Bagaimana Sikap Anti-Asing Menghancurkan Kekaisaran Tiongkok

Kata siapa sikap anti-asing tidak membahayakan? Ini cerita bagaimana Kehancuran Tiongkok karena menolak kolaborasi teknologi dari kebudayaan Barat.

Halo ketemu lagi sama gw Marcel, di topik sejarah Zenius Blog! Pada kesempatan kali ini gua mau ceritain kisah tentang hubungan 2 kekaisaran raksasa yang unik banget, yaitu tentang Kekaisaran Rusia dan Kekaisaran Tiongkok pada abad 17-20. Wah, kok tiba-tiba Zenius bahas tema yang aneh begini?

Nah justru itu, topik ini jarang banget dibahas dalam pelajaran sejarah, tapi sebetulnya hubungan kedua kekaisaran raksasa ini menarik banget. Karena pada akhirnya, hubungan unik antar 2 kerajaan ini akan berujung pada 2 peristiwa sejarah yang besar, yakni:

  1. Aneksasi (pengambilalihan kekuasaan) paling brilian sepanjang sejarah! Bagaimana kekaisaran Rusia bisa mencaplok sebuah wilayah kekaisaran Tiongkok dengan luas 600.000 km² tanpa adanya bentrokan senjata sama sekali!
  2. Sebagai salah satu pemicu runtuhnya Kekaisaran Tiongkok yang sudah berumur lebih dari 4.000 tahun! Peristiwa ini nantinya ditandai oleh revolusi Tiongkok oleh Sun Yat Sen menjadi Republic of China di tahun 1912.

Nah, buat lo yang penasaran, langsung aja kita meluncur dengan mesin waktu ke tahun 1650an. Pada era inilah, kontak pertama antar 2 kekaisaran raksasa ini terjadi.

First Contact antara 2 Kerajaan Raksasa (1650-1689)

Kontak pertama antara kekaisaran Rusia dan Cina terjadi di daerah sungai Sungari (anak sungai Amur), daerah yang bisa disebut “Manchuria Luar” di tahun 1650an. Pada abad 17 dulu, pusat peradaban Kekaisaran Rusia berkembang sangat pesat di daerah Barat, dimana pusatnya adalah di Moscow. Sebagai kekaisaran yang besar, ada banyak para penjelajah Rusia yang penasaran:

“Ada apa sih di sisi Timur sana? Sampai di mana sih ujung dataran yang maha luas ini?”

Maka dari itu, dimulailah penjelajahan bangsa Rusia ke arah timur jauh. Dalam menjelajah, bangsa Rusia ini menggunakan kuda selama puluhan tahun! Pada saat penjelajahan inilah, bangsa Rusia pertama kali bertemu dengan orang-orang Asia tengah, orang-orang Mongoloid, dan juga Sino Tibetan. Sampai akhirnya mereka tiba juga di ujung “dunia”, yang para ahli sejarawan bersepakat menamai daerah tersebut dengan sebutan Outer Manchuria atau Manchuria luar. Kira-kira lokasinya di sini:

Jauh buangeet yak! Kalo dikira-kira jarak antara Moscow ke daerah paling ujung Manchuria luar itu sekitar 9.000 km! Ga heran kalo para penjelajah itu butuh waktu bertahun-tahun untuk sampai ke situ.

Kembali ke para penjelajah Rusia, singkat cerita pasukan berkuda kekaisaran Rusia tiba di Manchuria Luar di tahun 1650, tapi mereka gagal untuk menguasai daerah yang pada saat itu diduduki oleh suku Manchu yang baru saja menaklukkan Tiongkok dan mendirikan Kekaisaran Qing. Pasukan Rusia yang berada jauh sekali dari ibukota mereka, kalah jumlah dan kalah persenjataan dibandingkan pasukan Qing. Di tahun 1672, pasukan Rusia kembali untuk mencoba menguasai daerah itu lagi, tetapi sekali lagi pasukan Qing mengalahkan pasukan Rusia.

Berbagai macam upaya Rusia untuk menaklukan tanah yang amat jauh dari ibukota mereka ini berkali-kali digagalkan oleh tentara Qing. Sampai akhirnya, disepakatilah perjanjian Nerchinsk di tahun 1689. Menurut perjanjian ini, pegunungan Stanovoy dan Sungai Argun menjadi perbatasan kedua negara: sisi Utaranya adalah milik Kekaisaran Rusia, sisi Selatannya milik Kekaisaran Qing. Dengan lahirnya perjanjian Nerchinsk, untuk sementara kontak antar 2 kekaisaran raksasa ini selesai. Kalo lo mau tau perbatasan Qing dan Rusia, kira-kira gambarannya seperti ini:

Hubungan Dagang di Lembah Kyakhta

Setelah puluhan tahun berlalu, 2 kerajaan raksasa ini saling diem-dieman dan cuek-cuekan, akhirnya tiba juga saat ketika kedua kerajaan ini kembali melirik satu sama lain. Alasannya apa? Kali ini bukan dalam konteks perang, tapi urusan dagang! Yah, namanya juga bisnis dan uang adalah hal yang universal ya. Kalo ada kesempatan dagang & saling menguntungkan, kenapa nggak?

Di satu sisi, para pedagang di Rusia sadar bahwa Tiongkok memiliki komoditas yang mereka inginkan seperti teh dan sutera. Di sisi lain, Rusia juga memiliki segudang hasil tambang, kulit hewan, dan bulu yang bisa mereka tawarkan ke para pedagang Tiongkok. Singkat cerita, kedua kekaisaran ini mengirimkan utusannya untuk berunding, pihak Rusia diwakili oleh seorang bangsawan-pedagang Serbia bernama Sava Vladislavich. Utusan ini bertemu di lembah terpencil bernama lembah Kyakhta tahun 1727.

Pada akhirnya, kedua utusan ini bersepakat untuk memulai perdagangan antar 2 kerajaan. Namun, jangan dibayangkan jalur distribusi perdagangan antar 2 kebudayaan raksasa ini dibuka secara terbuka & luas di sebuah pelabuhan internasional yang megah. Ingat, pada tahun 1700an dunia ini belum se-global sekarang. Dalam arti, kedua bangsa yang sangat berbeda latar belakang budaya ini masih sungkan untuk bergaul, berkomunikasi, bahkan saling mengenal satu sama lain.

Dua bangsa yang sangat berbeda ini masih sama-sama memandang orang asing sebagai “orang bar-bar” yang udik & tidak beradab. Oleh karena itu, secara tidak langsung, kedua bangsa ini “bersepakat” untuk hanya membatasi hubungan ini sebatas bisnis saja. Dalam arti, tidak ada pertukaran ilmu pengetahuan, tidak ada saling bertegur sapa, apalagi saling berkenalan, tidak ada pertukaran budaya, dari cara berpakaian, jenis masakan, dan sejenisnya.

“Pokoknya jangan sampai deh orang-orang asing itu mengkontaminasi budaya bangsa kita yang luhur!”

Begitu kira-kira yang ada dalam pikiran dua kekaisaran besar ini. Dalam dunia modern sekarang ini, sikap yang anti orang asing seperti ini dikenal dengan nama Xenophobia, sementara sikap dari orang-orang yang dipicu oleh xenophobia disebut xenophobic.

Lha, terus kalo ogah-ogahan gitu gimana dong dagangnya? Di sini uniknya, kedua bangsa ini berdagang di sebuah lembah tandus dan sangat tidak strategis untuk dijadikan tempat tinggal. Di lembah tersebut, pihak Rusia akan membangun kota kecil bernama Kyakhta. Beberapa ratus meter di arah selatan, pihak Tiongkok juga akan membangun kota kecil bernama Maimaicheng (Artinya: kota jual-beli). Bayangkan, sumber air terdekat berada 20 menit dari kedua kota ini, padahal di zaman itu belum ada teknologi air ledeng modern. Saking xenophobic-nya, Dinasti Qing bahkan melarang perempuan memasuki Kota Maimaicheng! (agar jangan sampai ada yang kawin campur).

Posisi Kota Meimeicheng & Kyakhta pada map tahun 1851. Posisinya masih belum akurat (lebih akurat peta modern)

Maka, selama ratusan tahun berikutnya, hanya 2 kota tandus, jorok, bau, dan kotor inilah yang boleh menjadi penghubung perdagangan hubungan dagang komoditas antar dua kekasairan raksasa ini. Semua kontak maupun perdagangan di daerah lain akan dianggap penyelundupan, dan diancam hukuman berat!

Keadaan kedua kota tsb kontras dengan perdagangan yang melalui dua daerah itu. Ribuan ton kulit, bulu, kain kasar, dan ginseng mengalir dari Kyakhta ke Maimaicheng. Dari arah sebaliknya, mengalirlah ribuan ton sutra, teh, dan rhubarb (sejenis genjer). Pihak Rusia menjual komoditas-komoditas dari Tiongkok itu bukan cuma untuk rakyatnya sendiri, tapi juga untuk dijual kembali ke negara-negara Eropa lainnya. Jadi, Kyakhta dan Maimaicheng praktis menjadi gerbang export-import antara Tiongkok dengan benua Eropa! Nilai komoditas-komoditas itu mencapai trilyunan Rupiah kalau dihitung dengan uang zaman sekarang! Ironi tersebut membuat banyak celetukan

“Rusia & Tiongkok adalah 2 kerajaan besar yang sangat kaya, tapi kok dagangnya di tempat kumuh begini ini sih?”

Perdagangan yang didasari oleh xenophobia ini berlangsung selama lebih dari 100 tahun sampai di era tahun 1800an. Dalam kurun waktu ini, bisa dikatakan Kerajaan Dinasti Qing tidak pernah punya kontak langsung dengan negara-negara Eropa lain, selain dengan kerajaan Rusia. Sampai tiba saatnya dimana bangsa-bangsa Eropa lain (selain Rusia) berhasil mencapai Tiongkok lewat jalur laut.

 

Bangsa Eropa mulai Berkembang, Tiongkok mulai Tertinggal

Kita rehat sejenak cerita tentang hubungan antar Kekaisaran Rusia dengan Kekaisaran Qing. Ada cerita menarik tentang bagaimana Kaisar Qing merespon kedatangan kapal-kapal dari Eropa, yang nantinya akan berdampak besar bagi hubungan Tiongkok dengan Rusia.

Ketika kapal-kapal Eropa seperti Inggris, Spanyol, dan Belanda mulai berdatangan ke wilayah Tiongkok melalui jalur laut. Dinasti Qing dibawah Kaisar Qianlong yang xenophobic, chauvinis, dan rasis menolak dengan tegas budaya asing dari Eropa. Kaisar Qianlong menyatakan kekaisaran Qing sudah memiliki segalanya, sehingga tak membutuhkan barang apapun maupun ilmu pengetahuan dan teknologi dari “negeri orang barbar” dari Eropa.

Selama puluhan tahun, Kekaisaran Qing hampir selalu menolak utusan dari kerajaan Eropa yang berminat untuk berdagang, dari mulai utusan dari Inggris tahun 1793, disusul dengan penolakan terhadap utusan Belanda (1794), dan utusan Russia (1805), dll. Satu-satunya perdagangan yang akhirnya diizinkan hanyalah di area yang sangat ketat dibatasi, yakni Kota Guangzhou.

Sama seperti di Kyakhta, perdagangan di Guangzhou juga dipantau ketat oleh dinasti Qing agar tidak terjadi pencemaran budaya. Orang-orang Eropa hanya boleh ditempatkan di daerah khusus dan tidak boleh keluar, mereka juga tidak boleh belajar bahasa Mandarin, dan cuma boleh bertemu pejabat rendahan, bukan kontak langsung dengan rakyat jelata. Tujuannya sama, agar tidak ada pencampuran budaya. Akibatnya, perdagangan di Guangzhou itu tidak bisa berkembang dalam skala yang besar.

Sikap xenophobia dari Dinasti Qing, khususnya Kaisar Qianlong ini justru menjadi salah satu pemicu awal keruntuhan budaya dan Kekaisaran Tiongkok. Lho kok bisa begitu? Karena sikap anti-asingnya ini, membuat Tiongkok tidak bisa mengejar ketertinggalan teknologi dan ilmu pengetahuan dengan budaya luar, khususnya budaya dan teknologi di Eropa.

Ketika James Watt menciptakan mesin uap di akhir abad 18, perkembangan industri, teknologi, dan ilmu pengetahuan di Eropa melesat jauh dengan kecepatan tinggi. Dengan adanya mesin uap, revolusi industri dimulai. produksi industri baja, tekstil, kertas, dan makanan meningkat drastis luar biasa. Selain itu, pelayaran dari Eropa ke benua-benua lain tidak terbatas oleh angin, tapi dengan uap sehingga mampu mempersingkat waktu dan memperkecil biaya perjalanan. Pada saat itulah, Bangsa Eropa tidak hanya membuka jaringan perdagangan ke manca negara, tapi juga memperluas kekuatan militernya ke seluruh penjuru dunia.

kapal laut tidak lagi dengan layar tapi dengan mesin uap

Pada masa inilah, tanpa sadar Kaisar Qianlong membuang kesempatan untuk merevolusi teknologi dan ilmu pengetahuan Tiongkok. Jika kita melihat pada era abad 17-18, bisa dikatakan, dari sisi teknologi maupun militer, Kekaisaran Qing jauh lebih unggul dari kerajaan-kerajaan di Eropa. Sampai tahun 1775, kekaisaran Qing adalah kekuatan yang ditakuti oleh semua seluruh dunia, baik secara ekonomi, budaya, dan militer. Namun, sikap anti asing yang berlarut-larut ini akhirnya membuat Kekaisaran Qing “ketinggalan kereta” dibandingkan kerajaan-kerajaan lain, khususnya Bangsa Eropa.

Kemunduran kekaisaran Qing ini menjadi jelas saat Inggris memaksa untuk menjual opium dengan kekuatan militernya, dan berhasil mengalahkan kekaisaran Qing dalam Perang Candu Pertama (1839-1842). Opium inilah (sejenis narkoba) yang nantinya menjadi salah satu biang kerok kekacauan di negeri Tiongkok, dimana jutaan orang Tionghoa menjadi kecanduan opium! Dari rakyat jelata hingga para bangsawan bahkan keluarga inti kekaisaran jatuh pada kecanduan opium. Kelak, opium inilah yang nantinya akan menjadi salah satu pemicu runtuhnya Kekaisaran Tiongkok pada awal abad 20.

 

Ketakutan Rusia terhadap Ekspansi Negara Eropa Lain.

Saat Kerajaan Qing mulai “diserang” oleh kekuatan Eropa, pihak Rusia justru yang mulai khawatir. Lho kok Rusia jadi ikutan khawatir, apa urusannya? Sebagaimana kita ketahui, wilayah Rusia itu luas sekali, membentang dari ujung Barat Moscow, sampai ke ujung Timur perbatasan sungai Amur di Manchuria.

Nah, bicara soal perbatasan wilayah timur, selama ini perbatasan wilayah di Manchuria ini terkunci oleh perjanjian Nerchinsk dengan Kerajaan Qing yang dibuat sekitar 150 tahun sebelumnya. Tapi di sisi lain, dengan semakin melemahnya kekuatan militer Kekaisaran Qing, area Outer Manchuria ini terancam dikuasai oleh para penjelajah Eropa lainnya.

Potensi pencaplokan area Outer Manchuria ini sangat tidak diinginkan oleh Rusia, kenapa? Karena sebetulnya sudah lama sekali Rusia menginginkan akses wilayah ini dikuasai oleh Rusia. Karena lokasi ini dinilai sangat strategis sebagai urat nadi perdagangan Rusia di masa depan ke kawasan Asia Timur: dari Korea, Jepang, Tiongkok, bahkan negara-negara di Asia Tenggara. Salah satu keistimewaan lain dari pesisir laut Outer Manchuria adalah kawasan dimana pantainya tidak beku ketika musim dingin. Otomatis lokasi itu menjadi sangat strategis untuk dijadikan dermaga perdagangan oleh Bangsa Rusia yang sangat menginginkan akses perdagangan ke wilayah timur jauh.

Kekhawatiran ini semakin nyata ketika Nikolay Muravyov, seorang gubernur daerah Siberia yang melihat kapal-kapal perang, nelayan, dan penjelajah milik Inggris, Perancis, Amerika Serikat yang mulai bergentayangan di muara sungai Argun dan Sungai Amur. Sementara itu, daerah pesisir Outer Manchuria yang seharusnya dikuasai oleh Kekaisaran Qing ternyata kosong! Tidak ada penduduk, tidak ada tentara, tidak ada benteng, tidak ada pangkalan militer! Area itu hanyalah hutan belantara tempat berburu sebagian kecil kelompok masyarakat setempat. Betapa cemasnya Muravyov atas kondisi ini sampai dia mengatakan

“Siapapun yang menguasai muara sungai Amur akan menguasai Siberia sampai ke Danau Baikal!”

Dengan segera, Muravyov berupaya mengabarkan pihak Tiongkok, agar Kekaisaran Qing segera mempertegas bahwa orang-orang Eropa tidak boleh memiliki akses ke Sungai Amur, dan yang berhak mengakses sungai Amur hanyalah orang Rusia & Tiongkok sesuai dengan perjanjian Nerchinsk!

Namun, walaupun telah berkali-kali pihak Kerajaan Rusia mengirimkan surat ke pihak Kekaisaran Qing, tetap tidak ada jawaban. Rupa-rupanya, di saat yang sama, kekaisaran Qing sedang kerepotan menghadapi pemberontakan Taiping (1850-1871) di daerah Cina Selatan. Di tengah repotnya meredam pemberontakan, pihak Tiongkok tidak beranggapan bahwa area perbatasan Manchuria penting untuk diurusin. Ada prioritas lain yang lebih penting, dan hampir semua tentara Qing difokuskan untuk meredam pemberontakan.

Pemberontakan Taiping 1850-1871

Akhirnya, Muravyov mengambil inisiatif sendiri untuk mengirim tentara Rusia dan membuat benteng di daerah Outer Manchuria untuk menjaga dari potensi invasi Inggris dan Perancis. Bukan cuma daerah sungai Amur, Muravyov juga mengirim tentara untuk “menjaga” pulau Sakhalin yang berada di seberang! Alhasil, tentara Rusia secara tidak langsung menduduki daerah tersebut.

Kekhawatiran pihak Rusia terbukti saat di tahun 1854 dan 1855 armada Inggris dan Perancis menyerang pantai Manchuria luar, karena waktu itu keduanya berperang melawan Rusia dalam Perang Krimea (1853 – 1856). Khawatir kalah jumlah, Muravyov mengatakan kepada pihak Kekaisaran Qing bahwa Inggris dan Perancis memasok persenjataan kepada pemberontak Taiping. Sehingga akhirnya, pasukan Qing membantu tentara Rusia membentengi area Manchuria dengan memberikan mereka peta, makanan, kuda, pemandu, dll. Lamban laun, Muravyov bukan cuma menempatkan tentara Rusia di daerah tsb, tapi juga penduduk sipil Rusia untuk mulai bermukim di daerah tersebut.

Kekurangan uang, tenaga manusia, energi, dan perhatian, Kekaisaran Qing semakin tidak punya waktu untuk memperhatikan perbatasan daerah Sungai Amur ini. Keadaan makin runyam karena Kekaisaran Qing yang rasis ngotot untuk melarang orang Han (salah satu etnis di rumpun besar Bangsa Tionghoa) bermukim di daerah Manchuria Luar ini. Semata-mata hanya karena tanah ini dikenal sebagai kampung halaman orang Manchu. Akibatnya, selama bertahun-tahun berikutnya penduduk Rusia yang bermukim semakin banyak, membuka pertanian di lahan tersebut, bahkan memasok gandum bagi penduduk Rusia di Siberia. Kedudukan Rusia di Manchuria Luar menjadi semakin mantap.

 

Upaya Pencaplokan Wilayah dengan 2 Perjanjian

Ketika perang Krimea berakhir di tahun 1856, Inggris dan Perancis mengajak Rusia untuk bergabung dengan mereka untuk menekan Kekaisaran Qing dan mendirikan koloni perdagangan Eropa di wilayah Asia Timur. Seolah ini tawaran yang bagus, tapi ternyata Rusia menolak pendekatan militer dan kekerasan. Lho, kok begitu? Bukannya kalau Kekaisaran Qing didesak oleh 3 kekuatan besar Eropa, mereka ga punya pilihan lain selain menurut?

Nah, justru itu. Pihak Rusia tau bahwa mereka adalah satu-satunya pihak yang akan memegang kunci dari kedua pihak, bila upaya kolonialisasi dilakukan dengan jalan perundingan! Ingat, selama ratusan tahun Tiongkok selalu menutup diri dengan orang-orang Eropa. Hanya orang Rusialah yang berpengalaman berdagang dengan orang-orang Tiongkok selama ratusan tahun di lembah Kyakhta! Di sisi lain, Kekaisaran Qing juga tidak punya akses sama sekali ke orang-orang Eropa, selain melalui Kerajaan Rusia! Jadi otomatis Rusia adalah satu-satunya mediator kunci dalam upaya negosiasi dan perundingan dagang!

“Oh, lo mau negosiasi sama orang China? Melalui gue aja! Gue kan udah pengalaman dagang sama mereka ratusan tahun!” – Rusia kepada pihak Inggris dan Perancis

“Oh, lo mau negosiasi sama orang Eropa? Melalui gue aja! Rusia kan negara tetangga mereka di Eropa, kami udah sering menjalin hubungan bilateral.” – Rusia kepada pihak Tiongkok

Padahal, di balik semua ini, Rusia punya rencana tersembunyi, yaitu merebut seluruh Manchuria Luar tanpa menembakkan satu peluru pun.

Dalam upaya negosiasi, pemerintah Rusia mengirim seorang diplomat berpengalaman: Laks. Yevfimiy Vasilyevich Putyatin, yang bergabung dengan utusan Eropa ke kota pelabuhan Tianjin, dekat ibukota Peking. Namun demikian, Kekaisaran Qing memutuskan untuk melakukan perundingan terpisah, dengan harapan terjadi perpecahan antar orang-orang Eropa yang sebetulnya saling bersaing satu sama lain.

Maka terjadilah perundingan paralel. Di Peking, Kekaisaran Qing berunding dengan negara-negara Eropa. Di kota Aigun, Kekaisaran Qing berunding dengan Kerajaan Rusia. Di Peking, Putyatin yang mewakili orang-orang Eropa, sementara di Aigun, Muravyov yang menjadi perwakilan kekaisaran Rusia. Ujung-ujungnya kedua perjanjian dimediasi oleh orang Rusia juga deh! hehe…

Mediasi Muravyov di Perjanjian Aigun (1858)

Di Aigun, Muravyov dengan gamblang memberitahu utusan kekaisaran Qing bahwa Rusia menginginkan bagian utara sungai Amur dan Timur Sungai Ussuri, atau yang dikenal juga dengan Outer Manchuria. Dia juga menuntut agar semua orang Manchu meninggalkan daerah itu.

Mendengar permintaan ini, utusan Kekaisaran Qing memang tidak punya banyak pilihan. Di saat negaranya sedang kewalahan melawan pemberontakan Taiping, belum lagi kehilangan benteng Taku akibat serangan Inggris dan Perancis, masak sekarang mereka harus berperang melawan Rusia juga? Di sisi lain, Kaisar sendiri memandang daerah itu “hanya” hutan belantara sebagai lahan berburu. Sang Kaisar berpikir, lebih baik mengalah dulu, daripada pihak Rusia ikutan menyerang Tiongkok, bisa tamat riwayat mereka semua.

Maka, tanggal 16 Mei 1858, ditandatanganilah perjanjian Aigun yang memberikan Muravyov dan Rusia apa yang selama ini diinginkan. Kendati demikian, Kaisar maupun utusannya, merasa perjanjian ini tidak berarti memberikan wilayah, tapi cuma memberikan “hak berdagang” dan “hak berlayar” saja. Di sisi lain, Kaisar juga meminta pihak Rusia membantu Qing dalam perundingan dengan Inggris dan Perancis. Makin kuat aja posisi Rusia sebagai juru kunci!

Mediasi Putyatin – Perjanjian Tianjin (1858)

Di Tianjin dan Peking, baik Inggris, Perancis, maupun negara-negara Eropa lainnya nggak tahu menahu soal perjanjian Aigun maupun soal niat Rusia menganeksasi daerah Manchuria Luar. Padahal, seandainya negara-negara Eropa itu sadar, mereka tentu tidak akan membiarkan Rusia mendapatkan Manchuria luar semudah itu. Mereka bisa saja meminta (misalnya) hak untuk berlayar di Sungai Amur juga! Karena itulah Putyatin mati-matian merahasiakan hasil negosiasi Muravyov di Aigun dari negara-negara Eropa lainnya.

Dalam perundingan ini, Putyatin bersikap seolah-olah membantu pihak Kekaisaran Qing untuk melunakkan tuntutan-tuntutan negara-negara Eropa. Putyatin memberi pengertian, bahwa kekaisaran Qing sudah habis-habisan dengan kondisi sekarang, menutut ganti rugi yang berlebihan cuma akan menghancurkan kekaisaran Qing ini. Kalau kekaisaran Qing ambruk, akan terjadi kekacauan besar dan itu adalah kabar buruk bagi bisnis dan rencana perdagangan Eropa.

Alhasil, Putyatin berhasil mengurangi tuntutan Inggris dan Perancis. Misalnya, semula kedua negara meminta hak untuk berlayar di semua sungai wilayah Tiongkok, termasuk di Sungai Amur. (Tentu saja hal ini tak diinginkan Putyatin & pihak Rusia) Namun karena omongan Putyatin, negara-negara Eropa cuma meminta hak untuk berlayar di sungai terbesar Tiongkok, yakni Sungai Yangtze. Namun di sisi lain, Putyatin juga menjanjikan pasokan senjata bagi Kekaisaran Qing untuk membantu meredam pemberontakan Taiping.

Akhirnya Perjanjian Tianjin ditandatangani tanggal 25 Juni 1858, Rusia mendapatkan hak untuk berdagang di Tiongkok dan juga hak untuk berlayar di Sungai Yangtze, bersama dengan negara-negara Barat lainnya. Tapi selain itu, Rusia juga memegang kunci perjanjian Aigun, dimana artinya hanya Rusia saja yang memiliki akses ke Sungai Amur.

Serangan Militer Eropa

Pengikatan 2 perjanjian Aigun maupun Tianjin, diharapkan akan menjadi momentum stabilitas ekonomi dan perdamaian bagi pihak Kekaisaran Qing dengan negara-negara Eropa. Namun sayangnya, ternyata kondisi damai itu tidak berlangsung lama.

Baru berselang satu tahun, pada tahun 1859 Gubernur Muravyov mulai mengirim ribuan penduduk Rusia ke sungai Ussuri untuk bermukim di sana. Melihat kejadian itu, Kekaisaran Qing tidak terima karena mereka berpikir bahwa perjanjian Aigun hanyalah sebatas perizinan akses dagang dan berlayar saja, bukan izin untuk menguasai wilayah dengan membuat pemukiman penduduk! Ditambah lagi, kiriman senjata yang dijanjikan Putyatin tak kunjung datang.

Maka Kekaisaran Qing secara sepihak membatalkan perjanjian Aigun, serta menegaskan bahwa batas kedua negara didefiniskan oleh pernjanjian Nerchinsk. Meskipun demikian, pemerintahan Qing tidak mampu berbuat banyak karena secara praktis daerah tersebut sudah terlanjur dikuasai oleh penduduk dan tentara Rusia.

Di saat yg sama, pihak Inggris dan Perancis merasa kekaisaran Qing tidak menjalankan perjanjian Tianjin. Dalam arti, keleluasaan dagang serta akses terhadap sungai Yangtze tidak betul-betul diberlakukan. Bahkan pada bulan Juni 1859, satu tahun setelah perjanjian Tianjin, pasukan Qing dan serdadu Inggris kembali terlibat kontak senjata di benteng Taku.

Melihat ketegangan semua pihak semakin mengkhawatirkan, pihak Rusia kali ini mengirimkan Mayor Jendral Ignatyev untuk mewakili pemerintahan Rusia dalam membereskan “masalah” ini, tentu saja dalam perspektif yang paling menguntungkan Rusia. Dalam pendekatan kali ini, Ignatyev menyarankan kepada pihak negara-negara Eropa bahwa sudah tidak diperlukan lagi perundingan. Pemerintahan Qing terbukti tidak bisa memegang janji komitmen dalam perjanjian.

Maka dari itu, Ignatyev menyarankan mereka untuk menggunakan kekuatan militer secara penuh. Maka dikerahkanlah pasukan Inggris dan Perancis, menghancurkan pasukan kekaisaran Qing sampai akhirnya mengancam Ibukota Peking!

Ketika pasukan besar tersebut merebut istana Musim Panas Qing yang berada di luar Peking, pihak Inggris dan Perancis menyerahkan semua dokumen departemen luar negeri kekaisaran Qing kepada Ignatyev. Mereka bahkan tak membaca isi dokumen tersebut, cuma melihat ada cap.

“Ah, ini dokumen tentang Rusia. Bukan urusan kita, kasih ke Ignatyev deh!”

Kekaisaran Qing yg terdesak tidak punya pilihan selain menuruti semua kemauan Rusia di bawah mediasi Ignatyev. Tak seperti Putyatin yang masih meringankan tuntutan Inggris dan Perancis, Ignatyev hanya berusaha untuk mempertegas penguasaan dari apa yang Rusia sudah incar dari awal: daerah Manchuria Luar.

Hasilnya, ditandatangilah perjanjian Peking pada tanggal 24 dan 25 Oktober 1860, yang pada intinya menegaskan perjanjian Tianjin untuk memberikan hak kepada Inggris, Perancis, Rusia, dan AS untuk berlayar di sungai Yangtze serta berdagang di seluruh Tiongkok. Perjanjian ini juga memastikan wilayah Manchuria Luar seluas sekitar 600.000 km² (Kira-kira seluas Pulau Sumatera + Pulau Jawa) jatuh secara mutlak tanpa syarat ke tangan Kekaisaran Rusia.

Dengan demikian, Kekaisaran Rusia berhasil mendapatkan area pelabuhan super strategis yang tidak pernah beku sepanjang tahun sekaligus lahan pertanian yang sejak 200 tahun yang lalu mereka incar. Semua itu didapatkan tanpa ada kontak senjata sama sekali dari pihak Rusia. Melainkan hanya didasari oleh kemampuan diplomasi dan negosiasi. Gokil banget yak!

Buat lo yang penasaran, saat ini nama wilayah Outer Manchuria setelah dianeksasi oleh Rusia telah terpecah menjadi beberapa provinsi. Di antaranya adalah Provinsi Primorsky Krai dan Khabarovsk Krai dimana salah satu nama Kota Pelabuhan yang sangat terkenal adalah Vladivostok.

Hasil Akhir

Perjanjian Peking ini amat memberatkan Kekaisaran Qing secara ekonomi, dan menghancurkan gengsi kekaisaran di mata negara lain maupun di mata rakyatnya sendiri. Kini, seluruh dunia tahu betapa lemahnya Tiongkok pada awal abad 20.

Sebuah bangsa yang tadinya begitu bangga akan kebudayaan dan kemajuan peradabannya selama lebih dari 4000 tahun harus dipecundangi oleh orang-orang asing, hanya karena sikap anti-asing yang membuat mereka ketinggalan teknologi begitu jauh dari negara-negara lain. Seandainya saja Kekaisaran Qing menerima teknologi dan pertukaran ilmu pengetahuan dengan Inggris di tahun 1793, mungkin pada tahun 1860 mereka tak perlu dipermalukan sedemikian rupa.

Selain masalah sikap xenophobic, satu hal lain yang menjadi kesalahan dari Kekaisaran Qing adalah kurangnya perhatian terhadap tanah perbatasan. Dengan membiarkan kosongnya daerah di Utara dan Selatan Lembah Sungai Naga Hitam, Kekaisaran Qing membuka kesempatan untuk pencaplokan dari negara tetangga.

Jika boleh gua rangkum, ada tiga pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah nyata sejarah kali ini adalah:

  1. Jangan menjadi orang yang xenophobic atau terlalu tertutup dengan orang asing. Sikap tertutup hanya akan membuat kita terlena, tidak mau belajar hal baru, dan akhirnya membuat kita tertinggal dengan orang lain.
  2. Jadilah pihak yang memegang kunci utama seperti Rusia. Pemegang kunci selalu dibutuhkan oleh semua pihak. Barangsiapa menjadi pihak yang paling dibutuhkan, dialah yang akan pegang kendali.
  3. Perhatikan daerah perbatasan negara, karena mereka adalah gerbang terdepan sebuah negara. Pastikan penduduk perbatasan memiliki kesejahteraan jika tidak ingin mereka diambil oleh negara tetangga. 🙂

Semoga artikel ini bermanfaat, sampai jumpa di artikel berikutnya!

****

Sumber:

The Cambridge History of China volume 9, edited by Denis Twitchett & John K. Fairbank (Cambridge University press: New York, 1978)
The Cambridge History of China volume 10, edited by Denis Twitchett & John K. Fairbank (Cambridge University press: New York, 1978)
Bruce Lincoln: The Conquest of A Continent: Siberia and the Russians (Cornell University Press: Ithaca & London, 1994)
https://en.wikipedia.org/wiki/Macartney_Embassy diakses tanggal 14 Juli 2017.

 

CATATAN EDITOR

Jika ada di antara kamu yang ingin ngobrol atau diskusi dengan Kak Marcel tentang sejarah aneksisasi Manchuria Luar oleh Kekaisaran Rusia dari wilayah Tiongkok, atau mungkin ada yang ingin ditanyakan seputar topik umum sejarah dunia, jangan ragu untuk bertanya pada kolom komentar di bawah artikel ini yak.

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan membership zenius.net di sini.