Bahasa yang Berubah: Kemajuan atau Kemunduran?

Pada 88 tahun yang lalu, tepatnya 28 Oktober 1928, para pemuda-pemudi dari berbagai daerah di Nusantara berkumpul dan menyatukan semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Pada hari bersejarah itu, lahirlah sebuah ikrar yang kemudian kita kenal sebagai Sumpah Pemuda.

"Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia."

Itulah salah satu bunyi poin dari ikrar yang masih ditulis dengan ejaan tempoe doloe (ejaan van Ophuijsen).

Delapan puluh delapan tahun berselang, 71 tahun setelah Indonesia merdeka, kembali ke masa sekarang, sepasang pemuda-pemudi Indonesia sedang bercengkerama melalui sebuah medium komunikasi kekinian:

line-chat-alay-tahilalats

Kalau saja para tokoh Sumpah Pemuda bisa baca, mungkin mereka enggak bakal ngerti maksud percakapan di atas. Mereka bakal bingung dan heran, "Inikah bahasa persatuan Indonesia kini?"

Kata-kata seperti ciyus, miapah, leh uga, kzl bingit, enggak ada di perbendaharaan kata mereka zaman dahulu. Jangankan 80 tahun lalu, barangkali 3-5 tahun yang lalu saja, enggak terbayang oleh kita bahwa kata-kata tersebut akan eksis mewarnai percakapan kita sehari-hari sekarang.

"Wah kalo gitu, bahasa kita berubah jadi alay dong? Males deh sama orang yang acak-acak bahasa."

Eits, tunggu dulu. Kita enggak bisa langsung loncat ke kesimpulan bahwa bahasa kita mengalami kemunduran (kita asumsikan alay itu berkonotasi negatif ya). Untuk bisa menarik kesimpulan itu, kita harus sepakat dulu bahwa bahasa mengalami perubahan.

Ya, munculnya kata-kata baru seperti di atas adalah bukti gampang bahwa bahasa memang berubah. Cara kita bertutur dalam 'bahasa persatuan, bahasa Indonesia’ tidak langsung turun dari langit. Bahasa kita ini berevolusi dari ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Bahasa yang merupakan ragam bahasa Melayu ini mendapatkan banyak sekali pengaruh dari Sanskerta, Tamil, Persia, Hindi, Ibrani, Cina, Jepang, Arab, Belanda, Inggris, Portugis, Spanyol, Latin, Yunani, Italia, Jerman, Prancis, dan Rusia. Itu baru dari bahasa dari luar Nusantara lho. Belum lagi saling serap bahasa-bahasa daerah non-melayu seperti Jawa, Sunda, Madura, Batak, Bali, Dayak, Lampung, dan Palembang. Kalau jadi, sejumlah kata dari bahasa di Papua pun akan dimasukkan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi V (yang baru diluncurkan 28 Oktober kemarin oleh Badan Bahasa Kemendikbud). Kalian bisa baca lebih lanjut: Asal-usul Kata dalam Bahasa Indonesia.

Kalian juga bisa baca sekilas tulisan Kak Faisal tentang perkembangan bahasa melayu. Dari tulisan itu, kita bisa menemukan bentuk proto, seperti bahasa proto-austronesia (5000 SM), bahasa malayo-polynesian (2000 SM) bahasa melayu kuna (0-1400 M), bahasa melayu klasik (1400-1800 M), dan bahasa melayu modern (1800-sekarang). Coba cek contoh-contoh di bawah:

prasasti-kedukan-bukit-kecil
Ini merupakan transliterasi isi prasasti Kedukan Bukit (683 M)
soerat-kabar-kecil
Potongan koran dengan bahasa melayu klasik yang terpengaruh bahasa Belanda

 

"Wah parah nih bahasa Indonesia. Ga konsisten gitu. Lama-lama bahasa Indonesia bisa jadi hilang identitas."

Jangan salah! Perubahan bahasa enggak hanya terjadi pada Bahasa Indonesia saja. Hal ini juga terjadi di banyak bahasa. Sebagai contohnya, kita lihat di Bahasa Inggris aja deh, yang diambil dari karya sastra klasik:

“O Romeo, Romeo! wherefore art thou Romeo?” - Juliet

Kira-kira apa maksud dari pertanyaan Juliet di atas? Menggunakan wawasan berbahasa Inggris yang kita punya sekarang, sebagian besar mungkin mengira si Juliet sedang bertanya, "Romeo kamu lagi di mana?" Tapi salaah... Bukan itu artinya. Jika diterjemahkan ke bahasa Inggris zaman sekarang, maksud dari kalimat di atas adalah:

"Oh Romeo, Romeo! why are you Romeo?” - Juliet

Kelihatan jelas kan, bahasa Inggris pun mengalami perubahan.

Menurut Ferdinand de Saussure seperti dikutip oleh Aitchison, “Time changes all things: there is no reason why language should escape this universal law”. Semuanya saja berubah, kok. Kenapa bahasa enggak bisa berubah? Larry Trask dalam bukunya Why Do Languages Change?, mengumpamakan perubahan bahasa layaknya perubahan fesyen. Apa yang dianggap menarik dulu, belum tentu semenarik masa kini.     

language-change-banner-new

Nah, pada artikel ini, kami akan mengajak kalian untuk menelusuri dinamika perubahan bahasa dari zaman ke zaman. Apakah perubahan bahasa itu selalu berarti munculnya kata-kata slang yang alay? Apa saja sih bentuk-bentuk lain dari perubahan bahasa tersebut? Kenapa pula bahasa itu harus berubah? Emang enggak bisa ya kita terus menggunakan bahasa yang sama selamanya?

Setelah menelusuri itu semua, kami berharap di akhir artikel, kalian bisa menyimpukan sendiri apakah perubahan bahasa itu adalah sebuah bentuk kemunduran, kemajuan, atau sebuah kewajaran. Dengan begitu, kita bisa lebih bijak menyikapi perubahan bahasa yang ada. Bagi para pecinta sastra dan linguistik, kami sarankan untuk baca artikel ini sampai habis 🙂

 

Apa saja bentuk perubahan yang terjadi dalam suatu bahasa?

Untuk bisa menyimpulkan apakah perubahan bahasa itu bersifat negatif, positif, atau netral; kita perlu tahu dulu berbagai bentuknya. Perubahan bahasa itu tidak hanya melulu tentang munculnya kata slang baru yang alay lho. 

1. Perubahan bunyi

Perubahan bunyi saat melafalkan sebuah fonem pada kata merupakan hal yang dimaklumi dalam perubahan bahasa. Dalam linguistik, ini disebut netralisasi. Dalam bahasa Indonesia, kita bisa menemukan contoh-contoh:

Bunyi Pada Kata Menjadi Bunyi Dilafalkan Menjadi
/d/ ahad,

maulud

jasad

/t/ ahat

maulut

jasat

/g/ diagnosa

diafragma

/k/ diaknosa

diafrakma

/b/ klub

abnormal

kitab

/p/ klup

apnormal

kitap

/v/ aktivitas

televisi

universitas

vaksin

/f/ aktifitas

telefisi

unifersitas

 faksin

Sebenarnya fenomena ini wajar karena kata-kata tersebut merupakan kata pinjaman dari bahasa asing. Lidah kita yang melayu ini pun menyesuaikan secara alamiah saat melafalkannya.     

2. Perubahan kata

Perubahan kata di sini dapat diartikan sebagai tergantikannya sebuah kata yang digunakan untuk merujuk sebuah makna dengan kata lain yang dianggap berterima di masanya.

perubahan-kata

Masih atau pernah mendengar kata-kata seperti ajojing, suryakanta, ataupun brompit? Sebenarnya kata-kata ini masih eksis. Hanya saja penggunaannya tidak sepopuler dugem, luv atau kaca pembesar, dan sepeda motor.

Dalam konteks Islam, terdapat sejumlah penambahan variasi untuk pada kata insya Allah menjadi insha Allah ataupun in sha Allah, puasa menjadi shaum, frase ulang tahun menjadi milad, ataupun walimatul ursi atau walimatul urus sebagai variasi dari pesta pernikahan.

Tarik menarik atas penggunaan kata yang disepakati oleh sejumlah kelompok penutur sebuah bahasa sejatinya menjadi dinamika yang menarik. Pada era 1980-an lalu, ada dua linguis cendikia, (alm) Anton Moeliono dan (alm) Sutan Takdir Alisjahbana atau STA. Anton Moeliono lebih memilih memakai kata-kata kuno seperti adikuasa, sedangkan STA lebih memilih superpower. Anton lebih memilih memantau, sedangkan STA lebih memilih memonitor.

Badan Bahasa (Kemendikbud) pun tak ketinggalan dalam upaya pemopuleran mangkus dan sangkil sebagai padanan atas efektif dan efisien meskipun banyak yang menganggap ini tidak populer. Akan tetapi, Badan Bahasa berhasil memopulerkan penggunaan kata unduh, unggah, surel, laman, dan situs sebagai alternatif penggunaan kata download, upload, e-mail, webpage, dan website.

3. Perubahan ejaan

Perubahan ejaan jelas dapat kita amati pada perbedaan American English dan British English.

Ejaan British English Ejaan American English
centre center
litre liter
colour color
honour honor
analyse analyze
paralyse paralyze
licence license
travelling traveling

Perbedaan ejaan dalam American English dan British English terjadi karena belum berkembangnya standar pengejaan di zaman dulu. Baru di sekitar tahun 1755 terbitlah kamus A Dictionary of the English Language yang menjadi standar British English dan American English lebih menggunakan An American Dictionary of the English Language dari Noah Webster.

Dalam konteks bahasa Indonesia, urusan ejaan enggak langsung jadi kayak bahasa yang kita pakai sehari-hari. Waktu bahasa Melayu (asal bahasa Indonesia) disepakati oleh van Ophuijsen 1901 dulu, bahasa ini diboeat setjara soesah-soesah moedah dibatjanja. Sebelum ada ejaan Ophuijsen, bahasa Melayu punya ragam sendiri-sendiri. Belum lagi pakai aksara arab tapi itu kosakata-kosakata Melayu (arab melayu). Sejak merdeka, Indonesia mutusin untuk meninggalkan ejaan ini dan beralih ke ejaan Soewandi (ejaan Republik) yang hilangin “oe”. Jadilah kata-kata seperti moedjoer menjadi mudjur. Tetap ada “j” ditulis “dj”. Hehe. Perubahan ejaan yang enggak lepas dari peran politik bahasa ini bisa dibilang mantap pas peluncuran Ejaan yang Disempurnakan (EyD) pada 1972 lalu. Bagaimana bentuk EyD? Ya kurang lebih seperti ejaan yang kita pakai sekarang. Untuk lebih detailnya, elo bisa cek di tulisan ini: Edjaan Tempoe Doeloe hingga Ejaan yang Disempurnakan.

4. Perubahan makna

Perubahan makna menjadi isu yang menarik dalam perubahan bahasa. Kenapa? Misalnya begini. Kita bertutur ke orang tua tentang kata x bisa saja dimaknai dengan makna lain. Alasannya, kata x pada masa mereka berarti A, sedangkan di masa kita bisa berarti A ataupun B.

perubahan-makna-revised

Di abad ke-13 kata gay berarti lighthearted, joyous. Di abad ke-14, arti kata ini bertambah luas menjadi bright, showy, happy. Arti kata ini berubah lagi di sekitar tahun 1637. Arti baru kata gay di masa ini memiliki konotasi immorality. Gay woman berarti prostitute, gay man berarti womanizer, dan gay house berarti brothel. Baru di sekitar tahun 1935 kata gay digunakan sebagai slang yang berarti homoseksual.

Cuplikan film drama musikal legendaris, West Side Story (1961)
Cuplikan film drama musikal legendaris, West Side Story (1961)

Dalam tulisan pada buku Bahasa!, Goenawan Mohamad mempertanyakan makna tegar. Meskipun penyanyi Rossa telah memopulerkan lagu ini dengan makna tegar sebagai simbol keteguhan hati, ternyata bagi Goenawan Mohamad pemaknaan ini bentuk salah kaprah yang sulit untuk ditoleransi. Baginya, tegar padanan yang pas untuk terjemahan rigid. Tegar dalam KBBI IV (2008) daring (online) memberikan tiga makna kata tegar:  

1. (kata sifat) keras dan kering, dalam konteks tanah;
2. (kata sifat) keras kaku; tidak dapat dilenturkan;
3. (kiasan) tidak dapat diubah (pendiriannya, pendapatnya); tidak mau menurut;
4.  tabah.

Memang betul argumen beliau bahwa makna dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (W.J.S Poerwadarminta, 1985) hanya melampirkan makna keteguhan hati pada nomor tiga daftar makna KBBI IV daring. Namun, 23 tahun (1985-2008) terasa cukup untuk membuat sebuah kata berubah maknanya. Entah itu bertambah maknanya ataupun berubah menjadi makna lain.

Dalam perubahan makna, juga terdapat istilah penyempitan atau perluasan makna. Perubahan ini disepakati oleh penutur pada masanya. Misal, kata seronok. Seronok pada asalnya bermakna sedap dipandang atau menyenangkan hati. Namun, bagaimana dengan seronok pada potongan kalimat: “Sikap dan penampilan seksi tanpa harus mengumbar seronok bisa kok dilakukan… Ada konotasi negatif pada maknanya. Artinya, makna kata ini menyempit.

Contoh perluasan makna paling umum seperti sarjana (umum digunakan pada seseorang yang lulus pendidikan tinggi dengan strata satu) dan pendeta (umum digunakan pada pemuka agama Kristen Protestan). Padahal, kedua kata ini dulunya bermakna orang pandai, cendekiawan, ataupun orang yang paham ilmu pengetahuan.

5. Perubahan tata bahasa

Bunyi, kata, dan makna saja bisa berubah, masa tata bahasa begitu-begitu saja?

Imbuhan makin kompleks

Inovasi yang diperoleh atas pengaruh bahasa Inggris kita temukan dari semakin kompleksnya imbuhan. Sebagai contoh kata dengan imbuhan ke-..-an, seperti keanggotaan merupakan bentuk inovasi gramatika bahasa Indonesia atas rupa Eropa sebelumnya, membership (dengan kata dasar member). Ada lagi bentuk yang lebih kompleks, yaitu kata dasar yang dilekati tiga imbuhan (dua jenis awalan dan satu akhiran) pada ke-ter-...an pada keterbacaan. Keterbacaan merupakan bentuk serapan atas readability. Ini baru satu kata. Bagaimana dengan frase tidak akurat (inaccurate) yang mendapatkan imbuhan ke-...an? Kata tersebut tentu akan bersalin rupa menjadi ketidakakuratan (inaccuracy).

Mengapa hal ini terjadi? James Sneddon menjawab bahwa ini karena kebutuhan bahasa kita untuk memadankan kata-kata konsep. Hal ini penting untuk menunjang berkembangnya ilmu pengetahuan yang memang masih “diimpor” dari negara-negara maju.

Penggunaan klausa partisipial

Hal lain yang sangat akrab kita lihat dari judul-judul berita seperti:

"Putus cinta, seorang pemuda nekad meminum cairan racun nyamuk."

Bahasa laras jurnalistik ini terjadi karena kecenderungan jurnalis, novelis, ataupun penulis menggunakan klausa partisipial yang merupakan umum pada bahasa Inggris. Jika saja pengaruh itu absen, maka kalimat itu menjadi:

"Seorang pemuda nekad meminum cairan racun nyamuk karena putus cinta."

Bertambahnya fungsi preposisi

Berikutnya contoh yang pernah dibahas pada blog sebelumnya, yaitu peran preposisi yang juga umum digunakan dalam kalimat interogatif: di mana. Kalimat yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai kalimat tanya sekaligus preposisi bertambah fungsi menjadi konjungsi. Misalnya:

“Surabaya, di mana penduduknya bertambah terus …”

yang merupakan terjemahan dari

“Surabaya, where the population continues to grow…”.  

Selain itu ada pula contoh lain:

“Bu Karin, untuk siapa kue ini dibuat?”

yang merupakan terjemahan:

“Ms. Karin, for whom this cake was made?"

Penggunaan "tentang"

Pakar Austronesia yang juga seorang Jerman dan menguasai bahasa kita dengan baik sejak lima dekade lalu, Profesor Bernd Nothofer, merasakan perubahan, seperti berperannya partikel tentang pada kalimat:

"Saya ingin bercerita tentang pengalaman manis saya."

Baginya, dulu kalimat itu cukup ditulis tanpa tentang.   

Penggunaan "adalah"

James Sneddon juga menyebutkan saat ini penggunaan kopula adalah memungkinkan digunakan sebelum kata sifat. Misalnya:

"Setiap orang adalah penting."

Sementara, sebelumnya kopula ini biasa dipakai konteks definisi:

"Mobil adalah kendaraan roda empat yang memiliki mesin."

Kopula ini juga kini dapat menggantikan peran yaitu. Misalnya:

"Adapun buku yang saya beli adalah…"

Bagaimana penggunaannya pada: "Ayah Tomo adalah pegawai Bank Indonesia"? Apakah ini pengaruh to be dari struktur kalimat bahasa Inggris dari  "Tomo’s father is an employee of the Bank of Indonesia"?

 

Jadi hal-hal apa saja yang menyebabkan perubahan bahasa?

Ada beberapa pengelompokan perubahan menurut linguis, tapi pengelompokan menurut Janet Holmes boleh juga kita pakai seperti:

1. Status Sosial

Pada 1966, William Labov melakukan riset sosiolinguistik. Dia menguji pelafalan huruf /r/ di kata beard, bear, car, dan card di New York. Dia melakukan survei dengan mengunjungi tempat belanja kelas atas di Saks Fifth Avenue, kelas menengah di Macy’s, dan kelas bawah di S. Klein. Hasilnya adalah, pramuniaga di tempat belanja kelas atas lebih sering melafalkan /r/ di kata-kata tersebut daripada di kelas menengah dan kelas bawah. Pramuniaga di Saks Fifth Avenue yang lebih sering berkomunikasi dengan orang-orang kelas atas mencoba berbicara seperti kebanyakan pengunjung di tempat itu (dengan melafalkan /r/) dan pelafalan /r/ semakin jarang terdengar di S. Klein. Dari sini kita tahu bahwa pelafalan /r/ di akhir kata merupakan karakteristik penting yang menunjukkan stratifikasi kelas sosial di New York.

Status sosial merupakan salah satu faktor penyebab perubahan bahasa. Stratifikasi status sosial membuat seolah-olah ada bahasa yang high-class dan bergengsi. Laras bahasa yang dipakai oleh orang-orang berstatus sosial tinggi sering dianggap lebih keren. Anggapan ini membuat bahasa dianggap memiliki kelas atau tingkatan. Kita tentu mau dong terdengar lebih keren, gaul, atau lebih pintar? Maka kita pun mengadopsi kata-kata ini dan kita pakai deh dalam kehidupan sehari-hari.

Saat Nusantara masih berada di bawah pengaruh Belanda, masyarakat pribumi yang berpendidikan tak ketinggalan menunjukkan kepiawaiannya dalam berbahasa Belanda. Ini menjadi salah satu katalis mempercepat penyerapan bahasa ini ke dalam bahasa Indonesia.

Belanda berganti Inggris. Kini fenomena itu terjadi kembali. Saat ini pengaruh bahasa asing, terutama Inggris sangat kuat terhadap bahasa Indonesia. Masyarakat yang memang mendapatkan akses pendidikan yang baik, paparan media massa, kontak langsung dan tak langsung membuat penutur bahasa Indonesia sering menyelipkan bahasa Inggris ke dalam percakapan dan tuturannya. Remy Silado atau Yapi Tambayong menyebut gejala ini sebagai Inglish (Indonesia - English). Kamus dan media massa pun memfaslitasi penyerapan bahasa sehingga kosakata bahasa kita semakin berlimpah.

Tapi hati-hati ya kalo pengen terdengar lebih pintar/gaul dan pake kata2 yang kita enggak tau artinya. Salah-salah malah terdengar konyol deh jadinya. 😀

sok-pintar

 

2. Gender

Gender (dilafalkan dengan gender) di sini bukan perkara jenis kelamin tetapi rentang antara ekspresi maskulinitas dan feminitas yang dianut seseorang. Terkait dengan bahasa dan gender, ada sejumlah contoh yang diambil dari bahasa banci seperti berikut:

bahasa-banci-new

 

Meskipun berawal dari bahasa banci, kata-kata ini juga digunakan di luar gendernya. Bahkan ini sudah “dibakukan” menjadi Kamus Bahasa Gaul yang disusun oleh komedian Debby Sahertian pada 1999 lalu. Artinya, meskipun awalnya kata-kata yang dipakai oleh penutur bergender ini, tetapi karena kadung populer maka yang bergender selain banci pun tampak lumrah memakainya. 

Di dalam bahasa Inggris, kita mengenal kata-kata seperti actor dan actress, mister dan mistress, hero dan heroine, dan masih banyak lainnya. Dari kata tersebut, kita pun langsung mengetahui gender si subjek. Misalnya, ketika kita bilang heroine, kita tahu bahwa sang pahlawan adalah seorang wanita. Bahasa yang enggak netral-gender ini sebenernya sudah diperdebatkan sejak lama. Bahkan ada upaya untuk mengurangi penggunaan dan mengubah kata-kata bias-gender dengan kata yang lebih netral. Misalnya kata chairman cukup disebut chair atau chairperson, fireman menjadi firefighter, mailman menjadi mail carrier, dan banyak lainnya. Perubahan lainnya dapat kita lihat dengan munculnya kata Mx sebagai alternatif dari Mr./Mrs. dan Ms.

3. Interaksi

Perihal interaksi merupakan hal tidak dapat ditolak. Manusia seringkali bermigrasi untuk alasan apa pun itu, entah untuk studi, pekerjaan, perkawinan, dan lain-lain. Bahasa Indonesia merupakan bahasa gado-gado. Kosakata dan tata bahasanya merupakan hasil interaksi dengan bahasa-bahasa yang satu akar ataupun beda akarnya. Ada yang berpendapat bahwa kosataka bahasa Indonesia banyak diserap dari bahasa Inggris. Jawaban yang lebih benar yaitu dari bahasa Belanda yang notabene satu akar bahasa Indo-Eropa dengan bahasa Inggris. Sebut saja agenda, agustus, ban, deposito, efektif, fanatik, gelas, hologram, intuisi hingga yoghurt; kita serap dari bahasa Londo. Ya enggak heran karena mereka berada di Nusantara lama banget.

Sementara bahasa Inggris, mungkin pengaruhnya mulai terasa sejak Indonesia merdeka. Pemerintah kala itu mulai mengirimkan para sarjana ke Amerika Serikat dan Eropa dan upaya penerjemahaan buku-buku iptek yang berbahasa Inggris. Interaksi inilah membuat bahasa Indonesia semakin kaya.

Dalam konteks ekonomi tepatnya interaksi dagang, kontak bahasa yang satu dan bahasa lainnya merupakan suatu keniscayaan. Mengapa ada istilah diskon dan korting? Ini karena kita menyerapnya dari bahasa Inggris dan bahasa Belanda. Coba kita mundur ke belakang. Ternyata kata sewa sudah kita pinjam dari bahasa Sanskerta (sevā) dan toko dari bahasa Cina (thó·† khò·†). Menariknya, toko mengalami perubahan makna dalam bahasa Belanda. Joss Wibisono menjelaskan toko dalam bahasa Belanda bermakna kiasan, yaitu bukan tempat berjualan namun tanggung jawab. Joss mencontohkan pada "Ik heb mijn eigen toko" diartikan sebagai "Saya punya tanggung jawab sendiri" alih-alih "Saya mempunyai toko sendiri". Selain bermakna kiasan, menurut Munif Yusuf,  kata toko juga mengalami penyempitan makna dan berfokus pada tempat dijualnya makanan dan bumbu-bumbu khas Indonesia saja. Belum lagi kata pasar yang diserap dari bahasa Parsia (bāzār) dan kedai diserap dari bahasa Tamil (tatai). 

4. Teknologi

Larry Trask mengatakan bahwa bahasa berubah karena teknologi berubah. Perkembangan teknologi banyak menghasilkan produk-produk baru yang sebelumnya tidak kita miliki. Sebagai contohnya, kita tidak butuh dan tidak punya kata televisi hingga ditemukannya televisi. Kalau tidak ada kata/bahasa baru, kita akan kesulitan menyebut hal-hal baru.

Mungkin bagi kita yang tumbuh di era teknologi ini, kita sudah biasa dengan bluetooth, selfie, wifi, dan kata-kata lain terkait dengan teknologi. Namun bagaimana jika kita menggunakan kata-kata ini dan berbicara kepada kakek-nenek buyut kita yang belum mengenal teknologi ini? Kebayang dong absurdnya kata-kata ini bagi mereka.

Sebenarnya tidak perlu jauh-jauh. Saat ini, kata wartel (warung telekomunikasi) sudah semakin jarang ditemukan. Padahal wartel sangat populer di era 90-an dan paruh pertama 2000-an. Popularitasnya semakin berkurang drastis semenjak muncul penggantinya: ponsel atau telepon genggam. Lalu bagaimana dengan warnet (warung internet)?     

 

Apakah bahasa terus berkembang menjadi lebih baik atau malah menjadi hancur-lebur?

Nah, sampai di sini kita harap kalian udah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini:

Apakah bahasa mengalami perubahan?

Ya, dari masa ke masa, bahasa berubah untuk mengakomodasi kebutuhan penutur di masa tersebut.

Apakah perubahan bahasa sebatas pada munculnya kata slang baru yang alay?

Tidak. Kita sudah lihat kalau bentuk perubahan bahasa itu luas sekali, mulai dari munculnya bahasa gaul, bahasa banci, bahasa teknologi baru, perubahan makna, hingga perubahan tata bahasa.

Apakah Bahasa Indonesia kehilangan jati dirinya?

Tidak. Sejak Bahasa Melayu resmi dipilih menjadi bahasa nasional, bahasa ini memang sudah campuran berbagai bahasa.

Jadi, perubahan bahasa itu berarti kemajuan atau kemunduran?

Perdebatan mengenai apakah bahasa berubah menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk merupakan topik yang terus diperdebatkan sejak lama. Jika kita melihat perubahan bahasa dengan lebih dekat, kita tahu bahwa ini adalah hal yang lumrah, tak terelakkan, terus berlangsung, dan melibatkan faktor-faktor sosiolinguistik dan psikolinguistik yang saling terkait, yang tak mudah dipisahkan satu dengan yang lainnya. Larry Trask bahkan berseloroh bahwa satu-satunya bahasa yang tidak berubah ya bahasa yang sudah tidak ada penuturnya sama sekali semisal bahasa Latin ataupun Sanskerta.

Pada dasarnya, bahasa sebagai alat komunikasi ada karena kita membutuhkannya. Kata-kata baru akan terus muncul karena kita membutuhkannya, bertahan jika terus kita gunakan, dan kata-kata lama pun hilang dengan sendirinya ketika tak ada lagi orang yang menggunakan kata-kata tersebut.

Mengetahui hal ini, kita tidak perlu khawatir atau bersikap emosional dengan bahasa yang berubah (baca: kesal hingga naik pitam :D). Apa yang dianggap norak sekarang, bisa saja menjadi baku atau umum di masa mendatang. Sebaliknya, apa yang dianggap keren sekarang, bisa jadi nilainya biasa saja atau tidak berarti sekali di masa depan. Kita bisa melihat dinamika perubahan bahasa ini sebagai sesuatu yang asyik dan seru yang memperkaya kosakata dan perbendaharaan bahasa, selama kita juga bisa cermat menggunakannya pada konteks dan situasi yang sesuai. Memahami hal ini, kalian sebenarnya bisa juga lho menciptakan kata sendiri. Siapa tahu bisa jadi kata populer 😉

Pekamus/leksikografer (orang yang menyusun kamus; ya, jangan lupa, kamus itu buatan manusia :p) menyadari betul fenomena ini. Mereka pun bekerja untuk mengakomodasi kebutuhan penggunaan bahasa di tiap masa. Kata-kata slang (cakapan), seperti hangry (hunger dan angry), selfie, LOL dengan sejumlah pertimbangan sudah disertakan dalam sejumlah English dictionaries. Yep, kamus pun berubah dari masa ke masa.

Oke deh, sebagai penutup, kalian bisa tonton sebuah video TED Talk keren yang menceritakan bagaimana para pekamus memutuskan untuk menambah kata baru ke dalam kamus, yaitu dengan cara voting 🙂

Rujukan
Aitchison, J. (2012). Language Change: Progress or Decay? (4th ed.). Cambridge: Cambridge University Press.
Davenport, M., & Hannahs, S. J. (2010). Introducing Phonetics and Phonology (3rd ed.). London: Hodder Education.
Handayani, N. (1994). Netralisasi dalam Bahasa Indonesia. In L. P. Sihombing, M. R. Lauder, L. P. Kawira, & N. Handayani, Bahasawan Cendekia: Seuntai Karangan untuk Anton M. Moeliono (pp. 37-46). Jakarta: P.T Intermasa.
Holmes, J. (2013). An Introduction to Sociolinguistics (4th Edition ed.). New York: Routledge Taylor and Francis.
Kridalaksana, H. (2011). Kamus Linguistik (4th ed.). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mohamad, G. (2008). Bingung. In B. Bujono, & L. Chudori, Bahasa!: Kumpulan Tulisan Majalah Tempo (pp. 289-292). Jakarta: Pusat Data dan Analisa TEMPO.
Sneddon, J. N. (2003). The Indonesian language: its history and role in modern society. Sydney: University of NSW Press.
Sneddon, J. N. (2006). Colloquial Jakarta Indonesian. Canberra: Pacific.
Torchia, C., & Djuhari, L. (2011). Indonesian Slang. Singapore: Tuttle Publishing.
Trask, L. (2010). Why Do Languages Change? Cambridge: Cambridge University Press.
Wibisono, J. (2012). Saling Silang Indonesia-Eropa. Jakarta: Marjin Kiri.
Yusuf, M. (2014). Kata Serapan Indonesia dalam Bahasa Belanda: Tinjauan Kebudayaan dan Linguistik. Secercah Sinar di Bidang Leksikologi-Leksikografi (pp. 25-33). Depok: Laboratorium Leksikologi dan Leksikografi.

==========CATATAN EDITOR===========

Kalo ada di antara kamu yang mau ngobrol atau nanya-nanya sama Bertha dan Fajar tentang perubahan bahasa, langsung aja tinggal comment di bawah artikel ini.

Buat kalian yang suka mengikuti perkembangan bahasa atau linguistik, kita saranin untuk lanjut baca artikel Zenius Blog berikut:

Tertarik belajar dengan zenius.net? Kamu bisa pesan vouchernya di sini.

  • Alfinsa EP

    "Delapan puluh delapan tahun yang lalu, tepatnya 28 Oktober 1928, para pemuda-pemudi dari berbagai daerah di Nusantara berkumpul dan menyatukan semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Pada hari bersejarah tersebut, lahirlah sebuah ikrar yang kemudian kita kenal sebagai Sumpah Pemuda."

    Bang, kok pake "delapan puluh delapan"? Itu kan lebih dari dua kata. Eh tapi pake angka kan ga boleh karena di awal kalimat yah.___.

    • Bernadeta Lestari

      Wah iya, kami kurang teliti nih. Hehe. Thanks ya koreksinya 🙂

    • Fajar Erikha

      Makasih @alfinsa:disqus . Kami sdh merevisinya dgn menambahkan kata "pada" di awal kalimat.

      • Alfinsa EP

        Bang Fajar, delapan puluh delapan kan lebih dari dua kata tuh. Bukannya syarat penulisan angka dengan huruf itu maksimal dua kata? Kenapa ga ditulis jadi "Pada 88 tahun yang lalu....." bang? Maaf atas kebawelan dan kesotoyan saya ini, hehehe.

  • Mohammad Rifqi

    Tampilan blognya versi mobile pake UC sma Crhome ko kurang nyaman ya buat dibacanya? Gambarnya juga ngga bisa dimuat terus nih

    • Halo Rifqi, mungkin bisa tolong dibantu kasih screenshot tampilan mobile kamu? barusan saya coba pakai chrome dan UC browser tampilannya wajar dan gambarnya juga bisa dimuat.

      • Fajar Erikha

        Makasih sdh bantu jawab, kak Glenn

    • Mohammad Rifqi

      mungkin jaringannya kali ya ka, udah bener sih sekarang mah 🙂

  • Arta

    Aku pernah baca tentang baca artikel kumpulan mosi debat. Salah satunya itu menyinggung pemakaian bahasa slang. Apakah bahasa slang yang udah banyak beredar di kalangan remaja ini termasuk merusak tata cara/ kaidah berbahasa. ?
    Kalau di pendapat yang pro sama mosi, pasti sama seperti yang dibahas di awal artikel ini, mungkin awalnya kita bakal mikir kalau bahasa slang jelas merusak dan mengacak-acak Bahasa Indonesia.
    Sedangkan buat pendapat yang kontra, secara sempit bakalan mikir kalau bukannya merusak, kan itu cuma bahasa percakapan sehari-hari dan sekedar untuk seru-seruan sama teman sebaya. Sedangkan kalau dalam penulisan sesuatu yang lebih forml, kita tidak menggunakan bahasa slang itu.

    Aku coba buat mikir di posisi yang kontra, dan sebanyak apapun berfikir, alasannya cuma itu aja. ???Setelah baca artikel ini, dan aku sadar ternyata ada alasan yang lebih masuk akal lebih ilmiah, dan lebih logis daripada alasanku sendiri.?? Dan lagi, keberagaman dan perubahan bahasa itu bukannya mau mengacak-acak bahasa Indonesia, tapi ya.. memang semestinya begitu, bahasa bisa berkembang.

    Rasanya benar-benar diajak berfikir kritis??

    • Bernadeta Lestari

      Halo, Arta 🙂
      Iya, bahasa emang sesuatu yang dinamis, enggak stagnan. Bahasa masih dan akan terus berkembang selama kita terus pake/selama ada penuturnya. 🙂

      • Arta

        Halo,Kak ??. Bagaimana dengan kata-kata yang begini, Kak. Aku NaNti maU ke4 mu Yach... ( baca aku nanti mau ke tempatmu ya..)
        Mungkinkah itu bisa disebut kedinamisan bahasa? termasuk penggunaan huruf kapital yang tidak pada tempatnya dan angka-angka

        • Fajar Erikha

          Bantu jawab yah Bertha. Utk @disqus_e6M6rXOvMB:disqus , Jawabannya itu termasuk kedinamisan bahasa. Akan tetapi, kita pelu memperhatikan konteks: kalau cuma bahasa alay oleh kelompoknya saja, ya enggak masalah. Bgmn kalau dalam konteks upacara/pidato kenegaraan? Tentunya bahasa alay bukan pilihan yang tepat. Coba cek kalimat pada paragraf ketiga dari bawah: "....selama kita juga bisa cermat menggunakannya pada konteks dan situasi yang sesuai".

        • Bernadeta Lestari

          Iya dong. Bahasa 4L4y bisa banget disebut kedinamisan bahasa.

          Pencampuran angka di dalam suatu kata pun sebenernya bukan sesuatu yang baru dan gak cuma milik orang Indonesia loh. Di tahun 2002, lagu pertama Avril Lavigne aja berjudul Sk8er Boi (dan mungkin ini bukan yang pertama kali). Pro dan kontra pun tetep ada juga: https://cdn.meme.am/instances/59149649.jpg

          Walau gak membahas tentang alay, video ini cukup menarik untuk menambah wawasan kita tentang gimana linguist melihat bahasa gaul/yang sedang tren waktu itu (bahasa alay termasuk bahasa gaul): https://www.ted.com/talks/john_mcwhorter_txtng_is_killing_language_jk

    • Fajar Erikha

      Arta, makasih sdh baca dan mendalami hakikat artikel kami yah 😉 Sbg org yg bergelut dgn bahasa, aku cenderung pakai kata "mempengaruhi" alih2 "merusak/mengacak2". Betul sekali, bahasa cakapan itu sah2 saja asal digunakan pada tempatnya. Pada akhirnya, bahasa memang menjadi kesepakatan di antara penggunanya pada masanya, enggak peduli standar jumlah penggunanya.

      • Arta

        Bukankah merusak/mengacak2 itu juga termasuk memengaruhi, ke arah negatifnya.
        Dan jadi, anak-anak yang bahasanya dikategorikan alay itu gak bisa disebut salah juga ya,Kak? ?????

        • Fajar Erikha

          jawabannya sudah terjawab di jawaban atas yah 😉 @disqus_e6M6rXOvMB:disqus

        • Bernadeta Lestari

          Bukankah merusak/mengacak2 termasuk mempengaruhi ke arah negatif?
          Bahasa terus berubah. Apakah ke arah negatif atau ke arah positif? Enggak keduanya. Bahasa akan terus berubah ke arah yang sesuai dengan kebutuhan kita/penutur.

          Aku copas dari artikel di atas ya:
          Pada dasarnya, bahasa sebagai alat komunikasi ada karena kita membutuhkannya. Kata-kata baru akan terus muncul karena kita membutuhkannya, bertahan jika terus kita gunakan, dan kata-kata lama pun hilang dengan sendirinya ketika tak ada lagi orang yang menggunakan kata-kata tersebut.

          Dan jadi, anak-anak yang bahasanya dikategorikan alay itu gak bisa disebut salah? Ya, bisa jadi salah kalau gak sesuai konteks dan situasi. Yang tidak salah adalah fenomenanya (fenomena alay), bukan pemakaiannya yang gak sesuai konteks dan situasi.

          Semoga cukup menjelaskan dan menjawab pertanyaan kamu ya. 🙂

          • Arta

            Okesip... paham, Kak. Arigatou. Terimakasih 🙂

  • Astri Liya

    kak ? kenapa kumpulan soal di sini enggak diprivat ? jadi yang bukan member bisa download juga.

    • hal itu memang telah menjadi kebijakan zenius sejak dulu, soal-soal dari zenius memang bisa didownload oleh siapapun secara gratis. namun bagi mereka yang ingin mengetahui pembahasan materi untuk setiap soalnya, perlu menjadi member berbayar. 🙂

      • Astri Liya

        ada udang di balik batu gitu ya ?

  • alvin

    Menurut sy kata "mangkus" itu adalah serapan dari bahasa arab منقوص, yang berarti sesuatu yg dikurangkan atau dibuat seminimal mungkin (efisien). Apa benar begitu ya?

    • Fajar Erikha

      Halo @disqus_JsukfmP9GW:disqus
      Makasih udh berkomentar. Mangkus itu artinya efektif, mujarab, manjur. Konteks kalimatnya kurang lebih kyk begini: Obatnya mangkus membuat sakit kepalaku hilang. Jadi mgkn berseberangan dengan makna mangkus yg km paparkan di atas. Mangkus ini populer di bahasa Minangkabau (dibaca: mangkuih)

  • ariya

    Mantap soul

    • Fajar Erikha

      Trm kasih yah

  • April

    Bang, Teh, Mba, Mas, Kak sorry oot, request artikel boleh ya hehe... kenapa sih kok bahasa inggris yg dijadiin bahasa internasional.. Thankyou!

    • Bernadeta Lestari

      Halo April, kami tampung dulu ya permintaan artikel dari kamu. Terima kasih 🙂

      • April

        Ok kak! Terimakasih 🙂