Ini lho, Standar Kecantikan dari Waktu ke Waktu dan Bahayanya

standar_kecantikan_bahaya_zenius_education

Mengejar standar kecantikan rasanya nggak ada habisnya. Belum lagi, ada konsekuensi berbahaya yang menyelimutinya. Seperti apa?

Sobat Zenius, coba deh lihat foto-foto di bawah ini, pernah lihat di media sosial?

standar_kecantikan_instagram_zenius_education
Beberapa foto selebritas di dunia maya. (Dok. berbagai sumber)

Menurut elo, mereka memenuhi standar kecantikan nggak sih?

View Results

Loading ... Loading ...

Kalau dilihat dari media sosial, mereka memiliki jutaan pengikut dan penggemar yang memuja-muja kecantikan mereka dari atas hingga bawah.

Kalau menurut gue, mereka semua memenuhi standar kecantikan zaman sekarang. Padahal, perawakan mereka beda-beda banget ya?

Kenyataannya, standar kecantikan di dunia itu memang bervariasi banget, karena setiap orang punya pandangan subjektif tentang “cantik”.

Di artikel gue sebelumnya, gue sudah pernah membahas apa sih standar kecantikan itu secara umum dan gimana standar kecantikan berbeda di daerah yang berbeda.

BACA JUGA: Beauty Standard – Gimana sih Standar Kecantikan Indonesia dan Dunia?

Dari pembahasan artikel tersebut, jadi semakin jelas, bahwa selain beragam, standar kecantikan itu terus berubah dari dari waktu ke waktu.

Oleh karena itu, mengejar standar kecantikan nggak ada habisnya. Belum lagi, ada konsekuensi berbahaya yang membayangi prosesnya, lho.

Ini lho, Standar Kecantikan dari Waktu ke Waktu dan Bahayanya 9
Beauty is pain. (Dok.Tenor)

Nah, di artikel kali ini, gue akan bahas berbagai contoh standar kecantikan dari zaman dulu sampai sekarang, serta bahaya yang menyelimutinya.

Berhubung standar kecantikan meliputi banyak fitur tampilan fisik seseorang, artikel kali ini akan fokus ke tiga fitur tubuh manusia: wajah, tubuh, dan kulit.

Tubuh Gemuk dan Tubuh Langsing

Menurut elo, body cantik itu harus tinggi langsing semampai kayak Gigi Hadid, curvy berisi ala Kim Kardashian, atau mungkin sporty berotot kayak artis-artis Korea yang pada doyan banget pilates

Kalau kita balik ke era Yunani kuno sekitar abad 500-300 SM, wanita dianggap cantik kalau bertubuh gemuk berisi (Buzzfeed, 2015).

Bahkan, patung Dewi Afrodit (bahasa Inggris: Aphrodite) yang notabene merupakan dewi cinta dan kecantikan, memiliki tubuh yang berisi. 

Standar Kecantikan_Yunani_Kuno_Zenius_education
Berbagai patung Dewi Afrodit. (Dok. berbagai sumber)

Nggak cuma di era Yunani kuno, bangsawan pada era Renaisans pun, juga terlihat gemuk dan berisi pada banyak karya lukis, menandakan kegemukan identik dengan kecantikan yang bisa dinikmati oleh kelas atas.

Standar Kecantikan_Abad_Reneisans_Zenius_education
Berbagai lukisan wanita pada zaman Renaisans. (Dok. berbagai sumber)

Di sisi lain, para pekerja dan budak, cenderung memiliki badan yang kurus dan slim, bisa dibilang mirip dengan model-model yang ada di iklan pelangsing tubuh saat ini.

Apa sih yang sebenarnya terjadi?

Dari dulu, standar kecantikan sudah menjadi topik hangat di kalangan masyarakat. New York Times, pada tahun 1977, sudah pernah membahas bagaimana perubahan persepsi orang-orang terhadap badan gemuk dan kurus.

Zaman dulu, tubuh yang gemuk dan berisi justru identik dengan badan yang sehat, dengan asupan makanan yang cukup, nggak seperti para pekerja yang kesulitan buat makan banyak dan enak.

Para bangsawan dan orang yang berada cenderung memiliki tubuh montok, yang dikaitkan dengan kesuburan yang baik untuk beranak.

Di zaman sekarang, tubuh montok berisi juga dianggap cantik di beberapa daerah, contohnya seperti di Mauritania, yang terletak di sekitar utara Afrika.

Standar Kecantikan_Mauritania_Zenius_education
Wanita Mauritania. (Dok. Dreamstime via Inuth 2019)

Di sana, ada perkataan bahwa kejayaan seorang pria, diukur dari kegendutan wanitanya. Apalagi, di sana memang tergolong daerah miskin, sehingga nggak mudah untuk dapat makanan.

Berhubung kegendutan dianggap cantik dan sehat, nggak kaget kalau wanita di Mauritania berusaha untuk menjadi gemuk hingga obesitas. Bahkan, wanita di sana terkadang dipaksa makan (ABC, 2009).

Tentunya, seiring dengan perkembangan pengetahuan di bidang medis, manusia jadi lebih sadar soal bahaya obesitas bagi kesehatan. 

Oleh karena itu, pemerintah Mauritania berusaha untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di sana. Walau tradisi lama tentu nggak mudah langsung hilang begitu saja, kesadaran masyarakat di sana soal kesehatan mulai tumbuh (Inuth, 2019).

Tubuh montok dengan bentuk jam pasir yang dimiliki Marilyn Monroe dan Kim Kardashian, dianggap standar kecantikan di berbagai daerah dari waktu ke waktu. 

Contohnya, pada zaman era Victoria, para wanita berusaha punya pinggang sekecil mungkin, dengan memakai korset yang sangat ketat. Di zaman sekarang, masyarakat Amerika latin memandang wanita dengan figur mirip jam pasir juga dipandang cantik dan subur. 

Bahayanya, terkadang seseorang rela memperbesar dada dan paha menggunakan metode medis estetika, yang berisiko, entah bisa gagal, infeksi, atau berlebihan.

standar_kecantikan_prosedur_medis_zenius_education
Ilustrasi prosedur kecantikan. (Arsip Zenius)

Selain tubuh gemuk dan montok, tubuh kurus dan slim juga seringkali menjadi standar kecantikan, terutama di zaman modern.

Sekarang, makanan terutama yang cepat saji (fast food) tersedia di mana-mana dengan harga yang terjangkau, membuat akses makanan lebih mudah dan meningkatkan tingkat obesitas yang nggak baik untuk kesehatan.

Oleh karena itu, kegemukan seringkali dikaitkan dengan ketergantungan terhadap makanan yang nggak sehat. Sedangkan, tubuh yang kurus langsing dikaitkan dengan kontrol yang baik terhadap makanan dan olahraga.

Sayangnya, standar kecantikan di mana tubuh haruslah kurus dan langsing terkadang membuat wanita mengambil tindakan di luar batas.

Contohnya, seperti memuntahkan kembali makanan, hampir nggak makan, hingga menderita penyakit yang berhubungan dengan ketakutan makan seperti anoreksia dan bulimia, dan kekurangan gizi alias malnutrisi.

Pada tahun 2013, sempat viral, di mana berbagai media seperti Times, Dailymail, dan lain sebagainya, digemparkan dengan berita bahwa ada model-model yang benar-benar tertekan untuk tetap kurus, hingga hanya makan tisu dan membiarkan diri kelaparan. Sedih ya, dengarnya?

standar_kecantikan_model_kurus_zenius_education
Foto berbagai model. (Dok. berbagai sumber)

Kulit Tan dan Kulit Putih

Dari dulu, pada zaman Yunani Kuno sekalipun, kulit berwarna putih pucat dianggap sebagai standar kecantikan. Begitu juga pada zaman Renaisans dan zaman kerajaan.

Itu semua karena, kulit yang lebih gelap identik dengan pekerja dan budak yang bekerja di bawah matahari. Baik mereka seharian bekerja di ladang, peternakan, pabrik, dan lain-lain.

Kulit putih juga didambakan oleh mayoritas orang Asia. Bisa dilihat dari maraknya penjualan krim dan sabun pemutih kulit. 

Apalagi, dengan adanya hallyu wave dari Korea, para selebritas di sana rata-rata membawa standar kecantikan kulit putih bersih cemerlang tanpa noda.

Berbicara dari pengalaman pribadi, dari dulu ibu gue juga suka wanti-wanti untuk melindungi kulit dari sinar matahari. Memang sih, cahaya matahari bisa berbahaya dan menimbulkan kanker kulit setelah sekian lama.

Kalau sekadar mencegah sih oke saja ya, Sobat Zenius. Namun, perlu diingat bahwa kita tetap membutuhkan paparan sinar matahari.

Yang berbahaya itu, kalau menggunakan krim, masker, dan sabun pemutih yang nggak jelas asal usulnya. Bisa-bisa, produk-produk tersebut mengandung bahan berbahaya seperti merkuri, yang bisa menyebabkan kanker kulit.

Di belahan dunia barat, beberapa daerah sudah nggak memuja kulit putih pucat. Justru, mereka malah terobsesi dengan kulit tan, kulit yang berwarna kecokelatan akibat paparan sinar matahari.

Menurut mereka, orang dengan kulit tan terlihat lebih menarik. Apalagi, seseorang dengan kulit tan dipandang cenderung aktif berkegiatan di luar dan sehat.

Makanya, kalau orang asia banyak yang berlindung di bawah payung dan pohon, orang barat justru asyik-asyik berjemur di bawah matahari.

Di Inggris, para wanita bisa dibilang suka banget melakukan tanning. Mereka menggunakan tanning spray (semprotan tanning) dan tanning bed (semacam alat tanning kulit) yang tersedia di mana-mana.

Bahkan, seperti yang dilansir dari Times of India (2021), sebanyak 59% wanita menggunakan self-tanner (menggelapkan kulit sendiri) setidaknya lima kali sebulan. Wow, berarti tanning sudah seperti ritual rutin ya bagi mereka.

Perlu diketahui, bahwa menurut US Food & Drug Administration (2019), melakukan proses tanning dan terpapar sinar UV memiliki risiko kanker kulit, penuaan kulit dini, serta kerusakan pada mata.

Melihat berbagai konsekuensi yang berbahaya di atas, sebaiknya kita lebih bijak ketika melakukan sesuatu terhadap kulit kita ya.

Mata Besar, Hidung Mancung, dan Fitur Wajah Lainnya

Kalau ngomongin fitur wajah, apa saja sih yang biasanya dijadikan standar kecantikan?

Beberapa fitur wajah yang sering dibicarakan ketika membahas kecantikan adalah bentuk hidung, bentuk wajah, bentuk bibir, bentuk mata, dan lain sebagainya.

Entah hidung mancung, wajah tirus berbentuk V, bibir tebal ala Kylie Jenner, atau mata belo Lisa Blackpink, semuanya bisa jadi standar kecantikan.

Sebenarnya, lagi-lagi standar kecantikan itu ruwet banget, karena terus berubah dan berkembang. Ketika Kylie Jenner memutuskan untuk memperbesar bibirnya dengan filler, berbagai orang ramai-ramai melakukan hal yang sama dan menganggap bibir tebal seksi dan cantik.

Di sisi lain, ada standar kecantikan lain bagi orang lain, seperti bibir berbentuk hati di Korea dan bibir berbentuk tanduk banteng di Thailand.

Standar Kecantikan_bibir_Zenius_education
Berbagai bentuk bibir. (Dok. berbagai sumber)

Kalau kita tambah pembahasan soal fitur wajah lainnya, seperti tulang pipi, lesung pipi, lipatan mata, dan lain sebagainya, susah banget kelarnya. Soalnya, standar kecantikan wajah, benar-benar bervariasi dan kadang seperti fashion, yang ada waktunya menjadi sebuah trend.

Yang jelas, manusia nggak segan-segan untuk melakukan berbagai prosedur kecantikan untuk mendapatkan standar kecantikan wajah yang mereka inginkan. Dari filler, tanam benang, sampai operasi plastik, semuanya penuh dengan risiko.

prosedur_kecantikan_oplas_zenius_education
Contoh hasil prosedur kecantikan yang nggak sesuai harapan. (Dok. berbagai sumber)

Prosedur kecantikan bisa gagal dan menyebabkan infeksi. Parahnya, kegagalan prosedur kecantikan nggak mudah diperbaiki, atau bahkan nggak bisa diperbaiki (Mexico Cosmetic Center, 2021).

Kesimpulan Akhir

Sobat Zenius, itulah beberapa contoh perubahan standar kecantikan, serta konsekuensi berbahaya yang bisa terjadi.

Pada hakikatnya, perubahan standar kecantikan akan terus ada dari waktu ke waktu, dan setiap orang punya standar masing-masing.

Nggak ada yang salah dengan mempercantik diri sesuai dengan keinginan. Namun, usahakan elo nggak mengambil risiko konsekuensi berbahaya demi memenuhi standar kecantikan tertentu.

Toh, cantik itu subjektif, dan kita semua sebenarnya cantik dengan keunikan masing-masing. Sampai di sini dulu artikel kali ini. Kalau elo ada pertanyaan, saran, atau komentar, langsung aja komen di kolom komentar. Ciao!

Beauty Standard – Gimana sih Standar Kecantikan Indonesia dan Dunia? – Zenius (2022)

Does My Bum Look Big in This? The Female Body in Art – DailyArt Magazine (2021)

How supermodels stay ‘Paris thin’ by eating TISSUES: Sacked Vogue editor exposes brutal truths of fashion world in tell-all book – Daily Mail (2013)

Mauritania Tries to Reverse Obesity Tradition – ABC News (2009)

Models eat tissue paper to stay skinny – The Sunday Times (2013)

The Risks of Tanning – FDA (2019)

This African country thinks ‘fat is beautiful’ and the reason will freak you out – Inuth (2017)

TOP 10 FAILED CELEBRITY PLASTIC SURGERIES – Mexico Cosmetic Center (2021)

Women’s Ideal Body Types Throughout History – Buzzfeed (2015)

Women’s most absurd beauty standards around the world – Times of India (2021)

WHEN FAT WAS IN FASHION – The New York Times (1977)

Where Does the Asian Obsession With White Skin Come From? – The Diplomat (2019)

Bagikan Artikel Ini!