Materi IPA Kelas 7: Perubahan Iklim dan Dampaknya Bagi Ekosistem

Artikel ini membahas materi mata pelajaran IPA kelas 7 tentang perubahan iklim, dampaknya bagi ekosistem, beserta upaya penanggulangannya baik dari pemerintah maupun dari diri sendiri.

Kalian pasti pernah kan ngerasain jakarta kayaknya musim kemaraunya panjang banget? Atau kalau nggak ngeluhin panasnya jakarta suhunya udah kayak “neraka bocor”, dan sebagainya. Dilansir dari NASA, tercatat suhu permukaan rata-rata bumi telah meningkat sekitar 2,05 derajat Fahrenheit (1,14 derajat Celcius) sejak akhir abad ke-19, perubahan yang sebagian besar didorong oleh peningkatan karbon dioksida dan emisi buatan manusia lainnya ke atmosfer. Itulah kenapa rasanya kok dunia makin panas lama kelamaan, karena emang bumi kita saat ini mengalami yang namanya pemanasan global, sehingga menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Kok bisa?

Nah, di artikel ini kita bakal bahas mengenai perubahan iklim, dan juga dampaknya bagi kita semua dan ekosistem kita yang dipelajari di mata pelajaran IPA kelas 7. Nah perubahan iklim ini sebenarnya berkaitan secara tidak langsung sama artikel yang kita bahas sebelumnya mengenai pencemaran lingkungan, dan isu-isu mengenai perubahan iklim dan juga pemanasan global juga pastinya udah gak asing lah ya bagi kita? Namun, mungkin kita selama ini cuma sekedar tahu aja, tanpa bener-bener paham apa yang dunia kita alami, so biar kita paham betul mengenai perubahan iklim dan juga dampak serta penanggulangannya, baca artikel ini sampe abis ya!

Pengertian Perubahan Iklim

Secara sederhana pengertian perubahan iklim adalah perubahan pola dan fenomena unsur iklim dalam periode jangka panjang yang mencakup iklim lokal, regional, maupun global. Dimana perubahan iklim ini dikelompokkan menjadi perubahan iklim antropogenik, yaitu perubahan yang berbahaya akibat aktivitas atau perilaku manusia yang biasa kita sebut pemanasan global, berbeda dengan perubahan iklim yang memang terjadi akibat proses alami bumi.

Sebagai penyebab utama terjadinya perubahan iklim, pemanasan global atau sering kita sebut juga Global Warming merupakan meningkatnya atau kenaikan suhu bumi termasuk suhu di atmosfer, suhu di daratan, maupun suhu di lautan. 

 

Penyebab Perubahan Iklim

Seperti yang udah dijelaskan di atas kalo penyebab terjadinya perubahan iklim adalah dikarenakan meningkatnya jumlah karbon dioksida dan juga gas-gas emisi atau biasa disebut juga gas rumah kaca. Pada artikel pencemaran lingkungan yang sebelumnya, kita ada bahas nih bahwa dampak dari pencemaran udara adalah efek rumah kaca, nah efek rumah kaca ini lah yang menyebabkan terjadinya pemanasan global. Kemudian pemanasan global menyebabkan terjadinya perubahan iklim, dan kebanyakan hasil gas rumah kaca ini berasal dari kegiatan atau aktivitas manusia itu sendiri seperti penebangan pohon, penggunaan bahan bakar fosil, pencemaran air, terutama di laut, dan juga industri pertanian. Mari kita bahas mengenai penyebab terbesar dari pemanasan global yaitu efek rumah kaca.

Efek Rumah Kaca

efek rumah kaca-perubahan iklim
Sumber gambar: earthhow.com

Efek rumah kaca terjadi akibat gas-gas tertentu menghalangi panas keluar, dimana gas-gas tersebut bersifat semi-permanen dan tidak merespon terhadap perubahan suhu, sehinga panas tersebut panas tersebut terperangkap dan memaksakan perubahan iklim atau di deskripsikan sebagai “forcingclimate change. Gas-gas yang berkontribusi dalam efek rumah kaca, sebagai berikut:

Uap Air 

Uap air merupakan gas paling banyak dihasilkan dari efek rumah kaca, gas ini berperan sebagai “umpan balik”. Kenapa di sebut demikian? Karena uap air akan meningkat seiringan dengan suhu bumi yang juga meningkat, sehingga semakin banyak uap air yang membentuk awan, dan menurunkan hujan, itulah kenapa disebut sebagai mekanisme umpan balik.

Kabon dioksida (Materi IPA Kelas 7: Perubahan Iklim dan Dampaknya Bagi Ekosistem 25)

Sebenarnya karbon dioksida dilepaskan secara alami ketika kita bernafas dan juga pada saat terjadinya gunung meletus, namun, akibat perilaku dan perbuatan manusia yang melakukan penebangan pohon berskala besar atau biasa kita sebut penggundulan hutan, hal ini meningkatkan sebanyak 47% konsentrasi karbon dioksida ke atmosfer kita. Padahal peranan keberadaan pohon sangat penting, karena mampu menyerap gas-gas berbahaya dan mengubahnya menjadi oksigen (O2).

Metana (Materi IPA Kelas 7: Perubahan Iklim dan Dampaknya Bagi Ekosistem 26)

Sama halnya dengan karbon dioksida, metana juga secara alami berasal dari emisi geologis, dan tumbuh-tumbuhan, namun gas metana menjadi banyak dilepasakan ke atmosfer akibat berbagai perbuatan manusia seperti penambangan, kegiatan perternakan, dan juga limbah pengurai di pembuangan sampah. Perlu diketahui bahwa gas metana merupakan gas rumah kaca yang lebih aktif dibandingkan karbon dioksida meskipun jumlahnya jauh lebih sedikit dari pada karbon dioksida di atmosfer.

Dinitrogen Oksida (Materi IPA Kelas 7: Perubahan Iklim dan Dampaknya Bagi Ekosistem 27)

Dinitrogen oksida dihasilkan oleh adanya praktik budidaya tanah seperti penggunakan pupuk komersil dan organik, pembakaran bahan bakal fosil, pembakaran biomassa, dan juga produksi asam nitrat. Perlu diketahui bahwa dinitrogen oksida merupakan gas yang memiliki 298x pengaruh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida.

Klorofluorokarbon (CFC)

Klorofluorokarbon terdiri dari karbon, klorin, dan flourin ini merupakan senyawa sintetis murni yang dihasilkan akibat penggunaan produk seperti kulkas dan AC (Air Conditioner). Selain merupakan gas rumah kaca, Klorofluorokarbon juga merupakan gas yang dapat menipiskan lapisan ozon, dimana lapisan ozon itu berfungsi untuk melindungi bumi dari benda-benda langit dan juga menahan 98% sinar ultraviolet atau yang kita sebut sinar UV dari matahari.

 

Dampak Perubahan Iklim

Berikut beberapa dampak dari adanya perubahan iklim akibat pemanasan global, yang perlahan tapi pasti akan terjadi jika pemanasan global terus terjadi.

Semakin Meningkatnya Suhu Bumi

Semakin banyaknya gas rumah kaca yang dihasilkan, akan semakin besar juga efek rumah kaca tersebut, sehingga pemanasan global akan terus terjadi, dan suhu bumi akan terus meningkat seiring berjalannya waktu.

Mencairnya Es di Kutub

Mungkin beberapa dari kita udah cukup sering denger atau liat di berita bahwa semakin lama es di kutub mencair, bahkan NASA memperkirakan bahwa samudra arktik pada dasarnya bebas dari es atau tidak ada es lagi di musim panas sebelum pertengahan abad. Kalo kalian belum percaya, kalian bisa melihat bagaimana perubahan iklim mempengaruhi gletser, es laut, dan lapisan es benua di seluruh dunia saat ini di Global Ice Viewer.

Menaikkan Tinggi Permukaan Air Laut

grafik Sea Level- tinggi permukaan laut
Sumber: NASA Goddard Space Flight Center

Dari grafik yang merupakan data yang didapat dari pengamatan satelit diatas kita bisa liat dimana setiap tahunnya permukaan air laut semakin naik, Kenaikan tinggi permukaan laut terutama disebabkan oleh dua faktor yang berhubungan dengan pemanasan global, yaitu penambahan air dari lapisan es dan gletser yang mencair dan perluasan air laut saat menghangat. Yang berarti berarti volume air laut akan terus bertambah, sehingga tinggi permukaan air  laut akan terus meningkat, hal ini dapat mengancam orang-orang yang hidup di pesisir.

Pergeseran Musim dan perubahan curah hujan

Akibat adanya perubahan iklim, sehingga curah hujan, suhu, kelembaban, dan intensitas unsur iklim lainnya juga berdampak pada pergeseran musim dan juga perubahan curah hujan. Selain dapat berpotensi terjadinya kekeringan akibat musim kemarau yang berangsur lama, hal ini juga akan mempengaruhi petani dan dapat menyebabkan gagal panen. 

 

Upaya Penanggulangan Terhadap Perubahan Iklim

Penanggulangan terhadap perubahan iklim tidak dapat dilakukan sendirian. Misalnya nih ada sekelompok masyarakat yang dalam kesehariannya sudah berupaya menggunakan produk ramah lingkungan. Di sisi lain, ada masyarakat yang menolak hal tersebut dan merasa tidak perlu menggunakannya karena tidak percaya terhadap perubahan iklim. Karenanya, perlu kerja sama dari berbagai pihak termasuk masyarakat dan juga pemerintah.

Di Indonesia sendiri, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan membentuk satu unit kerja yang berfokus dalam menangani perubahan iklim khususnya dalam penyelenggaraan mitigasi, adaptasi, penurunan emisi gas rumah kaca, penurunan dan penghapusan bahan perusak ozon, mobilisasi sumber daya, inventarisasi gas rumah kaca, monitoring, pelaporan dan verifikasi aksi mitigasi perubahan iklim serta pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang disebut Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (DJPPI). Sesuai dengan yang dilansir di laman resmi DJPPI, berikut agenda pembangunan 2020-2024 dalam membangun lingkungan hidup dan meningkatkan ketahan bencana dan perubahan iklim (Prioritas Nasional atau PN 6).

Peningkatan Kualitas Hidup

Upaya peningkatan kualitas hidup berfokus pada 2 hal, yaitu:

Pencegahan Pencemaran dan Kerusakan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

  1. Pemantauan kualitas udara, air, air laut, dan ekosistem gambut
  2. Pencegahan kebakaran lahan dan hutan
  3. Peningkatan kesadaran dan kapasitas pemerintah, swasta, dan masyarakat terhadap lingkungan hidup
  4. Pencegahan kehilangan keanekaragaman hayati dan ekosistem
  5. Pemantauan kinerja pengelolaan lingkungan pada usaha dan/atau kegiatan

Penanggulangan Pencemaran dan Kerusakan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

  1. Penanganan pencemaran dan kerusakan lingkungan
  2. Pengurangan dan penanganan sampah rumah tangga dan sampah plastik
  3. Pengurangan dan penghapusan merkuri
  4. Pembangunan fasilitas pengelolaan limbah B3 dan limbah medis

Peningkatan Bencana Alam dan Iklim

Upaya peningkatan bencana alam dan iklim akan berfokus pada,

Peningkatan Ketahanan Iklim

  1. Perlindungan kerentanan pesisir dan sektor kelautan
  2. Perlindungan ketahanan air pada wilayah beresiko iklim

Pembangunan Rendah Karbon

Upaya pembangunan rendah karbon akan berfokus pada 3 hal, yaitu:

Pemulihan Lahan Berkelanjutan

  1. Restorasi dan pengelolaan lahan gambut
  2. Rehabilitasi hutan dan lahan
  3. Pengurangan laju deforestasi

Pengelolaan Limbah

  1. Penanganan sampah rumah tangga

Rendah Karbon Pesisir dan Laut

  1. Inventarisasi dan rehabilitasi ekosistem pesisir dan kelautan

Informasi lebih lengkapnya, kalian bisa membuka situs resmi DJPPI milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.

Tentunya upaya penanggulangan dari pemerintah tidak bisa berjalan efektif jika kita sendiri tidak turut andil dalam upaya meminimalisir pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim, agar tidak semakin memburuk, berikut beberapa upaya yang dapat kita lakukan dalam rangka penanggulangan perubahan iklim.

Bijaksana dalam Menggunakan Tisu dan Kertas

Kalian pasti tau kan kalo tisu dan kertas itu terbuat dari apa? Yap, dari kayu, kayu dari mana? Dari pohon, itulah kenapa kita perlu lebih bijak dalam menggunakan tisu dan kertas, karna konsumsi yang berlebihan membuat kita menyia-nyiakan pohon-pohon yang sudah ditebang, membuat tisu dan kertas yang kita miliki cepat habis kemudian kita beli lagi, dan juga menciptakan limbah sampah baru. Ini mungkin terlihat mudah tapi sulit untuk diterapkan karna habit atau kebiasaan kita. Bayangkan jika semua orang melakukan hal ini, demand atau permintaan dari kertas dan kayu kemungkinan akan berkurang yang artinya mengurangi pohon yang akan di tebang.

Ditambah sekarang udah jaman serba digital, kita bisa meminimalisir penggunaan kertas dengan memanfaatkan teknologi yang udah makin canggih sekarang.

Mengurangi Penggunaan AC (Air Conditioner)

Sebenarnya gak cuma penggunaan AC, kulkas, penggunaan cat kaleng, semprotan pengharum ruangan pun mengandung CFC, yang juga perlu kita kurangi penggunaannya. Banyak dari kita yang sering mengeluh jakarta panas kan? Dan hal ini membuat banyak dari kita menggunakan atau menyalakan AC, bahkan mungkin ada yang sampe 24 jam nonstop, namun secara tidak langsung kalian justru membuat bumi kita semakin panas karena menciptakan gas rumah kaca, dan juga membuat lapisan ozon kita semakin tipis.

Menggunakan Produk yang Ramah Lingkungan

Penggunaan plastik, dan styrofoam, menimbulkan banyak limbah sampah, yang tidak hanya menciptakan timbunan sampah, namun juga mencemari air, dan juga mencemari tanah, dimana mencemari tanah itu juga berpotensi mencemari udara. Ditambah plastik dan styrofoam merupakan bahan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai. Dimana plastik membutuhkan 50-100 tahun untuk terurai dan styrofoam membutuhkan waktu 1 juta tahun. Sementara dilansir dari Portal Informasi Indonesia  menurut Data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), di Indonesia saja, sampah plastik bisa mencapai 64 juta ton per tahun, dan 3,2 juta ton di antaranya dibuang ke laut.

Ikut Berpartisipasi Dalam Kegiatan Penghijauan

Saat ini ada banyak lembaga baik itu lembaga independen maupun lembaga pemerintah dan juga komunitas yang mendukung kegiatan penghijauan, kita bisa mulai dengan mengikuti salah satu di antara nya agar kita bisa update dengan kabar mengenai lingkungan, sehingga kita lebih aware dan sadar kepentingan menjaga lingkungan. Kita juga bisa mengikuti kegiatan mereka untuk melakukan kegiatan penghijauan, atau bisa juga ajak lingkungan sekitar rumah kita untuk melakukan reboisasi bersama.

Menggunakan Kendaraan Umum

Selain penggunaan kendaraan pribadi menyebabkan kemacetan, tapi juga menyebabkan polusi udara. Dengan menggunakan kendaraan umum, kita sudah berpartisipasi dalam mengurangi polusi akibat asap kendaraan, dimana asap kendaraan itu berperan banyak sebagai gas rumah kaca, dan juga berbahaya untuk kita hirup. 

Nah sekarang setelah tahu lebih banyak soal dampak dan penyebab dari perubahan iklim jadi sedih gitu gak sih liat bumi kita kayak gini? Padahal bumi ini merupakan planet tempat kita, keluarga kita, anak cucu kita nanti dan semua manusia buat tinggal :(. Semoga artikel ini membantu kalian yaa, dan yuk mulai membiasakan diri untuk menghindari segala tindakan atau perbuatan yang dapat memperparah perubahan iklim. Selamat Belajar!

 

Baca Juga Artikel Lainnya

apa dan mengapa bencana itu terjadi

Macam Zat, Perubahan Fisika dan Kimia

Ciri-ciri Klasifikasi Mahluk Hidup

Bagikan artikel ini