Seni Pengambilan Keputusan – Bagaimana Cara Mengambil Keputusan dengan Tepat?

pengambilan keputusan

Pernah bingung ketika mengambil keputusan? Yuk, kita bahas kenapa membuat keputusan terkadang terasa sulit dan gimana cara mengambil keputusan dengan tepat.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita menghadapi begitu banyak pilihan!

Dari pilihan yang kita hadapi setiap waktu, sampai pilihan yang rasanya sangat berpengaruh terhadap hidup kita kedepannya.

Misalnya, apa yang akan kita makan, baju apa yang mau dipakai, film apa yang mau kita tonton, atau bahkan, apa pekerjaan yang ingin kita lakukan.

Selain memakan waktu, proses pengambilan keputusan terkadang begitu membingungkan dan memakan energi. 

Mungkin elo kadang berpikir keras, mana keputusan yang tepat? Apakah ini pilihan yang benar?

Pernah nggak elo merasa bingung atau ragu ketika mengambil keputusan?

View Results

Loading ... Loading ...

Kalo elo pernah, itu normal. Buktinya, banyak banget artikel, buku, dan jurnal yang membahas soal decision-making atau pengambilan keputusan, sangking banyaknya orang yang mencari resep atau model terbaik untuk memutuskan sesuatu dengan tepat.

Gue pun juga pernah merasakan dilema ketika berusaha membuat pilihan yang tepat. Rasanya, ingin menghela napas deh.

Jadi penasaran nggak sih, kenapa ya membuat keputusan itu bisa terasa sulit, membingungkan, dan melelahkan? 

Kali ini kita bahas alasannya dan gimana cara membuat keputusan yang tepat ya. Mari meluncur…

Kenapa Mengambil Keputusan Terkadang Sulit? 

Beberapa tahun yang lalu, pernah viral bahwa Mark Zuckerberg yang saat itu merupakan founder Facebook, sering banget memakai kaos abu-abu.

Bukan karena kekurangan baju kok, Zuckerberg memang sengaja membeli banyak kaos berwarna abu-abu. 

contoh_pengambilan_keputusan_mark_zuckerberg_zenius_education
Kumpulan Foto Mark Zuckerberg memakai kaos abu-abu (Dok. Adweek, Business Insider, Workopolis)

Usut punya usut, Mark mengatakan bahwa ia ingin meminimalisir pengambilan keputusan. Menurutnya, berbagai teori psikologi mengemukakan bahwa mengambil keputusan, yang kecil sekalipun, akan membuat kita lelah.

Oleh karena itu, Mark memutuskan untuk menggunakan kaos abu-abu untuk kesehariannya, sehingga ia bisa menyimpan energi tersebut untuk membuat keputusan untuk hal yang lebih besar atau penting.

Kalo dipikir-pikir lagi, pemikiran Mark ini ada benarnya nggak sih, Sobat Zenius? Bukan berarti kita harus pakai baju warna yang sama setiap hari atau makan makanan yang sama juga sih.

pengambilan_keputusan_sulit
Ilustrasi Mengambil Keputusan (Arsip Zenius)

Hanya saja, membuat pilihan itu memang memakan waktu dan butuh pertimbangan. Kalo elo mau jalan-jalan, misalnya, elo kadang bingung kan mau pakai baju apa?

Tiba-tiba, elo jadi merasa baju elo sedikit banget dan nggak ada yang cocok untuk dipakai. Padahal, sebenarnya baju elo udah lebih dari cukup. 

Ada berbagai faktor kenapa pengambilan keputusan menjadi sulit. Menurut Carmen Simon, penulis Impossible to Ignore, kita menggunakan masa lalu untuk membuat keputusan masa depan. Di zaman sekarang, hal cepat berubah. Hal yang terjadi tiga bulan yang lalu, nggak bisa menjadi prediksi acuan keputusan untuk kedepannya.

Makanya, kita jadi bingung dan seringkali ragu. Selain itu, ahli neurosains Dahna Shohamy, juga menulis bahwa tanpa bukti yang reliabel, otak kita berusaha mencari informasi atau bukti dari masa lalu untuk membuat pilihan masa depan.

Tanpa bukti reliabel yang jelas, otak kita berusaha mencari informasi atau ingatan yang paling mudah diakses, dan itu bisa saja bukan yang terbaik. 

Sehingga, kita memakan waktu lebih untuk memastikan informasi dan ingatan yang kita pakai relevan dan tepat untuk kedepannya.

Nggak cuma masalah masa lalu, banyaknya pilihan juga membuat kita sulit memutuskan. Barry Schwartz dalam bukunya ‘The Paradox of Choice’ mengemukakan bahwa banyaknya pilihan alternatif membuat kita jadi membayangkan berbagai alternatif menarik yang sebenarnya nggak ada.

Dengan membayangkan alternatif imajiner lain yang menarik, kita jadi nggak begitu puas sama alternatif yang akhirnya kita pilih. Makanya, banyaknya pilihan itu membuat kita merasa nggak puas dan bingung.

Bayangkan, dalam sehari berapa pilihan yang harus kita putuskan? Gimana kita nggak bingung dan lelah memikirkan semuanya.

Wah, lalu gimana dong caranya supaya pengambilan keputusan bisa lebih tepat? 

Berbagai ahli dan penulis sudah merangkai berbagai macam kerangka atau framework yang bisa kita gunakan untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Nah, kita bahas salah satu contohnya ya.

Yuk, kita lihat bareng-bareng.

Cara Pengambilan Keputusan Melalui Framework

Sebenarnya contoh framework dalam mengambil keputusan itu banyak banget dan seringkali tergantung dengan tipe keputusan dan untuk tujuan apa.

Untuk contoh framework pengambilan keputusan secara umum dan rasional, kita bisa menggunakan model D.E.C.I.D.E. yang dirumuskan oleh Guo pada tahun 2008.

Berikut ini langkah-langkahnya.

D = define the problem (merumuskan masalah)

What is the decision you need to make?

(Apa keputusan yang perlu kamu buat?)

E = establish the criteria (membuat kriteria)

What factors are important in this decision?

(apa saja faktor penting dalam pengambilan keputusan ini?)

C = consider all the alternatives (mempertimbangakan alternatif lain)

What are your options?

(Apa saja pilihan yang ada?)

I = identify the best alternative (identifikasi alternatif terbaik)

Which is the best option?

(Pilihan mana yang terbaik?)

D = develop and implement a plan of action(mengembangkan dan mengimplementasikan rencana aksi yang akan dilakukan)

How are you going to put the best option into practice?

(gimana cara mengimplementasikan opsi terbaik menjadi aksi nyata? )

E = evaluate and monitor the solution (evaluasi)

Was it really the best option? Do you need to change your solution?

(Apakah itu benar-benar aksi terbaik? Apakah solusi perlu diubah?)

Framework ini terkesan cukup panjang ya untuk kasus simpel untuk pilihan yang ada sehari-hari. Namun, framework ini sebenarnya bisa diimplementasikan untuk hal-hal kecil sekalipun, asalkan elo pastikan nggak memakan waktu yang terlalu lama.

Jadi, elo harus batasi berapa menit waktu yang elo mau habiskan untuk pengambilan keputusan hal-hal kecil atau minor.

Sekarang, kita coba implementasikan ke sebuah kasus simpel ya. Misalnya, ada contoh pengambilan keputusan berhubungan dengan mau makan apa. Maka, tahapannya seperti ini.

contoh_teori_pengambilan_keputusan_decide_zenius_education (1)
Contoh Pengambilan Keputusan D.E.C.I.D.E. (Arsip Zenius)

Selain kerangka yang sudah kita bahas tadi, bisa juga lho elo mencari framework lain atau menyusun kerangka pengambilan keputusan elo sendiri.

Maksudnya, seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman elo, bisa jadi elo mulai meresepkan gimana cara mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan diri elo secara pribadi.

Nah, terlepas dari framework mana yang mau elo pakai, baik yang dibuat oleh para ahli maupun diri elo sendiri, ada satu hal yang penting dan harus diperhatikan: reliabilitas.

Apa yang dimaksud dengan reliabilitas di sini?

Reliabilitas dalam Proses Pengambilan Keputusan

Untuk memahami apa pentingnya dan contoh reliabilitas dalam proses pengambilan keputusan, langsung aja yuk tonton videonya di sini.

Wah, sekarang kita tahu ya, betapa pentingnya reliabilitas. Semoga dengan membahas kesulitan memutuskan, kerangka atau framework pengambilan keputusan, dan reliabilitas, elo jadi lebih tercerahkan dan bisa membuat keputusan yang tepat ya.

Penutup

Bagaimana Sobat Zenius, apakah elo ada pertanyaan seputar topik kita kali ini? Atau mungkin elo punya ide untuk artikel selanjutnya? 

Kalo elo punya pertanyaan maupun pernyataan, jangan ragu buat komen di kolom komentar, oke? Sampai sini dulu artikel kali ini dan sampai jumpa di artikel selanjutnya, ciao!

Referensi

Cara Membuat Keputusan Yang Tepat – Zenius Education (2021)

DECIDE: a decision-making model for more effective decision making by health care managers. Health Care Manag (Frederick). 2008 Apr-Jun;27(2):118-27 – Guo, K.L. (2008) via FutureLearn (n.d.) 

The reason Mark Zuckerberg wears the same shirt every day – Workopolis (2014)

Why Even Small Decisions Are Difficult Right Now – Forbes (2020)

Why It’s Hard to Make Decisions (Especially Good, Fast Ones) – Effectiviology (n.d.)

Bagikan Artikel Ini!