Muhammad Al Fatih

Muhammad Al Fatih, Sultan Penakluk Konstantinopel dan Musuh dari Drakula

Artikel ini membahas biografi Muhammad Al Fatih yang dikenal juga sebagai Mehmed II, Sultan Turki Utsmaniyah yang berhasil menaklukan kota Konstantinopel dan daerah-daerah lainnya.

Abad ke-15 dipenuhi dengan perang, pedang dan meriam. Dari pertempuran demi pertempuran, tertempa tokoh-tokoh dengan kemampuan militer yang luar biasa. Salah satu tokoh luar biasa ini adalah Sultan Mehmed II yang kerap disebut sebagai Muhammad Al Fatih. Nah, sobat Zenius, kali ini gua bakal ngebahas tentang kehidupan dan pencapaian dari Sultan Muhammad Al Fatih.

Sultan Muhammad Al Fatih ini berasal dari Turki Utsmaniyah, kekhalifahan Islam terakhir dalam sejarah. Kehebatannya tercatat dari penaklukan Konstantinopel hingga perangnya melawan Vlad Drakula yang dikenal . 

Kalian masih inget ga kenapa Belanda datang ke Indonesia? Salah satu alasannya itu adalah jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Utsmaniyah sehingga kota tersebut ditutup untuk perdagangan. Akibatnya, bangsa Eropa (termasuk Belanda) kesulitan mendapatkan rempah-rempah. Untuk mengatasi masalah ini, bangsa Eropa menjelajah samudra untuk mencari daerah penghasil rempah-rempah. Jadi secara ga langsung, penaklukan Sultan Muhammad Al Fatih menyebabkan datangnya Belanda ke Indonesia, menarik kan? Yuk kita langsung aja bahas biografinya!

Kehidupan Awal

Muhammad Al Fatih dilahirkan pada 30 Maret 1432 di Edirne, Turki dengan nama Mehmed bin Murad. Ayahnya adalah Sultan Murad II, pemimpin Turki Utsmaniyah. Ibunya adalah Hüma Hatun, istri keempat dari Sultan Murad II. Muhammad Al Fatih adalah anak ketiga dari ayahnya dan ia menghabiskan masa kecilnya di Edirne.

Muhammad Al Fatih
Sultan Murad II, Ayah Sultan Muhammad Al Fatih (Dok. Wikimedia Commons)

Sebagai anak dari Sultan, Muhammad Al Fatih mendapatkan pendidikan terbaik yang tersedia di Turki Utsmaniyah. Pada usia dini ia mempelajari bahasa arab, persia, latin, yunani dan italia. Sesuai tradisi, pada usia 11 tahun Muhammad Al Fatih dikirim ke kota Manisa untuk menjabat sebagai gubernur untuk mencari pengalaman memerintah. Tidak lama kemudian pada tahun 1444, ayahnya berhasil berdamai dengan musuhnya di Eropa. Karena ingin pensiun, Murad II melepas tahtanya dan mengangkat Muhammad Al Fatih sebagai Sultan dengan usianya yang baru 12 tahun. 

Naik dan Turun Tahta

Naik Tahta Pertama Kalinya

Muhammad Al Fatih diangkat menjadi Sultan karena kedua kakaknya telah meninggal. Tidak lama setelah naik tahta, perjanjian perdamaian yang dibuat ayah Muhammad Al Fatih dilanggar oleh musuh-musuh Turki Utsmaniyah. Raja Hungaria, Paus, Kekaisaran Bizantium (dikenal juga sebagai Romawi Timur), dan Venesia melihat kenaikan tahta Muhammad Al Fatih yang baru berumur 12 tahun sebagai kesempatan untuk mengorganisir Perang Salib.

Ayah Muhammad Al Fatih
Sultan Murad II (kuda putih) memimping perang melawan tentara salib (Dok. Wikimedia Commons)

Muhammad Al Fatih hanya memerintah selama dua tahun. Ini disebabkan pada 1446 permohonan dari banyak tokoh-tokoh politik dan militer mendorong Murad II untuk kembali ke tahta memimpin Turki Utsmaniyah. Selama waktu ini, Mehmed kembali memerintah di Manisa dan melanjutkan studinya. Selain itu Muhammad Al Fatih mendapat pengalaman pertempuran pertamanya dalam pertempuran Kosovo melawan pasukan Hungaria pada Oktober 1448.

Naik Tahta Kedua Kalinya

Pada tahun 1451, Sultan Murad II meninggal. Untuk kedua kalinya, Muhammad Al Fatih, yang kali ini sudah berumur 19 tahun, naik tahta menjadi Sultan Turki Utsmaniyah.  Bertekad membuktikan dirinya di mata tokoh-tokoh senior dan masyarakat Turki Utsmaniyah, Muhammad Al Fatih ingin mewujudkan tujuan utamanya, yaitu penaklukan Konstantinopel, ibu kota Bizantium (Romawi Timur). Dia segera mempersiapkan bangsanya untuk pertempuran yang akan datang.

Muhammad Al Fatih
Penobatan Sultan Muhammad Al Fatih pada tahun 1451 (Dok. Wikimedia Commons)

Muhammad Al Fatih mempersiapkan diri secara diplomatik dan militer untuk merebut Konstantinopel. Ia menandatangani perjanjian damai yang menguntungkan Venesia dan Hungaria untuk tetap bersikap netral ketika ia menyerang Konstantinopel. Sepanjang tahun 1452, Muhammad Al Fatih menghabiskan waktunya membangun benteng-benteng untuk mengendalikan Laut Bosporus yang mengelilingi kota Konstantinopel.

Selain itu, Muhammad Al Fatih juga mulai membangun armada sebesar 31 kapal perang galai serta puluhan kapal-kapal lainnya, dan menciptakan meriam baru dengan kaliber yang besar. Untuk ini, ia memanfaatkan bantuan dari ahli senjata Hungaria bernama Urban untuk menciptakan meriam dengan ukuran yang melampaui meriam-meriam di Eropa.

Penaklukan Konstantinopel

Sedikit Latar Belakang

Muhammad Al Fatih, Konstantinopel
Konstantinopel (Dok. History of Yesterday)

Oke, gua kasih sedikit informasi mengenai Konstantinopel ya guys. Yang kalian butuh tau itu ada beberapa hal. Pertama, Konstantinopel yang sekarang namanya Istanbul usianya udah beratus-ratusan tahun. Konstantinopel ini didirikan pada zaman Romawi dari tahun 330. Selain posisinya yang strategis, Konstantinopel adalah pusat dari agama Kristen Ortodoks, sehingga punya kepentingan secara simbolis juga.

Kedua, temen-temen harus tauuu kalau Konstantinopel ini gila susah banget ditembus sama musuh. Ada banyak faktor yang menyebabkan hal ini, salah satunya adalah kompleks dinding Theodosia. Sederhananya, dibalik dinding dan dinding terus menerus. Jadi ga gampang tuh untuk membobolnya. Belum lagi ada Bizantium ini punya senjata rahasia yang disebut ‘api yunani’, yaitu pelontar api yang apinya ga bisa dipademin pake air. Iya, mereka punya flamethrower dari dulu, gokil emang. 

Muhammad Al Fatih, Konstantinopel
Skema Dinding Theodosia di Konstantinopel (Dok. Wikimedia Commons)

Sebelum Sultan Muhammad Al Fatih, udah banyak orang-orang yang mencoba menaklukan Konstantinopel. Bahkan ayah sang Sultan pun pernah mencoba menaklukan Konstantinopel dan gagal. Dalam sejarah, Konstantinopel pernah berhasil ditaklukkan satu kali oleh pasukan tentara salib di Perang Salib ke-4. Tentu serangan-serangan ini berdampak bagi Konstantinopel yang sudah jatuh dari masa kejayaannya. Populasinya berkurang karena wabah penyakit dan serangan terus-menerus, tetapi ini tidak berarti Konstantinopel mudah ditaklukkan.

Pengepungan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al Fatih

Pada 6 April 1453, Sultan Muhammad Al Fatih mengumpulkan pasukan dengan jumlah besar yang dikatakan mencakup setidaknya 100.000 tentara dan muncul di depan tembok kota yang kuat dengan penuh percaya diri. Dalam proses pengepungan Konstantinopel, ia berkata:

Hai Konstantinopel! Antara saya menaklukan anda, atau anda menaklukan saya!

Sultan Muhammad Al Fatih
Muhammad Al Fatih, Konstantinopel
Pengepungan Konstantinopel (Dok. Wikimedia Commons)

Kota Konstantinopel dikepung melalui laut dan darat, Kaisar Konstantin XI Palaiologos menolak ultimatum Muhammad Al Fatih untuk menyerah. Konstantinopel dengan pasukan sebanyak 5000 hingga 7000 orang diserang oleh Turki Utsmaniyah. Meriam Turki yang besar ditembakkan ke arah dinding, namun waktu interval penggempuran meriam ini memberi kesempatan bagi pasukan Konstantinopel untuk memperbaiki dindingnya. 

Konstantinopel memiliki satu teluk bernama tanduk emas yang diberikan rantai untuk mencegah kapal musuh menyerang melaluinya. Sultan Muhammad Al Fatih mengakali rintangan ini dengan memerintahkan kapal-kapal perangnya ditarik di darat menggunakan kerbau dan mendorongnya kembali ke laut. 

Muhammad Al Fatih
Lukisan Pasukan Turki Utsmaniyah mendorong kapalnya ke darat (Dok. Wikimedia Commons)

Tindakan ini bisa dibilang menjadi titik balik dalam pengepungan Konstantinopel. Pasukan Bizantium perlu memindahkan tentara bagian tembok yang menghadap ke laut, mengurangi jumlah pasukan yang berjaga di tembok yang menghadap ke darat. Akhirnya pada 29 Mei 1453, setelah 53 hari pengepungan, bagian dinding Konstantinopel yang hancur memberi celah untuk pasukan Turki Utsmaniyah masuk. Kaisar Konstantin XI Palaiologos meninggal bersama pasukannya ketika menyerbu pasukan Turki Utsmaniyah yang masuk.

Penerus Roma

Sesuai tradisi ghazi, Sultan Muhammad Al Fatih mengizinkan penjarahan Konstantinopel selama 3 hari. Setelah hari ketiga ia masuk dan segera pergi ke Hagia Sophia, sebuah Gereja Ortodoks dan mengubahnya menjadi Masjid. Setelah menaklukan Konstantinopel, Mehmed II mendapatkan julukannya sebagai ‘Al Fatih’ yang memiliki arti ‘Sang Penakluk’. Tidak hanya itu, ia telah mengambil gelar ‘Kayser-i Rum’ (Kaisar Romawi), menunjukkan niatnya untuk melanjutkan Kekaisaran Romawi daripada menggantikannya. 

Muhammad Al Fatih
Lukisan Sultan Muhammad Al Fatih memasuki Konstantinopel (Dok. Wikimedia Commons)

Sultan Muhammad Al Fatih juga mengumumkan Konstantinopel sebagai ibu kota baru dari Turki Utsmaniyah. Untuk memulihkan populasi kota, ia memerintahkan untuk memindahkan orang-orang dari daerah Anatolia dan Balkan ke ibu kota barunya, terlepas dari etnis atau agama, dan dia memerintahkan tentaranya yang bertempur dalam pengepungan untuk memulihkan dan membangun kembali infrastruktur yang rusak.

Melanjutkan Penaklukan

Setelah jatuhnya Konstantinopel, Sultan Muhammad Al Fatih mengkonsolidasi kekuasaannya di Turki Utsmaniyah. Ia menggantikan pejabat-pejabat pemerintah dengan orang-orang yang ia percaya. Pengadilan Kerajaan (Divan) diisi oleh orang yang setia kepadanya sehingga memberinya otoritas dan kekuasaan yang lebih besar.

Dekade-dekade berikutnya, sang Sultan mengisi kegiatan di hidupnya dengan ekspansi wilayah dan peperangan. Ia melakukan serangkaian kampanye militer di wilayah Balkan, Hungaria, Walachia, Moldavia, Anatolia, pulau Rhodes, dan bahkan hingga Semenanjung Krimea dan Otranto di Italia selatan. 

Kekuatan militer dari Turki Utsmaniyah di bawah Sultan Muhammad Al Fatih hampir tidak terkalahkan. Kekalahan besar pertamanya ada pada pengepungan Beograd di Serbia pada tahun 1456. Kekalahan ini pun tidak menghalangi kemenangan Turki Utsmaniyah di Serbia yang akhirnya sukses pada tahun 1459.

Salah satu kampanye militernya yang paling terkenal adalah kampanyenya di Walachia, di mana ia melawan pasukan Vlad Drakula yang namanya digunakan sebagai inspirasi tokoh vampir pada novel horor Drakula. Kekejamannya yang luar biasa seperti memaku serban utusan Turki Utsmaniyah yang menagih upeti ketika menolak melepaskan serban karena alasan tradisi.

Muhammad Al Fatih. Vlad Drakula
Vlad Drakula dan 2 utusan Turki Utsmaniyah (Dok. Wikimedia Commons)

Ketika tentara Vlad Drakula menyerang Sultan Muhammad Al Fatih pada malam hari dan gagal, mereka melarikan diri. Sultan Muhammad Al Fatih kemudian membawa pasukannya untuk menyerang ibu kota Wallachia, Targoviste. Ketika mereka tiba, kota tersebut telah ditinggalkan oleh penghuninya. Yang menyambut pasukan Turki Utsmaniyah adalah jasad 23.844 orang Turki yang disula (teknik penyiksaan dan hukuman mati dengan cara menusukkan sebuah batang yang ujungnya runcing secara vertikal ke korban).

Dikatakan bahwa bahkan Sultan Muhammad Al Fatih tercengang ketika melihat pemandangan tersebut. Pada akhirnya, Vlad Drakula meninggal dalam pertempuran dan kepalanya dikirimkan ke Sultan Muhammad Al Fatih. Wallachia berhasil disubjugasi dan membayar upeti kepada Turki Utsmaniyah.

Akhir Hidup Muhammad Al Fatih

Melihat kampanye militer terakhirnya di Otranto di Italia selatan (1480), Sultan Muhammad Al Fatih menunjukkan bahwa ia bermaksud untuk menyerang Italia dalam upaya untuk mendirikan kerajaan Romawi baru. Namun pada musim semi berikutnya, Sultan Muhammad Al Fatih yang baru saja mau memulai kampanya militer baru di Anatolia, meninggal 25 km dari Konstantinopel pada tanggal 3 Mei 1481. 

Muhammad Al Fatih
Makam Sultan Muhammad Al Fatih (Dok. Wikimedia Commons)

Sultan Muhammad Al Fatih meninggal pada usia 49 tahun dikarenakan sakit asam urat yang dideritanya selama beberapa waktu. Walau begitu, ada indikasi bahwa ia diracuni oleh anak sulung dan penggantinya, Bayezid. Sultan Muhammad Al Fatih dimakamkan di Kompleks Masjid Fatih. Berita wafatnya disambut oleh orang-orang Eropa. Menurut kabar di Venezia, masyarakat terdengar mengatakan bahwa “Elang Agung sudah meninggal,” 

Selama Sultan Muhammad Al Fatih berkuasa, ia memberlakukan perubahan administratif, reorganisasi kekuatan militer, proyek konstruksi, dan penaklukan wilayah yang luas. Di sisi lain, ia juga dikenal sebagai dermawan seniman dan penulis. Sejak kecil ia membaca sastra Yunani dan Romawi klasik dan terus mengumpulkan dan membaca manuskrip sepanjang hidupnya. Dia mendukung penyair, penulis, ulama, dan mengundang para filsuf, astronom, serta pelukis dari seluruh Eropa dan Timur Tengah ke istananya.

Muhammad Al Fatih
Wilayah Turki Utsmaniyah pada tahun 1481 ketika Sultan Muhammad Al Fatih meninggal (Dok. Wikimedia Commons)

****

Andaikan Sultan Muhammad Al Fatih hidup lebih tua, apa mungkin ya dia menaklukkan seluruh semenanjung Italia? Atau setidaknya merebut kota Roma, menggabungkan Konstantinopel dan Roma di bawah satu bendera untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun! Serunya sejarah itu kita bisa berandai-andai skenario yang mungkin aja terjadi. Kalau menurut temen-temen gimana tuh, bisa ga ya Turki Utsmaniyah menguasai Italia? Kasih tau gua pendapat kalian di kolom komentar guys!

Referensi:

The Ottomans. Mehmed the Conqueror. Diakses pada 5 Oktober 2021 melalui https://www.theottomans.org/english/campaigns_army/Mehmed-the-Conqueror-2.asp

Daily Sabah. (2020). Mehmed the Conqueror: An intellectual genius among Ottoman sultans. Diakses pada 5 Oktober 2021 melalui https://www.dailysabah.com/arts/portrait/mehmed-the-conqueror-an-intellectual-genius-among-ottoman-sultans

Britannica. (2021). Mehmed II. Diakses pada 5 Oktober 2021 melalui https://www.britannica.com/biography/Mehmed-II-Ottoman-sultan
Khokar, Zain. (2020). Mehmed II. Diakses pada 5 Oktober 2021 melalui https://www.worldhistory.org/Mehmed_II/

Your Dictionary. Mehmed the Conqueror. Diakses pada 5 Oktober 2021 melalui https://biography.yourdictionary.com/mehmed-the-conqueror
All About Turkey. Sultan Mehmed II the Conqueror. Diakses pada 5 Oktober 2021 melalui https://www.allaboutturkey.com/mehmet2.html

Utomo, Ardi. (2019). Biografi Tokoh Dunia: Mehmed II Sang Penakluk, Sultan Ottoman Turki. Diakses pada 5 Oktober 2021 melalui https://internasional.kompas.com/read/2019/04/02/22084591/biografi-tokoh-dunia-mehmed-ii-sang-penakluk-sultan-ottoman-turki?page=all

Nurdyansa. (2019). Biografi Muhammad Al Fatih (Mehmed II), Kisah Penaklukan Konstantinopel Artikel diambil dari Biografiku.com. Diakses pada 5 Oktober 2021 melalui https://www.biografiku.com/biografi-muhammad-al-fatih/

Bagikan artikel ini: