RA Kartini dan keluarganya

3 Cerita Sedih RA Kartini: Kena Diskriminasi hingga Putus Sekolah

Perayaan hari lahir RA Kartini tahun ini agak berbeda. Aturan sekolah dari rumah karena pandemi COVID-19 bikin kita ngelewatin tanggal 21 April tanpa pentas busana daerah, lomba tari, dan bazar seperti biasa. Tapi selalu ada cara untuk memaknai perjuangan RA Kartini. Salah satunya dengan napak tilas sejarah hidup sosok yang dijuluki “Si Jaran Kore” ini.

RA Kartini dan keluarga
RA Kartini (tengah) bersama orang tua dan saudara-saudaranya. (Dok. Wikimedia Commons)

Sebelum dikenal sebagai tokoh pergerakan wanita, RA Kartini punya masa lalu yang cukup memilukan. Kepada sahabat penanya di Belanda, ia menceritakan pedihnya hidup di tengah tradisi feodal Jawa. Lahir dari keluarga ningrat enggak otomatis bikin jalan hidupnya serba mulus lho. Perjuangannya mengangkat harkat perempuan pribumi nyaris tanpa karpet merah. Ia sempat melalui masa kecil yang sulit.

Sekelumit kisahnya ini bisa kamu tonton di film original production besutan Zenius. Tayang eksklusif hanya di aplikasi Zenius. Tonton cuplikan film di video berikut.

Latar Belakang Keluarga RA Kartini

RA Kartini lahir di Mayong, Jepara, 21 April 1879, dari rahim M.A. Ngasirah yang bukan keturunan ningrat. Ayahnya adalah RMA Ario Sosroningrat, calon bupati Jepara. 

Jalan sang ayahanda menuju kursi bupati sempat terbentur peraturan kolonial saat itu. Seorang bupati hanya boleh beristrikan wanita dari golongan bangsawan. Ngasirah, anak seorang mandor pabrik gula, dianggap kurang layak mendampingi sebagai istri utama.

Karena itu, Sosroningrat menikah lagi dengan Raden Ayu Moerjam–keturunan langsung raja-raja Madura. Usai resmi menikahi Moerjam, ayahanda Kartini pun diangkat sebagai bupati Jepara. Selain itu, Moerjam juga berubah status menjadi garwa padmi (istri utama), sedangkan Ngasirah menjadi garwa ampil (selir).

Dalam salah satu suratnya, tertanggal 21 Desember 1900, RA Kartini pernah bercerita soal diskriminasi terhadap sang ibu, “Saya menyaksikan penderitaan ibu saya dan karena saya anaknya. Aduhai, merasakan sedalam-dalamnya, itulah penderitaan neraka. Ada hari-hari tanpa kegembiraan dan amat sedih sampai saya terengah-engah dan mengidam-idamkan akhir hidup saya di dunia dan hendak mengakhirinya sendiri kalau saya tidak sangat mencintai ayah saya.

3 Cerita Sedih RA Kartini: Kena Diskriminasi hingga Putus Sekolah 17
                                                                                      Keluarga besar RA Kartini.

Hubungan RA Kartini dengan Sang Ibu 

Semasa RA Kartini hidup, nilai-nilai feodalisme (kebangsawanan) sangat berpengaruh besar. Kedudukan wanita diatur berdasarkan kelas sosial. Status ibu Kartini, Ngasirah, bukan hanya berada di bawah istri utama sang suami, tapi juga di bawah anak-anak kandungnya sendiri.

Imron Rosyadi dalam R.A. Kartini: Biografi Singkat 1879-1904, menyebut Ngasirah harus memanggil anak-anak kandungnya dengan sebutan “Ndoro”, sedangkan mereka memanggilnya “Yu”. Panggilan “Ibu” hanya boleh ditujukan kepada Moerjam, istri utama.

Hubungan selayaknya tuan-majikan ini juga terjadi antara RA Kartini dan adik-adiknya sendiri. Jika ia berjalan, sang adik tidak boleh mendahuluinya, kecuali dengan merangkak (mlaku dodok) di tanah. Jika sang adik duduk di kursi dan kakaknya lewat, ia harus segera turun ke bawah dengan kepala tertunduk sampai sang kakak jauh melewatinya.

BACA JUGA: Biografi Kartini: Bukan Hanya tentang Kebaya

Perlakuan diskriminatif juga dialami RA Kartini saat lahir. Karena statusnya sebagai putri seorang selir, RA Kartini lahir di bagian gedung keasistenwedanaan, bukan di gedung utama seperti saudara-saudaranya yang lain.

Dalam roman Kartini karangan sahabatnya, Marie C. van Zeggelen, Kartini tercatat dirawat oleh seorang emban atau pengasuh bernama Rami. Sementara sang ibu meninggalkan rumah usai melahirkan, seperti kebanyakan selir lainnya. 

Temuan berbeda datang dari Pramoedya Ananta Toer. Berdasarkan telaah surat-surat RA Kartini kepada Stella Zeehandelaar, Pram yakin Ngasirah tetap mengasuh putrinya dibantu Rami.

RA Kartini Putus Sekolah

Pada masa pemerintahan kolonial, anak-anak orang penting bersekolah di Europose Lagere School (ELS), termasuk RA Kartini. ELS atau Sekolah Rendah Eropa diperuntukkan bagi kalangan tertentu saja, yakni keturunan Eropa dan pribumi dari tokoh terkemuka. 

RA Kartini hanya bersekolah sampai usia 12 tahun. Sejak tahun 1892, ia harus menjalani masa pingitan sebagai persiapan berumah tangga. Awal-awal dipingit, yang dia rasakan hanya bosan, jenuh, dan sirik melihat kawan lainnya masih bebas bersekolah.

Adik-adiknya, Roekmini dan Kardinah, masih bersekolah sembari menunggu giliran dipingit. Sang kakak, RM Sosrokartono, bernasib lebih beruntung sebagai laki-laki. Ia boleh lanjut bersekolah di HBS Semarang, bahkan berkuliah di Universitas Leiden, Belanda.

3 Cerita Sedih RA Kartini: Kena Diskriminasi hingga Putus Sekolah 18                                                                                   Kartini serta dua adiknya, Kardinah dan Roekmini.

BACA JUGA: RMP Sostrokartono: Abang RA Kartini yang Jenius

Yang sempat bikin Kartini terpuruk, ia pernah ditawari lanjut sekolah ke Belanda oleh seorang guru setamat ELS. Tapi sang ayah melarang. Tradisi pingitan lebih wajib dari segala-galanya. Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar, Kartini bercerita dengan pedih, “Jangan tanyakan padaku, aku mau atau tidak, jangan. Tanyakanlah boleh atau tidak.

Sementara kepada Rosa Abendanon, Kartini menulis, “Berlalu sudah! Masa mudanya yang indah sudah berlalu! Berlalu sudah semua yang merupakan kegembiraan dalam hidup kanak-kanaknya yang muda. Ia merasa masih kanak-kanak sekali dan ia memang masih anak juga, tapi adat menggolongkannya sebagai orang dewasa.

Dalam masa pingitan itu, RA Kartini merasakan gejolak hebat. Gelar Raden Ayu yang tersemat pada namanya, nyatanya bukan sesuatu untuk dibanggakan. Ia mempertanyakan arti menjadi seorang berdarah biru, tapi tidak bebas bersekolah, segala tindak tanduknya diatur, dan terpaksa hidup sebagai kanca wingking saja, alias hanya berkutat di sumur, dapur, dan kasur.

Hidup dalam kungkungan tembok rumah ini lah yang membuat RA Kartini ngotot melawan nasib. Ia melumat habis berbagai buku. Berkorespondensi (surat-menyurat) dengan sahabat-sahabatnya di Belanda. Bahkan menulis untuk surat kabar. Dari situ, namanya terdengar sampai ke negeri seberang. Yang semula hanya berupa gagasan, hingga sejarah mencatatnya sebagai pahlawan yang mengangkat harkat wanita pribumi.

Referensi:

Rosyadi, Imron. 2012. R.A. Kartini: Biografi Singkat 1879-1904. Yogyakarta: Penerbit GARASI.