering banget membiarkan kesalahan berbahasa menjadi kebiasaan yang dimaklumi. Jangan takut mengoreksi atau dikoreksi, karena hal itu hanya akan menghambat kemajuan kita sendiri dalam belajar bahasa asing.

Kesalahan 2: “Yang penting bisa ngomong aja, nggak usah bisa baca-tulis.”

Kesalahan umum yang kedua, tidak jarang juga orang yang hanya ingin menguasai speaking & listening dalam bahasa asing, tapi tidak mau mengasah kemampuan membaca dan menulisnya. Mungkin menurut mereka, jika hanya mempelajari speaking & listening saja, bisa menghemat waktu yang dibutuhkan untuk menguasai sebuah bahasa asing.

Menurut gua ini juga cara belajar yang keliru. Ibarat mau belajar masak sup ayam, tapi gak mau belajar motong wortel dan daun bawang, Cuma mau rebus ayamnya aja. Dalam praktiknya, mereka yang hanya ingin belajar speaking & listening saja tidak akan efisien dalam belajar, karena bahan referensi untuk mempelajari bahasa tersebut jadi sangat terbatas, karena gak mau belajar baca-tulis. Ujung-ujung, mereka yang hanya fokus pada aspek speaking & listening saja, seringkali akan terhambat dalam belajar dan bisa jadi kalah cepat dengan yang belajar secara menyeluruh.

 

PRINSIP 4: Maintenance

Karena bahasa adalah “skill-based knowledge”, maintenance atau pemeliharaan itu penting, loh. Mungkin di antara lo pernah lihat orang yang dulunya jago bahasa tertentu, tapi setelah beberapa lama kemampuannya menurun. Itu disebabkan oleh minimnya atau ketiadaan pemeliharaan (maintenance) bahasa.

Terus gimana dong? Intinya, penguasaan bahasa itu harus dipelihara secara rutin, tidak boleh dibiarkan “berkarat” di otak kita. Berikut ini beberapa hal yang bisa lo lakukan dalam upaya memelihara kemampuan berbahasa:

A. Eksposur

Expose-lah diri lo terhadap lingkungan atau kondisi yang kondusif dalam menyokong lo dalam belajar bahasa asing. Misalnya bergabung dalam komunitas bahasa tersebut di media sosial. Bisa juga dengan sering meluangkan waktu dalam hobi kasual yang berkaitan dengan bahasa tersebut, misalnya membaca buku atau komik, nonton film, mendengarkan musik, atau main video game yang menggunakan bahasa asing tersebut dan ditambah dengan menggunakan subtitles dalam bahasa tersebut.

Selain itu, gue juga menyarankan untuk mengubah setting bahasa di smartphone atau komputer lo ke bahasa yang sedang lo pelajari. Dengan begitu, lo secara tidak sadar akan menambahkan exposure terhadap bahasa tersebut dalam kegiatan sehari-hari. 

B. Konsistensi

Ini bagian yang susah banget dijaga oleh banyak pembelajar bahasa asing. Masalah utamanya biasanya ada pada prinsip 1, yaitu motivasi belajar yang lemah. Kalo motivasi belajarnya dari awal sudah lemah, biasanya pembelajar jadi tidak konsisten. Jadi, pastikan lagi dasar motivasi lo kuat dalam mempelajari bahasa.

Tambahan tips dari gua untuk bisa lebih konsisten adalah mulai sesuatu dengan langkah kecil, tapi terus berkelanjutan. Contoh yang gue sendiri sarankan ke murid-murid gue adalah dengan teknik yang gue namakan Teknik Menabung. Mulai dengan belajar selama 10 menit setiap hari. Gunakan timer, per hari cukup belajar selama 10 menit, sampai lo terbiasa. Lakukan selama 1 minggu, 2 minggu, sampai lo nyaman, lalu tambahkan waktunya menjadi 20 menit. Ulangi prosesnya. Kalau lo sudah bisa mencapai tabungan belajar 60 menit per hari selama beberapa minggu, maka konsistensi lo sudah bagus.

PS. Sebelumnya Glenn udah pernah mengulas tentang apa yang membuat kita konsisten terhadap komitmen kita, ada bagusnya juga lo baca artikel tersebut.

****

Nah, demikianlah 4 prinsip utama dalam belajar bahasa asing. Semoga tulisan ini bisa menjadi panduan sekaligus memacu semangat lo semua yang ingin belajar bahasa asing. Jika ada di antara lo yang ingin mengobrol tentang proses belajar bahasa atau mungkin ada juga yang ingin mencoba berani berkomunikasi sama gue dengan menggunakan bahasa asing, bisa langsung berdiskusi pada comment section di bawah artikel ini! 🙂

—————————CATATAN EDITOR—————————

Jika ada di antara kamu yang ingin ngobrol atau diskusi dengan Yuuji-sensei seputar tips belajar bahasa asing, jangan ragu untuk bertanya pada kolom komentar di bawah artikel ini!

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.