Tujuan dan Cara Reproduksi Makhluk Hidup – Materi Kelas 9

Tujuan dan cara reproduksi makhluk hidup

Sobat Zenius, makhluk hidup bisa melakukan reproduksi dengan dua cara, yaitu reproduksi aseksual dan seksual. Hmm… kok bisa begitu? Terus bedanya apa? Terus makhluk hidup apa aja yang bisa melakukan reproduksi aseksual?

Wah… banyak juga ya, pertanyaan Sobat Zenius! Tenang, gue akan kupas tuntas sampe jelas. Tapi, sebelum kita bahas semua itu, gue mau tanya dulu… elo udah tau apa tujuan dari reproduksi?

Apakah jawaban elo… memiliki keturunan? Nah, coba kita bahas, ya!

Tujuan Reproduksi

Sobat Zenius, arti dari reproduksi itu adalah memiliki keturunan. Jadi, kalau tujuan reproduksi dijawab memiliki keturunan ya kurang tepat, karena kedua kata itu artinya sama aja he he he

Terus jawaban yang lebih tepat apa, dong? Gini, guys, ketika makhluk hidup menghasilkan keturunan dengan cara reproduksi aseksual dan seksual, maka keturunannya pasti jenisnya sama dengan induknya. Iya, dong? Induk kucing, anaknya kucing. Induk mawar, ya akan menghasilkan tumbuhan mawar juga.

Nah, dengan adanya reproduksi, jenis makhluk hidup tertentu akan terus ada, karena jumlah mereka semakin bertambah seiring waktu. Atau, dengan kata lain tujuan dari reproduksi adalah agar setiap makhluk hidup bisa melestarikan jenisnya.

Mewariskan DNA

Sobat Zenius, menurut elo kenapa induk yang melakukan reproduksi aseksual dan seksual pasti punya anakan yang sama dengan mereka? Bahkan, anakan ini punya warna kulit, warna bunga yang sama dengan induknya.

Benar, jawabannya… DNA!

Jadi, seperti yang udah kita pelajari, makhluk hidup itu tersusun dari sel. Di dalam inti sel ada yang namanya DNA, guys. DNA ini adalah bagian makhluk hidup yang mengkode sifat. Eits, sifat di sini maksudnya bukan sifat penakut, pemarah, atau pemberani ya hehehe. Sifat ini seperti warna rambut, warna mata, warna kulit, bentuk tubuh, dan ciri fisik lainnya.

Nah, ketika makhluk hidup melakukan reproduksi aseksual dan seksual, makhluk hidup mewariskan DNA mereka ke keturunannya. Kalau induknya ada dua, maka anaknya akan mendapat dua macam DNA. Karena inilah sifat anakan bisa mirip, atau bahkan sama dengan indukannya.

Kalau diibaratkan nih, DNA itu ibarat resep makanan, guys. Coba bayangin kalau elo mau masak spaghetti bolognaise. Elo kan harus masak spaghetti-nya dulu, terus masak saus bolognaise-nya kan?

Nah, begitu pula dengan DNA. Jadi, ada resep untuk tangan, untuk kaki, untuk rambut, untuk wajah, dan lain-lain. Seperti resep makanan yang berbeda-beda, resep DNA setiap jenis makhluk hidup juga berbeda-beda. DNA tumbuhan berbeda dengan manusia, dan seterusnya.

Oke, DNA pohon sama kucing pasti beda. Tapi gimana DNA kucing oren dengan kucing hitam? Apa beda juga? Yup, berbeda juga! Jumlah DNA-nya mungkin bisa aja sama, tapi detailnya berbeda-beda.

Reproduksi aseksual dan seksual
Contoh hasil reproduksi pada tumbuhan (Arsip Zenius)

Cara Reproduksi Aseksual dan Seksual

Sobat Zenius, makhluk hidup melakukan reproduksi dengan berbagai cara. Ada hewan yang beranak dan menghasilkan telur, ada tumbuhan yang menghasilkan tunas baru, ada juga makhluk hidup yang bereproduksi dengan membelah diri.

Namun, secara umum kita bisa mengelompokkan reproduksi ke dalam dua jenis, yaitu reproduksi aseksual dan seksual. Hmm… apa bedanya reproduksi aseksual dan seksual? Yuk, kita lihat!

Reproduksi Seksual

Reproduksi seksual adalah reproduksi yang melibatkan dua induk dengan jenis kelamin berbeda, sehingga terjadi penggabungan dua DNA. Jadi, ada dua induk yang memberikan DNA untuk anak-anaknya melalui perkawinan.

Pada hewan-hewan jantan sel sperma lah yang bertugas membawa setengah DNA. Sedangkan pada hewan betina, setengah DNA dibawa oleh sel telur. Ketika sel sperma bertemu sel telur, sel sperma akan memberikan setengah DNA yang dia bawa itu ke sel telur. Peristiwa ini yang dikenal dengan nama pembuahan. Hasilnya adalah zigot yang akan berkembang jadi anak.

Sobat Zenius, ada banyak hewan yang melakukan reproduksi seksual, salah satunya ikan. Tapi, menurut elo, gimana caranya ikan kawin?

Ternyata, pembuahan pada ikan itu nggak terjadi di dalam tubuh ikan. Ikan betina dewasa akan melepaskan sel telur ke lingkungan atau air meski nggak ada ikan jantan. Nanti, ketika ada ikan jantan yang sudah dewasa juga, mereka akan melepaskan sel sperma juga, sehingga sel sperma dan sel telur ikan ketemu di air. Jadi, pembuahan ikan terjadi di luar tubuh.

Dari sini, kita jadi tahu bahwa pembuahan bisa terjadi di dalam tubuh dan di luar tubuh. Pembuahan di dalam tubuh disebut pembuahan internal, sedangkan pembuahan di luar tubuh disebut pembuahan eksternal.

Perbedaan pembuahan internal dan pembuahan eksternal
Perbedaan pembuahan internal & eksternal (Arsip Zenius)

Pembuahan Internal

  • Pembuahan yang terjadi di dalam tubuh
  • Dibanding pembuahan eksternal, sel sperma hampir pasti bertemu dengan sel telur sehingga tingkat keberhasilannya lebih tinggi
  • Karena tingkat keberhasilannya tinggi, sel telur yang digunakan lebih sedikit
  • Namun, pembuahan internal relatif lebih sulit terjadi, karena kedua induk harus bertemu secara langsung

Pembuahan Eksternal

  • Pembuahan terjadi di luar tubuh, di lingkungan tinggal hewan
  • Tingkat keberhasilan pembuahan eksternal lebih rendah, karena bergantung dengan faktor lingkungan. Bisa saja lingkungan terlalu panas atau dingin sehingga membunuh sel telur, bisa juga lingkungan tidak aman sehingga sel sperma sudah dimakan hewan lain sebelum bertemu sel telur.
  • Karena tingkat keberhasilannya yang rendah, sel telur yang dikeluarkan oleh betina pun jauh lebih banyak.
  • Pembuahan eksternal relatif lebih mungkin terjadi karena kedua induk tidak harus bertemu secara langsung.

Reproduksi Seksual pada Tumbuhan

Reproduksi seksual juga terjadi pada beberapa jenis tumbuhan, yaitu pada tumbuhan yang menghasilkan bunga jantan dan bunga betina. Alat reproduksi bunga jantan adalah benang sari dan alat reproduksi bunga betina adalah putik.

Benang sari akan menghasilkan serbuk sari yang nantinya akan jatuh di putik. Proses ini disebut penyerbukan. Setelah itu, akan akan terjadi proses pembuahan hingga bunga menghasilkan buah, setelah itu buah akan menghasilkan biji yang menjadi cikal bakal tumbuhan baru.

Reproduksi Aseksual

Reproduksi aseksual adalah reproduksi yang terjadi jika hanya ada satu induk. Jadi, nggak ada perkawinan di sini, anak pun berasal dari pembelahan sel tubuh induknya. Biasanya, reproduksi aseksual terjadi pada organisme-organisme sederhana.

Contohnya adalah anemon laut. Sel tubuh anemon laut akan membelah hingga muncul bagian kecil di tubuh si anemon laut. Bagian ini akan tumbuh, lalu melepaskan diri dari induknya. Cara reproduksi aseksual ini disebut tunas. Nah, pada reproduksi aseksual, DNA anak akan seratus persen sama dengan induknya.

Contoh lainnya adalah cacing pipih. Ketika tubuh cacing pipih dibelah, masing-masing potongan tubuh itu bisa tumbuh menjadi individu baru. Cara reproduksi ini disebut fragmentasi.

Contoh lainnya adalah pada hewan lebah. Lebah betina tetap akan menghasilkan telur meski nggak dibuahi oleh lebih jantan. Telur yang nggak dibuahi ini akan menjadi lebah betina, sedangkan telur yang dibuahi oleh lebah jantan akan menjadi lebah jantan. Cara ini dikenal dengan nama partenokarpi.

Reproduksi Aseksual pada Tumbuhan

Reproduksi aseksual pada tumbuhan hanyalah dengan cara bertunas. Syarat agar tumbuhan bisa bertunas adalah tumbuhan harus memiliki sel yang aktif membelah dan mendapat cukup nutrisi. Nutrisi yang dibutuhkan tumbuhan bisa didapat dari tanah.

Baca juga:

Mengenal Sifat Tanah dan Manfaatnya

Kelebihan & Kekurangan Reproduksi Aseksual dan Seksual

Kelebihan & kekurangan reproduksi aseksual dan seksual
Kelebihan & kekurangan reproduksi aseksual dan seksual (Arsip Zenius)

Guys, tadi kita udah sama-sama belajar tentang perbedaan reproduksi aseksual dan seksual. Menurut kalian, mana yang lebih menguntungkan untuk makhluk hidup?

Jawabannya… nggak ada! Reproduksi aseksual dan seksual punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Coba kita bahas satu per satu, ya.

  • Reproduksi seksual menghasilkan anakan yang lebih bervariasi daripada reproduksi aseksual. Dengan banyaknya variasi, kita bisa menemukan anakan yang lebih unggul dari yang lain. Contohnya variasi bibit yang kebal pada penyakit tertentu.
  • Reproduksi seksual membutuhkan waktu yang relatif lama dan energi yang lebih besar, sehingga anak yang dihasilkan lebih sedikit. Sedangkan reproduksi aseksual lebih cepat karena kebutuhan energinya lebih sedikit, sehingga anak yang dihasilkan lebih banyak.
  • Kesimpulannya, reproduksi seksual menguntungkan bagi makhluk hidup yang bertahan di lingkungan hidup yang keras, sedangkan reproduksi aseksual cocok untuk lingkungan yang kondusif: yang nggak ada penyakit dan banyak nutrisi.

Teknologi Reproduksi pada Makhluk Hidup

Sobat Zenius, teknologi ternyata nggak terbatas dalam bidang komunikasi aja, ya. Dalam bidang reproduksi makhluk hidup juga ada teknologi. Teknologi dalam bidang reproduksi fungsinya adalah merekayasa proses reproduksi, baik reproduksi aseksual dan seksual, berdasarkan prinsip sains untuk memenuhi kebutuhan.

Wah, contohnya apa? Contohnya bisa kita lihat dalam bidang pertanian. Ada bunga yang sulit berkembang biak, padahal bunga ini banyak dicari orang dan bisa dijual sebagai tanaman hias. Nah, para petani bunga pun menggunakan teknologi untuk membantu bunga ini berkembang biak dengan lebih cepat.

Contoh lain lagi bisa kita lihat pada peternakan hewan. Biasanya, para peternak menggunakan teknologi tertentu supaya hewan ternak bisa menghasilkan lebih banyak anak dalam waktu yang lebih singkat.

Teknologi Reproduksi pada Tumbuhan

Teknologi reproduksi pada tumbuhan
Teknologi reproduksi pada tumbuhan (Arsip Zenius)

Sobat Zenius, waktu dari tadi gue ngomongin teknologi, elo kebayangnya teknologi yang kaya gimana? Yang canggih-canggih? Nah, teknologi reproduksi nggak melulu “tampak canggih”, guys.

Dalam teknologi reproduksi, yang penting metode atau teknologinya sesuai dengan prinsip reproduksi aseksual dan seksual setiap makhluk hidup. Contohnya pada tumbuhan, prinsip reproduksi aseksual tumbuhan adalah ada sel induk yg aktif membelah dan nutrisi untuk menghasilkan anak.

Nah, prinsip ini bisa kita gunakan untuk mendukung tumbuhan bereproduksi. Caranya, dengan kita cari sel yang aktif membelah, misalnya kambium, lalu kita potong dan kita tanam di tanah yang penuh dengan nutrisi. Cara ini dikenal dengan nama stek.

Bisa juga, kita kupas kulit batang sehingga kambium terbuka, lalu kita tutup dengan tanah. Cara ini dikenal dengan nama cangkok.

Stek dan cangkok biasanya dilakukan langsung di lingkungan, tapi ada juga tanaman-tanaman yang bisa dikembangbiakan di dalam laboratorium. Misalnya bunga-bunga yang tidak memiliki kambium. Biasanya, tumbuhan seperti ini adalah tumbuhan-tumbuhan yang sulit tumbuh dan perlu diatur kadar air, suhu, dan cahaya mataharinya.

Lalu, bagaimana dengan tumbuhan yang melakukan reproduksi secara seksual? Juga bisa, dong! Contohnya adalah pada tumbuhan kelapa sawit.

Seperti yang kita tau, kelapa sawit ini adalah bahan baku minyak goreng, jadi kebutuhannya dalam industri sangat besar. Tapi, pembuahan kelapa sawit ini sulit banget kalau dilakukan secara normal. Alasannya, karena serbuk sari dan putik kelapa sawit nggak matang di saat yang bersamaan.

Nah, terus caranya gimana? Caranya, manusia mengambil serbuk sari kelapa sawit yang sudah matang lebih dulu untuk diawetkan. Nanti, ketika bunga betina kelapa sawit sudah cukup dewasa dan bisa bereproduksi, serbuk sari ini yang tadi diawetkan akan ditabur ke bunga kelapa sawit.

Baca juga:

Mengenal Teknologi Ramah Lingkungan

Teknologi Reproduksi pada Hewan & Manusia

Seperti yang tadi gue bilang di atas, teknologi reproduksi juga bisa dimanfaatkan pada hewan. Nah, teknologi reproduksi pada hewan dikenal dengan nama inseminasi buatan. Contoh penerapannya adalah pada sapi.

Sapi ini bermanfaat banget kan, guys, untuk manusia. Sapi bisa dimanfaatkan sebagai hewan yang membantu kerja petani, bisa diperah susunya, dan hampir seluruh bagian tubuhnya bisa dimanfaatkan sebagai makanan. Masalahnya, ternyata sapi ini sulit banget untuk bereproduksi secara alami.

Akhirnya, manusia membantu dengan cara mengambil sperma sapi jantan, lalu menyuntikan sperma itu langsung ke saluran reproduksi sapi betina. Oh iya, inseminasi buatan seperti ini juga dimanfaatkan oleh manusia, loh.

Tapi untuk manusia, itu bukan satu-satunya cara. Cara lain yang digunakan oleh manusia adalah dengan mempertemukan sel telur dan sperma melalui media khusus di laboratorium. Sel sperma ini membuahi telur sehingga berkembang jadi embrio. Ketika sudah menjadi embrio, embrio akan diletakkan di rahim agar bisa tumbuh. Teknologi ini yang kita kenal dengan nama bayi tabung.

Wah, ternyata pemanfaatan teknologi dalam membantu reproduksi aseksual dan seksual pengaruhnya besar ya bagi makhluk hidup!

Sobat Zenius, itu tadi pembahasan gue tentang tujuan reproduksi serta perbedaan reproduksi aseksual dan seksual. Kalau elo mau belajar materi ini lebih jauh dan coba ngerjain soal-soal tentang materi tujuan serta perbedaan reproduksi aseksual dan seksual ini, klik banner di bawah, ya!

Materi Biologi SMA

Yuk, segera berlangganan paket belajar Zenius untuk dapetin ribuan materi belajar, live class dengan tutor-tutor Zenius, serta akses ke banyak banget soal dan pembahasan. Segera klik banner di bawah, dan taklukkan PTS, PAS, dan PAT bareng Zenius!

Tujuan dan Cara Reproduksi Makhluk Hidup - Materi Kelas 9 9

Bagikan Artikel Ini!