penemu vaksin polio jonas salk zenius

Siapa sih Penemu Vaksin Polio?

Tau gak siapa penemu vaksin polio pertama kali? Yap, ia adalah Jonas Salk. Bahkan, ia juga gak mematenkan vaksin temuannya tersebut. Hmm kenapa ya? Penasaran? Simak penjelasannya di bawah ini, yuk!

Pasti gak asing kan sama istilah polio? Polio atau poliomyelitis berasal dari bahasa Yunani “grey (abu-abu)” dan “marrow (sumsum)” yang mengacu pada sumsum tulang belakang adalah penyakit saraf yang bisa menyebabkan penderitanya mengalami kelemahan otot, sehingga mengakibatkan kelumpuhan permanen. Penyebab penyakit ini adalah virus polio yang termasuk dalam genus Enterovirus C dan famili Picornaviridae. Ya, walaupun bisa aja dialami oleh siapa pun tanpa ada batasan usia, tapi umumnya sebagian besar penderitanya adalah balita yang belum menjalani imunisasi polio.

gambar orang penderita virus polio zenius
Penyakit polio (dok. dinf.ne.jp)

Polio termasuk penyakit yang harus diwaspadai lho, karena sangat menular dan berpotensi fatal. Penularannya melalui kontak antar manusia, baik melalui hidung, mulut, dan kotoran yang terkontaminasi virus. Penyakit ini udah ada sejak zaman pra-sejarah. Buktinya ada pada lukisan dinding di kuil Mesir Kuno menggambarkan orang-orang dengan kaki layu dan berjalan menggunakan tongkat. Dulu, setelah Perang Dunia II, Amerika diserang poliovirus yang menyerang anak-anak, khususnya yang berusia di bawah 5 tahun. Hal itu membuat para orang tua khawatir dan gak membiarkan anak-anaknya untuk keluar rumah, karena takut tertular. Bahkan, fasilitas publik seperti bioskop, kolam renang, sekolah, dan gereja pun tutup akibat epidemi ini.

Salah satu hal yang menjadi sorotan dalam sejarah penyakit polio adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-32, Franklin Delano Roosevelt, yang terserang penyakit polio dan mengakibatkan kakinya lumpuh pada tahun 1921. Setelah menjalani terapi di rumah sakit yang terletak di New York, ia kembali sehat dan bisa melanjutkan aktivitas politiknya ーtapi, pada tahun 2003 muncul penelitian yang menemukan bahwa kelumpuhan kaki Franklin D Roosevelt bukan disebabkan polio, melainkan guillain-barre syndrome.

Kemudian, Presiden Roosevelt mendirikan yayasan untuk menemukan pencegahan dan merawat anak-anak yang terjangkit polio. Banyak orang yang mendukung yayasan tersebut dan ikut membantu untuk mengumpulkan donasi dengan door to door, pengiklanan, dll secara sukarela. Nah, dana yang masuk tersebut akan digunakan untuk membantu penelitian dokter Jonas Salk, yang selanjutnya disebut sebagai penemu vaksin polio pertama yang efektif dan aman.

Siapakah Jonas Salk?

Jonas Salk Edward penemu vaksin polio zenius
Jonas Salk Edward penemu vaksin polio (dok. flickr.com oleh Sanofi Pasteur)

Jonas Edward Salk adalah seorang ahli virologi dan peneliti medis asal Amerika yang telah berhasil menemukan dan mengembangkan vaksin polio pertama kali yang aman dan efektif. Salk lahir di New York pada 28 Oktober 1914 dan terlahir dari pasangan Daniel B SalkーDora Press yang termasuk imigran dan kurang mampu. Salk merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, kedua adik laki-lakinya bernama Herman Salk dan Lee Salk.

Kalau keluarga Salk kurang mampu, lalu bagaimana ia mendapatkan pendidikan kedokteran? Bukannya butuh biaya besar ya untuk menjadi seorang dokter?

Nah, ketika Salk berusia 13 tahun, ia masuk ke sekolah menengah umum untuk siswa berbakat secara intelektual, bernama Townsend Harris High School (THHS) di Queens, New York. Sekolah itu memang didirikan untuk putra-putri berbakat dari orang tua imigran yang kekurangan uang untuk menyekolahkan anak-anaknya. Yap, Salk adalah siswa yang berbakat, menurut teman kelasnya, Salk adalah seorang perfeksionis yang akan membaca apa pun yang ia bisa. Dengan kata lain, Salk termasuk siswa yang suka membaca ーwah, valid, biasanya penemu dan orang-orang hebat emang rajin banget baca buku sih.

Kalau lo baca buku berapa kali?

View Results

Loading ... Loading ...

Masa Muda Jonas Salk

Setelah lulus dari sekolah menengah di THHS, Salk melanjutkan pendidikannya di New York University College of Medicine. Dari situ lah Salk mendapatkan gelar MD (Doctor of Medicine) pada tahun 1939. Kemudian, ia magang di Rumah Sakit Mount Sinai selama 2 tahun dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Michigan.

Universitas Michigan zaman dulu zenius
Universitas Michigan zaman dulu (dok. picryl.com)

Di Universitas Michigan, ia bertemu dengan Thomas Francis, Jr., yang kemudian keduanya bekerja sama dalam satu kelompok pada 1942 di Fakultas Kesehatan Masyarakat untuk mengembangkan imunisasi terhadap influenza.

Lima tahun setelah pertemuannya dengan Francis di Universitas Michigan, tahun 1947, Jonas Salk mengambil posisi di Universitas Pittsburgh. Di sana Salk menjadi profesor bakteriologi dan sebagai Kepala Laboratorium Penelitian Virus di Fakultas Kedokteran. Nah, dari sini lah Salk memulai penelitiannya tentang polio.

Penemuan Vaksin Polio

Sekitar pertengahan abad ke-20, banyak sekali anak-anak yang terkena penyakit polio setiap tahunnya, bahkan mencapai ratusan ribu. Dulu, belum ada yang namanya vaksin polio. Hal itu membuat para orang tua merasa khawatir dan ketakutan, sehingga mereka mengurung anak-anaknya di rumah supaya tidak tertular penyakit mematikan ini. Epidemi ini membuat tempat-tempat umum seperti sekolah dan bioskop tutup. Ilmuwan juga masih melakukan identifikasi terkait penyebab penyakit tersebut. Termasuk Salk yang juga bekerja sama dengan ilmuwan lain untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan berbagai jenis virus polio.

Pada tahun 1951, Salk menetapkan bahwa ada tiga jenis virus polio. Ia juga menguatkan penelitian lain dalam mengidentifikasi ketiga jenis tersebut. Selain menetapkan ketiga jenis virus polio, Salk juga mengatakan bahwa ia mampu untuk mengembangkan vaksin polio. Vaksin tersebut dibuat dari virus polio yang telah ditumbuhkan di laboratorium dan kemudian dimatikan. Hal itu berarti vaksin polio berasal dari virus polio yang mati.

vaksin polio jonas salk zenius
Ilustrasi vaksinasi terhadap anak-anak dengan cara suntik (dok. Pixabay.com oleh 12019)

Nah, vaksin tersebut selanjutnya memasuki masa uji coba pada tahun 1952. Pengujian dilakukan pada dua subjek, yaitu anak-anak yang telah sembuh dari polio dan yang belum terkena polio. Kurang lebih ada 1,8 juta anak yang diberi vaksin selama masa pengujian. Untungnya, hasil uji tersebut berhasil, karena setelah pemberian vaksin, antibodi anak-anak meningkat. Selain itu, gak ada anak-anak yang tertular atau menderita polio dari virus mati yang dijadikan vaksin tersebut. Pengujian juga dilakukan terhadap keluarga Jonas Salk sendiri lho. Pada tahun 1953, ia memberikan vaksin untuk dirinya sendiri, istri, dan juga anaknya.

Upaya Jonas Salk dalam memberikan vaksinasi polio berhasil menurunkan tingkat penyebaran polio. Hal itu membuat National Foundation for Infantile Paralysis mendukung dan mempromosikan upayanya. Pada 12 April 1955, vaksin mulai disebar dan digunakan di Amerika Serikat. Pemberian vaksin di Amerika Serikat juga membuktikan keefektifan vaksin milik Jonas Salk, terbukti pada tahun-tahun berikutnya, insiden polio turun dari 18:100.000 (dari 100.000 orang, ada 18 kasus polio yang terjadi) menjadi 2:100.000. Penurunan yang signifikan, bukan?

Menariknya, penemuan terbesar Jonas Salk yang memberikan dampak positif bagi perkembangan dunia medis tidak mau mematenkan kepemilikan vaksinnya tersebut. Hal itu karena selama penelitian dan pengujian vaksin, ia dibantu oleh banyak pihak, seperti donasi dari masyarakat. Sehingga, ia menganggap vaksin tersebut milik umum dan tidak akan dipatenkan. Keren banget ya!

vaksin polio oral Albert Sabin zenius
Ilustrasi vaksinasi dengan cara oral (dok. Flickr.com oleh UNICEF Ethiopia)

Oh iya, vaksin yang pertama kali ditemukan dan diujikan oleh Jonas Salk itu dalam bentuk suntikan. Nah, pada tahun 1960-an, muncul jenis vaksin oral (OPV) atau vaksin sabin yang ditemukan oleh Albert Sabin, seorang dokter dan ahli mikrobiologi Amerika. Jadi, pengaplikasiannya bukan lewat suntikan, melainkan dimasukkan ke mulut. Berbeda dengan vaksin mati yang dibawakan oleh Salk, OPV menggunakan virus hidup yang dilemahkan.

Cara Kerja Vaksin Polio

Seperti yang udah gue singgung di awal, polio merupakan penyakit menular yang bisa berakibat fatal, yaitu bisa melumpuhkan penderitanya. Penyakit tersebut dihasilkan dari infeksi salah satu dari ketiga jenis virus polio (tipe P1, P2, dan P3). Virus bisa masuk ke tubuh manusia melalui kontak hidung, mulut, dan kotoran/feses yang terkontaminasi virus.

Setelah tubuh dimasuki virus polio dan reproduksi virus terbentuk di permukaan mukosa nasofaring, virus tersebut akan berkembang biak di sel-sel yang terdapat di usus. Kemudian, virus tersebut akan memasuki aliran darah untuk menyerang sistem saraf pusat. Nah, kalau si virus udah menyerang sistem saraf pusat, maka sel-sel saraf kita yang berperan dalam mengaktifkan otot rangka akan rusak dong? Yap, otot-otot yang terkena virus akan kehilangan fungsinya lagi, itu lah mengapa polio bisa menyebabkan kelumpuhan. Lebih parahnya, polio bisa menyebabkan kematian ketika virus tersebut menyerang neuron motorik batang otak. Hal itu akan menyebabkan sulitnya bernapas, menelan, dan berbicara.

Maka dari itu, sangat dibutuhkan vaksin untuk membantu proses penyembuhan dan penyebaran virus polio. Saat ini, pemberian vaksin polio diwajibkan untuk anak sebanyak 4 kali (saat bayi baru lahir, usia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan), dan vaksin booster sebanyak 1 kali saat usia 18 bulan. Nah, untuk cara kerjanya sendiri, sama seperti jenis vaksin lainnya, yaitu bekerja dengan memicu tubuh untuk membentuk antibodi yang berfungsi untuk melawan virus.

Kehidupan Akhir Jonas Salk

Penemuan vaksin oleh Jonas Salk sangat membantu banyak orang, khususnya bagi daerah yang saat itu terkena dampak besar penyakit polio. Berkat temuannya tersebut, Salk mendapatkan banyak penghargaan, seperti kutipan khusus pada upacara di Gedung Putih oleh Presiden Dwight D. Eisenhower dan Presidential Medal of Freedom yang diberikan tahun 1977.

Di tahun 1963, Salk meluncurkan organisasi penelitian miliknya yang disebut Salk Center for Biological Studied (Pusat Studi Biologi Salk) di San Diego. Ia dan ilmuwan lain fokus pada penyakit multiple sclerosis dan kanker. Di pusat tersebut, Salk menjabat sebagai direktur sampai tahun 1975. Tidak cukup sampai penemuan vaksin penyakit polio, Salk melakukan penelitian mengenai AIDS dan HIV. Namun, upaya untuk menemukan obat untuk kanker, AIDS, dan multiple sclerosis tidak berhasil. Eitsss, meskipun gak berhasil, Salk berhasil mematenkan vaksin penunda perkembangan HIV menjadi AIDS yang bernama remune lho ーsetelah kematiannya, penelitian lanjutan mengenai remune dihentikan karena tidak ada bukti bahwa remune berhasil dan efektif (tahun 2001 oleh perusahaan Pfizer).

Oh iya, selain melakukan penelitian, Salk juga menulis beberapa buku filosofis, antara lain Man Unfolding (1972) dan The Survival of the Wisest (1973) yang ditulis bersama putranya, Jonathan. Hingga akhirnya, sang pahlawan kemanusiaan, Jonas Salk, meninggal dunia akibat gagal jantung pada 23 Juni 1995 di kediamannya, La Jolla, California. Dengan berbagai upayanya, Jonas Salk telah mendapatkan tempat dalam sejarah medis dunia sebagai penemu vaksin polio.

Referensi

Britannica. 2021 (update). Jonas Salk: American Physician and Medical Researcher. Diakses melalui website https://www.britannica.com/biography/Jonas-Salk pada 24 Oktober 2021.

Biography. 2021 (update). Jonas Salk. Diakses melalui website https://www.biography.com/scientist/jonas-salk pada 24 Oktober 2021.

History. 2021 (update). Dr. Jonas Salk Announces Polio Vaccine. Diakses melalui website https://www.history.com/this-day-in-history/salk-announces-polio-vaccine pada 24 Oktober 2021.

WHO. Poliomyelitis. Diakses melalui website https://www.who.int/teams/health-product-policy-and-standards/standards-and-specifications/vaccines-quality/poliomyelitis pada 28 Oktober 2021.

Alodokter. 2021 (update). Vaksin Polio. Diakses melalui website https://www.alodokter.com/vaksin-polio pada 28 Oktober 2021.

Baca Juga Artikel Lainnya

Kenapa Suntik Vaksin Harus di Lengan, Bisakah di Bagian Tubuh Lain?

Apa itu Vaksin & Bagaimana Cara Kerjanya?

2 Alasan Vaksin COVID-19 Bisa Cepat Dibuat, Aman Gak Ya?

Bagikan artikel ini: