Sun Yat Sen

Sun Yat Sen, Bapak Republik Cina yang Menggulingkan Kekaisaran Qing

Artikel ini membahas biografi Sun Yat Sen, pendiri dari Republik Cina yang mengakhiri sistem kerajaan Cina yang bertahan selama ribuan tahun lamanya.

Halo sobat Zenius! Kita semua pasti udah tau kalau bapak pendiri Indonesia itu Ir. Sukarno. Nah, pada artikel ini gua pengen ngomongin bapak pendiri negara lain yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Indonesia. Yup! Seperti di judul artikel, kita bakalan ngomongin Dr. Sun Yat Sen yang mendirikan Republik Cina atau disebut juga sebagai Republik Tiongkok. Sebenernya disebut Cina atau Tiongkok nih? Nah untuk itu kalian bisa cek sendiri langsung di artikel ini

Sebelumnya gua mau bahas sedikit konteks tentang sejarah Cina. Selama beribu-ribu tahun lamanya, Cina selalu dipimpin oleh seorang sosok kaisar. Kerajaan Cina ini memiliki banyak dinasti yang datang silih berganti, kalau suatu dinasti dianggep gagal memimpin cina mereka akan digantikan dinasti lainnya. Saat Sun Yat Sen hidup, dinasti yang menguasai Cina adalah dinasti Qing.

Kalau Indonesia dulu dijajah sama Belanda, di Cina gimana tuh ya? Pada akhir masa dinasti Qing ini Cina dijajah oleh banyak bangsa seperti Inggris, Rusia, Jerman dan bahkan Jepang. Karena kelemahan dinasti Qing ini, Sun Yat Sen bertekad mengakhiri kekuasaan mereka. Yuk kita baca artikelnya sampai habis untuk lihat kisah perjuangan Sun Yat Sen!

Sun Yat Sen
Kartun yang menggambarkan Cina dibagi-bagi oleh berbagai bangsa (Dok. Wikimedia Commons)

Kehidupan Awal

Kisah Sun Yat Sen dimulai dengan kelahirannya pada 12 November 1866 dengan nama lahir Sun Deming di desa Cuiheng, Guangzhou yang letaknya dekat dengan Makau. Ayahnya adalah seorang petani sekaligus penjahit, semenjak ia berumur 6 tahun ia membantu ayahnya bekerja di pertanian. Kehidupan keluarga Sun Yat Sen bisa dibilang susah, ini karena ayahnya harus menghidupi istri serta 6 anaknya. Usai menyelesaikan pendidikan dasar di desanya di mana ia mendapat nama julukan Sun Wen yang populer digunakan di Cina, ia dikirimkan ke Honolulu, Hawaii pada tahun 1879 untuk hidup bersama kakaknya, Sun Mei.

Sun Yat Sen
Sun Yat Sen saat muda (Dok. Institute for Sun Yat-sen Studies)

Di Hawaii, ia tinggal bersama kakaknya dan belajar di sekolah Iolani. Di sana ia mempelajari pendidikan barat dan diperkenalkan dengan agama Kristen. Seusai lulus dari sekolah, ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Oahu pada tahun 1882. Namun, kakaknya mengirim Sun Yat Sen kembali ke Cina karena khawatir adiknya bergabung agama Kristen. 

Ketika kembali, Sun Yat Sen beranggapan bahwa praktik keagamaan di desa tempat ia dibesarkan adalah takhayul. Pada tahun 1883 dia merusak salah satu patung dewa di desanya dan diusir karena itu. Kemudian tahun berikutnya ia dijodohkan oleh orang tuanya dan menikah dengan Lu Muzhen, anak dari seorang pedagang.

Sun Yat Sen
Universitas Hong Kong di mana Sun Yat Sen belajar pada 1923 (Dok. Institute for Sun Yat-sen Studies)

Sun Yat Sen kemudian memutuskan untuk belajar di Hong Kong pada tahun 1887. Ia mendaftar di sekolah kedokteran dan lulus pada Juni 1892. Pada masa ini ia mendapat nama panggilan Sun Yat Sen yang digunakan oleh orang-orang barat, menjadikannya nama paling dikenalnya di dunia barat. Setelah lulus, ia memutuskan untuk pergi ke Makau untuk bekerja, namun otoritas Portugis menolak memberinya izin untuk praktik kedokteran.

Awal dari Perlawanan

Saat Sun Yat Sen kembali ke Hong Kong pada tahun 1893, dia jauh lebih tertarik sama politik Cina dibandingkan menjadi dokter. Ia menuliskan surat proposal kepada pemimpin Cina untuk mendukung program reformasi. Namun, Sun Yat Sen diabaikan dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke Hawaii. Di Hawaii ia mengorganisir sebuah perkumpulan bernama Hsing-chung Hui yang berarti Perhimpunan Regenerasi Cina. 

Sun Yat Sen
Bendera Hsing-chung Hui yang kemudian digunakan dalam bendera Republik Cina (Dok. Wikimedia Commons)

Sun Yat Sen melihat kesempatan ketika melihat pecahnya perang antara Cina dan Jepang pada tahun 1894. Melihat kekalahan Cina, ia ingin memanfaatkan kejadian tersebut untuk menggulingkan dinasti Qing. Ia kembali ke Hong Kong dan mengatur ulang Hsing-chung Hui menjadi perkumpulan rahasia kaum revolusioner. Pemberontakan tersebut direncanakan di Guangzhou pada tahun 1895. Sayangnya, rencana ini diketahui otoritas Cina sehingga digagalkan dan beberapa perencananya dieksekusi. Sun Yat Sen menjadi buronan di Cina dan terpaksa melarikan diri ke Jepang.

Pengasingan dan Pemberontakan

Kalau gua harus deskripsikan sifat utama dari Dr. Sun Yat Sen, itu adalah sifat pantang menyerahnya. Diasingkan dari negaranya bukan masalah baginya, ia mengelilingi dunia untuk mencari dukungan dan modal untuk melakukan pemberontakan-pemberontakan di Cina. Beberapa negara yang ia kunjungi pada masa pengasingannya ini adalah Jepang, Inggris, Amerika Serikat, Singapura, Vietnam, dan Malaysia. 

Sun Yat Sen
Sun Yat Sen (ujung kanan) bersama teman-temannya di Jepang (Dok. Wikimedia Commons)

Sebagai simbol perlawanannya, Sun Yat Sen memotong ikatan rambut (rambut kaya di film-film kung fu, jidat botak terus rambut diikat ke belakang) yang diwajibkan penguasa Cina bagi seluruh warganya. Ia juga megubah penampilannya menggunakan pakaian barat. 

Sun Yat Sen
Gaya rambut taucang yang diwajibkan dinasti Qing (Dok. Wikimedia Commons)

Sayangnya, pemberontakan-pemberontakan yang diorganisir Sun Yat Sen berujung dengan kegagalan. Contohnya adalah percobaan pemberontakannya kedua di Huizhou (1900), di mana pemberontakan tersebut mendapatkan bantuan dari organisasi kriminal triad. Tentu Cina ga diem aja ngadepin Sun Yat Sen, bahkan ketika ia sedang di London, Inggris ia sempat diculik oleh agen-agen dinasti Qing. Untungnya, ia berhasil melarikan diri dan bahkan menulis buku mengenai pengalamannya.

Sun Yat Sen
Sun Yat Sen dengan pakaian barat (Dok. Wikimedia Commons)

Totalnya diperkirakan ada sekitar 8-10 pemberontakan yang Sun Yat Sen ikut berpartisipasi atau membantu. Kurang lebih hidupnya berputar pada merencanakan pemberontakan, pelaksanaan dan kegagalan pemberontakan, eksekusi konspirator, pengasingan di luar negeri, dan mencari dukungan keuangan untuk memberontak lebih lanjut. Pada masa ini juga, beberapa organisasi revolusioner lain di Cina bergabung Hsing-chung Hui dengan membentuk T’ungmeng hui di mana Sun Yat Sen menjabat sebagai kepalanya. 

Mendirikan sebuah Republik

Saya mencintai negara saya, saya mencintai istri saya. Saya bukan dewa, saya seorang manusia. Saya adalah seorang revolusioner, dan saya tidak dapat didominasi oleh kejahatan sosial.

Sun Yat Sen

Kejatuhan dari dinasti Qing berlangsung secara cepat dan mendadak, sakin mendadaknya bahkan Sun Yat Sen lagi berada di Amerika Serikat mencari dukungan masyarakat Cina. Pemberontakan di Wuchang pada akhir tahun 1911 ini dilakukan oleh perwira-perwira militer berpangkat rendah yang bersimpati pada T’ung-meng hui pada. Kemenangannya mengakibatkan berlangsungnya Revolusi Xinhai yang menggulingkan sistem kerajaan di Cina.

Sun Yat Sen
Pemberontakan Wuchang (Dok. Wikimedia Commons)

Mendengar berita keberhasilan di Wuchang, Sun Yat Sen memutuskan untuk terus melakukan perjalanan melalui Eropa untuk meminta dukungan diplomatik dan keuangan. Pada saat ia tiba di Cina pada 25 Desember 1911 ia disambut oleh kaum revolusioner, tetapi situasi tidak menenangkan sebab terjadi pemberontakan yang menyebar di Cina.

Pada akhirnya, delegasi revolusioner dari 14 provinsi di Cina memilih Sun Yat Sen sebagai presiden. Pada 1 Januari 1912, Sun Yat Sen memproklamasikan berdirinya Republik Cina. Tetapi perjuangannya jauh dari berakhir, karena Cina sedang berada dalam kekacauan. Terdapat banyak faksi yang mengukir wilayah dari bekas wilayah dinasti Qing. Saingan politik utamanya yang paling kuat adalah Yuan Shikai, mantan pemimpin militer Qing yang memiliki kekuatan militer kuat di Cina utara. Dibandingkan dengan Yuan Shikai, Republik Cina tidak memiliki kekuatan militer yang cukup untuk memaksa turun tahtanya Kaisar Puyi di Beijing. 

Sun Yat Sen
Sun Yat Sen pada tahun 1912 (Dok. Wikimedia Commons)

Sun Yat Sen hanya menjabat sebagai Presiden selama 45 hari. Ketika Yuan Shikai mulai menunjukkan intensinya untuk menguasai Cina, Sun Yat Sen memutuskan untuk mundur diri untuk menghindari pertumpahan darah. Hal ini dilakukan setelah Yuan Shikai berhasil memastikan turun tahtanya Kaisar Puyi yang saat itu hanya berumur 6 tahun. Sun Yat Sen kemudian mengalihkan perhatiannya untuk membentuk Kuomintang, atau Partai Nasionalis Cina.

Era Panglima Perang

Ternyata Yuan Shikai ini ga puas dengan kekuasaan yang dia pegang sebagai Presiden dari Republik Cina. Pada tahun 1915, Yuan Shikai memproklamirkan dirinya sebagai Kaisar Cina yang baru. Tentu saja, proklamasinya sebagai kaisar memicu reaksi keras dari panglima perang lainnya. Ini menyebabkan disintegrasi pemerintahan pusat Republik Cina. 

Saingan Sun Yat Sen, Yuan Shikai
Yuan Shikai pada tahun 1915 (Dok. Wikimedia Commons)

Yuan Shikai menghadapi banyak pihak yang melawannya. Satu demi satu provinsi memberontak dan dunia internasional mengkritik keputusan Yuan Shikai. Akhirnya, setelah 83 hari mengumumkan diri sebagai Kaisar, ia mengundurkan diri dari tahtanya. Tidak puas, provinsi-provinsi yang memberontak menuntut Yuan Shikai mundur sebagai presiden. Akhirnya, Yuan Shikai meninggal karena gagal ginjal pada 5 Juni 1916. wafatnya Yuan Shikai secara resmi memulai Era Panglima Perang, di mana panglima perang Cina beperang satu sama lain memperebutkan kekuasaan.

Tentu Sun Yat Sen tidak diam melihat perkembangan ini. Untuk meningkatkan peluang Kuomintang melawan Yuan Shikai, Sun Yat Sen mencari bantuan dari kaum komunis lokal dan internasional. Dia menulis kepada Second Communist International (Comintern) di Paris untuk mendapatkan dukungan, dan juga mendekati Partai Komunis Cina

Pemimpin Uni Soviet, Vladimir Lenin memuji Sun Yat Sen atas upayanya dan mengirim penasihat untuk membantu mendirikan akademi militer. Dia menunjuk seorang perwira muda bernama Chiang Kai Shek sebagai komandan Tentara Revolusioner Nasional yang baru dan akademi pelatihannya. 

Kawan Sun Yat Sen, Chiang Kai Shek
Chiang Kai Shek pada awal 1920-an (Dok. Wikimedia Commons)

Dengan bantuan Uni Soviet, terlatih 250.000 tentara yang akan menyerang Cina utara. Kampanye militer besar-besaran ini disebut sebagai Ekspedisi Utara dan akan berlangsung dari tahun 1926 sampai 1928. Namun, ekspedisi ini hanya akan memberi kekuasaan kepada para panglima perang daripada mengkonsolidasikan kekuasaan pemerintah Nasionalis. 

Wafat Dr. Sun Yat Sen

Sebelum Ekspedisi Utara dapat berlangsung, Sun Yat Sen meninggal pada 12 Maret 1925 dengan usia 58 tahun karena kanker hati. Setelah wafatnya, Chiang Kai Shek menggantikan posisinya di Kuomintang. Setelah berhasil menumpas panglima perang, sayangnya Partai Komunis Cina dan Partai Nasionalis Cina berebut kekuasaan, memulai Perang Sipil Cina.

Sun Yat Sen
Patung Sun Yat Sen di Guangzhou, Republik Rakyat Cina (Dok. Wikimedia Commons)

Hingga kini, Sun Yat Sen dihormati dan dianggap sebagai bapak bangsa dari Republik Cina (Taiwan) dan Republik Rakyat Cina. Hal ini unik bila kita mengingat permusuhan dari kedua negara tersebut. Dalam hidup dan perjuangannya, beliau secara luas dikritik karena kegagalan maupun keputusannya. Setelah wafatnya, ia dihormati oleh pemerintahan Nasionalis maupun Komunis. Karena keberhasilannya menggabungkan kekuatan Nasionalis dan Komunis Cina untuk menyatukan bangsanya, ia diingat dengan baik.

****

Harold Schiffrin, seorang profesor dari Israel menuliskan dalam biografinya tentang Sun Yat Sen “Jika Sun Yat Sen memiliki satu bakat yang konsisten, itu untuk kegagalan.” Sun Yat Sen tentunya adalah manusia, yang sama seperti manusia lain, memiliki kekurangan. Tetapi pekerjaan revolusioner dia yang ga pantang abis walau udah gagal berkali-kali menurut gua tuh sangat inspiratif. Kita bisa belajar dari dia untuk terus mencoba dan pantang menyerah, walau udah gagal ke-8 kalinya. Kalau menurut kalian kegagalan itu artinya apa sih? Jika temen-temen punya komentar atau pengen diskusi lebih lanjut, langsung aja digas ya kolom komentarnya!

Referensi:

Schell, O., & Delury, J. (2014).Wealth and Power, China’s Long March To The Twenty-first Century, Chapter 6, A Sheet of Loose Sand: Sun Yat-sen. Diakses pada 28 September 202 melalui http://sites.asiasociety.org/chinawealthpower/chapters/sun-yat-sen/

Encyclopedia of World Biography. Sun Yat-Sen Biography. Diakses pada 28 September 2021 melalui https://www.notablebiographies.com/St-Tr/Sun-Yat-Sen.html

Szczepanski, Kallie. (2019). Biography of Sun Yat-sen, Chinese Revolutionary Leader. Diakses pada 28 September 2021 melalui https://www.thoughtco.com/sun-yat-sen-195616

General Office of Zhongshan Municipal Government. Profile of Dr Sun Yat-sen. Diakses pada 28 September 2021 melalui http://www.zs.gov.cn/ywb/features/sunyatsenshometown/content/post_1606240.html

Theobald, Ulrich. (2011). Persons in Chinese History – Sun Yat-sen (Sun Wen 孫文, Sun Zhongshan 孫中山). Diakses pada 28 September 2021 melalui http://www.chinaknowledge.de/History/Rep/personssunyatsen.html

Tan, Herman. (2015). Mengenang Perjuangan Dr. Sun Yat Sen. Diakses pada 28 September 2021 melalui https://www.tionghoa.info/mengenang-perjuangan-dr-sun-yat-sen/