Penyebab Sino Soviet Split dan Perselisihannya

sino soviet split

Hai guys!

Selama di sekolah, elo pasti punya setidaknya satu temen deket. Nah, pernah nggak sih elo kepikiran suatu hari elo dan si temen deket itu jadi nggak akur lagi? 

Gue sendiri pernah nih lihat gimana dua temen gue yang dulunya sahabat karib, tiba-tiba jadi diem-dieman. Padahal tiap hari jajan, main, bahkan berangkat sekolah barengan sampai dikira kembar.

Lah, terus kenapa tuh hubungan yang kelihatannya friendship goals alias akrab banget ini tiba-tiba jadi dingin? Pastinya ada sebab tersendiri yang cuma mereka rasakan dong, hehe.

Nah, ternyata, konflik semacam ini juga terjadi di ranah internasional lho! Salah satunya yakni Sino Soviet Split. Wah, apa tuh?

Jadi, Sino Soviet Split itu merupakan perpecahan hubungan baik antara Uni Soviet sama Cina atau PRC (People’s Republic of China) atau yang biasa kita sebut RRC. Padahal nih, mereka tuh sama-sama negara komunis dengan tujuan yang sama, yakni menghapuskan sistem kelas. 

Agak ironis ya? Padahal negaranya dekat, satu ideologi, dan satu tujuan pula. Ibaratnya udah satu frekuensi banget kan tuh? Eh, kenapa malah berantem? Biar elo nggak makin penasaran, yuk simak penjelasan gue di bawah ini!

Apa itu Sino Soviet Split dan Gimana Awal Mulanya?

Seperti yang udah gue singgung di atas, Sino Soviet merupakan kejadian di mana hubungan baik antara dua kekuatan komunis besar yakni Sino (yang kalo diterjemahin pake Oxford Languages Dictionary tuh merujuk ke Cina) dengan Uni Soviet, mulai runtuh.

Bahkan ketegangan itu memicu beberapa konflik di berbagai wilayah. Kondisi ini berlangsung sejak meninggalnya Stalin, pemimpin Uni Soviet di tahun 1953, dan semakin memanas di tahun 1956.

Sebenernya, apa sih yang bikin dua sohib ini tiba-tiba berantem? Apa karena rebutan sesuatu? Secara garis besar, sebenarnya Sino Soviet Split ini muncul karena ada perbedaan penafsiran soal bagaimana komunisme itu diterapkan.

Dulunya nih, karena Uni Soviet dan PRC ini lokasinya nggak jauh-jauh amat dan keduanya menganut ideologi komunisme, mereka jadi dua negara yang akrab. 

Terlebih waktu Joseph Stalin, kepala negara Uni Soviet yang memimpin di tahun 1922, membantu Mao Zedong yang memimpin faksi komunis untuk memenangkan perang saudara melawan kaum nasionalis Tiongkok yang dipimpin sama Chiang Kai Shek.

Jadi, Stalin tuh kasih izin ke Mao Zedong buat mengambil sisa-sisa persenjataan Jepang di Manchuria. Area ini merupakan wilayah bekas pendudukan Jepang di sebelah timur laut Tiongkok yang berbatasan sama Korea Utara dan Rusia.

Berkat pasokan senjata itulah Mao Zedong berhasil menang lawan kaum nasionalis. Akhirnya, pada 1 Oktober 1949 beliau mendirikan negara komunis namanya People’s Republic of China (PRC) atau biar lebih familiar gue sebut Cina aja ya!

Sementara itu, biarpun udah kalah, Chiang Kai Sek bersama kaum nasionalis pindah ke Pulau Taiwan buat mendirikan pemerintahan baru. Jadi, Taiwan sama Cina itu beda ya, guys. Elo bisa membuktikan dengan melihat bendera keduanya, beda kan?

Nah, kedekatan antara Cina sama Uni Soviet ini juga ditunjukkan dari tindakan Mao Zedong yang mengirim pasukannya buat bantu Uni Soviet jagain wilayah perbatasan selama Perang Korea berkobar.

Tapi, akurnya hubungan dua negara komunis ini mulai retak pada tahun 1953 ketika Stalin meninggal dunia dan digantikan sama Nikita Khrushchev. 

Ternyata, pemimpin Uni Soviet yang baru ini nggak terlalu disukai sama Mao Zedong. Alasannya sih karena Khruschev punya pandangan berbeda terkait gimana seharusnya suatu pemerintahan komunisme itu dijalankan. 

Wah, kok bisa Mao Zedong berpikir kek gitu? Yuk simak section selanjutnya!

Baca Juga: Konsep Perang Dingin atau Cold War – Materi Sejarah Kelas 12

Faktor Pendorong Sino Soviet Split

Nah, di sini gue mau menjabarkan lebih lanjut soal alasan hubungan Cina Soviet merenggang. Ternyata, nggak sesimpel karena Mao Zedong nggak suka sama cara memerintah Khrushchev, tapi ada beberapa faktor yang bakal elo tahu setelah nyimak penjelasan di bawah ini. Jadi, jangan di-skip, ya!

De-Stalinisasi

Meskipun Nikita Khrushchev ini pemimpin yang dulunya nunjukin kesetiaan ke Stalin, ternyata dia punya pandangan yang beda banget dari Stalin. Mungkin nih kalo diukur pake busur, perbedaannya bisa nyampe 180 derajat. 

Jadi, pada tahun 1956, Khruschev menyampaikan sebuah pidato yang disebut Secret Speech. Inti dari pidato tuh kecaman buat pemerintahan Stalin yang terkenal sewenang-wenang banget. 

Contoh kebijakan Stalin yang dipandang sewenang-wenang yakni Kolektivisasi Pangan, kebijakan ini memungkinkan Stalin menarik hasil pertanian dari wilayah Ukraina. Akibatnya, hal ini memicu kelaparan besar-besaran di tahun 1933.

Khrushchev memandang pemerintahan Stalin tuh menyimpang dari semangat ideologi komunisme. Seharusnya, komunisme ini dijalankan dengan memperjuangkan kesetaraan kelas buruh dengan borjuis atau para pemilik modal. Bukan malah jadi ajang praktik kediktatoran.

Selain itu, komunisme menurut pandangan Khrushchev itu menjadikan negara yang mengacu pada sistem sosial ekonomi, dimana barang dan modal yang ada di Uni Soviet bakal jadi kepemilikan bersama.

Nah, buat ngelurusin hal itu, akhirnya Khrushchev mencetuskan De-Stalinisasi, yakni perombakan pemerintahan dengan menghapuskan cara-cara kejam yang ditunjukkan sama diktator Stalin.

bagaimana sikap cina terhadap uni soviet dalam perang dingin
Ilustrasi penjelasan De-Stalinisasi (Dok: Arsip Zenius)

Di titik ini, Mao Zedong mulai nggak terima. Sebagai orang yang sangat menghormati Stalin, beliau menyatakan justru paham komunisme Khrushchev lah yang jauh menyimpang.

Program “Hidup Berdampingan Secara Damai”

Kebijakan Destalinisasi yang dibuat sama Khruschev ternyata nggak cuma berkaitan sama politik dalam negeri, 

Ternyata, Khruschev juga sedikit demi sedikit nggak kaku-kaku amat ke Amerika Serikat dan mengusung motto “Hidup Berdampingan Secara Damai.”

Buktinya, pada tahun 1962, harusnya Uni Soviet itu menyerang Amerika Serikat pakai nuklir waktu unjuk kekuatan rudal akibat Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet di Kuba atau biasa disebut Krisis Misil Kuba. 

Tapi sama Khrushchev rencana penyerangan itu justru dibatalkan. Mao Zedong geram karena Uni Soviet ngelepasin kesempatan emas buat ngalahin Amerika Serikat. Mengingat waktu itu Amerika dipandang sebagai musuh karena menentang komunisme.

Informasi trivial sino soviet split tentang hubungan AS, Uni Soviet, dan Cina
Ilustrasi penjelasan hubungan AS-Uni Soviet-Cina (Dok. Arsip Zenius)

Lompatan Jauh ke Depan

Nggak cuma Khrushchev nih yang bikin Cina kesel, tapi Mao Zedong sendiri juga punya program yang bikin Uni Soviet geram. Wah apa tuh? Ternyata, Mao ini bikin program namanya “Lompatan Jauh ke Depan” atau “Great Leap Forward” di tahun 1958.

Melalui program ini, Mao mendorong perekonomian rakyat lewat industri padat karya, yakni pekerjaan-pekerjaan yang mengutamakan tenaga manusia dibanding modal. Nah, program ini bertentangan sama program industrialisasi yang sudah diterapkan Uni Soviet di Cina sebelumnya, yang lebih memprioritaskan penggunaan mesin.

Selain itu, Cina juga pengen mengembangkan nuklir melalui bantuan Uni Soviet, tapi hal ini ditolak sama Khrushchev karena takut bakal mengancam kestabilan di wilayah mereka. Waduh, rumit, ya?

Ideologi Komunis Cina dan Uni Soviet Itu Beda

Setelah melalui banyak banget ketegangan sama Uni Soviet, Mao Zedong pun sadar kalau ideologi komunis Cina dan Uni Soviet itu beda. Itulah kenapa, makin ke sini kebijakannya Uni Soviet itu nggak cocok buat hubungan keduanya. 

Bedanya ada dimana tuh? Yuk simak perbandingan yang ada di gambar ini!

jelaskan perbedaan komunisme di cina dan komunisme di uni soviet
Ilustrasi perbandingan komunisme di Uni Soviet dan Cina (Dok. Arsip Zenius)

Baca Juga: Latar Belakang dan Tokoh Revolusi Cina – Materi Sejarah Kelas 11

Perselisihan dalam Sino Soviet Split

Ternyata, berantemnya dua negara komunis ini juga berimbas ke negara-negara lain, lho! Di bawah ini gue jelasin beberapa perselisihan yang paling terkenal.

  1. Border War

Seperti namanya, border itu kan artinya batas ya? Nah, border war ini jadi salah satu konflik yang muncul gara-gara Sino Soviet split yang munculnya di daerah-daerah perbatasan.

Salah satu border war yang paling terkenal ada di Xinjiang, area perbatasan Cina sama Uni Soviet yang sekarang kita kenal pakai sebutan Uighur pada tahun 1969.

Nah, di wilayah ini, ternyata nggak cuma dihuni orang-orang Cina, tapi ada juga nih masyarakat keturunan Turki.

Karena Turki jadi sekutu Uni Soviet, makanya, kesempatan ini dipakai Uni Soviet buat mempengaruhi masyarakat sana biar memerdekakan diri. Selain itu, mereka juga menempatkan beberapa pasukannya disitu. Makanya, Cina pun geram.

  1. Proxy War

Kalau elo berpikir Sino Soviet ini bentuknya perang tembak-tembakan meriam atau rudal, elo kurang tepat. Faktanya, justru baik Uni Soviet maupun Cina sama-sama diem. Justru yang saling berperang tuh negara-negara lain, tapi mereka disokong kekuatan sama Uni Soviet dan Cina. Inilah yang disebut Proxy War.

Perang di antara dua kekuatan besar yang melibatkan negara
Informasi Proxy War (Arsip Zenius)
  1. Ideological War

Seperti yang udah gue singgung di atas, komunisme Cina sama Uni Soviet itu beda, guys. Hal ini bikin mereka terlibat perang ideologi. Puncaknya yakni ketika terjadi Revolusi Hongaria di tahun 1956.

Revolusi ini merupakan perlawanan rakyat Hungaria yang bertujuan buat menentang komunisme Uni Soviet di negaranya karena dipandang bikin kacau politik sama perekonomian mereka.

Nah, disini Mao Zedong makin nyalahin Khrushchev karena nggak sekeras Stalin, sampai-sampai Hungaria berani memberontak.

Baca Juga:Apa sih yang Menyebabkan Perang Dunia di Abad 20?

Nah itu tadi penjabaran materi Sino Soviet split yang penting buat elo ketahui. Gimana, lumayan gampang buat diingat kan? Buat ngecek pemahaman elo, yuk coba kerjain contoh soal di bawah ini!

Contoh Soal Sino-Soviet Split

  1. Perselisihan Cina dan Uni Soviet disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut, kecuali…
  1. Perbedaan pandangan mengenai komunisme yang dianut
  2. Adanya program destalinisasi yang dicetuskan oleh Nikita Khrushchev
  3. Uni Soviet tidak membantu Mao Zedong saat perang saudara di Cina
  4. Uni Soviet tidak meluncurkan serangan nuklir ke Amerika Serikat saat Misil Kuba.
  5. Lahirnya Maoisme yang didasarkan pada ajaran Stalin.

Jawaban: C

Opsi C ini benar karena Uni Soviet membantu Mao Zedong ketika memimpin kelompok komunis buat ngelawan kaum nasionalis di bawah pimpinan Chiang Kai Shek. Caranya adalah dengan ngizinin Mao Zedong ambil sisa-sisa persenjataan Jepang sewaktu menduduki Manchuria. Jadi opsi C bukan penyebab Sino Soviet split.

Gimana hasilnya, udah bener belum? Biar makin jago, yuk coba jawab pertanyaan ini pakai bahasa elo sendiri. Jangan lupa dicatat di buku atau gadget ya biar nggak lupa!

2. Jelaskan perbedaan komunisme di Cina dan komunisme di Uni Soviet yang pada   akhirnya memicu Sino Soviet split!

Kalau elo belum nemuin jawabannya, scroll penjelasan di atas ya! Ada semua kok. Semangat!

Itu tadi semua hal yang bisa gue jelasin ke elo soal apa itu Sino Soviet Split plus semua konflik yang timbul. Nah, semua kekacauan ini baru berakhir di tahun 1991 ketika Uni Soviet runtuh, dan Cina muncul sebagai negara komunis yang adikuasa ngegantiin Uni Soviet.

Elo juga bisa akses materi ini dalam bentuk video dengan cara klik banner berikut:

materi sino soviet split

Gimana? Materi ini menarik banget kan? Elo juga bisa belajar materi sejarah dunia lainnya dengan cara download, instal, dan langganan paket belajar di Zenius. Selain tutornya seru-seru, elo juga bakal diajarin mulai dari konsep-konsepnya. Dijamin deh pasti materinya bakal nempel banget di otak. Yuk pakai Zenius sekarang!


Ditulis oleh: Ardalena Romantika dari Universitas Gajah Mada, bagian dari Kampus Merdeka 2022

Diperbaharui oleh:  Mizzart Al Fatih 

Editor: Achmad Haikal Kurniawan

Referensi:

20th-century international relations— Walter A. McDougall (2022)

Konflik Perebutan Kekuasaan Antara Kaum Nasionalis dan Komunis di Republik Tiongkok Tahun 1912-1949— Deni Adi Wijaya, et al. (2015)

The Sino-Soviet Border Conflict Deterrence, Escalation, and the Threat of Nuclear War in 1969— Michael S. Gerson (2010)

Bagikan Artikel Ini!