Fosil Lucy zenius

Penemuan Fosil Lucy, Pengubah Sejarah Evolusi Manusia (24 November 1974)

Apakah lo tahu penemuan terheboh pada tahun 1974, yaitu fosil Lucy? Yuk simak kisahnya, dan bagaimana temuan tersebut bisa mengubah sejarah evolusi manusia.

Lucy in the sky with diamonds…

Lucy in the sky with diamonds…

Lucy in the sky with diamonds…

Ah…

Lo pernah denger nggak, lagu yang liriknya kayak gitu?

Kalo lo pernah denger dan bahkan tahu apa judulnya, berarti lo emang expert sama lagu-lagu lawas luar negeri. Tapi, kalo lo belum pernah denger sama sekali, ya wajar aja sih…Soalnya itu lagu era 1960-1970’an.

Lirik di atas adalah penggalan lirik dari lagu “Lucy in the Sky with Diamonds” dari The Beatles. Mungkin bagi lo, lagu ini hanyalah lagu lawas milik band legendaris di dunia. Tapi, di samping itu, ada peristiwa legendaris di dunia yang terinspirasi dari lagu ini.

Peristiwa itu adalah penemuan bersejarah yang telah mengubah sejarah evolusi manusia, yaitu penemuan fosil Lucy.

Udah pernah denger belum tentang penemuan fosil Lucy?

View Results

Loading ... Loading ...

Oke, gue Citra, bakal menceritakan gimana awal mula penemuan fosil Lucy, dan dampaknya terhadap sejarah evolusi manusia. Simak baik-baik ya!

Awal Mula Penemuan Fosil Lucy

Di suatu pagi pada hari Minggu, 24 November 1974, Donald C. Johanson lagi ngopi di depan tenda perkemahan. Johanson adalah seorang paleoantropolog berusia 31 tahun asal Amerika Serikat. So, Johanson ini ilmuwan yang kerjaannya neliti fosil, nyari fosil ke sana kemari buat menyelidiki asal-usul manusia.

Jadi, pagi itu, Johanson lagi nongki santuy menikmati sunrise sambil minum kopi hitam khas Ethiopia. Yap, Johanson lagi ada di sebuah tempat bernama Hadar, di Ethiopia. Johanson lagi di sana dalam rangka memburu fosil. Tiga tahun belakangan, Johanson dan tim lagi gencar banget nyari fosil. Dan dari tempat ini lah, kehidupan Johanson seketika berubah…

Penemuan Fosil Lucy, Pengubah Sejarah Evolusi Manusia (24 November 1974) 65
Donald Johanson. (Foto: Julesasu via Wikimedia Commons)

Oke, balik lagi ke Johanson yang lagi asyik ngopi di depan tenda. Sambil ngopi, Johanson ngelihat Tom Gray yang kelihatannya lagi sibuk ngurusin sesuatu. Tom Gray ini adalah mahasiswa pascasarjana yang datang ke Hadar buat mempelajari fosil hewan dan tumbuhan di wilayah itu. Johanson jadi kepo sama Gray.

“Jadi, hari ini lo mau ngapain?” tanya Johanson.

Gue mau nandain lokasi di peta buat nyari fosil di Hadar,” kata Gray.

Setelah itu, Gray tanya lagi ke Johanson. “Lo bisa nunjukin ke gue nggak, di mana Afar Locality 162?”

For your information, Afar Locality 162 adalah lokasi penemuan tengkorak babi pada tahun sebelumnya. Karena Johanson udah tiga tahun belakangan melanglang buana di daerah situ, Gray pun minta tolong Johanson buat nemenin dia ke Afar Locality 162.

Awalnya, Johanson mager banget. Hari itu, dia udah ada beberapa agenda yang mau dilakuin. Tapi, entah kenapa, Johanson jadi ingin nemenin Gray buat nyari lokasi. Akhirnya, Johanson dan Gray cabut menuju Afar Locality 162.

Mereka berangkat naik Land Rover bersama para antropolog lainnya. Tapi, antropolog lain pada turun dulu di daerah sebelum Afar Locality 162 buat ngecek patahan geologis di sana. Akhirnya, yang pergi ke Afar Locality 162 cuma Johanson sama Gray.

Penemuan Fosil Lucy, Pengubah Sejarah Evolusi Manusia (24 November 1974) 66
Hadar, Ethiopia, tempat penemuan fosil Lucy. (Foto: sciencedirect.com)

Mereka menyusuri jurang dan lembah sungai Hadar. Jalannya semakin sempit. Johanson dan Gray mutusin buat berhenti dan turun dari mobil. Mereka berdua nyari piramida dari batu yang menjadi penanda lokasi ditemukannya tengkorak babi.

Sebenarnya, Johanson udah tahu kalau daerah itu dikenal sebagai wilayah miskin fosil. Tapi, kembali lagi ke instingnya, Johanson masih ingin berlama-lama di situ. Dia masih mager buat balik ke perkemahan. Johanson dan Gray pun berburu fosil selama dua jam di sana.

Siang pun tiba. Cuaca udah terik banget, bahkan suhunya sampai 110 derajat Fahrenheit, atau sekitar 43 derajat Celcius! Rasanya udah capek banget, kepanasan parah, tapi mereka cuma nemu fosil-fosil yang dianggap B aja, kayak fosil antelop, gigi kuda, tengkorak babi, dan pecahan rahang monyet.

Tom udah ngerasa cukup sama penyusurannya, begitu pula dengan Johanson. Mereka mutusin buat balik menuju Land Rover.

Sambil jalan, mata Johanson masih aja jelalatan, ngelihatin tanah melulu di lembah sungai. Johanson berharap, dia bisa nemuin sesuatu yang baru dibandingkan penemuan-penemuannya yang sebelumnya.

Hingga akhirnya…tatapan mata Johanson berhenti pada sesuatu yang tergeletak di tanah, yang nyaris nggak kelihatan kalau nggak dilihat secara saksama. Dia nemuin sepotong tulang yang kecil. Fosil tersebut berbentuk seperti kunci pas, berwarna abu-abu kecoklatan dengan panjang dua inci. Johanson langsung sadar kalau itu adalah bagian dari tulang siku.

Johanson langsung berlutut dan ngambil tulang tersebut buat diperiksa lebih dekat. Saat memeriksanya, Johanson otomatis terpikirkan dengan hominin.

“Apaan tuh hominin?”

So, hominin adalah kelompok yang dianggap sebagai nenek moyang manusia oleh ahli paleoantropologi. Yang tergolong ke dalam hominin adalah anggota genus Homo, Australopithecus, Paranthropus, dan Ardipithecus. Lo bisa belajar lebih lanjut tentang hominin di sini ya…

Sebenarnya, Johanson juga mikir, apa jangan-jangan fosil yang ditemuin adalah fosil monyet. Tapi, fosil yang dipegang itu nggak punya ciri siku monyet pada umumnya. Seketika itu juga, Johanson yakin banget kalau itu adalah ujung siku dari ulna hominin, yang lebih besar dari dua tulang di lengan bawah.

Johanson auto on fire dong…Dia langsung nyari-nyari lagi di tanah sekitarnya. Setelahnya, Johanson serasa kayak ketiban duren. Tapi, ini mah nggak ketiban duren, tapi ketiban fosil. Dia langsung nemuin banyak pecahan tulang lain dengan warna yang sama. Ada tulang paha, pecahan tulang rusuk, ruas tulang punggung, dan yang paling penting adalah….sebuah kubah tengkorak.

Johanson syok, cuma bisa nganga, nggak nyangka sama apa yang baru dia temuin. Johanson langsung teriak manggil Gray, dan nunjukin semua temuannya. Gray juga ikut nganga ngelihatnya. Setelah memeriksa serpihan tulang satu per satu, mereka girang banget karena yakin bahwa itu semua adalah fosil hominin.

“Nggak nyangka gue, asli! Lo percaya nggak sih kalau ini beneran?”

Kata-kata itu terus mereka teriakin berulang-ulang. Meskipun bau keringat dan basah kuyup karena kepanasan, Johanson dan Gray berpelukan, lompat-lompat, dan teriak-teriak saking senengnya. Setelah itu, mereka langsung ­nandain setiap lokasi di mana fragmen tulang yang tersebar ditemukan dan mencatat lokasinya di buku catatan. Dengan sangat hati-hati, Johanson ngebungkus fragmen-fragmen tulang itu dan kembali ke Land Rover.

Saat perjalanan balik menuju perkemahan, Johanson dan Gray jemput para antropolog yang tadi menyisir kawasan sekitar Afar Locality 162. Mereka yang ngelihat Johanson sama Gray datang sambil cengar-cengir udah menduga kalau keduanya nemuin sesuatu. Dan benar, Johanson membuktikannya dengan unboxing ulna yang dia temuin. Mereka kemudian langsung melanjutkan perjalanan menuju perkemahan.

Sesampainya di perkemahan, orang-orang satu tim nyambut mereka udah kayak anak yang kelaperan ngelihat ibunya pulang bawa makanan. Johanson masih belum mau ngasih spoiler. Dia ngajak seluruh anggota timnya ke tenda besar, buat ngasih tahu sesuatu.

Dan….voila! Johanson nunjukkin penemuannya sesiangan itu. Semua orang ngelihatin satu persatu penemuan Johanson dengan takjub dan langsung pada kepo.

Lo nemuin di mana?”

“Kok bisa sih lo nemuin itu semua?”

Pertanyaan-pertanyaan itu terus diterima oleh Johanson. Pada akhirnya, seluruh tim Johanson seneng banget sama penemuannya. Suasana jadi rame banget. Temen-temen tim Johanson minta buat ditunjukin lokasi penemuannya. Mereka pun akhirnya balik lagi ke lokasi penemuan. Setelah ngecek lokasi, temen-temennya mengkonfirmasi bahwa fragmen tulang itu benar-benar milik hominin.

Bagi Johanson, nggak ada hari yang seistimewa hari itu. Dia dan tim ngerayain penemuan tersebut dengan makan malam kambing panggang. Sambil pesta, Johanson dan temen-teman satu tim masih ngomongin penemuan tadi siang.

Mereka pada memperdebatkan, apakah tulang tersebut milik satu individu atau lebih. Johanson pun berargumen, fosil-fosil yang ditemuin milik satu individu. Selain itu, Johanson juga memperkirakan kalau individu itu adalah perempuan.

Johanson juga menduga, kerangka yang ditemuin adalah spesies Australopithecus, leluhur manusia primitif. Soalnya, ukuran tulangnya lebih kecil dibandingkan dengan Australopithecus lainnya.

Johanson dan teman satu timnya masih menikmati malam perayaan. Pesta diiringi dengan lagu-lagu yang diputar dari tape. Salah satu lagu yang diputar berulang-ulang adalah “Lucy in the Sky with Diamonds” dari The Beatles.

Penemuan Fosil Lucy, Pengubah Sejarah Evolusi Manusia (24 November 1974) 67

Saat lagu “Lucy in the Sky with Diamonds” masih diputar, pacar Johanson saat itu datang nyamperin dia.

Lo udah menduga kalau fosil itu jenis kelaminnya perempuan. Kenapa lo nggak manggil dia Lucy?”

Awalnya, Johanson cuma senyum aja. Dia ngerasa, “Masa’ penemuan penting kayak gini cuma dipanggil Lucy?”

Tapi, Johanson kemudian ingat beberapa penamaan hominin sebelumnya. Ada Mary dan Louis Leakey, yang nemuin tengkorak hominin pipih di Ngarai Olduvai Tanzania dan diberi nama “Twiggy” pada tahun 1968. Anak mereka, Jonathan Leakey, juga nemuin spesimen jenis Homo hobilis yang diberi nama “Jonny’s Child.”

“Hmm…iya sih Twiggy sama Jonny’s Child unyu juga, tapi nama fosil baru ini masa’ harus dari lagunya The Beatles banget?”

Johanson masih mikirin ide nama itu dan berniat buat ngasih nama berdasarkan lokasi penemuan, yaitu A.L. 288-1. Tapi, keesokan harinya, temen-temen timnya udah pada nyebut nama Lucy. Mungkin, pacar Johanson udah ngobrolin usulan namanya ke orang-orang. Sambil sarapan roti panggang dengan selai kacang dan jeli, Johanson jadi mikir “Hmmm…kayaknya boleh juga dikasih nama Lucy. Lebih unik ketimbang A.L.288-1.”

Dan begitulah penamaan fosil Lucy ditetapkan.

Baca juga: Charles Darwin: Pelopor Teori Evolusi oleh Seleksi Alam

Karakteristik Lucy

Johanson dan teman timnya kembali melanjutkan penggalian di sekitar lokasi penemuan fosil Lucy. Penggalian tersebut memakan waktu hingga tiga minggu.

Setelah tiga minggu menyisir lokasi dan melakukan penggalian, tim Johanson semakin menemukan banyak fragmen fosil Lucy. Sekian lama menggali dan menyortir fosil-fosil tersebut, Johanson dan tim kemudian ngeh kalau mereka bakal menghasilkan penemuan yang luar biasa.

Ya mana nggak takjub coba! Tim Johanson nemuin lebih dari 400 spesimen yang membentuk 47 tulang Lucy, termasuk bagian lengan, kaki, tulang belakang, tulang rusuk dan panggul, serta rahang bawah. Johanson dan tim juga nemuin beberapa pecahan tengkorak lainnya. Kalau dikumpulin jadi satu, tulang-tulang itu mewakili 40 persen dari kerangka individu!

Saat diteliti, usia fosil Lucy diprediksi kurang dari 3,18 juta tahun. Dia hidup sekitar 3-3,8 juta tahun yang lalu di Afrika timur. Tua banget yes…

Penemuan Fosil Lucy, Pengubah Sejarah Evolusi Manusia (24 November 1974) 68
Kerangka Lucy ditemukan oleh Donald Johanson dan Tom Gray pada 24 November 1974, di situs Hadar di Ethiopia. (Foto: Institute of Human Origins)

“Eh, bentar…Jadi bener dugaan Johanson kalau fosil-fosil yang ditemuin berasal dari satu individu?”

Dari penemuan Johanson dan penggalian bersama timnya selama tiga minggu, mereka nggak nemuin adanya duplikasi tulang. Fragmen tulang yang mereka temuin justru udah cukup buat menyusun satu kerangka sebagian. Sehingga, kecil banget kemungkinan kalau fosil tersebut berasal dari lebih dari satu individu.

Kunci lainnya ada pada warna dan wujud fosil. Warna dan penampakan fosil sebagian ditentukan oleh mineral yang ada dalam endapan tempat fosil terbentuk dan jenis pelapukan yang dialami. Sehingga, sekelompok fosil yang terbentuk pada waktu yang berbeda dalam endapan yang berbeda, kemungkinan akan memiliki warna yang berbeda dan tanda yang berbeda pula. Sedangkan, kerangka Lucy terdiri dari fragmen fosil yang penampilannya mirip banget.

Singkatnya, semua tulang yang ditemukan Johanson dan tim berasal dari individu satu spesies, satu ukuran, dan satu usia.

Jenis Kelamin Lucy

So, tadi udah gue sebutin di awal kalau Johanson ngira Lucy adalah perempuan. Johanson bisa menduga kayak gitu karena dia udah belajar banyak dari penemuan para peneliti di Afrika sebelumnya. Johanson menarik kesimpulan kalau Lucy adalah perempuan berdasarkan beberapa ciri berikut:

  1. Ukuran fosil Lucy lebih kecil dibandingkan penemuan lain dari jenis kelamin yang berbeda, dari spesies yang sama.
  2. Para ilmuwan memperkirakan tinggi Lucy berdasarkan panjang tulang pahanya. Mereka menggunakan rumus matematika yang menghubungkan panjang tulang paha dengan tinggi badan. Setelah diukur, Lucy memiliki tinggi sekitar 104-106 cm. Hominin jantan dari spesies Lucy punya tinggi mencapai 150 cm. Sehingga, Lucy emang dikategorikan sebagai perempuan karena tubuhnya pendek.
  3. Bentuk panggul Lucy lebih kecil dibandingkan panggul individu yang lebih besar.

Umur Lucy saat Mati

Tinggi badan Lucy berkisar 104-106 cm. Lucy juga punya berat badan sekitar 28 kilogram. Mungkin, lo mikirnya dia masih kecil waktu meninggal. Bayangin aja, berat badannya 28 kilogram, dengan tinggi yang cuma semeter lebih dikit. Tapi, ada beberapa petunjuk yang mematahkan dugaan itu.

Dari hasil penelitian lebih lanjut, gigi geraham bungsunya udah erupsi dan sedikit aus pada saat dia meninggal. Jika dibandingkan dengan manusia modern, kebanyakan perempuan punya gigi bungsu secara matang pada saat mereka berusia 18 tahun. Sementara itu, jika dibandingkan dengan simpanse liar yang masih hidup, gigi geraham bungsu biasanya erupsi di usia 11-13 tahun.

Berdasarkan fosil gigi dan tulang hominin bayi dan remaja, hominin seperti Lucy berkembang lebih cepat daripada manusia, tapi lebih lambat daripada simpanse. Oleh karena itu, para ilmuwan menyimpulkan kalau Lucy berusia antara 12-18 tahun ketika dia meninggal. Bukti dari kerangka Lucy, khususnya tulang pinggul dan tulang tungkai, juga mendukung kesimpulan bahwa dia adalah individu dewasa.

Spesies Lucy

Saat Johanson dan Gray nemuin sisa-sisa fosil Lucy, Johanson kan udah menduga tadi kalau itu adalah hominin. Buat ngebuktiin itu, Johanson dan tim melakukan penelitian lebih lanjut setelah penggalian selama tiga minggu dilakukan.

Hasilnya, fosil tersebut adalah tulang-tulang primata yang berjalan tegak, yang disebut bipedal. Hal itu didukung oleh tulang-tulang bagian belakang Lucy yang cukup mirip dengan sendi lutut yang ditemukan pada tahun 1973. Hingga akhirnya, bukti-bukti baru mendukung hipotesis itu. Gigi dan panggul Lucy nunjukin bahwa dia adalah hominin.

Beberapa tahun setelah penemuan fosil Lucy, lebih banyak lagi spesimen hominin yang ditemukan dari Hadar, termasuk ratusan spesimen dari lokasi AL 333. Kumpulan AL 333 ini mencakup sisa-sisa setidaknya 13 individu. Fosil hominin yang mirip dengan yang ditemukan di Hadar juga ditemukan di situs bernama Laetoli, Tanzania.

Johanson dan temannya, Dr. Tim White, mempelajari koleksi fosil-fosil baru tersebut. Mereka memperhatikan variasi antar spesimen. Dari hasil temuan mereka, tim peneliti dan kelompok Johanson akhirnya sepakat bahwa Lucy adalah bagian dari spesies hominin tunggal yang sebelumnya belum pernah ditemukan.

Johanson pun ngumumin nama spesies baru tersebut pada tahun 1978, yang bernama Australopithecus afarensis. Spesies ini menjadi hominin tertua pada saat itu.

Penemuan Fosil Lucy, Pengubah Sejarah Evolusi Manusia (24 November 1974) 69
Replika Lucy, Australopithecus afarensis, di Naturhistorisches Museum Wien, Austria. (Foto: Johannes Maximilian via Wikimedia Commons)

Ciri Fisik dan Kebiasaan Lucy

Oke, tadi lo udah paham tentang hal-hal baru yang ditemuin dari penelitian fosil Lucy, dari jenis kelamin, usia, sampai spesiesnya. Sekarang, gue bakal kasih gambaran tentang ciri-cirinya.

Lucy punya ciri-ciri campuran antara kera dan manusia. Dia punya lengan panjang yang menjuntai. Kakinya juga gitu. Saking panjangnya, kakinya kalau diangkat bisa nyampai kepala kalau lagi manjat pohon. Meskipun begitu, Lucy lebih dianggap ahli dalam berjalan daripada memanjat.

Dari badannya, sebenarnya Lucy ini kelihatan kayak manusia. Tulang panggul, tulang belakang, kaki, dan tungkainya mirip kayak punya manusia. So, itu bisa bikin dia berjalan tegak kayak manusia pada umumnya.

Kalau dilihat dari jauh, Lucy kelihatan kayak manusia. Tapi, kalau dilihat dari dekat, Lucy punya kepala yang kecil, karena otaknya seukuran simpanse. Seluruh tubuhnya juga ketutup sama rambut.

Selain itu, Lucy punya dahi yang rendah, tulang pipinya melengkung lebar, dan rahangnya menonjol.

Sekarang, kita bahas tentang kebiasaan dan habitatnya…

Lucy suka hidup di tengah hutan dan nyari makanan di tanah maupun pohon. Dia hobi banget makan buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Kalau lagi nggak dapet makanan yang dia suka, Lucy terpaksa makan bangkai hewan, telur burung, bahkan sarang rayap.

So, udah bisa bayangin belum gimana sosok Lucy?

Kalau masih hidup, Lucy kayak gini nih….

Penemuan Fosil Lucy, Pengubah Sejarah Evolusi Manusia (24 November 1974) 70
Replika Lucy di Neanderthal Museum, Mettmann, Jerman. (Foto: Fährtenleser via Wikimedia Commons)

Baca juga: Gimana sih Caranya Ilmuwan Tahu Umur Fosil yang Ditemukan?

Kronologi Kematian Lucy

Sebenarnya, belum ada penyebab pasti tentang kematian Lucy. Anggap aja kemungkinan pertama adalah dimakan hewan buas. Biasanya, individu yang dibunuh hewan buas memiliki beberapa ciri, seperti tulangnya yang udah keropos, remuk, atau ada bekas kunyahan gigi hewan buas tersebut. Ujung tulang panjang juga sering hilang, atau terkadang patah.

Tapi, Lucy nggak punya ciri itu sama sekali. Satu-satunya cedera pada tulang Lucy adalah bekas tusukan gigi seekor karnivora pada tulang kemaluan kirinya.

42 tahun kemudian, pada tahun 2016, para peneliti dari University of Texas di Austin mempelajari lebih lanjut cedera pada tulang Lucy. Tujuannya, ya…buat menyelidiki kenapa Lucy ada di tempat itu sampai jadi fosil.

John W. Kappelman, seorang profesor antropologi, adalah satu di antara peneliti dari  University of Texas. Dia udah 30 tahun neliti tentang Lucy. Kebetulan, pada waktu 2008, dia dan teman-temannya punya kesempatan buat CT scan fosil Lucy. Lucy diboyong dari Ethiopia ke Texas buat diteliti penyebab kematiannya. Kappelman dan tim bekerja selama 10 hari berturut-turut demi memecahkan misteri kematian Lucy. Berkat CT scan resolusi tinggi yang dimiliki University of Texas, terungkaplah hasilnya

Jadi, tadi kan gue udah nyebutin kalau Lucy punya tinggi badan sekitar 106 cm dan berat badan sekitar 28 kilogram. Dengan ukuran tubuhnya yang kecil itu, predator kayak hyena dan serigala bisa jadi ancaman buat Lucy. Otomatis, Lucy bakal cari tempat berlindung dari predator.

So, kemungkinan besar Lucy berinisiatif buat stay di pepohonan. Entah dia pindah dari satu pohon ke pohon lain atau stay sepanjang hari di satu pohon, yang jelas, Lucy nangkring di atas pohon biar nggak kelihatan sama para predator. Kappelman pun mengacu pada data kebiasaan simpanse stay di suatu pohon, yang menunjukkan bahwa mereka ngerasa aman kalau nangkring di pohon setinggi 46 kaki atau sekitar 14 meter. Tinggi juga ya, btw…

Kemudian, tibalah kemungkinan kronologi kematiannya. Entah awalnya Lucy lagi ketakutan sama predator, atau dia lagi enak-enak tidur, atau dia lagi cari makan di pohon. Yang jelas, dari ketinggian 14 meter, Lucy jatuh dari pohon dalam keadaan sadar sepenuhnya. Dia jatuh ke tanah dengan kecepatan sekitar 16 meter per detik! Cepet banget ya!

Waktu Lucy jatuh, yang mendarat duluan di tanah itu kakinya. Badannya jatuh dalam posisi telungkup. Auto remuk banget nggak sih itu….

Penemuan Fosil Lucy, Pengubah Sejarah Evolusi Manusia (24 November 1974) 71
Ilustrasi jatuhnya Lucy dari pohon. (Foto: Jurnal Nature)

Dari insiden itu, Lucy mengalami patah tulang di pergelangan kaki, tulang kaki, panggul, tulang rusuk, tulang belakang, lengan, rahang, dan tengkorak. Sendi bahunya remuk. Organ dalamnya rusak. Sebenarnya, Lucy sempat nyoba bangun dan ngulurin tangan. Tapi, tangannya jadi ikut patah tulang pas digerakin.

Lagi dan lagi, Lucy ngerasa masih berhak buat hidup. Dia nyoba mutar badannya ke kanan, tapi malah bikin lehernya patah. Kepalanya miring ke kanan. Lucy langsung nggak sadarkan diri. Badannya serba patah dan berdarah. Dia udah nggak bisa apa-apa lagi, cuma bisa berbaring di dasar sungai. Btw, saat itu, sungai lagi kering banget. So, badannya nggak ikut kebawa arus air. Lucy pun stay di situ selama sekitar 3,18 juta tahun, sampai jadi fosil dan ditemuin sama Johanson.

Dari hasil penelitian itu, para peneliti setuju kalau Lucy meninggal karena jatuh dari ketinggian. Sebenarnya, Kappelman dan tim punya beberapa hipotesis lain terkait penyebab kematian Lucy, seperti kejang, hanyut karena banjir, disambar petir, atau dimakan hewan buas. Tapi, dari sekian penyebab yang gue sebutin barusan, nggak ada satu pun yang cocok dengan patah tulang yang dialami Lucy.

Meskipun begitu, kesimpulan tersebut masih kontroversial di kalangan para ilmuwan, termasuk Johanson yang nemuin Lucy. Dia bilang, ada penjelasan lain yang masuk akal terkait cedera pada tulang Lucy, seperti diinjak-injak hewan setelah si Lucy mati. Tapi ya…gitu deh. Sampai sekarang, penyebab kematian Lucy masih menjadi kontroversi. Kalau menurut lo, apa penyebab kematian Lucy?

Mengapa Penemuan Fosil Lucy Penting?

Penemuan Lucy sebagai Australopithecus afarensis bener-bener mengubah pemahaman kita selama ini tentang evolusi manusia.

“Kok bisa?”

Pertama, sebelum fosil Lucy ditemukan, para ilmuwan masih berusaha menjawab pertanyaan “Apa ciri-ciri manusia yang menunjukkan bahwa dia bener-bener manusia?”

Ciri-ciri tersebut antara lain bisa jalan dengan badan yang tegak, punya kemampuan bikin alat-alat yang rumit, punya otak yang besar, dan bisa berkomunikasi dengan bahasa yang kompleks.

Selain itu, para ilmuwan berpikir bahwa urutan perkembangan manusia adalah sebagai berikut:

Otak tumbuh lebih dulu → bisa berjalan tegak → bisa bikin peralatan dari batu → punya kemampuan berbahasa yang kompleks.

Namun, penemuan fosil Lucy mematahkan pendapat-pendapat di atas. Kerangka Lucy yang masih bagus meskipun udah 3,18 juta tahun berlalu jadi buktinya.

Oke, gue bedah satu persatu ya biar nggak bingung. Tadi kan udah gue sebutin kalau para ilmuwan mengira tahapan perkembangan dimulai dari pertumbuhan otak, terus baru bisa jalan tegak, kemudian baru bisa bikin peralatan dari batu.

Nah, usia Lucy kan tadi sekitar 3,18 juta tahun, dan kerangkanya menunjukkan bukti kalau dia berjalan tegak. Padahal, otak baru berevolusi sekitar 200.000 tahun yang lalu. Penggunaan alat dari batu juga baru dimulai sejak 2,6 juta tahun yang lalu. Dari situ, kelihatan dong kalau aslinya spesies bipedal (yang bisa berjalan tegak) udah ada jauh sebelum otak ukuran sekarang berevolusi. Dengan kata lain, urutan yang dibikin para ilmuwan selama ini salah.

Kedua, kerangka Lucy menunjukkan bahwa nggak semua bagian tubuh berevolusi pada tingkat yang sama, seperti yang diduga para ilmuwan sebelumnya. Dari leher ke atas, Lucy beda banget sama manusia sekarang. Tengkoraknya juga jauh lebih kecil. Tapi, tulang rusuk dan lengannya lebih mirip dengan manusia sekarang. Begitu juga pinggulnya ke bawah, kaki dan lutut yang mirip banget sama punya manusia sekarang.

Ketiga, pada awal 1970-an, para arkeolog dan antropolog berpendapat kalau asal-usul kehidupan primitif berada di Afrika, dan di Eropalah ‘manusia’ pertama ditemukan. Tapi, penemuan fosil Lucy menunjukkan kalau ciri-ciri manusia ditemukan di Afrika Timur, tepatnya di wilayah Afar, Ethiopia.

Keempat, sekali lagi, Lucy adalah spesies yang pertama kali diketahui bisa berjalan tegak. Kehadiran Lucy sebagai spesies yang bisa berjalan tegak kayak manusia udah ada sejak 3,8 juta tahun yang lalu. Hal itu dibuktikan dengan bentuk panggulnya.

Panggul Lucy beda jauh sama hewan berkaki empat kayak simpanse. Hewan berkaki empat punya panggul yang sempit dan tinggi. Sedangkan, panggul Lucy seperti manusia, dengan tulang pinggul membentuk mangkuk. Australopithecus afarensis juga punya jempol kaki yang lurus, dan kakinya melengkung kayak manusia, meskipun proporsi kakinya lebih primitif.

Btw, kalau lo mau mempelajari lebih lanjut tentang beberapa teori evolusi yang ternyata keliru, lo bisa baca artikelnya di sini.

Oke, balik lagi ke Lucy. Singkatnya, penemuan fosil Lucy mewakili jembatan evolusi dari genus manusia seperti kita, Homo. Para arkeolog yakin kalau Australopithecus afarensis mati sekitar lebih dari 3 juta tahun yang lalu. Sementara itu, bukti Homo tertua berasal dari 2,3 juta tahun yang lalu. Itu berarti, kemunculan ‘genus’ manusia terjadi antara 2,3 dan 3 juta tahun yang lalu.

Penemuan fosil Lucy juga dianggap sebagai missing link antara kera dan manusia. So, Lucy itu kera atau manusia?

Johanson bilang, Lucy lebih bisa disebut sebagai jembatan antara nenek moyang kera Afrika dan nenek moyang kita sendiri. Penemuan Australopithecus afarensis kayak Lucy menekankan fakta kalau nenek moyang mirip kera nggak secara cepat berubah menjadi makhluk seperti manusia. Bagian kerangka yang berbeda antara nenek moyang kera dan manusia berubah pada waktu yang berbeda.

So, Lucy berada di tengah-tengahnya. Dia lebih mirip kera, tapi dengan ‘fitur’ yang lebih baru, seperti yang dimiliki manusia sekarang.

Di Mana Lucy Sekarang?

Sekarang, fosil Lucy yang asli disimpan di dalam lemari besi khusus di Paleoanthropology Laboratories of the National Museum of Ethiopia di Addis Ababa, Ethiopia. Fosil Lucy yang asli jarang banget ditampilin, kecuali buat kebutuhan peneliti dan pengunjung VIP.

Fosil Lucy cuma dipajang dua kali selama beberapa minggu. Ya maklum, sifatnya yang langka dan rapuh harus bener-bener dijaga dan dilindungi. Kayak hati lo…

Penemuan Fosil Lucy, Pengubah Sejarah Evolusi Manusia (24 November 1974) 72
Human Evolution Timeline di National Museum of Ethiopia. (Foto: Adam Jones via Wikimedia Commons)

Oleh karena itu, banyak cetakan dibuat dari fosil Lucy yang asli. Cetakan tersebut kemudian digunakan buat dibikin replikanya. Banyak museum yang bikin replika Lucy, seperti di Institute of Human Origins, Arizona State University atau Houston Museum of Natural Science di Texas.

Meskipun begitu, fosil Lucy juga pernah dihadirkan di beberapa pameran di Amerika Serikat. Iya, Lucy asli. Dia datang di pameran! Fosilnya tapi…

Beberapa pameran yang pernah ngajak Lucy join antara lain:

  1. Ancestors: Four Million Years of Humanity di American Museum of Natural History (1984)
  2. The First Europeans: Treasures from the Hills of Atapuerca di American Museum of Natural History (2003)
  3. Lucy’s Legacy. The Hidden Treasures of Ethiopia di Houston Museum of Natural Science (2007-2008)
  4. Lucy’s Legacy. The Hidden Treasures of Ethiopia di Pacific Science Center, Seattle (2008).

Penutup

Hola, akhirnya lo udah sampai di sini juga. Sekarang, udah tahu kan siapa Lucy itu, gimana dia ditemuin, dan perannya dalam sejarah evolusi manusia? Tadi, gue juga udah jelasin kronologi detik-detik kematian Lucy. Semoga, artikel yang gue tulis ini bisa nambah wawasan lo lebih dalam tentang evolusi manusia ya. Kalau lo mau mempelajari lebih lanjut tentang asal-usul manusia, lo bisa akses materinya di aplikasi Zenius. Gue Citra, sampai ketemu lagi di tulisan berikutnya. See ya!

Baca Juga Artikel Lainnya

Apa Betul Hewan Purba itu Moyangnya Hewan Sekarang? Tahu dari Mana?

Mengapa Dinosaurus Bisa Berukuran Raksasa?

Benarkah Bahan Bakar Fosil Mengancam Peradaban Manusia?

Referensi

Institute of Human Origins. Lucy’s Story. Diakses pada 17 November 2021, dari https://iho.asu.edu/about/lucys-story#individual

Natural History Museum. Australopithecus afarensis, Lucy’s species. Diakses pada 17 November 2021, dari https://www.nhm.ac.uk/discover/australopithecus-afarensis-lucy-species.html

The Nature Education. Lucy: A marvelous specimen. Diakses pada 17 November 2021, dari https://www.nature.com/scitable/knowledge/library/lucy-a-marvelous-specimen-135716086/

Science Focus. 2021. Lucy and Ardi: The two fossils that changes human history. Diakses pada 17 November 2021, dari https://www.sciencefocus.com/the-human-body/lucy-and-ardi-the-two-fossils-that-changed-human-history/

Bowers Museum. 2013. Lucy’s Legacy:  The Hidden Treasure of Ethiopia. Diakses pada 17 November 2021, dari http://www.bowersdocentguild.org/pdf/3a/Lucys_Legacy_Education_Packet.pdf

Johanson, D.C., Wong, K., & DeSilva, J.M. (2009). Lucy’s Legacy: The Quest for Human Origins.

Bagikan artikel ini