Dari Mimpi Masuk ITB Sampai ke Google 9

Dari Mimpi Masuk ITB Sampai ke Google

Halo teman-teman semuanya. Kali ini ada satu cerita menarik banget nih dari salah satu alumni Zenius yang sekarang kerja di Google. Seorang alumni Zenius yang saat mengumumkan cita-citanya ingin berkuliah di ITB ditanggapi dengan tatapan tanda tanya dari teman-temannya.

Iya, alumni kita yang satu ini dikenal sebagai orang dengan nilai pas-pasan dari kelas 1 SMA dan gemar bermain game online. Tidak aneh memang jika teman-temannya sempat meragukan niatnya yang ingin berkuliah di Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB. Meski sempat diragukan, alumni yang satu ini enggak milih buat nyerah dan memutuskan buat terus memperjuangkan impiannya. 

stei itb

Perkenalkan, dia adalah Ivan Ruben Darmawan. Alumni Zenius tahun 2013 yang akhirnya berhasil masuk ke FTI ITB di tahun yang sama dan sekarang bekerja sebagai account strategist di Google. Penasaran gimana perjalanan seorang yang bahkan buat nyari kelompok nugas pas SMA aja susah sekarang bisa kerja di company sebesar Google? 

Begini ceritanya. 

Bagian 1: Akhir Masa SMA (2012 – 2013)

Dari dulu kepengen banget masuk FTI ITB. The reason was very simple, gw cuma mau naikin self-esteem gw aja karena sering di underestimate di sekolah (waktu kerja kelompok gada yang mau sama gw), bahkan di rumah juga sama ortu. Ketika gw state pengen masuk ITB, semua orang kaya bilang ga mungkin lah, karena emang nilai gw pas2an banget dari kelas 1 sma, kebanyakan main game online. Naik kelas aja udah bagus. Di sini gw pengen banget buktiin, tapi gatau “how” nya.

Akhirnya gw ketemu Zen dari Google. Bermodal dari free trial, gw kaget, kok ini cara jelasinnya asik banget (bahasanya, logika berpikirnya, pengaplikasian ilmunya). Di situ gw sadar, bahwa pelajaran ga akan masuk ke otak gw kalo logikanya ga runut (langsung loncat ke rumus). Nah, di sini Zen totally ngerubah mindset gw tentang belajar jadi asik, gw kejar semua materi kelas 1-2, tiap hari pulang sekolah gw pake Zen sampe jam 1 malem, sampe sbmptn. Long story short, akhirnya gw keterima di FTI ITB, surprising my friends and relatives.

 

Bagian 2: Kehidupan di ITB (2013 – 2017)

Pertama ketemu anak-anak ITB, best in class di SMA masing2, bahkan ada temen sejurusan gw yang juara olimpiade kimia di Rusia, ngebuat gw merasa kecil, tapi di sisi lain memotivasi gw untuk jadi kaya mereka atau lebih. Untungnya cara belajar yang diajarin Zen, tentang ngertiin konsep, ini extremely useful di ITB, karena mayoritas ujiannya nge tes fundamental skills, jadi variasi soalnya bisa beda2 banget.

As the result, di Tekim ITB, not only gw bisa lulus dgn IPK 3.89, tapi juga bisa menang banyak lomba dalam dan luar negri, ikut student exchange, dan dapet intern di perusahaan FMCG no 1 di Indo.

 

Bagian 3: Setelah ITB (2017 – now)

Lulus kuliah, gw kerja di salah satu industri FMCG terbesar di Indonesia sebagai graduate trainee – commercial. Skill critical and analytical thinking yang udah gw latih sejak kenal Zen, ngebantu gw banget dalam solving a super complex pricing problem yg sampe saat itu no one could solve it. Akhirnya karena berhasil memecahkan itu and bringing million dollars to the company, gw dapet excellence award (award tertinggi) dari perusahaan.

Setelah hampir 3 tahun kerja di sini, ada tawaran kerja dari Google, proses interview nya ada 5x hampir semua pertanyaan/case require deep structural approach yang untungnya udah gw latih sejak kenal Zen back in 2012. Finally, sekarang gw lagi kerja di company which I never imagine I can work for, as an Account Strategist, helping SMB to grow through digital marketing.

All in all, Zen helped me in building the strong and solid fundamentals (scientific and growth mindset, and basic math) to prepare me to face the upcoming challenges in my life. Thanks, Zenius!

Sebuah cerita yang oke, bukan? Mungkin beberapa dari kamu saat ini sedang atau pernah mengalami posisi seperti Ivan saat berada di SMA. Sebuah keadaan di mana banyak yang ga mau sekelompok tugas sama kamu karena dipikirnya kamu cuma akan jadi beban buat mereka. Beberapa dari kamu mungkin juga pernah atau bahkan kerap dapat nilai kurang memuaskan saat ujian. Well, ternyata kamu ga sendirian. Ternyata pernah juga ada orang yang diremehkan kayak gitu di tahun 2012 tapi siapa sangka orang tersebut tidak menganggap keadaan yang dialaminya sebagai hambatan baginya untuk terus belajar dan bercita-cita. Ivan membuktikan kalau apa yang diimpikannya bukan sebatas omong kosong. 

Ivan memilih memperjuangkan impiannya sampai akhirnya dia berada di titik yang bahkan tidak pernah dibayangkan olehnya sebelumnya. Nah, justru bagian inilah yang sulit. Tidaklah susah buat memiliki impian, pertanyaannya adalah apakah kamu mau memperjuangkannya? Apakah kamu cukup berani untuk keluar dari zona nyaman, belajar sampai begadang, atau bahkan lebih berat lagi? 

Beberapa dari kamu mungkin menjawab iya, tidak, atau boleh jadi ada yang belum memutuskan jawabannya. Tetap tenang dan teruslah berjuang. Ingat, ada Zenius yang akan selalu siap menjadi teman perjuanganmu mewujudkan impianmu itu. Tuliskan impianmu dan wujudin bareng Zenius. Siapa tahu kamu bisa menjadi seperti Ivan atau bahkan lebih hebat lagi. Siapa yang tahu, bukan?