Kenapa Ada Orang Yang Tidak Bisa Ngomong R Alias Cadel?

Cadel

Artikel ini membahas tentang cadel: definisi, penyebab, serta terapi.

Hai sobat Zenius, kembali lagi bersama gue, Grace! Apa hal pertama yang terpikirkan di benak lo ketika mendengar kata ‘cadel’? Apakah lo langsung kepikiran sama teman lo yang nggak bisa ngomong R? Atau mungkin lo jadi inget sama si imut Rafathar yang sangat khas dengan gaya bicaranya?

Apakah lo pernah bertemu dengan orang yang nggak bisa ngomong R?

View Results

Loading ... Loading ...

Pada artikel kali ini, gue akan membahas apa sih sebenarnya cadel itu dan penyebab serta terapi yang bisa dilakukan apabila lo ingin menghilangkan kondisi tersebut. 

 

apa itu cadel

 

Apa itu Cadel atau Rhotacism

Cadel
Dok: Tenor

Cadel (dalam Bahasa Inggris: Rhotacism) adalah sebuah masalah linguistik yang didefinisikan sebagai kurangnya kemampuan atau kesulitan dalam mengucapkan bunyi ‘R’ (CogniFit, 2018). Biasanya ketika orang cadel melafalkan ‘R’, akan terdengar seperti huruf ‘L’ atau ‘W’. Hal ini biasanya terjadi pada anak balita dan bisa juga terbawa hingga dewasa.

Sebenarnya, cadel tidak terbatas pada kesulitan mengucapkan ‘R’ saja. Bisa juga kesulitan mengucapkan konsonan lainnya seperti ‘L’, ‘S’, ‘D’, ‘T’ dan sebagainya. Namun, di Indonesia orang cadel sering dikaitkan dengan kurangnya kemampuan dalam mengucapkan ‘R’. Apalagi, pengucapan ‘R’ sangatlah tegas dan jelas dalam bahasa Indonesia. Sebagai pembanding, coba lo dengarkan orang Inggris, Cina, dan Jepang. Orang Inggris dan Cina cenderung tidak mengucapkan R dengan kuat. Sedangkan, orang Jepang seringkali mengucapkan ‘L’ menjadi ‘R’.

Supaya lebih jelas, coba lo lihat video ngakak yang dulu viral banget dari komedian Jepang. Penyanyi lagu di video ini termasuk cukup baik dalam mengucapkan huruf ‘L’. Namun, ketika menyanyikan lalalala lulululu di waktu 1:13, lo bisa dengar pengucapannya menjadi lalalala luruluru. Selain itu pada sekitar detik ke-50, lo juga bisa mendengar “orang yang datang wajahnya teraru dekat, menyebarkan“. Kata yang dimaksud oleh sang penyanyi sebenarnya adalah ‘terlalu’ dan ‘menyebalkan’. Namun, memang orang Jepang terbiasa untuk mengatakan ‘R’ karena tidak biasa mengucapkan ‘L’.

 

Bagaimana dengan kasus cadel di Indonesia? Terdapat sebuah penelitian oleh Jaelani dan Triyanto (2020) yang memperhatikan seorang anak cadel berumur 4 tahun. Ketika ditanya soal warna pada sebuah gambar pelangi, anak tersebut menyebutkan: “malah”, “kuning”, “hidou”, dan “bilu”. Bisa dilihat bahwa anak tersebut mengalami beberapa kesulitan dalam pengucapan, khususnya dalam melafalkan ‘R’ sehingga berubah menjadi “L”. Kira-kira apa saja yang penyebab dari kondisi ini?

 

Apa penyebab cadel?

Untuk mengetahui penyebab cadel, mari kita coba lihat hasil eksplorasi dari sebuah jurnal ilmiah oleh Sundoro, Oktaria, dan Dewi (2020). Berdasarkan jurnal tersebut dan beberapa sumber lainnya, terdapat beberapa penyebab cadel, yaitu:

Masalah Organ Bicara

  • Lidah terlalu besar (macroglossia) atau terlalu pendek.
  • Tongue-tie atau (ankyloglossia), sebuah kondisi di mana jaringan ikat yang menempel di bawah lidah.
  • Otot lidah tidak kuat.

Kebiasaan

  • Ketika kecil, anak cadel dianggap lucu. Tanpa pengajaran dan pembiasaan, kebiasaan ini dapat terbawa hingga dewasa.
  • Sering mendengar pengucapan yang cadel. Contoh, sejak kecil sering mendengar bahasa Inggris atau Bahasa Asing lainnya sehingga pengucapan mengikuti gaya bahasa tersebut.

Terapi Untuk Cadel

Rhotacism Cadel
Dok: Tamie Valdez via Pinterest

Apabila lo memang ingin menghilangkan kondisi ini, lo bisa mencoba untuk langsung menemui terapis wicara atau mencari informasi tentang terapi untuk cadel. Berikut ini contoh video terapi dari seorang terapis wicara:

Jika artikel dan video terapi wicara yang lo temukan di internet belum bisa banyak membantu, lo bisa coba ikut sesi terapi dengan terapis profesional secara langsung.

 

Apa yang harus kita lakukan bila ada teman atau saudara kita yang cadel?

Apabila di sekitar lo ada orang (misal saudara atau teman) yang cadel, jangan pernah menghina atau meledek mereka. Mungkin lo sebenarnya hanya ingin bercanda. Namun, hal ini bisa dikategorikan sebagai bullying yang menyakitkan bagi korban lho. Mungkin mengejek teman terkesan sepele, namun tindakan bullying bisa memicu perubahan pada otak serta masalah kesehatan mental yang berhubungan dengan depresi dan kecemasan. Bahaya kan? Padahal kenyataannya, cadel merupakan kondisi yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan bila orang tersebut memang tidak merasa terganggu. Banyak kok public figure dari berbagai negara maupun negara kita sendiri memiliki kesusahan dalam menyebutkan huruf tertentu entah karena masalah organ bicara maupun kebiasaan.  

******

Nah, sekarang sobat Zenius tahu kan bahwa cadel sebenarnya tidak hanya soal kesulitan mengucapkan ‘R’ namun juga bisa konsonan lain. Lo juga sekarang sudah paham penyebab dari kondisi ini. Kira-kira lo ada pertanyaan nggak nih soal cadel? Kalau ada pertanyaan atau komentar, langsung aja nggak usah malu-malu komen di bawah. Oke? Ciao!

Referensi

Jaelani, E. P. dan Triyanto. (2020). ANALISIS GANGGUAN MEKANISME BERBICARA PADA ANAK CADEL. Diambil dari https://journal.unpak.ac.id/index.php/salaka/article/view/2488/1824#

Arsal, A. F.(2021). Analisis Pedigree Cadel(Studi Kasus Beberapa Kabupaten di Sulawesi Selatan). Diambil dari https://ojs.unm.ac.id/jsainsmat/article/view/740/172

Neuroscience News. 2018. How Bullying Affects the Brain. Retrieved from https://neurosciencenews.com/brain-bullying-10331/

Sundoro, et al. (2020).  Kredo 3 (2020) POLA TUTUR PENDERITA CADEL DAN PENYEBABNYA:  KAJIAN PSIKOLINGUISTIK. KREDO: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra Terakreditasi Sinta 4 berdasarkan Keputusan Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor: 23/E/KPT/2019. https://jurnal.umk.ac.id/index.php/kredo/index   338 | Jurnal Kredo   Vol. 3 No. 2 April 2020  

 

Bagikan Artikel Ini!